|
|
|
Sejak Juni 2002 diambil dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
http://kr.co.id
Suramnya Bayang Bayang 421
Tanggal: Selasa, 19-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Wiradana,” berkata Ki Randukeling. “Cobalah
mengatur perasaanmu. Kau jangan terkejut. Tidak ada maksud buruk sama sekali
dalam permainan ini. Namun sebenarnyalah orang itu hanya ingin
memperkenalkan dirinya karena selama ini ia telah dianggap dan diperlakukan
tidak sebagaimana adanya.”
“Aku tidak mengerti, kakek,” jawab Ki Wiradana.
“Sebentar lagi, kau akan mengerti,” jawab Ki Randukeling.
Ki Wiradana termangu-mangu. Sementara itu Ki Randukeling yang masih berada
di punggung kudanya telah mendekati orang berkuda yang tidak dikenal itu.
Beberapa langkah dihadapannya ia berhenti. Katanya, “Sudah waktunya kau
menyatakan dirimu sendiri.”
Orang itu termenung sejenak. Namun kemudian bersama Ki Randukeling ia telah
mendekati Ki Wiradana yang berdiri tegak dengan jantung yang berdebaran.
Dihadapan Ki Wiradana orang berkuda yang memakai tutup diwajahnya itu
tiba-tiba telah mengangkat senjatanya yang bertangkai panjang dan berujung
tumpul. Seolah-olah ia ingin menyatakan sekali lagi kemenangannya atas Ki
Wiradana.
Namun orang-orang Tanah Perdikan masih tetap berdiri diam dengan ketegangan
perasaan.
Sejenak kemudian Ki Randukeling itu pun berkata, “Bukalah tutup wajahmu.
Nyatakanlah kepada Ki Wiradana dan orang-orang Tanah Perdikan ini, siapakah
kau sebenarnya.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun telah menyerahkan
senjatanya kepada Ki Randukeling. Kemudian perlahan-lahan ia telah membuka
tutup wajahnya.
Ki Wiradana terkejut bukan kepalang. Sementara itu, orang-orang Tanah
Perdikan sembojan yang berdiri di paling depan dapat melihat siapakah orang
itu, meskipun masih dengan penuh keragu-raguan karena jarak di antara mereka
dengan orang berkuda di tengah gelanggang itu.
Namun ketika orang itu juga melepaskan ikat kepalanya, sehingga rambutnya
yang panjang terurai di punggungnya maka orang-orang di pinggir gelanggang
pun menjadi pasti, sebagaimana Ki Wiradana.
Ternyata orang itu adalah seorang perempuan.
“Aku kakang,” desis orang itu.
“Warsi,” Ki Wiradana menyebut nama itu dengan bibir yang gemetar, “Bagaimana
mungkin hal ini dapat terjadi?”
Warsi yang telah memenangkan permainan itu, bahkan dengan sangat
mengejutkan, setelah mengalahkan empat orang pengawal sekaligus, maka ia pun
telah mengalahkan Ki Wiradana pula.
Dengan dada tengadah Warsi pun telah meloncat dari punggung kudanya. Sekali
lagi ia memandang berkeliling sambil mengangkat tangannya.
Tetapi dahinya pun kemudian berkerut. Tidak seorang pun yang bertepuk
tangan. Tidak seorang pun yang menerikkan sorak kebanggaan. Dan tidak
seorang pun yang dengan lantang menyanjunginya.
Namun Warsi pun kemudian tidak menghiraukannya. Sementara itu Ki Randukeling
berkata, “Permainan kita telah berakhir hari ini Wiradana. Kita dapat
menampilkan acara yang terakhir sebagaimana direncanakan.”
Wiradana tergagap. Jawabnya, “Ya, ya kakek. Semua acara memang sudah
diselesaikan.”
“Perintahkan para pengawal itu menutup permainan mereka. Kita dapat pulang.
Kita sudah sehari berada di sini dan kehidupan di Tanah Perdikan ini pun
bagaikan telah terhenti karena semua orang berkumpul disini,” berkata Ki
Randukeling.
Ki Wiradana mengangguk. Tetapi perasaannya masih belum mapan karena kejutan
yang sama sekali tidak disangkanya. Bagaimana mungkin Warsi dapat berbuat
seperti itu.
Ki Randukeling agaknya dapat meraba perasaan Ki Wiradana. Karena itu, maka
katanya, “Persoalan Warsi nanti dapat aku jelaskan setelah kita berada
dirumah.”
“Baiklah kakek,” jawab Ki Wiradana.
Betapapun jantungnya masih berdegupan, maka ia pun kemudian memerintahkan
para pemimpin pengawal untuk mengakhiri acara permainan yang sudah sehari
penuh itu.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 422
Tanggal: Rabu, 20-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Sementara itu, Ki Randukeling sempat
berbicara dengan Ki Rangga, “Ki Rangga. Cepat atasi gejolak yang mungkin
terjadi di perasaan para pengawal. Para perwira Jipang harus dengan cepat
menanganinya, sehingga mereka tidak menjadi bimbang. Para perwira harus
dapat menjelaskan, bahwa dengan demikian, maka Tanah Perdikan akan menjadi
semakin kuat. Karena ternyata Nyai Wiradana akan dapat membuat suaminya
bukan saja sekadar mendorong secara jiwani, tetapi secara kewadagan Nyai
Wiradana juga akan mampu membantu suaminya menghadapi persoalan-persoalan
yang mungkin akan menjadi gawat.”
Ki Rangga mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhya kecemasan Ki Randukeling
tentang para pengawal. Sementara itu Ki Randukeling melanjutkan, “Karena
itu, maka para pengawal tidak usah cemas jika mereka harus meninggalkan
Tanah Perdikannya menuju ke Pajang, karena Ki Wiradana dan Nyai Wiradana
akan menjadi pasangan yang siap melindungi Tanah Perdikan ini.”
Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Baiklah Ki Randukeling. Ki Randukeling jangan
terlalu mencemaskan para pengawal. Mereka akan tunduk dan taat kepada para
pelatihnya, sementara Ki Wiradana akan segera berada dibawah pengaruh
istrinya yang cantik itu.”
Ki Randukeling tersenyum pula.
Sementara itu, acara yang terakhir sudah mulai berlangsung. Pasukan berkuda
sekali lagi mengadakan pameran berkeliling gelanggang.
Namun sambutan para penonton tidak lagi bergelora sebagaimana pada saat
permainan itu baru dimulai. Mereka lebih banyak dicengkam oleh kebingungan
melihat kekalahan Ki Wiradana dari istrinya, Warsi yang lebih banyak dikenal
sebagai seorang penari jalanan daripada seorang yang memiliki kemampuan
dalam olah kanuragan. Bahkan menurut pengenalan mereka, Warsi tidak lebih
dari seorang perempuan yang manja dan cengeng.
Tetapi ternyata bahwa Warsi telah mengejutkan seisi Tanah Perdikan dan para
perwira dari Jipang.
Demikianlah, maka permainan itu pun berakhir. Namun sementara itu dua orang
suami istri yang telah berusia melampaui pertengahan abad dengan susah payah
tengah membujuk seorang perempuan untuk tidak mencampuri permainan di
gelanggang itu.
“Meskipun aku belum pernah melakukannya, tetapi aku merasa mampu
melakukannya,” berkata perempuan itu.
Tetapi perempuan yang sudah berambut memutih itu menjawab, “Jangan. Tidak
ada gunanya. Belum waktunya kau tampil dalam arena. Apalagi arena seperti
ini.”
Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menahan kekecewaannya.
Tetapi ia tidak dapat melanggar pesan dua orang suami istri itu.
“Marilah, sebelum ada orang yang mengenalimu,” berkata laki-laki dan
istrinya yang sudah menjelang hari-hari tuanya itu.
Perempuan itu akhirnya menurut. Sambil menutup kepalanya dengan selendang
untuk melindungi terik matahari meskipun sudah mulai berkurang karena
matahari yang menjadi semakin condong, namun juga untuk menutup sebagian
dari wajahnya agar wajah itu tidak dikenali oleh orang-orang yang sedang
menonton permainan yang mendebarkan itu.
Ternyata tidak seorang pun yang dapat mengenali perempuan itu, meskipun ia
pernah hidup di antara rakyat Tanah Perdikan Sembojan, karena perempuan itu
adalah Iswari.
Betapa kecewanya ketika ternyata kakek dan neneknya yang juga gurunya
melarangnya untuk memasuki gelanggang melawan perempuan yang ternyata adalah
Warsi itu. Setelah ia menjalani laku yang sangat berat, maka Iswari merasa
bahwa ia sudah menyimpan bekal di dalam dirinya untuk mengimbangi kemampuan
perempuan yang berilmu iblis dari keluarga Kalamerta.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 423
Tanggal: Kamis, 21-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Namun dalam pada itu, peristiwa yang
mengejutkan di gelanggang itu telah menjadi bahan pembicaraan disegala
tempat. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan memperbincangkannya. Para
pengawal pun dengan nada yang berbeda-beda telah mempercakapkannya pula.
“Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi,” berkata seorang pengawal.
“Memang sesuatu yang mungkin di luar jangkauan nalar. Tetapi adalah satu
kenyataan bahwa Nyai Wiradana berhasil mengalahkan Ki Wiradana. Kenyataan
itu tidak dapat kita ingkari,” berkata yang lain.
Kawannya mengangguk-angguk sambil bergumam, “Memang satu hal yang tidak
masuk akal. Tetapi Warsi memang seorang perempuan yang diselubungi oleh
rahasia.”
Tetapi para pengawal tidak terlalu banyak mendapat kesempatan untuk
berbincang.
Sebagaimana dikehendaki oleh Ki Randukeling, maka dengan cepat Ki Rangga
sempat memberikan beberapa petunjuk kepada para perwira Jipang di Tanah
Perdikan. Mereka harus dengan cepat dan tepat menanggapi gejolak perasaan
yang tentu timbul di antara para pengawal.
Demikianlah, dengan pesan dan penjelasan dari Ki Rangga, para perwira itu
pun telah memberikan keterangan kepada para pengawal. Di samping menjelaskan
persoalannya sebagaimana dikehendaki oleh Ki Randukeling lewat Ki Rangga
Gupita, sehingga tanggapan para pengawal itu pun menjadi terarah karenanya.
Sebagian besar dari para pengawal memang tidak mempersoalkan lebih lanjut.
Mereka menerima pikiran, bahwa justru dengan demikian Tanah Perdikan ini
akan menjadi semakin kuat. Jika sebagian besar para pengawal akan pergi ke
Jipang, maka Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mencemaskan, karena di Tanah
Perdikan ini ada Ki Wiradana dan istrinya yang ternyata akan mampu membantu
suaminya dengan baik dan meyakinkan.
Namun demikian ada juga beberapa di antara mereka yang masih saja selalu
bertanya-tanya di dalam hati. Siapakah sebenarnya Warsi itu. Apakah ia
memang seorang penari jalanan, atau ada latar belakang lain dari
kehidupannya, sehingga ia memiliki kemampuan melampaui kemampuan Ki
Wiradana.
Dalam pada itu, di rumah Ki Wiradana pun telah terjadi pembicaraan yang
tegang. Ki Wiradana memang menuntut penjelasan tentang istrinya yang
tiba-tiba saja mempunyai kemampuan yang mengejutkan dan bahkan telah
mengalahkannya di arena yang disaksikan oleh rakyat Sembojan.
“Ada dua masalah yang timbul,” berkata Ki Wiradana. “Yang pertama, bagaimana
mungkin kau tiba-tiba saja telah memiliki ilmu yang mampu mengalahkan aku.
Dan yang kedua harga diriku dihadapan rakyatku telah menjadi kabur.”
Warsi tertawa mendengar persoalan yang dikemukakan oleh suaminya. Tetapi
sebelum ia menjawab, Ki Randukeling telah mendahuluinya. “Jangan menanggapi
dengan cara yang salah Wiradana. Dengan demikian, maka kau akan dapat
melihat keadaan ini dalam suasana yang baik.”
“Tetapi peristiwa itu membuat aku menjadi sangat sulit,” jawab Ki Wiradana.
“Namun aku pun ingin tahu keadaan Warsi yang sebenarnya. Ternyata selama ini
ia telah berpura-pura dan bukankah dengan demikian ia sudah mempermainkan
aku. Ternyata dengan puncak dari permainannya itu ia telah mencemarkan
namaku di hadapan rakyatku.”
“Sudahlah,” berkata Ki Randukeling. “Ki Wiradana harus menerima kenyataan
ini. Warsi adalah istri Ki Wiradana dan bahkan telah mendapatkan seorang
anak laki-laki. Siapapun Warsi tidak sepantasnya dipersoalkan sekarang.
Seharusnya Ki Wiradana berusaha untuk mengetahui sejak Ki Wiradana ingin
mengambilnya sebagai seorang istri.”
Wajah Ki Wiradana menjadi kemerah-merahan. Terasa jantungnya berdentang
semakin keras. Namun ia memang harus menahan diri, karena ia merasa dirinya
menjadi sangat kecil.
Sementara itu, Warsi justru telah berkata, “Kakang. Jangan marah. Selama ini
aku memang berpura-pura. Aku ingin agar kakang tidak berkecil hati. Aku
mencintai kakang sehingga aku telah mengekang diri selama ini. Karena aku
yakin, jika kakang mengetahui bahwa aku memiliki kemampuan dalam olah
kanuragan, kakang tidak akan mengambil aku untuk kau jadikan sebagai
istrimu.”
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 424
Tanggal: Jumat, 22-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Tetapi kenapa kau tiba-tiba saja sampai
hati untuk menjatuhkan namaku dihadapan banyak orang? Kenapa kau tidak
berterus terang saja mengatakan kepadaku, siapakah kau sebenarnya. Jika kau
memang memiliki kemampuan, maka aku tentu akan mengakuinya tanpa kau
tunjukkan dihadapan saksi yang terlalu banyak itu,” geram Ki Wiradana.
“Kau tersinggung?” bertanya Warsi.
“Ya. Aku memang tersinggung,” jawab Ki Wiradana.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan jika kau merasa tersinggung?” bertanya
Warsi.
“Aku Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan disini,” jawab Ki Wiradana.
“Tetapi kau tidak mempunyai kekuasaan apapun disini kakang,” jawab Warsi.
“Para pengawal telah berada ditangan para pelatihnya, para perwira dari
Jipang. Mereka akan segera berangkat ke Pajang.”
“Aku akan mencegah pemberangkatan itu,” berkata Ki Wiradana.
Tetapi Warsi dan Ki Randukeling tertawa bersama. Bahkan Warsi sempat
memegangi perutnya yang terguncang.
“Sudahlah Wiradana,” berkata Ki Randukeling, “Jangan menjadi gelisah. Tidak
ada apa-apa. Lakukan kewajibanmu sebagaimana biasa. Tetapi jangan mencoba
mencegah pasukan pengawalmu yang akan berangkat. Mereka sudah siap. Dari
duaratus orang pengawal khususmu, akan ditinggalkan duapuluh lima orang.
Sementara itu, para pengawal terpilih dari padukuhan-padukuhan pun akan
dibawa pula oleh para perwira Jipang ke Pajang”
“Aku berhak mencegahnya,” jawab Ki Wiradana lantang.
“Apakah artinya hak yang kau maksud itu?” bertanya Nyai Wiradana. “Kami
dapat memaksamu untuk melakukan sesuatu atas kehendak kami. Antara lain,
memaksamu untuk melepaskan para pengawal itu pergi ke Pajang. Jika kau
menolak, maka kami dapat berbuat apa saja atasmu tanpa diketahui oleh
rakyamu. Karena sebenarnyalah, sudah disiapkan seorang penggantimu yang sah
jika kau menentang kehendak kami.”
“Pengganti?” wajah Ki Wiradana menjadi sangat tegang.
“Ya. Anak itu,” jawab Warsi.
“Tentu tidak mungkin,” berkata Ki Wiradana. “Ia akan menggantikan aku
setelah aku tidak ada.
“Bukankah ketidaaanmu dapat dipercepat,” jawab Warsi.
Ki Randukeling yang mendengarnya tertawa berkepanjangan. Sementara Warsi
meneruskan. “Kakang. Sebenarnyalah aku tetap seorang istri. Tetapi dalam
keadaan yang memaksa, maka kau akan dapat lenyap seperti lenyapnya Nyai
Wiradana yang pertama. Tanpa bekas. Para pengawal akan mencari di segenap
sudut Tanah Perdikan ini bahkan diluarnya. Tetapi tidak seorang pun yang
menemukannya.
“Para pengawal akan mencurigai kalian,” geram Ki Wiradana.
“Mereka berada dibawah pengaruh para perwira Jipang. Apa katamu?” sahut
Warsi dengan wajah yang tiba-tiba telah berubah. Bukan wajah yang lembut
kemanjaan. Tetapi sorot matanya menjadi tajam menyala.
Jantung Ki Wiradana serasa akan meledak menghadapi kenyataan itu. Tetapi ia
merasa bahwa ia memang tidak akan dapat berbuat apa-apa dihadapan Warsi dan
Ki Randukeling. Menurut penilaiannya, Ki Randukeling tentu memiliki ilmu
yang luar biasa. Jauh lebih tinggi dari ilmu yang dimiliki Warsi.
Karena itu, maka Ki Wiradana pun merasa bahwa ia telah terjebak ke dalam
satu keadaan yang tidak dapat dihindarinya. Ia telah terjerumus ke dalam
satu kubangan lumpur yang menjeratnya tanpa dapat dilepaskannya.
Tetapi semuanya itu sudah telanjur. Sementara Warsi masih juga berkata
sekali lagi, “Kakang, jika kau bersikap baik terhadapku, maka aku masih
tetap istrimu. Jangan cemas bahwa aku dan kakek akan melakukan satu tindakan
yang mengancam keselamatanmu.”
Ki Wiradana hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi penyesalan
betapapun menghentak-hentak di dadanya, namun ia telah berada di dalam wuwu
yang dipasang dengan umpan seorang penari yang cantik. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 425
Tanggal: Sabtu, 23-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Di luar sadarnya Ki Wiradana teringat kepada
Iswari. Seorang perempuan yang benar-benar lembut hati, yang telah
dikorbankannya untuk memanjakan nafsunya.
Adalah diluar sadarnya pula, tiba-tiba saja ia berharap bahwa Iswari
benar-benar masih belum mati sebagaimana terdengar beberapa bisikan yang
tidak pasti di antara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sendiri.
Dalam pada itu, maka rencana para perwira
Jipang di Tanah Perdikan itu pun berjalan sebagaimana mereka kehendaki. Para
perwira Jipang yang memimpin para pengawal Tanah Perdikan itu pun nampak
menjadi semakin garang. Sebagaimana sikap prajurit yang keras, maka mereka
telah menyiapkan sepasukan yang cukup besar yang terdiri dari para pengawal
khusus dan para pengawal dipadukuhan-padukuhan, namun yang terpilih.
Demikianlah, maka hari pemberangkatan pun telah tiba. Pasukan yang besar itu
memang memberikan kebanggaan. Bukan saja setelah mereka mampu menunjukkan
ketrampilan mereka mempergunakan senjata, namun tanda-tanda kebesaran
pasukan itu pun menunjukkan seakan-akan Tanah Perdikan Sembojan adalah satu
lingkungan pemerintahan yang memiliki kekuatan tiada taranya. Pasukan Tanah
Perdikan itu sudah dilengkapi dengan pertanda-pertanda kebesaran. Tunggul
dan panji-panji. Rontek dan kelebet. Sementara itu, telah dibawa pula
beberapa buah pedati untuk memuat perlengkapan dan makanan bagi para
prajurit. Mereka harus mempunyai persediaan sebelum mereka dapat merapatkan
diri dihadapan Pajang.
Semua laporan terperinci telah sampai di Jipang. Jipang memang sudah
menyediakan sekelompok kecil prajurit yang akan menunggu di satu tempat yang
ditentukan. Pasukan itu akan bergabung dan bersama dengan seratus tujuhpuluh
lima pengawal khusus dari Tanah Perdikan Menoreh beserta para perwira
pelatih, akan menjadi inti kekuatan dari pasukan itu.
Rakyat Tanah Perdikan Sembojan melepas pasukan itu dengan perasaan yang
bercampur baur. Antara kebanggaan, kegelisahan dan kecemasan. Sementara
masih ada perasaan yang tersangkut dihati tentang Nyai Wiradana yang
tiba-tiba saja mampu menunjukkan sebagai seorang terbaik dalam permainan
sodoran di ara-ara.
Beberapa orang perempuan menitikkan air mata mereka, karena anak laki-laki
kebanggaan keluarga mereka, suami yang baru beberapa bulan kawin, kekasih,
kakak atau adik yang ikut dalam pasukan yang akan diumpankan pada para
prajurit Pajang yang gemblengan. Meskipun ada di antara pasukan itu para
perwira dari Jipang dibawah pengamatan Ki Rangga Gupita, namun orang-orang
Tanah Perdikan Sembojan yang untuk waktu yang lama sampai masa jabatan Ki
Gede Sembojan yang terbunuh adalah termasuk kawula Pajang, mereka pun pernah
mendengar nama-nama besar seperti Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, Ki Wira, Ki
Wuragil dan beberapa nama Senopati Pajang pilihan yang lain, kawan-kawan
bermain dan saudara-saudara seperguruan dengan Kanjeng Adipati Hadiwijaya
sendiri.
Tetapi tidak seorang pun dapat mencegah. Para pengawal sendiri nampaknya
berbangga telah mendapat tugas untuk pergi ke Pajang. Para perwira telah
menganjurkan kepada para pengawal untuk berjuang menegakkan kedudukan Tanah
Perdikan Sembojan yang oleh Pajang sangat diperkecil artinya.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 426
Tanggal: Minggu, 24-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan
kalian mendapat kesulitan untuk menuntut pengakuan dari Pajang,” berkata
para perwira Jipang kepada para pengawal. “Karena sebenarnyalah Pajang akan
menghapuskan semua Tanah Perdikan. Baik yang ditetapkan oleh Pajang sendiri
dan surat Kekancingan, maupun yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh Demak.
Karena itu, berjuanglah untuk menuntut keadilan, bahwa hak Tanah Perdikan
Sembojan harus tetap dihormati oleh Pajang.”
Dengan demikian, maka para pengawal itu telah dibekali suatu perasaan yang
dapat menyalakan tekad di dalam dada mereka. Sementara itu para perwira
Jipang pun berkata selanjutnya kepada mereka, “Adalah kesempatan yang sangat
baik bagi Tanah Perdikan ini bahwa para pengawalnya dapat berjuang
bersama-sama dengan Jipang yang akan membantu hak Tanah Perdikan Sembojan.”
Karena itulah, maka para pengawal telah berangkat dengan dada tengadah
ketika mereka kemudian berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan.
Ki Wiradana, istrinya dan beberapa orang melepas pasukan itu tidak di depan
rumahnya atau di banjar Tanah Perdikan, tetapi mereka berada disebuah bulak
di luar padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.
“Mereka memerlukan waktu yang lama untuk mencapai tujuan. Tempat yang sudah
ditentukan dan sudah disiapkan disebelah Timur Pajang. Sementara pasukan
yang datang dari Jipang akan berada di sebelah Barat Pajang. Dengan demikian
Pajang akan merasa terkepung dan menjadi cemas akan nasibnya, sementara
pasukannya yang besar berada di hadapan pasukan Jipang seberang menyeberang
Bengawan,” berkata Ki Rangga Gupita.
“Namun demikian mereka akan berada di tempat itu dengan mapan, karena mereka
sudah siap dengan bekal yang mereka perlukan. Meskipun pedati-pedati itu
rasa-rasanya menghambat perjalanan, tetapi pada saatnya akan ikut
menentukan. Jika pasukan ini kehabisan bekal sebelum mapan di tempat yang
dituju, maka akan dapat menumbuhkan persoalan tersendiri. Sedangkan
sekelompok prajurit Jipang yang akan bergabung dengan pasukan ini agaknya
sudah menunggu sebagaimana keterangan yang aku dapatkan dari Jipang.”
Ki Wiradana tidak banyak memberikan tanggapan. Dipandanginya pasukan
pengawalnya yang memang dapat memberikan kebanggaan. Tetapi pasukan itu akan
pergi untuk bertempur bagi kepentingan Jipang.
Karena itu, Ki Wiradana memandangi pasukannya dengan tatapan mata yang
buram, sebagaimana buramnya Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri.
Dalam pada itu, Warsi memang tampil dengan sikap yang jauh berbeda dengan
sikapnya dihari-hari yang lewat. Meskipun ia mengenakan pakaian yang
biasanya dipakainya sehari-hari sebagai istri Wiradana, tetapi wajahnya
tidak lagi menunduk. Suaranya tidak lagi tertahan penuh dengan keragu-raguan
serta seakan-akan membebankan setiap persoalan dalam perasaannya.
Bahkan ketika pasukannya lewat, Warsi sempat berbicara panjang dengan Ki
Rangga Gupita. Keduanya nampak gembira dan sekali-kali keduanya tertawa.
Di sebelah Ki Wiradana, Ki Randukeling sekali-kali mengamatinya. Namun ia
pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kau sudah sampai pada saat dimana
kau tidak mungkin kembali. Pasukanmu telah terlibat dalam pertempuran
melawan Pajang. Karena itu, maka kau harus menggantungkan dirimu kepada
Jipang.”
Ki Wiradana berpaling ke arah Ki Randukeling. Namun di luar kehendaknya, ia
justru melihat Warsi, istrinya mencubit lengan Ki Rangga Gupita.
Jantung Ki Wiradana berdesir. Tetapi ia harus menahan dirinya. Di sekitarnya
berdiri orang-orang yang memiliki kelebihan. Bukan saja dari orang
kebanyakan, tetapi juga dari dirinya sendiri.
Karena itu, maka Ki Wiradana pun tiba-tiba merasa bahwa dirinya memang tidak
berharga. Disebelahnya berdiri Ki Randukeling. Kemudian istrinya dan Ki
Rangga Gupita. Pedagang emas berlian dan orang yang disebut sebagai ayah
Warsi. Menurut pendapat Ki Wiradana, orang itu tentu dipersiapkan oleh Ki
Randukeling untuk membatasi dirinya
Suramnya Bayang Bayang 427
Tanggal: Senin, 25-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Dengan demikian maka Ki Wiradana hanya dapat
berdiri memantung sambil menunggu pasukannya lewat ke ujung ekornya.
Beberapa pedati yang berisi perbekalan dan dibelakangnya beberapa orang
pengawal bersenjata mengawasi perbekalan yang ada di dalam pedati itu.
Ketika iring-iringan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu sudah
lewat, maka terasa Tanah Perdikan memang menjadi kosong, sebagaimana hati
pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikannya.
Dengan kepala tunduk, Ki Wiradana berjalan meninggalkan bulan yang berdebu
memasuki padukuhannya. Istrinya berada disampingnya sedangkan Ki Rangga
Gupita berjalan disebelah Ki Randukeling dibelakangnya.
Dibelakang mereka berjalan saudagar emas berlian dan orang yang mengaku ayah
Warsi bersama beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan yang lain. Beberapa
orang bebahu padukuhan induk dan para pemimpin pengawal yang tinggal.
Ki Wiradana seakan-akan tidak mampu untuk menyatakan sesuatu selama
iring-iringan itu memasuki padukuhan induk. Dadanya terasa sesak. Apalagi
setiap kali ia mendengar Ki Rangga berbicara dengan istrinya yang selalu
berpaling dan memperlambat jalannya.
Namun demikian sesaknya dada Ki Wiradana sehingga tiba-tiba saja diluar
kekang nalarnya ia bertanya, “Kapan Ki Rangga berangkat ke Pajang?”
“O,” Ki Rangga tersenyum, “Aku tidak tergesa-gesa. Aku bukan termasuk
pasukan yang harus bertempur di medan antara Jipang dan Pajang. Tetapi aku
mempunyai wewenang untuk mengatur pasukan dari Tanah Perdikan ini. Karena
itu, maka aku baru akan menyusul dua hari lagi, karena pasukan itu tentu
berjalan sangat lamban. Aku pun tidak perlu berada dan menunggui pasukan
itu. Jika segala sesuatunya sudah teratur baik, serta kesiagaan pasukan itu
sudah memadai untuk menghadapi pasukan Pajang, maka aku dapat saja
kembali.”
“Kembali ke Jipang?” bertanya Ki Wiradana.
“Aku dapat kembali ke Jipang. Tetapi dapat juga kembali ke Tanah Perdikan
ini, karena aku adalah seorang Putut dari seorang pertapa yang bernama Ki
Randukeling,” jawab Ki Rangga sambil tertawa.
Suara tertawa itu terasa gemuruh dijantung Ki Wiradana. Apalagi ketika
beberapa orang telah tertawa pula. Warsi pun tertawa seperti Ki Randukeling
dan beberapa orang lain.
Suara tertawa yang gemuruh itu bagaikan memecahkan seluruh isi dadanya.
Menurut perasaannya, orang-orang itu telah mentertawakan kedunguannya selama
ini. Bahkan istrinya yang dianggapnya sebagai perempuan yang dapat menjadi
ilham segala langkah-langkah yang diambilnya itu ternyata bukan seorang
perempuan yang mulai sebagaimana diduganya.
“Penari iblis itu telah mempermainkan aku,” geram Ki Wiradana. Namun ia
tidak dapat mengatakannya kepada siapapun juga.
Demikianlah pada saat-saat berikutnya Ki Wiradana tidak lagi mempunyai
gairah di dalam kerja. Tanah Perdikannya menjadi sepi dan hatinya pun tidak
lagi bergejolak. Ia kadang-kadang masih juga teringat kepada bandul yang
disyaratkan bagi wisudanya. Tetapi sudah tidak ada minat lagi untuk
mencarinya.
Sikap Warsi di rumah pun telah berubah pula. Perempuan itu menjadi garang
dan setiap kali membentaknya. Bahkan adalah di luar dugaan Wiradana, ketika
Warsi itu berbicara kepada Ki Randukeling, seolah-olah membicarakan sebuah
mainan yang sangat mengasyikkan, “Kakek, aku sebenarnya telah meminjamkan
nyawa kepada kakang Wiradana.”
“He, bagaimana mungkin kau meminjamkan nyawa kepada seseorang?” bertanya Ki
Randukeling.
“Sebenarnya aku telah siap membunuhnya. Kami terlibat kedalam perkelahian
karena kakang Wiradana menyerangku. Ia sudah tidak berdaya sama sekali untuk
melawan. Tetapi aku ternyata memang mencintainya, sehingga aku tidak
membunuhnya,” berkata Warsi.
“O,” Ki Randukeling tertawa. Tertawa lepas sebagaimana menertawakan sesuatu
yang lucu. Seakan-akan ia tidak sedang berbicara tentang jiwa seseorang.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 428
Tanggal: Selasa, 26-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Wiradana pun kemudian teringat. Dari
pembicaraan Warsi selanjutnya dengan kakeknya, ia dapat membayangkan kembali
saat-saat ia bertempur dengan seseorang yang tidak dikenalnya, namun yang
sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata orang itu adalah
Warsi. Perempuan yang kemudian menjadi istrinya. Seorang istri yang
dianggapnya bersikap sebagaimana seorang perempuan yang berhati bening,
kemanjaan dan luruh. Ternyata perempuan itu adalah perempuan yang memang
hampir saja membunuhnya.
Martabat Ki Wiradana benar-benar terasa direndahkan. Namun ia tidak
mempunyai kesempatan untuk mempertahankannya.
Namun dengan demikian, Ki Wiradana menyadari sepenuhnya apa yang telah
terjadi atas dirinya. Ia dapat menggambarkan kembali urut-urutan peristiawa
yang dialaminya. Justru pada saat-saat ia sudah berada dibawah bayang-bayang
yang suram dari satu kehidupan yang kelam. Ia dapat melihat cahaya yang
cerah diluar jangkauannya.
Tetapi segala sesuatunya yang cerah itu tinggal dapat dialaminya dalam suatu
mimpi, karena yang telah terjadi itu tidak akan dapat diulanginya dalam
susunan lakon yang berbeda.
Semakin jelas bayangan urutan peristiwa itu tergambar di dalam angannya,
maka semakin dalam pula penyesalan di dalam dadanya, mengorek, menghujam
sampai ke pusat jantungnya.
Sementara itu, pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang sedang dalam
perjalanan ke Pajang, sama sekali tidak membayangkan bahwa di dalam diri
pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikannya tengah terjadi pergolakan. Lebih
dahsyat dari pergolakan yang terjadi secara kewadagan di Tanah Perdikan
Sembojan itu.
Dengan gembira pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu melintasi
jalan-jalan bulak. Memasuki kademangan demi kademangan dan menembus
padukuhan demi padukuhan.
Munculnya sepasukan pengawal yang disangka sepasukan prajurit oleh
orang-orang padukuhan yang dilaluinya memang mengejutkan. Pertanda kebesaran
dan kelengkapan senjata untuk menunjukkan bahwa pasukan itu memang sudah
siap untuk berperang, membuat daerah-daerah dilaluinya bertanya-tanya.
Bahkan ketika mereka memasuki sebuah kademangan yang besar, Ki Demang yang
memiliki keberanian, bersama beberapa orang bebahu dan pengawal telah
bersiap-siap untuk menyongsongnya. Demikian mereka mendapat laporan tentang
sebuah pasukan yang akan lewat, maka Ki Demang pun telah mempersiapkan
dirinya ditepi jalan yang dilalui oleh pasukan itu.
Pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang dipimpin oleh para perwira
dari Jipang itu melihat, bahwa sekelompok orang berdiri seberang menyeberang
jalan yang akan dilaluinya. Tetapi mereka sama sekali tidak merasa terganggu
karenanya. Sekelompok orang yang berdiri disebelah menyebelah jalan itu
terlalu sedikit untuk berbuat sesuatu atas padukuhan yang kuat itu.
Meskipun demikian, Ki Demang telah memberikan isyarat agar pasukan itu
berhenti.
Perwira Jipang yang memimpin pasukan itu pun ternyata tidak ingin membuat
persoalan di perjalanan. Karena itu, maka ia pun telah memberikan isyarat
pula kepada para perwira yang lain agar pasukan itu berhenti.
“Kami mohon maaf,” berkata Ki Demang sambil membungkuk dalam-dalam dan penuh
hormat. “Apakah aku diperkenankan untuk mengetahui, pasukan yang manakah
yang lewat sekarang ini? Kami tidak dengan cepat dapat membaca pertanda,
umbul-umbul, rontek dan kelebet yang menandai kebesaran pasukan ini.”
Perwira itu tersenyum. Sambil menepuk bahu Ki Demang ia berkata, “Jangan
risaukan kami. Kami adalah sepasukan prajurit yang menginginkan satu suasana
yang dapat memberikan ketenangan bagi rakyat. Bukan sebaliknya. Karena itu,
maka kami harus mencegah kesewenangan, ketamakan dan ketidak adilan.”
“Benar Ki Sanak,” jawab Ki Demang. “Tetapi siapakah yang Ki Sanak maksudkan
dengan mereka yang melakukan ketidakadilan itu, sehingga Ki Sanak telah
membawa sepasukan prajurit untuk mencegahnya?” Perwira itu justru tertawa.
Sekali lagi ia menepuk bahu Ki Demang, katanya, “Pada saatnya kau akan
mengetahuinya. He, apakah kau pemimpin daerah ini?”(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 429
Tanggal: Rabu, 27-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Aku demang di Kademangan ini,” jawab Ki
Demang.
“Sudahlah Ki demang. Jangan persoalkan kami. Jangan tanyakan kami datang
darimana dan untuk apa,” jawab perwira Jipang itu.
Tetapi Ki Demang itu menjawab — apakah salahnya jika kami mengetahuinya ? —
“Memang tidak ada salahnya,” jawab perwira itu. “Tetapi juga tidak ada
salahnya jika Ki Demang tidak mengetahuinya.”
Ki Demang masih akan bertanya lagi. Tetapi perwira itu pun segera melangkah
sambil berputar menghadap ke pasukannya. Ia pun kemudian memberikan isyarat
agar pasukannya itu pun melanjutkan perjalanan menuju ke Pajang dari sisi
sebelah Timur.”
Ki Demang tidak dapat berbuat apa-apa. Iring-iringan itu pun kemudian lewat.
Jika Ki Demang memaksa agar pasukan itu berhenti, tentu akan terjadi
benturan kekerasan. Dalam keadaan yang demikian Ki Demang merasa, bahwa
Kademangannya tidak mempunyai kekuatan sebesar pasukan yang lewat itu.
Karena itu, dengan dada yang berdegupan, Ki Demang terpaksa membiarkan
iring-iringan itu berjalan.
Ketika Ki Demang melihat bagian belakang dari pasukan itu, yang terdiri dari
beberapa buah pedati dengan berbagai macam perlengkapan dan bekal, maka Ki
Demang pun menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya pasukan itu merupakan
pertanda bahwa perang memang sudah berada di ambang pintu, karena Ki Demang
pun telah mengetahui persoalan yang tumbuh di Demak, Pajang dan Jipang.
Untuk beberapa saat lamanya Ki Demang termangu-mangu. Beberapa orang bebahu
dan pengawal Kademangan itu pun memandangi debu yang berhamburan dengan hati
yang berdebar-debar.
Namun dalam pada itu, ketika pasukan itu menjadi semakin jauh dan Ki Demang
sudah bermaksud untuk kembali memasuki regol halaman banjar, seorang dalam
pakaian petani yang sederhana telah mendekatinya. Sambil tersenyum ia
berkata kepada Ki Demang, “Maaf Ki demang. Mungkin aku mengganggu.”
Ki Demang memperhatikan orang itu sejenak. Kemudian ia pun berpaling kepada
seorang bebahu, “Apakah orang ini orang Kademangan ini? Rasa-rasanya aku
belum pernah melihatnya.”
Bebahu itu berdesis, “Aku juga belum mengenalnya. Ki Demang dapat bertanya
kepadanya.”
Ki Demang memandang orang itu dengan ragu. Namun orang itulah yang
mendahuluinya, “Aku memang bukan orang Kademangan ini. Karena itu, maka
sikapku mungkin mengganggu Ki Demang.”
“Apa maksudmu?” bertanya Ki Demang.
“Ki Demang,” berkata orang itu, “Aku hanya ingin sekadar memberitahukan
kepada Ki Demang. Bukankah tadi Ki Demang bertanya kepada pemimpin pasukan
itu, tetapi pemimpin pasukan itu tidak bersedia menjelaskan, pasukan manakah
yang telah melewati Kademangan ini?”
Ki Demang termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab.
“Ki Demang. Mungkin aku tahu jawabannya,” berkata petani itu. “Pasukan itu
adalah pasukan Tanah Perdikan Sembojan.”
Ki Demang memandang petani itu dengan tajamnya. Ia melihat sesuatu yang lain
pada orang itu, sehingga Ki Demang itu pun menjadi curiga karenanya.
“Kenapa Ki Demang memandang aku seperti itu?” bertanya petani itu.
“Siapakah kau sebenarnya?” bertanya Ki Demang.
“Kenapa Ki Demang tidak justru bertanya tentang pasukan itu lebih banyak
lagi?” petani itu justru bertanya.
Ki Demang berpaling ke arah debu yang sudah dihanyutkan angin sehingga tidak
ada apapun lagi yang nampak oleh Ki Demang.
“Pasukan itu adalah pasukan Sembojan, tetapi yang sudah menjadi bagian dari
kekuatan Jipang,” berkata orang yang dalam ujud petani itu.
“Maksudmu Jipang atau Pajang?” bertanya Ki Demang.
“Pasukan Sembojan itu menjadi bagian dari pasukan Jipang untuk memerangi
Pajang. Jelas? Mereka berlindung kepada kebesaran nama Arya Penangsang dan
memusuhi Adipati Hadiwijaya. Bukankah aku tidak sekadar keliru
menyebutkannya?” jawab orang berpakaian seperti petani kebanyakan itu.
“Siapa kau?” sekali lagi Ki Demang bertanya.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 430
Tanggal: Kamis, 28-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Aku adalah petugas sandi dari Pajang,” jawab
petani itu. Lalu, “Aku nasehatkan agar Kademangan yang besar ini mengerahkan
kekuatan untuk menghadapi Jipang yang sudah mendekati Pajang dari dua arah.
Itu jika kalian masih tetap merasa bagian dari Pajang. Bukan justru
berpaling kepada Jipang.
“Kami adalah bagian dari Pajang,” jawab Ki Demang.
“Jika demikian siapkan pengawalmu. Berikan latihan pada tingkat
setinggi-tingginya yang mungkin kalian capai. Meskipun tidak akan setingkat
dengan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang dilatih oleh para perwira
dari Jipang namun Pajang akan sangat memerlukan anak-anak muda dalam jumlah
yang besar,” berkata petani itu.
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas keterangan ini.”
“Baiklah. Aku akan mengikuti pasukan itu,” berkata orang dalam pakaian
petani itu.
“Sudah jauh,” desis Ki Demang.
“Mereka maju lamban sekali karena justru mereka membawa beberapa pedati. Aku
akan segera menyusulnya. Bersiaplah dan hubungi kademangan-kademangan
terdekat. Kerahkan semua kekuatan yang ada. Mungkin di Kademangan ini ada
bekas prajurit yang sudah mengundurkan diri karena umurnya atau siapapun
yang akan dapat menjadi pelatih dari para pengawal itu,” berkata orang dalam
pakaian petani itu.
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Kami akan melaksanakan.
Tetapi siapakah nama Ki Sanak?”
Orang dalam pakaian petani itu tersenyum. Katanya, “Yakinlah bahwa aku
adalah seorang petugas dari Pajang.”
Ki Demang tidak memaksanya. Tetapi ia percaya bahwa orang itu memang petugas
sandi dari Pajang. Namun demikian Ki Demang masih harus memastikan kebenaran
keterangan itu.
Namun dalam pada itu, Ki Demang pun berkata, “Pilih dua orang terbaik di
antara para pengawal. Biarlah mereka pergi ke Sembojan untuk mendengarkan
pembicaraan orang-orang Sembojan sendiri. Mungkin di pasar-pasar. Mungkin di
warung-warung. Dengan demikian kita akan menjadi yakin akan langkah-langkah
yang kita ambil.
Para bebahu pun mengangguk-angguk. Ki Jagabayalah yang kemudian akan
mengatur tugas-tugas bagi anak-anak muda Kademangan itu.

Sementara itu, pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu pun berjalan menyusuri
jalan-jalan padukuhan dan jalan-jalan bulak. Umbul-umbul, rontek, kelebet
dan tunggul yang mereka bawa memberikan dorongan gairah perjuangan yang
membara dihati para pengawal yang merasa dirinya memiliki kemampuan seorang
prajurit. Karena itulah, maka jika mereka melihat anak-anak muda di
padukuhan-padukuhan yang mereka lalui, maka dengan wajah tengadah mereka
seakan-akan berkata, “Inilah pengawal terpilih yang akan mampu menyelesaikan
tugas-tugasnya dengan tuntas.”
Namun perjalanan pasukan itu memang lamban. Di lewat tengah hari pasukan itu
berhenti beberapa saat. Kemudian dibawah terik matahari yang membakar,
pasukan itu melanjutkan perjalanan. Namun oleh latihan-latihan yang berat
para pengawal itu sama sekali tidak merasakan keletihan dan kelelahan.
(Bersambung)-m
Last Updated
10/05/2004
5 Agustus 2003 JW Marriott - Jakarta Blast!
e-mail: mimbarse@gajahsora.net
|