| |
Masuk Toko Sandal Dilepas
Buka usaha mini-market swalayan di kota, tentu sudah biasa. Tapi, buka toko
swalayan-modern di pinggir
kota, baru belum biasa. Di balik yang belum biasa inilah tersedia tantangan
dan peluang (plus sedikit nekat….).
Sebenarnya lokasi toko “Madurejo Swalayan” tidak ndeso-ndeso amat, wong
lokasinya ada di pinggir jalan,
kira-kira pertengahan jalan Prambanan – Piyungan yang cukup ramai. Ya,
jalannya yang ramai, karena merupakan
jalan sudetan ke Wonosari dari arah Solo. Hanya saja sebagian masyarakat di
sekitar desa Madurejo memang
belum terbiasa dengan model belanja melayani sendiri. Sebagian masyarakatnya
kebanyakan hidup dari pertanian
dan pedagang kecil. Entah buruh tani, entah pemilik lahan. Maka selama ini
kebutuhan sehari-harinya masih cukup dilayani oleh warung, toko atau pasar
tradisional.
Oleh karena itu sangat disadari bahwa pangsa pasar toko “Madurejo Swalayan”
memang bukan mereka itu,
melainkan sebagian lainnya yang selama ini sudah berinteraksi dengan
masyarakat kota. Entah sebagai
pekerja lepas harian, pegawai kantoran, pengusaha, pelajar atau mahasiswa,
dan kalangan menengah ke atas
lainnya. Selama ini mereka suka belanja ke Yogya, atau paling tidak ke
Prambanan atau Piyungan, kota
kecamatan terdekat. Mereka itulah sebagian masyarakat yang menjadi target
pasar “Madurejo Swalayan”. Bahasa
kampungnya, toko ini akan nyegati mereka agar tidak perlu belanja jauh-jauh
ke Yogya.
Lebih-lebih dengan naiknya harga BBM, praktis ongkos transport ke kota juga
ikut membengkak. Alhamdulillah,
toko ini buka pada saat harga BBM naik (Alhamdulillah untuk tokonya, bukan
untuk naiknya harga BBM). Maka
secara teoritis, warung, toko atau pasar tradisional tidak akan tersaingi
oleh toko ini. Sudah punya segmen
pasar sendiri-sendiri. Istilahnya Aa Gym, Tuhan pasti tidak akan salah
mendistribusikan bagian rejeki bagi
setiap orang. Tuhan Yang Maha Distributor – Maha Pemurah – Maha Adil.
Tapi ya setiap perubahan selalu ada dampaknya.
Meskipun sudah diproyeksikan untuk menjaring konsumen kalangan menengah ke
atas, tentu tidak mungkin untuk
dipasang tulisan “Orang ndeso dilarang belanja”. Akhirnya hukum pasar
berlaku, dimana ada barang lebih
murah, kesana pula pembeli akan menuju. Maka tidak heran, kalau selisih
harga Rp 50,- pun akan dikejar
pembeli. Namun itu sisi belakang mata uang. Sedang sisi depannya adalah,
orang desa pun tentu ingin tahu
toko swalayan-modern itu seperti apa, barang apa saja yang dijual, harganya
berapa, dsb.
Lha wong namanya toko swalayan-modern, kelebihan pertama tentu tampilan toko
akan berbeda dengan toko
tradisional, sebagai salah satu bentuk layanan dan untuk menarik perhatian
calon pembeli. Singkat kata,
konsumen atau pengunjung toko, entah beli entah tidak, harus dilayani
sebaik-baiknya dan dimanjakan. Tampilan
mesti keren, kerapian perlu dijaga, kebersihan apa lagi, pelayanan harus
diutamakan. Semua itu menjadi
sangat penting agar konsumen senang masuk toko, yang
akhirnya kembali lagi esoknya dan belanja lagi lain
waktu.
Suatu ketika datang ibu-ibu tua hendak
membeli sesuatu. Begitu masuk toko tampak rada canggung,
tolah-toleh kok enggak ada pelayan yang nyamperin. Di toko yang biasanya ibu
itu berbelanja, selalu ada
penjaga yang tanya mau beli apa lalu mengambilkan barangnya dan dibayar,
sesekali terjadi tawar-menawar
harga. Tapi di sini kok dibiarkan saja, hingga agak lama ibu itu berdiri
saja menunggu dilayani. Penjaga
toko swalayan memang perlu jeli mengambil inisiatif untuk meng-guide jika
menemui pengunjung yang seperti ini.
Kali lain ada bapak-bapak yang masuk berbelanja. Nampaknya beliau sudah tahu
kalau mesti melayani
sendiri. Tanpa canggung mencari barang yang hendak dibeli dan akhirnya
ketemu. Giliran mau membayar,
dikeluarkannya uang dari sakunya, lalu mencari penjaga toko dan menyerahkan
uangnya. Ooo.., rupanya bapak itu
belum tahu kalau semua transaksi pembayaran dilayani oleh kasir.
Ada lagi yang masuk toko terus mengambil keranjang belanja warna biru muda,
lalu dipilang-piling. Namanya
toko baru, ya keranjang belanjanya masih baru. Enggak lama keranjang dibawa
ke kasir. Kok keranjang kosong
dibawa ke kasir? Rupanya keranjang itu yang mau dibayar, dikiranya termasuk
barang yang dijual,
padahal sudah dipasang tulisan petunjuk bahwa itu adalah keranjang belanja.
Suatu hari datang seorang ibu dengan anak perempuannya. Melihat lantai toko
yang putih bersih,
rupanya mereka tidak tega untuk mengotori lantai dengan sandalnya. Maka, ibu
dan anaknya pun kompak
melepas sandal di luar teras, seperti mau melewati batas suci atau batas
sandal/sepatu di masjid, lalu
nyeker masuk toko……
Biasanya pelayan toko akan segera menyusuli dan meminta agar sandalnya
dipakai saja. Namun sungguh
mulia niat baik ibu ini, benar-benar tidak mau memakai sandalnya. Sayang
kalau lantai toko yang putih bersih
nanti jadi kotor, katanya. Bukan sekali-dua peristiwa seperti ini terjadi.
Terkadang pelayan toko yang
ngalahi mengambilkan sandalnya dan memberikan kepada sang empunya kaki agar
sandalnya dipakai saja.
Hikmah yang bisa dipetik : Pertama, perlu telaten dan sabar memasyarakatkan
konsep toko swalayan di kawasan
pinggir kota. Kedua, kebelumtahuan masyarakat akan konsep swalayan modern
adalah “aset” potensial, kalau
bisa mengelolanya.
Madurejo, Sleman - 23 Nopember 2005.
Yusuf Iskandar
Mimbar Bambang Seputro
Updated 01/05/2006
|