Suramnya Bayang Bayang 491
Tanggal: Rabu, 29-10-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Kiai Badra, Kiai Soka dan orang-orang
dalam rombongan itu pun tertawa pula.
”Nah, sudahlah. Yang penting kalian mengetahui bahwa demikian aku
sampai ke Pajang, maka aku akan mulai. Prajurit-prajurit Jipang itu
sudah terlalu lama menakut-nakuti orang-orang Pajang yang selalu
menjadi gelisah. Bahkan beberapa orang sudah mulai mengungsi masuk
gerbang kota. Agaknya orang-orang Jipang itu memang sudah mulai
mengganggu penduduk,” berkata Ki Tumenggung.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menceriterakan apa yang
telah terjadi dengan dirinya dan Gandar selagi mereka menempuh
perjalanan dari Pajang kembali ke padepokan kecil mereka. Sementara
itu, Kiai Badra pun yakin, bahwa orang-orang Jipang itu tidak akan
datang mengganggu Kademangan yang pernah menjerat mereka ke dalam
kesulitan. Jika terjadi sesuatu atas Kademangan itu tentu dilakukan
oleh orang-orang Jipang yang lain.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Tumenggung itu pun telah minta
diri untuk kembali ke Pajang. Ia berharap bahwa ia tidak akan terlalu
lama diperjalanan, sehingga ia akan dapat mulai dengan segera.
”Malam masih panjang,” berkata Ki Tumenggung. ”Aku berharap bahwa malam
ini dan besok sudah cukup bagi perjalananku untuk mencapai
Pajang.”
”Apakah Ki Tumenggung tidak akan menjadi sangat letih?” bertanya Kiai
Soka.
”Pertanyaan yang aneh,” jawab Ki Tumenggung. ”Jika pertanyaan itu
keluar dari seorang anak muda yang duduk terkantuk-kantuk di pematang
karena pekerjaannya tidak lebih dari menunggui air, aku menganggapnya
wajar.”
Kiai Soka tersenyum. Katanya, ”Satu pertanyaan basa-basi saja Ki
Tumenggung.”
Ki Tumenggung pun tertawa. Lalu katanya, ”Sudahlah. Supaya aku tidak
dihambat oleh kantuk jika aku terlalu malam berangkat dari Tanah
Perdikan ini.”
Kiai Badra dan Kiai Soka pun mengangguk hormat. Sementara itu Ki
Tumenggung berkata kepada Iswari, ”Setelah aku dapat langsung bertemu
dengan orang yang oleh Kiai Badra diusulkan untuk memimpin perlawanan
terhadap keadaan di Tanah Perdikan ini, maka aku yakin bahwa kau akan
dapat melakukannya dengan baik.”
”Aku mohon restu Ki Tumenggung,” desis Iswari sambil menundukkan
kepalanya.
Demikianlah maka Ki Tumenggung Wirajaya dan pengawalnya pun telah
meninggalkan tempat itu untuk langsung kembali ke Pajang sebagaimana
dikatakannya. Ki Tumenggung ingin hari berikutnya meskipun mungkin
malam hari, ia sudah berada di Pajang untuk segera bersama-sama
Panglima pasukan di Pajang mengatur perlawanan terhadap orang-orang
Jipang yang berada dihadapan hidung mereka dibantu oleh orang-orang
dari Tanah Perdikan Sembojan.
Sepeninggalan Ki Tumenggung, maka Kiai Badra pun berbicara dengan
orang-orang di dalam rombongannya, apakah sebaiknya mereka akan
meneruskan permainan mereka malam itu, atau mereka akan kembali ke
Tlaga Kembang, untuk selanjutnya membangun sebuah barak di tempat yang
sudah mereka tentukan.
”Kita sudah berada di Tanah Perdikan,” berkata Iswari. ”Mungkin ada
juga baiknya, malam ini kita teruskan permainan kita.”
”Baiklah,” berkata Kiai Soka. ”Sebaiknya memang kita teruskan agar Nyai
Soka yang sudah telanjur merias diri tidak kecewa.”
”Ah kau,” sahut Nyai Soka. ”Jangan takut, bahwa setiap laki-laki di
Sembojan akan mencari aku Kiai.”
Kiai Soka tertawa. Yang lain pun tertawa pula. Namun Kiai Soka masih
juga berkata, ”Tetapi yang paling sulit bagi kita adalah, apabila
pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini jatuh cinta kepada penari
jalanan kita, sebagaimana pernah terjadi.”
”Ah, kakek,” desis Iswari. ”Ia tidak akan jatuh cinta kepadaku. Itu
sudah pasti. Tetapi mungkin ia akan jatuh cinta kepada perempuan yang
dikenalnya sebagai Serigala Betina itu.”
”O,” sahut Serigala Betina itu. ”Ia akan menjadi suami yang sangat
baik. Jika kelak aku mempunyai anak, maka anak itu akan berhak atas
jabatan Kepala Tanah Perdikan.”
Orang-orang di dalam rombongan itu tertawa. Namun Jati Wulung pun
kemudian berkata, ”jangan panggil lagi perempuan itu dengan Serigala
Betina, agar ia tidak menjadi buas. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 492
Tanggal: Kamis, 30-10-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Ah, kau ini ada-ada saja,” desis perempuan
itu.
“Bukan lagi kebiasaanku,” jawab Iswari. “Hanya sekali ini. Setiap hari
aku memanggilnya dengan namanya.”
“Panggilan itu tidak berpengaruh,” desis perempuan yang disebut
Serigala Betina itu.
Demikianlah, maka iring-iringan itu pun kemudian melanjutkan perjalanan
mereka ke padukuhan sebelah. Mereka sempat kebar di sudut padukuhan dan
memanggil orang-orang padukuhan itu untuk berkerumun. Tetapi tidak
seorang pun di antara orang-orang padukuhan itu, sebagaimana
padukuhan-padukuhan yang lain, yang berani minta rombongan itu untuk
menari di halaman rumahnya, karena mereka masih dibayangi perintah Ki
Wiradana untuk menangkap orang-orang yang dianggap menggelisahkan Tanah
Perdikan itu.
Meskipun demikian mereka tidak dapat menahan diri untuk pergi ke sudut
padukuhan itu menyaksikan pertunjukkan yang sangat menarik dan
menumbuhkan ketegangan di dalam hati mereka, justru karena penarinya
menurut mereka adalah Nyai Wiradana itu sendiri.
Dua tiga padukuhan dilalui malam itu. Ternyata bahwa rombongan itu pun
tidak melanjutkan perjalanan mereka ke Tanah Perdikan, karena mereka
pun segera meninggalkan perbatasan menuju ke padepokan kecil
mereka.
Namun satu hal telah mereka ketahui, bahwa Pajang sudah siap untuk
mulai dengan permainannya. Karena itu maka segalanya harus
dipersiapkannya dengan sebaik-baiknya. Begitu pasukan Pajang mulai
mengusik prajurit Jipang, maka di Tanah Perdikan itu pun harus dimulai
pada langkah-langkah yang serupa.
Dan itu akan terjadi segera setelah Ki Wirajaya sampai di Pajang.
Sebenarnyalah, bahwa di Pajang segala persiapan telah dilakukan. Mereka
hanya menunggu Ki Tumenggung Wirajaya yang mengadakan hubungan dengan
Tanah Perdikan Sembojan. Ketika Ki Tumenggung melampaui batas waktu
yang ditentukan, maka para pemimpin di Pajang menjadi cemas, bahwa
telah terjadi sesuatu dengan Ki Tumenggung. Namun di samping itu,
pasukan Pajang pun telah mendapat perintah untuk bergerak setiap
saat.
Tetapi pada saat yang paling menegangkan, maka Ki Tumenggung Wirajaya
yang telah mereka tunggu itu pun datang. Dengan senyum di bibirnya ia
hadir di barak yang menjadi pusat pembicaraan para manggala di Pajang
untuk mengambil keputusan-keputusan dalam hubungannya dengan kehadiran
pasukan Jipang.
“Aku terlambat setengah malam,” berkata Ki Tumenggung.
“Kami sudah merasa sangat cemas,” jawab seorang Senopati, “Kami sudah
memutuskan untuk membicarakan langkah-langkah yang akan kami
ambil.”
“Jadi kalian sudah mengambil keputusan?” bertanya Ki Tumenggung.
“Kami baru memutuskan untuk mengambil keputusan. Kau mengerti
maksudku?” jawab Senopati itu.
Ki Tumenggung Wirajaya yang selalu tersenyum itu tersenyum pula.
Katanya, “Istilahmu cukup berbelit-belit. Tetapi aku mengerti. Dan
dengan demikian aku masih mendapat kesempatan untuk ikut berbicara
bersama kalian.”
Demikianlah, maka malam itu juga telah dilakukan pembicaraan penting
tentang langkah-langkah yang akan diambil Pajang untuk menghadapi
perkembangan keadaan. Ki Wirajaya pun telah melaporkan hasil
perjalanannya ke Tanah Perdikan Sembojan. Ia baru dapat bertemu dengan
Kiai Badra para saat terakhir dari kunjungannya ke Tanah Perdikan
Sembojan.
“Baiklah,” berkata panglima pasukan Pajang, “Kita akan mulai dengan
rencana kita. Jika orang-orang yang disebut oleh Ki Tumenggung Wirajaya
di Tanah Perdikan Sembojan melakukan langkah-langkah sebagaimana telah
disepakati, maka Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mengirimkan pasukan
tambahan ke Pajang, dan sebaliknya pasukan Tanah Perdikan yang sudah
telanjur berada disini tidak akan dikirim kembali ke Tanah Perdikan
untuk membantu dan menegakkan kedudukan pemangku jabatan Kepala Tanah
Perdikan yang curang itu.”
“Ya,” sahut Ki Tumenggung Wirajaya. “Rencana itu dapat dilaksanakan.
Aku yakin, bahwa rencana itu akan dapat berjalan juga di Tanah
Perdikan.”
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 493
Tanggal: Jumat, 31-10-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Demikianlah,
maka Panglima pasukan Pajang di Pajang itu telah mengambil suatu
keputusan. Keputusan yang dengan cepat akan dilaksanakan berbareng
dengan keberangkatan dua orang penghubung ke pasanggrahan pasukan
Pajang yang berhadapan dengan pasukan Jipang disebelah menyebelah
Bengawan Sore, karena Kanjeng Adipati Hadiwijaya sendiri ada di
pasanggrahan itu, siap menghadapi langkah-langkah yang dapat diambil
oleh Arya Penangsang yang juga berada di pasanggrahannya di antara para
prajuritnya yang terpilih.
Malam itu, para pemimpin di Pajang
masih sempat beristirahat sejenak. Namun demikian fajar mulai
menyingsing, maka para Senopati itu pun telah mempersiapkan pasukannya
masing-masing.
Dengan susunan perang, pasukan segelar sepapan itu pun telah keluar
dari regol kota menuju ke sarang lawan dan memasang gelar menghadapi
pasukan Jipang. Namun pasukan Pajang masih memelihara jarak sehingga
saat itu keduanya masih belum turun memasuki pertempuran.
Para pengamat dari Jipang yang melihat pasukan segelar sepapan telah
berada di luar pintu gerbang, maka mereka pun segera menyusun diri.
Tetapi menilik jarak yang masih terlalu jauh, maka orang-orang Jipang
itu pun menganggap bahwa Pajang masih belum akan bergerak langsung hari
itu juga.
Dalam pada itu, maka para pemimpin Jipang pun telah mengadakan
pembicaraan. Menurut laporan para petugas pengawasan, pasukan Pajang
bukannya pasukan yang sangat kuat.
“Kita akan mampu menghancurkan dan menghalau sisa-sisa pasukan itu,”
berkata Ki Rangga Gupita yang berada di antara pasukan Jipang.
“Meskipun yang nampak itu agaknya jauh lebih kuat dan
bersungguh-sungguh dibandingkan dengan pasukan-pasukan Pajang yang
telah menampakkan diri dihadapan mereka sebelumnya dan menghilang
kembali, masuk ke dalam gerbang kota.”
Dengan demikian maka pasukan Jipang pun telah bersiap. Sebagian dari
pasukannya telah berada di luar padukuhan yang dipergunakannya sebagai
pasanggrahan. Mereka telah memasang kerangka gelar yang akan mereka
pergunakan apabila pasukan Pajang itu benar-benar menyerang. Namun
sementara itu, sebagian yang lain masih saja berada di dalam
padukuhan.
“Jangan menghambur-hamburkan tenaga tanpa arti,” berkata para pemimpin
Jipang. “Nampaknya orang-orang Pajang yang putus asa itu ingin
memancing agar kita menjadi tegang dan kehilangan keseimbangan. Biarlah
orang-orang Pajang itu menghamburkan tenaga mereka sendiri. Tetapi kita
cukup berpengalaman dan tidak terpancing untuk berbuat sesuatu yang
tidak ada gunanya. Namun, meskipun demikian kita harus tetap
berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan. Kita tidak boleh
lengah.”
Dengan demikian maka sebagian dari pasukan Jipang termasuk orang-orang
Tanah Perdikan Sembojan itu masih sempat beristirahat sepenuhnya,
meskipun setiap saat bunyi isyarat mereka harus bersiap memasuki gelar
yang sudah dipasang kerangkanya.
Sebagaimana diperkirakan oleh orang-orang Jipang, maka Pajang tidak
bergerak pada hari itu. Pasukan Pajang tetap berada ditempat mereka
memasang gelar dihadapan pasukan Jipang yang berada disebuah padukuhan.
Padukuhan yang menjadi kosong karena penduduknya telah mengungsi ke
luar padukuhan itu.
Panglima pasukan Pajang telah mendengarkan setiap laporan tentang gerak
pasukan Jipang itu setiap saat. Namun menurut laporan para pengamat,
pasukan Jipang tidak menarik pasukannya ke luar dari padukuhan dan siap
menghadapi pasukan Pajang sepenuhnya. Tetapi mereka hanya sekadar
memasang kerangka gelar.
“Luar biasa,” berkata Panglima pasukan Pajang, “Mereka benar-benar
prajurit pilihan. Mereka tetap tenang dalam keadaan seperti ini.”
Ki Tumenggung Wirajaya mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi
bukankah kita akan mengetrapkan rencana kita dalam keseluruhan termasuk
gerak pasukan?”
“Tentu,” jawab Panglimanya. “Mudah-mudahan kita berhasil mengatasi
pasukan Jipang itu dengan cara kita.”
(Bersambung)-m
SURAMNYA BAYANG-BAYANG 495
Tanggal: Minggu, 02-11-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Namun pasukan Jipang adalah pasukan yang
gigih. Mereka adalah prajurit-prajurit yang ditempa dalam suasana yang
penuh
dengan gejolak perjuangan, karena Adipati Jipang sejak semula merasa
bahwa
haknya atas tahta Demak telah dirampas oleh seseorang yang kemudian
mengalir ke
jalur Sultan Trenggana.
Tetapi bagaimanapun juga kekuatan yang besar dari Pajang dibanding
dengan
kekuatan Jipang, apalagi sergapan yang tiba-tiba itu telah membuat
pasukan
Jipang menjadi kacau.
Dengan kemampuan para pemimpinnya, Jipang berusaha untuk menyusun diri
dalam
gelar perang yang memadai. Gelar yang paling mungkin dicapai untuk
menghadapi
gelar Sapit Urang yang datang dengan garangnya.
Para prajurit Jipang juga berusaha untuk menghadapi pasukan Pajang
dengan
tebaran pasukan, karena mereka tidak mau terperangkap ke dalam
kepungan. Karena
itu, maka pasukan Jipang telah menyusun gelar Wulan Panunggal dengan
meletakkan
kekuatannya pada ujung gelarnya, sementara bagian tengah dari pasukan
Jipang
memang ditarik mundur beberapa lapis. Namun kemudian mereka berusaha
untuk
bertahan pada garis tertentu, sementara kedua ujung pasukannya dengan
tajam
menyerang dan menusuk gelar lawan.
Tetapi kekuatan gelar lawannya juga ada di ujung pasukan. Apalagi
pasukan Pajang
sempat merencanakan dan menyusun gelarnya dengan tertib sehingga
perhitungannya
lebih mapan dari pasukan Jipang yang harus bergerak dengan
tiba-tiba.
Pertempuran semakin lama menjadi semakin seru. Tetapi hentakan pertama
pasukan
Pajang ternyata mempunyai pengaruh yang besar. Perlahan-lahan pasukan
Jipang
memang terdesak, sehingga mereka telah menarik garis surut.
Tetapi pasukan Pajang mendesaknya dengan tanpa ampun. Bagi mereka
pertempuran
itu akan ikut menentukan kedudukan Pajang selanjutnya.
Ternyata bahwa serangan yang tiba-tiba itu memang sulit untuk diatasi
oleh
pasukan Jipang. Betapapun mereka dengan sikap seorang prajurit sejati
bertempur
tanpa mengenal gentar, namun para pemimpin Jipang juga mempunyai
perhitungan
yang dilandasi dengan nalar.
Jika mereka memaksakan diri bertempur terus, maka korban akan semakin
banyak
jatuh, sementara itu mereka tidak akan berhasil mempertahankan diri.
Karena itu,
maka Senapati tertinggi yang memimpin pasukan Jipang itu, setelah
mengadakan
pembicaraan pendek dengan para pembantunya, telah memutuskan untuk
memerintahkan
pasukannya mundur.
Sejenak kemudian, maka isyarat itu pun telah didengar oleh seluruh
pasukan
Jipang. Karena itu, selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka mereka
pun
telah bergerak mundur melintasi bulak-bulak dan pategalan.
Dengan kemampuan seorang prajurit, maka pasukan Jipang yang mundur itu
masih
tetap kelihatan utuh. Sehingga dengan demikian, maka pada saat-saat
tertentu
pasukan itu masih juga mampu memukul lawannya. Bahkan beberapa orang
sempat
membawa kawan-kawan mereka yang terluka. Namun demikian satu dua orang
di antara
mereka yang terbunuh, terpaksa harus mereka tinggalkan.
Pasukan Pajang berusaha untuk mendesak mereka dan memburu pasukan yang
mundur
itu. Tetapi pasukan Jipang mampu mempergunakan pategalan dan
padukuhan-padukuhan
untuk menemukan perisai bagi pasukannya yang sedang mundur itu.
Akhirnya, para pemimpin Pajang memerintahkan pasukannya untuk
menghentikan
pengejaran. Nampaknya para pemimpin pasukan Pajang tidak lagi melihat
manfaatnya
untuk mengejar pasukan Jipang itu terus-menerus. Apalagi langit menjadi
buram
dan senja pun akan segera turun.
Panglima pasukan Pajang yang sehari sebelumnya sempat mengatur gelar
disisi
Timur ternyata telah memimpin langsung pasukan Pajang yang menyerang
kedudukan
pasukan Jipang itu. Dengan demikian maka pasukan Pajang telah menduduki
padukuhan yang untuk beberapa lama telah dipergunakan sebagai
pesanggrahan dari
pasukan Jipang disisi Barat. Tetapi mereka tidak akan tetap berada di
padukuhan
itu.
Sementara itu, maka pasukan Pajang pun telah ditarik kembali. Malam itu
juga
panglima pasukan Pajang itu telah memerintahkan pasukannya untuk
kembali ke
garis gelar pasukannya disisi Timur. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 496
Tanggal: Senin, 03-11-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Hari itu juga pasukan Jipang yang berada
di sisi Timur telah dihubungi oleh dua orang penghubung pasukan Jipang
di sisi Barat. Mereka melaporkan apa yang telah terjadi. Pasukan Pajang
telah mengerahkan pasukannya untuk menyerang kedudukan Jipang di sisi
Barat.
“Gila,” geram Ki Rangga Gupita, “Kita jangan kehilangan waktu. Kita
harus menyerang kedudukan pasukan Pajang di sisi Timur.”
“Kapan?” bertanya seorang perwira.
Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Matahari telah mulai turun
ketika laporan itu sampai kepadanya. Jika ia mempersiapkan serangan,
maka waktunya tinggal sedikit sebelum malam tiba. Karena itu, maka
katanya, “Besok pagi-pagi menjelang fajar kita bersiap. Mudah-mudahan
pasukan Pajang masih belum siap. Sebagian dari mereka ternyata berada
di sisi Barat. Yang nampak oleh kita adalah sekadar bayangan kekuatan
pasukan Pajang. Karena itu, maka besok pagi-pagi benar kita harus
mendahului kehadiran pasukan Pajang yang lebih besar lagi. Mereka
agaknya masih menikmati kemenangan mereka di sisi Barat.”
Rangga Gupita bergerak dengan cepat. Senapati pasukan Jipang yang ada
di sisi Timur itu pun telah menyiapkan pasukannya. Mereka sudah berada
di dalam gelar malam itu, sehingga jika langit menjadi terang esok
pagi, pasukan itu langsung dapat bergerak.
Hampir semalam suntuk para pemimpin pasu- kan Jipang tidak tertidur.
Namun mereka masih juga memperhitungkan keadaan wadag mereka, sehingga
beberapa orang berusaha untuk beristirahat meskipun hanya sekejap.
Ketika fajar menyingsing, maka pasukan pun telah bersiap. Mereka telah
mendapat ransum mereka, karena ada kemungkinan bahwa mereka akan
bertempur sehari penuh, sehingga dengan demikian maka mereka harus
makan lebih dahulu sekenyang-kenyangnya.
Untuk beberapa saat prajurit-prajurit Jipang dan para pengawal Tanah
Perdikan itu sempat beristirahat. Mereka berjalan hilir mudik untuk
memanaskan tubuhnya, serta mendorong makanan yang baru saja mereka
makan turun ke dalam perut.
Rangga Gupita ternyata tidak menunggu sampai matahari terbit. Ketika
semuanya sudah siap, maka ia pun telah berhubungan dengan Panglima
pasukan Jipang dan memberikan beberapa pendapat dan pesan.
“Sekarang sudah saatnya,” desis Rangga Gupita.
Senapati Jipang yang memimpin pasukan di sisi Timur itu pun segera
memberikan isyarat kepada para pemimpin kelompok sehingga sejak
kemudian segalanya telah siap sepenuhnya.
Karena itu, maka Senapati pasukan Jipang itu pun telah memerintahkan
pasukannya untuk menyerang kedudukan pasukan Pajang di luar pintu
gerbang.
Sejenak kemudian, maka pasukan Jipang yang diperkuat oleh para pengawal
Tanah Perdikan Sembojan yang sudah terlatih telah menyerang pasukan
Pajang bagaikan banjir bandang. Dengan sorak yang getap gempita dan
bagaikan memecahkan langit, diiringi oleh isyarat suara bende yang
mendengung memenuhi udara, maka pasukan Jipang itu menghantam pasukan
Pajang digaris gelarnya.
Dalam pada itu, pasukan Pajang ternyata sudah lengkap sebagaimana
dilihat oleh pasukan Jipang pada hari pertama. Mereka yang berada di
sisi Barat telah kembali di dalam gelar yang padat itu.
Hal itulah yang diperhitungkan oleh Rangga Gupita. Mereka yang memimpin
pasukan Jipang itu menduga bahwa sebagian pasukan Pajang tentu ditarik
di sisi Barat dan untuk sementara masih menikmati kemenangan mereka.
Karena itu, maka Rangga Gupita dan para pemimpin pasukan Jipang
mengambil keputusan untuk dengan tergesa-gesa menyerang pasukan Pajang
itu.
Tetapi hal itu sudah diperhitungkan oleh para pemimpin prajurit di
Pajang. Sebagaimana mereka menarik sebagian prajurit Pajang dari
gelarnya di sisi Timur masuk kembali ke dalam regol dan kemudian justru
menyerang ke Barat, maka para prajurit itu pun dengan diam-diam di
malam hari telah merayap kembali ke dalam gelar di sisi Timur. Meskipun
mereka merasa letih dan bahkan beberapa di antara mereka telah dilukai
dengan goresan-goresan kecil, namun mereka sudah siap untuk bertempur.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 497
Tanggal: Selasa, 04-11-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Meskipun demikian
ada juga di antara kawan-kawan mereka yang tidak dapat ikut kembali ke
dalam gelar, karena terluka parah dan bahkan ada di antara mereka yang
terbunuh.
Demikianlah, ketika pasukan Pajang itu menyaksikan
pasukan Jipang berlari-larian menyerang mereka dalam gelar yang utuh,
maka mereka pun telah bangkit pula. Mereka tidak mau didorong dalam
benturan pertama tanpa memberikan hambatan.
Karena itu, maka di antara para prajurit yang ada di dalam gelar itu
pun telah siap menyambut lawan mereka. Sekelompok prajurit yang
terpencar pada bagian-bagin gelar telah berloncatan ke depan sambil
menarik busur mereka. Beberapa orang yang lain justru bergeser surut
mengambil ancang-ancang.
Sejenak kemudian, maka anak panah pun telah berebut terbang di udara.
Suaranya yang berdesing nyaring telah menggelitik jantung. Bahkan
ternyata orang-orang Pajang telah membuat hujan anak panah itu semakin
menggetarkan jantung karena ada beberapa di antara anak panah yang
dilontarkan itu adalah anak panah sendaren.
Tetapi para prajurit Jipang pun cukup terampil. Dengan serta merta maka
prajurit-prajurit yang membawa perisai segera mengambil tempat dipaling
depan. Mereka berusaha melindungi kawan-kawannya dengan perisai mereka.
Mereka berusaha untuk memukul dan mengibaskan anak panah yang
beterbangan di atas kepala mereka.
Namun sejenak kemudian, maka yang menyusul beterbangan di udara adalah
beberapa puluh lembing. Prajurit-prajurit Pajang yang mengambil
ancang-ancang telah melontarkan lembing-lembing yang berada di tangan
mereka.
Dalam pada itu, bagaimana pun juga para prajurit Jipang berusaha untuk
berlindung di balik perisai-perisai namun satu dua ada juga anak panah
dan lembing yang lolos dan mematuk sasaran. Satu dua orang prajurit
Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan itu pun ada juga yang roboh
jatuh di tanah. Karena dorongan kekuatan sendiri, maka orang-orang yang
sedang berlari itu pun sulit untuk berhenti atau menghindar, sehingga
orang-orang yang terjatuh itu justru telah terinjak kaki-kaki
kawan-kawannya.
Namun demikian pasukan Jipang dan anak-anak muda Tanah Perdikan
Sembojan yang jumlahnya cukup besar itu telah bergeser maju dengan
cepat, sehingga kesempatan untuk mempergunakan lembing dan anak panah
pun segera terputus. Pasukan lawan itu menjadi begitu dekat.
Dengan demikian, maka para prajurit Pajang itu pun telah meletakkan
busur mereka. Mereka pun berganti menggenggam pedang dan tombak. Dengan
senjata merunduk maka mereka pun telah menyambut kedatangan lawan.
Demikianlah, maka kedua gelar itu pun bertemu. Pertempuran pun segera
membakar arena. Pasukan Jipang yang telah lebih dahulu berteriak-teriak
itu pun membentur pasukan Pajang dengan garangnya.
Namun pasukan Pajang benar-benar sudah siap menerima kehadiran
lawannya. Dengan tangkasnya mereka menghindari serangan. Namun
tiba-tiba merekalah yang mengayunkan pedang mendatar menebas tubuh
lawannya.
Tetapi orang-orang Jipang pun telah bersiap sepenuhnya, sehingga karena
itu, maka mereka pun dengan cepat bergeser surut dan bahkan serangan
merekalah yang datang mendesak.
Dengan demikian maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin
sengit. Kedua belah pihak telah saling menyerang dan saling mendesak.
Kedua belah pihak adalah prajurit-prajuti pilihan. Bahkan anak-anak
Tanah Perdikan Sembojan pun adalah anak-anak yang memiliki bekal
kemampuan yang cukup. Mereka telah ditempa oleh para perwira dari
Jipang, sehingga dengan demikian maka mereka tidak canggung lagi untuk
turun ke arena.
Namun ternyata bagi anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan, para
prajurit Pajang terlalu garang bagi mereka. Agak berbeda dengan
latihan-latihan yang mereka alami dengan para perwira dari Jipang.
Dalam pertempuran yang sebenarnya, di dalam benturan gelar yang padat,
maka ujung senjata menyambar-nyambar tanpa dikekang sama sekali.
Sehingga dengan demikian, karena kurangnya pengalaman betapapun
tingginya latihan-latihan yang telah mereka lakukan, namun pertempuran
yang sengit itu telah membuat jantung mereka menjadi
berdebar-debar. (Bersambung)-m
5 Agustus 2003 JW Marriott - Jakarta Blast!
October 2003 - LC Bodhong dikeluarkan BNI, Trilyunan rupiah amblas
e-mail: mimbarse@gajahsora.net