|

Buy it at AllPosters.com
|
|

SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Selasa, 06-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 061 |
Ketika Warsi kemudian berlari
menjauhi padukuhan, Wiradana menjadi ragu-ragu. Ia memang maju
beberapa puluh langkah, tetapi akhirnya ia pun berhenti. Wiradana
mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa orang yang dicurigainya itu
berbuat licik. Ia dapat menyiapkan sebuah jebakan yang terdiri dari
beberapa orang untuk membinasakannya.
Menurut dugaan Wiradana, maka yang dihadapinya itu tentu
orang-orang yang ingin membalas dendam atas kematian Kalamerta dan
hancurnya sekelompok pengikutnya.
Tetapi ternyata orang itu tidak meninggalkannya. Ketika Warsi sadar
bahwa Wiradana berhenti, maka ia pun telah berhenti pula. Dan bahkan
ia pun telah melangkah kembali mendekati Wiradana yang berdiri
termangu-mangu.
“Siapa sebenarnya kau,” sekali lagi Wiradana bertanya.
Tetapi Warsi tetap tidak menjawab. Ia sadar bahwa suaranya adalah
suara seorang perempuan, karena itu, maka Wiradana akan cepat
menghubungkan hadirnya itu dengan kehadiran serombongan pengamen di
Tanah Perdikannya. Meskipun ia berpakaian seorang laki-laki, tetapi
suaranya akan tetap menunjukkan jenisnya. Jika saat itu ia gagal
membunuh Wiradana, maka akibatnya akan parah bagi semua anggota
rombongannya.
Karena orang itu tidak menjawab, maka Wiradanapun berkata keras,
“Kau membuat aku curiga. Marilah kau aku tangkap untuk pemeriksaan.”
Orang itu masih tetap berdiri tegak. Namun kemudian dengan sikapnya,
orang itu memaksa Wiradana untuk bergeser mundur.
Warsi pun kemudian bersikap untuk menyerang. Tanpa kata-kata namun
jelas bagi Wiradana bahwa orang itu telah menantangnya untuk berkelahi.
“Baik,” berkata Wiradana, “Aku mengerti kau ingin bertempur.
Tetapi katakan, apa alasanmu dan siapakah kau sebenarnya?”
Tetapi Warsi tidak menjawab. Ia mulai bergeser hati-hati. Bahkan
tiba-tiba saja Warsi kemudian telah mulai menyerang.
Wiradana masih sempat mengelak. Bahkan ia masih sempat berkata,
“Sebut saja apa alasanmu?”
Tetapi Warsi tidak menghiraukannya. Dengan jarinya ia mengisyaratkan
untuk bertempur seorang lawan seorang.
“Apakah kau bisu?” bertanya Wiradana.
Dalam keremangan malam Wiradana melihat Warsi mengangguk.
“Gila,” geram Wiradana. “Apa maunya orang bisu ini.”
Dengan demikian Wiradana tidak bertanya lagi. Meskipun ia masih juga
curiga. Biasanya orang bisu itu juga tuli. Jika orang itu bisu dan
tidak tuli, mungkin ada sebab-sebab tersendiri. Namun Wiradana pasti
bahwa orang itu tidak tuli.
Namun apapun juga orang itu, Wiradana harus menghadapinya dalam satu
pertempuran. Dalam waktu yang singkat, maka keduanya telah mengerahkan
kemampuan mereka.
Ternyata bahwa orang yang tidak dikenal itu memiliki kecepatan
bergerak yang sulit untuk diimbangi. Tetapi Wiradana pun mempunyai
kelebihan dari lawannya. Kekuatan Wiradana agaknya lebih baik daripada
lawannya, sehingga dalam benturan-benturan yang terjadi, Wiradana
berhasil mendesak lawannya surut.
Namun dalam pada itu, Wiradana ternyata semakin lama menjadi semakin
sulit untuk mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Bahkan kemudian
terasa olehnya, serangan-serangan lawannya itu mulai menyakiti
tubuhnya, karena ia tidak sempat menghindari serangan-serangan yang
datang semakin cepat.
Wiradana menggeram menahan sakit yang mulai menjalari tubuhnya. Namun
bagaimanapun juga, Wiradana tidak akan menghindar dan membiarkan orang
itu terlepas dari tangannya.
(Bersambung)-m
|
Rabu, 07-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 062 |
Dengan cerdik Wiradana bergeser
selangkah demi selangkah. Ia berusaha untuk mendekati gardu yang
paling dekat dengan arena itu, sehingga dengan demikian maka ia akan
dapat memanggil para peronda dan bersama-sama menangkap orang itu.
Tetapi agaknya lawannya itu mengerti, bahwa Wiradana bergeser
ke arah pintu gerbang. Karena itu, maka orang itu pun bertempur
semakin cepat. Agaknya ia berusaha untuk mengalahkan lawannya
secepatnya sebelum ia sempat berteriak dan memanggil para pengawal.
Wiradana semakin lama menjadi semakin terdesak. Tetapi ia masih
terlalu jauh dari gerbang. Seandainya ia berteriak pun agaknya
orang-orang yang berada di gerbang tidak akan mendengarnya, bahkan
rumah-rumah yang terdekat dengan arena itu pun belum tentu akan
dapat mendengar pula.
Karena itu, maka untuk mengatasi kesulitan yang semakin menekan,
maka Wiradana kemudian telah menarik pedangnya.
Lawan Wiradana itu pun tertegun. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mudah
mengatasi ilmu pedang Wiradana. Karena itu, maka Warsi pun kemudian
telah mengurai sehelai rantai yang melingkari lambungnya.
Wiradana tertegun melihat senjata lawannya. Senjata yang jarang
dijumpainya, namun yang agaknya sulit untuk dilawan.
Namun demikian, Wiradana tidak dapat mengelak. Ia harus melawan.
Meskipun ia agak menyesal juga, bahwa ia langsung mengikuti orang
itu tanpa memberitahukan kepada para peronda lebih dahulu.
Sejenak kemudian rantai itu pun telah berputar dengan cepat.
Suaranya berdesing seperti berpuluh ribu tawon yang berterbangan
mengelilinginya.
Jantung Wiradana menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa pedangnya
justru telah mengundang satu kesulitan lain yang mungkin akan lebih
parah.
Sejenak kemudian Wiradana pun harus bertempur menghadapi lawannya
yang mempergunakan senjata yang aneh. Sehelai rantai berputaran dan
kadang-kadang mematuk dengan dahsyatnya.
Namun seperti semula, Wiradana telah mengalami kesulitan. Ketika
ujung rantai itu mulai menyentuh kulitnya, maka darah pun mulai
menitik dari luka.
Wiradana masih berusaha untuk bergeser mendekati dinding padukuhan
dan apabila mungkin pintu gerbang yang ditunggui oleh para pengawal
yang meronda.
Namun agaknya usaha Wiradana akan sia-sia. Orang yang mempergunakan
tutup muka itu mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga.
Tetapi Wiradana pun tidak mau membiarkan dirinya dibantai. Karena
itu, maka ia pun telah melawan dengan segenap kemampuannya. Dengan
ilmu pedang yang dimilikinya, maka ia mencoba mengatasi tekanan
senjata rantai yang mengerikan itu.
Ternyata bahwa untuk beberapa saat Wiradana berhasil mempertahankan
diri. Namun sebenarnyalah hati laki-laki muda itu kurang teguh
menghadapi kesulitan. Itulah sebabnya, maka ia cepat menjadi cemas.
Tetapi justru kecemasan itulah yang telah mempercepat kesulitan yang
mencengkam dirinya. Putaran rantai ditangan orang yang menutupi
wajahnya itu seakan-akan menjadi semakin cepat. Sehingga dengan
demikian, maka sentuhan-sentuhan ujung rantai itu pun terasa menjadi
semakin sering pula mengenai tubuhnya.
Luka ditubuh Wiradana menjadi semakin parah. Darah menjadi semakin
banyak mengalir. Sementara itu, gerak ujung rantai itu pun
rasa-rasanya menjadi semakin cepat.
Perlawanan Wiradana pun semakin lama menjadi semakin lemah.
Kegelisahan dan kelemahan hatinyalah sebenarnya yang lebih banyak
mendorongnya ke dalam kesulitan. Sebenarnya ilmu pedangnya memiliki
kemungkinan-kemungkinan yang dapat menembus putaran rantai lawannya,
jika kemantapan ilmunya pun didukung oleh kemantapan hatinya.
(Bersambung)-m
|
Kamis, 08-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 063 |
NAMUN yang terjadi kemudian
Wiradana telah benar-benar terdesak.
Bahkan akhirnya, dengan satu putaran rantai yang cepat, maka pedang
Wiradana telah terbelit karenanya. Dan oleh satu hentakan yang kuat
maka rantai itu telah merenggut pedang Wiradana.
Wiradana terpekik kecil. Tangannya terasa sangat pedih. Tetapi
ia tidak berhasil mempertahankan pedangnya. Dan demikian pedangnya
terlontar, maka rasa-rasanya nyawanya pun telah berada di ujung
ubun-ubun.
Tanpa sengaja Wiradana benar-benar tidak mampu melawan. Demikian
pedangnya terenggut, maka ia pun hanya dapat berdiri tegak dengan
wajah pucat. Rasa-rasanya ia tinggal menunggu maut yang segera akan
memeluknya.
Lawannya yang bertutup wajah itu berdiri tegak dengan sorot mata yang
bagaikan menembus sampai kejantung. Perlahan-lahan ia melangkah
mendekat. Rantainya terayun-ayun disisinya, siap untuk mengoyak
dadanya dan dengan demikian maka lenyaplah segala harapannya untuk
melanjutkan pemerintahan yang akan diwariskan oleh ayahnya dalam waktu
dekat.
Dua langkah dihadapan Wiradana orang yang wajahnya tertutup kecuali
matanya itu memadanginya. Rantainya benar-benar sudah siap untuk
membunuhnya.
"Jangan," tiba-tiba terdengar suara Wiradana gemetar, "Apa
sebenarnya alasanmu memusuhi aku? Jangan bunuh aku. Aku akan memberimu
apa saja yang kau minta."
Orang bertutup wajah itu memperhatikan Wiradana yang ketakutan.
Rantainya masih saja terayun-ayun disisinya. Namun tiba-tiba saja ia
melangkah surut.
Diamatinya Wiradana dari ujung rambutnya sampai ke ujung kakinya.
Agaknya sesuatu telah bergejolak didada orang yang bertutup wajah itu.
Dengan satu dua kali ayunan rantainya, maka Wiradana tentu sudah akan
tergolek diam. Mati. Sebagaimana diinginkannya.
Namun orang itu tidak mengayunkan rantainya. Bahkan tiba-tiba saja
orang bertutup wajah itu berpaling. Dengan cepat ia meloncat
meninggalkan Wiradana yang termangu-ma-ngu.
Sejenak kemudian maka orang bertutup wajah dalam pakaian yang serba
hitam itu telah hilang dari arena. Dengan kecepatan yang sulit diikuti,
orang itu berlari menyusuri pematang diluar dinding padukuhan induk
Tanah Per-dikan Sembojan.
Namun diluar penglihatan Wiradana, orang itu pun telah meloncati
dinding memasuki padukuhan dan dengan diam-diam menuju banjar.
Sepeninggal orang itu, maka Wiradana pun berdiri termangu-mangu. Ia
tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika orang itu ingin
membunuhnya, maka kesempatan itu sudah terbuka baginya. Wiradana
sendiri sudah tidak mampu melakukan perlawanan sama sekali. Pedangnya
sudah terlepas dari tangannya, sementara keberaniannya pun telah larut
sehingga ia hanya dapat minta dibelas kasihani.
Sesaat Wiradana masih berdiri tegak. Namun kemudian ia melangkah
memungut pedangnya.
Baru kemudian terasa tubuhnya dicengkam oleh perasaan sakit dan pedih.
Lukanya terdapat dibeberapa tempat silang melintang, terkoyak oleh
ujung rantai lawannya.
Tertatih-tatih Wiradana menuju ke gerbang. Memang masih agak jauh.
Namun akhirnya ia sampai juga ke gardu pertama dipintu gerbang
padukuhan induk.
"Wiradana," seorang pengawal yang melihatnya tiba-tiba saja
berteriak sehingga kawan-kawannya menjadi terkejut. Sebenarnyalah
mereka melihat Wiradana berjalan tertatih-tatih menyeret tubuhnya
mendekati gardu.
Beberapa orang pengawal telah berloncatan mendekat. Dua orang
menangkap tubuh yang hampir jatuh terjerembab itu.
"Apa yang terjadi?" bertanya salah seorang pengawal.
|
Jumat, 09-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 064 |
WIRADANA tidak menjawab. Sementara
itu tubuhnya pun telah dipapah dan dibaringkannya di dalam gardu
dikerumuni oleh beberapa orang pengawal.
"Berhati-hatilah," desis Wiradana.
Dua orang pengawal pun kemudian telah bersiap mengamati keadaan,
sementara yang lain berusaha untuk menolong Wiradana.
"Bawa aku pulang," desis Wiradana.
"Baik. Baik. Aku akan mengambil pedati," desis seseorang itu.
Lalu, "Bukankah itu lebih baik daripada kami mengangkatmu sampai
kerumahmu."
"Tolong angkat saja aku pulang. Lebih cepat lebih baik. Waktunya
jangan tersia-sia dengan mengambil pedati," desis Wiradana yang
terluka parah itu.
Beberapa orang anak muda sependapat. Jika salah seorang dari mereka
pulang mengambil pedati, maka waktunya akan banyak terbuang sehingga
keadaan Wiradana akan menjadi semakin parah.
Karena itu, maka beberapa orang anak muda itu pun telah bersepakat
untuk mengangkat saja Wiradana dan membawanya pulang ke rumahnya,
sementara dua orang akan tinggal di gardu.
"Jika terjadi sesuatu, bunyikan saja isyarat," berkata
Wiradana. "Agaknya para pengikut Kalamerta masih berkeliaran
disekitar Tanah Perdikan ini."
"Baiklah," jawab salah seorang pengawal yang akan tinggal.
Demikianlah, maka Wiradana pun telah diangkat pulang kerumahnya dengan
tergesa-gesa. Darah yang masih saja mengalir membuat tubuh itu semakin
lemah. Namun disepanjang jalan Wiradana masih sempat berceritera,
"Aku tidak tahu, siapa orang itu. Namun agaknya ia memang
memiliki ilmu yang tinggi."
"Bagaimana ia dapat melukaimu?" bertanya salah seorang
pengawal yang menggotongnya.
"Senjatanya memang aneh. Sehelai rantai baja," jawab
Wiradana. Namun kemudian, "Untunglah aku mempunyai ilmu pedang
yang mumpuni sehingga aku akhirnya mampu mengusirnya, meskipun tubuhku
terluka parah. Aku tidak tahu, apakah orang itu akan dapat berlari
jauh oleh luka-lukanya pula. Mungkin besok pagi kalian akan
mendapatkan sesosok mayat diluar padukuhan induk ini, atau mungkin ia
sempat berlari jauh atau bahkan ia mempunyai kawan yang sempat
membawanya pergi. Tetapi aku yakin, bahwa orang itu akan mati."
Para pengawal itu hanya mengangguk-angguk saja. Namun mereka percaya
bahwa Wiradana telah berhasil mengusir seorang yang memiliki ilmu yang
tinggi yang telah memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.
Ketika tubuh itu sampai di rumah Ki Gede, maka seisi rumah telah
terkejut karenanya. Menjelang dini hari rumah itu menjadi ribut.
Untunglah bahwa Kiai Badra masih tetap berada di rumah itu menunggui
cucunya sampai selapan. Setelah lewat selapan, maka Kiai Badra dan
Gandar pun telah bersiap-siap untuk meninggalkan Tanah Perdikan ini.
Namun sebelum mereka minta diri, maka peristiwa yang mengejutkan itu
telah terjadi.
Sejenak kemudian, maka Kiai Badra pun telah merawat Wiradana dengan
sungguh-sungguh. Dengan kerut-merut didahinya ia melihat luka-luka
yang agak asing itu. Namun kemudian Kiai Badra pun mengenalinya bahwa
luka itu bukan disebabkan oleh senjata tajam. Tetapi oleh seutas
rantai baja.
"Ya. Orang itu bersenjata rantai," berkata Wiradana yang
menyeringai oleh perasaan pedih diseluruh tubuhnya, sementara Kiai
Badra sedang berusaha untuk membersihkannya.
Seperti yang diceriterakan kepada para pengawal bahkan juga tentang
lawannya yang bisu, maka Wiradana pun telah mengatakan, bahwa ia
berhasil melukai lawannya, sehingga lawannya itu telah melarikan diri.
"Apakah kau tidak dapat menyebut ciri-ciri lawanmu itu ngger,
jika ia benar-benar bisu seperti yang kau katakan?" bertanya Kiai
Badra.
(Bersambung)-m
|

Sabtu, 10-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 065
"ORANGNYA tinggi, besar dan berambut panjang," Wiradana berusaha mengingat-ingat.
"Berambut panjang?" bertanya Kiai Badra.
"Ya. Rambutnya itu terurai dibawah ikat kepalanya," jawab Wiradana.
Kiai Badra merenung sejenak. Kecerahan nalarnya telah membawanya kepada satu dugaan didalam hatinya, "Orang itu tentu merahasiakan dirinya sepenuhnya. Ia bukan saja menutupi wajahnya, tetapi juga menyembu-nyikan suaranya. Seandainya orang itu tidak bertubuh tinggi besar, maka aku akan menduga bahwa ia seorang perempuan."
Tetapi Wiradana ternyata telah memberikan keterangan yang tidak benar untuk mengang-kat dirinya sendiri, sehingga seakan-akan ia telah bertempur melawan seorang yang tinggi besar dan berkemampuan sangat tinggi, namun akhirnya dapat dikalahkannya.
Dengan cermat Kiai Badra telah berusaha untuk mengobati luka-luka yang parah itu, sementara Iswari hanya dapat menahan tangisnya oleh kecemasan yang mencengkam.
Ki Gede menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat keadaan anaknya. Ki Gede pun yakin, bahwa anaknya telah menjadi sasaran dendam para pengikut atau keluarga Kalamerta.
"Untunglah bahwa kau masih mampu melindungi dirimu sendiri," berkata ayahnya. Lalu, "Karena itu, maka seharusnya kau lebih rajin menempa diri, mumpung ayah masih ada. Meskipun ayah tidak dapat berbuat lebih banyak daripada memberimu petunjuk-petunjuk, namun akan sangat berarti bagimu dan bagi ilmumu yang masih harus dikembangkan itu."
Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia mengakui, bahwa jarak ilmunya dengan ayahnya memang masih terlalu jauh. Dalam keadaan yang demikian Wiradana tidak dapat ingkar, bahwa ia memang kurang tekun menempa diri. Ia terlalu menggantungkan diri kepada ayahnya dan pengawalan anak-anak muda Tanah Perdikan.
Atas usaha Kiai Badra yang dibantu oleh Gandar, maka keadaan Wiradana pun menjadi berangsur baik. Perasaan pedihpun telah berkurang, sementara luka-lukanya sudah menjadi pampat.
"Beristirahatlah," berkata Kiai Badra, "Semakin banyak kau beristirahat, maka keadaanmu akan menjadi semakin baik."
"Ya. Tidurlah," berkata ayahnya pula.
Demikianlah, maka Wiradana itu pun kemudian ditinggalkan di dalam biliknya ditunggui oleh istrinya. Dengan wajah yang cemas, Iswari berusaha untuk melayani suaminya yang terluka parah.
"Terima kasih," desis Wiradana ketika Iswari membantunya meletakkan semangkuk mi-numan hangat di bibirnya.
Namun dalam pada itu, ketika Wiradana memandang wajah istrinya yang redup, diluar kehendaknya sendiri, telah terbayang wajah penari yang berada di banjar. Penari itu wajahnya berseri dan memancarkan kejelitaan yang mengagumkan. Dengan rias yang mantap, maka wajah penari itu menjadi semakin cantik. Melebihi kecantikan Iswari yang lugu.
(Bersambung)-m
SH Mintardja Minggu, 11-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 066
Namun Wiradana pun kemudian berusaha untuk mengusir bayangan yang akan dapat menutupi jalur hubungannya dengan istrinya yang baru selapan dikawininya, justru atas desakan ayahnya yang merasa berhutang budi kepada Kiai Badra, dan yang kini telah berusaha untuk menyelamatkannya pula.
Sementara itu, selagi di rumah Ki Gede terjadi kesibukan yang mencengkam seisi rumah, maka di banjar Warsi berbaring menelungkup dipembaringannya. Sampai matahari terbit, pintu biliknya masih belum terbuka. Adalah diluar kebiasaannya, bahwa ia masih belum bangun sampai matahari memancarkan sinar pertamanya.
Tetapi Warsi memang tidak sedang tidur. Ketika pengendangnya mengetuk pintu, maka Warsi pun telah bangkit. Dengan cepat ia mengusap matanya yang basah. Warsi memang menangis sebagaimana perempuan sering menangis.
Dengan lemah Warsi telah membuka pintu biliknya. Dilihatnya pengendangnya berdiri termangu-mangu didepan pintu biliknya.
“Kau menangis?” bertanya pengendangnya itu.
Warsi menatap wajah pengendangnya yang disebutnya sebagai ayahnya itu. Namun ia tidak menjawab sama sekali.
“Kami sudah mendengar berita yang sampai kepada para pengawal, bahwa Wiradana telah terluka parah,” desis pengendangnya. “Tetapi ia tidak mati. Dan kau tidak membunuhnya.”
Adalah diluar dugaan sama sekali, ketika tiba-tiba saja Warsi telah menampar mulut pengendangnya itu. Meskipun tidak dengan sekuat tenaganya, namun agaknya sentuhan tangannya itu telah membuat mulut pengendangnya itu berdarah.
“Warsi,” desis salah seorang pengiringnya yang lain. “Apa yang kau lakukan?”
Warsi masih berdiri tegak. Namun kemudian katanya dengan suara bergetar, “Jangan menghina aku lagi.”
Orang yang mulutnya berdarah itu berusaha untuk menjawab terbata-bata, “Aku tidak bermaksud menghina. Tetapi aku sekadar memberitahukan kepadamu bahwa Wiradana belum mati. Mungkin kau mengiranya sudah mati. Tetapi ternyata belum.”
Warsi memandang orang itu sejenak. Namun kemudian ia pun telah menutup pintunya lagi, sehingga para pengiringnya hanya termangu-mangu saja dimuka pintu yang sudah tertutup itu.
“Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi,” desis orang yang mulutnya berdarah itu.
“Bersihkan darah itu,” berkata kawannya.
Orang itu pun cepat-cepat telah pergi kesumur untuk berkumur. Mulutnya memang berdarah dan sebuah giginya menjadi goyah.
“Anak binal,” gerutunya. “Aku berbangga bahwa gigiku termasuk gigi yang baik. Pada umurku sekarang gigiku masih utuh seluruhnya. Tiba-tiba saja ia sudah menggoyahkan satu gigiku itu.”
Dalam pada itu, maka para pengiring Warsi telah menjadi bingung. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. Mereka mengenal Warsi sebagai seorang gadis yang garang. Namun tiba-tiba mereka melihat gadis itu menangis di dalam biliknya.
Selagi mereka kebingungan, maka tiba-tiba Warsi telah membuka pintunya pula. Perlahan-lahan gadis itu keluar dari biliknya dan duduk di antara para pengiringnya di serambi.
“Besok kita tinggalkan tempat ini. Kita akan pulang,” berkata Warsi dengan suara yang sendat.
Pengendangnya termangu-mangu. Namun diberanikan dirinya untuk bertanya, “Jadi bagaimana dengan Wiradana?”
“Aku akan memberikan penjelasan kemudian,” berkata Warsi.
“Tetapi kau akan banyak kehilangan waktu,” jawab pengendang itu.
(Bersambung)-m

Senin, 12-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 067
WARSI memandang orang yang disebut sebagai ayahnya dalam rombongan pengamen itu. Sorot matanya tiba-tiba saja bagaikan menyala. Karena itu, maka pengendangnya itu pun telah menundukkan kepalanya tanpa berani mendesak Warsi untuk menjawab pertanyaannya.
Dengan berbagai pertanyaan didalam hatinya, maka sore itu, rombongan pengamen itu masih kebar di halaman banjar. Mereka masih melakukan kegiatan sebagaimana yang dilakukan sebelumnya. Warsi masih nampak cantik dan menari dengan baik. Tidak seorang pun yang melihat kemuraman diwajahnya yang sayu. Riasnya yang mantap berhasil menyembunyikan kegetiran didalam dadanya.
Malam itu, tidak seorang pun yang menduga, bahwa rombongan itu akan begitu cepat meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Pagi-pagi benar, pengendang yang menjadi pemimpin rombongan itu telah menghubungi bebahu Tanah Perdikan yang diserahi untuk mengurus banjar Padukuhan Induk itu.
“Kalian akan pergi?” bertanya bebahu itu.
“Kami sudah terlalu lama disini. Penghuni Tanah Perdikan ini sudah menjadi jemu dan tidak lagi menaruh minat terhadap pertunjukkan kami,” jawab pengendang itu.
“Ah, tentu tidak. Bukankah hampir tiap malam kalian mendapat panggilan dari rumah-rumah berhalaman luas di Tanah Perdikan Sembojan ini,” bertanya bebahu itu.
“Dasarnya bukan karena mereka ingin menonton pertunjukan kami. Tetapi mereka hanya sekadar kasihan saja,” jawab pengendangnya.
“Baiklah jika kalian memang sudah berkete-tapan untuk meneruskan perjalanan kalian. Tetapi apakah kalian tidak akan minta diri kepada Ki Wiradana? Bukankah pada saat kalian datang, Ki Wiradanalah yang telah memberikan ijin meskipun tidak langsung? Dan bukankah Ki Wiradana telah pernah mengunjungi kalian di banjar itu pula?” bertanya bebahu itu.
Pengendang itu termangu-mangu. Ia ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi akhirnya ia berkata, “Bukankah Ki Wiradana sedang sakit? Kami tidak pantas untuk mengganggunya. Dan agaknya kami tidak cukup pantas untuk mohon diri lagsung kepadanya, apalagi kepada Ki Gede.”
“Kenapa?” bertanya bebahu itu.
“Kami hanyalah serombongan pengembara yang tidak berarti apa-apa,” jawab pengendang itu.
Demikianlah, maka pada hari itu juga, rombongan penari itu meninggalkan banjar Padukuhan Induk Tanah Perdikan Sembojan. Mereka mengucapkan terima kasih kepada tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar banjar dengan sebuah pertunjukan. Pertunjukan yang berbeda dengan yang pernah mereka lihat, karena Warsi menari di pagi hari.
Meskipun demikian, penari itu masih tetap seorang penari yang cantik dimata para penontonnya.
Demikian rombongan itu keluar dari Tanah Perdikan Sembojan, maka Warsi pun tidak lagi merupakan penari yang luruh dan lembut. Ketika seorang bertubuh gemuk menghentikan rombongan itu disudut sebuah padukuhan diluar Tanah Perdikan Sembojan, maka dengan senyum yang menghias dibibirnya Warsi bertanya, “Apa yang kau kehendaki Ki Sanak?”
“Janggrung,” jawab orang gemuk itu, “He, berapa aku harus bayar.”
“Kau sendiri yang akan mengibingnya?” bertanya Warsi sambil mendekati laki-laki itu.
“Sebentar lagi tentu datang orang banyak. Mereka tentu akan bersedia ikut menari ber-sama,” jawab orang gemuk itu.
Ketika Warsi menggamit lengan orang itu, maka rasa-rasanya seluruh tubuh orang gemuk itu meremang. Katanya, “Aku akan membayar berapa saja kau minta.”
“Apakah kau mempunyai uang sebanyak itu?” bertanya Warsi.
“Sebanyak itu berapa?” bertanya laki-laki gemuk itu, “Aku adalah orang yang sangat kaya.”
“Lihat, mana uangmu?” bertanya Warsi.
(Bersambung)-c
Selasa, 13-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 068
Orang bertubuh gemuk itu telah membuka kantong ikat pinggangnya yang besar. Dari dalamnya ia mengeluarkan beberapa keping uang dan melemparkannya ke tangan Warsi. Katanya, “Nah, cepat menarilah dalam irama yang panas. Aku akan menari bersamamu, mencium pipimu dan membawamu pulang.”
“He,” desis Warsi. “Apa kata istrimu?”
“Ada tiga orang istri di rumah. Mereka akan bungkam. Aku akan mencekik siapa saja di antara mereka yang berani mempertanyakan kehadiranmu,” jawab orang bertubuh gemuk itu.
“O, begitulah tanggapanmu atas seorang perempuan,” geram Warsi. “Kau sangka perempuan tidak mampu mencekikmu sampai mati.”
Pertanyaan itu memang mengejutkan. Tetapi cepat-cepat pengendangnya telah menggamitnya sambil berbisik, “Kita belum terlalu jauh dari Tanah Perdikan Sembojan. Jika kau sakiti laki-laki itu, maka akan terbetik berita, seorang penari cantik yang pernah tinggal di Sembojan, ternyata seorang perempuan yang garang. Bukankah dengan demikian kesan orang-orang Sembojan terhadapmu akan berubah? Apalagi jika pada satu saat kau ingin kembali ke Sembojan dengan cara yang sama ini.”
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia pun kemudian menyadari apa yang pernah dilakukan terhadap Wiradana, meskipun ia telah menyembunyikan wajahnya. Wiradana akan dapat menghubungkan peristiwa itu dengan tingkah lakunya, seandainya orang-orang padukuhan itu memperkatakannya kelak. Sambung bersambung maka akhirnya orang-orang Sembojan akan mendengarnya juga.
Karena itu, tiba-tiba wajah Warsi pun telah tersenyum manis. Sekali lagi ia menggamit laki-laki itu. Tetapi katanya kemudian, “Aku lelah sekali Ki Sanak. Hari ini aku tidak akan menari.”
“Kau gila he? Kau menolak uangku yang sekian banyaknya itu?” teriak laki-laki gemuk itu.
“Bukan begitu Ki Sanak. Aku benar-benar letih hari ini. Aku baru saja berjalan jauh dalam terik matahari,” jawab Warsi. “Aku ingin istirahat dahulu. Nanti malam aku akan menari. Bukankah menari dimalam hari lebih nikmat rasanya daripada disiang hari. Apalagi untuk menari bersama seorang laki-laki tampan seperti kau ini,” di luar dugaan Warsi telah mencubit paha laki-laki itu.
Namun laki-laki itu bagaikan menjadi gila. Hampir saja laki-laki itu menerkam Warsi. Tetapi pengendangnya dengan cepat menahannya sambil berkata, “Jangan kau sentuh istriku.”
“Istrimu?” mata orang gemuk itu terbelalak. “Ia masih terlalu muda. Sepantasnya ia adalah anakmu.”
“Ia istriku yang muda. Aku mempunyai tujuh orang istri. Kecuali jika kau dapat mengalahkan aku,” jawab tukang gendang itu.
“He,” wajah orang gemuk itu menjadi cerah. “Kau menantang aku berkelahi untuk mendapatkan perempuan cantik itu?”
“Ya. Berkelahi dengan jujur,” jawab tukang gendang itu.
Orang gemuk itu tertawa. Katanya, “ Bagus. Kita akan berkelahi dengan jujur.”
Dalam pada itu, keributan itu justru telah mengundang banyak orang yang kemudian mengerumuninya. Mereka saling bertanya, apa yang sudah terjadi.
Akhirnya orang-orang yang berkerumun itu mengetahui, bahwa orang bertubuh gemuk itu akan berkelahi melawan tukang gendang dari serombongan tukang ngamen untuk memperebutkan penari yang cantik dari rombongan itu.
“Jika kerbau itu menang, ia akan dapat membawa penari itu pulang. Mungkin untuk semalam. Mungkin untuk waktu yang tidak disebut. Aku tidak jelas, bagaimana bunyi perjanjiannya,” desis seseorang yang mencoba menjelaskan kepada kawannya.
“Tetapi ia adalah orang yang sangat berbahaya,” jawab orang yang lain. “Mudah-mudahan ia membentur batu kali ini. Kegemarannya mengganggu perempuan-perempuan yang cantik bahkan tidak cantik pun sangat meresahkan tetangga-tetangga kita.”
(Bersambung)-m

Rabu, 14-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 069
“SAYANG, ia adalah seorang yang memiliki kemampuan yang tidak terkalahkan di padukuhan ini, sehingga ia dapat berbuat apa saja,” berkata orang yang pertama.
Namun dalam pada itu, orang-orang yang semakin banyak berkerumunan disudut padukuhan itu pun telah menebar dan tanpa diminta membuat suatu lingkaran.
Namun kebanyakan dari mereka menjadi cemas melihat perkelahian yang akan terjadi. Pengendang yang menyebut dirinya suaminya penari yang telah diganggu oleh orang gemuk itu bertubuh kecil meskipun agak tinggi. Umurnya sudah lebih tua dari calon lawannya. Namun bagi beberapa orang yang sempat melihat matanya, hatinya menjadi berdebar-debar. Mata orang itu demikian tajamnya memandang sasarannya bagaikan tajamnya mata burung hantu.
Sejenak kemudian kedua orang itu sudah berhadapan di arena. Warsi sendiri nampak acuh tak acuh saja. Ia duduk di antara para pengiringnya yang lain. Sekali-kali ia mengerling ke arah orang bertubuh gemuk itu. Jika orang itu kebetulan memandanginya, maka Warsi pun tersenyum menggoda.
“Gila,” geram orang gemuk yang benar-benar telah menjadi gila itu.
“Nah,” berkata tukang gendang itu,” Apakah kau ingin meneruskan niatmu. Jika kau menang, bawa istriku kerumahmu sampai kapan kau kehendaki. Tetapi jika kau kalah, maka kau akan membayar rombongan ini sebagai-mana kau meminta kami bermain. Kau telah memberikan uang kepada istriku. Tetapi untuk sekali bermain, kami memerlukan sepuluh kali lipat.”
“Gila,” orang itu berteriak, “Kalian memang gila. Ayo, melangkah maju. Tubuhnya yang kecil dan umurnya yang lebih tua dari orang gemuk itu sama sekali tidak memberikan harap-an apa-apa kepadanya untuk dapat memenangkan perkelahian itu.
Sementara itu, salah seorang pengiring Warsi berkata, “Bukankah benar-benar orang itu harus menakut-nakuti penonton yang ugal-ugalan.”
Kawannya mengangguk, sementara Warsi berpaling kepadanya sambil berkata, “Jika gagal, apaboleh buat. Aku sendiri akan memilin leher laki-laki gila itu.”
“Kau memancing persoalan,” desis salah seorang pengiringnya yang lain.
“Kenapa?” bertanya Warsi
“Kau tersenyum kepadanya, bahkan kau menyentuh tubuhnya. Karena itu ia menjadi gila,” jawab pengiringnya.
Warsi tersenyum. Katanya, “Aku memang ingin menghilangkan kejemuanku. Aku sangat mengalami tekanan batin di Tanah Perdikan Sembojan karena aku tidak dapat membunuh Wiradana. Aku ingin sekadar melepaskan kerisauan itu. Dengan permainan ini, maka aku akan merasa sedikit terhibur.” Pengiringnya mengumpat di dalam hati. Warsi memang seorang perempuan yang berhati seruncing garangan pering wulung.
Dalam pada itu dua orang laki-laki telah berhadapan di arena perkelahian dengan taruhan yang aneh. Seorang penari yang sangat cantik.
Orang-orang yang mengerumuni arena itu menjadi berdebar-debar ketika laki-laki gemuk itu melangkah maju sambil berkata lantang, “Aku patahkan pinggangmu yang kurus itu.”
Bagi orang-orang padukuhan itu, orang yang gemuk itu adalah orang yang tidak terkalahkan. Karena itu, maka sebagian dari mereka merasa sangat kasihan kepada orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu yang harus berkelahi untuk mempertahankan istrinya.
Dalam pada itu, orang yang bertubuh gemuk itu berjalan saja maju seperti seekor kerbau tanpa menghiraukan apakah lawannya akan memukulnya. Dengan langkah tetap dan dada tengadah ia melangkah. Tangannyalah yang mengepal dan kemudian telah siap untuk memukul lawannya.
Cara itu adalah cara yang tidak dimengerti oleh orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.
(Bersambung)-m
Kamis, 15-08-2002
SH
Mintardja - Suramnya
Bayang-Bayang : Suramnya Bayang-Bayang 070 |
NAMUN ketika tangan itu benar-benar
terayun, maka orang bertubuh tinggi itu telah bergeser sambil memutar
tubuhnya.
Gerak yang sederhana itu telah menimbulkan keheranan bagi
orang-orang yang menyaksikannya. Tangan orang bertubuh gemuk itu
terayun dengan derasnya. Namun sama sekali tidak menyentuh sasaran.
Karena itu ia justru terseret oleh ayunan tangannya sendiri dan bahkan
terhuyung-huyung beberapa langkah. Hampir saja ia kehilangan
keseimbangan. Namun akhirnya ia berhasil berdiri tegak.
Wajah orang itu menjadi merah menyala. Dipandanginya tukang gendang
yang bertubuh tinggi itu. Dengan kemarahan yang menghentak didadanya
ia berkata, "Anak setan. Aku ternyata telah salah menilai kau
orang kurus. Aku kira kau adalah pengamen yang tidak berharga sama
sekali. Namun agaknya kau memiliki sedikit kemampuan dalam olah
kanuragan. Jika demikian, maka aku pun akan mempergunakan cara yang
lain untuk menghadapimu."
Tukang gendang itu tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tegang. Namun
sementara itu Warsi masih duduk saja di antara para pengiringnya yang
lain tanpa menunjukkan kesan apapun juga. Bahkan ia masih saja
tersenyum meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya.
"Apa katamu tentang orang itu?" bertanya salah seorang
pengiringnya.
Pengiringnya hanya mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak bertanya
lagi.
Dalam pada itu, orang yang bertubuh gemuk, yang gagal merontokkan iga
tukang gendang itu telah bersikap. Benar-benar sikap seorang yang
memiliki ilmu kanuragan.
"Aku akan bersungguh-sungguh sekarang," berkata orang gemuk
itu. "Aku tidak lagi menganggap kau sekadar seorang pengamen yang
bodoh. Tetapi kita akan berkelahi dengan ilmu."
Tukang gendang itu sama sekali tidak menjawab. Namun demikian ia sudah
bersedia menghadapi segala kemungkinan.
Demikianlah, maka sejenak kemudian orang bertubuh gemuk itu
benar-benar telah menyerang. Ia tidak sekadar berjalan mendekati lalu
memukul dengan sekuat tenaganya. Tetapi ia benar-benar telah
mempergunakan kemampuannya dalam olah kanuragan.
Serangan-serangannya kemudian menjadi lebih mapan dan
bersungguh-sungguh. Ketika tangannya menyerang mengarah dada, namun
dihindari, maka tiba-tiba saja tangan itu telah berubah arah dengan
serangan mendatar.
Untunglah lawannya bergerak cukup cepat. Sambil merendahkan diri, maka
kakinya telah terjulur mematuk lambung. Namun orang bertubuh gemuk itu
masih sempat meloncat surut, sehingga kaki itu tidak mengenai
sasarannya.
Orang bertubuh gemuk itu mengumpat. Ia menjadi semakin yakin bahwa
lawannya memang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Karena itu,
maka ia pun menjadi semakin berhati-hati. Namun justru dengan demikian
serangan-serangannya menjadi semakin mapan.
(Bersambung)-m
|
Buy
1 Get 1 FREE!!!

Buy it at AllPosters.com
Langsung ke KR
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 14/VIII/2002
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|