Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Selasa, 16-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 041

 Gandar mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti alasan Kiai Badra yang mendasar itu.

 Meskipun demikian, Gandar itu masih juga berkata, “Tetapi dengan jujur kita dapat mengatakan, bahwa Iswari adalah seorang gadis yang cerdas. Ia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sebagaimana kita lihat sekarang. Ia pandai mengambil pengalaman yang tidak dihayatinya dalam kehidupan sehari-hari itu dari kitab-kitab yang dibacanya. Dan Iswari mampu menyerap keadaan disekitarnya untuk dicernakannya.” 

Kiai Badra menarik nafas pula. Namun kemudian katanya, “Segalanya akan terserah kepada Iswari sendiri. Mudah-mudahan ia mendapat terang dihatinya sehingga ia akan dapat menentukan pilihannya dengan tepat,” kemudian suara Kiai Badra pun merendah, “Gandar, sebenarnyalah bahwa ada sesuatu yang kurang aku mengerti terhadap sifat angger Wiradana. 

Ia adalah anak tunggal Ki Gede yang mewarisi ilmunya dan kelak tentu Tanah Perdikannya. Namun nampaknya wataknya agak jauh berbeda dengan watak Ki Gede itu sendiri.” 

“Wiradana masih muda sekali,” jawab Gandar. “Memang wajar sekali jika nampak perbedaan dari kedua orang itu didalam menentukan sikap. Tetapi bukan berarti bahwa Wiradana akan berbuat dengan pertimbangan yang dangkal itu untuk selanjutnya. Umurnya akan mempengaruhinya, sehingga pada suatu saat akan datang masanya, sikap Wiradana akan seperti sikap ayahnya.” 

Kiai Badra mengangguk-angguk meskipun ia tidak sependapat sepenuhnya. Ia tidak dapat melupakan sikap Wiradana terhadap orang-orang yang sudah dikalahkannya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang mapan baginya. 

Tetapi ia berusaha untuk mengerti penjelasan Gandar. Karena itu, maka katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan Iswari. Gadis itu sudah cukup dewasa. Ialah yang akan mengambil keputusan yang menentukan.” 

“Ya Kiai. Sebaiknya Kiai berbicra langsung dengan Iswari. Tetapi sudah barang tentu ia memerlukan alasan untuk menentukan sikapnya,” berkata Gandar. 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Memang akhirnya aku akan tergantung kepada sikapnya.” 

“Ya Kiai. Iswari cukup dewasa untuk menentukan,” sahut Gandar dengan suara yang merendah. 

“Besok aku akan berbicara dengan anak itu,” gumam Kiai Badra kemudian. 

Sebenarnyalah, Kiai Badra ingin segera menyampaikan hal itu kepada cucu perempuannya. Meskipun Kiai Badra itu tidak dapat mengesampingkan kesannya yang didapatkannya terhadap Wiradana dalam beberapa kali sentuhan kepentingan. 

Karena itulah, maka Kiai Badra justru menjadi gelisah. 

Di hari berikutnya, ketika gelap malam mulai turun, maka Kiai Badra telah memanggil cucunya untuk berbicara tentang dirinya ditunggui oleh Gandar. Dengan hati-hati dan sedikit gambaran tentang kehidupan, Kiai Badra menyatakan kepada cucunya, apakah ia bersedia untuk menerima keinginan Ki Gede yang ingin mengambilnya menjadi menantu 

Meskipun Kiai Badra sudah mengambil jalan yang melingkar, namun hal itu masih juga mengejutkan Iswari. Ia sama sekali tidak memikirkan persoalan yang demikian, sehingga karena itu, maka seolah-olah telah dihadapkan kepada satu persoalan yang tidak diduganya. 

Karena itu, maka beberapa saat ia justru tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Mulutnya bagaikan terbungkam dan jantungnya segera berdegup semakin keras. 

Kiai Badra mengerti perasaan cucunya. Karena itu ia tidak dengan tergesa-gesa memaksa cucunya untuk menjawab. 

(Bersambung)-x
Rabu, 17-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 042

 “Pikirkan dengan tenang. Tetapi adalah wajar, bahwa pada suatu saat kau akan menghadapi masalah seperti ini. Kau sudah menjadi seorang gadis dewasa. Bukan saja umurmu, tetapi juga ujud lahiriahmu. Karena itu, maka persoalan yang kau hadapi sekarang adalah persoalan yang tidak dapat kau singkiri di dalam kehidupan ini. Karena di dalam hidup seseorang, maka persoalan ini akan dilintasinya. Tanpa menghadapi persoalan seperti ini, maka tugas hidup ini masih belum lengkap karenanya.

 Iswari masih tetap menunduk. Namun kakeknya kemudian berkata. “Baiklah Iswari, pergilah ke bilikmu. Mungkin malam ini kau dapat merenunginya. Besok kau dapat memberikan jawaban yang sudah kau pertimbangkan dengan masak-masak sehingga langkah-langkah berikutnya tidak akan digayuti oleh penyesalan yang akan selalu mengganggu.” 

Iswari pun kemudian meninggalkan kakeknya. Demikian ia sampai di dalam biliknya, maka ia pun langsung merebahkan dirinya di pembaringannya. 

Namun demikian, matanya sama sekali tidak dapat dipejamkannya. Semalam suntuk Iswari dibebani oleh pertanyaan kakeknya yang terasa sangat sulit untuk dijawabnya. 

Tetapi dengan demikian, mau tidak mau ia harus mulai menilai seorang laki-laki muda yang bernama Wiradana, anak Ki Gede yang kelak akan menggantikan kedudukan sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan. 

Sebagai seorang gadis yang hidupnya lebih banyak terpisah dari pergaulan yang besar, maka Iswari merasa sangat sulit untuk menentukan sikap. Ia selalu disaput oleh pengertian sebagaimana dikatakan oleh kakeknya. Bahwa pada suatu saat setiap orang akan sampai pada suatu keadaan seperti yang dihadapinya. Seseorang tentu akan kawin dan melanjutkan hadirnya anak-anak manusia yang akan meneruskan sejarah hidupnya. 

Karena itu, maka dalam kesulitan untuk menentukan sikap, Iswari menjadi pasrah kepada nasibnya. Ia memang tidak ingin memilih. Jika seorang laki-laki akan hadir di dalam hidupnya, maka ia akan menerimanya dengan segala senang hati, asal masih dalam batas-batas kewajaran. 

Dengan demikian, ketika keesokan harinya, kakeknya memanggilnya, maka Iswari telah memutuskan untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada kakeknya saja. 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti sepenuhnya. Cucunya memang tidak akan menentukan sikap apapun. Ia tentu akan bersandar kepada keputusan yang diambil oleh Kiai Badra. 

Yang kemudian dibebani oleh perasaannya adalah Kiai Badra. Ia tidak segera dapat menentukan sikap menghadapi persoalan cucunya itu. 

Namun Gandar kemudian berkata, “Kiai, bukankah Kiai dapat merasakan keikhlasan hati Ki Gede?” 

“Ya,” Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun ia tidak mengatakan jawabannya, karena cucunya ada di antara mereka. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Aku percaya kepada keputusan hati Ki Gede. Tetapi aku kurang mengerti sikap anak laki-lakinya.” 

Namun dalam pada itu, maka akhirnya Kiai Badra pun telah disudutkan oleh satu keadaan untuk mengambil sikap. Dengan keragu-raguan yang masih saja bergejolak di dalam jantungnya, maka ia pun kemudian berkata, “Baiklah Iswari. Jika kau tidak berkeberatan, maka biarlah aku menghadap Ki Gede dan menyampaikan jawaban.” 

Iswari tidak menjawab. Tetapi kepalanya yang tunduk benar-benar merupakan suatu isyarat, bahwa ia memang tidak menolak. 

Jawaban Kiai Badra sangat menggembirakan Ki Gede serta merta maka ia pun telah memanggil Wiradana untuk menyampaikan jawaban Kiai Badra tentang cucunya.
(Bersambung)-k

 

 

 Banner 10000004

 

Kamis, 18-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 043

 Wiradana mengangguk-angguk. Tidak banyak yang dikatakannya kepada ayahnya, selain ucapan terima kasih. 


 Namun dalam pada itu, Kiai Badra rasa-rasanya dapat juga membaca perasaan itu. Hambar. 

Tetapi ia sudah menyatakan keputusannya. Tidak mungkin baginya untuk menarik kembali, jika ia tidak ingin memutuskan hubungannya dengan Ki Gede yang menerima hal itu sebagai satu kegembiraan. 

Dengan demikian, maka pembicaraan di antara Ki Gede dan Kiai Badra itu seakan-akan telah menjadi satu keputusan yang sudah sependapat. Bahkan Ki Gede pun kemudian berkata, 

“Kiai Badra. Buat apa kita menunggu terlalu lama. Kita sudah sependapat. Anak-anak kita sudah bersedia. Maka sebaiknya segalanya terjadi dengan cepat, sebelum umurku ditelan oleh penyakitku.” 

“Ki Gede justru bertambah baik,” berkata Kiai Badra. 

“Tetapi aku sudah cacat. Keadaanku akan dapat berubah-ubah dengan cepat. Hari ini aku nampak sehat. Besok mungkin keadaanku akan menjadi sangat buruk dengan tiba-tiba. Karena itu, mumpung aku masih berkesempatan, biarlah hari perkawinan anak-anak kita itu dilangsungkan lebih cepat,” berkata Ki Gede. 

Kiai Badra akhirnya menyerahkan segala-galanya kepada Ki Gede. Karena keadaan tubuhnya, maka Ki Gede ingin segera melihat, anak laki-laki satu-satunya itu hidup sebagai seorang suami. 

“Aku sudah tidak pantas lagi untuk memimpin Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Gede itu di dalam hatinya, 

“Aku harus berani melihat kenyataan bahwa pimpinan Tanah Perdikan ini harus berpindah tangan. Apalagi anakku sudah cukup dewasa dan agaknya mempunyai kemampuan untuk mela-kukan sebagaimana aku kehendaki, meskipun ada sedikit sifatnya yang perlu mendapat teguran.” 

Dengan demikian, maka Ki Gede pun dalam waktu yang pendek, telah mengundang orang-orang tua di Sembojan. Agaknya Ki Gede benar-benar ingin melakukan niatnya secepat-cepatnya. 

Sementara itu, Kiai Badra masih berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengobati keadaan Ki Gede yang sudah berangsur baik. Pada saat-saat terakhir, tangan dan kakinya sudah dapat bergerak. Kemudian perlahan-lahan Kiai Badra telah dapat menyaksikan Ki Gede itu mencoba berdiri meskipun masih harus ditelekan tongkat. 

“Tuhan Maha Besar,” desis Ki Gede itu pada saat menjelang hari-hari perkawinan anaknya. “Aku akan mendapat seorang menantu sebagaimana aku kehendaki, sementara itu keadaan tubuhku menjadi berangsur baik.” 

Sebenarnyalah Ki Gede sudah mulai dapat menapakkan kakinya dan mulai melangkah. Meskipun kakinya masih terasa sangat lemah, tetapi harapan untuk dapat mempergunakan kakinya itu menjadi semakin besar, meskipun tidak sebagaimana semula. 

Pada saat-saat Ki Gede benar-benar sudah dapat berjalan meskipun harus bertongkat, maka saat-saat perkawinan anak Ki Gede dengan Iswari itu pun akan segera berlangsung. 

Rumah Ki Gede di Sembojan telah mulai dibersihkan. Di halaman belakang, orang-orang telah membelahi kayu sebagai persiapan untuk kayu bakar. Dinding yang mulai kendor telah dibetulkan. 

Sementara atap yang tiris telah diperbaiki. Beberapa orang memperbaiki pagar bukan saja halaman tetapi juga kebun belakang. 

Namun dalam pada itu, wajah Wiradana sendiri nampaknya masih saja hambar. Tidak ada gairah yang menyala di dalam dadanya menjelang hari perkawinannya. 

Bahkan seperti juga Iswari, Wiradana itu cenderung untuk melakukan perkawinan itu sebagaimana ia menjalani satu kewajiban. Tidak ada ungkapan kegembiraan dan pandangan yang hidup bagi masa depan. 

(Bersambung)-k

Jumat, 19-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 044

 Meskipun dengan nalar keduanya dapat menerima keinginan Ki Gede itu, tetapi seakan-akan perkawinan itu akan berlangsung tanpa jiwa. 

 Tetapi Ki Gede tidak begitu menghiraukan keadaan itu. Baginya kedua orang yang berkepentingan sudah menyatakan kesediaan mereka. Apalagi pada saat-saat terakhir, Ki Gede benar-benar telah mampu berjalan dan mempergunakan tangannya sebagaimana sewajarnya. 

Tetapi tangan dan kaki itu tidak lagi mampu mengungkapkan ilmunya yang dahsyat, karena kaki dan tangannya itu menjadi terlalu lemah untuk mendukung kemampuannya yang sangat tinggi. 

Namun demikian Ki Gede tidak terlalu banyak menghiraukan lagi. Ia ingin melihat anaknya kawin dengan seorang gadis yang memiliki kelebihan dari kebanyakan gadis. Bahkan tidak seorang pun gadis Sembojan yang memiliki kepandaian dan kecerdasan, apalagi ketrampilan seperti Iswari. Dari menyapu halaman, mengambil air, menumbuk padi, tetapi juga memasak dan membersihkan isi rumah dan juga kemampuan untuk bermain rinding dengan gending-gending ngelangut serta membaca kitab berisi ceritera-ceritera dan kidung puji-pujian. 

Ketika saatnya tiba, maka Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi ramai di siang dan malam hari sampai tiga hari tiga malam. Hampir disetiap padukuhan diselenggarkaan keramaian dengan pertunjukan-pertunjukan. 

Di padukuhan induk suasananya benar-benar sangat meriah. Mereka ikut bergembira tanpa banyak mengetahui persoalannya. Sementara orang-orang tua mengalir tidak putus-putusnya ke rumah Ki Gede untuk menyatakan kegembiraannya. 

Ki Gede sama sekali tidak mau mengecewakan mereka. Dengan wajah yang jernih diterimanya tanda ikut bergembira atas perkawinan anak Kepala Perdikan satu-satunya itu. Kelapa, beras ketan, sayur-sayuran dan bermacam-macam barang hasil kerajinan. Kain tenun yang paling baik yang dibuat oleh orang-orang Sembojan, terumpah dari kulit dan beberapa jenis barang yang lain. 

Perkawinan antara Wiradana dan Iswari benar-benar merupakan satu perkawinan yang meriah. 

Dalam pada itu, bagaimana pun juga, kemeriahan saat-saat perkawinan itu berpengaruh juga terhadap kedua orang anak muda itu. Meskipun sebelumnya perkawinan itu terasa hambar bagi mereka, tetapi dalam kemeriahan keramaian itu, wajah keduanya mulai nampak cerah. Wiradana menerima kunjungan anak-anak muda dengan gurau yang segar dan tawa yang lepas. Sementara Iswari di dalam biliknya nampak tersenyum renyah, meskipun kepalanya lebih banyak menunduk daripada memandang orang-orang yang mengerumuninya. 

Meskipun Iswari bukan gadis Sembojan, tetapi rasa-rasanya ia sudah menjadi akrab dengan kehidupan di Tanah Perdikan itu. Agak meleset dugaan kakeknya, bahwa kehidupannya mengasingkan diri akan menghambat usaha cucunya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Tanah Perdikan itu. 

Meskipun demikian, berbeda dengan Ki Gede yang tenggelam dalam kegembiraan, maka Kiai Badra berusaha untuk memperhatikan keadaan cucunya dengan seksama. 

“Bagaimana menurut pendapatmu Gandar?” bertanya Kiai Badra. “Meskipun Iswari menerima keinginan Ki Gede tetapi nampaknya segalanya hanya pada permukaannya saja.” 

“Tetapi ia tidak merasa terpaksa Kiai,” jawab Gandar. “Mungkin pada saat itu, ia tidak dapat menolak karena berbagai pertimbangan. Tetapi setidak-tidaknya ia tidak merasa Kiai memaksanya. Bahkan menurut pengamatanku, pada saat-saat terakhir, anak itu sudah mulai nampak gembira. Perlahan-lahan ia mampu menyesuaikan dirinya.” (Bersambung)-c

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

Sabtu, 20-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 045

 “Syukurlah,” Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. “Aku semula merasa cemas, bahwa anak itu sulit untuk menyesuaikan diri.”

 “Tetapi ternyata tidak demikian Kiai. Iswari berhasil menyesuaikan dirinya. Ia benar-benar akan menjadi seorang perempuan yang memiliki kelebihan dari perempuan-perempuan lain di Sembojan, sehingga ia akan mempunyai wibawa yang besar sebagai istri seorang Kepala Tanah Perdikan,” berkata Gandar. 

“Mudah-mudahan segalanya terjadi seperti yang kau katakan,” desis Kiai Badra. 

Sebenarnyalah perkawinan antara Wiradana dan Iswari itu terjadi dengan sangat meriah. Ki Gede seakan menyatakan syukur atas kesembuhannya meskipun tidak dapat pulih seperti sediakala. 

Demikianlah, maka saat-saat kedua orang pengantin itu dipertemukan, halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang luas itu pun menjadi penuh sesak. Orang-orang Sembojan ingin melihat sepasang pengantin itu. Beberapa orang di antara mereka berdesis dengan penuh kekaguman, “Benar-benar pasangan yang serasi. Wiradana dalam pakaian penganten benar-benar nampak seperti Arjuna.” 

“Ya,” sahut yang lain, “Istrinya seperti Sumbadra.” 

“Benar. Meskipun agak kehitam-hitaman,” berkata yang lain lagi. 

“Hitam manis. He bukankah Sumbadra juga berkulit hitam manis sehingga ia disebut Rara Ireng?” berkata orang yang pertama. 

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Menurut penglihatan mereka pasangan pengantin itu benar-benar pasangan yang pantas. Bukan saja ujudnya, tetapi setiap orang Sembojan akhirnya mengetahui, bahwa Iswari memiliki kepandaian yang tidak dimiliki perempuan pada umumnya di Sembojan. 

Namun dalam pada itu selagi orang-orang Sembojan sedang merayakan hari perkawinan putra tunggal Ki Gede Sembojan, maka dua orang yang tidak dikenal sehari-hari di Sembojan telah memasuki keramaian di halaman. Tidak seorang pun yang memperhatikan. Meskipun halaman rumah Ki Gede menjari terang benderang seperti siang oleh obor yang terpasang di banyak tempat, tetapi orang yang berdesakan itu sama sekali tidak memperhatikan siapa saja yang berada disebelahnya. 

“Bukan main,” desis perempuan, salah seorang dari kedua orang itu. 

Kawannya seorang laki-laki, mengangguk-angguk. Katanya, “Satu keramaian yang sangat meriah. Tetapi anak itu memang seorang yang cerdik. 

Dalam keramaian seperti ini untuk merayakan hari perkawinannya, ia tidak lupa mengerahkan pengawal-pengawal Tanah Perdikan untuk mengamati keadaan sampai ke ujung-ujung padukuhan yang terpencil sekalipun.” 

“Ya, jawab yang perempuan. Tetapi itu adalah wajar sekali. Wiradana adalah anak tunggal,” jawab perempuan itu. (Bersambung)-m
 
Minggu, 21-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 046

 Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka memperhatikan kedua orang mempelai yang sedang dipertemukan dengan upacara yang utuh. 
“Perhatikan benar-benar,” berkata yang laki-laki. “Pengantin laki-laki itu adalah Wiradana. Ia adalah anak Ki Gede Sembojan yang telah membunuh pamanmu, Kalamerta.” 
Perempuan itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berdesis, “Anak itu memang tampan.”

 “Tampan atau tidak tampan, kau tidak berurusan,” berkata yang laki-laki. “Tugasmu membinasakannya dengan cara apa saja. Syukur kau akan dapat membunuh ayahnya. Tetapi agaknya sulit untuk melakukannya. Pamanmu pun tidak berhasil. Bahkan ia telah terbunuh. Apalagi sekarang nampaknya ia sudah menjadi agak baik. Dan ternyata ia memang sudah dapat berdiri mendampingi anak laki-lakinya.” 

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi akhirnya ia mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan membunuhnya. Bukan satu kesulitan bagiku. Aku kira, kemampuannya belum setingkat dengan kemampuanku. Dimana pun aku akan dapat melakukannya.” 

“Tetapi hati-hati. Ia benar-benar seorang yang memiliki akal yang cerah. Ketika orang-orang pamanmu siap untuk membalas dendam dan bersiap-siap di dalam hutan sebelah Tanah Perdikan ini, ternyata bahwa Wiradana dan para pengawal Tanah Perdikan inilah yang telah memasuki barak dari para pengikut pamanmu. Bukan sebaliknya, sehingga orang-orang yang mendendam itu justru telah dihancurkan sama sekali,” berkata yang laki-laki. 

Perempuan itu mencibirkan bibirnya. Katanya, “Aku tidak akan membawa seorang pun untuk membantuku. Aku sanggup melakukannya sendiri. Setelah selapan.” 

“Jangan berkata begitu,” jawab yang laki-laki. “Kita akan merencanakan usaha ini sebaik-baiknya. Biarlah Wiradana menikmati hari-hari perkawinannya. Tetapi jika selapan telah lewat, maka kita akan bertindak.” 

“Aku akan menunggu sampai selapan,” geram perempuan itu. 

“Baiklah. Marilah kita menyingkir,” ajak yang laki-laki. 

Tetapi perempuan itu menjawab, “Tunggu. Aku masih ingin melihat wajahnya.” 

“Apakah kau tidak akan dapat mengenalnya?” bertanya yang laki-laki. 

“Bukan tidak mengenalnya. Aku akan selalu mengingat wajah itu. Justru karena laki-laki itu terlalu tampan. He, aku berkata dengan jujur. Adakah laki-laki diantara kita yang setampan anak muda itu? Beruntunglah perempuan yang menjadi istrinya. Tetapi kasihan. Selapan hari lagi, ia akan menjadi janda,” sahut perempuan itu. 

Laki-laki yang berdiri disampingnya mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian bergumam, “Kau jangan terpancang kepada ketampanan wajah laki-laki muda itu. Kau harus membunuhnya. Ia sudah membunuh semua kemungkinan dan harapan kita bagi masa depan. Ayahnya telah membunuh pamanmu.” 

“Jangan cemas. Laki-laki itu akan menjadi mayat sesudah selapan hari. Aku tidak sampai hati merampas kebahagiaan istrinya itu sebelum ia menikmati perkawinannya,” jawab perempuan itu. “Karena itu, aku memberinya waktu.” 

“Terserah kepadamu. Tetapi laki-laki itu harus mati karena kesalahan ayahnya. Bahkan jika mungkin ayahnya pun harus mati,” geram laki-laki yang berdiri disebelah perempuan itu. 

“Kau hanya mengucapkannya. Tetapi aku yang akan melakukannya harus memperhitungkan semua kemungkinan yang dapat terjadi atas usaha ini,” jawab perempuan itu. 

“Termasuk wajahnya yang tampan?” sahut laki-laki itu. 

Perempuan itu tersenyum. Katanya, “Jangan cemas.” 

Demikianlah, maka kedua orang itu pun kemudian pergi meninggalkan tempat keramaian itu. Mereka menyelusuri lorong-lorong di dalam lingkungan padukuhan induk. Namun sikap mereka sama sekali tidak mencurigakan sehingga mereka kemudian hilang dari kesibukan Tanah Perdikan Sembojan.
(Bersambung)-m

 

 

 

 VirusAlert_468x60


Senin, 22-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 047

 Di tengah-tengah pategalan yang sepi, keduanya telah menyembunyikan dua ekor kuda. Demikian mereka mengambil kuda-kuda mereka, maka sejenak kemudian kuda-kuda itu pun telah berpacu menjauh dari Tanah Perdikan Sembojan.

 “Aku harus memancingnya untuk dapat berhadapan dengan seorang dengan seorang,” berkata perempuan itu. “Aku tidak dapat membunuhnya di antara pengawalnya.” 

“Aku jadi curiga,” berkata laki-laki itu, “Jika kau bertemu dengan laki-laki muda itu seorang dengan seorang maka yang terjadi akan lain.” 

Perempuan itu tertawa. Katanya, “Nalarmu memang sangat picik. Kau tahu siapa aku he? Atau barangkali aku harus membunuhmu lebih dahulu?”

“Aku hanya ingin mengingatkanmu. Aku tidak bermaksud apa-apa,” jawab laki-laki itu. 

Perempuan itu masih tertawa. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Selapan hari adalah batas yang pantas yang aku berikan bagi kesenangan perempuan yang menjadi isterinya itu.” 

Laki-laki itu yang menyertainya itu tidak menjawab. Kuda itu berlari terus dalam gelapnya malam. Mereka memilih jalan-jalan yang tidak memasuki padukuhan, agar mereka tidak bertemu dengan orang-orang yang sedang bersuka ria, namun juga para pengawal yang berada di gardu-gardu. 

Dengan demikian, maka keduanya itu pun telah berhasil keluar dari Tanah Perdikan Sembojan tanpa rintangan apapun juga, sementara itu, keramian di Sembojan pun berlangsung dengan aman dan tidak mengalami gangguan apapun juga. 

Yang paling bergembira dalam upacara itu adalah justru Ki Gede Sembojan. Demikian upacara perkawinan selesai dan para tamu serta rakyat Sembojan yang berkumpul di halaman mulai meninggalkan tempat keramaian, maka seakan-akan tidak lagi dapat menahan diri, Ki Gede telah menemui anak laki-lakinya beserta istrinya. 

Dengan lancar Ki Gede berkata, “Anak-anakku. Rasa-rasanya tugasku benar-benar telah selesai. Aku sudah mengantarkan kalian sampai ke batas. Karena itu, maka sudah sewajarnya, jika aku menyingkir dari segala kehadiranku. Bahkan seandainya maut pun datang menjemput, aku sama sekali sudah tidak menyesal.” 

“Ah, jangan berkata begitu,” jawab Wiradana. 

“Aku berkata sebenarnya. Aku berkata dari dasar hati,” berkata ayahnya pula. Lalu, “Karena itu, dalam waktu dekat, aku ingin menyerahkan semua hak dan kewajibanku kepadamu, Wiradana. Bersiaplah untuk menerimanya. Aku percaya kepadamu, bahwa kau akan dapat melakukannya. Kau mempunyai ketangkasan untuk bertindak, sementara istrimu akan dapat membantumu. Ia memiliki pengetahuan yang dapat dipelajarinya dari kitab-kitab yang dibacanya. Jika kau tidak sempat membaca kitab-kitab itu, maka biarlah istrimu melakukannya. Dalam tembang, maka isi kitab itu akan dapat semakin merasuk ke tulang sungsum.” 

Wiradana tidak menjawab. Ia tidak mengerti, perasaan apakah yang sebenarnya sedang bergejolak. Apakah sebenarnya ia menjadi senang atas sikap ayahnya, atau sebaliknya. Tetapi rasa-rasanya memang ada satu keinginan untuk mencoba mengendalikan pemerintahan di Tanah Perdikan itu sepenuhnya. 

Ternyata bahwa yang dikatakan oleh Ki Gede itu bukan sekadar terloncat saja dari sela-sela bibirnya. Di hari berikutnya, setelah hari perkawinan anaknya, ia sudah mulai merencanakan satu upacara penyerahan segala hak dan kewajibannya sebagai Kepala Tanah Perdikan kepada anak laki-lakinya. Apalagi Ki Gede merasa bahwa tubuhnya telah menjadi cacat, sehingga tidak mungkin baginya untuk dapat melakukan tugas sebaik-baiknya seandainya ia berusaha bertahan untuk menjadi Kepala Tanah Perdikan.

(Bersambung)-c

 

 

 affinity468x60_7

 

Selasa, 23-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 048

 Karena itulah, maka di hari-hari berikutnya, Ki Gede sering memanggil orang-orang tua dan para bebahu Tanah Perdikan Sembojan untuk membicarakan persoalan yang direncanakannya, menyerahkan segala hak dan kewajibannya kepada anak laki-lakinya yang sudah melaksanakan salah satu kewajiban hidupnya, kawin.


Bagaimanapun juga, hari perkawinan itu mempunyai pengaruh juga atas Wiradana dan Iswari. Karena keduanya sebelumnya belum pernah tertarik kepada orang-orang lain, maka kehadiran mereka sebagai suami istri itu pun akhirnya telah menempatkan mereka ke dalam satu kenyataan, bahwa keduanya memang sepasang suami istri. Karena itulah, maka atas landasan kenyataan itu, maka mereka pun berusaha untuk dapat berbuat sebaik-baiknya sebagai dua orang yang telah terikat dalam perkawinan. 

Dalam pada itu, di luar penglihatan siapapun juga, bahkan Ki Badra, Gandar merasa bahwa hidupnya telah menjadi terkoyak. 

Dalam sekali dipusat jantungnya, tersimpan secercah harapan di dalam hidupnya atas seorang gadis yang tinggal bersamanya di dalam padepokan yang terpencil. Tetapi Gandar merasa dirinya terlalu kecil. 

Ia merasa dirinya bukan apa-apa sehingga karena itu, maka yang tersimpan di dalam hatinya akan tetap tersimpan. 

Ketika ia melihat Iswari duduk bersanding dengan anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka hatinya terasa meronta. Tetapi dengan nalarnya ia berusaha untuk mengendalikannya. 

"Apa yang dapat aku lakukan?" dengan pertanyaan itu, maka Gandar hanya dapat menatap gemerlapnya bintang-bintang di langit pada malam hari. 

Betapa ia berusaha untuk menahan gejolak hatinya, ketika Ki Badra kemudian memanggilnya dan bertanya kepadanya, "Bagaimana menurut pendapatmu, setelah dilangsungkannya perkawinan itu?"

Gandar berusaha untuk tersenyum. Tanpa menghiraukan pedih dihatinya ia berkata, "Nampaknya keduanya berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan itu. Kiai, aku yakin, bahwa perkawinan itu akan dapat memberikan kebahagiaan bagi Iswari dan Wiradana." 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Mudah-mudahan. Yang dapat kita lakukan kemudian adalah berdoa, agar keduanya mendapat terang dihati dalam ikatan perkawinan mereka." 

Gandar mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia bergumam, "Hari depan mereka akan menjadi cerah," Lalu katanya pula, "Bukankah Ki Gede sudah bersiap-siap untuk menyerahkan segala hak dan kewajibannya sebagai Kepala Tanah Perdikan kepada Wiradana." 

"Itulah yang aku cemaskan," sahut Kiai Badra. "Menurut pengamatanku, Wiradana masih terlalu muda. Mungkin karena Ki Gede merasa dirinya menjadi cacat, maka ia tergesa-gesa melakukan penyerahan itu. Namun sebelumnya, seandainya Ki Gede masih tidak berkeberatan memimpin Tanah Perdikan ini ia masih akan dapat melakukan tugasnya dengan baik. Hal-hal yang menyangkut kegiatan di medan, biarlah dilakukan oleh Wiradana dengan petunjuk-petunjuknya. Ki Gede masih mempunyai kekuasaan untuk mengatur. Jika ada salah langkah dari Wiradana, Ki Gede masih mempunyai wewenang untuk meluruskannya." 

"Bukankah Wiradana juga sudah masak untuk menerima tugas itu?" bertanya Gandar. 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Jawabnya, "Mungkin sekali. Tetapi mungkin pula karena umurnya yang masih muda, maka ada hal-hal yang kadang-kadang terasa kurang mapan. Mudah-mudahan sejalan dengan meningkatnya umur Wiradana, maka ia akan menemukan keserasian sikap di dalam hidupnya." 

"Kiai tidak perlu mencemaskannya," sahut Gandar, "Bukankah hal itu akan terjadi dengan sendirinya." Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi masih nampak sesuatu yang buram pada sorot matanya. (Bersambung)-k
Rabu, 24-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 049


 Sementara itu, diluar Tanah Perdikan Sembojan di dalam sebuah rumah besar dan berhalaman luas, nampaknya memiliki perabotan terpilih dan mahal, beberapa orang sedang berkumpul.

 Mereka dengan sungguh-sungguh sedang berbincang-bincang tentang seseorang yang bernama Wiradana, anak Kepala Perdikan Sembojan yang baru saja melangsungkan hari perkawinannya. 

“Kau terlalu berbaik hati Warsi,” berkata seorang laki-laki yang berambut putih, “Kenapa kau menunggu selapan?” 

Perempuan yang dipanggil Warsi itu tertawa. Katanya, “Ayah yang sama sekali tidak berperikemanusiaan. Selapan hari itu pun sebenarnya terlalu pendek bagi sepasang pangantin baru.” 

“Ayah Wiradana itu sama sekali tidak memikirkan apapun juga pada saat ia membunuh pamanmu. Ki Gede Sembojan sama sekali tidak menaruh belas kasihan kepada bibimu yang baru beberapa hari dikawininya. Ki Gede juga tidak menghiraukan bayi yang baru saja dilahirkan oleh bibimu yang satu lagi,” berkata orang tua itu. 

Tetapi Warsi tertawa berkepanjangan. Katanya, “Itu salah paman sendiri. Ia baru beberapa hari kawin dengan bibi yang ke sembilan pada saat bibi yang keeman melahirkan. Sementara itu, paman masih juga berkeliaran di Tanah Perdikan Sembojan, sementara anaknya yang baru lahir sebenarnya memerlukan kehadirannya. Selebihnya Ki Gede Sembojan itu tidak mengetahuinya.” 

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Jadi kau tetap pada kebaikan hatimu untuk memberi kesempatan perkawinan itu berlangsung sampai selapan?” 

“Biarlah. Sementara itu, aku akan sempat menyelidiki kemungkinan yang paling baik untuk memancing Wiradana keluar dari kubunya dan berhadapan dengan aku sendiri. Aku akan menunjukkan cara yang paling jantan untuk membunuhnya, sebagaimana ayahnya membunuh paman Kalamerta,” berkata Warsi. 

Orang itu itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Siapa di antara orang-orang ini yang akan ikut bersamamu ke Sembojan?” 

“Aku merencanakan untuk pergi sendiri agar tidak terlalu banyak menarik perhatian. Aku akan leluasa berada di Sembojan. Ada beberapa pasar yang cukup besar di Sembojan. Dan mungkin aku akan dapat berkeliling padukuhan dan keluar masuk halaman dengan caraku,” berkata perempuan itu. 

“Cara apa yang akan kau pakai?” bertanya ayahnya. 

“Aku dapat menjadi seorang penjual apa saja? Atau mungkin dapat menjadi penebas melinjo. Aku akan membeli melinjo yang masih ada di batangnya atau macam-macam buah yang lain. Atau cara lain yang lebih baik,” berkata Warsi. 

“Terserah kepadamu. Tetapi tugas itu akan dapat kau lakukan semakin cepat semakin baik,” berkata ayahnya. 

Namun tiba-tiba saja Warsi tersenyum. Katanya, “Ada cara yang paling menarik. Justru dengan menarik perhatian sebanyak-banyaknya. Tetapi rasa-rasanya malu juga melakukannya. Beberapa hari aku pikirkan. Namun akhirnya aku segan melakukannya.” 

“Cara yang mana?” bertanya ayahnya. 

“Dengan ngamen berkeliling Tanah Perdikan Sembojan. Aku menjadi penari, dan beberapa orang menjadi pemukul gamelan,” berkata Warsi. Namun segera dilanjutkan, “Tetapi aku tidak ingin mempergunakan cara ini.” 

Sesaat pertemuan itu menjadi hening. Namun tiba-tiba ayahnya berkata, “Aku rasa justru cara itulah yang paling baik. Warsi, dengan berkeliling Tanah Perdikan Sembojan sebagai pembeli dan mungkin membeli mlinjo di pohonnya akan mudah menarik perhatian. Mereka kadang-kadang akan bertanya, kau datang dari mana? Kau akan sulit untuk menjawabnya, apalagi kau hanya sendiri. Tetapi dengan ngamen seperti itu, kau dapat menjawab tempat yang jauh, yang tidak dikenal oleh orang-orang Sembojan.” 

(Bersambung)-o

Kamis, 25-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 050

 Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku malu juga. Meskipun aku dapat juga menarik, tetapi ditoton dan dikerumuni oleh banyak orang dengan cara yang kasar rasa-rasanya merinding juga. Apalagi dengan kebiasaan anak-anak muda yang ugal-ugalan.”

 “Tetapi bukankah itu hanya satu cara? Jika kau sempat menarik perhatian keluarga Ki Gede, maka kau tentu akan dapat menyelidiki kehidupan Wiradana. Bukan hanya kau sendiri, tetapi para penabuh gamelan yang mengikutimu akan dapat membantumu tanpa menarik perhatian sebagaimana jika kau pergunakan cara lain,” berkata ayahnya. 

Bahkan seorang yang pernah mengikuti Warsi menyusup ke halaman rumah Ki Gede pada saat Wiradana kawin berkata, “Aku condong untuk menempuh cara lain. Cara yang paling akhir.” 

Ternyata beberapa orang justru menganjurkan agar Warsi mempergunakan cara yang paling akhir. Dengan cara itu, mereka akan dapat berada di Tanah Perdikan Sembojan untuk waktu yang terhitung lama. Mereka akan dapat mohon untuk bermalam di banjar barang tiga atau empat hari. Sementara itu, Warsi akan dapat mempergunakan waktunya yang tersisa, setelah ngamen, untuk mencari cara jantan seperti yang di inginkannya, karena Warsi tidak mau membunuh Wiradana dengan cara yang licik. 

“Aku akan menunjukkan bahwa darah keluarga Kalamerta bukan pengecut. Dan aku ingin melihat, bagaimana Wirada itu mati dalam ketakutan dan dalam kekecewaan, bahwa yang membunuhnya adalah seorang perempuan,” berkata Warsi berkali-kali apabila ia mengatakan bagaimana ia akan membunuh Wiradana. 

Namun dalam pada itu, agaknya beberapa orang telah menganjurkan Warsi untuk berangkat ke Sembojan dalam sebuah rombongan yang cukup. Lima orang akan mengiringinya sebagai penabuh dan ia sendiri akan menjadi ledeknya. 

Atas desakan-desakan itu, akhirnya Warsi pun menerima cara yang sebenarnya tidak disukainya. Tetapi ia masih juga berkata, “Tetapi jika pada satu saat aku memukul laki-laki yang kasar hingga pingsan, jangan menyalahkan aku.” 

“Kau dapat menjaga perasaanmu. Biarlah orang lain melakukannya, sehingga sikapmu tidak akan mengundang pertanyaan,” berkata ayahnya. 

“Jadi diperlukan seseorang yang akan dapat menakuti penonton?” bertanya Warsi. 

“Ya. Tetapi jangan memancing persoalan, sehingga orang diseluruh padukuhan akan mengeroyok kalian,” berkata ayahnya pula. 

Warsi tersenyum. Namun kemudian katanya, “Jika kalian memang sependapat, baiklah aku berusaha untuk menyesuaikan diri. Dalam satu dua hari, aku akan memperbaiki caraku menari, sementara itu dapat dipersiapkan seperangkat gamelan untuk kepentingan itu. 

“Jangan cemas,” jawab orang yang pernah menyertainya ke Tanah Perdikan Sembojan, “Aku akan menjadi tukang gendangnya. Kelompok kita akan menjadi kelompok yang serasi. Selain tukang gendang aku juga mampu menakut-nakuti orang.” (Bersambung)-m

 


 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 25/VII/2002

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 & (021) 5601215
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant