| |
Logo Itu Perlu
Kira-kira dua bulan sebelum hari H mulai beroperasinya
“Madurejo Swalayan”, ada kesibukan tersendiri yang
tidak tampak, yaitu menetapkan apa nama tokonya dan
seperti apa logonya. Ah…! Sungguh ini hal yang tidak
pernah terpikir sebelumnya. Masak toko kecil di
pinggiran kota saja mesti punya logo. Nama tokonya
saja belum ketemu.
Lama-lama kepikiran juga. Sebagai salah satu upaya
agar tokonya dikenal orang, maka perlu punya nama,
setelah itu logo pun perlu ada. Berbekal nama dan
logo, barulah saya bisa pesan papan nama agar
diketahui orang lewat bahwa di lokasi itu akan dibuka
toko swalayan. Setelah itu pesan kartu nama untuk
dibagi-bagikan terutama kepada para pemasok (supplier)
yang suka midar-mider menawarkan dagangannya.
Rupanya bukan pekerjaan mudah untuk memilih nama toko.
Perlu pemikiran dan pertimbangan panjang untuk
menemukan nama toko yang kena di hati pemilik,
pelanggan dan semua stakeholder. “What’s in a name”,
kata Shakespeare suatu ketika. Tapi biarlah
Shakespeare berdeklamasi, pemilik toko tetap
berlalu….., mencari dan menemukan nama yang pas buat
tokonya.
Dari beberapa alternatif nama yang sempat digagas,
akhirnya disepakati oleh pemegang saham mayoritas
tunggal, nama “Madurejo”. Kedengarannya ndeso
buanget…, seperti tidak ada nama yang lain saja.
Kenapa tidak dipilih nama yang kedengaran lebih ngepop
dan berdayajual?
Di Yogya, banyak toko-toko swalayan
modern sejenis ini menggunakan nama-nama orang atau
initial pemiliknya sebagai nama tokonya. Dan biasanya
dipilih nama-nama perempuan, entah istrinya atau
anaknya, sehingga terdengar lebih empuk di telinga.
(Tapi, hati-hati lho dengan nama perempuan meski
kedengarannya indah di telinga. Katrina, adalah nama
yang cantik. Tapi ketika Katrina mau anjangsana ke
kota New Orleans, justru semua penduduknya diwajibkan
pergi menjauh sejauh-jauhnya dan kota dikosongkan,
bahkan penduduk pesisir selatan negara bagian
Louisiana, Mississippi, Alabama dan Florida pada lari
sipat kuping. Maka porak-porandalah New Orleans oleh
ulah Katrina. Rita, juga nama yang cantik, namun tidak
kalah nggegirisi (mengerikan). Ketika Rita mau
nyambangi pantai utara Teluk Meksiko, maka segenap
penduduk pesisir selatan Texas dan Louisiana pun
tunggang-langgang. Sunami, nama gadis desa di Jawa,
namun kedatangannya membawa bencana dahsyat di Aceh
dan seputaran samudra Hindia, padahal cuma mampir
sebentar….. Sekedar intermezzo saja…….).
Lalu, kenapa dipilih nama “Madurejo”? Pertama, karena
lokasinya masih agak ndeso untuk ukuran toko swalayan
modern, maka nama desa Madurejo dimana toko berada
adalah nama yang lebih merakyat dan familiar. Kedua,
pemiliknya punya obsesi agar kelak nama ini menjadi
ikon kebanggaan masyarakat desa Madurejo. Ketiga, ini
alasan yang kebetulan, kata “madu” berarti ya madu dan
kata “rejo” berarti ramai. Jadi, “madurejo” arti
tersuratnya berarti madu yang ramai dikerubutin,
sedangkan arti tersiratnya berarti tempat yang ramai
dikunjungi orang (disertai harapan mudah-mudahan orang
ramai itu pada membawa uang……..).
***
Usai sudah urusan nama. Lalu bagaimana dengan logo?
Logo adalah identitas perusahaan, corporate
identity….., dan “Madurejo Swalayan” adalah sebuah
korporasi kecil. Anda mungkin mengatakan, toko kecil
saja kok neko-neko….. Tapi tunggu dulu! Bukan soal
kecil atau besarnya. Repotnya kita ini terbiasa hidup
dengan ilmu perbandingan. Apa-apa selalu
dibanding-bandingkan. Dalam filosofi Jawa mengajarkan
bahwa mestinya kita bisa sawang-sinawang (saling
memandang dari posisi masing-masing). Maka tidak
selalu yang besar itu berarti “besar” dan yang kecil
itu selalu berarti “kecil”. Bisa jadi sebaliknya.
Saya tidak mau melihat “Madurejo Swalayan” dari
halaman parkirnya Indogrosir, Makro, Alfa atau
Carrefour. Saya suka melihat “Madurejo Swalayan” dari
emperannya warung-warung kecil di kampung-kampung.
Hanya dengan cara itu saya tahu artinya sebuah
korporasi yang bisa diterima di tengah komunitasnya.
Dan sebuah korporasi perlu punya logo sebagai
identitas, sebagai sebuah kebanggaan bagi segenap
stakeholders, termasuk pelanggan dan masyarakat
tetangga saya. Agar kelak saya bisa bilang kepada
mereka : “Madurejo Swalayan” memang untuk Anda…..
Saya mencoba melihat banyak toko swalayan modern
sejenis yang ada di Yogya. Kesan saya, banyak yang
“kurang perduli”, atau barangkali lebih tepat kalau
saya katakan kurang memperhatikan akan pentingnya
sebuah logo. Akhirnya, ya diambil jalan termudah,
huruf terdepan nama tokonya dikluweri begitu saja.
Dikluweri (dikurung) dengan bentuk garis lingkaran,
ellips atau persegi. Lebih praktis lagi, tidak usah
logo-logoan, asal ada nama tokonya. Lagi-lagi, ini
memang bukan soal baik atau buruk, benar atau salah.
Ini adalah soal corporate identity, soal kebanggaan
bersama milik bangsa…… Betapa sering kita dengar
korporasi besar di Indonesia maupun dunia yang rela
membelanjakan milyaran uangnya hanya untuk sebuah
logo.
Omong-omong soal kebanggan memang ibarat celurit
bermata dua. Mata yang satu bisa berarti terlena dan
mata satunya lagi bisa berarti termotivasi. Dinding
pemisahnya tidak ada. Kalau kita terjebak ke dalam
mata terlena, ya mimpi indah teruslah kita. Tapi kalau
kita dapat menggenggam mata termotivasi, maka kerja
keraslah kita. Dan kelihatannya yang terakhir ini
lebih realistis (dan bernilai ibadah) untuk dipilih.
Logo “Madurejo Swalayan” berbentuk huruf “M” warna
merah marun di atas bidang segi empat tegak warna biru
gelap. Huruf “M”-nya membentuk dua puncak grafik naik
dengan kedua ujung kakinya berada di luar bidang segi
empat. Apakah maknanya? Mula-mula ya enggak ada,
selain hanya untuk gaya-gaya, dan untuk pantes-pantes
saja…….
Baru belakangan saya menganggap logo itu sesuatu yang
memang perlu dan penting, lalu saya pas-paskan saja
tafsirnya. Begini : Warna merah marun dan biru gelap
adalah warna yang saya sukai. Merah berarti berani dan
biru berarti …. berani juga, berani tampil beda….
Huruf “M” adalah Madurejo. Dua puncak grafik tinggi,
dalam sandi Morse juga berarti huruf “M”. Grafik naik
adalah agar kinerja toko terus naik karena kalau
ditarik garis linier akan memberi kecenderungan naik
dan naik terus hingga ke puncak tak terhingga. Kedua
ujung kaki grafik (huruf “M”) berada di luar bidang
segi empat adalah agar berani ancik-ancik (berpijak
pada tumpuan) di atas pola pikir “out of the box”.
(Huh…! Ngepas-paskan makna logo saja sampai
ngos-ngosan……….).
Dari uraian panjang tentang makna logo “Madurejo
Swalayan”, dapat saya ringkas dalam tiga kata : Berani
Menuju Puncak. Sebuah korporasi ndeso yang sedang
berjuang menuju puncak kesuksesan.
***
Pendeknya, saya tidak mau menganggap remeh soal nama
dan logo. Tidak perduli seberapa besar atau kecilnya
toko kita. Tidak perduli apakah peresmiannya pakai
bubur merah, bubur putih atau bubur menado. Tidak
perduli di kota atau di desa. Nama dan logo yang kita
pilih, corporate identity, adalah lambang kebanggaan
yang akan jadi sumber inspirasi, motivasi dan rasa
percaya diri untuk melakukan yang terbaik menuju
puncak kesuksesan. Kecuali jika Anda berpikir
sebaliknya. Itupun juga tidak salah……..
Madurejo, Sleman – 29 Desember 2005.
Yusuf Iskandar
Mimbar Bambang Seputro
January 08, 2006
|