Tuyul dan Mbak Pelayan
Pada suatu ketika kasir dan pengawas "Madurejo Swalayan" terheran-heran, beberapa malam setiap laporan akhir setelah toko tutup diketahui uang di laci kasir yang disetorkan ternyata jumlahnya kurang dibanding dengan catatan yang ada di print-print-an kasir.
Adakalanya jumlah tekornya sampai dua puluh ribuan, lain waktu empat puluh ribuan. Akhirnya management sistem pelaporannya dibenahi agar memudahkan untuk kontrol. Terlanjur ada pelayan yang jadi takut untuk disuruh belajar jadi kasir. Ada juga kasir yang pasrah ikhlas kalau misalnya upah bulanannya dipotong untuk mengganti. Tentu bukan itu solusinya.
Pada ketika yang lain saya membantu ibu CFO mempersiapkan uang
untuk upah bulanan pegawai.
Sejumlah uang sudah disiapkan dan dihitung ulang sebelum dimasukkan
ke dalam amplop tertutup. Sejam kemudian amplop pun dibagikan
masing-masing. Salah seorang diantaranya tidak langsung membuka
amplopnya, melainkan langsung dikantongi. Sorenya dia pergi ke toko
lain untuk membeli sesuatu. Ketika hendak membayar, amplop pun
langsung dibuka di depan penjualnya. Begitu dihitung....., lho kok
jumlahnya kurang seratus ribu rupiah?
Sekitar seminggu menjelang lebaran haji yang lalu, masih di rumah,
saya meminta uang kepada ibu bendahara untuk membayar hewan korban.
Rupanya ibu bendahara sudah menyiapkannya malam sebelumnya.
Setelah saya terima dan saya hitung, kok jumlahnya kurang seratus
ribu? Ibu bendahara pun heran, katanya semalam sudah benar
menghitungnya. Ya sudah, digenapi saja lagi. Uangpun saya lipat lalu
saya masukkan ke saku kiri depan celana blue jeans biru mangkrak
Levi’s 501.
Haqqun-yakil saku celana yang saya pakai tidak bolong sehingga
uang di saku pasti aman tidak akan mbrojol.
Setiba di depan bapak panitia korban, uang pun langsung saya tarik
dari saku dan saya serahkan begitu saja tanpa saya hitung lagi sebab
saya ingat bahwa saku celana kiri depan tidak saya uthik-uthik sejak
dari rumah. Eh, lha kok si bapak panitia korban nyeletuk : "Nyuwun
sewu nggih pak, meniko artanipun kirang setunggal atus....." (maaf
ya pak, ini uangnya kurang seratus). Sial tenan aku. Terpaksa
merogoh dompet untuk menutupi kekurangannya. Jadi, sehari ini saja
sudah terjadi pengeluaran tak terduga sejumlah dua ratus ribu rupiah.
Apa yang sebenarnya terjadi sih? Kok punya uang sedikit saja
salah-salah terus hitungannya. Menurut teori, semakin sedikit
kuantitasnya seharusnya lebih mudah ngurusnya. Lain halnya kalau
uangnya banyak, wajar kalau menghitungnya jadi susah enggak
selesai-selesai. Ah, barangkali kasir, pengawas, pelayan, ibu
bendahara dan saya sendiri kurang teliti sehingga melakukan salah
hitung. Atau, barangkali ini teguran dari "Atasan" saya bahwa
pemberian yang kami keluarkan selama ini terlalu sedikit. Ya sudah.
Kisah uang hilang pun segera menghilang.
Kali lain, ada rumor dari kasir dan pelayan. Katanya, ada orang yang
menurut kabar angin memiliki tuyul terkadang belanja di "Madurejo
Swalayan". Dalam hati saya berkata "alhamdulillah", berarti ada
peluang untuk duplikasi pelanggan baru, bukan hanya pemilik tuyulnya
tapi juga tuyulnya sekalian. Rupanya bukan itu yang jadi pokok soal
kasir dan pelayan. Melainkan setiap kali orang yang ditengarai
memelihara tuyul berbelanja, maka biasanya uang pembayarannya
dipisahkan. Lho"
Menurut shohibul-hikayat, kata kasir, kalau uang itu disimpan
bersama uang yang lain bisa memancing sang tuyul untuk ngutil uang
yang dikumpulinya itu. Wah, kalau cerita yang beginian saya baru
tahu. Itulah sebabnya maka kasir pun mengambil inisiatif untuk
memisahkan uang pembayaran dari orang yang digosipkan memiliki tuyul.
Uang itu nantinya akan digunakan untuk pembayaran keluar, keperluan
yang lain. Terserah sajalah, yang penting tidak dengan niat : biar
uang orang lain saja yang uangnya dicuri tuyul.....
Saya sendiri herman bin hueran, bagaimana kasir dan pelayan bisa
tahu bahwa orang itu memiliki tuyul atau tidak. Rupanya, ada
orang-orang tertentu yang sudah dikenali oleh masyarakat sekitar,
memiliki peliharaan mahluk kecil gundul tidak kelihatan dan suka
mencuri uang. Itulah bayangan saya tentang mahluk yang satu ini
seperti visualisasi yang saya lihat di serial acara "bodoh" di
televisi (ngerti ngono yo ditonton....., tahu begitu ya dilihat juga.....).
Apakah beberapa peristiwa kehilangan uang itu ada hubungannya
dengan keberadaan mahluk yang disebut tuyul ini? Saya tidak tahu,
dan saya juga tidak perlu menghubung-hubungkannya. Nanti ndak jadi
vietnam.....
Bukankah vietnam itu lebih kejam dari pembunuhan? Fitnah seperti ini
memang paling enak untuk dijadikan bahan infotainment lokalan.
Cilakanya, saya sendiri juga mendengar cerita yang kurang lebih
sama dari warga Madurejo lainnya, termasuk dari sesepuh-sesepuhnya.
Jadi, percaya-enggak-percaya, cerita seperti itu sudah menyebar di
masyarakat rupanya. Sudah banyak juga toko dan warung yang ada di
Madurejo dan seputarannya mengeluh telah mengalami peristiwa misteri
kehilangan uang yang terjadinya seperti tidak masuk akal. Kebetulan
ini ada toko baru, pasti pengelolanya belum berpengalaman ihwal
yul-tuyyul, begitu barangkali strategi bisnis si empunya tuyul dan
tuyulnya.
Pendeknya, cerita tentang tuyul sering mewarnai romantika usaha
mencari rejeki. Apalagi di tempat-tempat tertentu yang memang masih
sangat kuat budaya dan tradisi gaibnya. Boleh juga kalau mau
dianggap sebagai threats (ancaman). Cuma ya jangan dimasukkan dalam
anggaran belanja bulanan toko, nanti ndak malah dimasukkan dalam
business plan-nya tuyul..... Terkadang cerita tentang tuyul mereda,
terkadang muncul lagi. Begitu siklusnya. Mungkin saja sang tuyul
juga punya zona-zona operasi tersendiri pada waktu-waktu tertentu.
Ah, embuh-lah.....!
Jadi? Wong namanya juga saya masih manusia biasa (bukan tuyul),
kalau sudah ngomong-ngomong soal mahluk culas yang tidak kelihatan
itu, saya sendiri terkadang suka gregetan bin mangkel dalam hati.
Sampai suatu ketika saya nggrundel sendiri di kantor : “Kalau bisa
saya tangkap itu tuyul, arep tak obong (maaf) silite (saya bakar
duburnya) sekalian punya pemiliknya kalau perlu.....". Grundelan ini
saya ucapkan dengan penjiwaan penuh seolah-olah menyugesti diri
sendiri sedang berbicara di depan forum para tuyul itu.
Mudah-mudahan kalau memang mahluk tuyul itu ada, mereka mendengar
grundelan saya lalu lapor sama juragannya, lalu mereka berdua lari
terbirit-birit.
Itu, khayalan saya.....
Yang jelas, sejak itu hingga saat ini saya tidak lagi mengalami atau
mendengar cerita-cerita misteri tentang uang hilang. Barangkali
administrasi kami memang sudah lebih baik dan kami pun sudah semakin
cermat dalam menghitung uang, sehingga tidak lagi perlu terjadi
kehilangan-kehilangan yang tidak perlu.
Atau, kalau mahluk tuyul itu memang ada dan suka main-main ke "Madurejo
Swalayan", kini sudah sohiban sama mbak-mbak pelayan toko.....,
malah bisa disuruh menjaga toko sekalian. Daripada tak obong tenan.....!.
Madurejo, Sleman - 16 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar