MUSIM PANAS DI ARIZONA
(1). API DI MANA-MANA
Selasa sore sekitar jam 15:30, 2 Agustus
2000, saya tiba di bandara internasional Sky Harbor di kota Phoenix, ibukota
negara bagian (state) Arizona.
Cuaca demikian panas saat itu, suhu udara
bergerak di seputar angka 105-108 derajad Fahrenheit (sekitar 41-42 derajad
Celcius). Bagi beberapa daerah di sekitar kota Phoenix, musim panas terutama
bulan Agustus sering dikatakan sebagai bulan paling buruk, yang berkonotasi
sebagai hari-hari dimana suhu udara sangat panas dan kering. Bahkan jika
kita berada di tempat teduh sekalipun, masih sangat terasa sentuhan hawa
panas yang tertiup angin.
Wilayah Arizona umumnya memang mempunyai
bentang alam tipikal gurun yang aslinya tentu miskin dengan jenis tumbuhan
besar. Kalaupun sekarang di sana-sini dijumpai tumbuhan pelindung, itu
karena hasil rekayasa pertanian.
Sejam kemudian, dengan menaiki taksi saya
tiba di sebuah hotel di kota Tempe (baca : Tempi), yaitu sebuah wilayah yang
berada di sisi tenggara Phoenix. Lokasi kota Tempe terhadap Phoenix
barangkali dapat saya identikkan dengan kota Depok atau Bekasi terhadap
Jakarta.
Secara geografis nyaris seperti tidak
terpisahkan, namun secara administratif adalah dua kota berbeda. Kedua
wilayah ini, berada pada ketinggian sekitar 300-an meter di atas permukaan
laut, dengan tingkat kepadatan penduduk “hanya” sekitar satu juta untuk
Phoenix dan 150 ribu penduduk untuk Tempe.
Pertama kali yang saya lakukan setiba di
kamar hotel yang dilengkapi dengan alat pengatur udara adalah menghempaskan
diri di tempat tidur dan lalu membuka saluran TV. Ternyata di beberapa
saluran TV sore itu ada acara khusus, yaitu siaran langsung Konvensi
Nasional Partai Republik di Philadelphia dimana Dick Cheney akan
menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat wakil presiden.
Pada saat yang sama juga ada siaran langsung
pemadaman kebakaran yang sedang terjadi di Phoenix. Maka, jadilah yang
tampak di layar TV adalah tayangan pidato kampanye dan pemadaman kebakaran
secara bergantian. Terkadang layar terbagi dua untuk penayangan kedua siaran
langsung tersebut secara bersamaan. Kebakaran besar memang sedang terjadi di
sebuah gudang di tengah kota Phoenix sejak beberapa jam sebelumnya, yang
bahkan hingga malam hari api belum berhasil dipadamkan.
Menarik juga menyaksikan siaran langsung
kebakaran dan upaya pemadamannya yang gambarnya diambil dari berbagai sudut.
Hingga tengah malam saat TV saya matikan, siaran langsung "acara
kebakaran" masih belum selesai. Di musim panas seperti ini, seperti
halnya di Indonesia, kebakaran adalah ancaman bencana yang sangat ditakuti.
Dan itulah yang hari-hari ini sedang melanda
sebagian wilayah belahan barat Amerika, yaitu kebakaran hutan atau api-api
liar yang tiba-tiba muncul di mana-mana. Bahkan kilat yang menyambar pun
bisa menyebabkan kebakaran. Berita kebakaran hutan hampir setiap hari
menghiasi berita TV dan koran.
Sebegitu parahkah kebakaran liar yang sedang
melanda Amerika? Informasi terakhir yang juga dilansir CNN, saat ini
kebakaran terjadi di lebih 90 lokasi seluas tidak kurang dari 4,500 km2
menyebar di 11 negara bagian. Secara nasional tahun ini kebakaran liar telah
terjadi di lebih 68.700 lokasi dan telah menghanguskan areal yang pada
umumnya berupa hutan seluas hampir 22,000 km2. Tentu yang disebut hutan di
sini berbeda dengan hutan musim hujan di daerah beriklim tropis seperti di
Indonesia.
Menurut data yang ada, bencana kebakaran liar
tahun ini merupakan yang terparah selama 13 tahun terakhir. Secara angka,
luas wilayah yang terbakar “hanya” sekitar 0,2 % saja dari seluruh
wilayah Amerika. Namun menjadi kepentingan semua pihak, kalau mengingat akan
berakibat musnahnya berbagai biota hutan serta tumbuhan. Perlu waktu ratusan
tahun untuk kembali ke keadaan seperti asalnya. Itupun kalau tidak “keburu”
terbakar lagi.
Maka tidak heran kalau semua petugas pemadam
kebakaran hutan dikerahkan silih berganti. Bahkan batalyon tentara dan
marinir pun diperbantukan, termasuk bala bantuan dari Australia dan Selandia
Baru. Untungnya, tidak banyak negeri jiran yang tinggal di dekat lokasi
kebakaran, sehingga Amerika tidak bisa “membagi” asapnya sebagaimana
asap Sumatra atau Kalimantan yang mampir ke negeri tetangga di utaranya.
Negara terdekat terhadap lokasi kebakaran ini adalah Canada, dan asap api
sudah mulai mendekat ke perbatasan.
Namun Canada tidak “teriak-teriak”,
barangkali juga maklum karena ternyata Canada pun juga sedang disibukkan
dengan munculnya api-api liar yang membakar hutan mereka.-
(2). KAKTUS RAKSASA DI GURUN SONORAN
Berkendaraan ke arah selatan sejauh 117 mil
(sekitar 187 km) dari kota Phoenix, saya akan mencapai kota Tucson. Namun
sebelum tiba di Tucson, saya berbelok ke arah barat menuju ke Taman Nasional
Saguaro (baca : Sahuaro).
Saguaro adalah nama sejenis tanaman kaktus
raksasa yang hanya hidup di bagian selatan Arizona, tenggara California dan
utara Mexico. Ini adalah jenis tanaman kaktus yang bisa mencapai tinggi 9 -
12 meter, dan sedikit di antaranya bisa lebih dari 15 meter. Batangnya (kita
sering salah kaprah menyebutnya sebagai batang) bisa seukuran batang pohon
pisang kepok. Kaktus ini mampu hidup hingga lebih 200 tahun.
Demi melindungi kerusakan monumen alam yang
hanya ada di daerah itu, tahun 1933 kaktus-kaktus raksasa tersebut, beserta
dengan jenis kaktus lainnya, tanaman-tanaman gurun, serta binatang-binatang
yang hidup di lingkungan itu, dilindungi melalui pengelolaan Taman Nasional
Saguaro.
Wilayah gurun tempat tumbuhnya kaktus-kaktus
raksasa ini disebut dengan gurun Sonoran. Ini adalah salah satu daerah
paling panas dan kering di daratan Amerika utara. Karena itu hanya jenis
tumbuh-tumbuhan dan binatang tertentu saja yang sanggup bertahan hidup
(survive) di lingkungan ini.
Di daratan Amerika utara dikenal ada empat
macam gurun, yaitu Great Basin, Mojave, Chihuahuan dan Sonoran. Taman
Nasional Saguaro sendiri yang mencakupi wilayah gurun Sonoran ini terbagi
menjadi dua, yaitu Saguaro Timur dan Barat yang masing-masing terpisah
sejauh 48 km dengan kota Tucson berada di antaranya.
Hari Sabtu, 5 Agustus 2000, sekitar tengah
hari saya tiba di lokasi Taman Nasional Saguaro Barat. Memang udara siang
hari di musim panas seperti bulan Agustus ini terasa panas sekali.
Di sepanjang jalan sekitar tempat ini,
pemandangan alamnya didominasi dengan bukit-bukit kering dan kaktus-kaktus
raksasa. Setelah berhenti sejenak di ruang pusat pengunjung (visitor center)
guna memperoleh berbagai informasi serta peta lokasi, saya melanjutkan
perjalanan untuk masuk lebih jauh ke Taman Nasional Saguaro, dengan
mengelilingi rute wisata yang disebut “Scenic Bajada Loop Drive”
sepanjang kira-kira 15 km.
Di ruang pusat pengunjung ini seharusnya saya
membayar biaya masuk US$4. Namun karena saya memiliki kartu keanggotaan
Taman Nasional Amerika, maka saya tidak perlu membayar.
Sebagai pemegang kartu National Parks Pass,
saya dan keluarga bebas keluar masuk di sejumlah 379 taman nasional yang ada
di Amerika selama setahun. Untuk memiliki kartu National Parks Pass ini saya
membayar US$50 dan berlaku satu tahun. Bagi saya ini lebih menguntungkan
mengingat kesukaan saya untuk mengunjungi taman-taman nasional, dibanding
kalau saya mesti setiap kali membayar sejumlah uang setiap akan masuk ke
Taman Nasional.
Alasan “idealis” lainnya adalah dengan
membayar sekaligus untuk setahun, maka saya telah memberi kontribusi lebih
kepada organisasi pengelola taman-taman nasional Amerika yang disebut
National Park Foundation (NPF). NPF ini adalah sebuah organisasi, semacam
LSM, yang mengelola sejumlah taman-taman nasional di seluruh Amerika.
Organisasi ini merupakan partner bagi lembaga resmi pemerintah National Park
Sevice, dan berorientasi “non-profit”.
Sumber dana mereka yang utama berasal dari
sumbangan para donatur dan biaya uang masuk di hampir setiap taman nasional
(karena ada juga taman nasional yang bebas uang masuk). Dari uang masuk yang
mereka kumpulkan, 80%-nya digunakan langsung untuk mengelola program-program
utama taman nasional.
Melihat bahwa dari taman-taman nasional yang
pernah saya kunjungi secara fisik tampak tertangani dengan sangat baik,
pasti mereka telah menerapkan sistem “management” yang bagus pula. Ada
dua hal yang saya pandang menarik : Pertama, bahwa siapapun mereka, untuk
terlibat dalam lembaga ini tentu diperlukan rasa memiliki dan rasa peduli
yang sangat tinggi terhadap kekayaan alam negerinya. Kedua, kepuasan dan
kenyamanan para pengunjung untuk berwisata dan sekaligus memperoleh
pengalaman dan pengetahuan baru melalui cara-cara yang sangat informatif dan
edukatif tetap mereka utamakan, dan bahkan mereka sangat peduli kalau ada
pengunjung anak-anak yang suka tanya ini-itu.
Terus terang, sebagai orang yang datang
jauh-jauh dari negara yang sedang berkembang terkadang saya merasa iri,
bagaimana mereka “mau-maunya” terlibat dalam urusan yang secara kasat
mata tidak menjanjikan “imbalan” yang menggiurkan. Perlu juga rasanya
saya catat, bahwa banyak di antara para petugas itu adalah orang-orang tua
(kira-kira orang yang sudah usia pensiun) yang mengisi waktu tuanya dengan
menjadi sukarelawan di lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi swadaya
masyarakat, ya antara lain semacam NPF ini. NPF juga menerima para remaja
yang ingin magang atau menjadi sukarelawan, juga para professional dari
berbagai bidang termasuk dokter, pengacara, insinyur, dsb. Bahkan mereka
juga menerima anak-anak yang ingin mengisi waktu liburan mereka dengan
berkegiatan di taman-taman nasional yang tentunya jenis kegiatannya
disesuaikan dengan usia mereka, pendeknya siapa saja yang berminat bergabung
akan sangat dihargai.
Adanya kebanggaan bagi setiap orang untuk
bisa terlibat dalam kegiatan LSM semacam inilah yang menurut logika berpikir
saya lalu menimbulkan pertanyaan : “Kenapa kita belum bisa?”.
Setelah menenggak setengah botol air mineral
yang saya bawa untuk sekedar menawarkan haus di saat terik panas tengah
hari, saya masuk ke rute jalur wisata “Scenic Bajada Loop Drive”.
Beberapa ratus meter pertama jalanan cukup
bagus karena beraspal, setelah itu saya melewati jalan tanah yang tentu saja
berdebu. Berkendaraan dengan kecepatan sekitar 25-30 km/jam saya menyusuri
perbukitan yang tampak kering dan tandus yang di sana-sini terhampar
berbagai tanaman gurun, terutama kaktus saguaro dan jenis-jenis kaktus
lainnya yang lebih kecil.
Di lokasi gurun Sonoran ini dikenal ada lebih
dari 50 jenis kaktus-kaktus kecil dan pendek (meskipun di antaranya juga
berbatang besar). Kaktus-kaktus raksasa saguaro yang sudah berusia ratusan
tahun biasanya sudah tumbuh bercabang dua, tiga, empat atau terkadang
banyak, sehingga dari kejauhan tampak seperti batang senjata trisula yang
ditegakkan ke atas. Di gurun ini juga hidup binatang-binatang yang mampu
menyesuaikan diri dan bertahan di lingkungan gurun, di antaranya jenis-jenis
tikus, ular, tupai, kura-kura, javelinas (sejenis celeng), dsb. Di antara
kaktus-kaktus itu ada yang berlubang-lubang menjadi tempat persembunyian
burung-burung kecil seperti : woodpecker, warblers, western kingbirds,
burung hantu, dsb. Sekali waktu tampak berbunga dan muncul buah di ujungnya.
Buah-buah kaktus ini oleh penduduk asli Amerika dulu (suku Indian)
dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan bahan dasar pembuat minuman.
Usai mengelilingi bukit kecil yang diberi
nama puncak Apache, akhirnya saya menyelesaikan rute mengelilingi sebagian
kecil saja dari areal hutan kaktus raksasa. Bagi mereka yang mempunyai hobi
“hiking”, juga tersedia rute untuk berjalan kaki masuk lebih jauh lagi
ke areal Taman Nasional Saguaro. Tentu ada peraturan khusus yang harus
mereka taati demi menjaga kelestarian flora dan fauna yang khas hanya ada di
taman nasional ini. Apakah ada yang nekad di saat musim panas seperti ini?
Ternyata ada juga mereka yang mengisi liburan musim panas dengan “hiking”
ke gurun Sonoran ini.
Pasti mereka sudah sangat siap fisik, mental
dan bekal, kalau mengingat bahwa suhu udara saat siang hari sangat panas dan
kering, dan tanpa ada pohon pelindung di seluas taman nasional, kecuali
kalau sekedar berlindung di balik kaktus.
Sekitar dua jam saya berada di daerah ini,
lalu keluar dari areal taman nasional dan melaju ke arah selatan menuju kota
Tucson.-
Siang itu, masih di hari Sabtu, 5 Agustus
2000, saya memasuki kota Tucson. Hanya melewatinya, dan terus menuju ke luar
kota melalui State Road (SR) 77, Jalan Oracle. Ternyata saya masih mengenali
jalan ini, sejak pertama kali pernah melewatinya pada tahun 1996 dan yang
kedua tahun 1998.
Itu karena di jalan ini ada Tucson Mall,
tempat yang saya anggap paling strategis dan praktis untuk sekedar
jalan-jalan sore dan belanja oleh-oleh atau titipan kawan-kawan dari
Indonesia.
Setelah melaju sejauh sekitar 48 km ke arah
timur laut, saya tiba di kompleks Biosphere 2 Center.
Ini memang obyek yang sudah lama saya
angankan karena ada sesuatu yang menarik di sana. Sekitar awal tahun 90-an
saya pernah membaca tulisan di sebuah majalah di Indonesia (saya lupa apa
nama majalahnya). Dalam tulisan itu diceriterakan tentang adanya sebuah
dunia tiruan yang digunakan sebagai media eksperimen kehidupan, di mana ada
delapan orang (4 pria dan 4 wanita) masuk ke dalam dunia kecil tiruan itu
yang terisolasi terhadap dunia luar. Mereka tinggal dan menjalankan kegiatan
hidup seperti biasa selama dua tahun di dalam “kurungan” rumah kaca.
Segala macam sistem kehidupan di dalam dunia
tiruan itu direkayasa sedemikian rupa sehingga sama dengan dunia nyata di
luarnya. Belakangan baru saya ketahui peristiwa itu terjadi pada tanggal 26
September 1991 hingga 26 September 1993.
Selang enam bulan kemudian, tim kedua yang
terdiri dari 7 orang (5 pria dan 2 wanita) masuk “kurungan kaca” dan
berada di dalamnya selama enam setengah bulan. Para anggota tim yang disebut
“biospherian” itu berasal dari negara Inggris, Jerman, Meksiko, Belgia,
Australia, Nepal dan Amerika sendiri. Misi dari kedua tim itu dinilai sukses
menyelesaikan berbagai eksperimen tentang sistem kehidupan di dunia nyata
melalui media dunia kecil tiruan.
Ketika di tahun 1996, saat pertama kali saya
melewati jalan Oracle ini dan melihat tulisan Biosphere 2, saya langsung
ingat pada artikel yang pernah saya baca di sebuah majalah enam tahun
sebelumnya, yang waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan di daerah mana
proyek Biosphere ini berada. Maklum, waktu itu masih susah untuk
membayangkan nama-nama tempat atau negara bagian yang ada di Amerika.
Sayangnya pada tahun 1996 itu dan juga tahun
1998 saya tidak punya cukup kesempatan untuk mengunjunginya. Baru kali
inilah saya benar-benar menyempatkan untuk menyaksikannya sendiri.
Di dalam dunia tiruan yang terbuat dari
struktur kaca, baja dan beton itu dibangun ada lima bioma : hutan musim
hujan, samudra, savana, gurun dan rawa-rawa. Habitat manusia, hewan yang
umumnya jenis serangga dan monyet, serta berbagai macam tumbuh-tumbuhan,
kesemuanya dirancang dan dibangun menyerupai keadaan sebenarnya. Semua
sistem di dalam Biosphere 2 ini bergantung kepada tenaga listrik. Ada sebuah
generator gas alam besar di Pusat Energi yang menghasilkan listrik untuk
menggerakkan semua sistem dunia tiruan itu. Pusat Energi juga menghasilkan
air panas dan dingin yang akan dibutuhkan untuk pemanasan dan pendinginan
Biosphere 2 sesuai dengan kebutuhan. Ada dua
buah kubah di luar “kurungan kaca” ini yang berfungsi sebagai “paru-paru”
dunia kecil, dimana tekanan, temperatur dan volume udara dikontrol dan
dihubungkan dengan Biosphere 2 melalui saluran bawah tanah. Proses daur
ulang air dan sampah, semuanya dilakukan sebagaimana yang dilakukan orang di
dunia nyata. Proses sirkulasi untuk mensuplai udara bersih, proses
kondensasi untuk mensuplai air minum, pengaturan cuaca, dsb. dikontrol dan
disesuaikan dengan kebutuhan dari kelima bioma serta habitatnya.
Tetapi di dalam Biosphere 2 ini hanya ada
daerah beriklim tropis dan subtropis, serta tentunya tidak ada tiupan angin
kencang. Dunia kecil ini dibuat tidak lain adalah untuk mempelajari
bagaimana bumi berkerja dan bagaimana manusia berinteraksi dengan sistem
bumi.
Melalui dunia kecil tiruan ini diharapkan
akan dapat dipelajari mengenai kehidupan yang berada di dalam lingkungan
yang dikendalikan oleh manusia sendiri. Pada gilirannya hal ini tentu akan
memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap Biosphere 1, ya bumi tempat
kita “nunut” hidup ini.
Sebenarnya ada juga proyek sejenis Biosphere
2 ini di tempat lain, yaitu Bios 3 di daerah terpencil Siberia, Rusia, dan
Biosphere “J” yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi di Jepang
utara.
Biosphere 2 adalah laboratorium kehidupan
terbesar di dunia yang dibangun sejak tahun 1987 dengan biaya sekitar
US$200. Menutupi areal seluas 1.27 ha dan bervolume 204.000 m3. Sejak 1
Januari 1996, setelah Columbia University bergabung dengan Biosphere 2
membentuk Biosphere 2 Center, Inc., sarana ini menjadi salah satu kampusnya
yang bergengsi dan mulai dibuka untuk dapat dikunjungi masyarakat umum.
Fasilitas pendidikan, penelitian dan
pengembangan pun mulai lebih komplit, termasuk asrama mahasiswa. Juga sudah
tersedia hotel, restoran dan gedung konferensi. Sungguh menjadi tempat
menimba ilmu yang sangat menantang. Hanya saja, di musim panas daerah ini
memang menjadi bersuhu udara sangat panas sebagaimana daerah-daerah lain di
Arizona, sementara belum banyak tanaman pelindung di sekitarnya.
Ada yang menarik ketika berjalan-jalan
mengelilingi berbagai sarana yang ada di kompleks Biosphere 2 Center, salah
satunya adalah Laboratorium Peraga (Demonstration Laboratories) yaitu tempat
diperagakannya berbagai ekosistem seperti hutan musim hujan, gurun dan
ekosistem lainnya. Saat berjalan-jalan di dalam ekosistem yang menirukan
kehidupan di daerah tropis, serasa saya sedang berada di tengah hutan di
Indonesia lengkap dengan bunyi serangga sesungguhnya, tanaman liar yang
tumbuh silang-menyilang, pepohonan besar dan udara yang lembab. Pohon pepaya
kampung yang sedang berbuah, pisang, pohon aren dan lamtoro gung juga ada di
sini.
Saya terpaksa hanya bisa menelan air liur
sewaktu menjumpai tanaman daun kemangi yang kalau saya remas memunculkan bau
yang khas menggugah selera makan. Ini memang jenis lalapan kesukaan saya.
Dalam hati saya berandai-andai : Kalau saja
saya membawa bekal sambal terasi, Wuah .....!.-
Gajahsora.Net
(4). WISATA TAMBANG DI KOTA HANTU
Minggu pagi, 6 Agustus 2000, sekitar jam
10:00 saya meninggalkan kota Tempe menuju ke arah timur lalu berbelok ke
utara. Hari itu saya merencanakan untuk menyusuri rute “Apache Trail”
dari arah barat melalui daerah pegunungan Superstition.
Negara bagian Arizona adalah satu dari
beberapa negara bagian di Amerika yang buminya kaya akan bahan mineral
sebagai sumber bahan tambang.
Menurut sejarahnya di Arizona ini banyak
terdapat bekas-bekas lokasi tambang (terutama emas, perak dan tembaga) yang
sebagian diantaranya masih beroperasi hingga kini, baik berskala besar
(korporasi) maupun kecil (tambang rakyat). Satu diantara lokasi-lokasi
pertambangan itu adalah daerah di sekitar pegunungan Superstition. Di sisi
sebelah barat laut dari pegunungan ini ada satu dataran tinggi yang disebut
Goldfield (ladang emas).
Sejak pertama kali emas diketemukan di daerah
ini sekitar tahun 1891, segera kabar itu menyebar dan para pencari emas pun
berdatangan mengadu untung. Dalam waktu yang singkat Goldfield serta merta
menjadi sebuah kota yang populasinya mencapai sekitar 5000-an. Sebuah
lonjakan angka yang cukup fantastis untuk ukuran “desa”-nya Amerika. Itu
terjadi hanya dalam periode lima tahunan yang kaya dengan emas, dimana saat
itu ada sekitar 50 tambang beroperasi.
Itulah masa kejayaan Goldfield di periode
tahun 1890-an. Jaman “keemasan” Amerika berlangsung tidak lama, “booming”
emas segera berakhir di penghujung abad ke-19. Demikian halnya yang terjadi
di Goldfield, urat bijih (vein) tidak lagi menghasilkan banyak emas, kadar
bijihnya (grade) menurun, dan kota Goldfield pun lalu mati perlahan-lahan.
Setelah berbagai upaya dilakukan orang untuk membuka kembali usaha
pertambangan, akhirnya menampakkan tanda-tanda kehidupann di tahun 1910
namun kemudian pudar lagi tahun 1926.
Kini masa kejayaan ladang emas itu pun
tinggal kenangan masa lalu, meninggalkan bekas kota tambang yang dijuluki
kota hantu (the ghost town) karena ditinggal penghuninya. Kenangan ini
ternyata menjadi kebanggaan masyarakatnya kini.
Mengawali perjalanan untuk menyusuri rute “Apache
Trail”, saya tiba di salah satu lokasi yang tampak dari jauh seperti kota
koboi. Tertarik untuk mengetahui tentang bekas sebuah kota ini, maka saya
berbelok menuju ke tempat parkir melewati di bawah sebuah struktur besi tua
yang ternyata bekas sebuah rangka utama (headframe) sumuran tambang.
Saya lanjutkan berjalan kaki, dalam cuaca
yang sangat panas dan tanpa ada pohon pelindung di sekitarnya, saya menuju
ke arah bangunan-bangunan yang tampak tua khas bangunan kota kuno di
Amerika.
Pemandangan ini mengingatkan saya akan
kenampakan kota kuno seperti yang sering menjadi “setting” film-film
koboi. Memandang ke depan ke seberang jalan dari tempat ini tampak
pegunungan Superstition yang berprofil “aneh” seperti tumpukan
bongkahan-bongkahan batuan monolitikum raksasa, menjulang lebih 900 meter di
atas lantai dataran gurun di sekitarnya.
Kenampakan seperti ini mendominasi di
sepanjang sisi sebelah timur dari areal lembah Salt River. Pegunungan
Superstition sendiri sebenarnya hanya bagian dari keseluruhan daerah
Superstition yang luasnya hampir 65.000 ha dengan puncak gunung tertingginya
lebih 1.800 m dengan beberapa lembah berada di antaranya.
Saya melanjutkan berjalan berkeliling, lalu
tiba di lokasi yang menawarkan wisata tambang (mine tour). Saya lihat ada
sekitar 15 orang sudah siap mengikuti wisata. Saya tolah-toleh, di situ
hanya ada dua orang petugas yang saya taksir usia keduanya di atas 50-an.
Seorang menjual karcis dan seorang lagi
sebagai pemandu wisata. Saya datangi si penjual karcis lalu saya tanyakan
berapa lama kira-kira wisata tambang ini akan memakan waktu. Dijawabnya
sekitar setengah jam. Saya bisa membayangkan kira-kira apa yang bakal dapat
dilihat dalam waktu setengah jam.
Tidak ada yang menarik, pikir saya.
Rasa-rasanya tambang bawah tanah peninggalan Belanda di Lebong Tandai,
Bengkulu sana, tempat saya pernah bekerja dulu, akan lebih menarik ketimbang
tempat ini.
Tetapi bukan alasan itu yang membuat saya
kemudian berubah pikiran. Ada yang lebih ingin saya ketahui : Apa sih yang
sedang mereka “jual” dan bagaimana cara mereka “menjualnya”,
sehingga orang-orang itu yang diantaranya bersama keluarga dan anak-anaknya,
mau membayar US$5 per orang untuk mengikuti wisata tambang selama setengah
jam.
Karcis kemudian saya beli, bukan kertas
sebagai tanda masuknya melainkan sebuah tongkat kayu.
Barangkali hanya ingin “tampil beda”.
Saya lalu bergabung dengan para wisatawan domestik itu (kali ini saya
menjadi wisatawan asing). Sebelum masuk ke dalam kerangkeng (cage) yang akan
membawa kami menuruni sumuran tambang (shaft), sang pemandu wisata
menjelaskan dengan sangat rinci tentang hal ihwal tambang.
Demikian pula saat kami berada di lorong
bawah tanah (tunnel) dan di dalam lombong (stope), berbagai hal teknis
termasuk cara-cara pemboran dan peledakan dalam pembuatan lorong, peralatan
yang digunakan, sistem penyanggaan, ventilasi, dsb. juga dijelaskannya
dengan fasih.
Saya hanya menduga-duga saja, sang pemandu
wisata ini mungkin dulunya bekas “miner” (buruh tambang). Akhirnya
setelah naik melewati beberapa tingkat anak tangga, kami tiba kembali di
permukaan melalui mulut tambang yang berbeda dengan ketika masuknya tadi.
Saya perkirakan tadi itu kami hanya berada sekitar 10-15 meter di bawah
permukaan tanah. Tapi itulah gambaran sederhana tentang sebuah tambang bawah
tanah berskala kecil yang berhasil dipaparkan melalui wisata tambang selama
sekitar setengah jam.
Pengunjung tampak puas, anak-anakpun gembira
memperoleh pengalaman baru.
Meninggalkan tempat ini saya berjalan
melewati beberapa peralatan kuno yang dipajang di sana, diantaranya ada
mesin pemboran (rock drill), kereta tambang (mine car) dan relnya, mesin
pemboran inti (diamond drill), dsb, hingga saya tiba di sebuah bangunan toko
yang di dalamnya ada museum mini yang menggambarkan sejarah tambang-tambang
di daerah pegunungan Superstition.
Sekeluar saya dari museum sebenarnya saya
berniat untuk segera melanjutkan perjalanan. Namun saat saya berhenti
sejenak di teras museum ini, saya merasa ragu-ragu untuk melangkah keluar.
Sesaat mondar-mandir di teras bangunan ini
sambil pura-pura memperhatikan struktur bangunan kuno biar tidak tampak
seperti orang bingung. Saya merasa masih ada yang mengganjal di pikiran :
Lha, tambangnya di mana? Kemudian saya
putuskan untuk masuk kembali ke museum dan menjumpai seorang wanita setengah
tua, satu-satunya petugas yang ada di situ. Pertanyaan singkat saya ajukan :
“Apakah tempat ini dulunya sebuah kota tambang?".
Dan jawab wanita itu : “Bukan, semua yang
ada di sini adalah replika dari sebuah kota tambang jaman dulu”.
“Termasuk wisata tambang?”, tanya saya
lagi.
“Ya”, jawabnya. Dalam hati saya berkata :
“Lha rak tenan” (benar, kan), pantesan tadi masuk ke tambang bawah tanah
kok tidak perlu memakai topi pengaman (hard hat).
“Pinter-pinternya” orang cari duit.
Sebuah kepintaran yang layak ditiru. Si ibu petugas itu lalu melanjutkan
penjelasannya bahwa dulu di daerah ini memang ada puluhan usaha
pertambangan, dan tempat ini adalah hasil rekonstruksi dari sebuah kota
tambang Old Mammoth. Kota tambang yang telah ditinggalkan sehingga menjadi
kota hantu. Satu diantara nama tambang yang hingga kini sangat melegenda dan
penuh misteri adalah Lost Dutchman Mine. Penjelasan si ibu ini memang telah
membuat ganjalan pikiran saya sedikit terobati, meskipun inti pertanyaan
saya sebenarnya belum terjawab.
Itulah, satu contoh kecil saja dari hasil
sebuah kerja professional. Saya sangat yakin bahwa mereka yang ngurusi
tempat wisata ini bukan berasal dari kalangan orang-orang yang bergelar
kesarjanaan.
Terlepas dari apakah penilaian saya ini benar
atau salah, yang pasti adalah bahwa mereka punya pengetahuan dan kebanggaan
akan daerahnya, punya ketrampilan, punya naluri untuk bekerja keras, dan
punya komitmen yang tinggi untuk “menyelamatkan” kisah masa lalu desa
mereka melalui media bisnis yang menguntungkan. Halal, lagi. Memang, sebuah
kepintaran yang layak ditiru.-
(5). LEGENDA TENTANG LOST DUTCHMAN MINE
Sebuah wisata tambang singkat tapi bernuansa
sebuah perjalanan panjang lintas waktu baru saja saya alami.
Sebuah peniruan yang sangat baik atas sejarah
masa lampau dari sebuah wilayah yang sebelum akhir abad ke-19 dulu pernah
jaya oleh “booming” hasil tambang emas dan perak, dan lalu ditinggalkan
masyarakatnya sehingga menjadi wilayah tak berpenghuni.
Itulah kota hantu yang kini ramai dikunjungi
orang dan hidup lagi, bukan sebagai kota tambang melainkan telah berubah
menjadi satu sektor industri yang mampu membangkitkan kehidupan
sosial-ekonomi generasi penerusnya.
Ada yang membekas di ingatan saya setelah
mengunjungi obyek wisata bekas kota tambang Old Mammoth di pinggir selatan
dataran tinggi Goldfield ini. Tambang-tambang memang sudah tidak beroperasi
lagi, kemilau emas dan perak juga tidak lagi memancar, dan kehidupan kota
juga sudah ditinggalkan masyarakatnya, hingga disebut sebagai “the ghost
town” (kota hantu). Maka yang tinggal hanya puing-puing kota, sisa-sisa
rongsokan peralatan tambang, dan kisah abadi tentang kejayaan masa lalu.
Ketika elemen-elemen “tak berharga” ini disatukan, direkonstruksi,
diberi sentuhan artistik, dilengkapi dengan assesori yang informatif,
ternyata berhasil dijual dan terbukti dibeli orang.
Sambil melanjutkan perjalanan, ingatan saya
melayang ke lima tahun yang lalu ketika saya meninggalkan tempat kerja saya
di sebuah tambang emas bawah tanah di desa Lebong Tandai, Bengkulu Utara.
Tambang ini adalah tambang emas bawah tanah pertama di Indonesia yang
dikelola oleh swasta, PT Lusang Mining.
Cukup sepuluh tahun mencapai masa kejayaan
sejak Indonesia “booming” emas di era 70 – 80-an. Tambang bawah tanah
ini beroperasi dengan membuka kembali sebuah tambang lama bekas peninggalan
jaman Belanda. Peralatan dan fasilitas baru baik untuk pekerjaan
rehabilitasi, pengembangan, penambangan maupun pengolahannya, kemudian
didatangkan guna menunjang operasi yang berskala lebih besar. Hingga saat
pemilik modal memutuskan untuk mengakhiri operasi penambangan dan
meninggalkannya, semua peralatan dan fasilitas tambang masih ada di sana.
Apa yang terjadi kemudian?
Dari cerita yang sempat saya dengar,
masyarakat pencari emas serta-merta datang dari berbagai wilayah di
Indonesia menyerbu Lebong Tandai, mengkapling-kapling lokasi, lalu
mengusahakan penambangan sendiri yang menurut terminologi pemerintah disebut
sebagai penambang liar. Semua orang seperti berebut kekuasaan atas bekas
aset milik perusahaan. Entah bagaimana nasib tambang dan fasilitasnya itu
kini.
Ingatan saya yang kedua menuju ke awal tahun
1983. Saat itu saya bersama empat orang teman terbang menuju Pulau Singkep,
di Riau Kepulauan, dalam rangka melakukan Kerja Praktek Lapangan di PT
Tambang Timah sebagai syarat menyelesaikan tahap Sarjana Muda.
Masa kejayaan industri pertambangan timah
memang sedang beranjak turun saat itu, dibandingkan dengan tahun-tahun
sebelumnya. Namun saya masih bisa merasakan dan melihat betapa usaha
pertambangan timah telah menyumbang sangat besar dalam perannya menghidupkan
sebuah pulau terpencil di deretan kawasan Riau Kepulauan.
Dua kota utama yang menjadi basis operasi PT
Tambang Timah di sana adalah Dabo dan Raya, selain ada Pulau Karimun dan
Kundur di sebelah utaranya yang menjadi satu bagian dari Unit Penambangan
Timah Singkep (UPTS). Operasi tambang semprot (hydraulic mining) dan kapal
keruk (dredging) meninggalkan kolong-kolong bekas tambang (semacam kolam
raksasa) yang lalu dicoba untuk dimanfaatkan sebagai usaha perikanan,
meskipun sejauh ini saya tidak mendengar cerita suksesnya.
Hal yang kabarnya kurang lebih sama juga
terjadi di Pulau Belitung dan Bangka. Saya ingat betapa kota Dabo dan Raya
yang juga banyak memiliki sarana dan prasarana bekas peninggalan Belanda,
menunjukkan gairah kehidupan ekonomi yang melaju pesat. Sebagai dampak dari
berkembangnya usaha penambangan timah, maka sektor pertanian terutama
sayur-sayuran (tidak ada sawah di sana), perikanan, perhubungan,
perdagangan, serta bidang jasa lainnya, seperti terdongkrak turut meramaikan
aktifitas sosial-ekonomi.
Selain PT Tambang Timah, di sana juga ada PT
Riau Tin Mining yang mengoperasikan kapal keruk tercanggih saat itu. Tiba
saatnya timah “ambruk”, operasi menurun, karyawan dikurangi, dan
akhirnya penambangan timah Singkep dihentikan. Akibatnya, aktifitas ekonomi
terhenti, demikian halnya berakibat di sektor-sektor penunjang lainnya.
Orang-orang pun lalu pergi meninggalkan pulau Singkep guna mencari
penghidupan lain di tempat yang lain. Tinggallah Singkep dengan “borok-borok
buminya” menjadi kota hantu.
Dari dua contoh nyata itu, saya
berangan-angan tentang adakah kemungkinan untuk “suatu saat nanti”
(diantara tanda petik) lokasi-lokasi bekas tambang yang kini ditinggalkan
itu kelak akan dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata, entah wisata alam,
museum, sejarah, dsb. Itu kalau memang secara geologis tidak lagi
prospektif. Kita punya pengetahuan, kita punya ketrampilan, kita punya
sejarah kebanggaan, dan rasanya kita juga punya komitment untuk “menyelamatkan”
masa lalu.
Yang juga tidak kalah menariknya, di sana
juga ada ceritera-ceritera legenda yang menyertainya. Sayangnya unsur-unsur
itu kini masih sepotong-sepotong ada di sana-sini. Sehingga belum bisa
direalisasikan menjadi satu kesatuan kerja yang professional. Barangkali
masih perlu waktu, tapi entah sampai kapan ..... Ya, barangkali “suatu
saat nanti” ketika sebagian besar masyarakat Indonesia sudah beranjak dari
golongan pra-sejahtera menjadi sejahtera, sehingga rekreasi sudah menjadi
kebutuhan hidup. Kalau sudah demikian halnya, tentu para pemilik modal tidak
akan segan-segan untuk berinvestasi.
Atau, perlu terobosan lain?
Menengok kembali tentang kota hantu di
pegunungan Superstition ini, salah satu nama tambang yang cukup terkenal
adalah Lost Dutchman Mine. Di balik nama itu terkandung ceritera
legenda dan misteri yang tidak pernah habis tuntas dikisahkan. Ceritera
tentang penemuan emas besar-besaran oleh seorang perantau asal Jerman
bernama Jacob Waltz di akhir abad ke-19.
Kabar penemuan emas itu lalu menyebar dan
masyarakat pun berbondong-bondong berdatangan untuk mengadu nasib mencari
emas. Namun ternyata tambangnya Pak Jacob ini tidak pernah diketemukan. Kok
aneh? Hingga kini, sudah banyak tulisan-tulisan yang mengkupas tentang
penemuan emas oleh Jacob Waltz ini, lengkap dengan bukti-bukti klipping
koran, arsip-arsip negara dan surat-surat pribadi bertulisan tangan yang
kesemuanya otentik.
Masyarakat pada masa itu percaya bahwa Jacob
Waltz memang pernah menemukan emas di pegunungan Superstition. Namun, hingga
Jacob meninggal tahun 1891 dalam usia 81 tahun, berbagai lokasi yang telah
ditelusuri berdasarkan informasi yang ada, tidak pernah mengarah kepada
diketemukannya lokasi tambangnya Jacob Waltz.
Pada masa itu memang tidak mudah untuk
membuka tambang di situ karena suku Indian masih sangat berkuasa. Hingga
abad ke-20, masih saja ada orang yang percaya bahwa tambang itu masih ada,
dan upaya pencarian masih dilakukan orang, layaknya film-film mencari harta
karun berpedoman pada peta buta. Namun sebagian orang lainnya skeptis, bahwa
tambang itu tidak pernah ada. Sampai-sampai Biro Pertambangan Amerika
mengadakan penelitian, dan dalam laporannya tahun 1982 menyimpulkan bahwa
lokasi yang dicurigai sebagai tambangnya Pak Jacob ini secara geologis tidak
mungkin ditemukan emas. Tidak ditemukan bukti adanya proses alterasi,
mineralisasi, atau indikasi lain tentang pengendapan mineral.
Akan tetapi ceritera sudah terlanjur
melegenda, dan tambangnya Pak Jacob yang “hilang” ini oleh sebagian
orang lalu gampang saja disebut sebagai “Lost Dutchman Mine”. Terlepas
dari soal benar pernah ada atau tidaknya tambang ini, ternyata ada ratusan
publikasi atau artikel yang pernah ditulis orang berkaitan dengan legenda
ini hingga sekarang. Artinya, legenda itu sendiri memang memberi fenomena
menarik untuk dikaji baik dari sisi sejarah maupun geologi, dan tentu bisa
menjadi inspirasi bagi sebuah karya sastra.
Sambil terus melanjutkan perjalanan saya
mereka-reka, kenapa kok disebut Lost Dutchman Mine : Ya ....., barangkali
dulu di sana ada orang Jawa, sehingga Pak Jacob yang asalnya dari Jerman
disebut “londo” (Belanda) Jerman, dan tambangnya pun oleh orang Jawa itu
lalu disebut sebagai tambangnya “wong londo” (orang Belanda) yang
hilang, “The Lost Dutchman Mine”.
6). MENYUSURI RUTE APACHE TRAIL
Lewat tengah hari, masih di hari Minggu, 6 Agustus 2000, setelah
kepanasan berjalan berputar-putar di kota hantu, saya melanjutkan
perjalanan ke timur menyusuri rute Apache (baca : Epaci) Trail.
Hingga sekitar 20 kilometer, jalan yang saya lalui berupa
jalan aspal mulus sehingga bisa melaju dengan kecepatan sekitar
70-80 km/jam sampai saya mencapai lokasi danau Canyon.
Rute Apache Trail ini membentang dari barat melingkar ke utara
lalu ke timur, menghubungkan kota Phoenix dan Globe sepanjang
78 mil (sekitar 125 km). Jalur jalan ini dibangun tahun 1905
sebagai sarana transportasi untuk pembangunan bendungan Roosevelt.
Disebut Apache Trail karena rute jalan ini dibangun sejajar
dengan rute kuno suku Apache yang melalui lembah-lembah Salt
River yang umumnya berupa daerah gurun. Ini adalah rute yang
sudah populer bagi wisatawan karena memberikan pemandangan alam
dan melewati kawasan-kawasan yang cukup menarik dan bervariasi
di sepanjang rutenya. Antara lain melewati daerah-daerah gurun,
pegunungan, jurang, tepian danau, peninggalan bangunan tempat
tinggal di lereng pegunungan, bekas kota tambang, dan lembah-lembah
yang tererosi.
Yang namanya gurun di daerah ini tentu tidak sama dengan kenampakan
gurun pasir yang kita kenal selama ini, meskipun sama-sama berupa
bentang alam terbuka yang nampak kering dan gersang serta miskin
pepohonan di seluas mata memandang. Ada empat danau besar di
sekitar rute ini, yaitu danau Saguaro, Canyon, Apache dan Theodore
Roosevelt.
Keempat danau tersebut sebenarnya adalah danau buatan sebagai
akibat dari dibangunnya bendungan untuk irigasi maupun pembangkit
tenaga listrik. Keempat bendungan tersebut masing-masing bernama
Stewart Mountain, Mormon Flat, Horse Mesa dan Theodore Rosevelt.
Adanya danau-danau tersebut setidak-tidaknya memberikan suasana
lingkungan yang berbeda di tengah-tengah perbukitan tandus. Tempat
itu menjadi banyak dikunjungi orang karena telah menjadi obyek
wisata air. Secara umum danau-danau tersebut berbentuk memanjang
mengikuti aliran Salt River.
Danau Saguaro dengan bendungan Stewart Mountain berada agak
menyimpang ke utara, sehingga saya tidak sempat mendekatinya.
Panjang danau ini sendiri sekitar 16 km berkelok-kelok dengan
luas permukaan airnya sekitar 518 ha. Pembangunan bendungannya
selesai pada tahun 1930 dengan tinggi sekitar 63 m dan lebar
sekitar 384 m.
Baru ketika mencapai danau Canyon dengan bendungannya yang
bernama Mormon Flat saya sempatkan untuk berhenti sejenak menikmati
pemandangan alam danau dari tempat ketinggian.
Rute jalannya memang berada di tempat lebih tinggi dari permukaan
danau. Panjang danau ini juga sekitar 16 km dengan luas permukaan
airnya hanya sekitar 380 ha. Bendungan ini selesai dibangun pada
tahun 1925 dengan tinggi sekitar 68 m dan lebar 116 m. Di sepanjang
penggal jalan ini tampak formasi-formasi batuan vulkanik yang
berkenampakan menarik. Umumnya batuan-batuan ini terdiri dari
abu vulkanis dan basalt yang terbentuk pada jaman Tersier sekitar
29 juta tahun yang lalu.
Beberapa kilometer setelah danau Canyon jalanan tidak lagi
beraspal, melainkan jalan tanah bebatuan yang tentu saja sangat
berdebu di musim panas seperti sekarang ini. Melewati penggal
jalan tanah sepanjang sekitar 35 km hingga mencapai danau Roosevelt
ini memang perlu lebih berhati-hati. Di beberapa bagian jalan
ini sangat sempit dengan profil jalan yang menanjak serta menurun
menyusuri tepat di lereng-lereng bukit terjal yang terkadang
dinding batuannya tegak 90 deradat, hingga kalau berpapasan dengan
kendaraan lain salah satu mesti berhenti.
Masih di penggal jalan yang sama kira-kira di pertengahan
rute sebelum tiba di danau Roosevelt, dari kejauhan tampak danau
Apache yang berada di elevasi lebih rendah. Danau yang bentuknya
memanjang sekitar 27 km ini mempunyai luas permukaan air sekitar
1.050 ha. Pertama kali air mulai mengisi lembah Salt River sebelum
membentuk danau Apache terjadi pada tahun 1927 setelah selesainya
pembangunan bendungan Horse Mesa yang tingginya sekitar 90 meter
dan lebarnya sekitar 200 meter.
Untuk mencapai pantai danau ini harus menuruni jalan yang
cukup curam. Di pantai danau yang dikenal dengan sebutan Apache
Lake Marina tersedia fasilitas restoran, penginapan dan penyewaan
perahu motor bagi yang ingin memancing ke tengah danau atau hanya
sekedar rekreasi.
Di sekitar danau ini bisa dijumpai hutan tanaman pinus Ponderosa.
Setelah melanjutkan perjalanan dengan hanya bisa melaju 30-40
km/jam melalui jalan tanah kering dan berdebu, kemudian saya
tiba di bagian atas danau Roosevelt. Menyusuri pinggiran danau
ini saya menyaksikan pemandangan danau yang cukup menarik dengan
latar depan adalah bendungan Roosevelt dan jembatan jalan State
Road (SR) 188 yang melintasi di pinggir danau.
Ini adalah danau terbesar di antara keempat danau di sepanjang
rute Apache Trail. Paling mudah dijangkau karena sudah tersedia
jalan yang bagus dari arah utara maupun timur, serta mempunyai
fasilitas wisata yang lengkap. Karena itu tempat ini setiap tahunnya
didatangi oleh tidak kurang dari satu juta orang wisatawan. Pertama
kali danau ini terbentuk oleh pembangunan bendungan Roosevelt
yang pekerjaan konstruksinya dimulai pada tanggal 6 September
1906 dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Theodore Roosevelt
pada tanggal 10 Maret 1911.
Pada tahun 1996 yll, bendungan ini dimodifikasi dan ditinggikan
menjadi sekitar 109 m. Akibatnya bendungan ini menjadi tampak
berstruktur lebih modern dan permukaan danau menjadi lebih luas
bahkan terluas di wilayah Arizona. Danau ini membentang arah
Tenggara Barat Laut dengan panjang sekitar 40 km dan lebar
3,2 km. Luas permukaannnya tercatat pada saat air tinggi mencapai
sekitar 7,690 ha (sekitar 77 km2). Area ini menjadi salah satu
pilihan untuk tempat rekreasi karena memang tersedia sarana yang
cocok untuk berkemah, melintas alam (hiking), berperahu, bersepeda
gunung, dan tentu saja memancing dan olah raga air lainnya.
Lomba mancing kelas dunia setiap tahun digelar di danau ini.
Banyak wisatawan juga memilih danau ini untuk berski air, berlayar,
berselancar angin, atau sekedar berenang. Seorang teman kerja
menyarankan untuk mencoba berenang di danau ini, katanya di musim
panas seperti ini berenang atau berendam di danau Roosevelt akan
terasa seperti berendam di bak kamar mandi yang hangat airnya.
Tentu saja tidak saya penuhi sarannya itu, kecuali kalau saya
tinggalnya di sekitar situ sehingga punya waktu yang longgar.
Bagi saya cukup kalau saya sempat datang, melihat dan pulang
(vini-vidi-bali).
Karena yang paling utama bagi saya adalah : sempat melihat
sisi lain dari yang tampak terlihat, yang biasanya justru tidak
dilihat oleh umumnya orang lain. Seringkali saya menemukan sesuatu
yang menarik di sana, tersirat informasi dan pelajaran yang sangat
berharga.- (Bersambung).
(7). PENINGGALAN BUDAYA INDIAN SALADO
Hari sudah sore saat saya meninggalkan danau Roosevelt, dan
perjalanan saya lanjutkan ke arah selatan menuju kota Globe untuk
selanjutnya kembali ke Tempe. Belum jauh saya berjalan, sudah
sampai di lokasi Taman Monumen Nasional Tonto, saat itu sekitar
jam 4:15 sore.
Ruang pusat pengunjung (visitor center) masih buka karena
jam kerjanya hingga jam 5:00 sore. Ternyata di tempat ini ada
peninggalan budaya suku Indian Salado, yaitu sisa bangunan rumah
kuno di sebuah rongga atau semacam gua kecil di lereng pegunungan,
di wilayah Hutan Taman Nasional Tonto. Sebagai pemegang National
Park Pass, saya bebas biaya US$5 untuk memasuki tempat ini dan
saya bisa memperoleh segala informasi yang saya perlukan. Untuk
mencapai ke lokasi peninggalan kuno di lereng gunung ini harus
ditempuh dengan berjalan kaki mendaki sejauh kira-kira 1 km.
Tidak terlalu tinggi memang, tapi cukup membuat napas ngos-ngosan.
Sebelum berjalan menuju monumen saya dipesan agar paling lambat
jam 6:00 harus sudah tiba kembali ke ruang pengunjung.
Saya perkirakan paling-paling satu jam saya sudah kembali.
Setiba saya di lokasi peninggalan kuno ini ternyata di sana masih
ada pengunjung lain, dan masih ada petugas yang dengan setia
menjawab setiap pertanyaan para pengunjung serta menerangkannya
dengan sangat lancar tentang seluk-beluknya bangunan kuno ini
dan bagaimana upaya pemeliharaannya.
Yang terakhir ini yang sebenarnya justru lebih menarik perhatian
saya, dan bukan bangunan peninggalan kunonya. Kalau soal peninggalan
budaya kuno, rasa-rasanya di Indonesia ini hampir setiap Kabupaten
memilikinya. Mulai dari yang terbesar candi Borobudur sampai
peninggalan keraton hingga ke arca-arca kecil yang berumur ratusan
tahun dari jaman Hindu, lengkap dengan ceritera legenda dan sejarahnya.
Saking banyaknya, hingga cenderung tidak menarik
lagi untuk dilihat, apalagi diampiri (dikunjungi).
Akibatnya, lebih dua puluh tahun saya ber-KTP Yogyakarta dan
sempat lima tahunan tinggal di radius 250 meter dari Taman Sari,
tapi tidak pernah tahu ada apa di sana, apa lagi paham ceritanya.
Atau, teman saya yang asli Bali, tapi ya cengengesan saja kalau
ditanya tentang apa dan bagaimana Tanah Lot. Itu kan urusannya
para turis
..
Petugas Taman Nasional yang berseragam khas baju warna khakhi,
dengan telaten menjelaskan setiap jengkal dari bangunan kuno
yang memang tidak besar itu. Karena hanya seperti menempel di
rongga yang ada di lereng pegunungan. Di beberapa tempat tertulis
: Dilarang bersandar, memanjat, menduduki atau menyentuh bangunan,
karena khawatir keutuhan bangunan kuno itu akan terganggu.
Benar-benar diperlakukan seperti bala pecah (barang
mudah pecah). Petugas ini tidak segan-segan menegur pengunjung
kalau dilihatnya ada pengunjung yang, entah karena tidak tahu
atau ingin coba-coba, melanggar aturan yang ada.
Dari studi arkeologi diketahui bahwa suku Salado dan sebagaimana
suku-suku Indian lainnya adalah hidup dengan cara bertani, yaitu
di lembah Salt River yang kini terendam danau Roosevelt.
Dari kelebihan hasil produksi pertanian mereka saat itu, kemudian
mereka saling barter dengan hasil pertanian dari suku lain. Pada
masa itu mereka sudah menjalin hubungan bisnis antar suku.
Mereka adalah suku nomaden. Sekitar tiga abad mereka tinggal
di tempat itu lalu secara berkelompok pula pindah ke tempat lain.
Meninggalkan bekas bangunan rumah yang selanjutnya tererosi,
termakan oleh angin dan teriknya cahaya matahari, hingga akhirnya
kini tinggal reruntuhannya saja yang masih bisa dikenali.
Sayangnya tidak diketemukan catatan tentang keberadaan mereka
kemudian, juga tidak ada peninggalan yang menunjukkan tentang
kehidupan bermasyarakat mereka saat itu. Hal yang paling berharga
saat ini untuk menyingkap kehidupan suku Salado adalah melalui
lukisan-lukisan di dinding, jejak asap api dari bekas tempat
mereka memasak, benda-benda tembikar atau gerabah, dan sisa reruntuhan
rumah mereka.
Sejak Monumen Nasional Tonto diresmikan oleh Presiden Theodore
Roosevelt tahun 1907 di bawah Undang-Undang Purbakala tahun 1906,
tidak satu pun benda-benda di situ boleh diganggu, apalagi diambil
sisa-sisa reruntuhannya termasuk benda-benda peninggalan lainnya.
Kalau ingat ini, eh ..... lha kok Candi Prambanan di sana malah
dipreteli kepalanya .....
Secara fisik, peninggalan rumah kuno budaya Salado ini struktur
bangunan maupun arsitekturnya kelihatan biasa-biasa saja.
Batu-batu belah disusun dengan menggunakan lempung karbonat
sebagai semen perekat. Cara perekatannya pun tidak terlalu rapi
dengan arsitektur sangat sederhana, terkesan asal ada dinding
penyekat antar ruang-ruang, lalu di bagian atasnya dipasang usuk-usuk
kayu. Meskipun harus diakui bahwa itu adalah hasil pekerjaan
yang tidak mudah kalau mengingat pembangunannya dilakukan di
rongga-rongga di lereng bukit di tempat yang tinggi. Dari sisi
ini saya masih lebih bangga kalau melihat bangunan candi di Jawa
yang menurut alkisah disusun dengan menggunakan putih telur sebagai
perekatnya (entah telurnya siapa saja, pasti banyak jumlahnya),
dengan arsitektur yang lebih bernilai artistik dan umumnya berkomposisi
simetris. Sehingga terkesan, siapapun yang membangun candi-candi
itu pasti mempunyai budaya yang telah maju pada jamannya.
Sementara budaya Salado yang ditemukan peninggalannya ini
hidup pada sekitar abad ke-13 hingga 15, jauh lebih muda dibanding
budaya Hindu yang membangun candi-candi di Jawa. Namun dari sisi
yang lain, saya menjadi sangat tidak bangga kalau ingat rasa
memiliki bangsa saya terhadap peninggalan-peninggalan kuno kok
masih memprihatinkan. Padahal kita mempunyai peninggalan kuno
yang jauh lebih indah, bernilai karya seni tinggi dan banyak
jumlahnya, dibandingkan dengan yang saya jumpai di Taman Monumen
Nasional Tonto. Tetapi kenapa mereka bisa demikian perduli dan
sungguh-sungguh menjaga, merawat dan memberikan apresiasi terhadap
monumen nasional yang sangat bernilai historis dan perlu dilestarikan.
Sementara kita, boro-boro berkesadaran untuk menjaga
dan merawatnya, lha wong kalau enggak ketahuan malah dicolongin
dan dijual.
Terlepas dari soal apakah ini ada kaitannya dengan faktor
ekonomi atau kemiskinan atau kesejahteraan sehingga tidak
urus dengan hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan
hajat hidup, yang jelas ada satu tingkat kepedulian yang hilang
dari kehidupan kita, dan rasanya itu perlu ditemukan kembali.
Kalau demikian, lalu menjadi tanggung jawab siapa untuk membangunkan
bangsa kita, yang seperti katak dalam tempurung ini?
Merasa dirinya yang paling baik, hanya gara-gara tidak pernah
(mau) tahu bahwa di luar sana ada yang lebih baik. Anehnya tapi
nyatanya, kalau ada yang memberitahukan tentang hal yang lebih
baik itu malah tersinggung dan terkadang malah ngonek-onekke
(memaki-maki). Terus terang, sebenarnya saya sendiri sebagai
bagian dari katak itu merasa miris (ngeri dan berat
hati) untuk mengatakan hal ini, tapi lha kok nyatanya memang
demikian. Masih lebih enak kalau ngomongnya sama Gus Dur, paling-paling
dijawab : begitu saja kok repot
(8). BUKIT-BUKIT MERAH DI SEDONA
Hari Sabtu, 12 Agustus 2000, sekitar jam 10:30 pagi saya meninggalkan
kota Tempe menuju ke arah utara melalui jalan bebas hambatan
Interstate 17 yang menuju kota Flagstaff, sejauh kira-kira 225
km. Akan tetapi bukan Flagstaff tujuan saya, karena bulan April
yang lalu saya sudah ke kota kecil yang berada di sebelah selatan
Grand Canyon ini. Beberapa kilometer sebelum masuk kota Flagstaff
saya berbelok ke barat lalu belok ke selatan lagi mengikuti jalan
Highway 89A menuju kota Sedona.
Highway 89A ini dapat dikatakan letaknya sejajar dengan Interstate
17, dan saya sengaja menyurusi jalan ini balik ke selatan dari
arah utara, karena dari sana saya akan melewati beberapa obyek
wisata alam pegunungan yang menarik. Daerah ini memang mempunyai
bentang alam yang sama sekali berbeda dibandingkan umumnya daerah
Arizona yang berupa dataran gurun. Daerah pegunungan di sini
suasananya lebih hijau oleh banyaknya pepohonan, suhu udara juga
lebih sejuk dibanding kota Phoenix dan kota-kota lainnya di selatan.
Namun tetap saja gugusan bukit-bukit terjal dan tandus menyelip
di antara perbukitan hijau. Justru gugusan bukit-bukit inilah
yang ternyata memberi pemandangan indah yang khas karena warna
batuannya yang kemerah-merahan dan bentuknya yang monumental
sehingga sering menjadi simbul bagi kebanggaan masyarakat kota
Sedona dan sekitarnya.
Rute Highway 89A dari Flagstaff menuju Sedona sepanjang 40
km ini dikenal sebagai salah satu jalur wisata paling indah di
Amerika. Bukit-bukit yang merupakan formasi batu kapur dan lempung
merah menghiasi sepanjang perjalanan rute ini. Bukit-bukit merah
berada di sebelah barat jalur jalan dua lajur dua arah yang berkelok-kelok
mendaki dan menuruni lereng pegunungan. Di antara jalan dan bukit-bukit
itu membentang lembah dan sungainya.
Para wisatawan yang datang menggunakan kendaraan menyusuri
rute ini memang perlu ekstra hati-hati. Ya, karena dengan sendirinya
perhatian akan terbagi antara menikmati pemandangan indah di
sepanjang rute dan waspada terhadap kendaraan lain karena jalan
yang berkelok dengan jurang di sebelahnya. Tiba di Oak Creek
Canyon, saya menyempatkan untuk berhenti sebentar.
Sekedar menghirup hawa segar pegunungan dan menikmati pemandangan
yang tidak biasanya saya jumpai di Arizona. Lembah Oak Creek
membentang sepanjang 25 km dengan lebarnya ada yang mencapai
1.5 km, dengan dinding tebingnya berwarna putih, kuning dengan
dominasi warna kemerah-merahan, dan di sela-selanya menyebar
pepohonan pinus, cypress dan juniper.
Melanjutkan ke arah selatan, saya tiba di Slide Rock State
Park. Masih di bilangan lembah Oak Creek, di dasar sungainya
dijumpai bidang luncuran air sepanjang kira-kira 20 meter yang
terbentuk oleh proses alam. Di musim panas seperti ini, tempat
ini menjadi pilihan orang-orang tua, muda maupun anak-anak untuk
bermandi dan berendam di sungai. Mereka memanfaatkan tempat ini
untuk meluncur di air sungai di dasar lembah Oak Creek. Yang
menarik dari obyek mandi sungai ini adalah air sungainya setiap
hari dimonitor kualitasnya.
Tempat ini pernah ditutup untuk umum gara-gara diketahui terkontaminasi
oleh bakteri yang tidak diketahui dari mana asalnya. Untuk itu
disediakan nomor tilpun khusus (hotline) yang bisa dihubungi
setiap saat untuk mengetahui kondisi airnya. Lebih ke selatan
lagi sebelum mencapai kota Sedona, kali ini saya menjumpai pemandangan
bukit merah yang beraneka bentuknya, di kejauhan sebelah-menyebelah
jalan. Namun cuaca siang itu tiba-tiba hujan deras, padahal saya
sedang berada di pinggir sungai di dekat jembatan, karena dari
sini tampak lebih jelas pemandangan bukit-bukit merah yang menggunung
di kejauhan sebelah timur dan barat jalan. Ada anjungan atau
lebih tepat semacam tempat terbuka yang dilengkapi pagar pengaman
di sebelah kiri dan kanan jalan di pinggiran sungai.
Tempat ini memang disediakan untuk para wisatawan agar dapat
lebih leluasa melihat pemandangan. Rupanya antara kedua anjungan
tersebut bersambungan melalui bawah jembatan. Sangat kebetulan
tentunya, di bawah jembatan itulah saya bisa berteduh sementara
menunggu hujan reda.
Setelah agak lama menunggu ternyata hujan tidak juga mereda,
akhirnya saya putuskan untuk berlari hujan-hujanan menuju ke
tempat parkir, lalu melanjutkan perjalanan. Lumayan basah. Di
antara bentuk-bentuk bukit merah di daerah ini ada yang dikenal
dengan nama Courthouse Rock, Bell Rock
dan Cathedral Rock. Dua yang terakhir ini yang paling
terkenal dan sering ditampilkan menghiasi kartu pos, kalender
atau foto-foto promosi pariwisata.
Akhirnya saya sampai di kota Sedona, sebuah kota kecil tapi
ramai oleh wisatawan. Satu hal yang paling membuat frustrasi
sejak dari Oak Creek Canyon hingga masuk ke Sedona adalah mencari
tempat parkir. Terbatasnya area terbuka di antara lajur jalan,
lembah dan bukit-bukit, membuat lokasi parkir kendaraan sangat
terbatas, termasuk di Sedona. Saat hari libur seperti hari ini,
memperoleh tempat parkir menjadi tidak mudah. Sementara parkir
di sembarang tempat di pinggir jalan tentu saja tidak diperbolehkan.
Seperti yang saya alami ketika hendak berhenti di Slide Rock,
setelah memutar balik dan memutar lagi, baru akhirnya saya dapatkan
lokasi agak lebar di pinggir jalan sehingga masih ada jarak aman
antara kendaraan dengan badan jalan. Begitulah aturannya untuk
bisa parkir di pinggir jalan, itupun di luar kota yang kondisinya
memang tidak memungkinkan untuk parkir secara normal.
Kota Sedona sendiri berada pada ketinggian 1.340 m di atas
permukaan laut dan dihuni oleh sekitar 7.700 jiwa. Menurut sejarahnya,
nama Sedona diambil dari nama seorang wanita, istri dari Theodore
Schnebly salah seorang dari sedikit keluarga yang pada tahun
1901 nekad memulai kehidupan di daerah yang waktu itu masih dianggap
sangat terpencil adoh lor adoh kidul (jauh dari utara
maupun selatan).
Mula-mula daerah itu mau diberi nama Schnebly Station,
tapi rupanya oleh kantor pos terdekat masa itu dianggap terlalu
panjang dan merepotkan penulisannya. Maka dicarikanlah nama yang
lebih pendek, lalu diambillah nama Sedona.
Pak Theodore ini belakangan diangkat menjadi kepala kantor
post pertama di daerah itu. Kini, Sedona menjadi kota yang cukup
terkenal dan menjadi salah satu kota tujuan wisata setelah Grand
Canyon. Setidak-tidaknya 4 juta wisatawan dari seluruh dunia
datang ke tempat ini setiap tahunnya (saya jadi ingat, kita pernah
mau mendatangkan 5 juta wisatawan asing ke Indonesia dalam setahun
saja susahnya setengah mati). Pemandangan alamnya yang khas dengan
tonjolan bukit-bukit berwarna kemerah-merahan di sepanjang rute
menuju Sedona dari arah utara telah mengundang para sutradara
film layar lebar maupun televisi untuk merekam filmnya di sekitar
daerah ini.
Ternyata hal ini memang bisa menjadi promosi yang efektif
bagi kota Sedona, sehingga makin dikenal oleh para wisatawan.
Dari kota Sedona, saya melanjutkan menuju ke selatan ke arah
kota Jerome dan Prescott. Belum jauh meninggalkan pusat kota
Sedona, saya berbelok ke timur. Ada jalan lingkar yang menuju
ke Red Rock State Park.
Taman Red Rock seluas 115 ha ini berupa dataran agak tinggi
yang di tengahnya berdiri tegak bukit warna kemerahan sama seperti
Oak Creek. Untuk masuk ke tempat ini saya mesti membayar US$5,
karena ternyata taman ini tidak termasuk dalam kategori National
Park, melainkan State Park yang dikelola secara
lokal oleh Pemda setempat.
Kali ini kartu pass saya tidak berlaku. Tempat ini menjadi
pusat kegiatan pendidikan dan pelestarian lingkungan, sehingga
daerah ini tertutup untuk kegiatan berkemah karena dikhawatirkan
akan merusak lingkungan flora maupun fauna yang ada. Kegiatan
alam hanya di siang hari, dan para wisatawan pun diharuskan tetap
melewati jalan setapak yang disediakan. Umumnya para wisatawan
hanya akan berada di pinggir luar dari taman ini, dimana akan
dijumpai aliran sungai yang jernih berbatu-batu dengan latar
belakang menjulang tinggi bukit berwarna kemerahan.
Sebegitu ketatnya aturan ditegakkan jika memang dianggap perlu,
demi kepentingan pelestarian ekosistem yang ada. Dan ternyata
orang-orang (wisatawan maupun penduduk yang tinggal di daerah
sekitarnya) sangat patuh dan menghargai aturan yang demikian
ini. Satu lagi perasaan gumun (heran) muncul di pikiran
saya. Ya, barangkali karena pembandingnya adalah semangat
tidak patuh dan tidak menghargai yang selama ini sering
saya jumpai di kampung saya yang jauh di katulistiwa sana.
m.bambang.se
at gajahsora.net
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol- Jakarta Barat- Indonesia
Updated 29 Aug 2000