|
|
|
Sejak Juni 2002 diambil dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
http://kr.co.id
Suramnya Bayang Bayang 431
Tanggal: Jumat, 29-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Baru ketika matahari turun ke punggung
perbukitan, pasukan itu mencari tempat untuk bermalam. Sebuah hutan kecil
merupakan tempat yang paling baik bagi mereka. Sementara sebuah sungai
mengalir di pinggir hutan kecil itu.
“Kita bermalam disini,” berkata perwira Jipang yang memimpin pasukan itu.
Setelah mendapat perintah dari para pemimpin kelompok masing-masing, maka
pasukan itu pun telah menyebar, mencari tempat sendiri-sendiri untuk
bermalam.
Namun tidak ada masalah bagi para pengawal itu. Dimanapun mereka dapat
berhenti untuk beristirahat dan tidur nyenyak.
Yang kemudian menjadi sibuk adalah para petugas yang menyediakan makan dan
minum bagi pasukan itu. Mereka harus menyalakan api untuk menanak nasi dan
merebus air.
“Hati-hati,” pesan para perwira Jipang. “Api yang kalian nyalakan jangan
menjadi sebab hutan ini terbakar. Jika kalian telah selesai masak, maka api
itu harus kalian padamkan. Jika kalian meninggalkan sepercik bara, mungkin
bara itu akan dapat menjadi sebab, seluruh hutan ini menjadi abu.”
Orang-orang yang bertugas menyiapkan makan dan minum itu mengangguk-angguk.
Karena itu, maka kemudian mereka pun telah memilih tempat yang paling
lapang. Apalagi mendekati sungai sehingga mereka akan dapat mengambil air
dari belik di pinggir sungai itu.
Ketika kemudian malam turun, maka dibeberapa tempat telah dipersiapkan
tempat-tempat untuk berjaga-jaga. Beberapa orang bergantian bertugas
ditempat-tempat itu. Bagaimana pun juga mereka harus berhati-hati, karena
mereka merasa bahwa mereka telah melibatkan diri ke dalam satu pertentangan
antara kekuatan-kekuatan yang besar.
Sementara itu, ketika malam menjadi semakin malam, terasa hutan kecil itu
menjadi semakin gelap. Namun dijantung hutan itu mulai terdengar suara-suara
binatang hutan yang kadang-kadang memang mendirikan bulu tengkuk. Aum
harimau yang lapar disahut oleh suara anjing hutan dalam kelompok-kelompok
yang cukup besar.
Seorang pengawal yang bertugas berjaga-jaga merasa ngeri juga mendengar
suara-suara malam ditengah-tengah hutan yang lebat itu.
“Anjing hutan itu biasanya datang tidak seekor demi seekor,” katanya.
“Ya. Dalam kelompok-kelompok. Mereka menyerang bersama-sama,” jawab
kawannya.
“Ngeri juga mendengar suaranya. Tiga atau empat ekor di antara sekelompok
anjing hutan itu menggonggong,” berkata yang pertama.
Kawannya mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kita juga tidak seorang demi
seorang menghadapi anjing hutan itu jika mereka datang berkelompok. Kita
akan menghadapi mereka dalam kelompok pula.”
Pengawal yang pertama itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian
tersenyum sambil menjawab, “Kita memang berkelompok sebagaimana anjing hutan
itu.”
Keduanya kemudian terdiam. Yang terdengar adalah suara-suara yang asing.
Namun rasa-rasanya memang mengerikan.
Namun dalam pada itu, para penjaga itu telah mendengar suara yang lain.
Bukan suara-suara malam di hutan kecil itu. Bukan aum harimau lapar. Bukan
pekik kera yang terkejut di malam hari. Bukan pula gonggongan anjing hutan.
Tetapi derap beberapa ekor kuda.
Pengawal yang sedang berjaga-jaga itu pun segera bangkit. Dua orang di
antara mereka dengan senjata telanjang mengamati suara itu dengan seksama.
“Benar, derap kaki kuda,” desisnya.
“Siapkan semua kawan-kawan yang bertugas,” sahut kawannya, “Kita harus
memberikan laporan secepatnya.
Para pengawal pun segera bersiap. Lima orang dengan senjata di tangan
masing-masing merunduk ketepi hutan itu dan seorang kawannya telah
melaporkannya ke induk pasukan.
Tetapi ketika pengawal yang berjaga-jaga itu sampai ke tempat para perwira
Jipang beristirahat, ternyata mereka juga telah mendengar derap kaki kuda.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 432
Tanggal: Sabtu, 30-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Beri isyarat, agar semua orang di dalam
pasukan ini bersiap,” perintah para perwira itu.
Sesaat kemudian perintah itu pun telah menjalar. Sebagaimana sikap prajurit,
maka dalam waktu yang singkat, semuanya sudah siap menghadapi segala
kemungkinan.
Tetapi derap kaki kuda itu semakin lama terdengar menjadi semakin jauh.
Bahkan kemudian telah hilang dari pendengaran para pengawal Tanah Perdikan
Sembojan.
Para perwira dari Jipang itu sempat berbicara tentang derap kaki kuda itu.
Agaknya mereka menganggap bahwa derap kaki kuda itu merupakan satu persoalan
yang harus mereka tanggapi dengan sungguh-sungguh.
“Perkuat penjagaan,” berkata pemimpin pasukan itu.
Para pemimpin pengawal telah mengatur penjagaan menjadi duakali lipat.
Sementara yang lain pun kembali beristirahat.
Namun ada juga di antara mereka yang mengumpat-umpat. “Derap kuda itu hanya
mengganggu saja.”
“Jangan abaikan,” sahut kawannya. “Mungkin mereka, penunggang kuda yang
agaknya lebih dari satu itu petugas-petugas sandi dari Pajang.”
“Tetapi mungkin juga perampok-perampok yang melarikan hasil rampokannya,”
sahut yang pertama.
Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil
menjawab, “Memang mungkin.” Keduanya pun tidak berbicara lagi. Mereka
berusaha untuk dapat tidur sebaik-baiknya karena mereka masih harus menempuh
perjalanan yang panjang dikeesokan harinya.
Sementara itu, para pengawal yang bertugas berjaga-jaga pun harus berganti
pada saat-saat tertentu agar setiap orang mendapat kesempatan untuk
beristirahat.
Namun agaknya para perwira dari Jipang tidak sempat untuk berbuat demikian,
karena mereka menganggap bahwa derap kaki kuda itu merupakan satu persoalan
yang tidak dapat diabaikannya. Meskipun ada juga di antara mereka yang
sempat tertidur satu dua kejap, namun para perwira itu merasakan sesuatu
yang harus ditanggapi dengan sungguh-sungguh.
Tetapi agaknya tidak ada persoalan yang timbul yang merupakan kelanjutan
dari derap kaki kuda semalam. Ketika cahaya fajar nampak dilangit, maka
setiap orang dalam pasukan itu telah mempersiapkan diri. Mereka sempat pergi
ke sungai untuk mandi sebelum mereka mendapat rangsum makan pagi.
Pada saat matahari terbit, maka pasukan itu sudah siap untuk meneruskan
perjalanan. Sebagaimana dihari sebelumnya, maka pasukan itu dengan sengaja
telah memasang rontek, umbul-umbul dan kelebet pada tunggul-tunggul yang
didapatnya dari Jipang.
Tetapi sekali lagi pasukan itu dikejutkan oleh kehadiran pihak yang tidak
mereka kehendaki. Ketika pasukan itu sudah siap untuk berangkat, tiba-tiba
saja mereka telah dikejutkan pula oleh derap kaki kuda. Dari balik gerumbul
disebelah lapangan perdu di luar hutan kecil itu, dua ekor kuda telah
berlari kencang meninggalkan pasukan yang termangu-mangu itu.
“Kami akan mengejarnya,” desis pemimpin pasukan berkuda yang ada di antara
para pengawal.
Tetapi perwira Jipang yang memimpin pasukan itu menggeleng, “Tidak perlu.
Hanya akan memperlambat perjalanan kita. Apalagi belum tentu kalian dapat
menyusul kedua penunggang kuda yang mendapat kesempatan lebih dahulu untuk
berlari itu.”
Pemimpin pasukan berkuda itu pun menarik nafas dalam-dalam seakan-akan ingin
mengendapkan gejolak perasaannya.
Sejenak kemudian maka pasukan itu pun mulai bergerak. Seperti dihari
sebelumnya, maka para pengawal telah berjalan dengan dada tengadah. Meskipun
perjalanan mereka cukup lamban, namun tidak mengurangi kesigapan seluruh
pasukan.
(Bersambung)-m
Senin, 01 September 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 433
|
Dalam pada itu, dua ekor kuda telah berlari membawa penunggangnya
mendahului pasukan yang keluar dari hutan kecil itu. Mereka sadar, bahwa
mereka tidak dikejar oleh para pengawal, sehingga karena itu, maka
mereka tidak terlalu tergesa-gesa.
Seorang di antaranya kemudian berkata, “Bagaimana pendapat Ki
Tumenggung?”
“Agaknya Wiradana benar-benar menjadi sakit hati,” berkata orang yang
disebut Ki Tumenggung itu.
“Dan Ki Tumenggung telah menyaksikan sendiri,” desis pengawalnya.
“Ya. Aku sekarang percaya,” jawabnya. “Ketika aku mendapat laporan
tentang pemberontakan yang dilakukan oleh Tanah Perdikan Sembojan
apalagi dengan menerima para perwira dari Jipang aku kurang percaya. Ki
Wiradana telah menemui aku untuk membicarakan kedudukannya sebagai
Kepala Tanah Perdikan. Tetapi aku tidak dapat memenuhinya dengan segera
karena persoalan yang timbul antara Pajang dan Jipang.
Meskipun demikian aku sudah menyanggupinya untuk menyelesaikan
persoalannya jika keadaan telah memungkinkan. Tetapi agaknya ia telah
memilih langkah yang salah.”
“Bagaimana laporan tentang istrinya yang bernama Warsi?” bertanya
pengawalnya.
“Ya. Semuanya sudah kita ketahui. Petugas sandi kita telah mendapat
banyak keterangan,” berkata Ki Tumenggung. “Tetapi agaknya kita memang
terlambat. Kita baru mengandalkan pengamatan yang luas setelah kita
melihat kehadiran orang-orang Jipang di Tanah Perdikan Sembojan,” jawab
Ki Tumenggung. “Tetapi kita memang tidak menduga sama sekali, bahwa hal
itu akan terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.”
“Sepeninggalan Ki Gede, Sembojan benar-benar menjadi rusak,” berkata
pengawalnya kemudian.
“Tetapi nampaknya Wiradana masih juga harus memikirkan
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan itu. Aku
tidak yakin bahwa semua orang Tanah Perdikan itu menerima sikap Ki
Wiradana, terutama untuk berdiri di belakang Jipang,” berkata Ki
Tumenggung. “Karena agaknya Wiradana hanya ingin untuk segera
mendapatkan kedudukannya sebagai kepala Tanah Perdikan sepenuhnya.
Agaknya Jipang menyanggupinya dan sekaligus untuk melindunginya.”
“Ki Tumenggung,” bertanya pengawalnya. “Kenapa pada saat ia menghadap Ki
Tumenggung tidak segera menyelesaikan saja persoalannya sehingga
kemungkinan Tanah Perdikan itu dipengaruhi oleh Jipang dapat
diperkecil.”
“Sudah aku katakan. Kanjeng Adipati sedang sibuk. Bahkan nampaknya
perkembangannya menjadi semakin buruk. Sementara Ki Wiradana juga belum
menemukan pertanda kekuasaan Tanah Perdikannya. Meskipun aku juga sudah
menyanggupinya, seandainya tanda itu tidak diketemukan, aku akan
berusaha memecahkan persoalannya karena semua orang mengetahui, bahwa
Wiradana memang anak laki-laki satu-satunya dari Ki Gede Sembojan,”
jawab Ki Tumenggung.
Pengawalnya mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Tumenggung memang sudah
berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Tetapi ternyata Wiradana tidak
mau menerima keadaan itu. Ia justru tergesa-gesa berpaling kepada
Jipang.
Meskipun demikian Ki Tumenggung masih juga berkata,
“Memang mungkin sekali Ki Wiradana berada dibawah pengaruh istrinya yang
ternyata mampu mengalahkannya di permainan sodoran sebagaimana aku
mendengar laporan tentang hal itu.”
Pengawalnya mengangguk-angguk, sementara Ki Tumenggung Wirajaya kemudian
justru memacu kudanya semakin cepat. Namun tidak seorang pun yang akan
mengetahuinya, bahwa ia adalah seorang Tumenggung dalam pakaian
sederhana yang dikenakannya.
Sementara itu pasukan Tanah Perdikan Sembojan merambat dengan lamban
mendekati tujuan. Tetapi tujuan itu masih cukup jauh.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 434
Tanggal Senin Kliwon 1 September 2003
Di Tanah Perdikan Sembojan, maka atas permintaan Warsi, Ki
Wiradana telah menghimpun anak-anak muda yang masih ada.
Pengawal-pengawal padukuhan yang tersisa itu pun telah mendapatkan
latihan-latihan yang keras. Duapuluh lima orang pengawal khusus yang
ditinggalkan di Tanah Perdikan Sembojan telah mengumpulkan anak-anak
muda dari padukuhan-padukuhan untuk ditempa menjadi pengawal yang baik.
“Mungkin pasukan kita dihadapan Pajang memerlukan bantuan,” berkata
Warsi.
“Aku tidak akan mengirimkan pengawal lagi ke luar Tanah Perdikan,”
berkata Ki Wiradana.
Tetapi Warsi tertawa. Katanya, “Kau tidak dapat menentang kehendak kami.
Disini ada aku, ada kakek Randukeling, ada ayah yang sebenarnya dan ada
orang yang aku sebut sebagai ayahku, tukang gendang itu. Dan disini juga
ada Ki Rangga Gupita.”
Wajah Wiradana menjadi tegang. Tetapi sebenarnyalah bahwa disekitarnya
terdapat orang-orang yang dapat memaksanya untuk berbuat apa saja.
Bahkan seandainya yang ada hanya Warsi sendiri pun, ia tidak akan dapat
menentang kehendaknya, karena ia sadar, bahwa ia tidak akan mampu
mengimbangi ilmu istrinya yang cantik itu.
Selain latihan-latihan yang berat, maka pajak pun terasa terlalu
menekan. Tetapi Tanah Perdikan Sembojan memerlukan dana bagi
perjuangannya. Meskipun Jipang juga memberikan dana bagi pasukan yang
berangkat ke Pajang, tetapi Tanah Perdikan itu sendiri masih harus
menutup kekurangannya dan membiayai para pengawal yang ada di Tanah
Perdikannya sendiri.
Ki Wiradana yang untuk beberapa lama telah menutup mata dan telinganya
atas keadaan rakyatnya, justru mulai melihat dan mendengar, betapa
rakyatnya menjadi semakin mengalami banyak kesulitan untuk memenuhi
kewajiban mereka membayar pajak yang semakin tinggi.
Dalam pada itu, Ki Rangga Gupita yang akan menyusul pasukan ke Pajang
itu ternyata masih juga belum berangkat. Namun yang bagi ki Wiradana
merupakan duri di dalam dagingnya. Selain Ki Rangga itu membayangi
pemerintahan yang dilakukannya di atas Tanah Perdikan Sembojan bersama
beberapa orang yang lain, nampaknya Ki Rangga Gupita itu pun menjadi
semakin akrab dengan istrinya.
Namun semuanya itu harus tetap disimpannya saja di dalam hatinya.
Perasaannya yang terasa sangat pahit, serta penyesalan yang tidak
berkeputusan.
Bahkan ia masih harus menjalankan semua perintah orang-orang yang ada
disekitarnya atas namanya sendiri meskipun bertentangan dengan
perasaannya.
Dalam pada itu, Ki Wiradana sedang berbicara dengan para pengawal khusus
yang ditinggalkan, ia sempat bertanya kepada Ki Rangga, “Apakah Ki
Rangga tidak ingin melihat keadaan pasukan kita yang berada di hadapan
Pajang. Bukankah menurut perhitungan kita, pasukan itu sudah berada di
sana?”
“Tentu sudah,” jawab Ki Rangga. “Sebenarnya aku ingin juga pergi ke
Pajang. Tetapi aku masih harus menunggu, apakah Tanah Perdikan ini akan
dapat menjaga dirinya dalam keadaan seperti ini.”
“Tetapi bukankah kita berkepentingan untuk melihat keadaan pasukan kita
yang berada di Pajang?” bertanya Ki Wiradana.
“Tentu,” jawab Ki Rangga. “Tetapi aku sudah mendapat laporan bahwa
mereka telah berada ditempat tujuan. Mereka telah bergabung dengan
pasukan kecil prajurit Jipang yang akan berbaur dengan mereka, agar
pasukan itu menjadi semakin kuat. Nah, bukankah dengan demikian, aku
tidak perlu tergesa-gesa pergi ke Pajang? Apalagi menurut pengamatan
sandi, prajurit Pajang memang belum bergerak.”
Wiradana hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengusir
Ki Rangga, karena Ki Rangga mempunyai kedudukan yang kuat di antara
orang-orang yang berada disekitarnya. Bahkan Ki Rangga adalah orang yang
mendapat kepercayaan yang besar dari pada pemimpin di Jipang.
Pada saat-saat Ki Wiradana berada di antara duapuluh lima orang pengawal
khususnya yang terlatih, kadang-kadang memang timbul niat Ki Wiradana
untuk menentukan sikap. Bersama keduapuluh lima orang itu, ia berhadap
akan dapat menghadapi orang-orang yang mengelilinginya dengan sikap yang
sangat menyakitkan hati. Ditambah dengan para pengawal di
padukuhan-padukuhan yang sedang mengadakan latihan-latihan yang keras.
(Bersambung)-m. |
Selasa, 02 September 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 435
Namun Ki Wiradana tidak berani untuk
memulainya. Para pengawal itu bersikap asing terhadapnya. Mereka justru
lebih akrab dengan Ki Rangga Gupita. Bahkan setiap kali para pengawal
itu selalu menyebut dan memuji para perwira Jipang yang pernah menjadi
pelatih mereka.
Tetapi ternyata bahwa Ki Wiradana tidak cukup cermat mengamati keadaan
pasukan khususnya yang tinggal duapuluh lima orang itu. Di antara mereka
terdapat orang-orang yang meragukan sikap Tanah Perdikan Sembojan.
Meskipun demikian, perasaan itu seakan-akan hanya disimpannya saja
didalam hati.
Karena itu, maka selanjutnya, Wiradana harus menjalani satu kehidupan
yang sangat pahit. Meskipun dimata orang-orang Tanah Perdikan Sembojan
ia adalah seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, namun
sebenarnyalah yang dilakukan tidak lebih dari menjalankan perintah
Warsi, penari jalanan yang berhasil menyusup memasuki rumahnya dan
bahkan menginjak-injak harga diri dan martabatnya.
Dengan demikian, maka yang selanjutnya mengatur Tanah Perdikan yang
sebenarnya adalah Warsi atas nasihat dan petunjuk dari kakeknya, ayahnya
dan Ki Rangga Gupita.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Tanah Perdikan Sembojan
digelisahkan oleh kedatangan seorang penghubung dari Jipang yang
bertugas di Pajang. Dengan tergesa-gesa orang itu berusaha untuk dapat
bertemu dengan Ki Rangga Gupita dan Ki Wiradana.
“Ada apa?” tanya Ki Randukeling ketika mereka sudah duduk di pendapa.
“Agaknya Pajang mulai bergerak,” berkata penghubung itu. “Ki Rangga
dimohon untuk dapat datang ke Pajang. Mereka memerlukan pertimbangan Ki
Rangga.”
“Seandainya Pajang mulai bergerak, apa yang dilakukan?” bertanya Ki
Rangga.
“Mereka menyusun kekuatan di hadapan pasukan Jipang dan Tanah Perdikan
Sembojan,” jawab penghubung itu.
“Apakah kau sudah menghubungi pasukan Jipang yang berada disebelah Barat
Pajang?” bertanya Ki Rangga.
“Sudah ada penghubung yang pergi ke sebelah Barat Pajang. Tetapi agaknya
pasukan Pajang memang menggerakan pasukkannya untuk menghadapi kedua
kekuatan Jipang,” jawab penghubung itu.
“Apakah pasukan Pajang yang berada dihadapan pasukan Jipang
disebelah-menyebelah Bengawan sudah ditarik?” bertanya Ki Randukeling.
“Belum,” jawab penghubung itu. “Tetapi ternyata bahwa Pajang masih
menyimpan kekuatan untuk melindungi Kota Rajanya.”
Ki Rangga termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku akan pergi ke
Pajang bersama Ki Wiradana. Mudah-mudahan ia dapat memantapkan tekad
para pengawal Tanah Perdikan.
“Biarlah ia berada disini menunggui anaknya,” sahut Ki Randukeling.
“Akulah yang akan ikut bersamamu.”
Ki Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian kita akan
berangkat bersama.”
Sebagai seorang perajurit maka Ki Rangga tidak perlu menunggu esok. Ia
pun segera berkemas untuk bersama-sama Ki Randukeling dan penghubung itu
pergi ke Pajang. Sementara itu Warsi, ayahnya dan orang yang diaku
sebagai ayahnya itu akan menunggui Tanah Perdikan Sembojan bersama Ki
Wiradana.
Suramnya Bayang Bayang 436
Tanggal: Rabu, 03-09-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Namun sebenarnyalah bahwa kepergian Ki
Rangga dan Ki Randukeling itu tidak lepas dari pengamatan seseorang.
Petugas sandi dari Pajang masih belum tahu, tentang dua orang yang akan
dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan bagi pasukan Jipang dan Tanah
Perdikan Sembojan yang berada dihadapan Pajang. Tetapi pihak lain
ternyata melihat keduanya meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan bersama
seorang penghubung yang mereka anggap sebagai seorang pengawal.
Karena itu, maka padepokan kecil yang agak jauh dari padukuhan induk
Tanah Perdikan pun segera mengetahuinya pula.
"Jadi Randukeling tidak ada ditempat?" bertanya Kiai Soka.
"Mereka pergi yang mungkin sekali ke arah pasukannya yang berada di
Pajang," jawab Sambi Wulung yang lebih banyak berada di Tanah Perdikan
Sembojan daripada di padepokan kecil itu, karena ia adalah orang yang
tidak dikenal di Tanah Perdikan Sembojan.
Kiai Soka mengangguk-angguk. Katanya, "Kita mendapat peluang untuk
bermain-main di Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi di samping itu, kita
sudah sepantasnya membuat hubungan dengan Pajang. Agaknya memang sudah
waktunya, sehingga kita akan dapat menyesuaikan diri dengan
langkah-langkah yang diambil Pajang."
Sambi Wulung mengangguk pula. Tetapi ia masih bertanya, "Apakah kita
akan pergi ke Pajang?"
"Salah seorang di antara kita akan pergi ke Pajang," jawab Kiai Soka.
"Kita dapat membicarakan banyak hal. Antara lain tentang Tanah Perdikan
Sembojan. Anak Wiradana yang lahir dari Iswari itu pun berhak atas
Sembojan. Apalagi ia mempunyai pertanda kebesaran Tanah Perdikan
Sembojan."
"Siapakah di antara kita yang akan pergi?" bertanya Sambi Wulung.
"Biarlah kakek buyutnya. Mungkin Kiai Badra masih dapat mengenali
kembali sahabat-sahabatnya pada masa lampau yang sekarang berada di
Pajang," berkata Kiai Soka.
Kiai Badra yang sedang berada di padepokan adik perempuannya itu pun
menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku menurut saja keputusan kalian.
Jika aku yang harus pergi, maka aku akan pergi."
"Kiai Badra tentu akan sampai ke Pajang," berkata Kiai Soka kemudian.
"Meskipun seandainya ia bertemu dengan pasukan Jipang dan Tanah Perdikan
Sembojan. Bahkan dengan Ki Randukeling sekalipun."
Kiai Badra hanya tersenyum saja. Katanya, "Doakan agar aku selamat
sampai ke tujuan." Kiai Badra berhenti sejenak, lalu, "Tetapi aku akan
membawa Gandar bersamaku."
"Silakan," jawab Kiai Soka. "Sementara itu kami yang tinggal akan
menyiapkan rombongan penari yang sudah beberapa lama tidak hadir di
Tanah Perdikan Sembojan.
"Tetapi tunggu aku kembali dari Pajang," jawab Kiai Badra.
"Tentu. Siapakah pengendangnya jika kau tidak ikut bersama dengan
rombongan itu," sahut Kiai Soka.
"Bukankah kau juga seorang pengendang yang baik?" bertanya Kiai Badra.
"Tetapi kakanglah yang lebih sesuai dengan penarinya," Nyai Soka ikut
memotong pembicaraan itu.
Kiai Badra tertawa.
Namun katanya kemudian, "Besok aku akan pergi ke Pajang. Aku akan
melihat pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu."
Seperti yang dikatakannya, maka di keesokan harinya, Kiai Badra dan
Gandar pergi ke Pajang untuk membuat hubungan dengan beberapa orang
Pajang tentang Tanah Perdikan Sembojan yang sudah jelas berpihak kepada
Jipang.
Untuk mempermudah perjalanannya, maka Kiai Badra dan Gandar sengaja
tidak membawa kuda. Mereka berjalan kaki saja menyusuri jalan-jalan
setapak yang memintas menuju ke Pajang.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh Kiai Badra, ia ingin melihat pasukan
Tanah Perdikan Sembojan yang berada dibawah pimpinan orang-orang
Jipang.
"Randukeling ada disana," berkata Gandar.
"Karena itu, kita harus berhati-hati," jawab Kiai Badra.
Namun Kiai Badra dan Gandar adalah orang-orang yang memiliki ilmu
linuwih. Dengan kelebihan yang ada pada mereka, maka mereka berusaha
untuk melakukan rencana mereka sebaik-baiknya. (Bersambung)-m
Kamis, 04 September 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 437
Keduanya yang tidak langsung ke
Pajang itu, ternyata berhasil mendekati pasukan Tanah Perdikan Sembojan
yang membuat pesanggrahan disebuah padukuhan kecil namun memiliki pagar
yang cukup baik dipergunakan sebagai benteng pertahanan. Tanpa
menghiraukan penghuni padukuhan itu, pasukan yang telah bergabung dengan
orang-orang Jipang yang dikirim langsung ke tempat itu, tinggal
sekehendak hati. Bukan saja rumah Ki Bekel padukuhan itu dan banjarnya,
tetapi juga rumah-rumah orang yang terhitung kecukupan telah mereka
pergunakan. Bahkan mereka tidak saja mengambil beras dari persediaan
yang mereka bawa dengan pedati-pedati dari Tanah Perdikan Sembojan,
tetapi mereka telah mengambil pula dari lumbung-lumbung rakyat padukuhan
itu.
Kecuali langsung mengadakan pengamatan ke dalam padukuhan itu di malam
hari, Kiai Badra juga berusaha untuk dapat membuat hubungan dengan
penghuni padukuhan itu ketika mereka berada di sawah. Dengan demikian,
maka Kiai Badra dan Gandar mendapat gambaran yang cukup tentang pasukan
Tanah Perdikan Sembojan itu.
Dengan tambahan bekal itulah, maka Kiai Badra telah pergi meneruskan
perjalanannya memasuki Pajang.
Tetapi yang pertama-tama ditemui oleh Kiai Badra adalah seorang yang
pernah dikenalnya dengan baik. Kemudian oleh orang itu Kiai Badra akan
dibawa langsung menghadap Ki Tumenggung Wirajaya.
“Jika kau ingin berbicara tentang Tanah Perdikan, berbicaralah dengan Ki
Tumenggung Wirajaya. Menurut pengetahuanku, ia mendapat tugas untuk
mengurusi beberapa Tanah Perdikan yang ada di lingkungan Kadipaten
Pajang,” berkata sahabat Kiai Badra itu.
“Terima kasih,” sahut Kiai Badra yang sudah agak lama tidak saling
bertemu.
“Tetapi dengan syarat,” berkata orang itu. “Jika kau minta aku
mengantarmu, maka nanti malam kau harus bermalam dirumahku.”
Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Sebenarnya aku ingin minta kepadamu
untuk diijinkan bermalam. Tetapi aku takut mengucapkannya. Tiba-tiba kau
menawarkannya kepadaku. Nah, apakah aku akan menolaknya.”
Kawannya yang sudah setua Kiai Badra itu tertawa. Katanya, “Kau masih
sama dengan yang beberapa tahun yang lalu.”
“Aku tidak akan berubah. Tetapi kau harus mengetahui, bahwa perjalananku
kali ini adalah perjalanan yang tersembunyi,” berkata Kiai Badra.
“O,” orang itu tertawa berkepanjangan. “Kau agaknya membawa tugas
rahasia. He, apakah kau sekarang justru menjadi petugas sandi Tanah
Perdikan Sembojan? Justru setelah kau menjadi setua itu.”
“Ah, kau ini ada-ada saja. Tugasku adalah tugas pribadi. Tetapi apakah
tidak mungkin ada rahasia bagi pribadi yang khusus?” bertanya Kiai
Badra.
“Kau memang seorang pribadi yang aneh. Agaknya rahasia itu adalah
rahasia kehidupanmu selama ini. Kau mengaku sebagai seorang pertapa.
Tetapi mungkin terjadi sesuatu atasmu sehingga kau harus berhubungan
dengan Ki Wirajaya,” berkata sahabatnya itu.
“Apapun yang kau katakan. Tetapi jika kau tidak berjanji untuk
merahasiakan persoalan pribadi ini, aku tidak mau bermalam di rumahmu,”
berkata Kiai Badra.
Orang itu tertawa. Namun katanya kemudian, “Mari aku antar kau menghadap
Ki Tumenggung Wirajaya.”
Demikianlah, maka Kiai Badra dan Gandar pun telah di antar menghadap Ki
Tumenggung Wirajaya. Ternyata sahabat Kiai Badra adalah seorang yang
telah mengenal baik Ki Tumenggung, sehingga dengan demikian, maka ia
tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan waktu menghadap.
Ki Tumenggung Wirajaya menerima tamu-tamunya dengan ramah, sebagaimana
kebiasaannya. Betapapun ia berhati-hati menghadapi seseorang, tetapi ia
tetap seorang yang ramah.
Sabahat Kiai Badra itu pun kemudian memperkenalkannya kepada Ki
Tumenggung Wirajaya serta mengutarakan maksudnya untuk menghadap.
“Terserah kepada Ki Tumenggung. Bagaimana Ki Tumenggung menanggapi
maksud Kiai Badra itu. (Bersambung
Sabtu, 06 September 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 438
|
KI TUMENGGUNG Wirajaya
mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Jadi Kiai mempunyai
keterangan tentang Tanah Perdikan Sembojan.”
“Ya Ki Tumenggung, meskipun barangkali Ki Tumenggung sudah
mengetahuinya,” jawab Kiai Badra.
“Sebagian dari persoalan yang menyangkut Tanah Perdikan itu memang sudah
aku ketahui. Bahkan aku telah melihat sendiri pasukan Tanah Perdikan
Sembojan yang kini berada di hadapan Pajang disisi Timur,” berkata
Ki Tumenggung.
Kiai Badra mengangguk. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Ya Ki
Tumenggung. Bahkan saat ini dua orang terpenting dari Tanah Perdikan
Sembojan dan Jipang telah berada di antara mereka.”
“Siapa?” bertanya Ki Tumenggung.
“Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling,” jawab Kiai Badra.
“Rangga Gupita,” Ki Tumenggung Wirajaya mengulangi. “Aku mengenal
Rangga Gupita. Ia memang seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa.
Tetapi aku belum mengenal orang yang bernama Ki Randukeling.”
“Ki Randukeling adalah seorang pertapa. Ia adalah orang keluarga
Kalamerta yang termasuk dalam tataran tertinggi di samping Kalamerta
sendiri. Ia adalah paman Kalamerta itu,” jawab Kiai Badra.
Ki Tumenggung Wirajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian,
maka Pajang tidak boleh bermain-main dengan pasukan Tanah Perdikan
itu. Sementara itu Pajang memang sudah bergerak dan menempatkan
pasukan untuk menghadapi pasukan gabungan antara pasukan Jipang dan
Tanah Perdikan Sembojan itu. Tetapi agaknya Pajang harus menempatkan
orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi, agar pasukan
Pajang tidak menjadi rusak oleh Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling.
Jika ada dua orang meskipun ilmunya tidak setingkat Ki Rangga dan Ki
Randukeling, namum mempunyai bekal yang cukup, maka bersama-sama
dalam kelompok kecil, mereka akan dapat menahan kedua orang itu di
samping para perwira yang lain.”
Kiai Badra yang sependapat dengan Ki Tumenggung menyahut, “Agaknya
Pajang memang harus bersungguh-sungguh menghadapi pasukan itu.
Meskipun pasukan itu datang dari Tanah Perdikan, tetapi sebagian
besar dari mereka telah mempunyai bekal yang memang dipersiapkan
dengan sungguh-sungguh oleh para perwira Jipang yang
berpengalaman.”
Ki Tumenggung dengan nada datar menyahut, “Pajang mencoba untuk
menghimpun para pengawal dari Kademangan-kademangan di sekitar Kota
Raja. Tetapi mereka tentu hanya dapat dipergunakan sebagai pelengkap
saja. Di antara mereka harus ada kekuatan yang sebenarnya. Dan
kekuatan yang sebenarnya itu harus diperhitungkan sungguh-sungguh
dalam keadaan seperti itu.”
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Sebagian besar kekuatan
Pajang ditarik untuk menghadapi Jipang di seberang Bengawan Sore.
Tetapi pasukan Jipang pun sebagian besar ada disana pula.
Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia
berpaling kepada sahabat Kiai Badra yang membawanya menghadap Ki
Tumenggung.
Agaknya sahabat Kiai Badra itu mengerti apa yang sedang dipikirkan
oleh Ki Tumenggung sehingga kemudian ia berkata, “Orang ini dapat
dipercaya Ki Tumenggung.”
Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Sejak aku melihatnya, maka aku
pun telah berpendapat, bahwa Kiai Badra adalah seorang yang dapat
dipercaya.”
“Mudah-mudahan Ki Tumenggung,” berkata Kiai Badra, “Namun demikian,
kedatanganmu menghadap Ki Tumenggung bukannya tanpa pamrih
pribadi.”
Ki Tumenggung memandang Kiai Badra dengan tajamnya. Dengan nada
datar ia bertanya, “Apakah yang kau maksudkan?”
“Aku adalah seorang yang berkepentingan dengan jabatan Kepala Tanah
Perdikan,” berkata Kiai Badra.
“Tanah Perdikan?” bertanya Ki Tumenggung, “Bukankah satu-satunya
orang yang berhak menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan seharusnya
adalah Ki Wiradana?”
(Bersambung)-z
Suramnya Bayang Bayang 439
“YA Ki Tumenggung. Yang pantas menjadi Kepala Tanah Perdikan
Sembojan seharusnya adalah Ki Wiradana. Tetapi ternyata bahwa Ki
Wiradana telah berpihak kepada Jipang,” berkata Kiai Badra.
“O, itu persoalan lain. Itu adalah pemberontakan yang harus
diselesaikan dengan cara yang wajar bagi sebuah pemberontakan,”
jawab Ki Tumenggung.
“Namun dengan demikian, ada satu kemungkinan bahwa Tanah Perdikan
Sembojan akan dihapuskan atau jatuh ketangan yang bukan keturunan Ki
Gede Sembojan,” berkata Kiai Badra.
Ki Tumenggung Wirajaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian
katanya, “Wiradana memang pernah datang kepadaku untuk menyelesaikan
persoalan jabatannya. Tetapi pada saat ia datang, Pajang sedang
sibuk menghadapi persoalan Demak. Apalagi Jipang telah menyatakan
diri untuk mengambil kepemimpinan Demak, karena menurut Jipang,
jalur yang benar adalah jalur Jipang. Dengan demikian, maka aku
minta Ki Wiradana bersabar sambil mencari pertanda kebesaran Tanah
Perdikan Sembojan yang katanya hilang.”
Kiai Badra mengangguk-angguk. Nampaknya jalan telah terbuka untuk
menyampaikan niat kedatangannya yang sebenarnya. Karena itu, maka ia
pun kemudian berkata, “Ki Tumenggung. Jika diperkenankan, aku ingin
menyampaikan persoalan jalur kekuasaan Tanah Perdikan itu, selagi
belum jatuh keputusan Pajang atas Tanah Perdikan itu, justru karena
Ki Wiradana dapat dianggap memberontak melawan Pajang.”
“Apa yang ingin kau sampaikan?” bertanya Ki Tumenggung.
Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tanda
kebesaran Tanah Perdikan Sembojan ada padaku.”
“Pada Kiai Badra?” Ki Tumenggung memandanginya dengan heran.
“Ya Ki Tumenggung. Mungkin memang sudah menjadi garis yang
dikehendaki oleh Yang Maha Adil, maka tanda yang berupa sebuah
bandul itu ada padaku,” jawab Kiai Badra.
Ki Tumenggung memandang wajah Kiai Badra dengan tajamnya. Dengan
nada datar ia berkata, “Bandul dengan lukisan kepala seekor burung?”
“Ya Ki Tumenggung,” jawab Kiai Badra. Ia tidak ingin sekadar
menyebutnya. Tetapi ia pun kemudian mengambil dari kantong ikat
pinggangnya. Bandul yang merupakan pertanda jabatan Kepala Tanah
Perdikan Sembojan.
Untuk beberapa saat Ki Tumenggung Wirajaya termangu-mangu. Tetapi
sejenak kemudian Ki Tumenggung itu pun bertanya, “Ki Wiradana pernah
mengatakan bahwa bandul itu telah hilang. Bagaimana mungkin bandul
itu sampai ke tangan Kiai?” Apakah Kiai menemukannya atau
merampasnya dari Ki Gede Sembojan?”
“Aku memang menunggu pertanyaan Ki Tumenggung itu,” sahut Kiai
Badra.
Kiai Badra pun menceriterakan apa yang sesungguhnya pernah terjadi
di Tanah Perdikan Sembojan. Tentang cucunya yang tersingkir, bahkan
hampir saja menjadi korban pembunuhan, seandainya tidak terjadi satu
keajaiban karena kasih Yang Maha Agung, yang telah menyelamatkan
dengan langsung menggerakkan hati perempuan yang disebut Serigala
Betina itu. Kemudian lahir cicitnya laki-laki dan setelah itu lahir
pula anak laki-laki Ki Wiradana dari istrinya yang kedua, Warsi yang
ternyata adalah keluarga Kalamerta.
Ki Tumenggung mendengarkan keterangan Kiai Badra dengan seksama.
Sekali-kali ia mengerutkan keningnya. Sekali-kali mengangguk-angguk.
Bahkan kadang-kadang wajahnya menjadi tegang dan
bersungguh-sungguh.
Demikian Kiai Badra selesai bercerita, maka Ki Tumenggung itu pun
berdesis, “Aku dapat melihat persoalan ini dengan gamblang Kiai.
Terima kasih atas keterangan yang Kiai berikan. Bukankah dengan
demikian berarti bahwa Ki Wiradana telah berusaha melakukan
pembunuhan terhadap istrinya yang sedang mengandung? Kemudian
menyerahkan Tanah Perdikan itu dibawah pengaruh Jipang, sehingga ia
dapat diartikan telah melakukan pemberontakan. Namun agaknya
sekarang Ki Wiradana itu merupakan golek yang sekadar merupakan
bayangan yang suram dari kekuasaan istrinya.”
“Benar Ki Tumenggung. Namun demikian, bukankah anak Wiradana yang
lahir dari istrinya yang pertama tidak terpercik noda kesalahannya?”
bertanya Kiai Badra. (Bersambung)-m.
|
Suramnya Bayang-Bayang 440
Tanggal: Minggu, 07-09-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, "Menurut
pengamatanku sekilas, anak itu memang tidak bersalah."
"Dan anak itu
mempunyai pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan," berkata Kiai Badra.Ki
Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, "Aku mengerti maksudmu. Baiklah, hal
ini telah aku dengar sebelum terlambat. Karena itu, pada saatnya, setelah
persoalan yang lebih besar dapat diselesaikan, maka aku akan menyelesaikan
persoalan Tanah Perdikan ini."
"Ki Tumenggung," berkata Kiai Badra. "Jika Ki Tumenggung tidak berkeberatan
untuk memberikan izin, apakah anak Wiradana itu sebaiknya merebut kekuasaan
Tanah Perdikan dari ayahnya dan menempatkan Tanah Perdikan itu kembali ke
dalam garis pemerintahan yang berkiblat kepada Pajang?"
Wajah Ki Tumenggung
memancarkan keheranan yang bergejolak di dalam hatinya. Dengan nada tinggi
ia bertanya, "Apakah yang akan dilakukan oleh anak Wiradana itu?"
"Sudah aku katakan, merebut kekuasaan atas izin
Pajang. Bahkan mungkin perintah dari Pajang," jawab Kiai Badra. Ki
Tumenggung masih termangu-mangu. Sekali-sekali ia memandang ke arah sahabat
Kiai Badra, yang membawanya menghadap. Seolah-olah Ki Tumenggung minta
pertimbangannya.
"Maaf Ki Tumenggung," berkata sahabat Kiai Badra,
"Aku bukan orang pemerintahan. Tetapi aku ingin menyampaikan sedikit
pendapatku."
"Apa?" bertanya Ki Tumenggung.
"Ki Tumenggung," berkata sahabat Kiai Badra.
"Sekarang justru datang waktunya untuk menguji kesetiaan anak Wiradana itu
terhadap Pajang. Jika ia berhasil merebut kekuasaan dan mengarahkan kembali
Tanah Perdikan itu kepada Pajang, maka anak itu akan berhak menjadi Kepala
Tanah Perdikan Sembojan kelak. Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya,
"Aku mengerti. Yang akan mengalami pendadaran tentu bukan termasuk kakeknya.
Tetapi pikiran itu memang menarik,"
Ki Tumenggung berhenti sejenak. Namun kemudian
katanya, "Tetapi bukan aku pemimpin tertinggi Kadipaten Pajang. Namun karena
Kanjeng Adipati berada di pesangrahan menghadapi pasukan Arya Penangsang,
Adipati Jipang, maka aku akan berbicara dengan beberapa orang pemimpin yang
ada sehingga keputusannya akan menjadi tanggung jawab bersama. Jika saatnya
Kanjeng Adipati Hadiwijaya kembali, maka kami, bersama-sama akan
menyampaikan pertanggung jawaban itu."
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah Ki
Tumenggung. Tetapi sampai kapan kami harus menunggu?"
"Hari ini persoalannya akan aku bicarakan. Besok
kau akan mendapat keterangan," jawab Ki Tumenggung.
Kiai Badra mengangguk-angguk. Ternyata bahwa Ki
Tumenggung Wirajaya bergerak cepat, sehingga persoalannya tidak akan menjadi
terlambat. Sementara itu sahabat Kiai Badra itu pun berkata, "Dengan
demikian akan di dapat keuntungan timbal balik. Tanah Perdikan Sembojan akan
bergolak, sehingga Tanah Perdikan yang besar itu tidak akan dapat
mengirimkan pasukan bantuan kepada pasukannya yang ada dihadapan Pajang.
Bahkan sebaliknya, Tanah Perdikan Sembojan justru akan menarik sebagian dari
para pengawalnya untuk mengatasi kemelut di Tanah Perdikan sendiri."
(Bersambung)-m
Last Updated
10/05/2004
5 Agustus 2003 JW Marriott - Jakarta Blast!
e-mail: mimbarse@gajahsora.net
|