Pengantar : Dari catatan-catatan kecil saya yang sempat lama terselip dan belakangan saya temukan kembali, lalu saya susun menjadi sebuah Catatan Perjalanan : "Antara Bill Clinton dan Elvis Presley". Sekedar untuk berbagi cerita ringan, yang mudah-mudahan bisa menjadi selingan yang menghibur.-
BAKMINYA MBAH "MO"
BAKMINYA MBAH "MO"
Lagi, cerita tentang makan. Bagi para penggemar bakmi, kalau lagi ada di
Yogya, rasanya nama bakmi Kadin di mBintaran atau juga bakmi Polo di
alun-alun lor di depan sebelah kanan keraton, sudah tidak asing lagi.
Komentar sementara orang yang pernah atau malah sering mencoba bakmi
Kadin : "enak sekali". Namun, tunggu dulu! Jika Anda adalah penggemar
bakmi, maka ada pilihan lain untuk jenis makanan ini yang perlu untuk
sesekali dicoba. Lokasinya ada di luar kota Yogya, bagian selatan.
Namanya bakmi Mbah "Mo" (pakai tanda petik).
Untuk mencapainya memang rada susah, karena warung bakmi Mbah "Mo" ini
berada di tengah perkampungan, di Kabupaten Bantul. Jalan paling mudah
kalau dari kutho Ngayogyokarto, ikuti jalan Parangtritis terus ke
selatan. Saya tidak ingat hingga kilometer ke berapa, nanti akan ketemu
dengan perempatan besar dan ramai yang berlampu lalu-lintas, yang kalau
lurus menuju Parangtritis, dan kalau belok kanan atau barat akan tembus
ke kantor Pemda Bantul (ada rambu-rambunya). Nah, ikuti jalan yang belok
kanan ini, terlihat banyak pedagang kerajinan kulit. Menuju ke arah
barat sekitar 1-2 km, di antara areal persawahan, ada jalan beraspal
masuk ke kanan atau utara. Ikuti jalan ini hingga sekitar 500 meter akan
terlihat gapura besar dan tugu kecil di sisi kanan, jalan masuk ke
perkampungan. Masuk pelan-pelan menyusuri jalan kampung pinggir sawah,
bebarapa puluh meter kemudian masuk gang yang ke kiri sejauh kira-kira
30 meteran, lalu belok kanan. Sampailah di warung bakmi Mbah "Mo".
Yang membuat agak susah adalah karena warung Mbah "Mo" ini bukanya sore
hari hingga malam, sementara sepanjang jalan masuknya gelap gulita, maka
diperlukan sedikit kejelian untuk mencapainya. Namun jika Anda bisa
mencapai perkampungan ini, maka tidak sulit lagi untuk bertanya kepada
orang kampung. Layaknya warung di kampung, maka hanya ada rumah dan
sekumpulan meja plus bangku, dengan halaman tanah diselingi pepohonan.
Di halaman ini Anda bisa memarkir mobil atau sepeda motor di sela-sela
pepohonan.
Namun jangan heran, pada saat musim liburan, akan terlihat banyak mobil
berplat nomor asing (bukan AB) yang parkir di sini, yang ditinggal
penumpangnya nongkrong menikmati bakmi di warung bakmi Mbah "Mo". Lalu
apa kehebatannya? Secara lahiriah tidak ada yang istimewa, wong namanya
juga warung bakmi di kampung. Namun jangan tanya soal rasa bakminya.
Saya berani bertaruh (seandainya taruhan itu tidak dosa), bakmi Kadin
dan bakmi Pak Polo, "lewat" jika dibanding bakmi Mbah "Mo".
Saking huenaknya, sampai saya lupa tanya siapa sebenarnya nama lengkap
Mbah Mo ini. Seperti halnya bakmi Kadin, maka bakmi Mbah "Mo" yang
sekarang adalah penerus dari generasi Mbah Mo, anak-anaknyalah yang
meneruskan usaha warung bakmi hingga sekarang ini. Usaha yang dirintis
Mbah Mo di kampung (entah sejak kapan), kini semakin berkembang dan
disukai pelanggannya.
Sekali waktu Purdie Chandra (bosnya Primagama) mengangkat tema bakmi
Mbah "Mo" ini dalam salah satu tulisannya. Maka moncerlah bintangnya
bakmi Mbah "Mo" sejak itu. Banyak pengunjung luar kota atau rombongan
dari berbagai lembaga atau instansi yang menyempatkan mampir menikmati
bakmi Mbah "Mo" kalau malam.
Ketika Mbah Mo masih sugeng, barangkali beliau tidak pernah menyangka
kalau warung bakminya yang berada di tengah kampung, kelak akan
dikunjungi rombongan-rombongan tamu bermobil yang berdatangan dari
tempat-tempat yang jauh. Kini, generasi penerusnya sedang meneruskan dan
meniti kesuksesan buah ketekunan orang tuanya. Sekali lagi terpikir oleh
saya, pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Namun,
kesungguhan, keuletan dan keikhlasan dalam usaha mencari rejeki "secukupnya"
khas wong cilik seperti yang ditekuni Mbah Mo, akhirnya toh membuahkan
hasil.
Sajian bakminya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bakmi pada umumnya,
ada dicampur daging ayam dan telur juga. Namun "taste"-nya seperti yang
sudah saya gambarkan di atas, pokoknya tidak kalah nikmatnya dibanding
dengan bakmi Kadin dan bakmi Polo. Karena itu, jangan keburu puas
setelah menikmati bakmi Kadin, kalau belum mencoba bakmi Mbah "Mo".
Bakmi Mbah "Mo" buka jam 5 sore, tapi jangan ke sana selewat jam 9 malam,
seringkali sudah kehabisan. Tinggal sebut mau bakmi goreng atau bakmi
rebus. Yang saya sukai adalah bakmi rebus yang dicampur "balungan" (tulang
ayam yang masih menyisakan sedikit dagingnya). Dimakan masih agak panas,
dikecroti kecap manis dan dikeceri irisan jeruk nipis, lalu
disesep-sesep kuahnya. Hmmmm.........
Penasaran? Monggo....., kalau suatu saat ingin mencobanya.
Yusuf Iskandar
Tembagapura, 21 Juli 2004
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol-
Jakarta Barat- Indonesia
Updated 29 Aug 2000