Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya
harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi
kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga
hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu
saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung untuk pulang ke
tanah air. Tapi kapan ?
Ternyata memilih hari adalah keputusan yang
tidak mudah. Barangkali karena saya punya pengalaman yang tidak
menguntungkan, yaitu saat menanti kelahiran anak pertama saya. Tahun 1991,
saat saya masih bertugas di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman
Bengkulu Utara, dimana komunikasi ke luar job-site masih jadi kendala.
Saya berangkat cuti sekitar dua hari sebelum hari H yang diperkirakan
dokter anak saya akan lahir. Harap-harap cemas menyertai hari-hari cuti
saya di Yogya. Lewat satu minggu cuti belum ada tanda-tanda bayi akan
lahir. Hingga hari kesepuluh, masih juga belum.
Hari ke-11, 12, 13, terlewati masih juga belum ada tanda-tanda istri akan
melahirkan. Dalam hati saya sempat ngedumel : “doktere ngapusi”
(dokternya bohong). Apa boleh buat, jatah cuti dua minggu habis, maka
terpaksa pulang ke job site tinggal membawa rasa cemas saja, rasa harapnya
sudah saya titipkan istri saya di Yogya. Sebenarnya bisa saja
memperpanjang cuti, tapi masalahnya harus jelas sampai kapan
memperpanjangnya. Dan ini yang susah. Hari kedua setiba di job-site, saya
terima tilgram bahwa istri saya sudah melahirkan dengan selamat. Akhirnya,
ya cuti lagi, tapi tidak “menangi” (sempat melihat atau mengalami)
detik-detik kemerdekaan jabang bayi anak pertama saya. Pengalaman inilah
yang membuat saya sulit untuk memutuskan kapan harus pulang menjenguk ibu
yang sedang ada di Rumah Sakit. Meskipun akhirnya, hari Jum’at itu saya
putuskan untuk secepatnya harus pulang.
Kemudian ternyata tidak mudah untuk
memperoleh tiket penerbangan dari New Orleans menuju Semarang, sebelum
nantinya saya sambung dengan taksi ke Kendal. Kesulitan memperoleh tiket
ini disebabkan oleh dua alasan : mendadak dan di akhir pekan. Saya dan
keluarga sempat bimbang, antara saya pulang sendirian atau bersama semua
keluarga. Keputusan akhirnya saya pulang sendirian. Bukan soal biayanya,
melainkan karena pertimbangan cuti pamit dari kantor yang hanya dua minggu
padahal perjalanan cukup jauh, juga lantaran anak-anak sedang “enjoy”
dengan sekolahnya. Anak saya yang kelas 3 SD kelihatan “gelo”
(menyesal) untuk meninggalkan sekolah sewaktu mau saya ajak pulang ke
kampung. Selain itu juga lebih sulit mendapatkan tiket untuk empat orang
dalam keadaan mendadak. Dengan akhirnya saya berangkat sendirian, ternyata
nantinya ini akan memudahkan perjalanan saya untuk ber-“maneuver”
lebih bebas guna mencari alternatif penerbangan yang lebih cepat dalam
situasi “emergency” seperti ini.
Agaknya di Amerika sarana transportasi
udara sudah menjadi kebutuhan, layaknya kereta api atau bis malam di Jawa.
Bukan lagi kemewahan untuk mendapatkan “privilege”. Jika harus membeli
tiket pesawat mendadak, maka selain sulit untuk membuat pilihan-pilihan,
juga mesti siap dengan harga tiket yang lebih tinggi. Dalam situasi tidak
mendadak, peluang untuk memperoleh harga tiket murah sangat dimungkinkan,
bahkan bisa kurang dari seperempatnya. Demikian halnya di saat akhir pekan
(biasanya hari Jum’at hingga Minggu) adalah saat padat penumpang yang
akan liburan ke luar kota atau pulang ke daerah asalnya bagi para pekerja
pendatang dari lain kota.
Untungnya soal harga tiket ini sudah tidak
menjadi perhitungan saya, karena perjalanan saya dibiayai oleh kantor.
Meskipun demikian toh saya tidak berhasil memperoleh tiket untuk hari
Sabtu besoknya. Berkat bantuan sekretaris kantor yang berbaik hati
menguruskan tiket (meskipun saat itu dia sedang berakhir pekan), saya bisa
berangkat hari Minggunya. Pemesanan tiket melalui layanan 24 jam tiket
elektronik (e-ticket) melalui media internet, memudahkan saya untuk hari
Minggunya tinggal datang saja langsung ke bandara. Dengan menunjukkan
kartu identitas, maka tiket kertas (paper ticket) bisa dikeluarkan.
Rutenya adalah hari Minggu pagi berangkat
dari New Orleans ke Dallas-Ft.Worth, langsung sambung ke Tokyo dan akan
tiba di Tokyo hari Senin sore. Menginap semalam di Tokyo, untuk Selasa
besoknya menuju Jakarta, dan dijadwalkan tiba di Jakarta sudah menjelang
malam. Saat itu saya tidak terlalu memusingkan tentang rencana perjalanan
tersebut. Bisa berangkat hari Minggu saja sudah senang rasanya. Itu
sebabnya, kemudian saya belakangan khawatir apa kira-kira masih bias
nyambung ke Semarang malam itu juga untuk selanjutnya menuju ke Kendal.
Jika tidak, artinya saya baru akan tiba di rumah hari Rabunya. Tanpa pikir
panjang saya langsung menghubungi juragan milisi UPNVY, siapa tahu beliau
bisa membantu memberi info, karena saat itu saya sudah terlanjur
"unsubscribe" dari milis.
(2). JIKA KABAR DUKA DATANG TIBA-TIBA
Minggu pagi, 13 Pebruari 2000, jam 05:30,
sekitar setengah jam sebelum saya berangkat menuju bandara New Orleans,
tiba-tiba datang kabar duka dari Kendal bahwa ibu saya telah meninggal
dunia sekitar satu jam yang lalu, yang berarti Minggu sore di Kendal.
Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.
Ternyata Tuhan telah merencanakan berbeda
dari yang saya rencanakan.
Sudah pasti saya tidak akan “menangi” almarhum ibu saya,. Lha wong
baru akan tiba di rumah hari Selasa malam atau mungkin malah hari Rabunya.
Maka saat itu juga saya pesankan agar secepatnya dilakukan persiapan
pemakaman tanpa perlu menunggu kedatangan saya.
Dengan perasaan tidak menentu di sepanjang
perjalanan menuju bandara New Orleans, saya mantapkan niat bahwa musibah
ini harus dihadapi dengan ikhlas dan tawakal. Hanya dalam doa di sepanjang
perjalanan pulang dari New Orleans ke Kendal, saya bisa menyertai ibu saya
yang sudah lebih dahulu menghadap Sang Maha Pencipta.
(3). JIKA WAKTU DZUHUR BEGITU PANJANG
Penerbangan dari New Orleans ke Dallas
Ft.Worth selama satu setengah jam dengan pesawat American Airlines (AA)
berjalan lancar. Hari itu juga disambung dengan penerbangan lanjutan AA
menuju Tokyo. Di perjalanan, sambil membayangkan persiapan pemakaman ibu
saya, sambil terus mengirimkan doa, sambil saya berpikir apakah ada cara
lain untuk mendapatkan penerbangan tercepat menuju kampung halaman. Jelas,
bermalam di Tokyo bukan pilihan yang tepat (meskipun bunyi tiketnya
demikian) di saat seperti itu.
Perjalanan selama 16 jam menuju Tokyo
dengan menyeberangi Samudra Pasifik, sepertinya kurang dari 4 jam.
Berangkat dari Dallas jam 11:30 siang, tiba di Tokyo jam 15:15 sore. Di
sepanjang perjalanan, setiap kali saya memperhatikan petunjuk waktu
setempat (saat dimana posisi pesawat berada), hanya berkisaran di seputar
jam 1, 2 atau 3 siang. Tidak mengalami sore, malam dan pagi. Dari Dallas
hari Minggu, tiba di Tokyo hari Senin, karena perjalanan menyeberangi
Samudra Pasifik adalah perjalanan melewati garis batas penanggalan
internasional.
Tapi sebagai seorang muslim, saya “untung”.
Selama perjalanan 16 jam, bahkan hari telah berganti, saya hanya
berkewajiban sholat satu kali saja, yaitu Dzuhur yang waktunya suuuaangat
panjang. Lha, waktu-waktu sholat yang lain kemana? Ya, embuh. Wong
nyatanya begitu, berangkat dari Dallas menjelang waktu Dzuhur, tiba di
Tokyo sesudah bedug Ashar. Penjelasan yang paling masuk akal adalah
barangkali karena pesawatnya bergerak ke arah barat bersamaan dengan “bergeraknya”
matahari, sehingga waktunya seperti siang terus.
(4). JIKA INGIN MENILPUN DARI PESAWAT
Sepanjang perjalanan terbang menyeberangi
Samudra Pasifik yang 16 jam itu saya tidak bisa tidur dengan enak. Setiap
saat pikiran saya melayang ke rumah, membayangkan persiapan pemakaman ibu
saya yang dijadwalkan hari Senin pagi jam 10:00 WIB. Hampir setiap jam
otak saya bermatematika : kira-kira di Kendal sedang jam berapa. Hitungan
matematika menjadi mudah lantaran di layar monitor yang ada di pesawat
selalu ditayangkan petunjuk waktu saat itu (saat posisi pesawat berada,
saat di Dallas dan saat di Tokyo). Sehingga saya tinggal menambahkan beda
waktu antara tempat-tempat tersebut dengan WIB.
Di tengah-tengah Samudra Pasifik (lagi-lagi
saya lihat posisi pesawat di layar monitor), pada saat yang saya
perkirakan di Kendal sudah menunjukkan hari Senin jam 09:00 pagi, saya
berniat menilpun Bapak saya dari pesawat.
Saya hanya ingin memastikan bahwa persiapan pemakaman ibu saya berlangsung
lancar dan sudah benar tata caranya sebagai mayat seorang muslim. Meskipun
sebenarnya di dalam hati saya sudah yakin akan hal itu, tetapi ada
dorongan kuat untuk berbicara langsung dengan Bapak dan adik-adik saya di
rumah.
Saya tatap terus gagang tilpun di depan
kursi saya. Saya buka berkali-kali majalah di kantong kursi pesawat yang
memuat petunjuk cara penggunaan tilpun di pesawat. Lagi-lagi sambil saya
bermatematika : kira-kira berapa biayanya. Kartu kredit saya siapkan. Tata
cara bertilpun saya baca berulang-ulang hingga saya yakin hapal di luar
kepala (seolah-olah sudah terbiasa menggunakannya).
Saya pahami benar bahwa biaya tilpun dari atas Samudra Pasifik adalah US$
10.00 per menit. Artinya kalau saya bicara 10 menit, saya akan kena
tagihan dari kartu kredit minimal US$ 100.00 plus pajak.
Maka, gagang tilpun segera saya angkat,
saya gesekkan kartu kredit, lalu saya ikuti instruksi di layar kecil di
gagang tilpun sesuai dengan prosedur yang sudah saya hapal, dan ternyata
memang langsung ..... kriiing, di Kendal sana (saya sedemikian percaya
diri, bahwa seandainya penumpang di sebelah saya memperhatikan tingkah
saya, pasti dia akan berpikiran bahwa saya tidak “ndeso”, lha wong
sudah saya hapalkan tata caranya).
Pembicaraan dengan Bapak dan adik saya
ternyata lebih singkat dari yang saya rencanakan sebelumnya. Bukan mau
irit, tapi lebih karena tidak tahu lagi apa yang mau diomongkan
banyak-banyak. Yang paling pokok, saya sudah dapat kepastian bahwa jenazah
almarhum ibu saya sudah diperlakukan sebagaimana mestinya mayat seorang
muslim, dan sesaat lagi siap diberangkatkan ke pemakaman (saat itu sudah
menjelang jam 10:00 pagi di Kendal). Mak plong ....., rasanya.
(5). JIKA HARUS MENILPUN, TAPI ENTAH KEPADA SIAPA
Senin sore, 14 Pebruari 2000, sekitar jam
15:45 saya sudah berada di ruang kedatangan bandar udara Narita, Tokyo.
Dari sinilah, rupanya serangkaian upaya yang sangat melelahkan di
sepanjang perjalanan saya dari New Orleans ke Kendal akan saya mulai.
Menurut tiketnya, saya akan bermalam di
Tokyo menunggu perjalanan sambungan menuju Jakarta esok harinya dengan
Japan Airlines (JL), karena rute inilah yang akhirnya saya dapatkan saat
pesan tiket di New Orleans. Oleh karena itu bagasi saya harus diambil di
Tokyo. Untuk mengambil bagasi, saya harus keluar dari bandara melewati
imigrasi, dan untuk melewati imigrasi saya ditanya tentang visa kunjungan
ke Jepang. Karena saya hanya akan “overnight” menunggu penerbangan
sambungan esok harinya, maka diperlukan “shore pass”. Sedangkan untuk
memperoleh “shore pass” saya mesti menghubungi dan meminta kepada
petugas American Airlines (AA), yaitu perusahaan penerbangan yang mengatur
perjalanan saya dari Amerika.
Petugas imigrasi bandara Narita lalu
menunjukkan agar saya menuju “counter” AA. Saya pun segera mundur dari
gerbang imigrasi, dan menuju “counter” AA yang dimaksud. Ternyata di
sana tidak ada siapa-siapa, bahkan nyaris tidak ada tanda-tanda bahwa di
situ tempat meminta “shore pass”. Saya pun celingukan, berjalan
kesana-kemari, kesal, sambil jelalatan barangkali ada “petunjuk arah”.
Karena tidak menemukan apa-apa dan siapa-siapa di “counter” yang
ditunjukkan tadi., saya lalu berhenti dan bersandar di sebuah meja
setinggi dada (dalam hati saya mereka-reka, orang Jepang ini umumnya
pendek tapi meja “counter”-nya kok tidak lazim tingginya).
Eh, lha kok ternyata di atas meja itu ada
tempelan kertas bertuliskan kira-kira bunyinya adalah : jika Anda perlu
bantuan untuk mendapatkan “shore pass” silakan hubungi nomor-nomor di
bawah ini..... Lalu tertulis berderet nama perusahaan penerbangan beserta
nomor-nomor tilpun. Saya temukan nomor tilpun untuk pesawat AA, ternyata
nomor tilpun yang aslinya dicetak dengan komputer sudah dicoret dan
diganti dengan tulisan tangan.
Dan itupun sudah juga dicoret lagi, diganti dengan tulisan tangan yang
lebih jelek, dan nulisnya miring lagi. Di balik meja tinggi itu ada sebuah
pesawat tilpun dan komputer “kuno” yang sepertinya tidak pernah
dipakai.
Tampak kusam dan sudah tidak cerah lagi warnanya.
Sejenak saya tolah-toleh, sekedar untuk
meyakinkan bahwa di situ memang tidak ada siapa-siapa, selain ada seorang
ibu muda yang juga penumpang pesawat yang sedang sama bingungnya dengan
saya. Lalu saya beranikan diri mengangkat gagang tilpun, ambil nafas
sejenak, lalu menekan sebuah nomor yang tertulis jelek itu. Entah mau
nyambung kemana atau siapa, yang penting tilpun. Dalam hati saya berharap,
mudah-mudahan nomornya tidak salah, tidak salah sambung dan tidak dijawab
oleh mesin otomatis.
Berhasil .....! Ternyata memang langsung nyambung ke kantor perwakilan AA,
entah kantornya ada di mana. Belum sempat saya mengutarakan maksud saya
menilpun, dengan cepat ditimpali oleh pembicara di seberang sana dan saya
diminta menunggu sebentar, karena petugas AA akan segera datang (dalam
hati saya berharap mudah-mudahan yang menjawab tadi bukan jin Tomang yang
suka menterjemahkan kata-kata “sebentar” berarti bisa sampai satu
jam).
Seperti tahu kekhawatiran saya, dua orang
petugas AA yang nampak jelas mereka orang Jepang, memang membuktikan
pesannya tadi.
Belum lima menit.....,
Sudah sampai ke meja tempat saya menilpun
tadi. Lho, kok tahu kalau saya menilpun dari situ? Agaknya mereka lari,
nafasnya masih ngos-ngosan, karena itu saya tidak tega untuk langsung
mencecar dengan pertanyaan. Tapi sepertinya mereka sudah paham apa yang
saya butuhkan, barangkali memang itu tugas rutinnya, sehingga malah mereka
yang mendahului mengajukan pertanyaan beruntun, antara lain saya datang
dengan pesawat nomor berapa, penerbangan lanjutannya dengan pesawat apa,
nomor berapa, kapan, dsb.
Tiba-tiba saya merasa menjadi tidak sendirian di Narita, tidak sebagaimana
saat kebingungan tadi.
(6). JIKA HARUS MENCARI PENERBANGAN TERCEPAT DARI TOKYO
Saat di depan petugas AA itulah, tiba-tiba
muncul ide di pikiran saya, untuk minta tolong kepada kedua orang Jepang
itu agar bersedia membantu mencarikan alternatif penerbangan tercepat
menuju Jakarta, dengan tanpa harus menginap semalam di Tokyo. Kalau saja
saat itu bukan dalam perjalanan “emergency”, rasanya kesempatan
menginap semalam di Tokyo akan menjadi pilihan yang cukup mengasyikkan.
Melihat betapa pedulinya mereka terhadap
persoalan saya sebagai pengguna jasa penerbangan AA, pasti mereka mau
membantu, pikir saya. Apalagi saya punya alasan kuat bahwa saya sedang
dalam perjalanan “emergency” karena ibu saya meninggal dunia.
Tentu saja untuk yang terakhir ini saya sambil berakting “macak melas”
(berlaku seolah perlu dikasihani, dan rasanya memang begitu .....)
sedramatis mungkin.
Benar juga, dengan cara yang sangat
simpatik mereka mau membantu saya, dan lalu meminta saya untuk menunggu
sebentar. Saya begitu yakin dengan kata-kata “sebentar”-nya. Salah
seorang dari mereka, seorang gadis Jepang berperawakan gemuk, segera
berjalan cepat meninggalkan saya.
Benar-benar sebentar, gadis Jepang yang saya lupa membaca label nama di
dadanya itu segera kembali, lalu menghidupkan komputer “kuno”-nya yang
ternyata masih berfungsi baik, pencet-pencet “keyboard”, lalu keluar
secarik kertas berisi alternatif penerbangan menuju Jakarta. Ini dia yang
memang saya harapkan.
Sambil menunggu petugas AA “memainkan”
komputernya, pandangan saya tertuju kepada seorang ibu muda yang tadi sama
bingungnya dengan saya. Saya perhatikan si ibu tampak asyik bercakap-cakap
dengan petugas penerbangan lain. Rupanya bukan asyik mengobrol, melainkan
karena si ibu muda itu tidak paham bahasa Inggris, hanya bisa bahasa
Spanyol. Sedangkan dua orang petugas penerbangan lain yang juga orang
Jepang, tidak ngerti bahasa Spanyol. Jadi tampak seru. Yang mengherankan
saya, tidak tampak sedikitpun ekspresi panik pada wajah si ibu, malah
cengengesan karena setiap kata yang mereka saling ucapkan tidak pernah
sambung.
Petugas AA telah selesai dengan komputer
“kuno”-nya. Lalu dikatakannya bahwa sudah tidak ada penerbangan
langsung ke Jakarta hari itu juga.
Wah! Tapi menurutnya ada alternatif, untuk malam itu juga saya bisa
terbang ke Singapura dengan Singapore Airlines (SQ) dan akan tiba di sana
jam 1:30 dini hari Selasa.
Lalu esoknya jam 7:00 pagi saya bisa terbang ke Jakarta. Saran yang bagus,
saya pikir lebih baik menghabiskan waktu di Singapura karena penerbangan
menuju Jakarta dari Singapura akan lebih banyak pilihan.
Sebagai konsumen pengguna jasa penerbangan
AA, saya diperlakukan dengan sangat baik. Padahal setelah itu saya sudah
tidak lagi menggunakan jasa mereka, melainkan ganti dengan SQ atau Garuda.
Rasanya saya harus mengakuinya, bahwa itulah “kelebihan” mereka dalam
me-“manage” pelanggannya.
Dalam hati saya berprasangka, kok yang demikian itu jarang ada perusahaan
jasa di Indonesia yang mau meniru.
Salah seorang petugas yang laki-laki
kemudian membawa saya ke “counter” AA di bagian keberangkatan (saya
tidak jadi meminta “shore pass” untuk keluar bandara melewati
imigrasi), dan lalu mempertemukan saya dengan petugas lain di bagian tiket
AA. Di bagian ini saya menunggu agak lama.
Rupanya sang petugas sedang bingung, padahal mestinya saya yang bingung.
Rupanya dia juga merasa berkepentingan untuk ikut bingung, membantu saya.
Rasa turut berkepentingan atas kesulitan yang sedang dihadapi orang lain
ini rasanya dijaman kini terasa sangat mahal harganya, di jaman reformasi
sekalipun.
Dia bingung karena alternatif pertama
penerbangan lanjutan ke Jakarta esok hari dari Singapura adalah dengan
Garuda Indonesia (GA), sedangkan tiket GA ternyata tidak bisa dikeluarkan
oleh pihak AA di Tokyo, padahal tempat duduknya bisa “confirm”.
Alternatifnya, ada 3 penerbangan SQ pada jam-jam sesudah jadwal GA yang
tiketnya bisa dikeluarkan saat itu juga, tapi tempat duduk berstatus “stand
by”. Lalu agak sore ada lagi Thai Airways (TG), yang tempat duduknya OK
dan tiket juga bisa langsung dikeluarkan.
Yang membuat dia bingung adalah kenapa
tiket GA tidak bisa dikeluarkan di Tokyo saat itu (sebenarnya kalau mau
dia tidak perlu bingung, bisa saja dia berlaku cuek dan bilang bahwa hanya
tiket SQ yang bisa dikeluarkan, dan toh pasti saya akan percaya juga).
Untuk meyakinkan saya, sang petugas tiket AA itu pun meminta saya untuk
melongok ke layar komputernya. Dan memang di situ saya lihat ada tulisan
“non ticketable”. Sang petugas AA akhirnya menyerahkan keputusan
kepada saya, mau ambil tiket yang mana, karena pihak AA hanya bisa
melakukan “endorsement” guna pengalihan tiket dengan harus menyebutkan
nama penerbangannya.
Ini membuat saya harus berpikir keras,
mengatur strategi agar terhindar dari kesulitan esok harinya di Singapura.
Pilihan dengan penerbangan lanjutan apa sebaiknya tiket dikeluarkan. Dalam
waktu yang singkat, pikiran saya menguji beberapa kemungkinan yang bisa
terjadi atas beberapa alternatif penerbangan lanjutan yang diberikan.
Akhirnya saya pilih penerbangan dengan TG. Pertimbangan saya waktu itu
adalah meskipun jadwal TG agak sore tapi tempat duduk OK dan tiket bisa
langsung dikeluarkan saat itu juga, sambil berasumsi bahwa di Singapura
saya akan melakukan jurus “macak melas” yang sama seperti tadi untuk
mencari peluang berangkat dengan penerbangan lebih awal. Toh
sesial-sialnya, saya sudah pegang tiket TG untuk penerbangan sore
(belakangan ketika di Singapura saya baru menyadari bahwa pilihan dan
strategi saya ini ternyata salah).
Setelah semua tiket sudah dikeluarkan oleh
pihak AA, saya langsung check-in untuk penerbangan SQ ke Singapura.
Tiba-tiba saya baru ingat, lha bagasi saya bagaimana?. Wong menurut
labelnya bagasi tersebut harus saya ambil dulu di Tokyo. Dengan sangat
meyakinkan, petugas AA itupun “ngayem-ayemi” (menenangkan pikiran)
saya bahwa soal bagasi saya tidak perlu khawatir.AA akan mengaturnya, dan
saya tinggal mengambilnya di Singapura nanti.
Ada perasaan ragu-ragu. Lha bagaimana tidak, wong di labelnya sejak di New
Orleans sudah jelas-jelas tertulis bahwa tujuan akhir bagasi itu adalah
Tokyo. Sementara lalu lintas penerbangan di Narita sangat sibuk, hari
sudah malam lagi. Wis embuh, pikir saya. Pokoknya segera berangkat ke
Singapura malam itu juga, yang artinya saya berhasil mengurangi waktu
tempuh perjalanan dibanding dengan rencana sebelumnya yang harus nginap di
Tokyo. .
(7). JIKA INGIN TILPUN DARI TILPUN UMUM DI BANDARA NARITA
Saat itu Senin malam, 14 Pebruari 2000,
sambil menunggu saat “boarding”, saya mencari tilpun umum untuk
melakukan panggilan internasional menghubungi adik-adik di Kendal sana.
“Privilege” untuk menunggu di “VIP lounge” sebagai penumpang kelas
bisnis saya korbankan.
Saya jumpai beberapa kotak tilpun umum,
semuanya sudah diantri calon penilpun. Satu per satu kotak tilpun saya
dekati dari samping, di antara antrian orang. Saya baca aturan pakainya
dengan teliti, yang ditulis dalam bahasa Jepang dan Inggris. Rupanya ada
bermacam-macam perusahaan jasa tilpun, tidak dimonopoli oleh PT Telkom-nya
Jepang saja. Ada diantaranya yang dapat dioperasikan menggunakan kartu
kredit, tapi hanya Amex yang diterima.
Untuk alasan kemudahan, saya coba antri di
belakang kotak tilpun yang menerima Amex. Tiba giliran saya, langsung
kartu Amex saya gesekkan, dan saya ikuti instruksi selanjutnya. Tidak mau
nyambung, dan tidak ada pesan apa-apa. Saya ulangi lagi, juga gagal.
Setelah ketiga kalinya gagal, langsung saya batalkan. Saya merasa tidak
enak sama orang lain yang antri di belakang saya.
Saya pindah ke pesawat di kotak sebelah,
tapi sebelumnya saya baca aturan mainnya dulu, ternyata harus menggunakan
kartu tilpun. Di dekat situ memang ada mesin penjual kartu tilpun, tapi
membelinya harus menggunakan uang Jepang. Padahal di sekitar lobby
keberangkatan tidak saya jumpai ada tempat penukaran uang. Terpaksa cari
akal, masuk toko souvenir dan cari barang-barang yang layak dibeli
setidak-tidaknya tidak akan mubazir, dan yang penting bisa dibayar dengan
dollar. Dapatlah piring hias yang ada gambarnya pemandangan kaki Gunung
Fuji. Saat membayar, sambil tanya sama kasirnya berapa harga kartu tilpun
termurah. Dijawab 1000 yen (saat itu 1 dollar sekitar 105 yen), maka lalu
saya bayar souvenir sekalian tukar dollar dengan 1000 yen. Satu langkah
untuk tilpun terselesaikan.
Langkah berikutnya adalah membeli kartu
tilpun kepada mesin. Benar juga, begitu saya selipkan uang 1000 yen ke
dalam mesin, langsung keluar selembar kartu tilpun. Lalu saya kembali
menuju kotak tilpun yang tadi, dan antri lagi. Tiba giliran, lalu pencet
ini-itu. Lho kok tidak sambung-sambung, dihalo-halo sama mesin penjawab
katanya kode aksesnya salah. Perasaan saya sudah benar. Saya coba
tolah-toleh cari bantuan. Saya pilih seorang gadis Jepang yang sedang
menunggu giliran di pesawat tilpun sebelah, lalu saya tanya. Cuma dijawab
dengan senyum manis. Saya ulangi bertanya lagi, malah senyumnya makin
dimanis-maniskan. Lho? Rupanya tidak paham bahasa Inggris. Lalu saya tanya
orang yang antri di belakang saya, dijawab bahwa dia juga baru pertama
kali akan memakai tilpun. Wah…! Terpaksa amit mundur dulu, memberi
kesempatan kepada yang antri di belakang saya.
Belum menyerah saya. Saya coba lagi membaca
dengan lebih teliti tata cara melakukan “international call”. Eh,
ketahuan bodohnya. Rupanya mesin penjawab tadi benar, saya telah
menggunakan kode akses untuk tilpun interlokal dalam negeri. Kali ini saya
gagal untuk berlaku tidak “ndeso” sebagaimana yang saya peragakan di
pesawat sebelumnya. Maklum, saking banyaknya tulisan tentang “juklak”
menilpun, yang mana untuk setiap perusahaan tilpun yang kotaknya ada di
situ tidak sama aturan mainnya.
Terpaksa kembali ke antrian lagi, dan kali
ini berhasil hingga titik pulsa terakhir. Ngomong dengan adik saya jadinya
harus cepat-cepat, wong kartunya yang termurah. Pasti jatah pulsanya
sedikit, pikir saya. Entah berapa banyak pulsanya, saya lupa
memperhatikan. Yang jelas, belum lima menit ….., pembicaraan saya akhiri
dan nampaknya memang pas pulsanya habis.
(8). JIKA MEMILIH UNTUK TIDUR DI RUANG TUNGGU BANDARA
CHANGI
Selasa, 15 Pebruari 2000, sekitar jam 1:30
dini hari, pesawat Singapore Airlines (SQ) mendarat di Terminal 2 Changi,
Singapura. Saya harus melewati imigrasi, karena mesti keluar dulu untuk
ambil bagasi. Ternyata bagasi saya sudah tiba bersama-sama saya. Terus
terang saya agak “gumun” (heran), bahwa petugas American Airlines (AA)
di Tokyo benar-benar menangani bagasi saya yang seharusnya saya ambil di
Tokyo, mengikuti penerbangan lanjutan saya ke Singapura malam itu juga.
Padahal saya sudah tidak lagi menggunakan jasa penerbangan mereka.
Pikiran pertama setiba di bandara Changi
adalah langsung mencari “counter” Thai Airways (TG). Maksudnya mau
menegosiasikan tiket saya agar bisa pindah dengan pesawat pertama yang
terbang ke Jakarta paginya, yaitu Garuda Indonesia (GA) dan seklaigus
menukar tiketnya. Ternyata untuk ketemu “counter” TG maupun juga GA
saya mesti menuju ke Terminal 1. Wah, agak jauh. Saya ubah skenarionya.
Saya coba langsung menghubungi “counter” SQ di Terminal 2. Lalu
dijelaskan oleh petugasnya bahwa tiket saya tidak bisa langsung digunakan
untuk penerbangan lain, karena di Tokyo tiket AA saya sudah dialihkan ke
TG. Untuk dapat pindah ke SQ atau pesawat lain, harus ada “endorsement”
dulu dari pihak TG.
Akhirnya tetap juga saya mesti ke Terminal
1, itupun belum tentu buka, di saat dini hari, kata seorang Satpam bandara
yang saya tanyai. Belum lagi mesti jalan kaki, karena “sky-train” yang
menghubungkan Terminal 2 ke Terminal 1 dan sebaliknya sudah berhenti
beroperasi dan baru mulai beroperasi lagi jam 6 pagi. Belum lagi sambil
menyeret bagasi yang cukup berat. Yen tak pikir-pikir ....., kok ya lebih
baik istirahat saja dulu, simpan tenaga untuk esok paginya berburu lagi
pesawat tercepat menuju Jakarta. Jadilah, masuk ke Terminal 2 lagi melalui
imigrasi, dan stempel imigrasi di paspor pun saya minta untuk dibatalkan.
Dalam hal “over night” di Singapura
seperti ini, pengalaman sebelumnya saya langsung menuju ke lantai 3 untuk
tidur di hotel transit airport.
Bagaimanapun juga ini adalah kesempatan untuk istirahat, memulihkan
stamina, dan bisa tidur dengan posisi sempurna, meskipun harus mbayar.
Akan tetapi mempertimbangkan bahwa esok pagi-pagi mesti sudah mulai ngurus
ini-itu kesana-kemari, saya memilih untuk tidur di kursi ruang tunggu di
lantai 2 saja. Di sana banyak sesama penumpang transit yang juga tidur di
kursi menunggu penerbangan lanjutan esok paginya. Tetapi yang lebih
penting bagi saya adalah agar tidak kebablasan tidurnya. Lumayan....., toh
bisa juga tidur 2-3 jam, meskipun agak "klisikan" (tidur tidak
nyenyak) dan
diselingi “nglilir” (terbangun) beberapa kali. Selain karena tidurnya
tidak dengan posisi sempurna, juga karena pikiran tetap bekerja menyusun
skenario untuk esok paginya.
Sekedar pengalaman pembanding, pada tahun
1993 saya pernah kemalaman di Cengkareng dalam perjalanan dari Bengkulu ke
Yogya, dan terpaksa tidur di Terminal F. Rasanya seperti di rumah “suwung”
(tidak berpenghuni), meskipun tidurnya di airport. Sepi dan tidak ada “tanda-tanda
kehidupan”, boro-boro ada yang jual makanan. Bahkan karena tidur di
bangku ruang tunggu saya merasa kedinginan, akhirnya pindah tidur di
musholla. Itupun masih kedinginan, lapar lagi.
Sebelum merebahkan badan di kursi tinggu
Terminal 2 Changi, saya sempatkan untuk mencari “smoking area”.
Maklum, sejak dari New Orleans kemarin saya terpaksa menahan keinginan
untuk merokok, karena memang di setiap tempat terpampang tulisan dilarang
merokok.
Namun sebenarnya saya menahan keinginan
merokok bukan lantaran ada tanda “No Smoking”. Melainkan karena tidak
saya jumpai orang yang tidak tahu malu, yang suka melanggar tapi justru
bangga. Tidak saya jumpai orang yang suka nekad melanggar aturan umum.
Saat itu, saya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang tahu malu dan
menghargai aturan. Ingin rasanya saya mengajak 200 juta tetangga saya agar
mempunyai keinginan yang sama. Tapi jangan-jangan ....., untuk punya
keinginan semacam itupun para tetangga saya itu juga malu.
Di kesempatan lain, pernah sekali waktu
saya transit di bandara Taipei, Taiwan. Karena di sekitar ruang tunggu
tidak boleh merokok, saya berjalan menuju lorong penghubung antara
ruang-ruang tunggu. Agak ke ujung lorong memang tidak saya jumpai tulisan
“No Smoking”, tapi juga tidak ada tulisan “Smoking Area”. Hanya
yang melegakan, di situ ada bekas puntung rokok berserakan di sepanjang
tempat bunga. Saya hanya berlogika : berarti puluhan orang yang merokok
sebelum saya berkategori tidak melanggar aturan, alias tidak dilarang.
Kesimpulan yang bagus, terkadang logika secara bodoh semacam ini ada
gunanya. Paling tidak, bisa menjadi “tempat persembunyian” yang masuk
akal.
(9). JIKA PILIHAN SAYA TERNYATA SALAH
Jam 05:30, Selasa pagi, saya sudah
terbangun karena Terminal 2 mulai ramai. Kucek-kucek mata sebentar,
menggeliat, menyusun barang bawaan, lalu mendorong kereta ke arah stasiun
“sky-train” karena harus ke “counter” Thai Airways (TG) di
Terminal 1. Ya jelas “sky-train”-nya belum beroperasi, wong belum jam
6:00. Lalu saya berhenti sebentar di “prayer room” yang letaknya agak
tersembunyi untuk sholat Subuh, meskipun sebenarnya saya ragu apakah saat
itu di Singapura sudah masuk waktu sholat Subuh atau belum.
“Sky-train” ternyata beroperasi 5 menit
lebih awal, jadi bisa segera meluncur ke Terminal 1, seusai sholat Subuh.
Setelah keluar melewati imigrasi, langsung menuju bagian “check-in” TG
di lantai 1. Pikiran pertama saya, saya akan minta TG untuk memberikan “endorsement”
atas tiket saya ke Garuda Indonesia (GA). Karena meskipun petugas American
Airlines (AA) di Tokyo tidak berhasil mengeluarkan tiket GA, tapi bisa
membuat status “seat” saya OK. Lagipula GA adalah penerbangan pertama
pagi itu dari Singapura menuju Jakarta, berangkat jam 06:50. Artinya saya
harus mengejar waktu sekitar 50 menit.
Bagian “check-in” TG rupanya tidak bisa
memberi “endorsement”. Kata petugasnya, pengalihan tiket ke
penerbangan lain harus dilakukan oleh kantor TG yang ada di lantai 2.
Katanya lagi, biasanya kantor baru buka jam 08:00. Wah ..., modar aku!,
batin saya. Artinya saya mesti menunggu 2 jam lagi.
Tetapi sang petugas juga “ngayem-ayemi” (menenangkan pikiran) saya,
disuruhnya saya langsung saja ke kantor : “Siapa tahu sudah ada orang”,
katanya.
Dengan berharap banyak di balik kata “siapa
tahu”, saya langsung mencari kantor yang dimaksud di lantai 2.
Ngos-ngosan juga, karena barang bawaan saya cukup berat. Ternyata kantor
TG memang belum buka, dan tidak tampak ada orang di dalamnya. Saya tunggui
saja persis di depan pintu kantor yang masih sepi itu. Sudah 10 menit
berlalu, 20 menit berlalu, masih juga belum ada tanda-tanda ada orang.
Saya mulai gelisah, karena GA akan terbang jam 06:50. Setelah jalan
kesana-kemari di seputaran kantor, kemudian saya putuskan untuk turun lagi
ke bagian “check-in” di lantai 1 menemui petugas berbeda, sambil
berharap barangkali petugas lain bisa membantu.
Ternyata tidak juga, tetap disuruhnya saya
datang ke kantor. Yaaa ....., balik lagi ke lantai 2, tetap dengan
menggotong-gotong barang bawaan karena kereta tidak diperbolehkan masuk
dan naik tangga berjalan. Tetap juga kantornya masih tutup.
Kalau gelisah begini biasanya paling enak
menyalakan rokok, tapi tentu tidak bolah. Akhirnya ya hanya bisa “anguk-anguk”
(berdiri di lantai atas sambil melongok-longokkan kepala memandang ke
lantai bawah) di depan pintu kantor, sambil tetap berdoa mudah-mudahan
kata “biasanya buka jam 8:00” tidak berlaku untuk hari itu.
Saat itulah saya baru menyadari bahwa
keputusan saya untuk memilih tiket TG sewaktu di Tokyo ternyata adalah
strategi yang salah. Seharusnya saya memilih untuk dikeluarkan tiket
Singapore Airlines (SQ) saja. Sekalipun status kursi saya waktu itu tidak
“confirm”, tapi SQ punya kelebihan lain.
Pertama : ada banyak “counter” SQ di
Changi, sehingga tidak perlu kesana-kemari untuk mengurus ini-itu. Kedua :
perwakilan SQ di Changi buka 24 jam. Ketiga : ada 3 penerbangan SQ pagi
hingga siang itu menuju Jakarta, sehingga kalaupun penerbangan pertama
tidak bisa, masih ada peluang bernegosiasi untuk penerbangan kedua atau
ketiga yang semuanya masih relatif lebih awal tiba di Jakarta. Keempat :
saya punya jurus pamungkas, bahwa saya saat itu sedang dalam perjalanan
“emergency”.
Salah strategi. Ya, sudah. Wong pilihan
salah sudah telanjur dibuat.-
(10). JIKA HARUS KEMBALI MEMAINKAN LAKON
"EMERGENCY"