|

Buy it at AllPosters.com
|
|

SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Jumat, 16-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 071 |
“PANTAS jika orang ini nampaknya
mempunyai pengaruh yang sangat besar di padukuhannya,” berkata orang
yang tinggi kekurus-kurusan itu di dalam hati. Namun sementara itu, ia
masih harus berloncatan menghindar dan sekali-kali menyerang.
Dalam pada itu orang yang bertubuh gemuk yang menjadi gila
melihat kecantikan Warsi itu benar-benar tidak lagi berusaha untuk
mengendalikan diri. Ketika ia sadar, bahwa lawannya memiliki kemampuan
yang dapat mengimbangi kecepatan gerakannya, maka orang itu pun telah
mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya. Ia ingin segera
menyelesaikan perkelahian yang gila itu dan membawa Warsi pulang
kerumah tanpa menghiraukan ketiga istrinya yang tinggal di rumahnya
pula.
Namun orang bertubuh gemuk itu sama sekali tidak menyangka, bahwa yang
dilawannya itu adalah salah seorang dari pengikut Kalamerta. Satu
gerombolan yang sangat ditakuti. Bukan saja saat Kalamerta masih hidup.
Tetapi sepeninggal Kalamerta gerombolan itu masih tetap garang.
Karena itu dalam perkelahian selanjutnya, orang bertubuh gemuk itu
merasa heran, bahwa ia tidak segera dapat mengakhiri pertempuran itu.
Bahkan orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu rasa-rasanya telah
bergerak semakin lama menjadi semakin cepat.
Sambil mengumpat orang bertubuh gemuk itu telah menghentakkan segenap
kemampuannya. Ia ingin dengan cepat menghancurkan tulang-tulang orang
bertubuh kurus itu.
Tetapi ternyata bahwa usahanya sama sekali tidak berrhasil. Orang
bertubuh kurus itu ternyata mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak
diduga dan mampu mengimbangi kekuatan yang diandalkannya.
“Anak setan,” geram orang bertubuh gemuk itu.
Namun tiba-tiba saja ia justru menyeringai menahan sakit ketika kaki
lawannya telah mengenai perutnya. Sehingga perutnya yang besar itu
terasa mual.
Tetapi serangan lawannya tidak terhenti. Tiba-tiba pula, tangan orang
bertubuh tinggi kurus itu telah menerkam keningnya. Namun orang yang
bertubuh gemuk itu masih sempat mengelak, sehingga tangan orang
bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu tidak menyentuhnya sama sekali.
Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba saja orang bertubuh kurus
itu telah menjatuhkan dirinya. Dengan kakinya ia menyapu lawannya
dengan sekuat tenaganya.
Satu serangan yang semula tidak terpikirkan oleh orang bertubuh gemuk
itu. Karena itu, maka serangan itu benar-benar mengejutkan sehingga ia
tidak sempat lagi untuk mengelak.
Ternyata sapuan yang keras itu telah menumbuhkan akibat yang gawat
bagi orang bertubuh gemuk itu. Demikian kerasnya sapuan orang bertubuh
tinggi itu, sehingga orang bertubuh gemuk itu pun tidak mampu lagi
bertahan. Kedua kakinya bagaikan dihempas kesamping pada pergelangan
kaki itu, sehingga tiba-tiba saja orang itu sudah terbanting jatuh
ketanah.
Tetapi orang bertubuh gemuk itu tidak menyerah. Dengan cepat ia
berguling menjauh dan kemudian meskipun tubuhnya gemuk, namun ia mampu
dengan tangkas meloncat diri.
Demikian ia tegak, maka lawannya sudah siap menyerangnya. Tetapi
karena orang bertubuh gemuk itu sudah bersiaga sepenuhnya, maka
serangan itu pun dibatalkan.
Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru.
Orang-orang yang menonton perkelahian itu diseputar arena menjadi
heran, bahwa orang bertubuh kecil kurus meskipun tinggi, mampu
menghadapi orang yang bertubuh gemuk itu. Bahkan orang itu nampaknya
umurnya sudah jauh lebih tua dari orang yang bertubuh gemuk itu.
Namun ternyata mereka melihat satu kenyataan, bahwa kedua orang yang
bertempur itu nampak seimbang.
|
Minggu, 18-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 072 |
Dalam pada itu Warsi mulai menaruh
perhatian atas pertempuran itu. Tetapi tidak lama. Sejenak kemudian ia
berdesis, “Orang gemuk itu dapat cepat diselesaikan. Aku sudah jemu.
Tidak banyak kesulitan akan dihadapi, jika perlu membunuhnya sama
sekali.”
“Kenapa dibunuh?” bertanya pengiringnya.
“Ia sudah menghina aku,” jawab Warsi.
Pengiringnya itu mengerutkan keningnya. Tetapi hampir diluar sadarnya
ia berkata, “Ia hanya menghina. Sedangkan Wiradana tidak juga kau
bunuh meskipun ayahnya telah membunuh pamanmu.”
Orang itu hampir saja menjerit kesakitan. Tidak ada orang yang melihat
ketika Warsi menginjak ibu jari pengiringnya itu.
“Warsi,” wajah orang itu menjadi pucat. Sementara keringat telah
mengalir dari lubang-lubang dikulitnya karena menahan sakit. Rasa-rasanya
ibu jarinya itu telah diremukkan oleh injakan kaki Warsi. Terasa
tekanan kaki Warsi itu bagaikan ditindih segumpal tanah.
“Katakan sekali lagi,” desis Warsi.
“Tidak. Aku tidak sengaja mengatakan,” minta orang itu.
“Lepaskan. Nanti kakiku kau remukkan dan aku tidak dapat mengikutimu
melanjutkan perjalanan kembali.”
“Lain kali mulutmu jangan lancang he? Untung disini banyak orang
sehingga aku hanya menginjak kakimu. Jika disini tidak ada orang, maka
aku sudah mengoyak mulutmu yang tajam itu,” geram Warsi.
“Jangan. Aku minta maaf. Kalimat-kalimat itu rasa-rasanya meluncur
begitu saja tidak terkendali,” jawab orang itu.
Perlahan-lahan Warsi melepaskan jari pengiringnya yang hampir menangis
meskipun ia sudah bukan kanak-kanak lagi.
Kawan-kawan semula tidak tahu apa yang telah terjadi. Mereka hanya
melihat salah seorang di antara mereka menjadi kesakitan. Namun
akhirnya mereka pun tahu, bahwa Warsi telah menginjak ibu jari kaki
orang itu.
Sambil menyeringai orang itu meraba ibu jari kakinya. Sambil mengelus
jari kakinya itu ia berkata di dalam hatinya, “Betapa cantiknya
Warsi, aku tidak akan mampu menjadi suaminya. Setiap hari tubuhku akan
disakitinya.”
Dalam pada itu, maka pertempuran antara orang yang gemuk dan
pengendang yang mengaku suami Warsi itu masih berlangsung. Namun
keseimbangannya mulai nampak terguncang. Pengendang itu ternyata mampu
bergerak terlalu cepat bagi lawannya yang gemuk, sehingga
serangan-serangan yang tangkas mampu menembus pertahanan lawannya.
Semakin lama maka serangan tukang gendang itu menjadi semakin banyak
yang berhasil. Beberapa kali kakinya telah mengenai lambung dan
beberapa kali tangannya berhasil mengenai dada dan bahkan kening.
Karena itu, maka rasa-rasanya perut orang bertubuh gemuk itu menjadi
semakin mual dan kepalanya menjadi pening.
Demikianlah perlahan-lahan pengendang itu pun berhasil mendesak
lawannya. Ketika kakinya menyerang mendatar, maka orang bertubuh gemuk
itu masih berusaha menghindar. Namun kaki itu pun segera berputar,
bertumpu pada kaki yang lain. Dengan cepat maka serangannya berganti.
Kaki yang lainlah kemudian terangkat demikian kaki yang pertama
menyentuh tanah.
Orang bertubuh gemuk itu terkejut. Serangan beruntun yang begitu cepat
tidak sempat dihindarinya, sehingga karena itu, maka gerakan kaki itu
pun telah berhasil menghantam tubuhnya. Meskipun ia berusaha
melindungi lambungnya dengan sikutnya, namun serangan itu datang
demikian kerasnya sehingga orang bertubuh gemuk itu telah terlempar
jatuh.
Dengan serta merta ia masih mencoba untuk berdiri. Tetapi ia tidak
mempunyai kesempatan. Lawannya yang tinggi kekurus-kurusan itu telah
memburunya dan dengan sekuat tenaganya, maka orang itu telah menyerang
dengan cepatnya, langsung mengarah ke dada dengan kepalan tangannya.
(Bersambung)-o
|
Senin, 19-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 073 |
Orang bertubuh gemuk itu baru
berusaha untuk tegak itu tidak sempat mengelak sama sekali. Terasa
dadanya bagaikan tertimpa sebongkah batu padas. Nafasnya menjadi sesak
dan rasa-rasanya darahnya pun telah terhenti mengalir.
Orang bertubuh gemuk itu tidak berhasil bertahan untuk tetap
tegak. Ia pun telah terdorong beberapa langkah surut. Namun kemudian
tubuh yang gemuk itu pun telah terguling jatuh ditanah.
Tukang gendang itu meloncat mundur. Tetapi ketika ia melihat bahwa
orang bertubuh gemuk itu tidak bangkit lagi, maka ia pun menarik nafas
dalam-dalam. Dengan kaki renggang tukang gendang itu berdiri disisi
tubuh yang terbaring diam itu.
"Bangun," geram tukang gendang itu.
Orang bertubuh gemuk itu berdesis menahan sakit ditubuhnya. Dadanya
bagaikan pecah dan nafasnya serasa tersumbat.
"Cepat bangun. Kita masih mempunyai waktu. Jika kau memang
menghendaki kita akan dapat berperang tanding sampai salah seorang di
antara kita mati," tantang tukang gendang itu.
"Tidak, jangan," desis orang bertubuh gemuk itu dengan nafas
terengah-engah, "Aku mengaku kalah. Aku minta ampun."
"Kita tidak berkelahi untuk saling mengampuni. Kita sedang
bertaruh. Jika kau mengaku kalah, maka kau harus membayar taruhan itu.
Jika aku yang kalah, aku pun tidak akan ingkar," berkata tukang
gendang itu.
"Ya. Ya. Aku akan membayar taruhan itu. Aku akan membayar berapa
saja kau minta," jawab orang bertubuh gemuk itu.
Orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu pun kemudian berkata sambil
melangkah surut, "Bangkitlah. Kita akan pergi ke rumahmu. Istriku
akan ikut pula. Tetapi tidak untuk memenuhi keinginanmu, tetapi untuk
mengambil uang taruhan itu."
"Baik, baik. Ambillah ke rumahku," jawab orang bertubuh
gemuk itu.
Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menahan nafas dalam-dalam.
Seorang yang bertubuh pendek berdesis kepada kawannya yang berdiri
disebelahnya, "Orang itu sekali-sekali memang harus mendapat
peringatan."
"Kenapa orang itu tidak dibunuhnya saja," geram yang lain.
"Ah, rombongan pengamen itu tentu tidak akan membuat keributan
yang menyeretnya dalam persoalan yang lebih gawat. Apalagi dengan cara
itu, ia telah memenangkan taruhan yang mungkin akan sangat berharga
bagi mereka."
Kawannya mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab.
Demikianlah, maka orang bertubuh gemuk itu pun dengan susah payah
telah berusaha untuk bangkit. Seluruh tubuhnya terasa menjadi memar
dan pedih. Wajahnya nampak bengap dan bernoda biru di beberapa tempat.
Dengan susah payah pula ia pun kemudian berdiri. Sambil menarik nafas
dalam-dalam dicobanya menggerakkan tangannya. Namun ia pun berdesah
kesakitan.
"Kau tidak akan dapat ingkar. Aku mempunyai banyak saksi dalam
taruhan ini," berkata tukang gendang itu.
"Aku tidak akan ingkar. Aku akan membayar sepuluh kali lipat dari
uang yang sudah aku berikan kepada istrimu itu," orang itu
berusaha memperbaiki pernafasannya yang tersendat. Namun tiba-tiba ia
berkata, "Bagaimana jika aku membayar duapuluh kali lipat?"
"Kenapa duapuluh kali lipat?" bertanya tukang gendang itu.
"Dengan membayar duapuluh kali lipat, maka kau menganggap akulah
yang menang," jawab orang bertubuh gemuk itu.
"Apa artinya?" bertanya lawannya yang tinggi.
"Aku bawa istrimu pulang," jawab orang gemuk itu.
"Gila," tiba-tiba saja orang yang bertubuh tinggi
kekurus-kurusan itu telah menangkap rambut orang bertubuh gemuk itu
setelah ikat kepalanya terlempar, "Katakan sekali lagi."
(Bersambung)-o
|

Selasa, 20-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 074 |
“Tidak. Ampun. Jangan sakiti aku
lagi,” minta orang yang gemuk itu.
Orang yang berada di sekitar arena itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dalam keadaan yang parah itu ia masih mengigau tentang perempuan
cantik.
Para pengiring Warsi pun memandang kearahnya. Nampak keningnya
berkerut. Tetapi Warsi tidak berbuat apa-apa.
Bahkan Warsi pun kemudian berdiri dan berjalan mendekati orang yang
gemuk itu. Dengan senyum dibibirnya ia berkata, “Maaf Ki Sanak.
Suamiku memang bertabiat seperti itu. Ia terlalu garang dan sama
sekali tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk membawa
istrinya.”
“Bukankah itu wajar,” bentak pengendangnya.
Warsi mengerutkan keningnya. Dipandanginya pengendangnya itu dengan
sorot mata yang menyala. Namun hanya sekejap. Tetapi yang sekejap itu
telah membuat pengendangnya itu memalingkan pandangan matanya.
Namun ia pun segera mengalihkan perhatian orang-orang yang ada
disekitarnya kepada yang gemuk itu, “Mari. Kita akan pergi ke
rumahmu sekarang.”
Orang gemuk itu mengangguk-angguk. Kemudian dengan tubuh yang bagaikan
remuk ia berjalan diikuti oleh rombongan pengamen menyusuri jalan
padukuhan. Sementara itu pengendang itu masih juga berkata kepada
orang-orang yang berkerumun, “Maaf Ki Sanak. Kali ini kami telah
menghidangkan tontonan yang lain.”
Adalah diluar dugaan, bahwa kata-kata itu mendapat sambutan serta
merta. Beberapa orang telah bersorak karenanya.
Namun ketika orang yang bertubuh gemuk itu berhenti dan berpaling ke
arah orang-orang yang bersorak itu, maka tiba-tiba pula suara tertawa
itu pun terhenti. Orang-orang itu telah terdiam sambil menyembunyikan
wajah mereka.
“He, kenapa kalian diam?” bertanya orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu.
Tidak ada jawaban.
Orang kurus itu bertanya pula, “Agaknya kalian menjadi ketakutan
jika orang yang gemuk ini tahu, siapa saja di antara kalian yang
mentertawakannya. Tetapi jangan takut. Pada saat-saat lain aku tentu
akan lewat di padukuhan ini. Jika aku mendengar bahwa orang gemuk ini
bertindak sewenang-wenang atas kalian, maka aku tidak akan segan
membunuhnya.”
Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi tidak ada di antara mereka
yang menjawab.
Demikianlah sejenak kemudian maka orang-orang itu pun telah
meninggalkan sudut padukuhan mereka. Orang yang bertubuh gemuk itu
diikuti oleh sebuah iring-iringan kembali untuk mengambil uang yang
dipertaruhkan dalam perkelahian itu.
Sebagaimana dikatakan, Warsi sendiri menganggap peristiwa itu sebagai
pengisi kejemuannya setelah ia berada di Tanah Perdikan Sembojan
beberapa hari. Dengan demikian ia sudah berhasil mengurangi ketegangan
yang terjadi didalam jiwanya atas peristiwa yang dialaminya di Tanah
Perdikan Sembojan itu. Dengan melihat orang lain kesakitan dan
menderita, maka rasa-rasanya ia telah mendapat kawan, sehingga bukan
hanya dirinya sendiri sajalah yang mengalami kepahitan perasaan.
Meskipun yang terasa sakit pada orang itu tubuhnya, bukan hatinya
seperti yang dialami oleh Warsi.
Apalagi ternyata dengan tingkah laku orang yang gemuk itu, rombongan
itu pun telah mendapat bekal yang cukup banyak. Agaknya orang gemuk
itu merasa puas, meskipun ia tidak berhasil membawa Warsi pulang
sebagaimana taruhan, tetapi Warsi benar-benar telah mau datang ke
rumahnya. Bahkan malam itu Warsi dan rombongannya telah bermalam di
rumahnya pula atas kehendak rombongan itu sendiri.
Warsi memang sering melakukan sesuatu yang sulit dimengerti. Menjelang
senja, tiba-tiba saja ia berkata kepada pengendangnya, “Aku akan
menari di halaman rumah orang gila ini.”
(Bersambung)-m
|

Rabu, 21-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 075 |
"UNTUK apa?" bertanya
pengendang.
"Aku ingin menari. Itu saja," jawab Warsi.
Pengendangnya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian
mempersilakan orang-orangnya untuk kebar sore itu, sementara Warsi pun
telah berhias pula.
Ketika hal itu dikatakan oleh tukang gendang itu kepada orang yang
bertubuh gemuk itu, maka kegembiraan yang tidak terkira terbersit di
wajah orang gemuk itu. Dengan serta merta maka ia pun telah menyiapkan
halaman rumahnya yang akan dipergunakan oleh Warsi untuk
mempertontonkan tarian-tariannya.
Sebenarnyalah bahwa ketika matahari telah tenggelam, Warsi dan para
pengiringnya telah siap di halaman. Beberapa buah obor telah dipasang.
Bukan saja untuk menerangi arena tempat Warsi akan menari, tetapi
diregol dan disudut-sudut halaman, telah dipasang pula obor.
"Aku akan menari sampai aku menjadi jemu," berkata Warsi.
"Bukankah kita hanya akan sekadar memperlihatkan diri kepada
orang-orang disekitar rumah orang gila ini?" bertanya tukang
gendangnya.
"Aku akan menari sampai jemu. Mungkin hanya sebentar aku sudah
menjadi jemu. Tetapi mungkin semalam suntuk," jawab Warsi.
Tukang gendangnya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Segalanya
memang tergantung sekali kepada Warsi. Apapun yang akan dilakukan
tidak seorang pun yang akan dapat mencegahnya meskipun para
pengiringnya itu berhak juga untuk memberinya peringatan. Namun segala
keputusan ada ditangan perempuan yang garang itu.
Ternyata malam itu Warsi benar-benar seperti orang yang sedang mabuk.
Ia menari dengan penuh gairah meskipun segalanya itu dilakukan atas
kehendaknya sendiri. Ia menari dengan iringan gending-gending yang
panas. Bahkan ia pun kemudian mulai dengan membuka kesempatan kepada
orang-orang padukuhan itu untuk ngibing. Mula-mula Warsi menyerahkan
sampur kepada orang gemuk yang mempunyai rumah itu untuk ikut menari
bersamanya.
Betapa gembiranya orang itu. Rasa-rasanya ia mau menyerahkan semua
kekayaan yang disimpan seluruhnya kepada Warsi. Apalagi Warsi
benar-benar menari dengan hangatnya.
Rasa-rasanya orang gemuk itu tidak mau berhenti. Betapapun orang lain
ingin menggantikannya, tetapi tidak seorang pun yang berani mengambil
sampur itu.
Tetapi ketika orang itu sudah terlalu lama menari, maka Warsi pun
berbisik, tidak dengan kata-kata kasar seperti biasanya, tetapi dengan
lembut, "Ki Sanak. Beristirahatlah. Aku akan menari semalam
suntuk. Berilah kesempatan kepada orang lain."
Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia menjawab
sambil menari, "Aku pun akan menari semalam suntuk. Apapun yang
kau minta, aku akan memenuhinya."
"Jangan," jawab Warsi. "Beri kesempatan kepada
tentangga-tetangga. Bukankah mereka telah datang ke rumahmu untuk
meramaikan malam ini bersamamu."
(Bersambung)-m
|
Kamis, 22-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 076 |
“AKU tidak peduli dengan mereka,”
jawab orang gemuk itu. “Kita akan menari. Bukan hanya semalam.
Tetapi sampai kapanpun kau kehendaki. Rasa-rasanya aku sudah menjadi
gila.”
Warsi justru tersenyum. Keduanya masih menari dengan iringan
gending yang panas. Sementara itu halaman orang gemuk itu sudah penuh
dengan penonton. Beberapa orang laki-laki yang berdarah panas hampir
tidak sabar menunggu kesempatan untuk menari bersama tledek yang
sangat cantik itu. Tetapi tidak seorang pun yang berani menghentikan
pemilik rumah yang di padukuhan itu sangat ditakuti.
Dalam pada itu, Warsi sekali lagi berdesis, “Sudahlah. Kau masih
akan banyak mendapat kesempatan. Jika tidak malam ini, maka besok aku
akan menari untukmu meskipun tidak ada orang lain yang menonton dan
tidak seorang pun yang mengiringi tarian kita.”
“O, gila. Gila.” orang itu hampir berteriak. Bahkan dengan serta
merta ia meloncat menerkam Warsi. Tetapi rasa-rasanya warsi itu lenyap
menjadi asap, sehingga ia pun terhuyung-huyung beberapa langkah.
Hampir saja ia jatuh terjerembab. Untunglah bahwa ketangkasannya masih
mampu menolongnya, sehingga ia tidak terjatuh karenanya.
Ketika ia kemudian berpaling ia melihat Warsi masih menari sambil
tersenyum. Sementara itu beberapa orang serentak telah
mentertawakannya meskipun mereka tidak tahu pasti apa yang terjadi dan
mereka pun tidak mendengar apa yang dikatakan Warsi kepada orang gemuk
itu.
Dengan darah yang menjadi semakin mendidih orang gemuk itu menari
semakin bergairah. Bahkan ia tidak lagi mampu mempertahankan jarak
dengan Warsi. Kadang-kadang orang itu dengan sengaja berusaha untuk
menerkamnya dengan kasar. Tetapi penari yang sangat cantik itu
bagaikan bayang-bayang saja yang tidak dapat disentuhnya.
Dalam pada itu, Warsi sudah mulai menjadi jenuh. Karena itu maka
katanya, “Sudahlah Ki Sanak. Berhentilah. Aku ingin berganti
pasangan. Jika kau tidak mau berhenti, maka akulah yang akan berhenti
sampai disini.”
“Jangan,” minta orang gemuk itu.
“Jika demikian, tolong, beri kesempatan orang lain untuk menikmati
kegembiraan malam ini,” berkata Warsi sambil tersenyum cerah.
“O. Gila. Aku sungguh-sungguh menjadi gila. Tetapi kau berjanji
untuk memberi kesempatan aku lagi nanti,” berkata orang gemuk itu.
“Tentu. Malam masih panjang,” jawab Warsi.
“Tetapi apakah kau dapat menari semalam suntuk?” bertanya orang
gemuk itu.
“Tentu saja, aku memerlukan waktu untuk beristirahat barang sejenak.
Tetapi malam ini aku akan menari semalam suntuk,” berkata Warsi.
Orang gemuk itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian telah
menyerahkan sampurnya kembali kepada Warsi.
Dalam pada itu, lebih dari selusin laki-laki telah maju bersama-sama.
Saling mendorong untuk berebut kesempatan mendapatkan sampur itu.
Namun untuk beberapa saat Warsi masih menari seorang diri sambil
memperhatikan laki-laki yang berdesakan di baris paling depan. Mereka
adalah laki-laki yang merasa diri mereka gegedug setelah pemilik rumah
itu. Mereka merasa bahwa mereka tidak takut kepada siapapun juga,
kecuali kepada orang gemuk yang baru saja menyelesaikan tari-tariannya
yang kasar.
Laki-laki yang sudah menunggu itu menjadi tidak sabar. Mereka
berteriak-teriak sambil mengacungkan tangan mereka untuk menerima
sampur yang masih ada pada Warsi.
Namun dalam pada itu, Warsi telah tertarik oleh seorang laki-laki muda
yang tampan. Dengan gerak yang cekatan ia menyibak kawan-kawannya dan
berdiri bertolak pinggang.
“Kau lihat aku,” teriak laki-laki itu.
|
Jumat, 23-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 077 |
SIKAP orang itu menarik perhatian
Warsi. Karena itu, maka ia pun mendekatinya dan kemudian melemparkan
sampur kepadanya.
Laki-laki itu berteriak kegirangan. Dengan serta merta ia pun turun ke
arena. Irama gamelan yang panas membuat darahnya menjadi panas pula,
sehingga sejenak kemudian maka ia pun telah menari bersama Warsi.
Setiap kali sebagaimana dilakukan oleh orang gemuk pemilik rumah
itu, maka orang itu pun ingin menyentuh Warsi. Namun setiap kali
tangannya bagaikan meraba angin. Warsi rasa-rasanya memang tidak
mungkin untuk dapat disentuh.
Beberapa saat keduanya menari dalam suasana yang hangat. Namun
laki-laki tampan itu ternyata cepat menjemukan bagi Warsi. Ia terlalu
kasar dan sama sekali tidak mengenal irama. Karena itu, maka
gerakannya pun menjadi liar dan bahkan seakan-akan ia tidak berbuat
apa-apa selain memburu Warsi di tengah-tengah arena.
Orang-orang yang menonton mulai menyorakinya. Tetapi agaknya orang
berwajah tampan itu salah mengerti. Ia mengira orang-orang bertepuk
karena mereka senang melihat tingkah-lakunya.
Namun ternyata bahwa orang-orang yang menontonnya pun mulai jemu
dengan kehadirannya.
Karena itu, maka Warsi kemudian telah minta agar orang itu menyerahkan
kembali sampurnya. Katanya, "Berilah kesempatan kepada orang lain
Ki Sanak."
"Aku belum puas," jawab orang itu. "Aku belum memelukmu."
"Ah, bukankah kali ini kalian tidak sedang menyelenggarakan
janggrung. Kalian sama sekali tidak mengeluarkan uang sekeping pun.
Jika kali ini aku sedang kebar dan kemudian kita sepakat untuk
menyelenggarakan janggrung, maka aku tidak berkeberatan. Tetapi kali
ini aku menari untuk sekadar mengucapkan terima kasih kepada pemilik
rumah ini yang telah memberi kesempatan kami bermalam di rumahnya,"
jawab Warsi.
"Tetapi beri aku kesempatan sejenak lagi," jawab laki-laki
tampan itu.
Warsi menjadi jemu. Katanya, "Sudahlah, agar pemilik rumah itu
tidak menjadi marah kepadamu. Apakah kau berani melawannya?"
Ancaman itu telah membuat leher orang tampan itu berkerut. Karena itu,
maka ia pun segera menyerahkan sampurnya kembali kepada Warsi.
Demikian sampur itu kembali ke tangan Warsi, maka beberapa orang
laki-laki yang lain telah berdesakan lagi. Sekali lagi Warsi memilih
dan sekali lagi Ia menyerahkan sampur kepada seorang laki-laki. Tetapi
ketika mereka mulai menari maka laki-laki itu pun terasa tidak menarik
sama sekali.
Demikianlah terjadi beberapa kali, sehingga akhirnya Warsi benar-benar
menjadi jemu, sementara malam masih cukup panjang. Baru saja terdengar
suara kentongan ditengah malam.
Warsi pun kemudian memberi isyarat kepada para pengiringnya untuk
menghentikan pertunjukan itu. Namun demikian pertunjukan itu berhenti,
Warsi pun dengan hormat berkata kepada para penontonnya, "Pertunjukan
ini belum berakhir. Aku sudah berjanji untuk menari sepanjang malam.
Dan aku akan memenuhi janjiku, menari sampai ayam jantan berkokok
untuk terakhir kali, atau jika para penonton sudah menjadi jemu dan
meninggalkan pertunjukan ini.
Dalam pada itu, selagi Warsi beristirahat untuk sekadar minum minuman
panas yang disediakan oleh pemilik rumah itu, maka beberapa penonton
pun telah beristirahat pula. Mereka duduk di bawah pepohonan dan
terpencar di seluruh halaman. Tidak seorang pun, terutama laki-laki
yang meninggalkan halaman itu. Mereka yang belum memperoleh kesempatan
dengan tidak sabar menunggu untuk dapat menari bersama seorang
perempuan cantik. Sementara yang sudah pun berharap bahwa masih ada
kemungkinan bagi mereka untuk menari sekali lagi.
|

Sabtu, 24-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 078 |
Sementara itu, beberapa orang
dengan heran telah memuji kemampuan menari tledek yang cantik itu.
Bukan saja keindahan gerak dan kecantikan tubuhnya, tetapi bahwa
penari itu mampu bertahan untuk menari sampai tengah malam. Bahkan
kemudian ia berjanji untuk dapat menari semalam suntuk.
“Aku hampir tidak percaya,” berkata seseorang. “Apa lagi
ia menari dalam irama yang panas dan dengan gerak yang mempesona. Sama
sekali tidak nampak keletihan dan apalagi kehabisan tenaga. Ia masih
mampu memanaskan suasana dengan geraknya dalam iringan yang serasi.”
“Tledek yang satu ini memang aneh,” jawab yang lain.
Namun mereka tidak sempat membicarakannya lebih panjang lagi. Sejenak
kemudian, Warsi telah kembali berada di arena, sementara beberapa
orang laki-laki telah kembali berdesakan.
Namun yang diberi kesempatan pertama untuk menari bersamanya adalah
orang gemuk pemilik rumah itu. Ternyata bahwa kesempatan kedua ini pun
telah dipergunakan sebaik-baiknya, sehingga keringatnya bagaikan
terperas dari tubuhnya.
Tetapi kemudian Warsi pun menjadi sebagai-mana terjadi sebelumnya. Ia
mulai memilih laki-laki yang seperti menjadi gila menunggu gilirannya.
Bahkan yang dilakukan Warsi kemudian benar-benar telah memancing
persoalan. Warsi sengaja memberi sampur itu kepada seseorang tetapi
kemudian diambilnya lagi dan diberikan kepada orang lain. Tetapi yang
benar-benar telah membuat arena itu menjadi gaduh, ketika dengan
sengaja dan sadar, Warsi meletakkan sampur itu di atas dua belah
tangan dari dua orang laki-laki yang sedang berdesakan.
Kedua orang itu pun kemudian saling berebut sampur itu. Masing-masing
tidak mau mengalah, sehingga akhirnya keduanya telah berkelahi dengan
sengitnya.
Warsi tersenyum melihat perkelahian itu. Beberapa orang justru
menyibak, sementara kedua orang laki-laki itu telah mengerahkan
kekuatan mereka masing-masing.
Dalam pada itu, sampur yang mereka perebutkan itu justru telah jatuh
ditanah. Tanpa menghiraukan perkelahian itu Warsi telah memungut
sampur itu dan melambaikannya kepada laki-laki lain yang sedang
kebingungan.
Laki-laki itu tertegun melihat sikap Warsi. Tetapi kemudian justru
tersenyum manis. Didekatinya laki-laki itu dan ditariknya ke tengah
arena.
Dalam kebingungan laki-laki itu tidak me-lawan. Bahkan kemudian Warsi
mulai menggerak-gerakkan tangan orang itu, maka orang itu pun mulai
menari. Tetapi sementara itu, Warsi justru telah melemparkan sampurnya
kepada laki-laki yang lain lagi, yang kemudian turun pula ke arena.
“Minggir kau,” teriak laki-laki yang membawa sampur.
Tetapi Warsi masih saja menari berhadapan dengan laki-laki itu sambil
tersenyum cerah. Wajahnya menjadi semakin cantik dan gerakannya pun
menjadi semakin panas.
Karena itu, laki-laki itu tidak mau pergi. Ketika laki-laki yang
membawa sampur itu mendesaknya itu pun telah pula ditinjunya.
Keduanya pun kemudian telah berkelahi pula. Keduanya tidak mau
mengalah dan tidak mau menepi.
Arena itu pun kemudian menjadi kacau. Dua lingkar perkelahian telah
terjadi. Orang-orang yang berusaha memisah, justru telah terlibat pula.
Mereka mulai berpihak kepada kawannya yang sedang berkelahi itu,
sehingga perkelahian itu pun menjadi semakin kisruh.
Laki-laki gemuk pemilik rumah itu mulai menyadari, bahwa di halaman
rumahnya telah terjadi perkelahian yang seru. Mereka telah berkelahi
dimanapun di halaman itu, sehingga tanaman yang tumbuh di halaman dan
dikebun telah menjadi rusak karenanya.
(Bersambung)-m
|
Minggu, 25-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 079 |
Laki-laki gemuk itu menjadi marah.
Dengan tangkasnya ia meloncat ke atas tangga sambil berteriak,
“Berhenti, semuanya berhenti.”
Tetapi laki-laki gemuk itu tidak sempat berteriak lagi . Ia sama
sekali tidak dapat melawan, ketika tangannya telah ditarik oleh Warsi
sambil tersenyum manis. Bahkan kemudian sambil mengelus pundaknya
Warsi berkata, “Biarlah terjadi, apa yang sudah terjadi. Biarlah
mereka mendapat hukuman mereka, karena mereka tidak dapat menahan diri.”
Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Tetapi ketika dipandanginya
wajah Warsi yang cantik dan senyumnya yang cerah, maka ia pun tidak
dapat berbuat apa-apa. Seperti kanak-kanak orang itu dibimbing oleh
Warsi ke tangga pendapa dan kemudian mengajaknya untuk duduk bersama.
Sementara itu, para pengiring yang masih saja memukul gamelan menjadi
bingung. Tidak ada lagi yang menari di halaman. yang ada justru
orang-orang yang sedang berkelahi. Sekali-kali terdengar orang-orang
yang mengaduh kesakitan, umpatan kasar dan perempuan yang
menjerit-jerit. Namun Warsi sama sekali tidak memberikan isyarat agar
gamelan itu berhenti. Bahkan ketika tukang gendang itu berusaha untuk
mendapatkan isyarat dari Warsi, Warsi sama sekali tidak
menghiraukannya.
“Pergilah kepada anak binal itu,” geram tukang gendang kepada
salah seorang pengiring, “Tanyakan kepadanya, apakah gamelan ini
sudah boleh berhenti.”
Orang itu pun segera berdiri dan mendekati Warsi yang sedang duduk di
tangga pendapa dengan orang gemuk pemilik rumah itu. Sejenak ia
ragu-ragu. Namun ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana pendapatmu
tentang gamelan itu?”
Warsi memandang orang itu sejenak, sementara jantung orang itu pun
sudah berdebar. Tetapi tiba-tiba saja Warsi tersenyum sabil berkata,
“Hentikan. Biarlah orang-orang itu memuaskan hatinya. Setelah wajah
mereka menjadi merah biru, maka mereka tentu akan berhenti dengan
sendirinya.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun dengan
tergesa-gesa kembali dan memberitahukan hal itu kepada tukang gendang.
Karena itulah, maka sejenak kemudian suara gamelan itu pun telah
berhenti. Sementara itu hiruk pikuk perkelahian di halaman itu pun
sudah menjadi susut pula. Mereka yang sudah menjadi babak belur
terhuyung-huyung meninggalkan halaman itu. Sementara yang lain pun
mulai bertanya kepada diri sendiri, “Apa sebenarnya yang telah
terjadi?”
Sementara itu, mereka melihat tledek itu duduk di tangga pendapa
dengan pemilik rumah yang gemuk itu. Orang yang memang ditakuti oleh
seisi padukuhan.
“Kita telah dipermainkan oleh perempuan binal itu,” tiba-tiba
seseorang mengeluh.
“Ya. Dan kita bagaikan telah terbius untuk saling berkelahi,”
jawab yang lain.
Beberapa orang yang mulai menyadari keadaan pun berusaha untuk melerai
kawan-kawannya yang masih berkelahi. Bahkan beberapa orang di antara
mereka pun menjadi marah kepada Warsi yang masih saja duduk sambil
tersenyum-senyum.
“Kita harus memberinya peringatan, bahwa tingkah lakunya telah
membuat kita marah,” berkata salah seorang di antara laki-laki yang
hidungnya berdarah.
“Apa yang akan kita lakukan?” bertanya kawannya.
“Kita seret tledek itu ke tengah-tengah halaman. Kita buat perempuan
itu malu sebagaimana kita telah dibuat olehnya.”
“Apakah kita akan memukulinya?” bertanya yang lain.
“Tidak. Kita seret perempuan itu dan kita bedaki wajahnya yang
cantik itu dengan lumpur,” jawab yang hindungnya berdarah.
“Siapa yang akan melakukannya?” bertanya orang yang matanya
menjadi biru.
|
Senin, 26-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 080 |
Ternyata pertanyaan itu telah
membingungkan. Tidak ada orang yang dapat menjawabnya. Bahkan orang
yang matanya menjadi biru itu berkata, “Perempuan itu tentu akan
mendapat perlindungan dari kerbau dungu yang tergila-gila kepadanya
itu. Sementara itu, kita telah melihatnya, bahwa tukang gendang tledek
itu memiliki kemampuan melampaui kerbau itu.”
Orang-orang yang mendengar kata-kata orang yang matanya biru dan mulai
membengkak itu terdiam. Mereka sependapat dengan orang itu, bahwa
tidak ada seorang pun yang akan dapat menghukum perempuan yang telah
menimbulkan kegaduhan di padukuhan itu.
Dalam pada itu, Warsi mulai memperlihatkan orang-orang yang satu demi
satu meninggalkan halaman itu. Mereka berjalan tertatih-tatih sambil
menyeringai menahan sakit. Bahkan ada di antara mereka yang terpaksa
dipapah oleh kawannya, karena kakinya rasa-rasanya telah patah dalam
perkelahian yang ribut di halaman itu.
Sejenak Warsi termangu-mangu. Namun kemudian tiba-tiba saja ia bangkit.
Pemilik rumah itu terkejut. Dicobanya untuk menahan tangan Warsi.
Tetapi tangan orang gemuk itu telah dikibaskannya, sehingga
pegangannya pun telah lepas.
Tidak seorang pun yang tahu apa sebabnya, ketika tiba-tiba saja Warsi
telah berlari kebilik yang sudah disediakan baginya. Pemilik rumah itu
kemudian bangkit sambil memandanginya dengan wajah yang tegang. Sekali-kali
ia memandang tukang gendang yang kemudian telah bangkit pula.
Jantung orang gemuk itu menjadi semakin cepat berdetak ketika ia
melihat tukang gendang yang dikiranya adalah suami tledek itu
melangkah satu-satu. Dengan sorot mata yang tajam tukang gendang itu
mendekatinya.
“Aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya duduk saja. Istrimulah yang
membimbingku dan membawaku duduk disini,” berkata orang itu gagap
sebelum tukang gendang itu bertanya sepatah kata pun.
Tukang gendang itu berdiri tegak dengan kaki renggang. Sementara orang
yang gemuk itu menjadi semakin ketakutan.
Kemudian dengan nada berat tukang gendang itu bertanya, “Kau tentu
menyentuhnya. Justru disaat ia tidak menghendaki.”
“Tidak. Sungguh mati aku tidak menyentuhnya. Malahan istrimu yang
menyentuhku,” jawab laki-laki gemuk yang ketakutan itu.
Tukang gendang itu tidak bertanya lagi. Tiba-tiba saja ia pun
meninggalkan pemilik rumah itu dan menyusul Warsi ke dalam biliknya.
Tukang gendang itu tertegun ketika ia melangkah memasuki pintu.
Dilihatnya Warsi tidur menelungkup masih lengkap dengan pakaian
penarinya, menangis tersedu-sedu.
“Warsi,” desis tukang gendang yang kemudian duduk disebelahnya,
“Apa yang sebenarnya terjadi atas dirimu?”
(Bersambung)-c
|
Buy
1 Get 1 FREE!!!

Buy it at AllPosters.com
Langsung ke KR
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 26-08-2002
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 & (021) 5601215
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|