|
|
|
Suramnya Bayang Bayang 461 Tanggal:
Senin, 29-09-2003 Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Kiai Badra mengangguk-angguk. Dengan nada ragu ia
berkata, “Apakah ada peronda di Kademangan ini. Anak-anak
mudanya atau katakanlah pengawal Kademangan?”
Ada,
meskipun tidak cukup baik. Tetapi dalam perselisihan ini aku
tidak akan dapat mempergunakan mereka. Mungkin kawanku yang
berhubungan dengan orang Jipang itu akan bertindak licik justru
karena ia mengetahui kelemahan kedudukanku,” jawab orang
bertubuh tinggi itu. Kiai Badra mengangguk-angguk.
Menantu Ki Demang itu memang mempunyai kelemahan. Agaknya ia
tidak ingin mempersoalkannya dengan kawan-kawannya itu dicampuri
oleh terlalu banyak orang yang mungkin akan dapat membuka
rahasianya. Karena itu, maka menantu Ki Demang itu
bertekad untuk menghadapi kawan-kawannya dengan kemampuannya
sendiri. Ketika kemudian mereka telah selesai dengan
makan malam yang terlambat itu, mereka pun segera mengatur diri.
Menantu Ki Demang itu mempersilakan Kiai Badra dan Gandar kembali
ke gandok sementara itu, ia menempatkan kawannya dibilik kanan di
dalam rumahnya. Tetapi menantu Ki Demang itu dengan
diam-diam telah pergi ke bagian belakang rumahnya. Di sebelah
longkangan terdapat beberapa orang laki-laki. Seorang gamel,
seorang pekatik dan dua orang anak muda yang menantunya bekerja
di sawah. Dengan hati-hati orang itu membangunkan mereka
dan berpesan, “Jika terjadi sesuatu di rumah ini, kalian
jangan tergesa-gesa membunyikan isyarat.” “Apa
yang akan terjadi?” bertanya orang-orang itu. “Mungkin.
Ada seseorang kawan yang memberitahukan bahwa ada orang-orang
jahat yang akan merampok rumah ini. Tetapi biarlah kita
menyelesaikan persoalan itu sendiri. Jangan memanggil para
pengawal dengan isyarat,” berkata menantu Ki Demang
itu. Para pembantu di rumah itu pun mengangguk-angguk.
Sementara itu menantu Ki Demang itu pun berkata lebih jauh,
“Kalian pun jangan dengan serta merta melibatkan diri.
Hati-hatilah, yang akan berbenturan jika itu terjadi adalah
orang-orang berilmu. Jika kalian melihat kesempatan yang baik
terserah. Tetapi jika kalian tidak mengerti apa yang kalian
hadapi, maka kalian lebih baik menyingkir saja.” Para
pembantu menantu Ki Demang itu pun termangu-mangu. Seorang di
antara mereka pun berkata, “Bukankah kami laki-laki juga,
maka kenapa kami harus sekadar menyingkir?” “Mereka
adalah orang-orang berilmu. Karena itu, kau tidak akan dapat
melawanmu hanya sekadar dengan keberanian dan kekuatan wadagmu
saja,” berkata menantu Ki Demang. Para pembantunya
tidak menjawab lagi. Tetapi bagaimana pun juga mereka merasa ikut
bertanggung jawab atas isi rumah itu, karena mereka bekerja dan
tinggal di rumah itu pula. Sejenak kemudian, maka
menantu Ki Demang itu pun telah berada di dalam biliknya.
Dipandanginya kedua anaknya yang sedang tidur lelap dibawah
cahaya lampu minyak. Pada wajah anak-anak yang sedang tidur itu
terbayang kebeningan budi yang seakan-akan belum ternoda sama
sekali. Dengan mata yang terpejam, wajah itu memancarkan cahaya
kedamaian dan ketenangan. Menantu Ki Demang itu menarik
nafas dalam-dalam. “Kau tidak tidur?”
bertanya istrinya yang berbaring disebelah anakya yang masih
menyusu. “Sebentar lagi,” jawab suaminya
yang kemudian duduk dibibir pembaringan, “Rasa-rasanya aku
belum mengantuk.” “Bukankah hari sudah jauh
malam?” bertanya istrinya pula. “Tidurlah,”
berkata menantu Ki Demang itu. Lalu, “Aku masih memikirkan
pembicaraanku dengan orang tua yang ingin menjual barangnya
kepadaku.” Istrinya tidak bertanya lebih jauh.
Suaminya yang menurut pengertiannya adalah seorang pedagang yang
berhasil itu, kadang-kadang memang berbuat sesuatu yang tidak
diketahuinya. Dan ia tidak ingin bertanya terlalu jauh tentang
pekerjaan suaminya itu, karena agaknya suaminya tidak begitu
senang jika ia mempertanyakan sesuatu yang menyangkut pekerjaan
suaminya itu. (Bersambung)-
SURAMNYA BAYANG BAYANG 462 Tanggal:
Selasa, 30-09-2003 Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Sebenarnyalah bahwa menantu Ki Demang itu memang sedang
dicengkam oleh kegelisahan. Ia menjadi cemas jika rahasianya
tiba-tiba saja akan terbongkar. Sebelumnya ia tidak pernah
mencemaskannya seperti pada saat itu. Ia mulai membayangkan, apa
yang mungkin terjadi pada dirinya jika rahasia itu diketahui oleh
Ki Demang. Bukan saja menyangkut nasibnya, namanya dan
kedudukannya sebagai seorang menantu Demang. Tetapi bagaimana
dengan anak-anaknya itu.
Justru karena itu, maka
menantu Ki Demang itu sama sekali tidak merasa mengantuk
karenanya. Sementara itu, di gandok, Kiai Badra pun
tidak dapat tidur barang sekejap pun. Dengan Gandar ia masih
tetap duduk dan berbicara perlahan-lahan. Bahkan menurut
Gandar, malam itu mungkin sekali akan terjadi sesuatu dengan
menantu Ki Demang itu. “Sudah tentu bahwa kita
tidak akan dapat tinggal diam,” berkata Gandar. “Apalagi
jika orang-orang Jipang itu melibatkan diri. “Apaboleh
buat,” berkata Kiai Badra. “Sebenarnya kita harus
menghindari setiap kemungkinan yang dapat menyeret kita ke dalam
satu persoalan. Bukankah kita sedang membawa tunggul Pajang yang
harus sampai ke padepokan kita dengan selamat sebelum tunggul itu
pada saatnya akan memasuki Tanah Perdikan Sembojan?” Gandar
mengangguk-angguk. Tetapi jawabnya, “Kita sudah telanjur
terlibat.” Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Kita memang harus bersiap-siap. Jika perlu maka
tunggul itu akan aku pergunakan. Mungkin orang-orang Jipang itu
datang dalam jumlah yang cukup besar. Kau pun akan dapat
mempergunakan senjata yang memadai jika kau benar-benar harus
bertempur dengan beberapa orang perwira Jipang.” “Aku
akan mempergunakan ikat pinggangku,” jawab Gandar. “Kau
tidak memerlukan senjata yang lain?” bertanya Kiai
Badra. “Kali ini mungkin tidak Kiai,” jawab
Gandar. “Ya. Apalagi jika kau memenangkan
perkelahian yang mungkin terjadi. Tetapi jika kau mengalami
kesulitan?” bertanya Kiai Badra. “Tidak
Kiai. Jika dengan ikat pinggang ini aku mengalami kesulitan, maka
dengan apapun juga aku akan mengalami kesulitan pula,”
jawab Gandar. Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia percaya
bahwa dengan ikat pinggang itu Gandar akan dapat menghadapi
lawan-lawannya sebagaimana ia mempergunakan senjata apapun
juga. Untuk beberapa saat mereka masih saja berbincang.
Sementara itu malam pun menjadi bertambah malam. Tengah malam
telah dilampaui beberapa saat. Namun rasa-rasanya keduanya sama
sekali tidak berniat untuk berbaring. Di bilik yang
lain, di dalam rumah menantu Ki Demang itu, kawannya yang
bertubuh agak gemuk dengan kepala yang agak kecil dibandingkan
dengan tubuhnya itu, ternyata masih juga belum dapat tidur. Ia
menjadi gelisah dipembaringannya. Sekali ia memiringkan tubuhnya
ke kiri, kemudian ke kanan, dan bahkan kadang-kadang ia tidur
menelungkup. “Tenanglah anak manis,” desisnya
kepada diri sendiri. “Tidak akan terjadi apa-apa di rumah
ini. Sejak kapan kau menjadi ketakutan mengalami
peristiwa-peristiwa yang gawat seperti ini? Apapun yang terjadi,
biarlah terjadi. Hadapi dengan sikap seorang laki-laki
sejati.” Orang itu pun kemudian memejamkan
matanya. Namun ternyata bahwa ia pun tidak dapat segera tidur.
Bahkan rasa-rasanya ia ingin mendengar setiap desis di luar
dinding biliknya. Dalam pada itu, malam pun semakin lama
menjadi semakin dalam. Di kejauhan terdengar suara-suara malam
yang kadang-kadang berderik bagaikan menggelitik jantung. Namun
kadang-kadang terdengar semacam rintih memelas dan keluhan yang
sendu. Dalam sela-sela desir angin di dedaunan, Kiai
Badra dan Gadar yang memiliki pendengaran yang sangat tajam
ternyata mendengar suara yang lain. Bukan suara angin. Tetapi
suara sentuhan kaki pada bongkah-bongkah tanah berbatu-batuan
disebelah gandok itu. Dengan isyarat Kiai Badra minta agar Gandar
berhati-hati. Sambil mengangguk Gandar pun kemudian berkisar
untuk mempertajam pendengarannya. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 463 Tanggal:
Rabu, 01-10-2003 Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Seseorang memang sedang bergeser mendekati
tempat keduanya beristirahat di dalam bilik gandok itu. Namun
sementara itu, beberapa orang yang lain masih berada di luar
halaman. Seorang di antara mereka berkata, “Jadi tunggul
itu merupakan tunggul yang sangat berharga?”
“Ya.
Bukan saja ujudnya, tetapi juga bahannya. Bahkan mengandung
permata. Di samping itu tunggul itu tentu juga merupakan pertanda
dari satu kuasa dari Pajang. Tetapi aku tidak tahu,” jawab
orang yang diajaknya berbicara. “Kita harus
merampasnya,” berkata orang yang pertama. “Mungkin
akan berguna bagi pasukan Jipang. Sementara itu, kau dapat
membunuh menantu Ki Demang yang tentu akan berkhianat itu.” “Aku
memang sudah muak,” berkata yang diajak berbicara. “Kita
akan menyelesaikan persoalan kita bersama-sama. Tetapi jika aku
mengalami kesulitan menghadapi menantu Ki Demang itu, aku
memerlukan bantuan.” Orang yang pertama
mengangguk-angguk. Namun ia pun tidak menjawab lagi. Beberapa
saat mereka menunggu. Ketika terdengar suara burung hantu
lamat-lamat dari dalam halaman rumah itu, maka orang-orang di
luar dinding halaman itu pun mulai bergerak. Beberapa
orang kemudian dengan sangat berhati-hati telah memasuki regol
halaman yang memang tidak diselarak. “Kita tidak
akan mencuri tunggul itu,” berkata seorang yang berkumis
tebal, “Tetapi aku akan mengambilnya dari
tangannya.” “Terserah,” jawab yang
diajak berbicara, “Tetapi aku pun akan membunuh menantu Ki
Demang itu dengan cara yang sama sebagaimana kau
lakukan.” “Tetapi kau memerlukan bantuan
kami,” jawab orang berkumis itu. “Ya. Dalam
keadaan yang sulit,” jawab orang itu. Dengan
demikian maka orang berkumis itu pun berkata, “Jika
demikian yang kita perlukan hanyalah keterangan tentang keadaan
rumah ini. Bukan kemungkinan untuk mencurinya.” Yang
diajak bicara itu pun mengangguk-angguk. Sejenak
kemudian, maka mereka melihat seseorang yang berjalan mendekati
mereka. Orang itu adalah seorang di antara mereka yang mendapat
tugas untuk mengamati keadaan di dalam rumah itu dan memberikan
isyarat dengan suara seperti suara burung hantu. “Bagaimana?”
bertanya orang berkumis itu. “Tidak ada yang
mencurigakan. Agaknya isi rumah ini tidak menyadari bahwa kita
akan datang malam ini,” jawab orang itu. “Dengan
demikian, bukankah tidak ada persiapan dan apalagi jebakan yang
dapat menjerat kita?” bertanya orang berkumis itu. “Tidak
ada,” jawab orang yang mendahului masuk. “Jika
demikian, marilah kita memasuki pintu. Kita akan merampok rumah
ini dan membunuh penguhuninya serta kedua orang yang membawa
tunggul itu,” berkata orang yang berkumis tebal
itu. Sejenak kemudian beberapa orang itu pun telah naik
ke pendapa. Mereka tidak lagi mengendap-endap seperti laku
seorang pencuri. Tetapi mereka datang dan naik ke pendapa selaku
prajurit yang memasuki medan perang. Seorang di antara
mereka pun kemudian pergi ke pintu pringgitan. Dengan hulu
pedangnya orang itu mengetuk pintu sambil berteriak memanggil,
“He, siapakah yang ada di rumah?” Orang-orang
di dalam rumah itu masih belum tidur. Karena itu suara ketukan
pintu dan teriakan itu telah mengejutkan mereka. Bahkan anak
perempuan Ki Demang yang tertidur disisi anaknya itu pun telah
terkejut pula karenanya. “Ada apa kakang?”
perempuan itu bangkit dengan wajah yang tegang. “Nyai,
jaga anakmu baik-baik. Mungkin ada orang jahat yang ingin
mengganggu kita,” jawab suaminya. “Jadi?”
istrinya menjadi semakin tegang. “Jaga anakmu. Kau
adalah anak perempuan seorang Demang. Berlakulah sebagai ayahmu
yang berani dan tidak gentar menghadapi segala macam kesulitan.
Jaga anakmu baik-baik. Aku akan melihat, siapakah orang yang
berteriak-teriak itu.” “Hati-hatilah
kakang,” suara perempuan itu menjadi parau.(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 464 Tanggal:
Kamis, 02-10-2003 Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Menantu Ki Demang itu pun kemudian membenahi dirinya.
Di beberapa bagian tubuhnya masih terasa sakit karena pangkal
landean tunggul Kiai Badra. Tetapi setelah makan dan beristirahat
sejenak, kekuatannya telah hampir menjadi pulih
kembali.
Sejenak diamatinya ploncoan tempat ia
menyimpan senjatanya. Dengan perhitungan yang mapan ternyata ia
meraih tombak pendeknya. Jika ia harus menghadapi lawan lebih
dari seorang, maka tombak pendek itu agaknya akan lebih
menguntungkan daripada sebilah parang yang hanya pantas untuk
perampok-perampok sebagaimana sering dilakukannya. Sementara
itu, orang berkumis tebal itu pun telah mengisyaratkan pula
kepada kawannya untuk mengamati orang-orang yang berada di
gandok. “Jangan beri kesempatan mereka lari sambil
membawa tunggul itu,” katanya. Dua orang di antara
mereka pun telah mengawasi pintu gandok yang masih tertutup.
Orang yang mengendap-endap mendahului kawannya itu pun berdesis,
“Mereka masih berada disana.” Dalam pada
itu, terdengar sekali lagi ketukan pintu. Lebih keras. dan suara
memanggil pun menjadi lebih keras pula, “Buka pintu atau
rumah ini akan aku bakar?” Menantu Ki Demang itu
pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian kawannya yang bertubuh
agak kegemukan dan berkepala kecil itu pun telah mendekati pintu
pula. “Kita akan membuka pintu itu,” berkata
menantu Ki Demang. Orang bertubuh gemuk itu tiba-tiba
saja bertanya, “Kau masih mempunyai tombak
pendek?” “Apakah kau mampu mempergunakan
tombak? Bukankah kebiasaanmu mempergunakan parangmu,”
bertanya menantu Ki Demang. “Ketika aku pertama kali
berlatih olah kanuragan, maka senjata yang paling aku senangi
adalah tombak pendek. Hanya setelah aku menjadi perampok aku
mempergunakan parang yang besar itu,” jawab orang yang agak
gemuk itu. “Ambillah,” desis menantu Ki
Demang. Ketika orang itu sudah menggenggam tombak
pendek, maka kedua orang itu pun telah mendekati pintu. Dengan
suara yang tidak kalah lantangnya menantu Ki Demang itu bertanya,
“Siapa kau he?” Yang menjawab adalah
kawannya yang berhubungan dengan orang-orang Jipang itu, “Aku.
Buka pintu dan berlutut dihadapanku.” Menantu Ki
Demang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun
mendekati pintu sambil mempersiapkan diri. Sambil memberi isyarat
kepada kawannya untuk bersiap sebaik-baiknya, maka ia pun membuka
selarak pintu rumahnya perlahan-lahan. Demikian pintu
itu terbuka, maka ia pun segera meloncat surut. Namun ketika
orang-orang diluar pintu itu akan memburunya masuk, maka mereka
pun tertegun. Dua ujung tombak telah menghalangi mereka. “Siapa
yang akan mati paling cepat?” suara menantu Ki Demang itu
sangat meyakinkan. Yang kemudian berdiri di depan pintu
adalah kawannya yang telah berhubungan dengan orang-orang Jipang
itu. Dengan suara lantang ia berkata, “Pengecut.
Berjongkoklah dihadapanku. Aku harus membunuhmu agar kau untuk
selanjutnya tidak menghalangi lagi pekerjaanku.” “Kau
pengkhianat,” sahut menantu Ki Demang. “Siapapun aku,
tetapi aku tetap berdiri dibawah kuasa Adipati Pajang, bukan
Jipang.” Tetapi orang berkumis tebal itulah yang
kemudian tertawa. Katanya, “Aku adalah salah seorang
perwira dari Jipang itu. Aku adalah saudaranya meskipun bukan
saudara kandung. Ia telah menemukan satu keyakinan di dalam
hidupnya. Dan itu adalah sangat berharga baginya.” “Aku
sama sekali tidak menghargainya,” berkata menantu Ki
Demang. “Nah, sekarang masih ada waktu bagi kalian untuk
pergi dari rumah ini. Atau aku harus mengusir kalian dengan
kekerasan?” Orang berkumis tebal itu tertawa
berkepanjangan. Katanya, “Apakah yang kau andalkan, bahwa
kau akan mengusir aku? Aku memang sudah mendengar dari suadaraku
ini, bahwa kau adalah orang yang terkuat di antara keempat orang
kelompokmu. Tetapi kau sekarang berhadapan dengan seorang perwira
dari Jipang.” (Bersambung)-m
SURAMNYA BAYANG BAYANG 465 Tanggal: Jumat, 03-10-2003 Topik:
SH Mintardja (Cerbung)
|
|
Suramnya Bayang Bayang 466 Tanggal:
Sabtu, 04-10-2003 Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Menantu Ki Demang, yang juga melihat tunggul itu pun
merasa kecut. Di dalam hati ia berkata, “Untunglah bahwa
lidah api itu tidak menyentuh kulit dagingku.”
Namun
dalam pada itu, dalam ketegangan itu, menantu Ki Demang itu pun
mendapat kesempatan untuk bergeser keluar diikuti oleh kawannya
yang agak gemuk dan berkepala kecil itu. Keduanya menggenggam
tombak pendek ditangannya. Sedangkan yang harus mereka
hadapi adalah kedua orang perampok yang telah memisahkan diri
itu. Tiga orang perwira Jipang dan dua orang prajurit
pengawal. Menantu Ki Demang itu menarik nafas
dalam-dalam. Jumlah lawan mereka hampir lipat dua. Namun
demikian, tidak ada niat sama sekali untuk mengurungkan
pertempuran dengan cara apapun juga meskipun seandainya nyawanya
dapat diselamatkan karena itu. Ia benar-benar sudah bertekad
untuk bertempur apapun yang akan terjadi. Demikian pula kawannya
yang gemuk itu. Ia telah menyerahkan tenaga dan kemampuannya
meskipun harus bertaruh nyawa. Namun dalam pada itu,
tiba-tiba saja Kiai Badra bertanya, “Apakah sebenarnya yang
telah terjadi disini?” “Persetan,”
geram salah seorang perwira Jipang, “Jangan berpura-pura
tidak tahu. Serahkan tunggul itu, dan biarkan kami membunuhmu
dari pada kau harus mati karena hukuman yang harus kau
jalani.” “Aku tidak mengerti yang kau
maksud. Apakah benar kalian para perwira dari Jipang?”
bertanya Kiai Badra. “Kenapa hal itu kau tanyakan
lagi?” geram perwira itu. “Bukankah di antara kami
telah menyebut, bahwa kami adalah perwira dari Jipang.” “Jadi
untuk apa sebenarnya kalian ingin merampas tunggul ini? Tunggul
ini tidak ada artinya sama sekali bagi kalian. Tetapi mempunyai
nilai yang besar bagi kami,” jawab Kiai Badra. “Kau
jangan membakar jantungku dengan berpura-pura bodoh seperti itu,”
jawab perwira Jipang itu. Bahkan orang berkumis tebal itu telah
mendekatinya pula. Katanya, “Kau menjengkelkan sekali kakek
tua. Berikan tunggul itu. Jangan banyak bicara.” “Sayang
Ki Sanak. Aku akan mempertahankannya,” jawab Kiai
Badra. “Bukankah kau tahu, siapa kami? Kami adalah
para perwira Jipang. Pajang sekarang sudah terkepung. Apa yang
akan kalian lakukan?” perwira yang berkumis tebal itu
menjadi semakin marah. “Kami adalah abdi-abdi dari
Kadipaten Pajang. Seperti para abdi dari Jipang, maka kami adalah
abdi-abdi yang setia. Karena itu, apapun yang akan terjadi atas
diri kami, maka kami akan mempertahankan tunggul ini.” “Uh,”
geram perwira berkumis tebal itu, “Ternyata kau benar-benar
orang yang pertama-tama harus dibunuh.” Kiai Badra
memandang perwira itu dengan tajamnya. Namun kemudian katanya,
“Kalian akan membuat kesalahan ganda Ki Sanak. Kehadiran
kalian di daerah Pajang sudah merupakan satu kesalahan, karena
kalian telah melanggar wewenang Kanjeng Adipati Pajang. Kedua,
bahwa di Pajang kalian ternyata telah berusaha merampok
kami.” “Tutup mulutmu,” geram perwira
itu. “Aku menyadari, menilik sikapmu menghadapi kami, serta
menurut ceritera orang-orang yang telah gagal merampas tunggul
itu, kau memang memiliki kemampuan yang tinggi. Tetapi kelebihan
kemampuanmu itu adalah karena kalian melawan perampok-perampok
kecil yang tidak memiliki pengetahuan olah kanuragan sama sekali.
Tetapi apakah kau juga akan dapat menengadahkan dadamu jika
kalian bertemu dengan para perwira dari Jipang.” “Sebaiknya
kita lihat,” jawab Kiai Badra. “Kita masih mempunyai
banyak waktu.” Perwira Jipang itu tidak ingin
berbicara lebih banyak lagi. Dengan suara lantang ia berkata,
“Urusi kelinci-kelinci itu. Aku akan menyelesaikan orang
tua ini.” Demikianlah orang-orang yang berada di
halaman itu telah menempatkan dirinya masing-masing. Dua orang
perwira Jipang dengan dua orang pengawal sudah siap menghadapi
Kiai Badra dan Gandar. Namun yang terdengar adalah perintah orang
berkumis tebal kepada kedua orang pengawalnya. (Bersambung)-m
|
|
|
Suramnya Bayang Bayang 467 Tanggal:
Minggu, 05-10-2003 Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Kalian harus menjaga agar orang-orang itu tidak
melarikan diri sambil membawa tunggul yang sangat kita perlukan
itu. Karena itu, kalian tidak usah turut bertempur. Amati saja
keadaannya. Kalian akan melihat bagaimana aku memenggal leher
lawanku.”
Kedua pengawal itu pun telah
memencar dan berdiri sebelah-menyebelah. Mereka harus menjaga
agar kedua orang itu atau salah seorang daripadanya berusaha
melarikan diri dan menyelamatkan tunggul yang menurut penilaian
mereka sangat berharga itu. Sementara itu, seorang
perwira dan dua orang kawan menantu Ki Demang yang telah
menyatakan memisahkan diri, bahkan akan membunuhnya itu, telah
siap pula berhadapan dengan menantu Ki Demang serta kawannya yang
agak gemuk. Perwira Jipang itu menggeram, “Seperti
sudah kami katakan, kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa. Aku
ingin melihat kemampuanmu dibandingkan dengan seorang perwira
dari Pajang.” Menantu Ki Demang itu pun telah siap
menghadapinya. Sementara kawannya yang gemuk harus menghadapi dua
orang bekas kawannya sendiri. Tetapi orang yang agak
gemuk dengan kepala kecil itu pun sama sekali tidak gentar.
Bahkan sambil tersenyum ia berkata, “Kita sekarang akan
memperbandingkan kemampuan kita masing-masing. Jika ternyata
kalian kalah, maka kalian harus membayar aku banyak sekali.
Setiap perampokan yang terjadi, seharusnya pembagianku lebih
banyak dari kalian, karena aku mempunyai kelebihan lebih banyak.
Tetapi jika aku harus mati disini, maka tidak ada apa-apa yang
patut dibanggakan, kecuali kelicikan kalian karena kalian
bertempur tidak sebagai laki-laki sejati dalam perang tanding
yang adil.” “Persetan,” geram
kawannya. “Kami memang tidak sedang berperang tanding.
Tetapi kami memang datang untuk membunuhmu.” Orang
yang agak gemuk itu tidak menjawab. Tetapi ia sudah bergeser
menjauhi menantu Ki Demang, agar mereka dapat leluasa bertempur
menghadapi lawan masing-masing dengan senjata sebatang tombak
pendek. Sejenak kemudian, maka pertempuran itu pun telah
mulai membakar halaman rumah menantu Ki Demang. Seperti yang
diperintahkan oleh menantu Ki Demang, laki-laki yang ada di
bagian belakang rumah itu tidak segera melibatkan diri dan tidak
pula membunyikan tanda bahaya. Mereka tidak tahu alasannya,
kenapa menantu Ki Demang tidak mengizinkan mereka untuk memukul
ken-ongan. Mereka tidak tahu, bahwa menantu Ki Demang merasa
cemas, seandainya kawan-kawannya itu tertangkap oleh para
pengawal dan diserahkan kepada Ki Demang, karena mereka tentu
akan berbicara tentang dirinya pula. Karena itu, maka
menantu Ki Demang itu merasa lebih baik dihadapinya sendiri.
Tetapi ia tidak mengira sama sekali bahwa yang datang bersama
kedua orang itu adalah tiga orang perwira dan dua orang prajurit
pengawal dari Jipang. Dalam pada itu, seorang di antara
para perwira Jipang yang menghadapi menantu Ki Demang itu pun
telah menyerangnya pula. Meskipun ia belum bersungguh-sungguh,
tetapi nampak bahwa perwira itu memiliki kemampuan yang sangat
tinggi. Tetapi menantu Ki Demang itu pun termasuk orang
yang paling kuat di antara kawan-kawannya. Karena itu, maka
bagaimana pun juga ia berusaha untuk dapat mengimbangi kemampuan
perwira dari Jipang itu. Namun memang tidak dapat
dipungkiri, bahwa para perwira Jipang, apalagi yang dikirim ke
Pajang, adalah perwira yang memiliki kemampuan terpilih. Karena
itu, maka dalam benturan pertama, telah tampak bahwa perwira
Jipang itu memiliki kelebihan. Meskipun demikian, maka
menantu Ki Demang itu tidak cepat menyerah kepada keadaan. Dengan
tombak panjangnya ia berusaha untuk setidak-tidaknya bertahan
untuk waktu yang lebih lama dari pada sepenginang. Di
depan gandok, maka para perwira Jipang itu pun telah melihat Kiai
Badra dan Gandar. Kedua orang perwira itu ternyata tidak mau
kehilangan kesempatan. Karena itu maka mereka pun berusaha untuk
secepatnya menyelesaikan tugas mereka. Dengan pedang panjang
keduanya telah melibat Kiai Badra dan Gandar ke dalam satu
pertempuran yang keras dan cepat. (Bersambung)-m
|
|
|
Suramnya Bayang Bayang 468 Tanggal:
Senin, 06-10-2003 Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Tetapi para perwira Jipang itu belum mengenal Kiai
Badra dan Gandar sebelumnya. Karena itu, maka ketika terjadi
benturan-benturan, mereka pun segera menyadari, bahwa kedua orang
itu memang memiliki ilmu yang tinggi.
Dalam pada
itu, sebagaimana sebelumnya, Kiai Badra berusaha untuk tidak
membuat tunggulnya cacat. Tunggul yang berbentuk cakar itu tidak
dipergunakan pada tajam geriginya. Tetapi Kiai Badra masih
berusaha untuk mempergunakan pangkal landeannya. Sementara
itu, Gandar yang bersenjata ikat pinggang itu pun telah mengambil
satu keputusan yang menggetarkan jantungnya sendiri. Lawannya itu
harus diselesaikan sehingga ia tidak akan dapat mengganggu
menantu Ki Demang itu lagi dan sekaligus mengurangi kekuatan
pasukan Jipang di Pajang yang bergabung dengan pasukan dari Tanah
Perdikan Sembojan. Perwira dari Jipang yang melawan
Gandar itu memang terkejut melihat Gandar mempergunakan senjata
yang asing baginya, namun dengan demikian, perwira itu menjadi
semakin berhati-hati. Ia sadar, bahwa jika lawannya itu bukan
seorang yang mumpuni maka ia tidak akan berani melawannya hanya
dengan senjata ikat pinggangnya. Sementara itu Kiai
Badra pun telah terlibat dalam pertempuran yang cepat melawan
perwira Jipang yang berkumis lebat itu. Ternyata perwira Jipang
itu berusaha untuk segera mengalahkan lawannya. Namun ternyata
lawannya adalah Kiai Badra. Karena itu, maka betapapun
perwira Jipang berkumis tebal itu berusaha, namun usahanya itu
ternyata sia-sia saja. Ia tidak mampu berbuat banyak menghadapi
orang tua yang membawa tunggul itu. Demikian juga
perwira Jipang yang bertempur melawan Gandar. Ternyata Gandar
adalah orang yang luar biasa. Ikat pinggangnya yang mampu menebas
seperti pedang, bukan sekadar sebuah ceritera. Tetapi benar-benar
dibuktikannya sendiri dalam pertempuran itu. Namun dalam
pada itu, dilingkaran pertempuran yang lain, menantu Ki Demang
mengalami kesulitan menghadapi perwira Jipang yang bertempur
dengan garang. Pada saat yang pendek, ia sudah mulai terdesak.
Karena itu, menantu Ki Demang itu harus memeras tenaganya untuk
bertahan. Namun dengan demikian, maka kemampuan dan daya tahannya
akan cepat sampai ke batas. Sementara itu, kawannya yang
berbadan gemuk itu pun telah mengalami kesulitan. Meskipun ia
yakin, bahwa ia memiliki kemampuan tidak lebih rendah dari kedua
kawannya itu yang kemudian justru harus dilawannya, tetapi ketika
mereka berdua menyatukan kemampuan mereka, orang yang gemuk itu
mengalami kesulitan. Kiai Badra agaknya melihat keadaan
itu. Ia tidak dapat membiarkan menantu Ki Demang itu benar-benar
diterkam kesulitan yang akan dapat membahayakan jiwanya. Karena
itu, maka ia pun merasa wajib untuk menyelamatkannya. Dengan
demikian maka Kiai Badra harus mengakhiri perlawanan perwira
Jipang itu mendahului batas daya tahan menantu Ki Demang, agar
dengan demikian ia masih sempat memberikan pertolongan. Karena
itu, maka Kiai Badra pun telah meningkatkan ilmunya, sehingga
perwira Jipang itu menjadi bingung. Pangkal landean Tunggul itu
bagaikan berputaran disekitar tubuhnya, kemudian mematuk dengan
dahsyatnya, menyentuh kulit dagingnya. Setiap sentuhan terasa
bagaikan sentuhan bara api yang menyengat. Perwira
Jipang yang berkumis lebat itu menjadi gelisah. Namun betapapun
ia mengerahkan kemampuannya, namun ternyata bahwa sulit baginya
untuk mengatasi kecepatan gerak orang tua yang bersenjata tunggul
itu. Bahkan semakin lama sentuhan pangkal landean
tunggul itu semakin sering mengenainya. Perwira yang
bertempur melawan Gandar pun segera mengalami kesulitan. Meskipun
Gandar hanya bersenjata ikat pinggangnya, namun senjata itu
ternyata mampu mengimbangi perwira Jipang yang melawannya. Bahkan
semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa Gandar akan segera
memenangkan pertempuran itu. Dalam keadaan yang memaksa
itu, maka perwira Jipang yang berkumis lebat itu tidak dapat
berbuat lain daripada memberikan perintah kepada prajuritnya
untuk memasuki arena, bertempur bersamanya menghadapi orang tua
yang bersenjata tunggul yang hanya dipergunakan pangkal
landeannya saja. (Bersambung)-c
|
|
|
Suramnya Bayang Bayang 469 Tanggal:
Selasa, 07-10-2003 Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Ikutlah menangkap orang ini,” berkata
perwira itu, “Agaknya ia benar-benar akan melarikan
diri.” Kedua prajurit itu termangu-mangu. Namun
mereka pun segera menyadari bahwa mereka harus turun ke
gelanggang. Sejenak kemudian, maka kedua orang prajurit
itu pun telah melangkah mendekati pertempuran yang terjadi itu.
Seorang mendekati lingkaran pertempuran Kiai Badra yang lain
mendekati Gandar.
Dengan senjata teracu, maka
keduanya pun kemudian langsung memasuki arena. Namun
yang terjadi memang sangat mengejutkan. Prajurit yang memasuki
arena melawan Kiai Badra itu pun segera telah terlempar kembali
keluar arena. Sekali ia menggeliat, kemudian prajurit itu pun
pingsan. Di dahinya terdapat noda kebiru-biruan. Agaknya demikian
ia berada di arena, maka ia pun menjadi lengah, sehingga pangkal
landean tunggul Kiai Badra telah menyentuh dahinya, sedikit
disebelah kening. “Gila,” perwira berkumis
lebat itu mengumpat. Ternyata bahwa prajurit itu sama sekali
tidak berarti baginya. Sementara itu, Gandar yang juga
melihat keadaan menantu Ki Demang dan rekannya, ingin juga
menyelesaikan pertempuran dengan cepat. Karena itu, maka ikat
pinggangnya pun telah berubah seolah-olah sebilah pedang. Betapa
ikat pinggang itu terayun-ayun mendebarkan. Suaranya berdesing
menggelitik telinga. Dengan kemampuan yang luar biasa,
maka Gandar pun segera mendesak kedua orang lawannya. Bahkan
sejenak kemudian, ketika ikat pinggang itu menyambar mendatar dan
menyentuh lengan prajurit yang bertempur melawannya, ternyata
telah mengoyakkan kulitnya sehingga luka pun telah menganga.
Darah pun kemudian telah mengucur dari luka yang pedih
itu. “Gila,” geram perwira Jipang yang
melihat lengan kawanya terluka. Namun ketika ia dengan marah
meloncat menyerang, Gandar telah bergeser ke samping sambil
mengayunkan ikat pinggangnya. Ternyata ikat pinggang
Gandar itu telah mematuk lambung perwira Jipang itu. Tetapi
berbeda dengan kawannya yang koyak kulitnya, maka ikat pinggang
Gandar itu telah menghantam lambung bagaikan selembar kepingan
besi. Meskipun kulit perwira itu tidak terluka, tetapi
rasa-rasanya bagian dalam lambungnyalah yang remuk
karenanya. Karena itu, maka perwira itu berusaha
mengambil jarak. Dengan mengerahkan segenap daya tahannya, ia
berusaha mengatasi perasaan sakitnya. Sementara itu,
prajurit yang terluka di lengannya itu agaknya masih mempunyai
keberanian untuk menyerang Gandar. Dengan senjata berputar,
prajurit itu berusaha untuk melukai lawannya. Namun yang
terjadi sangat menggetarkan hatinya. Ternyata dengan serangannya
yang keras itu, pedangnya justru telah terlontar dan terlepas
dari tangannya. Pedang itu agaknya telah membentur ikat pinggang
Gandar yang dipergunakan untuk menangkis serangan itu. Prajurit
itu mengumpat. Sementara itu, perwira yang lambungnya bagaikan
remuk dibagian dalam itu berhasil mengatasi rasa sakitnya. Ia pun
berusaha untuk dapat membantu prajurit yang terluka dan
kehilangan pedangnya itu. Maka perwira itu pun telah meloncat
menyerang Gandar. Gandar bergeser selangkah. Serangan
perwira itu tidak mengenainya sama sekali. Namun dengan demikian,
prajurit yang kehilangan pedangnya itu masih sempat
memungutnya. Dengan demikian, maka prajurit itu pun
telah bersiap pula untuk bertempur. Namun darah ternyata terlalu
banyak ke luar dari lukanya di lengan. Karena itu, maka
kegelisahannya pun telah mengganggu tata geraknya dalam
pertempuran selanjutnya. Sejenak kemudian, maka
berbareng keduanya menyerang Gandar. Dua ujung pedang
bersama-sama mematuknya. Namun kedua orang lawannya itu telah
terluka, sehingga mereka tidak mampu lagi untuk bergerak terlalu
cepat. Dengan demikian, maka Gandar tidak mengalami
kesulitan untuk menghindari serangan perwira itu. Namun sekaligus
sekali lagi ia menyambar pedang prajurit itu dengan ikat
pinggangnya.(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 470 Tanggal: Rabu,
08-10-2003 Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Sekali lagi pedang itu terlepas. Namun selagi prajurit
itu merenunginya sekejab, tiba-tiba saja terasa dadanya telah
dikenai ikat pinggang lawannya. Tetapi ikat pinggang itu tidak
mengoyak kulitnya. Namun benar-benar sebagaimana sehelai kulit
yang menghantam dadanya.
Meskipun demikian dadanya
itu terasa panas sekali. Kulit dagingnya terasa bagaikan disentuh
bara api. Karena itu, maka terdengar ia mengaduh perlahan.
Kemudian terhuyung-huyung menepi menjauhi arena pertempuran.
Apalagi ia sudah tidak bersenjata lagi. “Pengecut,”
geram perwira itu. “Kenapa kau lari dari medan?” Prajurit
itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi dadanya masih saja terasa
panas sekali. Ketika ia sempat melihatnya, dibawah cahaya lampu
diserambi gandok, ia melihat dadanya memang bagaikan terbakar
melintang sebagaimana jalur sentuhan ikat pinggang
lawannya. Betapa sakitnya. Sehingga dengan demikian
prajurit itu sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk berbuat
sesuatu. Lukanya yang mengoyak lengannya dan luka bakar yang
menyilang di dadanya itu, membuat sama sekali tidak berdaya lagi.
Apalagi tanpa senjata ditangan. Sementara itu, perwira
yang bertempur melawan Gandar itu pun ternyata sudah tidak banyak
lagi berbuat. Ia masih saja mengumpati kawannya yang kemudian
jatuh terduduk bersandar dinding halaman. Namun sejenak kemudian,
senjata lawannya yang aneh itu sekali lagi telah mengenainya
pula. Pundaknyalah yang kemudian tersentuh ikat pinggang Gandar
itu. Dengan demikian maka rasa-rasanya tangannya memang menjadi
lumpuh, karena pundaknya bagaikan dikenai oleh sekeping besi
baja. Perwira itu mengumpat-umpat. Tetapi ia memang
sudah tidak berdaya. Ketika ia berusaha memindahkan pedangnya
dari tangan kanan ke tangan kirinya, maka serangan Gandar itu pun
datang lagi. Ikat pinggang kulit itu telah mengenai punggungnya
sebagaimana ikat pinggang kulit sewajarnya. Namun seperti
prajurit yang kehilangan kesempatan untuk melawannya itu, maka
punggungnya pun rasa-rasanya bagaikan terbakar. Karena
itu, maka perwira itu pun kemudian menggeliat dan bergeser surut.
Tetapi Gandar telah memburunya pula. Ikat pinggang itu pun
kemudian mematuk dadanya sebagaimana sebatang linggis, sehingga
perwira itu terdorong surut dan jatuh terlentang. Tulang-tulang
iganya rasa-rasanya telah berpatahan. Ketika ia berusaha untuk
bangkit, maka dari mulutnya telah meleleh darah yang
hangat. Ternyata perwira itu tidak berdaya lagi. Bahkan
ia pun kemudian jatuh terlentang. Kesakitan yang sangat telah
mencengkamnya. Gandar menarik nafas dalam-dalam.
Sementara itu ia melihat Kiai Badra yang tidak mau mempergunakan
tunggul sepenuhnya dan selalu menghindari kemungkinan landean
tunggul itu menjadi cacat oleh benturan, telah dapat melumpuhkan
lawannya pula. Dengan pangkal landean tunggulnya Kiai Badra
berhasil mengetuk dada perwira Jipang yang berkumis lebat itu
sehingga perwira itu terlempar dari arena. Namun demikian ia
berusaha bangkit, maka diluar dugaannya, pangkal landean itu
tepat berada di atas dahinya, sehingga karena itu, maka
kepalanyalah yang telah terantuk pada pangkal landean yang
sengaja dipasang oleh Kiai Badra didepan dahinya itu.
(Bersambung)-m

|
|