| |
Perang Melawan Pengutil
Berbisnis dengan orang desa yang lugu memang
sering
tak terduga. Jika mereka menjumpai harga jual di toko
“Madurejo Swalayan” yang menurutnya lebih mahal dari
tempat lain, spontan mereka ngomong : “Di sini kok
harganya lebih mahal dari toko sana……”. Ada yang
akhirnya tetap beli, ada juga yang tidak jadi beli.
Keluhan polos seperti ini justru yang kami harapkan,
karena kami jadi tahu bahwa harga jual toko kami
kemahalan.
Repotnya saat-saat awal membuka toko adalah menentukan
harga jual yang kompetitif. Karena tidak semua item
barang yang jumlahnya ribuan sempat untuk di-survey,
dicek-ricek dan dibandingkan dengan toko lain. Nah,
complaint seperti itu akan sangat membantu.
Terkadang kami sendiri yang mesti men-survey-nya,
antara lain dengan suruhan orang untuk membeli
barang-barang tertentu ke toko di kawasan sekitar.
Toh, barang yang dibeli akan digunakan juga untuk
memenuhi kebutuhan pribadi. Jadi, tidak ada ruginya.
Selain itu, salesman atau supplier adalah informan
yang paling baik. Biasanya mereka akan dengan senang
hati memberitahukan harga jual kami sudah pas, terlalu
tinggi atau terlalu rendah dibandingkan toko lain di
sekitar kawasan kami.
Lain orang desa, lain lagi kalau yang datang adalah
calon pembeli yang sudah biasa keluar-masuk toko
swalayan di kota. Mereka masuk toko, lalu keliling
menyusuri rak-rak toko, tahu-tahu keluar lagi tanpa
beli apa-apa. Akibatnya kita tidak tahu, apakah mereka
tidak menemukan barang yang dibutuhkan, atau harganya
kemahalan, atau sekedar mau jalan-jalan dan
melihat-lihat, atau memang sedang observasi mencari
peluang untuk ngutil.
Hal yang terakhir ini sungguh sudah terjadi. Seminggu
pertama sejak toko buka, tanpa disadari (lebih
tepatnya, terlambat ketahuan) kami sudah kehilangan
beberapa barang dagangan yang kalau dihitung-hitung
nilainya lebih satu juta rupiah. Jumlah kerugian yang
sungguh besar, dibandingkan dengan margin keuntungan
yang bisa diraih perharinya.
Itulah pelajaran
berharga, kesalahan dalam menata barang dagangan dan
kesalahan dalam men-display produk-produk mahal,
biasanya jenis-jenis susu balita yang kemasannya kecil
tapi harganya mahal. Juga kesalahan dalam sistem
pengawasan, sehingga mudah dimanfaatkan oleh
orang-orang yang memang profesinya ngutil di toko
swalayan.
Dan orang-orang seperti ini memang selalu
hadir.
Begitulah, selalu ada saat-saat pertama dimana terjadi
banyak hambatan dan masalah. Ibaratnya, saat pertama
belajar naik sepeda, ya lumrah kalau jatuh. Saat
pertama belajar setir mobil, nyengenges saja kalau
terpaksa nyerempet pagar tetangga. Saat pertama kerja,
ya terima saja kalau berbuat salah lalu diomelin
atasan. Intinya, kalau takut menghadapi masalah, ya
jangan berbuat sesuatu. Kalau takut rugi, ya jangan
berbisnis, demikian petuah para guru wirausaha.
Tinggal bagaimana menyiasati agar kerugian, kesulitan
atau masalah yang timbul dapat diredam atau ditekan
seminimal mungkin.
Di tahap itulah memang kami perlu mikir agak banyak
(untuk sekedar membuktikan bahwa kami masih hidup…..).
Selebihnya enggak usah dipikir banyak-banyak, bisa
dipikir sambil tidur (hal yang tidak pernah saya
kerjakan selama 16 tahun jadi orang gajian…. Mikir
pekerjaan sambil tidur…..). Selebihnya semua akan
mengalir begitu saja, tinggal kami mengikuti kemana
air mengalir sampai jauh……. Ya, sesekali melawan arus
untuk berinovasi, sah-sah saja. Dan adakalanya memang
diperlukan.
***
Kemungkinan timbulnya masalah dan hambatan seharusnya
memang sudah dipahami sedari mula. Bagaimanapun juga,
semua orang yang terlibat dalam usaha toko “Madurejo
Swalayan” ini adalah orang-orang dengan nol-puthul
pengalaman di bidang bisnis retail. Termasuk
pemiliknya, pengelolanya, pelayannya, semua baru
belajar bersama-sama. Satu-satunya pengalaman adalah
pengalaman orang lain yang dipelajari lewat buku atau
cerita-cerita. Pengalaman orang lain kan namanya
pengalaman juga toh?
Idealnya memang meng-hire seseorang yang sudah
pengalaman untuk dilibatkan dari awal. Tetapi
terkadang idealisme ini kalah oleh egoisme : Apa sih
susahnya berjualan, tinggal beli barang lalu ditambah
sedikit keuntungan dan dijual lagi. Ee…, ternyata
masih ada hal lain yang tidak sesederhana itu,
terutama untuk konsep toko swalayan-modern. Yo wis…..,
ora perlu digelani…..
Lebih bagus lagi kalau pengelola toko sempat mengikuti
semacam pelatihan tentang Management Retail. Memang
ada yang menyarankan demikian, minimal untuk menambah
wawasan tentang sistem bisnisnya. Apa bedanya belajar
melalui pelatihan dan melalui pengalaman orang lain?
Bedanya hanya satu, yaitu kalau melalui pelatihan
dapat sertipikat (pakai “p”). Selebihnya…. , terserah
(bagaimana) Anda…..
***
Ngomong-ngomong soal pengutil. Mahluk yang satu ini
memang susah diidentifikasi. Bisa berjenis laki-laki,
bisa perempuan. Bisa berpenampilan lusuh seadanya,
bisa tampil rapi dan sopan berjilbab. Bisa sendirian,
bisa berjamaah. Mereka juga berbelanja di toko. Kalau
terlalu ketat mengawas-awasi setiap pengunjung, akan
membuat pengunjung toko merasa tidak nyaman. Kalau
dibuat rada longgar, kuwatir ada mahluk pengutil yang
memanfaatkannya. Yang pasti, dimana ada toko baru
buka, terlebih model swalayan, mahluk ini pasti
muncul.
Padahal sudah disediakan tempat penitipan tas dan
jaket. Hal yang sudah sangat umum di perkotaan. Tapi
untuk diterapkan secara ketat dan kaku di kawasan
pinggiran, masih ada rasa ragu. Pasalnya,
jangan-jangan masyarakat pedesaan malah takut masuk
toko, merasa seperti tidak dipercaya. Jadi serba
salah.
Jalan tengahnya, barang-barang yang harganya relatif
mahal kemudian dipindahkan ke dalam lemari etalase
tersendiri dan harus dilayani untuk membelinya. Tidak
diswalayankan. Dengan kata lain, kalaupun toh ada
pengutil yang berhasil memperdaya penjaga toko, maka
biarlah sekedar ngutil barang-barang yang harganya
relatif tidak mahal. Tidak berarti lalu pengawasan
diperlonggar. Para penjaga toko tetap diinstruksikan
untuk selalu waspada dan melakukan pengawasan secara
sopan dan manis, atau cukup dimanis-maniskan.
Beberapa toko swalayan sejenis mengatasinya dengan
memasang kaca cermin besar di bagian atas dinding
belakang yang berfungsi seperti kaca spion. Ide yang
bagus sebenarnya, namun kami di “Madurejo Swalayan”
masih mempertimbangkannya, antara memasang spion besar
dulu, atau dananya digunakan untuk menambah modal
kerja dulu. Dadi bakulan ki suwe-suwe kok yo dadi rodo
“pelit” .….., itung-itungane kudu njlimet…….
***
Kini para penjaga toko juga sudah mulai bisa membaca
gerak-gerik mencurigakan para pengunjung toko. Juga
mengidentifikasi orang-orang tertentu yang sering
datang dan pergi keluar-masuk toko, dan melakukan
transaksi untuk jenis-jenis barang yang sepertinya
tidak logis dibandingkan dengan frekuensi
kunjungannya.
Alhamdulillah, sejak kebobolan di minggu-minggu
pertama dan perubahan cara men-display barang dagangan
yang mahal-mahal, tampaknya sejauh ini cukup berhasil
mempersempit ruang gerak para pengutil. Namun tetap
perlu diwaspadai, bahwa aktifitas til-nguttil pasti
belum berakhir. Akan datang saatnya dimana pihak toko
terlena dan pihak tukang ngutil mulai beraksi kembali.
“The show must go on”. Berdampingan antara “show”-nya
toko dan “show”-nya pengutil.. Antara yang berniat
mencari rejeki dengan cara halal dan yang mencari
rejeki melalui jalan pintas yang dholim. Hasilnya
sama-sama untuk menafkahi keluarganya (Lho, tujuannya
sama-sama baik sebenarnya..…).
Pokoknya……., perang melawan pengutil
forever…ver…ver…ver…
Madurejo, Sleman - 29 Nopember 2005.
Yusuf Iskandar
Mimbar Bambang Seputro
Updated 01/05/2006
|