Dari Mana Datangnya Pemasukan?
Setelah menghitung-hitung biaya modal dan biaya
operasi, yang kesemuanya adalah cerita tentang uang keluar, lalu
bagaimana cerita uang masuknya. Dari mana datangnya pemasukan? Ya,
dari kantong pembeli turun ke meja kasir. Untuk itu perlu
mengidentifikasi kira-kira sumber pemasukan toko itu dari mana saja.
Pemasukan utama tentu saja berasal dari hasil penjualan. Semakin
tinggi tingkat penjualan, semakin tinggi pemasukan, semakin tinggi
pula keuntungannya.
Untuk toko sekelas Madurejo Swalayan biasanya mengambil
margin keuntungan antara 7% hingga 10%.
Untuk keperluan hitung-hitungan ekonomi dalam business plan, asumsi
10% masih reasonable untuk diambil sebagai acuan. Maka untuk
menghitung perkiraan keuntungannya, tinggal kalikan saja rata-rata
margin keuntungan dengan total hasil penjualannya.
Kalau dikatakan margin keuntungan rata-ratanya 10%, tentu berarti
ada yang lebih rendah ada pula yang lebih tinggi. Sekedar ilustrasi,
barang-barang kebutuhan pokok yang pergerakannya cepat seringkali
hanya mengambil margin 3-5% bahkan terkadang kurang, agar mampu
bersaing. Sementara untuk barang-barang yang pergerakannya lambat,
bukan kebutuhan pokok tapi diperlukan, bisa 20-30% bahkan terkadang
lebih. Jadi ada semacam subsidi silang untuk akhirnya memperoleh
angka rata-rata 10%. Angka-angka ini adalah angka-angka yang sudah
umum, jadi konsumen pun sebenarnya juga sudah paham betul, sama
pahamnya dengan penjual.
Dengan demikian sangat mudah dipahami bahwa variabel utama dalam
meningkatkan keuntungan adalah pada tingkat penjualannya. Sedangkan
persentase margin keuntungannya relatif segitu-segitu juga,
pergerakan naik-turunnya tidak akan jauh-jauh. Persentase margin
keuntungan ini dapat kita jadikan sebagai barometer untuk melihat
kinerja toko kita. Jika rata-rata margin keuntungan bulanan kita
rendah, artinya secara umum toko kita termasuk toko yang murah.
Sebaliknya jika rata-rata margin keuntungannya tinggi, jangan-jangan
harga jual kita kemahalan. Memang ya tidak selamanya demikian, tapi
paling tidak hal ini dapat kita jadikan sebagai bahan untuk
melakukan introspeksi diri. Cara yang saya lakukan jika sekali waktu
muncul angka rata-rata margin yang terlalu tinggi adalah dengan
melakukan pengecekan harga secara acak untuk dievaluasi dan
dibanding-bandingkan.
Maka jelaslah bahwa konsentrasi energi kita harus diarahkan guna
menemukan strategi penjualan yang paling efektif. Tapi juga jangan
dikesampingkan untuk menggali peluang-peluang sampingan guna
mendongkrak angka penjualan. Antara lain dengan diversifikasi jenis
komoditas yang kita jual, melengkapi toko dengan barang dagangan
pelengkap disamping barang kebutuhan pokok sehari-hari. Dan masih
ada ribuan peluang lainnya yang dapat digarap.
***
Kardus-kardus dari bungkus barang-barang yang dikulak semakin hari
akan semakin menggunung. Sampai menuh-menuhin tempat dan terkadang
membuat bingung mau ditaruh dimana. Jangan diremehkan, kardus-kardus
itu ada nilai uangnya. Kardus-kardus yang masih bagus dan tebal,
suka-suka dibutuhkan orang dan bisa laku lebih mahal. Paling tidak,
kalaupun kardus-kardus itu dilipat lalu ditumpuk, total beratnya
bisa puluhan bahkan ratusan kilogram dalam satu bulan. Kalau
kemudian dijual, bunyinya bisa ratusan ribu rupiah.
Semakin meningkatnya omset penjualan tentu berarti semakin banyak
barang dagangan yang dikulak, dan semakin menumpuk pula
kardus-kardus pembungkusnya.
Pemasukan dari hasil jual kardus ini lama-lama dapat digunakan untuk
menutup biaya operasional. Lumayanlah kalau misalnya tagihan tilpun
atau listrik dapat tertutupi dari hasil jual kardus bekas. Inilah
pemasukan yang sebaiknya jangan dianggap remeh.
Jenis pemasukan lainnya berasal dari uang sewa rak.
Rak-rak atau lemari etalase tempat memajang barang dagangan pada
saatnya dapat bernilai ekonomis tinggi.
Apalagi kalau letaknya strategis, di bagian depan misalnya.
Distributor dari jenis produk tertentu pada tingkat penjualan
tertentu, biasanya tidak keberatan untuk menyewa rak yang letaknya
strategis ini, khusus untuk men-display produk-produk yang
diageninya. Kalau di toko-toko besar malahan tidak hanya rak, tetapi
juga ruang kosong di bagian depan toko dapat juga disewa untuk model
display lantai (floor bazaar).
Karenanya semakin banyak rak atau tempat yang disewa atau semakin
banyak distributor yang menyewa, tentu sangat menguntungkan bagi
pemasukan toko. Jumlah nilai sewa per bulannya kalau
dikumpul-kumpulkan bahkan bisa menutup sebagian (atau syukur-syukur
seluruh) biaya upah tenaga kerja. Tentu saja soal sewa-menyewa ini
tidak akan terjadi begitu saja. Pihak distributor pun punya tim yang
akan melakukan assessment apakah rak atau tempat di toko itu memang
bernilai ekonomis bagi mereka dan bagaimana tingkat omset penjualan
produknya, sehingga layak untuk di sewa. Kalaupun kemudian hanya
satu-dua rak saja yang disewa, akan cukup berarti banyak bagi
kesehatan cashflow toko.
Pada toko-toko tertentu yang mempunyai halaman atau teras depan
cukup luas, terkadang juga menyediakan kelebihan tempatnya itu untuk
disewakan kepada pedagang atau pengusaha kecil lainnya. Misalnya
untuk counter HP, tukang reparasi jam, tukang burger, pedagang
asesoris, bakul jamu, dsb. Langkah menyewakan kelebihan lahan ini
juga dapat dipertimbangkan untuk menjadi sumber tambahan pemasukan
bagi toko. Selain berarti membina kemitraan dengan pedagang atau
pengusaha kecil masyarakat sekitarnya.
Untuk hal yang terakhir ini memang belum menjadi pemikiran untuk
digarap lebih dalam bagi pengembangan Madurejo Swalayan. Di
satu sisi akan dapat berarti membantu toko dalam upayanya untuk
mendatangkan pengunjung. Tapi di sisi yang lain, aspek keindahan
dari tampilan tata ruang depan toko, kenyamanan pengunjung toko dan
terutama kebersihannya, harus dikaji dahulu dengan sungguh-sungguh.
Jadi meskipun akan mendatangkan pemasukan tambahan, tapi faktor
lain-lain itu mesti dipertimbangkan masak-masak.
***
Sejauh ini sumber-sumber pemasukan selain dari hasil penjualan
memang belum sepenuhnya masuk dalam business plan Madurejo
Swalayan. Kalaupun ada, maka masih bersifat sebagai bonus tambahan
pemasukan, belum menjadi target pemasukan. Pertimbangannya karena
pengelola belum berpengalaman sampai tahap mana sumber-sumber
pemasukan tambahan itu mulai feasible (layak) untuk
dikategorikan sebagai sumber pemasukan tetap. Meskipun demikian,
sumber-sumber pemasukan tambahan itu perlu diidentifikasi dan pada
saatnya nanti akan dimasukkan ke dalam pengembangan rencana usaha
tahunan.
Setidak-tidaknya, kami mulai melihat bahwa ada peluang dan potensi
cukup menjanjikan yang dapat digarap lebih mendalam guna
meningkatkan kinerja toko ke arah tercapainya positive cashflow yang
lebih tinggi lagi.
Apa yang sudah teridentifikasi itu sesungguhnya hanyalah sebagian
saja dari potensi sumber pemasukan yang ada. Untuk saat ini, biar
kami fokuskan pada ketiga sumber pemasukan itu saja dululah.., hasil
penjualan, jual kardus dan menyewakan rak.
Selebihnya dipikir nanti saja. Sebab baru ketiga hal itulah yang
paling nyata di depan mata dan paling realistis untuk segera
diwujudkan, atau lebih tepatnya, diuangkan ¦.
Madurejo, Sleman “ 5 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar