Memasang Spanduk, Siapa Takut?
Salah satu resiko bagi orang yang membuka usaha adalah didatangi
orang yang minta sumbangan. Macam-macam alasan dan tujuannya.
Menghadapi hal yang demikian, saya menetapkan policy, bahwa
prioritas diberikan kalau permintaan sumbangan itu datang dari
kalangan desa setempat. Di luar itu, sumbangan ala kadarnya saja.
Bagaimanapun juga, masyarakat setempat adalah stakeholder yang perlu
diberi perhatian lebih.
Belakangan terpikir, bagaimana agar tidak sekedar memberi sumbangan,
melainkan bisa saling take and give.
Terakhir datang permintaan sumbangan dari panitia “mujahadah” desa
Madurejo. Panitia ini akan menggelar acara mujahadah umum di Balai
Desa yang akan melibatkan segenap warga masyarakat muslim desa
Madurejo khususnya dan kecamatan Prambanan umumnya. Acara akan
dipimpin oleh seorang Kyai yang cukup disegani di sana.
Mujahadah adalah istilah yang berasal dari bahasa Arab yang
maksudnya berdoa dengan kesungguhan. Istilah majelis mujahadah dalam
bahasa populer dapat disamakan dengan istilah majelis istighosah,
dzikir bersama, doa bersama, dan yang semacam itu yang sempat “nge-trend”
dimana-mana. Sebutan istilah mujahadah ini sangat lekat di kalangan
masyarakat muslim di daerah seputaran Yogyakarta, khususnya yang
berbasis di pesantren tradisional.
Melihat latar belakang yang demikian, maka tidak ada salahnya forum
ini dimanfaatkan sebagai ajang woro-woro (pemberitahuan). Sumbangan
uang diberikan sebagai wujud tanggungjawab sosial toko “Madurejo
Swalayan”, sekaligus sebagai ibadah bagi pemiliknya. Akan tetapi
juga terselip sisi “muamalah”-nya bahwa sebagai pihak yang turut
menjadi sponsor bagi acara tersebut, maka selembar spanduk
bertuliskan logo, nama dan alamat toko akan dipasang di arena
mujahadah.
Jadi, kalau memang diperlukan harus memasang spanduk, siapa takut?
Meskipun “Madurejo Swalayan” belumlah ada apa-apanya dibandingkan
dengan mini-market atau toko swalayan sejenis yang ada di Yogya
bahkan di pinggirannya, namun siapa lagi yang akan nguri-uri (menghidup-hidupkan),
kalau bukan dirinya sendiri.
Dan, dirinya “Madurejo Swalayan” telah siap melakukan berbagai jurus
untuk membesarkan dirinya.
***
Tiba waktunya pagelaran majelis mujahadah, acara berlangsung malam
hari mulai sekitar jam 21:00 WIB hingga selesai tengah malam. Dari
kejauhan saya lihat spanduk “Madurejo Swalayan” sudah terpasang
disana. Dalam hati saya berkata, ratusan orang-orang saleh yang
datang dari berbagai penjuru kecamatan Prambanan dan sekitarnya,
tentu akan melihat dan membaca spanduk itu, saat mereka memasuki
arena majelis mujahadah.
Mereka pasti orang-orang saleh, paling tidak pada malam itu.
Sebab kalau malam itu tidak saleh tidak mungkin mau menyempatkan
hadir, bahkan berombongan dan berdesak-desakan naik truk atau
angkutan bak terbuka, berbaju koko-bersarung-berpeci dan berkain
kerudung. Semoga terkirim doa tulus bagi segenap warga masyarakat
Madurejo dan sekitarnya, dan “Madurejo Swalayan” terselip di
dalamnya.
Tidak perlu berharap yang muluk-muluk. Cukup kalau ada lima sampai
sepuluh orang saja dari ratusan yang hadir malam itu, terangsang
ingin tahu lalu menyempatkan untuk mampir ke “Madurejo Swalayan” di
lain hari. Tidak usah belanja, cukup kalau mau mampir saja. Sebab,
multiplier effect dari yang sepuluh orang itu saja sudah luar biasa
dampaknya bagi publisitas atau upaya pengenalan atas sebuah tempat
usaha baru yang lokasinya ada di sekitar tempat tinggal mereka.
Terbukti beberapa hari sesudahnya, ada seorang ibu pegawai negeri
siang-siang mampir ke toko (entah pulang dari kantor, entah mbolos
dari kantornya), yang dengan jujur bercerita bahwa beliau baru tahu
ada toko “Madurejo Swalayan” setelah membaca spanduk di acara
mujahadah. Bingo….! Semoga masih ada sembilan orang lagi yang
bernasib sama seperti ibu itu, meskipun tidak cerita. Itulah salah
satu yang diharapkan dari jurus woro-woro, iklan atau promosi. Tentu
bukan satu-satunya cara, masih banyak cara lain yang dapat ditempuh.
Gagasan-gagasan dan terobosan-terobosan baru terus digali dan
dipikirkan (seringkali sambil tidur…..).
Jika harus memasang spanduk untuk melakukan promosi, tidak selamanya
berarti bagaimana mengajak orang untuk datang ke “Madurejo Swalayan”,
melainkan juga bagaimana agar keberadaan “Madurejo Swalayan” dapat
diterima dan dirasakan sebagai bagian dari komunitas di sana. Sesuai
dengan visi dan misi toko ini : mengajak masyarakat desa Madurejo
untuk beribadah bersama-sama di bidangnya masing-masing. Sederhana
saja…..
Madurejo, Sleman - 5 Desember 2005.
Yusuf Iskandar