|
|
|
Senin, 08 September 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 441
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya,
“Baiklah. Besok bawalah Kiai Badra ini kembali kepadaku.”
Demikianlah, maka Kiai Badra pun kemudian mohon diri bersama Gandar dan
sahabatnya, orang Pajang itu. Dengan penuh harapan Kiai Badra harus menunggu
sampai esok.
“Nah, aku menagih janji,” berkata sahabatnya.
“Apa?” bertanya Kiai Badra.
“Kau memang sudah pikun,” jawab sahabatnya itu. “Bukankah kau berjanji untuk
tinggal di rumahku ini? He orang di rumah tentu sudah menyembelih tiga ekor
ayam hari ini.”
“Tiga?” ulang Kiai Badra.
“Ya. Kami ingin menjamu kalian,” berkata sahabatnya itu.
“Tetapi tiga ekor,” desis Kiai Badra.
“Bukankah biasanya kau sendiri menghabiskan seekor ayam?” bertanya sahabat
Kiai Badra itu.
Kiai Badra tertawa. Gandar pun ikut tertawa. Tetapi dengan nada rendah
sahabat Kiai Badra berkata, “Memang tiga ekor. Tetapi ayam kemanggang.”
“Uh,” desis Gandar. “Ketiganya aku sanggup menghabiskannya.
Ketiga orang itu tertawa.
Malam itu Kiai Badra dan Gandar bermalam di rumah sahabatnya. Ternyata bahwa
sahabat Kiai Badra itu juga menaruh minat atas keadaan Tanah Perdikan
Sembojan, sehingga karena itu, maka ia pun akan ikut berusaha untuk
meyakinkan, agar pajang menyetujui rencana Kiai Badra. Atas nama cicitnya,
merebut kembali Tanah Perdikan Sembojan dari kekuasaan orang-orang yang
tidak bertanggung jawab, yang justru adalah keluarga Kalamerta. Bahkan
Gandar pun berkata, “Satu kemungkinan, bahwa kematian Ki Gede Sembojan pun
telah direncanakan dari dalam.”
“Aku memastikannya,” desis sahabat Kiai Badra.
Dengan demikian, maka Kiai Badra telah memantapkan tekadnya untuk berbuat
sebagaimana dikatakannya. Merebut kembali, jika perlu dengan kekerasan.
Kesempatan yang ada justru memberikan peluang yang seluas-luasnya karena
kekuatan Tanah Perdikan Sembojan berada di Pajang.
Malam rasa-rasanya berjalan lamban sekali. Kiai Badra ingin segera bertemu
kembali dengan Ki Tumenggung Wirajaya untuk mendapat keterangan, apakah
pajang setuju jika Kiai Badra akan mengambil alih pemerintahan di Sembojan
dengan kekerasan.
Namun akhirnya malam pun berakhir. Meskipun rasa-rasanya matahari malas
sekali naik ke atas punggung pegunungan, tetapi Kiai Badra sudah merasa
tenang, bahwa sebentar lagi ia akan mendengar kepastian itu dari Tumenggung
Wirajaya.
Memang agak tergesa-gesa bahwa sebelum matahari memanjat sepenggalah,
keduanya telah pergi ke rumah Ki Tumenggung Wirajaya, diikuti oleh Gandar.
Kedatangan mereka disambut dengan senyum sebagaimana yang selalu tampak
dibibir Ki Tumenggung yang ramah itu. Kemudian ketiganya dipersilakan
menunggu di ruang dalam.
Demikian Ki Tumenggung menemui mereka, maka dengan serta merta Kiai Badra
pun bertanya, “Maaf Ki Tumenggung”. Rasa-rasanya seperti kanak-kanak yang
menunggu oleh-oleh dari ibunya yang pergi ke pasar. “Seakan-akan aku tidak
sabar lagi. Karena perkenanlah aku mendengar keputusan yang telah diambil?”
Ki Tumenggung tersenyum, katanya, “Baiklah Kiai. Aku mengerti kegelisahan
yang selama ini bergejolak di dalam dada Kiai. Langkah yang salah yang
diambil oleh Ki Wiradana memang akan dapat berakibat kurang baik bagi
anaknya. Apalagi sekarang Ki Wiradana mempunyai dua orang anak laki-laki.
Yang seorang adalah anak laki-laki yang sehari-harinya dikenal sebagai
anaknya yang akan berhak menggantikan kedudukannya, sementara yang seorang
meskipun tidak dikenal oleh orang-orang Sembojan, namun justru mempunyai
pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan.”
“Ya Ki Tumenggung,” jawab Kiai Badra. “Tetapi kami mohon satu keputusan yang
adil. Karena meskipun tidak dikenal, tetapi anak Iswari itu adalah juga anak
Wiradana.”
“Ya. Ya. Aku mengerti Kiai Badra,” jawab Ki Tumenggung. “Bahkan menurut
urutan kelahiran, maka anak cucu Kiai telah lahir lebih dahulu dari seorang
istri yang masih dapat dianggap sah, karena Iswari masih belum diceraikan.
Justru karena ia dianggap mati.” (Bersambung)-k.
Suramnya Bayang Bayang 442
Tanggal: Selasa, 09-09-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Jadi, bagaimanakah keputusan Ki
Tumenggung?” desak Kiai Badra.
Ki Tumenggung Wirajaya tertawa. Katanya, “Baiklah Kiai. Persoalan yang Kiai
bawa telah aku sampaikan dalam satu pertemuan terbatas antara para pemimpin
Pajang yang tidak ikut Kanjeng Adipati Hadiwijaya.”
“Dan hasilnya?” Kiai Badra tidak sabar.
Ki Tumenggung Wirajaya tertawa lebih keras, sementara Kiai Badra berkata,
“Ki Tumenggung sengaja membuat jantungku rontok.”
“Baiklah Kiai. Aku akan mengabarkan hasil pembicaraanku,” berkata Ki
Tumenggung. Lalu, “Sebenarnyalah persoalan yang Kiai Badra kemukakan itu
sangat menarik. Sebagian dari para pemimpin dengan serta merta menanggapi
rencana Kiai dengan baik. Bahkan akhirnya kami memutuskan mendahului
keputusan Kanjeng Adipati, bahwa Kiai bukan saja dibenarkan untuk merebut
kembali Tanah Perdikan Sembojan dari tangan-tangan orang yang sekarang ini
membayangi kekuasaan Ki Wiradana, tetapi Kiai mendapat perintah untuk
melakukannya.”
“Jadi Pajang justru memberikan perintah itu?” bertanya Kiai Badra.
“Ya,” jawab Ki Tumenggung.
“Terima kasih Ki Tumenggung. Tetapi jangan kepadaku. Berikan perintah itu
kepada Iswari, cucuku,” berkata Kiai Badra.
“Kamilah yang memberikan perintah itu. Sekarang Kiai memerintahkan
kepadaku,” jawab Ki Tumenggung
“O, maaf Ki Tumenggung. Perasaanku terlalu bergejolak. Aku mohon maaf,”
desis Kiai Badra.
Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Tetapi baiklah. Usul itu dapat aku
terima. Pajang memberikan perintah kepada Iswari, cucu Kiai Badra untuk atas
nama anak laki-lakinya merebut kembali Pajang dari pengaruh Jipang.”
“Terima kasih Ki Tumenggung. Terima kasih,” berkata Kiai Badra.
“Sebagai kelengkapan perintah itu, maka Kiai Badra akan mendapat tunggul
pertanda dari Pajang,” berkata Ki Tumenggung kemudian.
Dada Kiai Badra rasa-rasanya telah bergejolak. Dengan nada dalam ia
berkata,”Kami akan menjalankan perintah itu sebaik-baiknya dengan taruhan
yang paling berharga yang dapat kami berikan.”
Ki Tumenggung Wirajaya kemudian berkata, “Kiai. Aku akan memberikan tunggul
itu kepada Kiai sekarang. Apakah Kiai akan dapat membawanya ke padepokan
Kiai. Atau tunggul itu akan Kiai titipkan disini sampai saatnya Kiai dapat
mengambil?”
“Aku akan membawanya,” berkata Kiai Badra. “Dengan demikian maka semua
gerakan kami menjadi sah. Atas nama Pajang dan bagi masa depan Tanah
Perdikan Sembojan.”
Tetapi sahabat Kiai Badra itu berdesis, “Bagi masa depan Sembojan atau bagi
masa depan cicit Kiai itu?”
Wajah Kiai Badra menegang sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya,
“Bukankah pada awal pembicaraan ini aku sudah mengatakan bahwa aku pun telah
membawa pamrih pribadi?”
Ki Tumenggung Wirajayalah yang kemudian menengahi, “Tidak ada salahnya
dengan pamrih pribadi, asal pamrih pribadi itu dilandasi dengan niat yang
baik dan berjalan di jalur kebenaran. Bukan sekadar kebenaran bagi
kepentingan diri sendiri. Tetapi kebenaran dalam pengertian hubungan antara
sesama, meskipun hal itu belum tentu berarti kebenaran yang mutlak.”
Kiai Badra mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Tumenggung berkata,
“Tunggulah. Aku akan mengambil tunggul itu. Tetapi aku berpesan, agar Kiai
membawanya dengan hati-hati. Kiai tidak perlu lagi melihat pasukan Tanah
Perdikan Sembojan yang cukup besar yang bergabung dengan pasukan Jipang yang
jumlahnya hanya sedikit itu untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk
yang dapat terjadi.”
“Ya Ki Tumenggung. Karena aku membawa tunggul Kadipaten, maka aku akan
mencari jalan yang paling aman. Agar tunggul itu dapat sampai ketangan orang
yang berhak melaksanakan perintah Pajang,” jawab Kiai Badra.
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku berharap perintah itu dapat
dilakukan sebaik-baiknya. Kami, yang telah memberanikan diri mendahului
perintah Kanjeng Adipati, akan mempertanggung jawabkannya di tataran
pemerintahan Pajang jika kalian benar-benar melakukanya dengan jujur.
Tetapi jika ternyata ada langkah-langkah yang miring dari persoalan ini,
maka mungkin sekali akulah yang akan digantung oleh Kanjeng Adipati.”
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 443
Tanggal: Rabu, 10-09-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Kami akan menjunjung perintah ini
sebaik-baiknya,” jawab Kiai Badra.
“Berpegang kepada pertanda pemerintahan di Tanah Perdikan Sembojan, maka
anak Wiradana itu akan mendapat perhatian justru lebih besar dari Wiradana
sendiri,” berkata Ki Tumenggung. “Namun segalanya akan dapat diatur kemudian
setelah tugas kalian selesai. Demikian pula, setelah persoalan Demak dapat
diselesaikan pula, sehingga Kanjeng Adipati mendapat kesempatan yang
cukup.”
Kiai Badra justru menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya ia sudah tidak sabar
lagi untuk mengambil langkah-langkah yang sesuai dengan perintah dari Pajang
itu, bahwa atas nama anaknya, Iswari harus merebut kembali Tanah Perdikan
Sembojan dari pengaruh Jipang serta menyingkirkan orang-orang yang telah
membayangi kekuasaan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.
Namun tugas itu memberikan harapan kepadanya, bahwa masa depan Tanah
Perdikan itu sendiri akan semakin baik.
Dengan demikian maka Kiai Badra pun segera mohon diri. Beberapa pesan masih
disampaikan oleh Ki Tumenggung Wirajaya yang bertanggung jawab atas perintah
yang disampaikan kepada Iswari lewat Kiai Badra itu terhadap Kanjeng Adipati
kelak.
“Kami akan melakukannya sejauh kemampuan yang ada pada kami,” berkata Kiai
Badra kemudian.
Sejenak kemudian maka Kiai Badra dan Gandar pun telah berada di rumah
sahabat Kiai Badra itu. Mereka masih akan berada di rumah itu untuk semalam
lagi. Besok sebelum matahari terbit mereka akan kembali ke padepokan kecil
mereka.
“Barhati-hatilah,” pesan sahabat Kiai Badra. “Perjalananmu dibayangi tugas
yang sangat berat bagi Tanah Perdikan Sembojan. Tunggul itu tidak boleh
terlepas dari tanganmu jika kau tidak ingin digantung oleh Ki Tumenggung
Wirajaya.”
“Jika tunggul ini terlepas dari tanganku, Pajang tidak akan sempat
menggantungku,” jawab Kiai Badra.
“Kenapa?” bertanya sahabatnya.
“Lepasnya tunggul ini akan berbareng dengan pecatnya nyawaku,” jawab Kiai
Badra. Lalu, “Sudah tentu Pajang tidak akan menggantung tubuhku.”
Sahabatnya tersenyum. Namun katanya, “Siapa tahu tubuhmu akan dijadikan
pengawen-awen.”
“Dan kau akan mengerahkan rakyat Pajang untuk menyaksikannya,” sahut Kiai
Badra.
Sahabatnya tertawa. Namun kemudian Kiai Badra dan Gandar pun tertawa pula.
Dalam pada itu, ketika malam tiba, Kiai Badra dan Gandar berusaha untuk
beristirahat sebaik-baiknya. Sebagaimana mereka rencanakan, maka sebelum
fajar, mereka telah meninggalkan rumah sahabat mereka di Pajang, untuk
menempuh perjalanan kembali. Perjalanan yang menyandang pesan bagi masa
depan Tanah Perdikan Sembojan.
Karena itu, maka Kiai Badra dan Gandar justru telah mencari jalan yang
paling aman. Mereka menempuh jalan-jalan simpang yang tidak begitu banyak
dilalui orang, sehingga tunggul yang mereka bawa dibawah selongsong kain
putih, tidak banyak menarik perhatian.
Meskipun demikian, satu dua orang yang berpapasan, serta jika mereka
terpaksa melewati pedukuhan-pedukuhan kecil yang tidak dapat mereka hindari,
ada saja orang yang bertanya, apa yang mereka bawa itu.
“Tombak,” jawab Kiai Badra.
“Untuk apa?” bertanya seseorang.
“Tombak ini ternyata tidak memberikan tuah yang baik bagi keluarga kami,”
jawab Kiai Badra. “Menurut pendapat seorang tua, tombak ini harus
dilarung.”
“Dilarung dimana?” bertanya orang itu.
“Di goa Karang Ludes,” jawab Kiai Badra.
“Goa itu terletak dimana?” orang itu masih bertanya.
“Dibawah permukaan air laut di Lautan Selatan. Pada saat air surut, maka goa
itu baru kelihatan,” jawab Kiai Badra.
“Sayang,” desis orang itu. “Tombak dibalik selongsong itu tentu tombak yang
sangat baik ujudnya menilik pangkal landasannya yang agaknya dibuat dari
logam yang mahal.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 444
Tanggal: Kamis, 11-09-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Kiai Badra mengerutkan keningnya. Ia sama
sekali tidak menduga bahwa orang itu telah memperhatikan pangkal pandean
tombak yang dibalut oleh logam yang berwarna kuning keemasan.
Namun untuk meyakinkan orang itu, maka Kiai Badra berkata, “Jika kau
tertarik akan tombak ini, apakah kau mau mengambilnya? Tetapi jika terjadi
sesuatu dengan keluargamu, bukan tanggung jawabku.”
“Terjadi apa?” bertanya orang itu.
“Entahlah. Apa saja,” jawab Kiai Badra.
Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Jika tombak itu memang harus
dilarung, biarlah dilarung, agar tidak menimbulkan persoalan dihari
kemudian.”
Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun setelah mereka membelakangi orang itu
Gandar tersenyum sambil berkata, “dapat juga Kiai berbohong.”
Kiai Badra tersenyum juga. Jawabnya, “Satu-satunya cara yang tidak
menimbulkan persoalan.”
“Ya Kiai. Meskipun berbohong tetapi dengan meyakinkan, maka orang lain pun
akan percaya,” desis Gandar sambil tertawa.
Kiai Badra pun tertawa juga sambil berkata, “Jawaban yang dapat diulangi
setiap ada orang yang bertanya.”
Gandar mengangguk-angguk. Namun ia berkata, “Tetapi mungkin ada juga
seseorang yang menjawab lain.”
“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Badra.
“Jika Kiai menawarkan tunggul itu, dan orang yang Kiai tawari itu menjawab
ya, apa yang akan Kiai lakukan?” bertanya Gandar.
“Membawanya lari,” jawab Kiai Badra sambil tertawa.
Gandar pun tertawa juga. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Menurut
pendapatnya, orang-orang yang akan mempertanyakan tunggul itu akan puas
mendengar jawaban Kiai Badra.
Ternyata karena perjalanan mereka yang melingkar-lingkar, mereka telah
menempuh perjalanan yang semakin panjang. Mereka harus bermalam diperjalanan
pada jarak yang masih cukup jauh.
Tetapi bermalam disembarang tempat bukan merupakan persoalan bagi Kiai Badra
dan Gandar.
Namun demikian, di luar sadar kedua orang itu, ternyata ada juga orang yang
menaruh perhatian terhadap tunggul yang dibawa oleh Kiai Badra itu. Justru
bukan orang kebanyakan yang dengan terbuka telah bertanya tentang benda yang
dibawa itu. Tetapi ternyata empat orang yang berpapasan dengan Kiai Badra
dan Gandar menjelang sore hari, sangat memperhatikan tunggul yang berada
dibawah selongsong putih itu.
“Kau lihat, apa yang dibawa oleh orang tua itu?” bertanya salah seorang di
antara mereka.
“Mungkin sebangsa tombak,” jawab kawannya. “Apakah kau memperhatikannya?”
“Ya,” jawab yang lain. “Aku melihatnya. Selongsongnya tidak menutup seluruh
landeannya. Aku melihat pangkal landean yang mencuat ke luar dari
selongsongnya.”
“Menarik sekali,” jawab seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar
dan berjambang lebat, “Jika demikian apakah perjalanan kita tunda?”
“Aku setuju,” desis kawannya. “Kita masih akan dapat merampoknya besok.
Orang itu tidak akan tergesa-gesa berpindah rumah. Bahkan jika usaha kita
mendapatkan tombak itu cepat selesai, kita masih mempunyai waktu.”
“Tidak. Kita akan merampasnya nanti jika malam turun. Kita tidak akan sempat
lagi pergi ke sasaran kita semula. Biarlah besok saja kita mengambil isi
rumah itu. Bukankah tidak ada batas waktu dan tidak ada perhitungan hari?”
berkata yang lain.
“Tidak ada perhitungan hari. Tetapi kita harus memperhitungkan waktu bagi
hari-hari tertentu. Malam ini kita mempunyai waktu menjelang saat tengah
malam. Tetapi jika kita melakukannya besok, kita harus membuat perhitungan
lagi. Mungkin kita baru boleh melakukannya setelah tengah malam, atau justru
pada saat ayam berkokok untuk kedua kalinya,” sahut kawannya.
Ternyata keempat orang itu bersepakat untuk mengurungkan pekerjaan yang akan
dilakukannya. Mereka lebih tertarik kepada tombak yang berada di dalam
selongsong itu. Menilik ujud pangkal landeannya, tombak itu tentu merupakan
benda yang sangat berharga. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 444
Tanggal: Kamis, 11-09-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Kiai Badra mengerutkan keningnya. Ia sama
sekali tidak menduga bahwa orang itu telah memperhatikan pangkal pandean
tombak yang dibalut oleh logam yang berwarna kuning keemasan.
Namun untuk meyakinkan orang itu, maka Kiai Badra berkata, “Jika kau
tertarik akan tombak ini, apakah kau mau mengambilnya? Tetapi jika terjadi
sesuatu dengan keluargamu, bukan tanggung jawabku.”
“Terjadi apa?” bertanya orang itu.
“Entahlah. Apa saja,” jawab Kiai Badra.
Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Jika tombak itu memang harus
dilarung, biarlah dilarung, agar tidak menimbulkan persoalan dihari
kemudian.”
Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun setelah mereka membelakangi orang itu
Gandar tersenyum sambil berkata, “dapat juga Kiai berbohong.”
Kiai Badra tersenyum juga. Jawabnya, “Satu-satunya cara yang tidak
menimbulkan persoalan.”
“Ya Kiai. Meskipun berbohong tetapi dengan meyakinkan, maka orang lain pun
akan percaya,” desis Gandar sambil tertawa.
Kiai Badra pun tertawa juga sambil berkata, “Jawaban yang dapat diulangi
setiap ada orang yang bertanya.”
Gandar mengangguk-angguk. Namun ia berkata, “Tetapi mungkin ada juga
seseorang yang menjawab lain.”
“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Badra.
“Jika Kiai menawarkan tunggul itu, dan orang yang Kiai tawari itu menjawab
ya, apa yang akan Kiai lakukan?” bertanya Gandar.
“Membawanya lari,” jawab Kiai Badra sambil tertawa.
Gandar pun tertawa juga. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Menurut
pendapatnya, orang-orang yang akan mempertanyakan tunggul itu akan puas
mendengar jawaban Kiai Badra.
Ternyata karena perjalanan mereka yang melingkar-lingkar, mereka telah
menempuh perjalanan yang semakin panjang. Mereka harus bermalam diperjalanan
pada jarak yang masih cukup jauh.
Tetapi bermalam disembarang tempat bukan merupakan persoalan bagi Kiai Badra
dan Gandar.
Namun demikian, di luar sadar kedua orang itu, ternyata ada juga orang yang
menaruh perhatian terhadap tunggul yang dibawa oleh Kiai Badra itu. Justru
bukan orang kebanyakan yang dengan terbuka telah bertanya tentang benda yang
dibawa itu. Tetapi ternyata empat orang yang berpapasan dengan Kiai Badra
dan Gandar menjelang sore hari, sangat memperhatikan tunggul yang berada
dibawah selongsong putih itu.
“Kau lihat, apa yang dibawa oleh orang tua itu?” bertanya salah seorang di
antara mereka.
“Mungkin sebangsa tombak,” jawab kawannya. “Apakah kau memperhatikannya?”
“Ya,” jawab yang lain. “Aku melihatnya. Selongsongnya tidak menutup seluruh
landeannya. Aku melihat pangkal landean yang mencuat ke luar dari
selongsongnya.”
“Menarik sekali,” jawab seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar
dan berjambang lebat, “Jika demikian apakah perjalanan kita tunda?”
“Aku setuju,” desis kawannya. “Kita masih akan dapat merampoknya besok.
Orang itu tidak akan tergesa-gesa berpindah rumah. Bahkan jika usaha kita
mendapatkan tombak itu cepat selesai, kita masih mempunyai waktu.”
“Tidak. Kita akan merampasnya nanti jika malam turun. Kita tidak akan sempat
lagi pergi ke sasaran kita semula. Biarlah besok saja kita mengambil isi
rumah itu. Bukankah tidak ada batas waktu dan tidak ada perhitungan hari?”
berkata yang lain.
“Tidak ada perhitungan hari. Tetapi kita harus memperhitungkan waktu bagi
hari-hari tertentu. Malam ini kita mempunyai waktu menjelang saat tengah
malam. Tetapi jika kita melakukannya besok, kita harus membuat perhitungan
lagi. Mungkin kita baru boleh melakukannya setelah tengah malam, atau justru
pada saat ayam berkokok untuk kedua kalinya,” sahut kawannya.
Ternyata keempat orang itu bersepakat untuk mengurungkan pekerjaan yang akan
dilakukannya. Mereka lebih tertarik kepada tombak yang berada di dalam
selongsong itu. Menilik ujud pangkal landeannya, tombak itu tentu merupakan
benda yang sangat berharga. (Bersambung)-m
Last Updated
10/05/2004
5 Agustus 2003 JW Marriott - Jakarta Blast!
e-mail: mimbarse@gajahsora.net
|