| |
Kesan Terakhir
Ketika toko sedang tidak terlalu ramai, saya sempatkan
ngobrol-ngobrol santai dengan kasir di sela-sela
kesibukannya. Berikut ini ringkasan obrolan kami,
kalimat-kalimat yang diucapkan tidak sama persis
melainkan sengaja saya sederhanakan agar mudah
dipahami ketika dirubah menjadi bahasa tertulis.
Saya ajukan pertanyaan iseng di sela obrolan kepada
kasir saya : “Ketika Anda sedang berada dalam acara
perpisahan, kesan seperti apa yang ingin Anda berikan
kepada seseorang atau teman-teman yang akan berpisah?
” Jawabnya tegas : “Ya, kesan yang baik, Pak”. Saya
hanya manggut-manggut tanda setuju.
“Kenapa mesti dengan kesan yang baik? ”, tanya saya
lagi. Jawabnya : “Kesan yang baik biasanya akan terus
diingat atau dikenang”, jawabnya. Sambung saya
selanjutnya : “Memang kenapa kalau terus dikenang? ”.
Kasir saya agak kebingungan menjawabnya, atau lebih
tepatnya kesulitan mengekspresikan jawabannya.
Kemudian saya pancing dengan alternatif komentar :
“Kalau seseorang terus dikenang, mungkin suatu saat
timbul keinginan untuk melihat-lihat lagi foto album
kenangan, ingin menilpun, kirim SMS atau kirim surat,
atau malah ingin bisa ketemu kembali untuk
bernostalgia”. Kasir saya setuju dengan komentar saya.
Dia lalu berkata : “Mungkin kepingin untuk
kumpul-kumpul lagi….”.
Maka sambil tersenyum saya sampaikan kesimpulan pendek
kepada kasir saya : “Itulah salah satu tugas kasir”.
Kasir saya tampak masih kebingungan menangkap maksud
saya. “Ya, salah satu tugas kasir adalah memberikan
kesan yang baik bagi pembeli, agar pembeli kepingin
kembali lagi….”
***
Di negara-negara barat, sebutlah Amerika dan
Australia, ketika kita bertransaksi dengan kasir,
hampir pasti hal pertama yang akan diucapkan kasir
adalah menanyakan kabar kita, sekalipun kita tidak
saling mengenal secara pribadi. Kesannya memang
seperti basa-basi. Tapi yang basa-basi itu bisa segera
berubah menjadi percakapan hangat tentang topik-topik
ringan, misalnya cuaca, pilihan barang yang sedang
kita beli, atau berita-berita ringan lainnya. Hingga
kemudian diakhiri dengan ucapan terima kasih. Maka
tanpa kita sadari, begitu meninggalkan toko, serasa
seperti baru saja ketemu dengan teman baru yang
menyenangkan.
Itu budaya keseharian di negara barat. Bagaimana
dengan budaya di sekitar kita? Boro-boro tanya kabar.
Aneh kedengarannya. Kalau bisa, transaksi segera
selesai tanpa sepatah katapun terucap. Jangan
sembarangan kasir mengajak bicara pembeli. Bisa-bisa
malah kasirnya dibilang cerewet, sok akrab, sok ramah,
banyak omong, dsb. Dengan tanpa bermaksud
membanding-bandingkan mana lebih baik, nampaknya ada
hal positif yang dapat dipetik dari budaya nun jauh di
sana : Berikan kesan hangat dan bersahabat kepada
pembeli!.
Barangkali ilustrasi saya di atas kurang tepat atau
berlebihan, tapi kalimat terakhir itulah intinya.
Di “Madurejo Swalayan”, mengucapkan kata “terima
kasih” atau “matur nuwun” setiap kali kasir
menyelesaikan sebuah transaksi, hukumnya adalah wajib,
tidak bisa ditawar-tawar lagi. Syukur-syukur bisa
disertai dengan senyum manis atau sapaan-sapaan
paseduluran (persaudaraan).
Memang tidak sampai seperti di sebuah stasiun pompa
bensin di daerah Tegal yang kabarnya kalau pelayannya
tidak mengucapkan “terima kasih” seusai bertransaki,
ganti rugi Rp 10.000,- akan diberikan. Namun
setidak-tidaknya, kasir-kasir “Madurejo Swalayan”
menyadari dan merasakan bahwa hal itu benar dan perlu.
Alasannya sederhana saja. Ketika kita hendak berpisah
dengan seseorang, berilah kesan yang baik dan positif.
Maka kesan itulah yang akan terus melekat di hati
orang yang kita pisahin, dan lalu memunculkan dorongan
di hati kecilnya untuk kepingin suatu saat bertemu
lagi.
***
Kesan pertama begitu menggoda…, selebihnya terserah
pembeli…..
Kesan pertama, diperlukan untuk memberikan kesan lahir
atau tampilan luar toko yang menarik setiap orang yang
lewat, sehingga mereka tergoda untuk singgah masuk
toko. Begitu mereka masuk toko, maka terserah mereka
mau belanja atau sekedar lihat-lihat. Biarkan proses
“impuls buying” mengalir secara alami. Tinggal
pengelola toko yang kudu pintar-pintar mengkondisikan
bagaimana agar keberadaan tokonya mampu memenuhi
selera atau keinginan dan akhirnya dibutuhkan oleh
orang-orang yang lewat dan tergoda itu tadi. Maka
bangunan kerjasama mutualistis tercipta secara alamiah
pula.
Saya selalu wanti-wanti kepada segenap penjaga toko,
hendaknya pandai-pandailah ngemong pengunjung toko
(bahasa bisnisnya mengelola pembeli). Para pelayan
mulai bisa mengidentifikasi siapa-siapa pembeli yang
sudah sering kembali ke toko untuk berbelanja, mereka
itulah pelanggan-pelanggan potensial yang harus
di-manage dengan baik. Harus dapat mempribadikan
suasana jika mereka berbelanja. Sapaan-sapaan hangat
perlu dikembangkan, obrolan kecil perlu dilakukan
adakalanya.
Tapi ingat, jangan asal menyapa dan ngomong, bisa-bisa
dianggap sok ramah dan banyak omong. Harus
pilih-pilih, tidak terhadap semua orang. Karena
rupanya banyak pula pembeli yang malah lebih suka
kalau dibiarkan saja dengan kesendiriannya. Kita
memang terkadang aneh, suka menikmati kebingungannya
sendiri..
Ini bukan fragmen lakon interaksi sosial jual-beli di
kota. Ini di desa Madurejo, karakter individualistis
belum muncul, sebaliknya adalah karakter paseduluran
(persaudaraan) lebih kental terasa. Sehingga kalau
mereka kembali untuk berbelanja, itu bukan semata-mata
karena harganya, kualitasnya, kelengkapannya, tokonya,
pelayannya atau kedekatan jaraknya, melainkan karena
mereka membutuhkan kelanggengan silaturahmi. Bahkan
seandainya mereka datang bukan untuk berbelanja
sekalipun.
Kesan terakhir begitu mengesankan…, selebihnya
(mudah-mudahan) pembeli akan kembali lagi ..…..
Di “Madurejo Swalayan”, kasir adalah orang terakhir
yang dijumpai pembeli sebelum meninggalkan toko. Maka
jika kasir mampu menciptakan kesan terakhir yang baik,
manis dan indah bagi pembeli, bolehlah berharap di
lain waktu pembeli itu akan suka untuk kembali
berbelanja. (Lain halnya kalau toko swalayan besar, di
mall misalnya, maka orang terakhir yang dijumpai
pembeli bisa jadi malah Satpam, berkumis tebal lagi.
Boro-boro disuruh bermanis-manis…).
Kesan terakhir……., memang selalu meninggalkan kenangan
yang tak terlupakan.
Madurejo, Sleman – 15 Desember 2005.
Yusuf Iskandar
Mimbar Bambang Seputro
Updated 01/05/2006
|