| |
Iklan TV, Waspadalah…! Waspadalah…!
Kira-kira pertengahan bulan puasa yang lalu, saya
melihat ada bangunan bakal mall baru di Jl. Solo,
Yogyakarta, kok sudah mulai ramai. Padahal mall-nya
belum jadi. Karena penasaran, saya dan istri mencoba
masuk ke mall yang belum jadi itu. Rupanya di lantai
dasar mall sudah beroperasi supermarket baru,
“Diamond” namanya. Meskipun tampilan bangunannya masih
berantakan, pasar super ini rupanya juga tidak mau
melewatkan momentum lebaran, sehingga sudah mencuri
start di dasar mall Saphir Square yang belum jadi.
Hal yang saya sukai adalah bahwa supermarket ini
ternyata juga melayani grosiran (kalau kerja bakulan
yang dicari ya sumber-sumber kulakan yang seperti
ini). Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah
ketika saya lihat beberapa orang pada mborong Mie
Sedaap Sambal Goreng. Bahkan sampai berkarton-karton.
Mudah ditebak pasti bukan untuk dikonsumsi sendiri.
Untuk pesta juga tidak mungkin. Maka untuk apa lagi
kalau bukan untuk dijual kembali, dan pemborong itu
pasti seprofesi dengan saya…
Tapi kenapa Mie Sedaap Sambal Goreng, padahal banyak
Mie Sedaap yang lain, atau Indo Mie, Super Mi, Sarimi,
dsb. Pada saat itu saya benar-benar tidak tahu
sebabnya. Hanya karena tidak ingin ketinggalan dan
kehilangan momentum, maka saya pun latah ikut-ikutan
mborong beberapa karton Mie Sedaap Sambal Goreng.
Perilaku bodoh sebenarnya, tapi karena menurut analisa
“quick count” plus sedikit feeling tidak bakal rugi,
maka dilakukan juga. Sesial-sialnya, kalau saya jual
di “Madurejo Swalayan” ditambah keuntungan Rp 50,-
sampai Rp 100,- pasti laku, pikir saya.
Esoknya mi instan tersebut sudah terpajang di toko.
Reaksi pasar ternyata di luar dugaan. Mi tersebut
termasuk jenis mi instan yang cepat laku dan dipilih
konsumen di antara mi-mi yang ada. Ketika stok mulai
menipis, saya pun kembali ke “Diamond” supermarket
karena saya yakin harganya masih rada miring. Sialnya
di sana stok kartonan sedang kosong, sudah habis
dibongkar dan dipajang di rak. Terpaksa harus agak
repot, mengumpulkan bungkus demi bungkus mi yang sudah
dipajang, kemudian dikartonin sendiri menggunakan
karton seadanya, hingga terkumpul beberapa karton.
Dalam hati saya masih bertanya-tanya, kenapa Mie
Sedaap Sambal Goreng ini laris manis. Apa memang
rasanya lebih yahud? Saya sendiri belum pernah
mencobanya, sebab saya pikir tidak ada bedanya dengan
mi-mi lain sejenisnya. Sampai akhirnya seorang pelayan
toko saya berkata bahwa barangkali orang-orang
tertarik dengan iklannya di televisi. Tertarik dengan
iklan TV?
(Beberapa bulan terakhir ini saya memang jarang sekali
nonton TV, boro-boro memperhatikan iklannya. Cukup
baca koran seperlunya dan dengerin kilasan-kilasan
berita di radio sambil nyopir. Yang saya tangkap dari
headline-headline berita radio maupun surat kabar,
konon negeri Indonesia sudah banting stir jadi
“Indonesia Swalayan”, karena para abdi atau
pelayannya, punggowo dan bolo kurowo-nya, sibuk
melayani kebutuhan dirinya sendiri dan mengisi
keranjang belanjaannya masing-masing. Kecuali para
wakil bolo-kurowo yang keranjangnya sudah ada yang
mengisikan sepuluh juta per bulan, itupun masih ada
yang diam-diam pinjam keranjang belanja orang lain…..
Bedanya dengan “Madurejo Swalayan” hanya soal omset.
Yang satu ngurusi cepek-nopek, yang lain ngurusi cepek
jut-nopek-jut. Kalau pada suatu saat CEO-nya berotasi
tukar kursi ya tidak jadi soal, wong punya pengalaman
yang sama…….)
Ketika akhirnya saya sempat melihat iklan Mie Sedaap
Sambal Goreng di TV, saya baru benar-benar ngeh.
Woooow…., pantesan mie sambal goreng ini laris manis
tanjung kimpul….. Rupanya konsumen terpesona persis
seperti orang-orang di iklan TV-nya yang sampai
terlenakan, terbengongkan dan seakan terhipnotis
gara-gara sajian Mie Sedaap Sambal Goreng yang jelas
terasa sedaapnya……. Seperti tertulis dalam bungkusnya
: “Kriuk…!!! Kriuk.. !!!”, begitulah bunyinya.
***
Pada suatu hari ada seorang ibu yang berbelanja dan
bertanya apakah ada agar-agar Titik Puspa. Saya hanya
tersenyum, saya pikir ibu ini bercanda. Agar
komunikasi tetap berjalan dua arah, saya coba bertanya
agar-agar yang seperti apa ya? Si ibu menjelaskan :
“Itu lho, yang di TV ada Titik Puspa-nya…”.
Wah…, wah…, wah…, kali ini saya benar-benar telmi.
Saya coba mengingat-ingat, rupanya yang dimaksud ibu
itu adalah agar-agar Satelit cap Burung Sriti, So Well
! (tanda serunya gede banget). Tentu saja saya tidak
boleh mentertawakan kejadian ini. Kalaupun mau
mentertawakan, pastinya mentertawakan diri sendiri
akibat ketelmian saya. Salah sendiri… jarang nonton
TV.
Akibat jarang nonton TV juga saya sempat tertawa…,
sampai kal-pingngkal…, ketika seorang pelayan
perempuan di toko saya melaporkan bahwa ada beberapa
pengunjung toko yang menanyakan susu bantal. Lho…,
susu atau bantal?. Itu dua benda yang saya sukai.
“Bentuknya seperti apa?”, tanya saya penasaran
mengingat di toko sudah tersedia segala macam bentuk
susu, dan bantal bayi juga ada. “Ya, susu segar biasa
tapi bungkusnya seperti bantal……”, jawab pelayan toko.
Sungguh saya belum bisa membayangkan, karena memang
belum pernah melihatnya, mendengar namanya pun baru
kali itu. “Seperti yang diiklankan di TV itu lho,
Pak….”, tambah pelayan toko saya.
Akhirnya saya temukan juga produk itu. Gene….., hanya
sejenis susu segar UHT yang dikemas berbentuk segi
empat seperti bantal tapi berukuran kecil. Warna
kemasannya ada yang hijau dan ada yang biru. Kalau
dipegang terasa empuk kenyal-kenyal.
Lagi-lagi, kata kuncinya ternyata adalah iklan di
televisi. Nampaknya, kini sesekali saya mulai perlu
mencermati dan mewaspadai iklan televisi. Betapapun
iklan televisi sering menjengkelkan saya, ternyata
beberapa kata kunci produk yang umumnya dijual di
mini-market, ada di sana. Produk apa yang sedang
gencar nyisip di acara TV, bisa diramalkan produk itu
pula yang akan dicari dan ditanya konsumen, meskipun
awalnya mungkin konsumen hanya sekedar ingin tahu dan
coba-coba. Betapa dahsyatnya pengaruh iklan di
televisi. Pantesan para produsen rela membayar
milyaran rupiah untuk memperkenalkan produknya di
layar kaca. Memang terbukti hasilnya.
Hal ini terutama terjadi di komunitas masyarakat
pinggiran. Arus informasi cenderung datang searah,
oleh karena itu berebut menjejali. Kalau bagi
masyarakat perkotaan barangkali lain, karena tanpa
nonton TV pun setiap detik setiap langkah sudah
dikepung dengan iklan. Segala macam informasi
berdatangan tanpa dicari, tapi punya banyak pilihan.
***
Bagi pelaku usaha retail, sekali-sekali menthelengi
(menatap tajam) siaran televisi barangkali ada
manfaatnya. Agaknya memang sesekali perlu waspada
terhadap iklan di televisi, siapa tahu ada iming-iming
baru. Waspada, agar tidak ketinggalan momentum meraih
untung secepatnya atas produk yang sedang gencar
dipromosikan. Waspada, agar tidak kelihatan bodoh di
depan pelanggan. Dan, tidak perlu bingun (sengaja
tidak diakhiri “g”) ketika ada produk susu segar
bermerk dagang Real Good, dikemas seperti bantal,
empuk kenyal-kenyal, dihargai sedikit lebih mahal, …..
dan ternyata laku dijual….
Pintar-pintarnya ……., mengemas suatu produk yang
sebenarnya biasa-biasa saja menjadi tampil beda dan
berani memberinya julukan rada nyleneh agar mudah
diingat (pasti lebih mudah mengingat sebutan susu
bantal dari pada Real Good). Kalau soal produk susu
segar yang dikemas menjadi kotak atau botol, macamnya
sudah buuuanyak sekali di pasar, tapi yang kemasannya
empuk kenyal-kenyal seperti bantal, ya baru susu
bantal Real Good buatan Malang itulah….
Runyamnya kalau sudah begini, biasanya nanti muncul
susu bantal-susu bantal baru, cap Kasur, cap Guling,
cap Lampit.…...…… Kessihan deh, para “inovator” di
negeri ini…….
Madurejo Sleman – 7 Desember 2005
Yusuf Iskandar
Mimbar Bambang Seputro
Updated 01/05/2006
|