Catatan Perjalanan seorang Yusuf Iskandar
Pengantar :
Tanggal 21 30 April 2000 saya (Yusuf
Iskandar) bersama keluarga melakukan perjalanan liburan dengan
travelling ke daerah Colorado dan sekitarnya. Selama
sembilan hari, lebih 3.000 mil (sekitar 4.800 km) kami jalani,
8 negara bagian (states) kami lewati : Utah, Nevada, California,
Arizona, New Mexico, Colorado, Nebraska dan Wyoming. Catatan
perjalanan ini saya maksudkan hanya sekedar untuk berbagi cerita
ringan, siapa tahu bisa menjadi selingan yang menghibur.-
(1). MENGAWALI PERJALANAN DARI SALT LAKE CITY
Mengawali perjalanan dari kota Salt Lake City (Utah) sebenarnya
bukan rencana awal saya. Sejak sebulan sebelumnya saya merencanakan
untuk memilih kota Denver (Colorado) untuk mengawali perjalanan
travelling dengan kendaraan darat bersama keluarga.
Karena tujuan utama liburan kali ini adalah mengajak anak-anak
melihat salju dan bermain ski, serta mengunjungi Grand Canyon
of Colorado. Sambil lalu kami akan mampir-mampir di berbagai
obyek wisata yang dilewati. Namun setelah mencari-cari dan memilih-milih
penerbangan dari New Orleans ke Denver, ternyata harga tiketnya
termasuk mahal jika dibandingkan dengan ke kota-kota lain untuk
jarak terbang yang relatif sama. Semakin mendekati waktu keberangkatan,
harga tiket ke Denver pergi-pulang yang paling murah (meskipun
tetap tergolong mahal) semakin habis.
Nampaknya kota Denver termasuk jalur basah bagi
dunia penerbangan. Pelacakan tiket ini saya lakukan melalui jasa
layanan reservasi on-line melalui internet. Di sana
saya bisa mengatur rencana perjalanan lewat kota mana, kapan,
pesawat apa, mau harga yang berapa dan duduk di sebelah mana.
Setelah itu tinggal klik, tiket akan dikirim dan
tagihan masuk ke kartu kredit.
Akhirnya saya mengalihkan pencarian tiket murah dengan melihat
ke beberapa kota tujuan di sekitaran Denver, diantaranya Fort
Collins dan Colorado Spring (Colorado), Las Vegas (Nevada), Albuquerque
dan Santa Fe (New Mexico), Cheyenne (Wyoming) dan Salt Lake City
(Utah).
Ternyata juga tidak mudah, karena saya menentukan kriteria
dalam pencarian tiket ini, yaitu tanggal berangkat dan kembali
tidak bisa berubah (karena terkait dengan hari libur sekolah
dan cuti kantor), harga tiket harus yang paling murah, dan tempat
duduk di pesawat berderet untuk kami sekeluarga berempat (di
Amerika adalah biasa memesan tiket pesawat sekalian nomor tempat
duduknya). Setelah dipilih-pilih dan dibanding-bandingkan harganya
serta disesuai-sesuaikan dengan rencana perjalanannya, akhirnya
saya peroleh tiket penerbangan ke Salt Lake City, menggunakan
pesawat Delta Airlines.
Tiket murah ini membawa resiko pada jadwal penerbangan yang
kurang enak, yaitu tiba di Salt Lake City jam 21:30 malam untuk
berangkatnya dan akan tiba kembali di New Orleans jam 1:15 dini
hari untuk pulangnya sepuluh hari kemudian. Apa boleh buat, itulah
yang terbaik buat liburan yang berbanding lurus dengan isi saku.
Setelah reservasi penerbangan OK, selanjutnya saya melacak
hotel-hotel yang umumnya menawarkan harga khusus via internet.
Untuk itu, tentunya saya harus punya rencana perjalanan yang
pasti dan di kota mana saja akan menginap. Memang akhirnya saya
berhasil memperoleh hotel-hotel dengan harga yang relatif murah,
setelah membanding-bandingkan antara lokasi, harga dan fasilitasnya.
Namun rupanya saya kelewat percaya dengan iklan penawaran
hotel yang ada di internet. Belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya
saya masih bisa memperoleh harga yang lebih baik (lebih murah).
Seharusnya setelah mengecek tarif dan ketersediaan kamar hotel
via internet, saya mestinya melakukan pengecekan ulang dengan
menghubungi langsung pihak hotel melalui tilpun.
Seringkali ada perbedaan harga, bahkan harga bisa berubah-ubah
antara pengecekan via tilpun pada saat yang berbeda-beda. Dengan
pengecekan ulang, akan bisa diketahui pula apakah pada saat itu
(masih) ada penawaran harga yang lebih khusus, yang biasanya
tidak muncul di internet.
Yang lebih penting lagi, masih ada peluang untuk negosiasi
atau bargaining (tawar-menawar).
Rupanya ada kebiasaan yang sama seperti di Indonesia soal
tawar-menawar ini. Pertama kali kalau kita tilpun hotel dan menanyakan
harga, maka akan dijawab dengan menyebutkan tarif harga standard.
Baru setelah kita menawar dan menanyakan tentang
harga khusus yang lebih murah, maka seringkali akan diberikan.
Kesannya menjadi seolah-olah pihak hotel telah berbaik
hati memberikan harga murah. Ya, sama persis dengan traditional
marketing ala kampung di desa saya, di Jawa sana. Sebenarnya
tidak dinaikkan, tapi juga tidak memberikan harga murah.
Sayangnya, tips dan trik pemesanan hotel gaya Amerika ini
baru saya pahami setelah membaca majalah Readers
Digest, ketika saya sudah kembali dari perjalanan liburan.
Rugi sih tidak, cuma mestinya bisa lebih untung. Meskipun kejujuran
(keluguan) saya kali ini belum membawa keberuntungan, tapi yang
pasti saya menikmati imbalan jasa yang layak atas apa yang telah
saya bayarkan.
(2). SALAH JALAN DI SALT LAKE CITY
Jumat, 21 April 2000, jam 21:15, pesawat yang kami tumpangi
dari New Orleans mendarat di bandar udara internasional Salt
Lake City, setelah menempuh perjalanan selama 3,5 jam. Baru sekitar
jam 22:00 malam saya meninggalkan bandara, dengan menggunakan
mobil yang saya sewa di bandara langsung menuju ke hotel yang
sebelumnya sudah saya pesan.
Sejak masih di New Orleans saya sudah membuka-buka peta kota
Salt Lake City, jalan mana yang harus saya ambil dari bandara
menuju hotel, dengan maksud agar nantinya saya tidak bingung.
Rupanya karena tiba di Salt Lake City sudah cukup malam, hal
ini membuat saya tidak terlampau jeli memperhatikan tanda-tanda
petunjuk jalan. Akibatnya saya kebablasan cukup jauh dari jalan
dimana seharusnya saya belok sekeluarnya dari bandara. Menyadari
hal ini, lalu saya putuskan untuk berhenti dulu melihat kembali
pada peta. Tapi untuk berhenti saya tentunya harus tahu berhentinya
di mana, sehingga bisa dipakai sebagai patokan saat melihat peta.
Tempat paling baik untuk berhenti adalah di stasiun pompa
bensin. Selain tempatnya terang, biasanya berlokasi di sudut
persimpangan jalan. Paling tidak saya akan bisa tahu saat itu
berada di persimpangan antara jalan apa dan apa. Atau sebingung-bingungnya,
saya akan bisa tanya kepada si penjual bensin.
Ternyata untuk menentukan lokasi saya saat itu di peta juga
tidak mudah, saya perlu mengingat ancar-ancarnya dari bandara
tadi bergerak ke arah mana lalu belok ke mana. Saat itulah, tiba-tiba
saya ingat : Saya perlu kompas. Ya, alat navigasi
ini banyak sekali membantu saat melakukan traveling.
Saya membutuhkan kompas karena mobil yang saya sewa tidak dilengkapi
dengan alat navigasi sederhana ini.
Saya punya kebiasaan kemana-mana selalu membawa kompas kecil.
Kalaupun tidak saya gunakan untuk menentukan arah jalan, minimal
akan membantu saya menentukan arah kiblat. Dulu saya punya kompas
kecil yang seperti mainan yang menghiasi tali plastik hitam jam
tangan saya.
Membelinya di Jalan Malioboro Yogya seharga Rp 2.500,-. Sejak
saya beli lima tahun yang lalu hingga sekarang belum rusak, masih
saya simpan dengan baik. Tapi sejak setahun yang lalu tidak saya
pakai lagi, karena jam saya habis batereinya dan belum sempat
membawanya ke tukang jam di New Orleans. Sebagai gantinya sekarang
saya punya gantungan kunci yang ada kompas kecilnya, dan kemana-mana
selalu saya bawa.
Ternyata kompas mainan saya ini sangat membantu
dalam situasi kesasar seperti yang sedang saya hadapi.
Maka dengan bantuan kompas, kemudian dengan mudah saya merekonstruksi
tadi bergerak ke arah mana dan harus kembali ke arah mana. Dengan
mudah pula saya menentukan lokasi saya di peta dengan berpedoman
pada nama persimpangan jalan di mana saya berhenti.
Punya sedikit pengetahuan tentang membaca kompas dan peta
memang perlu. Untung saya dulu sejak SD hingga SMA pernah ikut
Pramuka di kota asal saya. Mencari jejak adalah jenis kegiatan
yang saya sukai. Saya juga masih ingat pelajaran Ilmu Ukur Tanah
di tahun kedua kuliah dulu.
Makanya kalau sekedar untuk urusan membaca peta dan kompas,
rasanya saya tidak akan kesulitan.
Saya berbalik arah, menuju ke jalur semula. Cara penamaan
jalan-jalan di Salt Lake City pada awalnya membuat saya agak
bingung. Sistem jalan-jalan di Salt Lake City umumnya ditulis
dalam nomor blok dan arahnya terhadap jalan utama yang dijadikan
sebagai patokan. Seperti misalnya 1500 W (blok 1500 ke arah barat),
atau 500 E (blok 500 ke arah Timur). Ada juga digunakan cara
biasa yaitu setiap jalan diberi nama sebagaimana jalan-jalan
di Indonesia. Sialnya, pada malam itu yang nampak bisa saya jadikan
pedoman adalah nama-nama jalan yang ditulis dengan nomor blok
dan arah saja.
Ini sempat menyulitkan. Akibatnya, setelah kebablasan ke barat,
lalu ganti kebablasan ke timur. Lalu akhirnya ya baru paham setelah
berhasil mengidentifikasi kemana arah membesar dan mengecilnya
nomor blok serta arahnya. Sebenarnya system jalan di Salt Lake
City ini masih lebih mudah dibanding ketika saya jalan-jalan
ke kota Miami (di negara bagian Florida) tahun lalu. Di sana
system jalan-jalannya dibagi dalam empat grid berdasarkan
arah mata angin yang tidak lazim menurut ukuran saya, yaitu arah
Timur Laut, Barat Laut, Barat Daya dan Tenggara, yang disertai
dengan nomor bloknya. Bagi yang sudah terbiasa dengan sebutan
arah mata angin dalam bahasa Inggris barangkali tidak menjadi
masalah. Tapi bagi pendatang baru seperti saya, setiap saat mesti
berpikir dua kali; pertama membayangkan dulu setiap kali disebutkan
arah North-West, South-West, dsb., baru kemudian memahami lokasi
dan arah jalannya.
Akhirnya baru sekitar jam 23:30, menjelang tengah malam saya
tiba di hotel. Padahal lokasi sebenarnya tidak terlalu jauh dari
bandara. Mestinya cukup 15-20 menit saja dari bandara, kalau
tidak kesasar. Ya karena kurang jeli memperhatikan petunjuk jalan
di saat hari sudah gelap, sehingga salah jalan. Anak-anakpun
sudah pada nyenyak tidur di mobil. Kok lama sekali sampainya?,
kata mereka saat tiba di hotel. Iya, kita salah jalan,
jawab saya maklum atas pertanyaan anak-anak saya. Tentu mereka
belum paham apa artinya salah jalan di tempat yang masih asing.
(3). MENYUSURI LEMBAH API
Sabtu, 22 April 2000, jam 8:00 pagi, saya sudah meninggalkan
hotel menyusuri jalan-jalan kota Salt Lake City untuk menuju
jalan bebas hambatan Interstate-15. Salt Lake City yang berada
di ketinggian sekitar 1.700 m di atas permukaan laut pagi itu
masih tampak sepi, berudara cukup dingin dan di kejauhan di sisi
timurnya membentang indah pegunungan yang masih tertutup salju.
Masuk ke Interstate-15 langsung melaju ke arah selatan. Hari
itu saya merencanakan agar sorenya bisa mencapai kota Las Vegas
(Nevada) yang berjarak 415 mil (sekitar 664 km) dari Salt Lake
City. Menurut perhitungan, saya akan mencapainya setelah menempuh
perjalanan kurang lebih 7 jam. Hujan mengguyur di sepanjang perjalanan
dua jam pertama. Sesudah itu cuaca berubah terang dan lalu panas
bahkan terik matahari terasa sekali, tetapi angin tetap bertiup
kencang dan dingin.
Sekitar 67 mil (107 km) menjelang Las Vegas, ternyata waktu
masih menunjukkan jam 2 siang. Saya lalu memutuskan untuk membelok
ke jalan highway dua lajur dua arah yang menuju ke
obyek wisata Valley of Fire. Yang membuat saya tertarik
untuk mengunjungi tempat ini adalah karena saya sudah melihat
fotonya yang menarik dan namanya yang berkesan menyeramkan. Meskipun
untuk ini saya harus memutar sejauh 46 mil (sekitar 74 km), dan
saya memperkirakan memerlukan tambahan waktu 3 jam termasuk untuk
berhenti dan melihat-lihat pemandangan, juga berfoto tentunya.
Dengan demikian saya berharap sekitar jam 6 sore bisa masuk kota
Las Vegas. Hari pasti belum gelap, karena di bulan April matahari
baru tenggelam di atas jam 19:00.
Mendengar kata Valley of Fire yang saya terjemahkan
menjadi Lembah Api, sudah saya duga anak saya akan spontan bertanya
: Di sana ada apinya?. Tentu tidak
....., jawab saya. Itu hanya sebuah nama.
Barangkali kalau SH Mintaredja sempat mengunjungi tempat ini,
bisa jadi akan lahir cerita bersambung dengan judul Pusaka
dari Lembah Api atau Misteri di Lembah Api,
atau yang sejenis itulah.
Tiba di tempat ini, saya seperti berada di sebuah lembah yang
di kiri-kanannya membentang tinggi dinding formasi batuan pasir
berwarna merah yang telah mengalami pengikisan, sejak 150 juta
tahun yang lalu. Diceritakan bahwa dinding batuan yang berwarna
merah ini tampak seperti terbakar api saat terkena pancaran sinar
matahari. Benarkah demikian? Saya hanya mencoba berpikir sederhana,
sama seperti kalau saya menyebut Gunung Tangkuban Perahu, Kali
Kuning atau Telaga Mas.
Jawabannya? Itu hanya sebuah nama, dan
selalu ada cerita di baliknya. Siapapun sah-sah saja membuat
ceritera atau mempas-paskan kisah atau dongeng yang melatarinya.
Menyusuri jalan-jalan yang membelah sepanjang Valley of
Fire atau Lembah Api adalah mengunjungi sebuah tempat yang
mempunyai bentang alam morfologis berbeda dari yang biasanya
saya lihat di Amerika.
Batuan pasir berwarna merah yang sudah terkompaksi dan menyembul
tidak teratur di sepanjang cekungan seluas 10 x 6 km persegi
memang memberikan daya tarik tersendiri untuk diamati.
Apalagi kalau hanya melihat fotonya. Sementara area di luar
itu, sejauh mata memandang hanya tampak dataran terbuka yang
hanya ditumbuhi semak-semak kecil, khas umumnya wilayah negara
bagian Nevada.
Menirukan pertanyaan anak saya : kok bisa seperti
itu, ya?.
Bagi mereka yang pernah belajar geo-morphology (sekalipun
tidak lulus-lulus) tentu tidak akan sulit untuk memahami fenomena
alam ini. Tapi bagi anak-anak, jawabannya adalah saya tunjukkan
kepada mereka berbagai gambar berukuran besar serta diorama di
ruang visitor center yang berceritera tentang peristiwa
geologi daerah itu. Setelah itu saya belikan saja buku bergambar
yang dilengkapi dengan alur ceritera yang sederhana. Menerangkannya
jadi mudah.
Buku itu memang dirancang untuk anak-anak agar mudah untuk
memahami tentang gejala alam. Satu lagi kekalahan kita dalam
me-manage obyek wisata alam agar menarik untuk dikunjungi
(dan dipelajari), bahkan oleh anak-anak sekalipun. Antara lain
ya karena kita ini pada umumnya baru bisa hanya sekedar menjual,
tidak dengan memberi nilai tambah. Jadi, pantaslah
kalau keuntungan yang diraih ya hanya segitu-segitu
saja. Itupun kalau tidak dikantongi lalu dibawa pulang sendiri.
(4). SEMALAM DI LAS VEGAS
Sekitar jam 6 sore saya sudah memasuki Las Vegas, dan langsung
menuju hotel yang berlokasi di Jalan Fremont, yaitu nama sebuah
jalan di down-town (pusat kota) Las Vegas.
Pukul 19:00 malam (meskipun sebenarnya hari masih terang),
saya ajak keluarga jalan kaki menuju ke jalan utama Fremont.
Di jalan ini atraksi animasi cahaya dan suara biasa digelar setiap
malam.
Media yang digunakan untuk atraksi musik dan grafis yang dikendalikan
komputer ini adalah lampu-lampu yang jumlahnya lebih dua juta
yang dipasang melengkung sebagai atap yang menutupi jalan Fremont
sepanjang 4 blok (kira-kira sepanjang 500 meter).
Maka setiap kali atraksi dimainkan, para pengunjung pejalan
kaki tinggal berhenti dan menengadahkan kepala ke atas atap,
lalu mengikuti atraksi dari ujung ke ujung atap lampu. Tentu
saja semua jenis kendaraan dilarang melewati jalan ini, yang
memang hanya diperuntukkan khusus untuk para pejalan kaki.
Waktu itu pas malam Minggu, jadi suasana sangat ramai dengan
pengunjung. Setiap kali atraksi selesai, para pengunjung yang
terkagum-kagum dengan karya teknologi animasi tata lampu dan
suara itupun spontan bertepuk tangan meriah. Tapi saya tidak
mau ikut bertepuk tangan. Lha siapa yang mau ditepuki, wong atraksi
itu sudah dirancang secara otomatis selama 6 menit setiap jamnya.
Artinya, banyak atau tidak banyak pengunjung, komputer tetap
akan menjalankan programnya untuk mengatraksikan lampu dan musik.
Terkadang orang Amerika ini juga aneh. Lha wong lampu kok disoraki.
Menyusuri jalan Fremont malam itu, di antara gemebyarnya lampu
dan bisingnya suara musik di sepanjang pertokoan serasa tidak
membosankan. Di sana-sini ada pengamen musik menampilkan kebolehannya.
Yang namanya pengamen di situ, lengkap dengan tata suaranya yang
serba elektrik dan nangkring di atas mobil bak terbuka sebagai
panggungnya, disertai tulisan : Tidak menerima tip.
Ya, mereka memang mengamen bukan untuk mencari nafkah. Saya
jadi ingat ke bulan Maret 1996, saya sempat menginap semalam
di hotel Golden Nugget yang berlokasi di jalan yang
sama. Waktu itu Jalan Fremont hanya merupakan sebuah jalan penghubung
menuju hotel dan sarana hiburan di sekitarnya. Belum ditutup
dengan atap lampu, yang ada hanya mobil yang berseliweran keluar
masuk.
Kini empat tahun kemudian. saya hanya sekedar lewat di depannya
hotel saja, mengenang bahwa dulu saya pernah nginap di situ,
dibayarin. Saat ini tentu harga per malamnya terlalu mahal untuk
ukuran mbayar dhewe. Itulah sebagian kecil dari kelebihan
Las Vegas, sebagian besar lainnya adalah arena casino
dan entertainment. Las Vegas memang identik dengan
kota judi, kota yang tidak pernah tidur karena kegiatan perjudian
dan hiburan berlangsung tanpa henti. Barangkali karena saking
banyaknya fasilitas untuk itu yang menyebar di mana-mana, mulai
dari bandara, hotel, restoran, toko, apotik, pompa bensin, supermarket,
dsb.-Ini adalah tempat di mana roda kehidupan tidak pernah berhenti
untuk urusan kemewahan, hiburan dan impian untuk kaya, dalam
berbagai bentuknya.
Penduduk kota Las Vegas itu hanya sekitar 260.000 jiwa, tapi
malam itu sepertinya padat orang hilir mudik. Tentu para pendatang,
empat orang di antaranya adalah saya, istri dan kedua anak saya.
Ribuan lainnya para pendatang dari kota-kota lain, terutama dari
wilayah California.
Kabarnya orang-orang Indonesia yang tinggal di negara bagian
California, antara lain Los Angeles, suka membelanjakan (atau
menghamburkan?) uangnya di arena casino di Las Vegas. Bagi mereka
yang punya cadangan uang saku dan bermimpi ingin lebih kaya lagi
memang tinggal pilih caranya saja. Mesin slot, blackjack,
keno, bingo, poker, baccarat dan rolet siap mengantarkan
untuk mewujudkan impian menjadi lebih kaya, kalau menang.
Berjudi di Las Vegas adalah lebih mudah daripada membeli odol,
demikian yang ditulis dalam lembar informasi yang saya baca,
karena casino tidak mengenal tutup sedangkan toko ada jam-jam
tutupnya (mestinya ya tidak lalu diterjemahkan : Kalau begitu,
kalau mau beli odol kok tokonya sudah tutup, ya uangnya dipakai
main casino saja).
Tidak terasa malam semakin larut. Anak-anak mulai merasakan
perutnya minta diisi setelah mondar-mandir menikmati suasana
malam Jalan Fremont, yang dikenal dengan sebutan Fremont
Experience.
Bukan kelaparan, hanya ingin makan.
Mencari restoran yang suasananya enak (untuk ukuran orang
kampungnya Indonesia) ternyata susah. Semua restoran di situ
bersembunyi di balik arena casino. Jelas tidak mungkin kalau
saya membawa anak-anak melewati arena casino dulu, baru sampai
ke restoran untuk makan. Akhirnya saya putuskan mencari restoran
di tempat lain saja.
Restoran yang memang benar-benar untuk orang yang mau makan,
bukan untuk pemain judi yang kelaparan. Dengan mengendarai mobil
kami lalu melaju ke arah selatan, menyusuri jalan Las Vegas Boulevard,
atau yang terkenal dengan sebutan The Strip. Ini
adalah jalan utama tempat berbagai hotel mewah dan pusat beraneka
hiburan dan atraksi berada, lengkap dengan arena casino-nya.
Kami makan di salah satu restoran kecil di jalan itu. Berbagai
billboard dan hiasan animasi lampu di sepanjang jalan
itu serasa merubah suasana malam layaknya siang. Saya perhatikan
semakin malam semakin ramai saja. Melewati kompleks Caesar
Palace, lagi-lagi saya ingat empat tahun yang lalu pernah
ditraktir makan malam oleh seorang kolega yang tinggal di Las
Vegas, di salah satu restoran di kompleks Caesar Palace
ini.
Berangkat dari hotel naik Limousine sedan panjang warna hitam,
yang di dalamnya bisa untuk main bola. Selesai makan,
sang kolega mengajak saya dan teman-teman memasuki arena casino.
Sebelum masuk, sang kolega tadi nyangoni (memberi
uang saku) US$ 100, disertai pesan : Ini uang, silakan
dihabiskan.
Lho? Agaknya dia sudah sangat mafhum, bahwa bagi seorang pemula
seperti kami ini pasti tidak akan bisa menang bermain casino.
Awalnya ragu-ragu mau diapakan uang itu, yang jelas pesannya
adalah untuk dihabiskan. Tapi "piye" (bagaimana) caranya
menghabiskan? Kalau tidak habis malah susah mempertanggungjawabkannya.
Jumlah yang sangat lumayan seandainya di situ ada tukang bakso
atau mie goreng. Lalu kami coba main sana dan coba main sini.
Eh... benar juga, hanya dalam tempo sekejap (belum sempat tolah-toleh)
sudah bablasss..... dollar sak-angin-anginnya... Ya, namanya
juga untuk sekedar entertainment.
Dalam hati saya tersenyum, saya mereka-reka pikiran sang kolega
: Biarlah orang-orang kampung ini sekali-sekali diberi
kesempatan, agar kelak bisa cerita sama anak-cucunya bahwa dia
pernah main casino di Las Vegas sana.....
Akhirnya lewat tengah malam kami baru meninggalkan The
Strip dan kembali menuju hotel. Sayang hanya sempat semalam
saja di Las Vegas, karena besok mesti melanjutkan perjalanan
ke Flagstaff, Arizona.
(5). MAMPIR MAKAN NASI DI UJUNG TIMUR CALIFORNIA
Minggu, 23 April 2000, jam 9:00 pagi kami sudah meninggalkan
hotel dan langsung melaju ke arah tenggara.
Tujuan kami hari itu adalah menuju kota Flagstaff di sisi
utara negara bagian Arizona. Dari kota ini besoknya kami akan
mendekat ke pinggir selatan Grand Canyon of Colorado. Jarak Las
Vegas Flagstaff sebenarnya hanya 215 mil (sekitar 345
km), kalau saya tempuh langsung paling lama 4,5 jam.
Tapi justru karena waktu tempuhnya relatif pendek, maka kami
merencanakan untuk mampir-mampir dulu.
Sekitar satu jam keluar dari Las Vegas, kami sudah mencapai
perbatasan antara negara bagian Nevada dan Arizona. Garis perbatasan
ini tepat berada di sungai Colorado yang di atasnya dibangun
sebuah dam atau bendungan yang bernama Hoover Dam.
Bagian tebing sungai curam yang dibendung ini menyerupai sebuah
celah yang sangat dalam yang di atasnya dibangun jalan penghubung
antara dua negara bagian. Tempat ini kini menjadi obyek wisata
negara bagian Nevada karena letaknya yang relatif lebih mudah
dijangkau dari Las Vegas, dibanding dari kota-kota di Arizona.
Hoover Dam dibangun tahun 1931 dan diresmikan
penggunaannya tahun 1936, mempunyai konstruksi beton setinggi
287 meter. Ini adalah bendungan dengan konstruksi beton tertinggi
yang pernah dibangun di Amerika yang berfungsi sebagai pengendali
banjir, penampungan air dan pembangkit tenaga listrik, sehingga
membentuk danau buatan Lake Mead.
Nama Hoover diberikan sebagai penghargaan kepada
Presiden Amerika ke-31, Herbert Hoover, yang waktu itu merestui
pembangunannya. Melihat lokasi sekitarnya yang umumnya berupa
tebing curam dan lembah bebatuan yang nyaris tanpa penghuni selain
hewan gunung, saya menduga-duga dulu pembangunannya barangkali
tanpa perlu pusing-pusing soal ganti rugi atau pemindahan penduduk.
Kalaupun dulu ada orang Indian yang camping di
sekitarnya, itu memang cara hidup mereka.
Berbeda dengan orang Kedung Ombo yang membangun gubug di pinggiran
waduk, itu karena mereka tidak puas dengan cara pemerintah memperlakukan
mereka. Di atas bendungan dipasang dua buah jam dinding, satu
berada di wilayah Nevada dan satu lagi masuk wilayah Arizona.
Jarak antara kedua jam itu sekitar 50 meter. Tapi kalau di bulan-bulan
antara Oktober - April Anda berjalan dari jam dinding yang satu
ke yang lain, waktu tempuhnya adalah satu jam. Sedangkan
kalau di bulan-bulan antara April - Oktober, jamnya tetap. Ini
karena ada perbedaan waktu antara Nevada dan Arizona untuk bulan-bulan
Oktober hingga April. Sedangkan pada bulan-bulan antara April
hingga Oktober jamnya sama, karena Arizona adalah negara bagian
yang tidak mengikuti program Daylight Saving Time
(pergeseran waktu maju atau mundur satu jam setiap musim panas).
Tidak terasa hampir dua jam kami berhenti di lokasi waduk
Hoover Dam. Perjalanan lalu kami lanjutkan ke selatan
memasuki wilayah negara bagian Arizona melalui jalan berkelok-kelok
mendaki dan menuruni bukit. Setelah itu perjalanan terasa membosankan,
karena pemandangan di kanan kiri jalan hanya berupa dataran luas
dengan semak-semak di sana-sini sepanjang jalur lurus 50 mil
(sekitar 80 km).
Waktu masih menunjukkan sekitar jam 2:00 siang saat jalan
yang saya lalui akan bertemu dengan jalan bebas hambatan Interstate-40
yang membentang arah Timur-Barat, sekitar 7 km lagi. Mempertimbangkan
masih cukup waktu, saya lalu berubah pikiran. Saya berbelok ke
barat menuju kota kecil Laughlin dengan menyeberangi lagi sungai
Colorado yang di atasnya dibangun bendungan Davis.
Dari kota ini kemudian memasuki wilayah negara bagian California
di sisi ujung timur, lalu belok ke selatan hingga tiba di kota
Needles. Di kota Needles inilah saya akan ketemu lagi dengan
Interstate-40. Meskipun untuk jalan memutar ini saya harus menambah
jarak tempuh 143 mil (sekitar 230 km), namun kami punya pertimbangan
:
Pertama, kami berharap akan menemukan restoran Cina di wilayah
California, yang berarti kami akan bisa makan siang dengan nasi.
Maklum, sejak dari Salt Lake City belum pernah makan nasi yang
benar-benar makan.
Kedua, setelah memasuki Interstate-40 kami bisa melaju dengan
kecepatan konstan 80 mil/jam (sekitar 130 km/jam) menuju Flagstaff,
tanpa khawatir terganggu dokar, becak, sepeda, penyeberang jalan,
anak ngejar layang-layang, ayam, kucing, pengamen atau pencongkel
kaca spion. Paling-paling saya harus waspada terhadap rambu lalu
lintas bergambar kijang atau elk (sejenis rusa besar) yang suka-suka
numpang menyeberang jalan.
Ketiga, meskipun hanya sekedar lewat, kami ingin melengkapi
perjalanan panjang ini dengan merasakan pernah berada
di wilayah negara bagian California. (sebuah keinginan yang kedengarannya
ambisius).-
Pertimbangan yang pertama ternyata terbukti. Ketika di kota
Needles kami menjumpai restoran Cina, maka nasi putih dan sop
egg flower kesukaan anak saya langsung menjadi menu
utama. Nikmat sekali rasanya, di saat sedang lapar berat di siang
yang terik, tahu-tahu ketemu nasi yang benar-benar terasa
nasi justru di ujung timur California yang semula tidak
menjadi bagian dari rencana perjalanan saya. Cukup diakhiri dengan
menghabiskan segelas es teh dan sebatang rokok, lalu perjalanan
dilanjutkan langsung menuju Flagstaff. Sekitar jam 6:00 sore
lebih sedikit, kamipun sudah sampai di hotel di kota Flagstaff.
Satu dari dua kota terdekat untuk menuju ke sisi selatan Grand
Canyon, selain satunya lagi kota Williams.-
(6). DI PINGGIR SELATAN GRAND CANYON
Senin, 24 April 2000, sesuai rencana jam 8:30 pagi saya meninggalkan
hotel di Flagstaff menuju ke utara sejauh 81 mil (sekitar 130
km) dan saya perkirakan sekitar 1,5 jam akan sampai ke daerah
Tusayan sebelum mencapai pinggir selatan Grand Canyon.
Di Tusayan ini kami sempatkan masuk ke Imax theater menyaksikan
film tiga dimensi yang antara lain berceritera tentang sejarah
dan ekspedisi Grand Canyon.
Taman Nasional Grand Canyon memang bisa didatangi dari dua
arah. Untuk menuju ke pinggir utara (North Rim) bisa dicapai
dari negara bagian Utah, sedangkan kami (dan umumnya wisatawan)
memilih untuk mengunjungi pinggir selatan (South Rim) karena
di sini berbagai sarana dan fasilitas lebih tersedia, dibandingkan
dengan sisi utara yang nampaknya kurang dikembangkan. Lokasi
di sisi selatan ini terbuka sepanjang tahun, sedang di sisi utara
jalan akan ditutup pada musim dingin karena bersalju.
Grand Canyon of Colorado adalah satu dari sekian nama yang
sudah saya kenal (dan saya ingat persis bagaimana cara menulisnya)
sejak saya masih duduk di SMP di kampung, melalui pelajaran ilmu
bumi dunia.
Sejak dulu hingga sebelum saya tiba di Amerika tahun lalu,
saya masih beranggapan bahwa tempat ini terletak di negara bagian
Colorado. Rupanya tidak, Colorado adalah nama sungai dimana Grand
Canyon membentang, sedangkan lokasinya berada di negara bagian
Arizona. Begitu berdiri tepat di pinggir selatan Grand Canyon
:
Subhanallah. Bukan karena selama ini saya hanya
mendengar nama dan melihat gambarnya saja, dan kini berdiri tepat
di pinggirnya. Melainkan, siapa yang telah bereksperimen
dengan ilmu geologi sekian milyar tahun yang lalu hingga bisa
menghasilkan bentang alam yang spektakuler ini.
Kalau bukan siapa, pasti ada Tuhan di sana yang
telah lebih dahulu mempelajari proses geologi, dan
Tuhan tentu tidak sedang bermain-main dengan ilmu
geologi. Pasti ada maksudnya.
***
Grand Canyon adalah jurang atau ngarai sedalam 1.737 m di
dinding utaranya dan sekitar 1.371 m di dinding selatannya, di
sebelah-menyebelah sungai Colorado. Jurang atau ngarai ini membentang
sepanjang 443 km dengan lebar rata-rata 16 km. Di tengahnya bukit-bukit
kecil dengan tampilan morfologi dan stratigrafi yang beraneka
ragam (saya menggunakan lensa binocular agar bisa
melihat lebih jelas).
Diterangkan bahwa pada setiap strata batuan yang ada di situ
menandakan periode umur atau sejarah bumi sejak 2 milyar hingga
250 juta tahun yang lalu. Profil yang demikian ini tentu akan
nampak lebih jelas kalau kita sempat jalan kaki menuruni jurang.
Tapi pasti tidak cukup sehari untuk berwisata alam ke dasar jurang.
Bagi mereka yang mempunyai hobby berpetualang, tempat ini menjadi
salah satu pilihan.
Di dasar ngarai, di sisi sungai Colorado ada lokasi untuk
berkemah dan menjelajah wilayah-wilayah yang jarang dikunjungi
orang, olah raga arus deras, menyusuri gua dan tebing-tebing
curam. Belum lagi menantang cuaca yang angin dan suhu udaranya
bisa sangat dingin terutama di malam hari, dan bahkan di musim
dingin daerah ini bisa bersalju. Di pinggir selatan ini telah
disediakan beberapa gardu pemandangan (meskipun sebenarnya
tidak ada bangunan gardunya) atau semacam tempat terbuka yang
dirancang khusus, agar pengunjung dapat leluasa dan aman menyaksikan
Grand Canyon, yang di beberapa tempat dipasang teropong.
Titik-titik pemandangan ini tersedia di banyak tempat, sehingga
pengunjung dapat menyaksikan Grand Canyon dari berbagai sudut
pandang untuk dapat melihat bentuk, kilauan warna dan tampilan
geologi yang berbeda. Bagi pengunjung yang mempunyai uang saku
lebih, menjelajah ngarai raksasa dengan pesawat helikopter pasti
akan lebih mengasyikkan. Bisa melihat lebih dekat, bahkan ke
dekat dasarnya, memasuki celah-celah di antara dinding bebatuan
yang berprofil aneh, dan menjangkau area yang lebih
luas.
Kami menyusuri pinggir Grand Canyon dari barat ke timur sambil
sesekali berhenti di titik-titik pemandangan. Pepohonan pinus
dan juniper (sejenis tumbuhan yang buahnya dipakai untuk aroma
minuman anggur) berada di sepanjang rute ini. Daerah ini memang
berbatasan dengan Hutan Taman Nasional Kaibab. Sambil terus melaju
ke arah timur kami menyaksikan Grand Canyon di sisi utaranya,
hingga akhirnya meninggalkan Taman Nasional Grand Canyon melalui
pintu timur. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 3:30
sore.
(7). MELIHAT BATU GOSONG
Mempertimbangkan kami masih punya cukup waktu dalam perjalanan
kembali ke Flagstaff dari Gand Canyon sore itu, maka sekitar
25 km sebelum mencapai Flagstaff kami berbelok ke timur mampir
ke obyek wisata yang disebut Sunset Crater Volcano.
Saya memang tertarik dengan namanya, sementara belum banyak informasi
yang sempat saya baca tentang tempat itu sebelumnya. Dalam hati
saya berkata : pokoknya belok saja, toh hanya 5 km dari jalan
besar.
Ternyata yang namanya Sunset Crater Volcano adalah
bekas kawah gunung berapi. Lha wong namanya bekas, jadi yang
tampak di sana adalah hamparan batu-batu vulkanis yang nampak
gosong, bekas terbakar. Juga tersedia jalan yang cukup aman untuk
bisa jalan kaki mendaki ke pinggir bekas kawahnya, jika berminat.
Sepintas sama sekali tidak ada yang menarik bagi saya. Di Indonesia
rasanya banyak yang lebih menarik untuk dikunjungi, daripada
sekedar batu gosong.
Tidak perlu lama-lama, setelah berhenti istirahat sebentar,
kamipun langsung memutar untuk melanjutkan perjalanan. Yang lalu
kemudian mengganjal di pikiran saya adalah kenapa batu gosong
saja mampu mereka promosikan untuk menarik wisatawan. Dan anehnya,
banyak juga wisatawan (lokal khususnya) yang mau berkunjung ke
situ dan rela membayar uang tanda masuk US$ 7.00.
Obyek wisata Dieng di Jawa Tengah, bagi saya jauh lebih kaya
dan menarik untuk dikunjungi, kalau hanya sekedar berkunjung
yang diinginkan. Untuk sekedar mengambil contoh : tahun 1977
saya ke Dieng, lalu tahun 1987 saya ke Dieng lagi, memang menarik
tapi ya masih begitu-begitu saja. Tidak berkesan ada nilai tambah
yang saya peroleh. Padahal di sana ada kawah, ada sumber air
panas, ada telaga, ada candi, ada industri jamur, ada pertanian
kentang, ada perkebunan teh, ada berbagai legenda yang tidak
habis-habisnya digali. Selesai berkunjung dan melihat, ya sudah.
Apa dan bagaimana semua itu? Anda harus mencarinya sendiri,
tanya sana tanya sini, riset kepustakaan sendiri jika diperlukan,
atau mendatangi kantor Dinas Pariwisata (itupun kalau Anda beruntung
petugasnya sedang mau Anda kunjungi).
Maka janganlah heran kalau Pemda Wonosobo sebenarnya kehilangan
sumber pemasukan daerah (termasuk devisa) dari sektor pariwisata,
yang sebenarnya bisa diharapkan lebih banyak. Karena dengan memberi
nilai tambah, Dieng akan sangat menjanjikan lebih bernilai ekonomis
untuk dijual.
Seperti saya singgung di catatan sebelumnya tentang Lembah
Api. Kenapa banyak wisatawan berkunjung ke Sunset Crater
Volcano adalah karena ada nilai tambah atas batu gosong
itu.
Brosur-brosur promosi yang dicetak di atas kertas lux berwarna
dan terkadang dilengkapi dengan foto, bisa diperoleh dengan mudah,
di hotel, di restoran, bahkan di visitor center saat
memasuki negara bagian Arizona. Tentu dengan harapan agar para
wisatawan tertarik untuk menjadikan tempat itu sebagai salah
satu sasaran kunjungannya. Minimal para calon pengunjung tahu
bahwa ada tempat yang namanya Sunset Crater Volcano.
Umumnya tempat-tempat wisata di Amerika, setiap kita membeli
karcis masuk maka akan disertakan juga brosur yang memuat berbagai
informasi tentang tempat yang kita kunjungi, termasuk denah atau
peta lokasi lengkap dengan berbagai keterangannya. Dengan demikian
pengunjung tidak hanya akan melihat obyeknya saja (batu gosong
misalnya), melainkan juga akan tahu Apa dan Bagaimana-nya.
Di ruang visitor center, biasanya pengunjung akan
memperoleh berbagai macam informasi yang terkait, seperti sejarahnya,
proses terjadinya, pengelolaannya, bahkan terkadang dikembangkan
lagi dengan peristiwa-peristiwa lain yang ada kaitannya dengan
peristiwa yang terjadi di situ. Semua disajikan melalui media
yang sangat informatif, bisa gambar-gambar dan foto-foto di dinding,
diorama, alat peraga, pemutaran film dan video, buku-buku, hingga
dilengkapi dengan cenderamata yang bisa diperoleh dengan membelinya.
Nilai tambah itulah yang sebenarnya sedang mereka jual, bukan
semata-mata menjajakan batu gosong -nya. Nampaknya
kita memang harus mengejar banyak hal di sektor ini. Dalam kenyataannya
kita masih menerapkan bahwa antara rekreatif dan
edukatif adalah dua hal terpisah. Sementara di sini
saya melihat orang sudah mengaitkan bagaimana agar yang rekreatif
itu sekaligus berfungsi edukatif, bagi siapa saja,
sekalipun untuk itu harus dengan membayar. Siapapun boleh saja
tidak setuju, tapi setidak-tidaknya itulah yang baru saja saya
tangkap.-
(8). BERMALAM DI DURANGO
Selasa, 25 April 2000, jam 8:30 pagi saya check out
dari hotel dan langsung melaju ke arah timur melalui jalan bebas
hambatan Interstate-40. Sekitar satu jam perjalanan saya keluar
dari Interstate-40 dan membelok ke selatan sejauh 10 km.
Di sana ada Meteor Crater, yaitu sebuah lokasi
di tengah dataran luas berbatu dan bersemak di mana pernah jatuh
batu meteor yang lalu meninggalkan sebentuk kawah. Menurut para
ahli astrogeologi, diperkirakan sekitar 50.000 tahun yang lalu
ada sebuah meteorit yang beratnya ratusan ribu ton jatuh ke dataran
itu.
Jatuhnya meteorit ini meninggalkan kawah sedalam 213 m. Saat
ini kedalaman kawah ini tinggal sekitar 168 m dengan garis tengah
hampir 1,6 km dan keliling lingkarannya sekitar 3,8 km.
Perubahan ini tentu akibat proses alam. Di gedung utama, selain
disajikan berbagai informasi tentang peristiwa alam berkaitan
dengan benda-benda ruang angkasa, alat peraga termasuk simulasi
komputer, pemutaran film, museum astrogeologi, dsb. juga bisa
dijumpai seonggok contoh batu meteor seberat lebih 660 kg yang
setelah penemuannya lalu diberi nama diablo irons.
Melihat permukaan kawah yang diperkirakan mirip dengan permukaan
yang ada di bulan, NASA pernah mengadakan pelatihan untuk astronot
Apollo di tempat ini. Bekas-bekas perlengkapan training
itu masih ada hingga kini, termasuk kapsul ruang angkasa Apollo.
Berbagai hal berkaitan dengan misi Apollo juga dipamerkan dengan
sangat lengkap.
Dari Meteor Crater saya melanjutkan perjalanan
menuju timur. Satu jam kemudian, saya keluar lagi dari Interstate-40
menuju ke arah Petrified Forest National Park. Ini
adalah hutan taman nasional yang tidak satupun dijumpai ada pepohonan
di situ. Ya, karena yang dimaksud dengan hutan di situ adalah
hutan batu atau lebih tepatnya bekas hutan yang pepohonannya
sudah membatu (petrified).
Tahun 1962 daerah ini dinyatakan sebagai daerah yang dilindungi,
karena di kawasan yang membentang sepanjang lebih 75 km ini terdapat
reruntuhan pepohonan yang sudah membatu yang beraneka warna dan
gurun pasir yang disebut Painted Desert, serta lukisan
batu peninggalan suku-suku Indian.
Antara pepohonan batu dan gurun pada dasarnya adalah berasal
dari proses yang sama, yang menurut studi paleontologi keduanya
terbentuk pada jaman Triassic sekitar 225 juta tahun yang lalu.
Menyusuri rute petrified forest ini sepintas nampak
seperti banyak berserakan batang-batang pohon. Baru setelah didekati
akan tampak jelas bahwa sebenarnya itu adalah batang-batang pohon
yang telah membatu yang mengandung mineral yang beraneka warna
(tergantung dari warna mineral yang membentuknya).
Jangan coba-coba ngantongin sepotong batu dari
sini. Jika tertangkap, minimal kena denda US$ 300. Itu sebabnya
secuil batu petrified yang dijual di toko cendera
mata bisa berharga US$ 25 hingga ratusan dollar tergantung dari
warna mineral yang dikandungnya. Indah dan artistik memang, tentu
bagi mereka yang sedikit paham tentang latar belakang ilmu geologi.
Dari dua tempat yang saya kunjungi itu, lagi-lagi saya merasakan
bahwa bukan sekedar kawah dan batu yang saya lihat, melainkan
banyak sekali informasi baru dan ilmu pengetahuan yang saya peroleh.
Sarana yang disediakan memungkinkan bagi siapa saja (termasuk
anak-anak) untuk menjadi dipermudah memahami berbagai
peristiwa geologis yang sayapun dulu untuk memahaminya susah
setengah mati. Rasanya tidak sayang menyisihkan waktu dan uang
untuk membeli obyek kunjungan yang sudah diberi nilai
tambah ini.
Padahal di Indonesia saya juga pernah menjumpai kawah dan
saya juga pernah menjumpai tanaman membatu yang saya baru tahu
kalau istilahnya petrified. Tapi ya seperti saya
kemukakan sebelumnya, setelah mengunjungi dan melihat, ya sudah
itu saja.
Sekitar jam 1:30 siang, saya sudah berada kembali di Interstate-40
dan melanjutkan perjalanan menuju ke perbatasan negara bagian
New Mexico. Menurut rencana semula, saya akan terus menuju ke
kota Albuquerque dan kemudian bermalam di kota Santa Fe (ibukota
New Mexico).
Tapi tadi malam ketika membuka-buka peta perjalanan, saya
berubah pikiran. Jika langsung menuju Santa Fe melalui Interstate-40
untuk kemudian esoknya melanjutkan melalui Interstate-25 menuju
ke Denver (ibukota Colorado), maka pemandangan di sepanjang perjalanan
akan sangat monoton dan membosankan meskipun saya bisa melaju
dengan kecepatan 80 mil/jam (sekitar 130 km/jam).
Akhirnya lalu kami putuskan setiba di kota Gallup (New Mexico)
akan membelok ke utara menuju arah Denver tetapi melalui rute
tengah yang bergunung-gunung dan akan melalui beberapa kota kecil,
dengan akibat saya hanya bisa melaju dengan kecepatan maksimum
55-65 mil/jam (sekitar 90-100km/jam). Perjalanan melalui kota-kota
kecil ini kata seorang teman di Colorado, Mas Bob Adibrata, lebih
bersuasana Amerika ketimbang lewat jalan mulus bebas hambatan
yang hanya akan menjumpai mobil dan tuck-truck raksasa saja.
Maka siang itu, perjalanan dilanjutkan melalui kota-kota kecil
di New Mexico yang pada umumnya mempunyai pemandangan alam yang
kering mirip Arizona dengan di sana-sini dataran
luas bebatuan dengan bukit-bukit menonjol berprofil aneh
akibat proses erosi.
Tonjolan-tonjolan bukit batupasir yang membentuk profil aneh
ini cukup menarik dan banyak menghiasi sepanjang perjalanan di
bagian utara negara bagian New Mexico. Menjelang sore saya sudah
melintasi perbatasan dengan negara bagian Colorado. Tujuan saya
adalah menuju kota Durango yang berada di sisi barat daya Colorado,
sebelum naik ke punggungan barat pegunungan Rocky Mountain. Sebenarnya
sebelum sampai ke Durango saya ingin mampir ke Taman Nasional
Mesa Verde, namun sayang waktunya sudah tidak mencukupi
karena saya perkirakan perlu waktu sekitar 2 jam untuk mengunjungi
tempat itu sedangkan hari sudah sore.
Khawatir terlalu malam tiba di Durango, maka perjalanan saya
lanjutkan saja, hingga sekitar jam 6:00 sore saya memasuki kota
Durango. Tidak terlalu sulit untuk mendadak mencari hotel murah
di kota kecil ini. Bagi saya Durango adalah sebuah kota kecil
yang asri. Berada di ketinggian sekitar 1.981 m di atas permukaan
air laut dan berpenduduk kurang dari 12.500 jiwa. Tidak terlalu
padat untuk ukuran sebuah kota kecil di Amerika. Udara sore itu
cukup dingin dan menyegarkan setelah 4 hari perjalanan dalam
cuaca yang panas. Di jalan utama Durango masih bisa dijumpai
bangunan bangunan lama yang sekarang dipakai untuk pertokoan,
bekas masa kejayaan industri pertambangan ketika di Amerika sedang
mengalami booming emas dan perak, di akhir abad 19.
Di kota Durango inilah kami bermalam.
(9). MELEWATI EMPAT PUNCAK BERSALJU
Rabu, 26 April 2000, baru sekitar jam 9:00 pagi saya meninggalkan
kota Durango terus melaju ke utara. Hari masih belum terlalu
panas dan udara cukup dingin. Tujuan saya hari itu adalah mencapai
kota kecil Breckenridge, di sebelah barat Denver. Jarak yang
harus saya tempuh sekitar 313 mil (sekitar 500 km).
Rute ini melalui jalan yang berkelok-kelok serta mendaki dan
menuruni gunung. Praktis saya harus lebih mengontrol kecepatan,
mengingat di beberapa bagian jalan harus melewati kondisi jalan
yang agak sempit di lereng-lereng gunung dan tanpa pagar pengaman.
Keputusan saya untuk merubah rute saat di Flagstaff ternyata
tidak salah.
Sekalipun saya tidak bisa melaju cepat, jalan pegunungan yang
saya lalui memberikan pemandangan alam yang sangat indah, setidak-tidaknya
belum penah saya saksikan langsung kecuali di foto dan film.
Memang benar, lebih bersuasana Amerika. Hampir setengah perjalanan
saya lalui melalui puncak-puncak gunung yang waktu itu masih
bersalju. Sehingga kami benar-benar menikmati pemandangan yang
didominasi oleh hutan pinus di seluas hamparan salju di kiri-kanan
jalan.
Belum satu jam meninggalkan kota Durango, saya sudah mencapai
puncak pass Coalbank Pass yang berelevasi 3.243 m.
Tiba di sini anak-anak saya mengajak berhenti. Tentu saja ini
adalah pemandangan dan suasana alam khas Amerika yang belum pernah
kami lihat sebelumnya. Di New Orleans di mana kami tinggal yang
letak geografisnya berada di sisi selatan Amerika dan masih termasuk
di daerah beriklim subtropis, sekalipun musim dingin salju nyaris
tidak pernah datang.
Karena itu anak-anak langsung saja berlari menuju ke hamparan
salju, benda yang selama ini hanya dikenal secara abstrak. Saya
biarkan mereka bermain dan berlari, sementara waktu masih pagi.
Perjalanan lalu menuruni puncak dan tiba di kota kecil Silverton.
Silverton adalah bekas kota tambang yang berada di kaki gunung-gunung
tinggi yang mengelilinginya. Sehingga memandang ke arah manapun
sepertinya hanya gunung yang terlihat. Kota ini terletak di ketinggian
sekitar 2.753 m di atas permukaan laut dan hanya dihuni oleh
sekitar 700 orang. Sepi, tenang, dingin dan bersih, itulah kesan
saya saat mampir di kota ini.
Sebenarnya ada obyek wisata menarik di kota ini yang disebut
Old Hundred Gold Mine. Menurut informasi, dengan
berwisata ke bekas tambang emas ini pengunjung akan masuk ke
tambang bawah tanah menggunakan kereta tambang elektrik, menuruni
sumuran tambang (shaft) serta terowongan-terowongan tambang (tunnel),
selain dipamerkan juga tentang berbagai informasi geologi, sejarah
serta peralatan dan metode-metode penambangan dari jaman dulu
hingga yang modern. Sayangnya wisata tambang ini hanya dibuka
antara bulan Mei hingga Oktober yaitu saat musim Semi dan Panas,
sehingga saat kami di sana wisata tambang belum dibuka. Di luar
bulan-bulan itu lokasi tambang itu masih banyak terganggu salju
dan sangat dingin.
Sempat terpikir oleh saya, di lokasi yang terpencil jauh dari
mana-mana seperti itu lalu siapa yang akan berkunjung ke sana?
Jangankan membayar tiket masuk yang US$ 12.95, gratis pun rasanya
jarang yang akan mengunjunginya.
Ternyata dugaan saya salah, kabarnya lokasi itu di musim panas
cukup menjadi pilihan wisatawan untuk dikunjungi. Karena tempat
ini sangat cocok buat tempat peristirahatan yang selain obyek
wisata tambang juga banyak pilihan wisata gunung. Lagi-lagi,
ya seperti yang saya singgung sebelumnya, bukan sekedar masuk
terowongan dan melihat bekas tambang yang akan mereka peroleh
di sana. Melainkan banyak informasi dan pengetahuan baru yang
dikemas sedemikian rupa menjadi paket wisata.
Sekitar setengah jam perjalanan mendaki dari kota Silverton,
saya sudah mencapai puncak yang kedua Red Mountain Pass
yang berelevasi 3.358 m. Mirip dengan puncak yang saya lewati
sebelumnya, hamparan salju berada di sekeliling jalan yang saya
lalui dengan hutan pinus berada di beberapa bagiannya. Begitu
sampai di lokasi yang agak lebar, kamipun berhenti. Lalu anak-anak
kembali melampiaskan kegumunannya (rasa kagumnya)
dapat berada di tempat yang dimana-mana terhampar salju. Sungguh
beruntung mereka, mengalami masa kecil yang teman-teman sebaya
di kampungnya di Jawa sana belum tentu akan bisa mengalaminya.
Kami memang beruntung saat itu, karena rute itu biasanya ditutup
untuk lalu lintas umum jika musim dingin tiba karena sangat berbahaya
akibat tertutup salju. Saat itu ternyata sudah dibuka karena
sudah bisa dilalui kendaraan, meskipun lalu lintas masih tergolong
sangat sepi.
Perjalanan kemudian kembali menuruni gunung, lalu melalui
jalan yang relatif mendatar dan melewati beberapa kota kecil.
Setelah itu saya sempat mampir ke Black Canyon of the Gunnison
National Park.
Bentang alam berupa jurang atau ngarai yang cukup curam, meskipun
tidak sebesar Grand Canyon. Ini adalah gugusan batuan dasar tertua
yang terpotong oleh sungai sedalam sekitar 335 m, membentang
sepanjang 19 km, dengan lebar bagian atasnya sekitar 430 m dan
bagian bawahnya tepat di sungai sekitar 12 m. Sesuai namanya,
Black Canyon, karena komposisi batuannya didominasi oleh batuan
schist, granit dan batuan-batuan Precambrium lainnya yang berwarna
kehitam-hitaman. Dari tempat ini saya melanjutkan perjalanan
ke arah timur menyusuri pinggir danau Blue Mesa yang membentang
sepanjang 36 km. Di pinggir danau ini saya sempat beristirahat
sebentar sambil memperhatikan orang-orang yang sedang memancing
dengan pemandangan latar belakang tampak gunung bersalju yang
berwarna putih menyilaukan.
Sebelum mencapai perempatan di kota kecil Poncha Springs yang
selanjutnya saya akan berbelok ke arah utara, saya melalui puncak
pass yang ketiga, yaitu Monarch Pass yang berelevasi
sekitar 3.448 m. Meskipun ini puncak tertinggi diantara 3 puncak
yang sudah saya lalui, ternyata di sini tidak seluruh areanya
tertutupi salju. Saya tidak tahu apa sebabnya, tetapi di puncak
ini masih bisa dijumpai bagian-bagian tanah yang terbuka. Sehingga
pemandangan menjadi tampak seperti biasa. Saya hanya
menduga-duga, barangkali karena di daerah ini sudah banyak dilalui
orang yang melakukan kegiatan sehingga relatif lebih panas suhu
udaranya. Lalu lintas di rute ini memang relatif lebih ramai.
Berbeda dengan kedua puncak sebelumnya yang masih sangat sepi
dilalui kendaraan.
Perjalanan selanjutnya menuju Breckenridge melalui jalan mendatar
yang agak membosankan, hingga akhirnya mencapai puncak pass keempat
sesaat menjelang tiba di Breckenridge, yaitu Hoosier Pass
yang berelevasi 3.518 m. Seperti halnya puncak ketiga yang saya
lewati, di puncak keempat ini juga tidak seluruh areanya tertutup
salju. Memang daerah ini termasuk daerah sibuk, karena di sekitar
sinilah banyak dikembangkan ski resort,sehingga rute
jalan yang melalui area ini cukup padat dibandingkan dengan rute-rute
sebelumnya yang saya lalui.
Tidak jauh setelah menuruni puncak keempat ini saya tiba di
kota kecil Breckenridge, sekitar jam 6:00 sore. Breckenridge
adalah kota kecil yang dikembangkan menjadi ski resort
dan menjadi salah satu tujuan bagiorang-orang yang akan berolahraga
di es. Kota ini terletak di ketinggian sekitar 2.906 m di atas
permukaan air laut, berpenduduk hanya sekitar 1.300 jiwa dan
berlokasi pada 87 mil (sekitar 140 km) di sebelah baratkota Denver.
Di kota inilah kami merencanakan untuk tinggal selama 3 malam.
Mimbar Bambang Seputro
Updated 08/07/2000
|