Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Jumat, 26-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 051

 Demikianlah, maka mereka pun sepakat untuk melakukan cara itu. Warsi pun telah berusaha untuk memperbaiki tata gerak tarinya dan mencoba meningkatkan kemampuannya melontarkan tembang, sementara sekelompok kecil laki-laki telah berlatih menjadi pemukul gamelan yang akan mengiringi Warsi ngamen di daerah Tanah Perdikan Sembojan.

 Menjelang selapan hari dari hari perkawinan Wiradana, maka sekelompok kecil orang-orang yang menyimpan dendam di dalam hatinya, telah mulai melakukan tugas mereka. Agar tidak menarik perhatian orang-orang yang pernah mengenali mereka dalam hidup mereka sehari-hari, maka mereka meninggalkan padukuhan mereka di malam hari, pada saat orang-orang tidur lelap. 

Namun, demikian mereka sampai ke daerah yang tidak mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari, maka mereka pun mulai melakukan sebagaimana mereka rencanakan. Bahkan sebelum mereka memasuki Tanah Perdikan Sembojan, mereka sudah ngamen, justru untuk menghindari pertanyaan tentang gamelan yang mereka bawa. 

Ternyata bahwa usaha mereka cukup berhasil. Bukan saja kelompok kecil itu tidak dicurigai oleh orang-orang di padukuhan yang mereka lalui, tetapi mereka benar-benar telah mendapat uang. 

Sebenarnyalah Warsi adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Dengan bekal kemampuannya menari, senyumnya dan tingkah lakunya, maka Warsi benar-benar telah menarik perhatian setiap laki-laki yang melihatnya. 

Karena itulah, maka rombongan penari yang ngamen itu pun telah mendapat tanggapan yang sangat hangat dari orang-orang di padukuhan-padukuhan yang dilaluinya. Selain Warsi memang seorang yang cantik dengan kepandaiannya ternyata cukup baik sebagai seorang yang sedang ngamen. 

Tetapi dengan demikian, perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin lambat. Mereka tidak dapat menolak, jika seseorang memanggilnya dan meminta rombongan itu bermain di halaman rumahnya. Bahkan kadang-kadang Warsi harus bermain di sudut-sudut padukuhan untuk memenuhi keinginan beberapa orang untuk menarik janggrung yang agak kasar. 

Namun Warsi tidak ingin kelompok kecil itu dicurigai, sehingga karena itu, maka permintaan itu pun harus dipenuhinya. 

Ngamen itu sendiri ternyata telah membawa pengalaman tersendiri bagi Warsi. Di beberapa tempat ia sempat melihat, beberapa orang laki-laki yang kasar justru telah saling berkelahi karena mereka ingin dan berebut dahulu untuk menari bersama Warsi. Mereka semula hanya saling dorong dan saling berebut sampur. Namun akhirnya mereka telah benar-benar berkelahi. 

Karena itulah, maka beberapa orang perempuan di padukuhan-padukuhan menjadi prihatin. Apalagi yang suaminya telah menjadi tergila-gila tledek yang ngamen di padukuhan itu. 

Tetapi ada satu hal yang membuat perempuan-perempuan itu berbesar hati. Warsi menolak setiap usaha untuk memperkenalkan diri melampaui batas-batas antara penonton, sejauh-jauhnya menari bersama dengan mereka apabila mereka ngibing dalam tarian janggrung. 

Dengan demikian, maka perjalanan kelompok kecil itu menjadi lebih lambat dari yang mereka perhitungkan. Baru beberapa hari kemudian mereka mendekati Tanah Perdikan Sembojan, dan kemudian memasukinya. 

“Jangan melakukan tari yang kasar,” berkata salah seorang penabuh, “Kita harus menghindari permainan janggrung. Karena jika terjadi keributan seperti yang pernah kita alami, beberapa orang laki-laki saling berkelahi, maka kita akan dapat diusir dari Tanah Perdikan yang tertib ini.” 

(Bersambung)-m

Sabtu, 27-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 052

 Warsi mengangguk-angguk. Ia pun sependapat, bahwa di Tanah Perdikan Sembojan ia akan menari lebih sopan dan baik daripada sepanjang perjalanan yang telah ditempuhnya. Sebenarnyalah, pengalaman di sepanjang jalan itu memberikan kegembiraan tersendiri kepada Warsi. Meskipun ia sendiri tidak menunjukkan, bahwa jika ia sedikit saja melepaskan ilmunya maka laki-laki kasar yang saling berkelahi itu akan menjadi pingsan karenanya. Dengan demikian Warsi telah berhasil mengekang dirinya dan benar-benar berperan sebagai seorang tledek yang cantik dan menarik.

 Demikianlah, rombongan kecil penari dan pengiringnya itu telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Sebelum kelompok itu, memang pernah datang kelompok-kelompok seperti itu. Namun kelompok-kelompok pengamen itu memang agak kurang mendapat perhatian di Tanah Perdikan Sembojan. 

Namun ketika untuk pertama kalinya Warsi kebar di sudut sebuah padukuhan, maka tanggapan para penontonnya agak lain. Penari yang satu ini menari dengan cara yang jauh lebih baik dari penari-penari yang pernah mereka lihat. Dengan luruh Warsi membawakan tari-tariannya dalam irama yang lambat. Sama sekali bukan sebuah tarian yang dapat menarik penontonnya untuk memasuki arena dalam irama yang panas dan bahkan kadang-kadang membakar. 

Karena itulah, maka rombongan kecil yang membawa hanya seorang penari itu tidak terlalu banyak mengundang persoalan. Mereka yang telah menyaksikan Warsi menari menganggap bahwa penari yang satu ini adalah seorang penari yang baik. Bukan saja tingkah lakunya, tetapi juga tariannya. Sehingga dengan demikian, kelompok kecil itu tidak menumbuhkan satu keinginan dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan untuk menolaknya. 

“Agaknya kelompok ini berbeda dengan kelompok-kelompok lain yang pernah lewat di Tanah Perdikan ini,” berkata salah seorang yang telah menonton rombongan Warsi yang kebar di sudut padukuhan. 

“Ya,” jawab yang lain, “Nampaknya mereka benar-benar sekadar mencari makan tanpa niat buruk seperti rombongan-rombongan lain yang dapat merusak rumah tangga.” 

Tanggapan yang baik itu ternyata memang sangat menguntungkan bagi Warsi. Ketika ia kemudian kebar lagi di tempat lain, maka ia pun telah mendapat tanggapan yang sama. Warsi menari dengan sikap yang sopan dan baik. Bahkan seakan-akan ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya yang selalu tunduk. Tari-tariannya pun tidak pernah diiringi dengan gending-gending panas sebagaimana kebanyakan rombongan tledek yang lain. 

Karena itulah, maka ketika pengendangnya, yang menjadi pemimpin dari rombongan itu mohon kepada seorang bekel di sebuah padukuhan dalam daerah kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan untuk bermalam di Banjar, maka atas pertimbangan beberapa orang bebahu padukuhan itu, maka bekel itu pun sama sekali tidak berkeberatan. 

Kepada bekel itu, pengendang yang menjadi pemimpin rombongan itu pun mengaku, bahwa Warsi adalah anak gadisnya. Mereka melakukan ngamen itu justru karena terpaksa sekali. 

“Daerah kami telah dilanda kekeringan. Musim kemarau yang terlalu panjang menimbulkan paceklik yang sulit diatasi. Karena itu maka untuk menyambung hidup kami, kami telah melakukan cara yang barangkali tidak terhormat ini,” berkata pengendang itu kepada Ki Bekel. 

“Terhormat atau tidak, tergantung kepada kalian sendiri. Jika kalian benar-benar sekadar menyambung hidup, tanpa menimbulkan persoalan di tempat-tempat kalian mencari nafkah, maka aku kira yang kalian lakukan itu masih cukup terhormat,” jawab Ki Bekel. 

“Ya Ki Bekel. Kami memang berusaha untuk tidak menimbulkan persoalan. Karena itu, kami berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Kami benar-benar sekadar mencari penyambung hidup kami yang sulit,” berkata tukang kendang yang menjadi pemimpin rombongan tledek itu. (Bersambung)-b

 

Minggu, 28-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 053

 Demikianlah, ternyata rombongan Warsi itu dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Sembojan. Mereka sama sekali tidak menaruh keberatan. Bahkan beberapa orang yang mendengar alasan kedatangan mereka menjadi belas kasihan.

 “Kasihan sekali gadis yang cantik itu,” berkata seseorang, “Ia sama sekali tidak pantas menjadi tledek. Seharusnya ia menjadi istri seorang bekel atau seorang demang. Nampaknya ia masih malu ditonton orang. Namun agaknya desakan paceklik yang tidak teratasi telah memaksanya untuk memenuhi perintah orang tuanya.” 

“Ketika ia mulai belajar menari, mungkin sama sekali tidak terbayang di angan-angannya, bahwa pada suatu ketika ia akan menjadi seorang tledek,” berkata yang lain. 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun justru dengan demikian rencana Warsi dapat berjalan dengan rancak tanpa hambatan. Ia sudah diterima dengan baik di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tinggal berusaha untuk dapat memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan. 

Usaha itu bukankah usaha yang sulit. Ketika semuanya sudah direncanakan dengan masak, maka pada suatu hari, rombongan kecil itu telah meninggalkan banjar dan berangkat menuju ke padukuhan induk. Agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, maka Warsi menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan pada sore hari. 

Ketika matahari mulai terbenam di ujung Barat, Warsi mulai kebar di sudut padukuhan induk. Suara gamelannya telah mengumandang, memanggil para penghuni padukuhan. Sebagian besar dari mereka telah pernah mendengar, bahwa ada sekelompok orang ngamen yang memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi kelompok ini adalah kelompok yang manis. Tidak menunjukkan tari-tarian yang panas dan kasar, yang dapat menumbuhkan persoalan bagi keluarga yang kurang teguh imannya. Sehingga dengan demikian maka rombongan ini benar-benar hanya satu jenis tontonan yang menyenangkan. 

Sejenak kemudian, maka sudut padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah penuh dengan orang-orang yang ingin menonton. Di bawah lampu minyak yang terang, mereka menyaksikan seorang gadis cantik yang menari dengan gerak yang gemulai sambil menundukkan kepalanya. Seolah-olah gadis itu sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya memandang orang-orang yang berkerumun menyaksikan dan mengaguminya. 

“Gadis itu cantik sekali,” desis seorang anak muda. 

“Sayang sekali, bahwa ia terperosok ke dalam satu kehidupan yang memelas,” sahut kawannya. 

“Tetapi bukankah itu lebih baik baginya daripada ia menempuh cara hidup yang sesat dengan memanfaatkan kecantikannya dan kepandaiannya menari? Perempuan lain mungkin akan berbuat jauh lebih dalam dari yang dilakukan. Perempuan lain akan menari sambil menengadahkan wajahnya. Memandang setiap laki-laki dengan kerling mata yang memukau. Namun yang kemudian memaksa laki-laki melemparkan uang seberapa saja yang ada di dalam sakunya. Bahkan mungkin akan dapat dilakukan satu pelanggaran yang lebih jauh dan gawat, sehingga seseorang akan dapat menjual rumah, halaman, kerbau dan sapinya bahkan sawah dan ladangnya,” berkata anak muda yang pertama. 

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi sambil tersenyum ia berkata, “He, agaknya kau sudah tertarik kepada kecantikan gadis itu.” 

“Aku memang menganggapnya seorang gadis yang sangat cantik. Nampaknya kelakuannya tidak tercela. Aku berkata dengan jujur,” jawab yang pertama. Lalu, “Aku kasihan kepadanya. Justru karena paceklik yang ganas, ia harus menjalani hidup seperti itu. Menjadi tontonan dan tidak mustahil ada saja laki-laki yang mengganggunya.” 

“Pengiringnya tentu akan melindunginya,” sahut kawannya. (Bersambung)-m

 

Senin, 29-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 054

 Anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara itu mereka pun telah terpukau oleh gerak Warsi yang diiringi oleh irama gamelan yang ngerangin meskipun dengan gamelan yang sederhana. Irama yang lembut dan wajah yang tunduk memang dapat menyentuh perasaan para penontonnya. Sehingga ketika salah seorang pengiringnya mengedarkan tambir untuk mendapat sumbangan dari para penontonnya, maka beberapa orang dengan tidak segan-segan telah melemparkan uang yang mereka bawa ke dalam tambir itu.

 Malam itu adalah malam yang pertama Warsi menginjakkan kakinya sebagai seorang penari di padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Malam itu Warsi masih belum menerima permintaan khusus untuk menari di halaman seseorang. Malam itu Warsi masih menari dalam rangka memperkenalkan diri dan dengan rendah hati seorang pengiringnya mengedarkan tambir untuk menerima kemurahan hati para penontonnya. 

Dengan perkenalannya malam itu. Ternyata Warsi berhasil menarik perhatian beberapa orang. Ada beberapa alasan dari mereka yang di hari-hari berikutnya memanggilnya untuk menari di halaman dengan imbalan tertentu. Ada yang karena belas kasihan, tetapi ada juga yang ingin menatap kecantikannya. 

Bahkan dengan kecerdikan yang terselubung, pengendangnya berhasil memohon untuk dapat tinggal di banjar padukuhan induk barang dua tiga hari. 

Ketika permohonan itu disampaikan kepada Wiradana maka Wiradana masih belum banyak memperhatikan kehadiran sekelompok orang-orang ngamen di Tanah Perdikannya. Ia hanya menanyakan kepada beberapa orang pembantunya apakah permohonan itu sebaiknya dikabulkan atau tidak. 

“Kelompok ini agaknya kelompok yang baik,” jawab salah seorang pembantunya. “Tidak ada kesan yang dapat menumbuhkan ketidaksenangan seseorang kepada kelompok ini. Bahkan dapat memancing belas kasihan beberapa orang yang menyaksikannya dan mendengar kisah, kenapa seorang gadis yang cantik harus ikut dalam kelompok ngamen seperti itu.” 

“Jika kalian tidak berkeberatan, maka terserah sajalah,” jawab Wiradana. “Aku sendiri belum pernah melihat tontonan itu.” 

“Setiap sore, sebelum berangkat berkeliling, rombongan itu lebih dahulu telah kebar di halaman banjar meskipun tidak terlalu lama,” jawab pembantunya. 

Wiradana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia memang belum menyempatkan diri untuk melihat pertunjukan yang menarik itu. 

Namun dalam pada itu, Wiradana masih terhitung pengantin baru itu telah kembali ke dalam tugas-tugasnya. Kadang-kadang ia berada di padukuhan-padukuhan sampai larut malam. 

Tetapi pada satu saat, terbersit pula keinginannya untuk melihat tontonan yang menjadi bahan pembicaraan banyak orang itu. Apalagi kadang-kadang ia juga mendengar suara gamelan yang dihanyutkan angin menyentuh daun telinganya. Namun rasa-rasanya ia masih belum mempunyai waktu. 

Adalah satu kebetulan, bahwa ketika Wiradana berada di satu padukuhan yang sedang menyelesaikan perbaikan bendungan dan dengan sengaja mengundang rombongan kecil itu sebagai pelepas lelah dimalam hari, maka Wiradana menyaksikan tontonan itu di tepian, di atas pasir di bawah bendungan. 

Ketika terpandang olehnya wajah gadis penari yang cantik itu, maka rasa-rasanya jantungnya berdenyut semakin cepat. Namun dengan segera ia berusaha untuk mengendalikan diri. Bahkan di dalam hatinya ia berkata, “Aku sudah seorang pengantin baru.” 

Namun demikian, kesempatan Wiradana menyaksikan tontonan itu di tepian, telah membawa akibat yang berkepanjangan. Penglihatannya yang sekilas itu telah membawanya untuk menyaksikan penari itu pada kesempatan berikutnya. 

(Bersambung)-k

 

 

 

 Banner 10000004

 

Selasa, 30-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 055

 Meskipun Wiradana tetap pada kesadarannya, bahwa ia baru saja menginjak masa perkawinan, namun gadis penari itu memang seorang gadis yang cantik di matanya. 
Dalam pada itu, Warsi pun sadar sepenuhnya, bahwa ia sudah berhasil menarik perhatian Wiradana. Anak Ki Gede Sembojan yang telah membunuh pamannya. Ia pun selalu ingat, bahwa setelah selapan ia harus memancing Wiradana itu untuk dapat bertemu seorang diri. Atau ia dengan sengaja menyelidiki, pada saat-saat yang manakah Wiradana mengunjungi padukuhan-padukuhan atau kebiasaan-kebiasaan yang lain yang dapat memberinya kesempatan untuk bertemu seorang dengan seorang.

 “Aku harus membalaskan dendam seluruh keluarga Kalamerta. Menurut pengamatanku, laki-laki ini masih belum mampu menguasai ilmunya dengan sempurna,” berkata Warsi di dalam hatinya. 

Dengan demikian, maka Warsi pun berusaha untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan berikutnya, agar Wiradana memperhatikannya. 

Hampir tidak terduga oleh Warsi sendiri, ketika pada satu sore, sebelum rombongan itu kebar di halaman banjar tiba-tiba saja Wiradana sudah ada di banjar itu. Bahkan Wiradana telah menyempatkan diri untuk bertemu dengan rombongan yang sudah berhias dan siap untuk mulai dengan kebarnya di halaman. 

Dalam pada itu, sebenarnyalah Warsi seorang gadis yang sangat cantik. Dalam jarak yang lebih dekat, Wiradana sempat melihat kecantikan Warsi yang wajahnya selalu menundukkan seakan-akan ia tidak mempunyai keberanian untuk bertatap muka dengan Wiradana. 

Namun dalam pada itu, setiap kali Warsi pun telah mencuri pandang. Selagi Wiradana berbincang dengan anggota rombongan kecil itu, sekali-kali Warsi sempat memandang wajah anak muda itu. 

Tidak ada yang memperhatikan kerut wajah Warsi yang sudah berhias, sehingga nampaknya ia semakin cantik. Tidak ada pula yang melihat apa yang sebenarnya tersirat di hati perempuan itu. 

Demikianlah, Wiradana sempat berbincang-bincang beberapa lamanya dengan rombongan kecil itu. Juga dengan Warsi sendiri. 

“Silakan,” berkata Wiradana kemudian, “Kami menerima kalian dengan senang hati. Terbukti hampir setiap malam kalian mendapat panggilan di beberapa rumah di berbagai padukuhan dalam kepentingan yang berbeda. Ada yang hanya sekadar ingin bersenang-senang. Tetapi ada yang justru untuk menutup satu kerja yang cukup melelahkan. Tetapi pada dasarnya kami tidak berkeberatan atas kehadiran kalian disini.” 

Demikianlah, ketika Wiradana meninggalkan banjar sebelum kebar, pengendang yang menjadi pemimpin rombongan itu berdesis ditelinga Warsi, 

“Dua hari lagi, pengantin itu akan mengadakan upacara selamatan. Memang tidak terbiasa untuk mengadakan upacara di selapan hari yang biasanya dilakukan untuk pengantin hari kelahiran. Tetapi agaknya ada juga orang-orang terpandang yang melakukan upacara untuk memperingati hari perkawinan. Dan setelah itu, maka kau akan dapat segera menyelesaikan tugasmu. Isteri Wiradana akan segera menjadi janda.” 

(Bersambung)-m
 

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

Rabu, 31-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 056

 WARSI mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita harus tahu, kapan Wiradana berada di luar padukuhan induk seorang diri.”

 “Menilik cara hidupnya, maka kesempatan banyak kau peroleh. Ia sering berada di padukuhan-padukuhan di luar padukuhan induk dan kembali seorang diri justru pada malam hari. Sebagaimana diceriterakan oleh para pengawal Tanah Perdikan ini,” berkata salah seorang pengiringnya. 

“Kita harus meyakinkannya,” jawab Warsi. “Mulai nanti malam, aku akan menyelidikinya.” 

“Tidak sekadar menyelidiki,” berkata pengiringnya. “Jika kesempatan itu ada, kau langsung dapat bertindak.” 

“Bukankah masih belum selapan?” bertanya Warsi. 

“Jangan terikat dengan selapan. Selapan hanyalah ancar-ancar waktu yang akan kau berikan kepada istri Wiradana. Kurang satu atau dua hari sama sekali bukan soal,” berkata pengendangnya. 

Tetapi Warsi mengerutkan keningnya. Dengan sungguh-sungguh ia menjawab, “Yang akan membunuhnya aku atau kau?” 

Para pengiringnya telah mengenal sifat Warsi dengan baik. Karena itu, maka mereka tidak menyahut lagi. Segalanya memang terserah kepada Warsi. 

Demikianlah seperti yang dikatakan. Lewat tengah malam, jika orang-orang Sembojan telah tidur lelap, Warsi telah keluar dari banjar tanpa diketahui oleh para peronda. Menurut pengetahuan para peronda, orang-orang dalam rombongan tledek itu telah tertidur kelelahan. Mereka kembali dari ngamen beberapa saat sebelum tengah malam. Sehingga ketika tidak ada lagi suara bercakap-cakap di antara mereka, maka para peronda pun menyangka bahwa mereka telah tertidur nyenyak. 

Namun dalam pada itu, Warsi dalam keadaan yang khusus telah berada disekitar rumah Ki Gede. Beberapa orang peronda masih berjaga-jaga di regol halaman. Agaknya Sembojan masih belum melupakan kemungkinan hadirnya kembali orang-orang yang semula menjadi pengikut Kalamerta dan yang telah dihancurkan oleh Wiradana. 

Sementara itu, ternyata bahwa Wiradana memang sering berada di antara para peronda. Bahkan ketika Warsi telah melakukan pengamatan itu barang tiga hari, maka ia pun mengetahui bahwa Wiradana sering keluar dari halaman rumahnya melihat-lihat gardu-gardu peronda yang lain seorang diri. 

Dengan demikian, maka Warsi pun melihat satu kemungkinkan untuk memancingnya keluar padukuhan dan menantangnya perang tanding untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan mati terbunuh. Tetapi Warsi yakin, bahwa ia akan dapat memenangkan perang tanding itu. Menurut penglihatannya Wiradana memang bukan orang yang memiliki ilmu seperti ayahnya. 

Namun sejauh itu, ia masih belum berbuat sesuatu. 

“Warsi,” berkata pengendangnya, “Kemarin waktu yang selapan itu telah datang. Hari ini kita sudah berada di luar batas waktu yang kau berikan. Karena itu, agar kita tidak terlalu lama berada disini, maka kau akan dapat bertindak secepatnya.” 

Warsi mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Kita salah memilih waktu. Tetapi sulit bagi kita untuk merubahnya. Jika kita tetap berkeliling disiang hari, maka kita mempunyai banyak kesempatan. Benar seperti yang kita dengar, bahwa Wiradana sering berada di padukuhan-padukuhan kecil dan kembali ke padukuhan induk di malam hari. Tetapi pada saat itu, aku masih harus menari. Ia kembali ke padukuhan induk tidak lebih dari saat sirep bocah. Sementara itu, pertunjukan masih dalam suasana yang paling mantap untuk satu pertunjukan.” 

“Jadi, bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya tukang gendangnya. 

(Bersambung)-m
 

 

 VirusAlert_468x60


Kamis, 01-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 057

 “AKU sudah menyelidikinya. Aku yakin, bahwa pada suatu saat aku akan dapat memancingnya keluar,” jawab Warsi. “Memang pada saat sirep bocah ia kembali dari padukuhan-padukuhan lain meskipun ternyata tidak setiap hari menurut keterangan yang aku dengar dan barangkali juga kalian dengar dari peronda-peronda itu. Tetapi biasanya ditengah malam Wiradana juga keluar rumahnya dan melihat gardu-gardu di padukuhan induk ini.” 
“Nah, bukankah kau mempunyai kesempatan juga?” bertanya salah seorang pengikutnya.

“Jangan dungu. Aku tentu akan dapat melakukannya di padukuhan induk ini. Tetapi aku harus memancingnya keluar, agar tidak ada yang ikut campur, apalagi para pengawal,” jawab Warsi. 

“Segalanya terserah kepadamu. Yang penting, Wiradana sukur Ki Gede dapat kau bunuh,” berkata pengendangnya. 

“Kau hanya tahu hasilnya. Tetapi kau tidak mau tahu kesulitan-kesulitan yang dapat timbul,” geram Warsi. 

Para pengiringnya tidak menyahut lagi. Mereka tidak banyak dapat berbuat. Karena itu, segalanya memang terserah kepada Warsi. 

Namun, ketika mereka telah berada lebih dari sepuluh hari di tempat itu Warsi masih belum berbuat apa-apa. Pengendangnya dengan cemas berkata, “Warsi. Bagaimana pun juga ramah tamahnya orang-orang Perdikan ini terhadap kita, namun ternyata kita sudah terlalu lama berada disini. Semua padukuhan di Tanah Perdikan ini sudah kita jelajahi. Dan akhirnya kita pun harus dapat mengambil kesimpulan, bahwa pertunjukan kita sudah mulai terasa jenuh bagi orang-orang Tanah Perdikan ini.” 

“Lalu apa yang kau maksud?” bertanya Warsi. 

“Terserahlah menurut pertimbanganmu,” sahut tukang gendang itu. 

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Besok segala-galanya akan berakhir.” 

Pengendangnya mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Sukurlah jika kau sudah mengambil satu ketetapan. Dengan demikian maka kita akan segera dapat kembali ke dalam lingkungan kita sendiri. Meskipun disini diterima dengan baik dan ramah, namun agaknya memang lebih senang hidup di lingkungan keluarga sendiri.” 

“Kita sedang menjalankan satu kewajiban,” berkata Warsi. “Bahkan kita akan mendapat hasil ganda. Kita akan dapat membunuh Wiradana, meskipun barangkali tidak dapat aku lakukan atas ayahnya, dan kita mendapat banyak uang.” 

“Apa artinya uang itu?” jawab tukang genangnya. “Dengan memasuki rumah seorang saudagar kaya maka aku akan mendapatkan lebih banyak dari jumlah yang dapat kita kumpulkan selama tiga ngamen.” 

“Tetapi nilainya berbeda,” jawab Warsi. “Uang yang kita dapatkan dengan kerja itu rasa-rasanya memang memberikan kenikmatan tersendiri kepada kita. Jika kita membeli minuman, terasa alangkah segarnya dan jika kita membeli makanan alangkah nikmatnya. Kita dapat menelannya tanpa ragu-ragu sama sekali.” 

“Sejak kapan kau dapat mengatakannya demikian?” bertanya tukang gendang itu. 

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah. Aku ulangi, besok segala-galanya akan selesai. Tetapi aku tidak akan dapat membunuh ayah Wiradana. Bukankah menurut pendengaran kita, ia menjadi cacat. Biarlah ia tetap hidup dalam keadaan cacat itu. Ia bukan harimau lapar yang siap menerkam dengan garang. Tetapi kini ia tidak lebih dari kucing sakit-sakitan.” 

Tukang gendangnya tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar berharap bahwa dihari berikutnya Warsi akan menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. 

(Bersambung)-m

 

 

 affinity468x60_7

Jumat, 02-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 058

 Demikianlah dihari berikutnya itu, seperti biasa rombongan kecil itu bersiap-siap menjelang senja. Namun ternyata bahwa mereka tidak segera dapat kebar di halaman. Wiradana ternyata telah datang ke banjar untuk menemui rombongan kecil itu. Tidak ada persoalan yang penting. Tetapi ia sekadar didorong oleh satu keinginan untuk berbincang saja. Wiradana sendiri tidak tahu kenapa ia berbuat demikian. Tetapi ia tidak mampu menolak keinginannya untuk berbicara dengan penari yang cantik itu.

 "Kita sudah terlalu lama mendapat kemurahan hati Ki Wiradana," berkata Warsi sambil merendah. "Karena itu seharusnya kami sudah meninggalkan tempat ini untuk melanjutkan perjalanan menjelajahi padukuhan-padukuhan untuk sekadar mengatasi paceklik yang kejam di daerah kami." 

"Kalian tidak perlu tergesa-gesa," sahut Wiradana. "Kalian dapat tinggal disini sampai kapanpun." 

"Tetapi orang-orang Tanah Perdikan ini sudah mulai jenuh dengan tontonan yang tidak berarti ini," desis Warsi sambil menundukkan kepalanya. 

"Tentu belum," berkata Wiradana. "Cobalah untuk beberapa hari lagi. Tetapi jika kalian akan menembus padukuhan-padukuhan lain di luar Tanah Perdikan ini, tetapi tetap tinggal di banjar ini, kami pun tidak berkeberatan." 

"Perjalanan kami akan terlalu jauh," jawab Warsi. 

Wiradana mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, "Bagaimana pun juga, sebenarnya kami akan dapat memberikan tempat sebaik-baiknya kepada kalian. Kecuali jika kalian memang sudah tidak lagi memerlukan tempat ini." 

Warsi mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia mengangkat wajahnya memandang Wiradana. Namun ternyata bahwa sorot mata Wiradana bagaikan mencekam jantungnya, sehingga Warsi itu pun dengan serta merta telah menunduk kembali.

Terasa jantung Warsi bagaikan berdegup semakin cepat. Wiradana ternyata seorang laki-laki yang jauh dari yang dibayangkannya. Jika ia datang dengan membawa dendam yang menyala dihatinya, maka berhadapan dengan laki-laki itu, hatinya bagaikan menjadi lembut sebagaimana hati seorang perempuan. 

Untuk beberapa saat, mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Wiradana itu pun bangkit sambil berkata, "Tanah ini terbuka bagi kalian sampai kapanpun juga kalian kehendaki." 

"Terima kasih," jawab Warsi masih sambil menunduk. Baru ketika Wiradana melangkah meninggalkannya, maka Warsi itu pun mengangkat wajahnya, memandangi langkah yang tegap menjauhinya. Tetapi rasa-rasanya langkah itu meninggalkan kesan yang dalam dihatinya. 

Dalam pada itu, maka waktu kebar pun telah tiba, bahkan biasanya dilakukan lebih awal. Tetapi karena kehadiran Wiradana, maka kebar itu pun terpaksa mundur beberapa saat. Sementara itu di halaman telah banyak anak-anak muda yang datang untuk sekadar melihat Warsi menari meskipun tidak lama, sekadar untuk menghangatkan badannya dan memberikan sedikit hiburan kepada para tetangga, karena rombongan kecil itu sudah bermalam di banjar. 

Seperti biasanya, maka pada saat sirep uwong, menjelang tengah malam, rombongan itu sudah kembali ke banjar. Setelah membenahi gamelan dan diri mereka masing-masing, maka orang-orang dari rombongan itu pun mulai beristirahat. Mereka sekadar minum dan makan, sebelum mereka berbaring di amben di serambi banjar. 

"Malam ini segala-galanya akan selesai," berkata pengendangnya kepada Warsi. 

Warsi memandanginya dengan sorot mata yang asing. Namun kemudian ia pun mengangguk kecil sambil menjawab, "Ya. Segala-galanya harus selesai."
(Bersambung)-m

 

Sabtu, 03-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 059

 "KITA akan berusaha untuk mendapat perhatian para peronda. Mereka harus mengetahui bahwa kita semuanya lengkap berada disini. Mereka tentu tidak akan mengira bahwa kau telah meninggalkan banjar dan membunuh Wiradana. Dengan demikian, maka atas kematian Wiradana tidak akan dapat dilontarkan tuduhan kepada salah seorang diantara kita disini," berkata tukang gendangnya.

 Warsi mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Aku akan pergi." 

Tukang gendangnya mengangguk-angguk, sementara Warsi telah mengenakan pakaian yang khusus. 

Sepeninggalan Warsi, maka tukang gendang yang berada di serambi itu telah berusaha menarik perhatian para peronda untuk menyatakan bahwa mereka sekelompok kecil itu seluruhnya berada di banjar. Jika ada yang tidak nampak di antara mereka, itu adalah Warsi yang mendapat sebuah bilik khusus dibagian samping dari banjar itu. 

Lewat tengah malam, maka tukang gendang itu telah pergi ke gardu dan menemui peronda yang sedang berjaga-jaga. Katanya, "Ki Sanak, apakah kami dapat minta minyak kelapa barang setetes?" 

"Untuk apa?" bertanya peronda itu. 

"Seorang kawan kami telah menderita sakit. Aku kurang pasti, apakah sebabnya. Tadi, ketika kami sedang melakukan kewajiban, agaknya sudah mulai terasa olehnya, bahwa badannya kurang enak. Sekarang sakit itu terasa menusuk," berkata tukang gendang itu. 

"Apanya yang terasa sakit?" bertanya peronda itu. 

"Semula punggungnya merasa pegal. Namun kemudian perutnya pun menjadi mual," jawab tukang gendang itu. 

Peronda itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Coba, aku akan menanyakan kepada tetangga terdekat disebelah. Mudah-mudahan mereka mempunyai minyak kelapa barang setetes." 

"Terima kasih Ki Sanak," jawab pengendang itu. 

Demikianlah, maka peronda itu pun telah pergi ke rumah sebelah, setelah ia menyerahkan tugasnya kepada kawannya. 

Ternyata sebagaimana diminta, maka peronda itu pun telah mendapat minyak kelapa meskipun hanya sedikit. Kepada kawannya di regol, peronda itu berkata, "Aku akan menemui mereka diserambi. Kasihan, seorang di antara mereka sedang sakit." 

Kehadiran peronda itu merupakan saksi, bahwa rombongan pemukul gamelan itu lengkap menunggui seorang kawannya yang sedang sakit. Bahkan ketika seorang kawan peronda itu yang lain datang menengoknya pula, ia pun melihat, semua orang berada di serambi itu kecuali Warsi. Namun ketika para peronda itu melihat pintu bilik di bagian samping banjar tertutup, maka mereka pun menduga, bahwa Warsi yang lelah telah tidur lelap di dalamnya. 

Namun dalam pada itu, Warsi telah berada di halaman rumah di depan rumah Ki Gede Sembojan. Untuk beberapa saat ia menunggu. Kadang-kadang Wiradana memang keluar lewat tengah untuk melihat-lihat para peronda atau bahkan pergi ke gardu di bagian lain dari padukuhan induk itu. Tetapi sudah barang tentu hal itu tidak dilakukan setiap malam. 

"Mudah-mudahan malam ini ia keluar rumah," desis Warsi yang telah beberapa lama menunggu. 

Sebenarnyalah, tiba-tiba saja pintu pringgitan pun telah terbuka. Seorang laki-laki muda muncul dari balik pintu dan berdiri tegak memandang ke kegelapan. Dipinggangnya terselip sebuah pedang yang tidak terlalu panjang. 

Beberapa saat Wiradana berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia pun telah menghambur turun tangga pendapa rumahnya menuju ke gardu. 

Warsi mengamati semua gerak Wiradana dengan seksama. Ada semacam gejolak yang sulit dimengerti. Namun kemudian ia menggeram," Aku harus membunuhnya." (Bersambung)-m

 

Minggu, 04-08-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 060

 Seperti yang diharapkan oleh Warsi, maka Wiradana pun kemudian keluar dari regol halamannya. Berjalan menyusuri jalan induk yang sudah sepi.

 “Akhirnya saat itu datang juga,” desis Warsi, “Aku akan mengikutinya, memancingnya keluar padukuhan dan membunuhnya. Jika perhitunganku tentang kemampuannya keliru, maka akulah yang akan mati. Tetapi itu adalah akibat yang wajar dari dendamku yang membakar jantung. Aku atau Wiradana.” 

Demikianlah, maka Warsi pun mengikuti Wiradana tanpa diketahuinya. Warsi yang sudah mengamati jalan-jalan di padukuhan induk itu mengerti dengan sebaik-baiknya, dimana ia harus mulai memancing calon korbannya. 

Sebagaimana yang direncanakan oleh Warsi, maka ketika Wiradana sampai di sebuah tikungan, maka Warsi telah meloncat langsung ke jalan di belakang langkah Wiradana. Ia sengaja membuat langkahnya dapat memanggil Wiradana untuk berpaling. 

Sebenarnyalah Wiradana terkejut mendengar seseorang meloncat ke jalan yang dilaluinya. Dengan serta merta ia meloncat berputar dan dalam sekejab tangannya telah berada di hulu pedangnya. 

Jantung Wiradana menjadi berdebar-debar. Seorang dengan wajah yang tertutup, telah berdiri tegak di hadapannya. 

“Siapa kau?” bertanya Wiradana dengan dada yang berdebaran. 

Tetapi orang itu tidak menjawab. Dalam pakaian yang serba hitam, maka orang yang berdiri tegak itu nampaknya memang menantangnya. Seorang yang bertubuh kecil, namun nampaknya terlalu tangkas dan bergerak dengan cepat. 

“Siapa kau dan maksudmu?” bertanya Wiradana pula. 

Orang itu tetap tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia bergeser surut. 

“Tunggu,” cegah Wiradana. 

Tetapi orang itu telah meloncat dinding halaman sebelah dan kemudian berlari ke dalam gelap. 

Wiradana menjadi berdebar-debar. Tanpa berpikir panjang, maka ia pun telah menyusulnya. Wiradana telah meloncati dinding halaman itu pula dan mengejar orang yang berlari kedalam kegelapan itu. 

Namun agaknya Warsi memang tidak ingin melepaskan diri. Ia sengaja berlari tidak terlalu cepat. Meskipun ia menyusup pepohonan perdu yang tumbuh dihalaman, namun ia sengaja agar Wiradana selalu dapat mengikutinya kemana ia pergi. 

Sebagaimana diharapkan maka Warsi memang berhasil memancing Wiradana keluar dari padukuhan induk. Demikian Warsi meloncati dinding padukuhan yang tidak terawasi oleh para peronda, maka Wiradana pun telah melakukannya pula. Ia tidak mau kehilangan orang yang mencurigakan itu. Meskipun ia pun sudah menduga, bahwa orang itu sengaja memancingnya. (Bersambung)-o

 

 

 

 spiral_laptop

 



 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 7/VIII/2002

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant