Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Selasa, 27-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 081

 Warsi tidak segera menjawab. Namun ia pun kemudian bangkit dan duduk disisi tukang gendang itu.

 Dengan sampurnya ia mengusap air matanya yang masih saja mengalir, menghanyutkan bedaknya yang masih tersisa. 

“Tingkah lakumu memang sulit dimengerti Warsi. Aku tahu akan hal itu. Tetapi kali ini kau benar-benar membuat aku kehilangan akal. Aku bukan saja tidak mengerti, tetapi kau telah membingungkan aku dan kawan-kawan kita yang pergi bersama kita,” desis tukang gendang itu. 

“Aku memang sudah menjadi gila,” jawab Warsi disela-sela isaknya yang belum mereda, “Kegagalanku untuk membunuh anak Sembojan itu benar-benar membuat hatiku bagaikan diguncang oleh ketidakpastian.” 

“Aku adalah orang tua Warsi,” berkata penggendang itu, “Aku sudah dapat melihat meskipun samar-samar, apa yang telah terjadi di dalam dirimu.” 

Warsi tidak menyahut. Dibiarkannya pengendangnya itu berkata selanjutnya, “Kau tidak dapat membunuh laki-laki itu karena kau adalah seorang perempuan yang pada satu saat telah terlibat dalam garis getaran batin terhadap laki-laki.” 

Warsi menutup wajahnya dengan sampurnya. Tangisnya justru menjadi semakin mengeras. Dengan sendat ia berkata, “Aku berusaha melupakannya dengan membuat satu permainan. Siang tadi aku merasa kurang puas. Aku ingin melihat laki-laki padukuhan ini saling berkelahi. Tetapi setelah hal itu terjadi, ternyata tidak memuaskan aku. Juga usahaku untuk menemukan seorang laki-laki yang dapat sekadar mengisi kekosongan hatiku pun sama sekali tidak berhasil. 

Suara Warsi hilang ditelan isaknya. Sementara itu, pengendangnya pun berkata, “Sudahlah. Kita akan segera kembali. Kita akan melaporkan semua yang telah terjadi.” 

“Apakah ayah tidak akan marah kepadaku?” bertanya Warsi sambil menangis. 

“Kau katakan saja apa yang sebenarnya terjadi di dalam hatimu. Bagaimana pun juga kau adalah seorang perempuan yang mempunyai penilaian yang sangat pribadi terhadap seorang laki-laki. Ternyata Wiradana, laki-laki Sembojan itu telah memikat hatimu sehingga kau tidak sampai hati untuk membunuhnya,” berkata tukang gendangnya. 

“Aku dihadapkan pada satu kesulitan untuk memilih. Jika aku tetap pada sikapku sekarang dengan tidak membunuhnya apakah aku akan dapat mempertanggungjawabkan hal ini kepada ayah. Padahal kaupun tahu, ayah terlalu kecewa dan marah atas kematian paman Kalamerta,” jawab Warsi. 

Tukang gendang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau masih belum mencobanya. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh ayahmu. Tetapi bagaimana pun juga, kau adalah anaknya. Menurut perhitunganku bagaimanapun juga ia mengasihi pamanmu, tetapi ia tentu lebih mengasihi anaknya sendiri.” 

“Soalnya bukan sekadar adik dan anak,” jawab Warsi. “Soalnya adalah harga diri dan kehormatan.” 

Pengendangnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, 

“Kau telah dihantui oleh perasaanmu sendiri. Aku juga orang tua yang dirumah mempunyai anak meskipun berbeda dengan kedudukanmu. Aku juga seorang yang barangkali dapat disebut buas seperti serigala. Tetapi pada saat-saat hatiku bening aku bermimpi agar anak-anakku mendapatkan kebahagiaan didalam hidupnya.” 

Warsi berusaha untuk berhenti menangis, meskipun dengan demikian ia bagaikan dicekik oleh isaknya sendiri. Namun akhirnya iapun menjadi tenang. 

“Tidurlah,” berkata pengendangnya. “Besok kita akan meninggalkan tempat ini, langsung kembali. Tanpa singgah disepanjang jalan. Kau tidak akan menari lagi agar jiwamu yang luka itu tidak bergejolak sehingga dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru.” 

(Bersambung)-m

 

Rabu, 28-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 082

 SIKAP Warsi ternyata agak berbeda. Biasanya ia tidak mau tunduk kepada siapapun juga. Ia lebih senang menuruti keinginannya sendiri. Namun saat itu, ternyata bahwa ia dapat mengerti petunjuk pengendangnya yang dipadukuhan itu diaku sebagai suaminya, tetapi di Tanah Perdikan Sembojan disebutnya sebagai ayahnya.

 Dalam pada itu, Warsi pun kemudian membaringkan dirinya masih lengkap dengan pakaiannya. Sejenak ia merenung, sementara itu, pengendangnya pun telah bangkit berdiri dan berkata, "Aku pun akan bersiap-siap." 

Ketika pengendangnya kemudian keluar dari biliknya, langkahnya tiba-tiba tertegun. Dilihatnya pemilik rumah yang gemuk itu berdiri termangu-mangu. 

"Apa yang telah terjadi?" bertanya orang gemuk itu. 

"Ada sesuatu yang mengganggunya," jawab pengendangnya. 

"Maksudmu ada orang yang mengganggu dengan halus, maksudku dengan guna-guna atau tenung?" desak pemilik rumah itu. 

"Ya. Tetapi segalanya telah teratasi," jawab tukang gendang itu sambil memegang hulu kerisnya. "Keris ini tidak dapat dikalahkan dengan cara apapun juga. Aku telah mengusirnya dan agaknya tidak dengan sengaja aku telah melukai seseorang. Mudah-mudahan orang itu tidak mati," jawab tukang gendang itu. 

"Maksudmu orang padukuhan ini? Aku akan menyelesaikannya," geram orang gemuk itu. 

"Aku tidak tahu. Tetapi mungkin orang padukuhan lain yang kami datangi di malam-malam sebelumnya," jawab tukang gendang itu. 

Orang bertubuh gemuk itu menjadi semakin ketakutan terhadap tukang gendang yang mengaku suami dari tledek yang cantik itu. 

Kecuali ia memang pernah dikalahkan, ternyata orang itu memiliki kemampuan untuk melawan tenung dengan sebuah pusaka yang menurut tukang gendang itu tidak dapat dikalahkan dengan cara apapun juga. 

Dalam pada itu, maka tukang gendang itu pun kemudian telah pergi kepada teman-temannya. Di sisa malam itu juga mereka harus berkemas. Besok pagi-pagi benar mereka akan meninggalkan padukuhan ini. 

Menjelang fajar, Warsi telah bangkit dari pembaringannya. Ia memang tidak tidur barang sekejap pun. Setelah melepas pakaian tarinya maka Warsi pun segera pergi ke pakiwan. 

Namun sesuatu telah terjadi, sama sekali diluar dugaan Warsi sendiri. Ketika ia berada di dalam pakiwan, tiba-tiba saja seorang laki-laki yang mengenakan sebuah topeng telah meloncat masuk. dengan pisau terhunus laki-laki itu mengancam, "Jangan berteriak tledek yang binal. Kau telah mengacaukan kehidupan padukuhan ini. Kau telah membuat kami saling berkelahi. Karena itu, maka kau harus mendapat hukuman. 

"Apa yang telah aku lakukan?" bertanya Warsi. "Bukankah mereka saling berkelahi atas kehendak sendiri?" 

"Jika kau tidak sengaja memancing kekeruhan, maka perkelahian itu tidak akan terjadi. Orang-orang padukuhan ini biasanya hidup rukun. Tetapi kehadiranmu telah merusakkan persaudaraan itu." 

"Jadi apa maksudmu sekarang?" bertanya Warsi. 

"Ikut aku, sejak keributan itu berakhir aku menunggu kesempatan seperti ini," jawab laki-laki itu. 

"Kemana?" bertanya Warsi. 

"Kau harus menebus kebinalanmu," jawab laki-laki itu sambil mengacungkan pisaunya ke dada Warsi. Lalu katanya, "Kau harus menebus bengkak-bengkak di pundakku dengan kecantikanmu." 

"Kau sudah gila," desis Warsi. 

"Ya, aku memang sudah gila. Tetapi kaulah yang menyebabkan aku gila. Bahkan laki-laki sepadukuhan ini menjadi gila," jawab laki-laki itu. 

(Bersambung)-m

 

Kamis, 29-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 083

 WARSI merenungi wajah laki-laki itu. Fajar masih belum menyingsing, sehingga dini masih disapu oleh keremangan sisa malam. 
"Cepat ikut aku sebelum fajar," bentak orang itu. 
Warsi berusaha untuk menahan diri. Katanya, "Tinggalkan aku sendiri. Aku akan mandi."

 "Jangan membantah. Pisauku dapat membelah dadamu dan kencantikanmu akan tinggal menjadi dongeng saja," geram laki-laki itu. 

"Jika suamiku mengetahui hal ini, kau akan dibunuhnya. Bukankah kau tahu, bahwa pemilik rumah ini yang kalian takuti itu pun dapat dikalahkannya?" berkata Warsi. 

"Karena itu, aku berbuat sebagaimana aku lakukan sekarang, agar suamimu tidak mengatahui," jawab laki-laki itu. Lalu, "Cepat. Ikuti aku ke rumah yang akan aku tunjukkan kepadamu. Rumah pamanku yang kosong." 

"Jangan bodoh," desis Warsi. "Jika aku hilang, maka suamiku dan pemilik rumah ini akan mencari aku diseluruh padukuhan. Akhirnya kita akan diketemukan juga." 

"Aku bukan sedungu kerbau anak manis," jawab laki-laki itu. "Kau memang akan diketemukan di rumah yang kosong itu. Tetapi tanpa aku. Kau sendiri terkapar sambil merintih. Dengan demikian kau sudah menebus kebinalanmu." 

"Aku akan mengatakan siapa yang membawa aku," jawab Warsi. 

"Kau tidak akan mengenal aku," jawab laki-laki itu. 

Warsi memandang wajah laki-laki itu. Wajah yang tertutup oleh topeng yang buruk. Tetapi menurut bayangan Warsi, wajah laki-laki itu sendiri tidak lebih dari topeng yang dikenakannya. 

Dalam pada itu, Warsi mulai menjadi jemu melayani laki-laki gila itu. Tetapi terasa ada juga sedikit kebanggaan dihati perempuan itu. Ia menjadi semakin yakin, bahwa ia memang cantik, sehingga beberapa orang laki-laki benar-benar telah kehilangan akal. Bahkan ada juga laki-laki yang berusaha untuk mengambilnya. 

"Laki-laki ini terlalu berani," berkata Warsi didalam hatinya. Namun tiba-tiba saja ia menjadi sangat benci kepada laki-laki itu. Justru karena Warsi membayangkan wajah laki-laki itu sebagai wajah topeng yang dikenakannya. 

"Cepat," laki-laki itu membentak. Ketika Warsi masih saja berdiam diri, maka tiba-tiba saja laki-laki itu menggapai lengan Warsi dan berusaha menariknya. 

Selangkah Warsi membiarkan dirinya terseret oleh tangan laki-laki itu. Namun kemudian langkahnya terhenti dimuka pintu pakiwan. 

"Aku dapat berteriak," desis Warsi. 

"Jika kau berteriak, kau akan mati," ancam laki-laki bertopeng itu. 

"Jangan membuat aku menjadi muak. Lepaskan," berkata Warsi kemudian. 

"Cepat. Jangan banyak bicara," bentak orang itu. 

Ketika Warsi menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya cahaya merah sudah membayang dilangit. Tiba-tiba saja ia menghentakkan kaki dan berusaha untuk berlari. 

Laki-laki itu terkejut. Dalam waktu yang sekejap itu ia benar-benar kehilangan akal, sehingga ia tidak mempunyai pilihan lain daripada mempergunakan pisaunya. Nalarnya yang tiba-tiba saja menjadi buntu telah mendorongnya untuk mengejarnya sambil mengayunkan pisaunya, justru oleh perasaan takut yang menghentak. 

Sebenarnya Warsi tidak perlu melarikan diri. Jika ia melakukannya, maka ia sekadar ingin tahu, apakah laki-laki itu benar-benar akan membunuhnya. 

Ternyata bahwa Warsi pun kemudian melihat laki-laki itu benar-benar mengayunkan pisaunya ke arah punggungnya. 

Namun yang terjadi kemudian sama sekali tidak sebagaimana dibayangkan oleh laki-laki itu. 

(Bersambung)-m

 

Jumat, 30-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 084

 KETIKA pisau itu terayun kepunggung Warsi, maka terasa tangan laki-laki itu telah diterkam oleh kekuatan yang tidak dapat diukurnya, sehingga tangannya seakan-akan menjadi remuk karenanya. Sejenak kemudian maka tangan itu sudah terpilin menyamping, sementara terdengar suara lembut ditelinganya, "Inikah yang kau kehendaki anak manis." 
Orang itu sempat berpaling. Dilihatnya Warsi berdiri disampingnya sambil memegang tangannya yang terpilin itu.

 "Baiklah," berkata Warsi. "Bawalah aku ke rumah pamanmu. Apa saja yang kau kehendaki aku tidak akan menolak." 

Kata-kata itu sangat membingungkan laki-laki yang kesakitan itu. Karena itu, maka sejenak kemudian ia berdesis. "Lepaskan. Tanganku sakit." 

"Tanganmu inilah yang akan kau pergunakan untuk benar-benar membunuhku. Kau tidak hanya mengancam dan bermain-main. Tetapi kau benar-benar akan membunuh," geram Warsi tiba-tiba.

Wajah yang cantik dan kata-kata yang lembut itu tiba-tiba saja telah berubah. Wajah itu bagaikan menjadi wajah hantu betina yang menyeramkan dan suaranya pun telah berubah pula bagaikan ringkik hantu yang sedang marah. 

Laki-laki itulah yang kemudian akan menjerit. Tetapi tiba-tiba saja suaranya patah sebelum terloncat dari sela-sela bibirnya. Tangannya yang terpilin itu terasa benar-benar patah. Namun pisau yang digenggamnya itu ternyata telah terhunjam di lambungnya sendiri. 

Laki-laki itu tidak sempat berteriak. Tubuhnya kemudian terhuyung-huyung. Warsi masih sempat menahannya dan meletakkannya perlahan-lahan. 

Sejenak Warsi memandang tubuh yang terbujur itu. Baru kemudian ia melangkah pergi dan kembali ke pakiwan. Dan sesaat kemudian yang terdengar adalah debur air yang segar di pagi hari menjelang matahari terbit. 

Tanpa kesan apapun Warsi pun telah kembali ke dalam biliknya. Pagi itu iring-iringan pengamen itu akan meninggalkan padukuhan yang telah sempat menjadi ribut. Beberapa orang laki-laki telah menjadi korban kegilaan mereka dan saling menghantam di antara mereka, sehingga beberapa orang telah menjadi luka-luka. 

Dalam pada itu, ternyata pemilik rumah itu pun masih sempat menyuruh para pelayannya bahkan istrinya untuk menyediakan minuman panas bagi rombongan tledek itu. Seperti yang dijanjikan maka ia telah menyediakan uang taruhan dan bahkan lebih dari itu. 

Demikian matahari naik dilangit, maka pengendang dari rombongan pengamen itu pun telah minta diri. Mereka akan melanjutkan pengembaraan mereka sebagaimana selalu mereka lakukan. 

"Sebenarnya kalian tidak usah mengembara," berkata orang gemuk itu, "Jika kalian mau tinggal disini, maka segala kebutuhan kalian akan aku cukupi." 

Wajah pengendang itu menjadi tegang. Dengan nada yang tiba-tiba menjadi garang itu bertanya, "Dan istriku harus menjadi selirmu?" 

"O, tidak. Tidak. Bukan maksudku begitu. Aku sudah puas dengan menari saja bersamanya," jawab orang gemuk itu. 

"Sekarang kau berkata begitu. Tetapi jika aku benar-benar tinggal disini, maka kau tentu akan mulai bertingkah. Dan kami yang merasa berhutang budi kepadamu, tidak akan dapat menentang lagi niat iblismu," geram pengendang itu. 

"Tidak. Tentu tidak," jawab orang gemuk itu dengan wajah yang pucat. 

Namun tiba-tiba saja penari yang cantik itu telah menggamit pengendangnya. Sambil tersenyum ia berkata kepada pemilik rumah itu, "Kami mohon maaf atas segala kekasaran dan kesalahan kami. Sekarang biarlah kami mohon diri. Tetapi kami, terutama aku sendiri tidak akan melupakan rumah ini dengan segala kemurahan hatimu." 

(Bersambung)-m


 

 Banner 10000004

Sabtu, 31-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 085

 “Ah,” orang gemuk itu hanya berdesah saja. Tetapi ia justru tidak dapat menjawab. 
Sejenak kemudian, maka sekelompok pangamen itu telah bersiap untuk pergi. Para pengiring sudah mempersiapkan gamelan yang akan mereka usung di atas pundak. 
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja rumah itu menjadi gempar. Seseorang telah berteriak-teriak seperti kerasukan setan.

 “Ada apa?” bertanya beberapa orang yang mendengar keributan itu. 

Beberapa orang pun kemudian berlari-larian. Mereka dengan cemas mengguncang tubuh seorang perempuan yang berteriak-teriak tidak menentu. 

“Ada apa? Ada apa?” bertanya seorang laki-laki tua. 

Sementara itu pemilik rumah yang gemuk itu pun telah mendekat pula. Dengan lantang ia berkata, “Jangan diguncang-guncang begitu. Ia justru akan semakin bingung.” 

Beberapa orang pun kemudian menyibak. Orang yang bertubuh gemuk itulah yang kemudian bertanya, “Ada apa? Kau melihat apa?” 

Perempuan itu tidak menjawab. Ia masih saja berteriak-teriak. Namun kemudian ia pun menunjuk ke satu arah, di sebelah pakiwan. 

Orang bertubuh gemuk itu pun segera meloncat. Namun langkahnya pun tertegun. Dilihatnya sesosok tubuh yang terbaring di dekat pakiwan itu. Dari lambungnya mengalir darah yang membasahi tanah yang lembab. 

“Siapa orang ini?” desis pemilik rumah itu. 

Beberapa orang telah berkerumun pula. Ketika seseorang berjongkok disamping mayat itu, orang itu pun berdesis, “Ia mengenakan topeng.” 

“Lepaskan topeng itu,” perintah pemilik rumah yang gemuk itu. 

Orang yang berjongkok itu pun kemudian berusaha untuk melepaskan topeng itu. Namun demikian topeng itu terlepas, maka orang-orang yang mengelilingi tubuh yang terbaring itu ter-kejut. Orang itu adalah orang padukuhan itu sendiri. 

“Kenapa orang ini?” desis seseorang. 

“Mungkin ia terbunuh ketika terjadi perkelahian yang kisruh itu,” sahut yang lain. 

“Tetapi kenapa ia mempergunakan topeng,” bertanya yang lain lagi. 

Ternyata teka-teki itu tidak terjawab. Berlari-lari seseorang telah memberitahukan kematian orang itu kepada keluarganya, sementara orang gemuk pemilik rumah itu pun telah menemui sekelompok orang-orang ngamen yang akan meninggalkan rumahnya. 

“Satu peristiwa yang aneh,” berkata orang yang gemuk itu. 

“Apa yang terjadi?” bertanya Warsi. 

Orang gemuk itu pun kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya. 

“Mungkinkah hal itu terjadi karena kehadiranku disini?” bertanya Warsi dengan penuh penyesalan. “Jika demikian maka kehadiranku di padukuhan ini, dan justru karena aku telah berusaha menghibur tetangga-tetangga semalam, akibatnya adalah sebuah kematian.” 

(Bersambung)-m

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

Minggu, 01-09-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 086

 “Tidak,” jawab orang gemuk itu dengan serta merta karena ia menjadi cemas, bahwa penari itu tidak akan mau datang lagi kelak, “Tentu ada sebab lain. Jika perkelahian yang telah terjadi itu memang merenggut nyawanya, ia tentu tidak sempat mempergunakan topeng. Menurut dugaanku tentu ada persoalan lain meskipun sulit untuk ditebak. Dan tentu merupakan satu perkelahian yang sukar sekali untuk menemukan pembunuhnya.”


Warsi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Dengan demikian, apakah aku akan dapat melanjutkan perjalananku?” 

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja timbul satu keinginan untuk mempergunakan kesempatan itu menahan kepergian sekelompok pengamen yang membawa perempuan yang cantik itu. Katanya, “Sebenarnya memang tidak ada keberatan apapun. Tetapi sebaiknya kalian menunggu sampai persoalan ini menjadi jelas. Kami tentu akan melaporkan kepada Ki Demang. Sementara itu, kalian tetap tinggal disini.” 

Wajah pengendang itu tiba-tiba menjadi tegang. Katanya, “Jadi kau mencurigai kami, atau salah seorang di antara kami?” 

“Tidak. Bukan maksudku,” jawab orang gemuk itu. 

“Jadi apa maksudmu, bahwa kau berusaha menahan keberangkatan kami? Kalau kau mencurigai salah seorang dari kami, katakanlah berterus terang. Siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu. Dan kenapa orang itu justru bertopeng. Tetapi jika tidak, biarlah kami melanjutkan perjalanan,” berkata pengendang itu sambil bangkit berdiri. 

Namun Warsi telah mengamitnya. Sambil tersenyum ia berkata, “Sebaiknya, beri kesempatan kami untuk berangkat, agar kesan kami terhadap padukuhan ini tetap baik. Dengan demikian, akan ada keinginan kami untuk kembali ke padukuhan ini pada saat lain.” 

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia pun berkata, “Baiklah, jika hal itu memang sudah menjadi keputusan kalian. Silakan. Kami memang tidak dapat menahanmu lebih lama lagi tinggal di padukuhan ini.” 

“Terima kasih,” jawab Warsi sambil tersenyum. Katanya kemudian, “Kami akan langsung kembali ke rumah kami. Kami tidak akan ngamen lagi disepanjang jalan pulang, karena kami telah mendapat bekal yang terlalu banyak bagi anak-anak kami di rumah.” 

“Itu tidak seberapa,” berkata orang gemuk itu, “Jika lain kali kalian datang, maka aku akan memberi kalian lebih banyak lagi.” 

Dengan demikian, maka sekelompok pengamen itu, sama sekali tidak menunggu penyelesaian tentang orang yang terbunuh di halaman rumah orang gemuk itu. Yang menjadi teka-teki adalah justru orang itu berusaha menyembunyikan wajah aslinya dengan mempergunakan topeng. Dengan demikian maka orang-orang telah menduganya bahwa orang itu datang dengan maksud yang tidak sewajarnya. 

“Tetapi siapakah yang telah membunuhnya?” pertanyaan itu pun telah mengganggu perasaan orang-orang yang menyaksikannya. 

Namun dalam pada itu, keluarga orang yang terbunuh itu telah menyatakan menerima peristiwa itu sebagai satu bencana bagi keluarga mereka. Mereka tidak akan mempersoalkannya lebih lanjut, karena mereka pun menyadari, bahwa tentu ada ketidakwajaran dalam tingkah laku orang yang terbunuh itu. Sehingga dengan demikian maka keluarga orang yang terbunuh itu menganggap bahwa persoalannya telah selesai. 

Dalam pada itu, Warsi dan iring-iringannya telah meninggalkan padukuhan itu. Warsi tidak mengenakan pakaian seorang penari, sementara para pengiringnya telah membawa gamelan tidak dalam keadaan siap untuk dimainkan. 

Sementara itu, tiba-tiba saja seorang di antara para pengiring Warsi berdesis, “Kematian yang memang aneh. Orang bertopeng itu memberikan kesan yang ganjil. Sangat ganjil.” 

(Bersambung)-m
 

 

 VirusAlert_468x60


Senin, 02-09-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 087

 WARSI memandang orang itu sejenak. Ketika ia berpaling kepada pengendangnya, maka pengendangnya itu pun sedang memandanginya dengan tajamnya. 
“Kenapa kau memandang aku begitu?” bertanya Warsi. 
“Bagaimana aku memandangmu?” orang itu ganti bertanya.

 Tiba-tiba saja Warsi menarik nafas dalam-dalam sambil menjawab dengan nada dalam, “Aku memang yang membunuhnya.” 

Pengendangnya itu hampir saja berdesis, “Aku sudah menduga. Untunglah bahwa ia sempat menahan diri, sehingga ia tidak mengucapkannya. Namun yang kurang dimengertinya, kenapa laki-laki itu mempergunakan sebuah topeng. 

Tanpa diminta, maka Warsi pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi di pakiwan, sehingga karena ia menjadi sangat muak terhadap tingkah laku laki-laki itu, maka laki-laki itu telah dibunuhnya. 

Pengendang dan para pengiring lainnya pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka mengerti, kenapa Warsi telah membunuh orang itu. Apalagi Warsi menganggap bahwa orang itu pun benar-benar berusaha membunuhnya. 

Tidak seorang pun di antara para pengiringnya yang mempertanyakannya. Pengendangnya itu pun tidak. Sementara Warsi sendirilah yang kemudian berkata, “Aku tidak dapat menyakitinya tanpa membunuhnya. Jika ia tidak mati, ia akan berceritera tentang aku.” 

Para pengiringnya masih berdiam diri. Mereka tidak tahu, tanggapan apakah yang sebaiknya diberikan tentang hal itu. 

Namun agaknya Warsi pun tidak menghiraukan tanggapan para pengiringnya. Ia tidak menanyakannya dan kemudian persoalan itu pun seolah-olah telah dilupakannya. 

Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah kemungkinan ada orang yang dapat mengenal mereka. Karena itu, maka untuk perjalanan berikutnya, mereka telah memilih malam hari. Dengan demikian, sebagaimana saat mereka berangkat, tidak seorang pun yang akan dapat mengenali mereka. Terutama orang-orang yang telah mengenal mereka dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dalam rombongan kecil itu, orang-orang yang telah mengenal mereka akan menjadi curiga. 

Demikianlah, maka setelah menempuh perjalanan yang menegangkan, maka akhirnya Warsi telah berjalan mendekati rumahnya. Di tengah malam iring-iringan kecil itu menuju ke sebuah padukuhan yang cukup besar. 

Semakin dekat mereka dengan padukuhan itu, maka jantung Warsi terasa berdentangan semakin cepat. Ia harus mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukannya kepada ayahnya. Ia harus melaporkan kegagalannya untuk membunuh Wiradana apalagi Ki Gede Sembojan. Sehingga dengan demikian, maka dendam atas kematian Kalamerta masih belum dapat ditebusnya. 

Hampir di luar sadarnya, ketika iring-iringan itu mendekati padukuhannya, maka tiba-tiba saja Warsi berhenti. Sejenak ia berpaling kepada para pengiringnya. Bahkan kemudian ia pun telah melangkah menepi duduk di atas sebuah batu padas dipinggir jalan. 

“Warsi,” desis pengendangnya, “Marilah. Kita tinggal selangkah lagi.” 

Warsi termangu-mangu. Bahkan rasa-rasanya nafasnya menjadi semakin sesak. Rasa-rasanya ingin ia berteriak keras-keras untuk melepaskan himpitan pada perasaannya. Namun untunglah bahwa nalarnya masih dapat mengekangnya. 

“Warsi,” pengendangnya itu pun kemudian duduk disebelahnya. Meskipun ia termasuk salah seorang yang buas dan garang dalam lingkungannya, tetapi pada saat ia merasa dirinya sebagai seorang yang telah berusia tua menghadapi seseorang gadis yang sedang bergejolak jiwanya. Katanya kemudian, “Marilah. Segala sesuatunya dapat kita bicarakan di rumah. Kau tidak akan dapat merenungi segalanya itu untuk mendapatkan satu penyelesaian. Kau harus menghadap ayahmu dan mengatakan semuanya dengan utuh.” 

(Bersambung)-c

 

 

 affinity468x60_7

Selasa, 03-09-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 088

 Warsi mengusap matanya yang mulai basah. Namun kemudian ia pun menengadahkan wajahnya sambil berdesis, “Marilah. Kita akan melanjutkan perjalanan.”


Warsi berusaha untuk berjalan dengan menengadahkan kepalanya. Ia ingin tetap merupakan seorang gadis yang garang dihadapan ayahnya. 

Namun demikian, Warsi tidak dapat ingkar kepada dirinya sendiri. Ketika ia memasuki regol halaman rumahnya, jantungnya terasa berdentang semakin cepat. 

Meskipun rumah itu bukan rumah seorang demang, atau seorang bebahu padukuhan yang penting, apalagi rumah seorang Kepala Perdikan, namun setiap saat rumah itu selalu dijaga oleh dua orang pengikut ayahnya yang setia, sebagaimana para pengiring yang menyertainya ngamen ke Tanah Perdikan Sembojan. 

Ketika dua orang penjaga itu melihat sekelompok orang memasuki halaman, mereka pun segera bersiaga. Tetapi demikian cahaya obor menggapai wajah Warsi, maka kedua orang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Sambil menyongsong kedatangan iring-iringan kecil itu, maka salah seorang di antara mereka bertanya, “Kapan kalian datang, he?” 

Warsi yang berada dipaling depan tidak menyahut. Ia langsung menuju ketangga pendapa dengan diikuti oleh para pengiringnya. 

Penjaga yang bertanya itu merasa tersinggung. Sambil berjalan disisi Warsi ia mengulangi pertanyaannya, “Kapan kalian datang?” 

Warsi berpaling ke arahnya. Dipandanginya penjaga itu dengan tajamnya. Dengan nada datar ia bergumam, “Kau lihat, bahwa kami baru saja datang? Jika kau bertanya sekali lagi, aku patahkan semua gigimu.” 

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Namun ia benar-benar tidak berani bertanya lagi. Ia sudah mengenal watak dan sifat Warsi. Karena itu, ia pun bahkan bergeser menjauh. Ketika Warsi kemudian naik ke pendapa, maka kedua penjaga itu justru tetap tinggal di halaman. 

“Ketuk pintu,” desis Warsi. 

Pengendangnya kemudian melangkah ke pintu dan mengetuknya perlahan-lahan. 

Sejenak kemudian, maka pintu pun terbuka. Seorang laki-laki berambut putih berdiri dipintu. 

Demikian ia melihat Warsi, maka orang itu pun tersenyum. Ditepuknya pundak anak perempuannya sambil berdesis, “Marilah Warsi. Aku tahu bahwa kau akan kembali dengan selamat dengan membawa hasil yang gemilang.” 

Warsi menundukkan kepalanya. Tetapi ayahnya kemudian membimbingnya masuk ke ruang dalam. Katanya kepada para pengiring, 

“Marilah. Masuklah. Biarlah gamelan itu kalian tinggalkan saja di pendapa.” 

Para pengiring Warsi itu pun kemudian mengikuti masuk ke ruang dalam. Mereka pun kemudian duduk disehelai tikar pandan yang terbentang di tengah-tengah ruang dalam itu. 

Ternyata suasana di ruang itu terasa tegang. Wajah-wajah pun menjadi suram dan jantung pun terasa berdegupan. 

Sekali-kali para pengiring itu berusaha untuk dapat menatap wajah Warsi. Tetapi Warsi yang mereka kenal sebagai seorang gadis yang garang itu, nampak menunduk dengan wajah yang muram. 

Orang tua berambut putih itu ternyata mampu menangkap suasana yang dihadapinya. Ia melihat wajah-wajah yang muram dan suasana yang mencengkam sekelompok orang yang baru saja datang dari Sembojan itu. 

Karena itu, maka ia tidak sabar lagi. Dengan serta merta maka ia pun kemudian bertanya, “Warsi. Apakah kau berhasil membalas dendam pamanmu? Apakah anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu sudah kau bunuh, atau justru Kepala Tanah Perdikan itu sendiri?” 

Jantung Warsi terasa bagaikan runtuh dari tangkainya. Pertanyaan itu memang sudah ditunggunya. Namun ia masih juga merasakan ketegangan yang luar biasa mencengkam dadanya. (Bersambung)-m

 

 

 spiral_laptop

Rabu, 04-09-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 089

 “WARSI,” berkata ayahnya pula. “Sikapmu dan para pengiringmu membuat aku berdebar-debar. Sebenarnya aku ingin mempersilakan kalian beristirahat. Minum minuman panas dan barangkali mandi dan membersihkan diri setelah menempuh perjalanan. Tetapi aku tidak dapat menunggu justru karena sikap kalian semuanya.”

 “Ayah,” berkata Warsi kemudian, “Aku sudah berusaha untuk melakukan perintah ayah sebaik-baiknya. Tetapi ternyata aku telah gagal.” 

“Aku baca dari ungkapan wajahmu,” berkata ayahnya. “Kenapa kau gagal?” Apakah kau tidak mendapat kesempatan untuk membunuhnya atau kau sudah mencobanya, tetapi anak itu memiliki kemampuan melampaui kemampuanmu?” 

Jantung Warsi bagaikan akan meledak. Tetapi ia sudah bertekad untuk segera mengatakannya. Apapun yang terjadi. 

Karena itu, maka ia pun kemudian bergeser setapak sambil berdesis, “Aku akan mengatakan segalanya ayah. Sebelumnya aku mohon ayah memaafkan aku.” 

Wajah ayahnya menjadi semakin berkerut. Namun ia pun memberi kesempatan kepada anaknya untuk mengatakan persoalan yang dibawanya dari Sembojan. 

Warsipun kemudian menceriterakan sejak awal hingga akhir perjalanan sampai ia memasuki kembali regol rumahnya dengan hati yang berdebar-debar. 

Wajah ayahnya menjadi merah, sementara telinganya bagaikan di sentuh api. Dengan suara bergetar ia berkata, “Anak iblis. Jadi kau korbankan harga dirimu sebagai kemenakan Kalamerta?”

“Bukan maksudku ayah,” jawab Warsi. “Tetapi aku tidak dapat melakukannya. Ada sesuatu yang telah menahan diriku, justru di dalam.” 

“Kau sudah ditempa oleh satu keadaan yang aku kira akan dapat membuatmu menjadi masak lahir dan batin,” berrkata ayahnya dengan nada yang keras. “Ternyata bahwa hatimu terlalu lemah untuk melakukan tugas-tugas yang berat.” 

“Aku mohon maaf ayah,” jawab Warsi. “Tetapi dalam hubungan kami yang singkat, pada saat-saat orang itu mengunjungi kami di banjar, terasa ada sesuatu yang menjerat perasaanku yang kemudian ternyata telah berkembang dan menghambat usahaku untuk membuhnya.” 

“Persetan,” ayahnya hampir berteriak. “Kau telah terbius oleh ujud lahiriah yang seharusnya kau abaikan. Kau telah menjadi seorang yang sangat lemah hati dan bertekuk lutut dihadapan wajah yang tampan dari seorang yang telah membunuh pamanmu.” 

“Bukan anak muda itu yang telah membunuh paman,” jawab Warsi. 

“Tidak ada bedanya,” ayahnya benar-benar berteriak. “Ayahnya atau anaknya. Tetapi hal itu tidak kau lakukan. Nyawanya yang sudah berada di telapak tanganmu, telah kau lepaskan lagi,” ayahnya berhenti sejenak, sorot matanya bagaikan membakar tubuh Warsi. Namun tiba-tiba ia bertanya dengan nada yang menekan, “Warsi, apakah kau sebenarnya hanya sekadar membual? Apakah sebenarnya kau telah dikalahkannya dan kau harus melarikan diri dari arena perkelahian?” 

Wajah Warsi pun kemudian menjadi merah. Tetapi ia masih berusaha menahan dirinya, karena ia berharap dengan ayahnya. Namun demikian ia menjawab, “Laki-laki itu sudah terluka di seluruh tubuhnya. Aku tinggal menjerat lehernya saja setelah senjatanya terlepas. Tetapi aku tidak dapat melakukannya ayah. Justru karena aku adalah seorang perempuan dan Wiradana adalah seorang laki-laki.” 

“Itulah yang gila,” geram ayahnya. Bahkan dengan suara yang bergetar ayahnya pun kemudian berkata dengan suara lantang, “Warsi. Sekarang kau harus kembali ke Sembojan. Kau harus berhasil membunuh laki-laki keparat itu bersama ayahnya. Kau tidak mempunyai pilihan lain dari perintahku ini.” 

(Bersambung)-m

 


Kamis, 05-09-2002
SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 090

 JANTUNG Warsi bagaikan bergetar oleh runtuhnya Gunung Kelud. Dipandanginya ayahnya dengan tajamnya. Dengan suara yang sendat ia menjawab, “Ayah. Sudah aku katakan. Aku tidak dapat melakukannya. Ia terlalu tampan dan hatinya terlalu lembut untuk dibunuh karena kesalahan ayahnya.”


“Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi,” kata ayahnya. 

Namun ternyata bahwa watak Warsilah yang kemudian melonjak dalam pembicaraan yang panas itu. Katanya, “Baik. Jika ayah tidak mau mendengar alasan-alasan, aku tidak akan menyebut satu alasan pun.” 

“Jika demikian lakukan perintah ini. Sekarang kau harus kembali ke Sembojan.” 

“Tidak,” jawab Warsi tegas. “Aku tidak akan ke Sembojan dan aku tidak akan membunuh Wiradana.” 

“Gila,” bentak ayahnya. “Warsi. Apakah kau sudah gila?” 

Warsi tidak menjawab. Tetapi wajahnya masih saja nampak kemerah-merahan. 

“Warsi,” suara ayahnya semakin keras. “Kau harus pergi. Kau harus membela kehormatan keluarga kita. Kematian pamanmu merupakan salah satu penghinaan yang tidak dapat dimaafkan. Kau harus berhasil menebus penghinaan ini.” 

Warsi sama sekali tidak menjawab, sementara ayahnya berteriak semakin meninggi, “Warsi. Apakah kau sudah menjadi tuli dan bisu he?” 

Warsi bergeser setapak. Namun ketika ayahnya kemudian bangkit berdiri, maka Warsi pun telah berdiri pula sambil berkata, “Aku tidak akan melakukannya. Itu saja. Ayah tidak mau mendengar alasanku. Dan aku tidak akan memberikan alasan.” 

Kemarahan ayah Warsi telah sampai ke puncak. Selangkah ia maju. Tiba-tiba saja tangannya telah terayun menampar pipi anak gadisnya. 

Warsi sama sekali tidak mengelak. Tetapi tamparan pada pipinya itu sama sekali tidak dirasakannya. Ia masih saja berdiri tegak sambil memandangi ayahnya yang bagaikan kesurupan itu. 

Dalam pada itu, pengikut Warsi yang selama menjadi pengiringnya menjadi tukang gendang itu pun memberanikan diri untuk bergeser setapak sambil berkata, “Aku minta maaf, bahwa aku tidak berani mencampuri persoalan ini.” 

Ayah Warsi yang berambut putih itu berpaling kepadanya. Namun tiba-tiba saja terdengar ia mengumpat, “Kau orang tua yang tidak tahu diri. Buat apa kau ikut bersamanya, jika kau sama sekali tidak dapat menentukan, apakah Warsi dapat melakukan tugasnya atau tidak.” 

“Warsi masih belum memberikan alasannya yang paling mendasar,” berkata tukang gendang itu. 

“Aku tahu. Ia tertarik kepada ketampanan wajah anak yang seharusnya dibunuhnya. Apalagi ia sudah kawin dan mempunyai ikatan paugeran yang kuat sebagai anak seorang Kepala Tanah Perdikan. Apa yang dapat dilakukan Warsi atasnya? Merenunginya setiap malam dan kemudian menjadi gila?” berkata ayah Warsi. 

(Bersambung)-m


 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 13/IX/2002

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant