Hanya soal Visi

Gajahsora.Net

 

Hanya Soal Visi
 

“Kok repot amat, sih…….?”. Barangkali itulah pertanyaan menggelitik yang mungkin muncul dalam hati,
melihat saya mengelola “Madurejo Swalayan”. Bukankah tinggal mbangun toko, setelah itu kulakan lalu dijual,
dan begitu seterusnya?. Kenapa mesti repot-repot memikirkan tentang impuls buying, one stop shopping,
gethok tular, ikut kegiatan kampung, mengelus-elus barang dagangan, memikirkan pelayanan, membuat logo,
bahkan sampai ke rumusan Pareto dan analisis SWOT segala, masih ditambah lagi wawasan lain lagi tentang
binatang Six Sigma?

Jangankan Anda yang hanya membaca dongeng dari Madurejo, pegawai-pegawai saya saja memandang aneh
(meskipun tidak berani mengatakannya) terhadap cara saya mengelola “Madurejo Swalayan”. Saya memperlakukan
pegawai saya sebagai aset. Bukan sebagai likuiditas, yang cuma perlu berangkat pagi atau pulang malam, dan
setiap bulan terima gaji. Melainkan mereka saya sertakan dalam rembugan-rembugan (diskusi) tentang
bagaimana seharusnya toko dikelola, tentang rencana-rencana ke depan. Mereka juga selalu saya
update tentang seperti apa pencapaian dan kinerja toko setiap bulannya. Saya yakinkan bahwa mereka
sesungguhnya juga “pemilik” toko dalam pengertian manajerial. Tidak perduli mereka pelayan, kasir,
pengawas atau manager.

Di penggal separuh jalan dari Prambanan menuju Piyungan, Yogayakarta, sepanjang kurang lebih delapan
kilometer, “Madurejo Swalayan” adalah satu-satunya toko swalayan berkonsep modern yang saat ini berdiri
di tengah-tengahnya. Dari sisi persaingan bisnis untuk saat ini relatif belum ada ancaman yang nyata. Jalur
jalan di sisi timur Yogya itu memang relatif cukup padat di siang hari karena menjadi jalan tembus dari
arah Solo menuju kota Wonosari. Akan tetapi tingkat kepadatan penduduknya masih rendah, belum sepadat
belahan Yogya utara, barat atau selatan. Belum menjadi pilihan kawasan pemukiman. Keberadaan kompleks
perumahan masih bisa dihitung dengan jari. Oleh karena itu target pasar untuk toko swalayan modern saat ini
masih terbatas. Kalau memang demikian, kenapa mesti repot-repot membangun toko swalayan berkonsep modern?

Inilah jawabannya : Sejak saya merencanakan “Madurejo Swalayan” akan buka pertama kali sebelum bulan puasa
tiba (akhirnya baru benar-benar terlaksana tanggal 2 Oktober 2005), saya berhitung bahwa tahun 2006 akan
datang tidak lama lagi. Lalu saya membayangkan, bagaimana seandainya tiba-tiba saya bangun tidur dan
ternyata hari itu bukan tahun 2006, melainkan saya sudah berada di tahun 2011 atau 2016? Ya, lima atau
sepuluh tahun lagi…..!

Apa yang akan terjadi lima atau sepuluh tahun ke depan? Saya tidak tahu. Tapi barangkali saya harus
memperkenalkan bahwa di sebelah kiri saya “Makromini Cash & Carry”, di sebelah kanan saya “Indoapril” dan
di depan saya “Betamart”. Kalau toko-toko swalayan modern baru yang saya sebut itu dimiliki oleh investor
sekelas atau di bawah kelas “Madurejo Swalayan”, barangkali saya tidak perlu merasa khawatir. Tapi
bagaimana jika ternyata mereka adalah pemodal kuat?

Bagi investor bermodal kuat, tentu tidak sulit untuk melengkapi tokonya dengan prasarana yang lebih modern
dan sophisticated, dan menggaji professional bisnis yang jauh lebih pakar di bidang marketing dan
management ritel. Kalau situasi itu terjadi lima atau sepuluh tahun lagi, dan “Madurejo Swalayan” hanyalah
toko swalayan yang biasa-biasa saja, maka “Madurejo Swalayan” akan megap-megap seperti mau tenggelam.
Semakin ngos-ngosan sejak membuka toko di pagi hari hingga menutup toko di malam hari.

Mengejar ketertinggalan dengan merenovasi dan mengubah tokonya menjadi toko modern? Wow……, terlambat sudah….!
Waktu yang dibutuhkan untuk mengkonversi konsep toko, untuk masa transisi, untuk merubah mental pegawainya,
akan terbuang percuma dibandingkan jika dipergunakan untuk membuka toko baru di lokasi lain. Belum lagi
toko-toko baru milik pemodal kuat itu sudah semakin memantapkan “bargaining position”-nya di depan
masyarakat desa Madurejo yang sudah semakin maju.

Ilustrasi itu kedengarannya seperti kelewat berlebihan. Bisa jadi demikian. Namun saya melihat
fakta berbeda : Kawasan pinggiran Yogya yang beberapa tahun yang lalu masih sepi dan jauh dari hiruk-pikik
bisnis, ternyata sekarang sudah semakin padat. Coba lihat kawasan Yogya utara yang dulunya gung
liwang-liwung tempat jin buang anak, sekarang sudah gegap gempita dengan aktifitas bisnis yang tak pernah
terbayangkan sebelumnya (mungkin malah anak-anak jin yang dibuang dulu juga ikut-ikutan berbisnis…). Maka
bukan hil yang mustahal, akan tiba saatnya desa Madurejo dan sekitarannya menjadi kawasan padat
berikutnya yang barangkali juga menjadi incaran para investor kuat.

***

Lima tahun kedepan, bahkan sepuluh tahun ke depan, harusnya sudah dikelola sejak dari sekarang. Itu bukan
waktu yang panjang. Jangan-jangan nanti kita terkejut tahu-tahu bangun tidur sudah tanggal 1 Januari 2011
atau malah 2016. 

Itulah latar belakangnya, kenapa mesti repot-repot melakukan komputerisasi sistem bisnis, thethek-bengek
peritelan, rumusan Pareto, analisis SWOT, dan masih banyak hal-hal lain yang dimata pegawai “Madurejo
Swalayan” saat ini dipandang aneh. “Small business as unusual…..”. Sedangkan semua kerepotan itu juga belum
tentu berhasil seperti yang diimpikan. Namun aksi usaha harus tetap dilakukan semaksimal mungkin agar
reaksi hasilnya juga maksimal. Namanya juga usaha…..

Apabila semua usaha itu berjalan lancar, lalu ilustrasi saya di atas benar-benar terjadi, maka
“Madurejo Swalayan” sudah siap bertempur di kancah persaingan bisnis ritel. Setidak-tidaknya sudah siap
menerima ancaman (threats) untuk menggenjot kekuatan  (strengths). Modal pertahanan sudah punya, yaitu umur
jelas lebih tua, pengalaman lebih banyak, orientasi medan lebih baik, sistem manajemen lebih siap meskipun
skalanya berbeda, sudah menang selangkah jika harus melakukan adaptasi terhadap tuntutan modernitas, dan
yang paling penting menjadi “top of the mind” (yang pertama ada di pikiran) bagi masyarakat sekitar ketika
hendak berbelanja.

Barangkali akan berbeda ceritanya kalau “Madurejo Swalayan” dibangun sebagai kegiatan pengisi waktu,
daripada nganggur di rumah, asal ada usaha kecil-kecilan……. Akan tetapi, karena niat ingsun
pemilik dan pengelolanya sedari mula memang ingin menjadikan “Madurejo Swalayan” sebagai sebuah
korporasi yang syukur-syukur bisa menjadi sumber penghasilan pasif bagi pemiliknya, maka segala
kemungkinan bahkan yang terburuk harus diantisipasi.

Jika kemudian ada yang berkata : “Mau buka toko saja, kok repot amat, sih…….?”. Itu karena memang pemiliknya
termasuk penganut pepatah : Berangkot-angkot ke hulu berbecak-becak ke tepian, berepot-repot dahulu
berenak-enak kemudian. Tinggal bagaimana menggenjot angkot dan becaknya agar setoran lancar……. Istilah
gaulnya, ini memang hanya soal visi ke depan……


Madurejo, Sleman – 15 Januari 2006.
Yusuf Iskandar
 

Mimbar Bambang Seputro

Updated 08/07/2000