Oleh Mimbar Bambang
Seputro
KOLAM Ikan
Gurami
Kampung Caringin, Desa Ragajaya, Citayam, Bojonggede
Depok - BOGOR
Sarang di Grogol- Jakarta, Toko (bangunan) Gajahsora, (021) 5671778
Melayani pelatihan bagi anda yang ingin belajar ternak Gouramy
dengan contoh ikan dari telur, larva sampai dewasa.
Sebuah panggilan di handphone saya terlihat sederetan nomor yang "kurang familiar" sehingga saya pikir orang salah sambung. Rupa-rupanya sang penilpun mendapatkan nomor tilpun kantor dan memperkenalkan diri sebagai reporter Tabloid KONTAN, sebuah tabloid anak perusahaan Gramedia.
Sang wartawan BHN ingin mengangkat masalah Gurami dalam liputannya mendatang. Saya dipilih sebagai nara-sumber karena mudah disearch dari segala mesin pencari Internet, dan website saya memang banyak membahas teknis pemeliharaan gurami.
Agustus 2001, beberapa saat setelah kejatuhan GusDur akhirnya artikel tersebut dimuat dalam edisi 48. Diantaranya menyebutkan saya sebagai "pemain baru" dalam Gurami. Petani Gurami umumnya sudah punya kolam banyak ibarat dari barat sampai ketimur adalah kolam miliknya. Mereka juga berpengalaman digempur berjajar-jajar pulau kesulitan. Sementara saya baru seumur gurami ukuran nampel (tapak tangan). kalau mereka nampak berhasil, puncak gunung es keberhasilan tersebut adalah hasil jerih payah gempuran kesukaran dibawah puncak tersebut.
Kelemahan yang saya lihat, petani jarang mau menularkan ilmunya kepada pendatang baru dalam bentuk tulisan. Saya kuatir "Candi Borobudur Gurami" akan dibuat cerita "dibangun kolam dalam semalam dan ikannya turun dari kayangan."
Sehari penuh BHN ditemani rekannya KP mewawancarai saya. Adalah pengalaman baru dari mereka melihat telur dalam sarang yang baru diangkat dari sarang. Mereka tampak gembira, ketika sadar akan "gading retaknya"- tidak membawa kamera.
Ternyata respons masyarakat akan ikan gurami sangat luar biasa, begitu kata rekan wartawan Kontan, dan banyak para calon investor seakan tidak perduli akan dollar naik, mereka ingin rupiahnya turun "ditanem" dikolam gurami. Apalagi di http://gajahsora.net saya menulis bahwa beternak gurami dengan cara tradisional juga bisa survive, dengan menggunakan sumber daya alam yang sudah tersedia!.
Tidak lama kemudian, saya dihubungi oleh CT dari Tabloid yang sama, kali ini ajakan untuk mengisi acara talkshow di Kantor Berita Radio 68H milik komunitas UtanKayu. Tentu saja saya sambut hangat ajakan tersebut.
Jam 09.00 pagi, acara dimulai. Dalam bilik siar saya ditemani mbak Fitra sang penyiar, mas Christiantoko dari Tabloid Kontan. Walaupun ini kali pertama saya masuk studio radio saya melirik bahwa deretan kaset, piringan hitam, CD yang saya bayangkan semula akan menumpuk di ruang operator, ternyata tidak ada.
Semua lagu sudah direkam sebelumnya dalam komputer dan operator tinggal mengaktipkan WinAmp dan klik sana, klik sini. Hmmm, teknologi digital.
Baru beberapa menit kami berbicara mengenai berapa lama umur gurami bisa dikonsumsi, dan dengan berat hati saya bilang 15 bulan. Akan tetapi segmentasi penjualan ikan tidak harus menunggu sampai sedemikian lama. Telurnya saja sudah bisa dijual belikan.
Baru beberapa menit perbincangan berjalan, masuklah beberapa tilpun dari Sulawesi, Kediri dan beberapa dari Jakarta. Inilah rupanya maksud dari istilah Kantor Berita Radio, mereka merilis segmen acaranya ke 200 radio di seluruh Indonesia dengan menggunakan satelit. Rasa-rasanya waktu 30 menit berjalan begitu cepat sehingga tidak semua penilpun bisa terjawab. Kami memberikan alamat website saya, HP dan nomor fax jika ada pertanyaan lebih lanjut di luar acara resmi.
Selesai acara, kami bersalaman dan berpisah. Tetapi mas Chrisiantoko masih membisikkan bahwa akan kita lanjutkan di TV bulan depan.
Di rumah saya ditilpun seseorang, ia katanya merekam acara saya dalam kasetnya paling tidak saya bisa tahu bagaimana penampilan saya di Radio.
Mimbar Seputro
TOKO GAJAHSORA, Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol-
Jakarta Barat- Indonesia
0811806549
Updated 7 Oktober, US Strike to Taliban