| |
Rayuan Pulau Kelapa
Suatu sore istri saya ditelpon oleh seseorang yang
memperkenalkan dirinya dari Makro Cash & Carry yang
belum setahun ini buka dasar di Yogya. Seseorang di
seberang sana memberitahukan bahwa di Makro sedang ada
program promosi untuk beberapa produk, lalu disebutlah
beberapa merek dan jenis produk yang sedang
dipromosikan dijual dengan harga termurah.
Ujung-ujungnya : “Kapan ibu mau belanja?”.
Sungguh baik hati benar Makro ini, mau memberitahu
kalau sedang ada harga promosi. Bagi penilpun di
seberang sana, itu adalah pemberitahuan tentang
kesempatan kulakan murah yang sayang untuk dilewatkan
begitu saja. Tapi bagi saya, kedengarannya seperti
sebuah nyanyian rayuan pulau kepala : “Ayo dong,
belanjakan lagi uang Sampeyan di Makro…..”.
Sejak menjadi member pelanggan Makro, istri saya
(terkadang sebagai CFO, terkadang sebagai janitor di
“Madurejo Swalayan”) memang jadi agak sering mampir ke
sana. Awalnya memang hanya mampir, akhirnya ya belanja
juga kalau ketemu komoditas yang harga belinya cocok.
Tapi sejak kunjungan terakhirnya dua setengah minggu
sebelumnya, istri saya belum lagi kesana, hingga saat
ditilpun dan dinyanyikan lagu rayuan pulau kelapa sore
itu.
Yang sebenarnya sedang terjadi adalah Makro sedang
melakukan salah satu kiat bagaimana me-manage
pelanggannya. Dan, hal itu memang sangat penting bagi
sebuah usaha retail. Ya, pelanggan adalah salah satu
aset penting, maka pelanggan harus di-manage
sedemikian rupa sehingga tetap menjadi sumber
pemasukan toko.
Sebagai sebuah raksasa retail, maka Makro memiliki
sistem yang canggih untuk mengelola pelanggannya.
Adanya Kartu Anggota atau Kartu Belanja tentu sangat
memudahkan untuk mendata dan memantau aktifitas dan
perilaku pelanggannya. Bagaimana frekuensi belanjanya,
berapa nilai rupiahnya setiap kali belanja, berapa
kuantitas dari setiap item yang dibelinya, barang
jenis apa saja yang biasanya dibeli dalam jumlah
banyak, kapan biasanya belanja dalam jumlah besar
terjadi.
Maka kalau kemudian sampai lebih dua minggu kok tidak
ada kabarnya (maksudnya, tidak belanja-belanja lagi),
maka lalu muncul pertanyaan : Sedang sakitkah, atau
sedang tertimpa musibah? Wow….., bukan! Bukan itu
pertanyaannya! Melainkan : Jangan-jangan sekarang
beralih belanja di tempat lain? Apakah ada tempat lain
yang lebih miring harganya? Apakah belum tahu kalau
sedang ada harga promosi di Makro?
Itulah salah satu cara untuk me-manage pelanggan. Dan
kiat semodel itu perlu untuk ditiru setidak-tidaknya
menjadi inspirasi oleh “Madurejo Swalayan” atau toko
mana saja kalau memang perduli dengan prinsip
pelanggan adalah aset. Tinggal bagaimana caranya, agar
sebuah toko kecil dan ndeso juga bisa melakukan upaya
pengelolaan pelanggannya secara lebih sederhana dan
murah tapi sasaran tercapai.
Penggunaan Kartu Anggota atau Kartu Belanja
sebagaimana diterapkan oleh toko-toko retail besar
nampaknya belum bisa menjadi pilihan bagi “Madurejo
Swalayan”. Bagi sebagian masyarakat desa, penggunaan
Kartu Anggota barangkali hanya akan menambah kerepotan
saja. Maka perlu dicarikan cara yang lebih praktis,
dan mungkin malah cara tradisional saja. Karakter
masyarakat pedesaan yang lebih bernuansa guyub-rukun
dan paseduluran adalah salah satu pendekatan yang
dapat dilakukan.
***
Sekarang ini yang penting toko tetap beroperasi dan
berusaha meningkatkan pencapaian omset hari demi hari.
Sambil jalan, saya senantiasa berpesan kepada segenap
pegawai agar mulai mengamati siapa-siapa pelanggan
setia “Madurejo Swalayan”. Kategori pelanggan setia
adalah mereka yang sering berbelanja kebutuhan
sehari-hari di “Madurejo Swalayan”. Pelayan toko
sebagai ujung tombak bisnis toko swalayan tentunya
sudah mulai bisa mengidentifikasi para pelanggan setia
itu. Toh jumlah mereka tidak banyak.
Tidak ada pedoman khusus, misalnya yang disebut sering
itu seperti apa? Berapa kali berbelanja dalam seminggu
atau berapa banyak nilai belanjanya. Memang tidak
gampang mengidentifikasi mereka. Pokoknya “amati dan
ingat” sajalah, biar mudah. Salah-salah sedikit, atau
bahkan kalau salahnya banyak, kiranya tidak akan
signifikan impaknya.
Nah, kepada para pelanggan setia itu perlu diberikan
perlakuan agak khusus setiap kali mereka berbelanja.
Cukup kalau para pelayan toko dapat menciptakan
suasana paseduluran (persaudaraan) terhadap mereka
melalui media pelayanan dan komunikasi yang
menyenangkan. Suatu saat nanti apresiasi yang
diberikan mestinya bisa lebih kongkrit dalam bentuk
fisik seperti voucher atau gift apalah, gitu…..
Memang jadi tidak bisa lebih proaktif kalau misalnya
ada pelanggan yang lama tidak kelihatan datang
berbelanja. Tidak bisa dikirimi surat atau ditilpun.
Melainkan 100% mengandalkan pada effektifnya
komunikasi paseduluran yang dibangun sedikit demi
sedikit melalui seringnya berinteraksi di toko pada
saat mereka berbelanja. Pada saatnya nanti, pendekatan
melalui komunikasi yang mempribadi ini akan membuka
jalan untuk pengelolaan yang lebih proaktif, tanpa
menggunakan Kartu Anggota.
Seperti pernah saya singgung sebelumnya, suatu saat
nanti pelanggan akan datang ke toko bukan karena
harganya, kualitasnya, kelengkapannya, tokonya,
pelayannya atau kedekatan jaraknya, melainkan karena
mereka butuh membina tali silaturahmi. Bahkan
seandainya mereka datang tidak untuk berbelanja,
melainkan hanya untuk sekedar jalan-jalan, mampir
untuk say hello, atau membeli sesuatu yang tidak
direncanakan. (Mungkin suatu ketika kita pernah
mengalami ingin jalan-jalan ke suatu toko, tetapi
keputusan untuk membeli sesuatu atau tidak justru
sengaja dilakukan pada saat sudah berada di toko itu.
Aneh tapi nyata…!)
Begitulah….. Nyanyian rayuan pulau kelapa akan
bersenandung setiap hari, setiap saat, semakin merdu
didengar para pelanggan, seirama dengan berjalannya
interaksi pembeli-pelayan di dalam toko. Tapi,
sumprit…., ini tidak mudah!. Dan, “Madurejo Swalayan”
sedang berusaha melakukan yang tidak mudah itu.
Madurejo, Sleman – 1 Januari 2006.
Yusuf Iskandar
Mimbar Bambang Seputro
Updated 01/05/2006
|