One Stop Shopping

Gajahsora.Net

 

One Stop Shopping

Salah satu hal yang menyenangkan dalam berbisnis dengan orang desa adalah mereka dengan polos tanpa beban, suka menyampaikan usulan-usulan atau ide-ide yang menarik. Wong namanya mini-market, mereka beranggapan bahwa toko itu mestinya menyediakan segala macam kebutuhan. Maunya “one stop shopping”, istilah sononya. Sekali nyangking keranjang belanja, duapuluh-tigapuluh barang kebutuhan terpenuhi.

Dilihatnya tidak ada tempat cucian plastik, mereka usul agar jual tempat cucian plastik. Ada pembeli yang punya panci alumunium di rumah tapi pegangan tutupnya rusak, maka mengajukan usul agar menjual pegangan tutup panci. Ada yang mengusulkan agar jual buah-buahan, jual ikan segar, jual barang plastik-plastikan (maksudnya barang-barang yang terbuat dari plastik). Atau, bilang kalau minyak goreng, roti atau obat-obatannya kurang lengkap. Ada yang mengeluh tempat parkirnya panas, dengan kata lain sebenarnya usul mbok diberi peneduh.

Pendeknya, baru beberapa hari toko buka sudah banyak usulan ini-itu. Semua usulan, termasuk yang paling aneh sekalipun mesti diapresiasi. Baik usulan yang layak maupun kelewat mengada-ada, perlu kearifan untuk menyikapinya. Sebab semua itu datang dari calon pelanggan setia. Mudah-mudahan tidak ada yang usul jual ayam atau kambing untuk kurban ……

Mengasyikkan, tapi juga merepotkan kalau semua usulan mesti dipenuhi. Selain berarti mesti nambah modal kerja, juga tempat atau kapasitas ruangan toko yang membatasi. Tapi setidak-tidaknya, semua masukan atau ide dari konsumen itu menjadi data lapangan yang sangat berharga. Yang pada suatu saat nanti akan diperlukan untuk menjadi bahan feasibility study (kayak yak-yak-o.…) jika ingin mengembangkan usaha.

Bukankah kata orang-orang pinter (selain paranormal), bahwa peluang emas justru sering berawal dari ide-ide gila atau usulan-usulan enggak masuk akal yang pada mulanya dianggap impossible….?
 

Pada akhirnya memang konsumenlah yang men-drive pengelola toko. Baru ketahuan ada yang kurang lengkap justru ketika ada pembeli tidak menemukan barang yang mau dibeli. Terpaksa harus diberi jawaban diplomatis : “Barangnya belum datang, mudah-mudahan besok sudah ada”. Tidak menipu, tapi juga tidak menjanjikan. Apa boleh buat, hari itu juga pengelola toko harus berusaha keras mencari barang yang belum ada itu. Jangan sampai sang pembeli kecewa kalau besok datang lagi dan barangnya belum juga ada. Kekecewaan seperti ini bisa berakibat kurang menguntungkan kalau sampai pembeli itu berkesimpulan bahwa tokonya tidak lengkap, lalu dia cerita ke saudara-saudaranya atau tetangganya se-RT.

Peristiwa seperti ini sering terjadi di minggu-minggu pertama sejak toko buka. Kepalang basah, pengelola toko mesti pontang-panting segera mencari barang-barang yang belum lengkap yang ditanyakan calon pembeli, karena mereka adalah calon pelanggan potensial, kalau bisa mengelolanya. Sepanjang barang itu adalah jenis barang yang memang selayaknya ada, maka perlu dipertimbangkan untuk dipenuhi. Apalagi kalau bisa memberikan harga yang kompetitif. Kalau mereka puas, maka bisa diharapkan akan jadi ujung tombak promosi gratis gethok-tular.

“Word of mouth”, kata pakar pemasaran.

Rada terpaksa, hampir setiap hari pengelola toko pergi belanja mencari barang yang belum ada, sekalian kulakan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang cepat laku (fast moving). Maklum, belum bisa menimbun stok karena keterbatasan modal kerja dan belum siapnya gudang penyimpanan.

Mobil keluarga kijang hitam metalik LGX 2000 cc kini telah beralih fungsi untuk ngangkut minyak, gula, sabun, mie instan, snack, permen, rokok, pembalut, tisu, dsb. BBM-nya yang boros plus harga BBM yang naik dua kali lipat, dilupakan dulu. Me-manage konsumen (calon pelanggan potensial) menjadi prioritas utama untuk saat ini. Jangan salah, bukan berarti lantas main tabrak-kromo. Semua akan muncul hitung-hitungannya dalam financial report.

(Enaknya jualan kebutuhan sehari-hari, kalau tidak laku bisa dibeli sendiri. Paling tidak, keuntungannya tidak lari ke orang lain. Kalau jual rokok kurang laku, ya di-udut sendiri….., susah amat…!)

Terkadang barang yang ditanyakan konsumen harganya tidak seberapa, masih lebih mahal sebungkus Marlboro yang dibeli sopir kijang itu. Tapi masalahnya bukan sekedar mengharap keuntungan dari hanya satu jenis barang yang dicari konsumen, melainkan kalau konsumen bisa menemukan barang yang dicari, maka boleh berharap konsumen itu juga akan membeli kebutuhan lain sekaligus, mumpung berada di toko itu. “One stop shopping”, lebih baik berada di satu toko tapi terpenuhi semua kebutuhannya dari pada mesti berpindah-pindah toko.

Maka margin yang kecil bisa menjadi berlipat, uang cepek-nopek bisa berubah menjadi cemban-nomban, karena omset penjualan bertambah.

Demi mengejar keuntungan yang nilai rupiahnya tidak seberapa, pengelola toko merangkap sopir setiap saat kudu siap pontang-panting kulakan guna memenuhi kepuasan calon pelanggan. Setidaknya untuk bulan-bulan awal ini. ……………….Huhhh….!!!


Madurejo, Sleman - 26 Nopember 2005.
Yusuf Iskandar
 

Mimbar Bambang Seputro

Updated 01/05/2006