| |
UDANGNYA MANG ENGKING
Ini cerita soal makan, hasil perburuan
selama cuti ke Yogya musim libur kenaikan kelas kemarin. Siapa tahu
dapat menjadi alternatif bagi mereka yang hendak berlibur atau ada
perjalanan bisnis ke Yogya. Bosan dengan menu yang ada di dalam kota?
Maka cobalah sedikit ke luar kota. Tepatnya di desa Sendangrejo,
kecamatan Minggir, Sleman. Di sana ada banyak tambak udang galah yang di
sekitarnya dibangun pondok-pondok atau gubuk-gubuk tempat makan. Salah
satunya, dan yang menjadi pelopor bisnis ini adalah Pondok Udang Mang
Engking (menilik namanya, pasti asal Jawa Barat).
Sebut saja Pondok Udang di Minggir,
Godean, maka orang akan dengan mudah menemukan lokasinya.
Setidak-tidaknya kalau sudah sampai Godean, tanya orang di pinggir jalan
pasti tahu. Berjalanlah (pakai motor atau mobil tentunya, jangan
sekali-kali jalan kaki) dari Yogya menuju Godean. Lanjutkan sedikit ke
barat kira-kira 1,5 km akan ketemu perempatan, lalu belok kanan menuju
arah Tempel. Terus ke utara sekitar 4-5 km, akan terlihat banyak
tambak-tambak udang di antara areal persawahan di pinggir jalan ini.
Paling tidak ada lebih 7 lokasi pondok makan di kawasan ini, tinggal
pilih mau makan di pondok mana. Tapi mempertimbangkan bahwa Mang Engking
adalah pelopor usaha perudangan di daerah ini, maka saya cari-cari
tulisan Mang Engking di sisi kiri jalan. Begitu ketemu, lalu belok kiri
masuk ke jalan kecil belum beraspal. Inilah satu-satunya jalan termudah
menuju lokasinya Mang Engking, hanya beberapa ratus meter saja dari
jalan aspal Godean - Tempel.
Namun jika Anda kesana hari Sabtu atau
Minggu pas jam makan siang, bersiap-siaplah untuk agak kerepotan
memasuki jalan ini, saking banyaknya mobil-mobil (banyak juga berplat
nomor luar kota) keluar-masuk atau berebut parkir di jalan tanah pinggir
sawah atau tambak. Asyik. Berikutnya cari pondok yang kosong. Ada
sekitar 7 pondok dengan beberapa meja di dalamnya. Jika kebetulan lagi
penuh, maka harap sabar mengantri. Asyik lagi, bisa kepanasan.
Setelah duduk, pesan makanan dengan
berbagai pilihan menu ikan air tawar, selain menu utamanya udang galah.
Bisa direbus, digoreng atau dibakar. Sekilo udang galah harganya Rp
70.000,- Jika khawatir terlalu banyak dan biar menunya merata, bisa
"diakalin", pesan saja udang, ikan bawal dan ikan nila
masing-masing seperempat kilogram. Atau, pesan sekilo tapi terdiri dari
dua atau tiga atau empat macam ikan. Tinggal terserah mau dimasak
bagaimana. Bumbu asam-manis adalah salah satu yang bisa membuat ngelek
idu (menelan air liur). Jangan lupa, tumis kangkung dan sambal terasinya
uenak tenan. Lalu tunggu sebentar, terkadang ya agak lama juga. Asyik
lagi, menanti disajikan.
Perut lapar, makan udang goreng, di atas
tambak, anginnya semilir, perut kemlakaren (kekenyangan), malas berdiri
(asal jangan malas bayar, saja....). Wis to, yang ini huaaasyik tenan.
***
Lebih duapuluh tahun yang lalu Mang
Engking Sodikin boro dari Ciamis ke Yogya, lalu merintis usaha tambak
udang galah di kecamatan Minggir, tidak jauh dari Kali Progo, dekat
dengan selokan Mataram. Selama itu ya biasa-biasa saja, pasang-surut
bisnis tambak udang dialaminya. Di atas tambak didirikannya pondokan
tempat Mang Engking istirahat kalau capek ngurus tambaknya. Sekitar tiga
tahun yang lalu, pondoknya diperbaiki, lalu ngiras-ngirus sambil jualan
udang untuk konsumsi pembeli eceran. Kata Bu Engking (yang ini pasti
istrinya Mang Engking), ketika saya tanya sejak kapan mulai usaha ini?.
Jawabnya dengan logat Sunda yang masih kentara, kira-kira begini :
pondoknya sih dibangun sejak 3-4 tahun yang lalu, waktu itu yang beli
udang paling-paling sebulan hanya 1-2 orang saja.
Lha, kok lama-lama pembelinya semakin
banyak, malah seringkali ada "orang-orang kota" yang minta
dimasakkan sekalian dan dimakan di situ. Walhasil, sejak awal tahun
2004, Mang Engking sudah menambah jumlah pondoknya, juga agak
dipercantik (meskipun masih terkesan sangat sederhana), dan kebetulan
koran Kedaulatan Rakyat mengangkat dan mensponsori publikasinya. Jadilah
kisah sukses Pondok Udang Mang Engking yang sekarang ini. Lha, siapa
yang nyangka, wong cuma jualan udang eceran di tambak kok malah jadi
buka restoran besar. Pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam
kejadiannya. Namun yang pasti, Mang Engking perlu waktu
"pencarian" dua puluh tahun dengan tanpa disadarinya.
Melihat tanda-tanda kesuksesan Mang
Engking, jamaknya lalu para petambak udang di sekitarnya mulai ikut-ikut
membangun pondok-pondok makan juga. Maka berdirilah beberapa lokasi
pondok udang di kecamatan Minggir. Setidaknya bisa sebagai pilihan untuk
menikmati udang jika ternyata pondoknya Mang Engking sudah penuh. Lagi,
pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Dan, meniru
sukses orang lain adalah bukan tindakan yang salah (menjadi salah kalau
disertai dengan "kampanye negatif")
Kepingin mencoba? Monggo......
Yusuf Iskandar
Tembagapura, 20 Juli 2004
Mimbar Bambang Seputro
Updated 08/07/2000
|