|
|
|
Sejak Juni 2002 diambil dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
http://kr.co.id
Suramnya Bayang Bayang 411
Tanggal: Kamis, 07-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Tetapi kekacauan itu tidak berlangsung lama.
Beberapa orang kemudian sempat melihat harimau itu jatuh, menggeliat sambil
menggeram penuh kemarahan, tetapi kekuatannya sudah surut sampai kebatas.
Meskipun demikian, ada beberapa orang yang terpaksa dibawa menyingkir,
karena terinjak-injak orang-orang yang berjejal-jejal berusaha menjauh,
karena mereka menyangka bahwa harimau yang garang itu terlepas.
Dalam pada itu, para pengawal pun telah mengerumuni harimau yang terbaring
diam. Harimau itu telah mati dibunuh oleh para pengawal dengan luka arang
keranjang. Luka yang menganga hampir diseluruh tubuhnya.
Tidak terdengar sorak yang bagaikan memecahkan langit karena orang-orang
yang menonton pertarungan itu masih dicengkam oleh ketegangan. Namun setelah
mereka menjadi tenang kembali, maka mereka pun memandang dengan penuh
kekaguman. Bagaimanapun juga orang-orang Tanah Perdikan itu berbangga karena
anak-anak muda mereka memiliki ketangkasan yang tinggi sebagaimana
ketangkasan seorang prajurit.
Namun seorang laki-laki tua justru telah meninggalkan gelanggang itu
berteduh dibawah sebatang pohon di pinggir arena itu sambil terpekur.
Disebelahnya seorang penjual minuman bertanya, “Sudah letih Wakne?”
Laki-laki tua itu berpaling. Dengan kerut di dahinya ia justru menyapa, “Kau
nDuk. Kau juga berjualan?”
“Mumpung ada keramaian Wakne,” jawab perempuan penjual minuman itu.
Laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara penjual minuman itu
bertanya, “Bukankah kakang ikut dalam permainan itu?”
“Ya. Kakangmu ikut. Ia menunjukkan ketangkasannya melawan seekor harimau.
Tiga orang pengawal mampu memenangkan pertarungan melawan seekor harimau
yang sangat garang,” jawab laki-laki tua itu.
“Wakne berbangga?” bertanya perempuan itu.
“Sebenarnya aku berbangga,” jawab laki-laki tua itu.
“Kenapa, sebenarnya?” bertanya perempuan penjual minuman itu pula.
Laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ada semacam penyesalan yang
memancar di wajahnya. Dengan nada datar ia pun kemudian berkata, “Aku
berbangga karena anakku memiliki kemampuan seorang prajurit. Adalah sulit
dipercaya bahwa anakku, hanya anak seorang laki-laki dungu pada suatu saat
memiliki kemampuan yang tinggi.”
“Seharusnya Wakne bersyukur,” desis perempuan itu.
“Aku memang bersyukur,” jawab laki-laki itu. “Tetapi aku tidak ikhlas jika
anakku besok harus berangkat ke Pajang untuk memusuhi Kadipaten itu. Selama
ini Tanah Perdikan Sembojan merupakan daerah perdikan yang berada dibawah
perlindungan Pajang. Bukan Jipang. Tiba-tiba kini Ki Wiradana berpaling dan
bahkan sekaligus ikut memerangi Pajang.”
Perempuan itu mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti persoalan yang
dikatakan oleh laki-laki itu. Tetapi ia mengerti bahwa laki-laki itu tidak
mengikhlaskan anaknya yang menjadi pengawal itu pergi ke Pajang sebagai
prajurit yang berpihak pada Jipang.
Namun karena itu, maka perempuan penjual minuman itu tidak menjawab. Tetapi
ia menuang semangkuk minuman dan memberikannya kepada laki-laki tua itu
sambil berkata, “Minumlah Wakne.”
Laki-laki tua itu mengangkat wajahnya. Sambil menerima minuman itu ia
berkata, “Terima kasih nduk. Berapa?”
“Ah, hanya minuman dingin. Tidak usah Wakne,” jawab perempuan itu.
“Tetapi bukankah minuman ini kau jual?” bertanya laki-laki itu.
“Biar sajalah. Untuk Wakne aku tidak menjualnya,” jawab perempuan itu.
Laki-laki itu tidak menjawab. Dipandanginya perempuan itu sejenak. Namun
tiba-tiba ia tertarik kepada sorak yang menggelegar. Tentu ada sesuatu yang
menarik orang-orang yang menyaksikan arena itu.
“Permainan apa lagi?” desis laki-laki tua itu.
“Permainan yang tentu sangat menarik,” jawab perempuan itu. “Wakne aku titip
daganganku. Aku akan melihat sebentar.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 412
Tanggal: Jumat, 08-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Perempuan itu tidak menunggu jawaban
laki-laki tua yang masih memegangi mangkuk yang belum diminumnya itu. Namun
kemudian ia pun meneguknya sambil beringsut mendekati dagangan yang
ditinggalkan itu, karena perempuan penjual minuman itu menitipkannya
kepadanya.
Sorak yang riuh masih terdengar memenuhi ara-ara itu. Bergelombang susul
menyusul.
Beberapa orang pengawal akan menunjukkan ketangkasan mereka mempergunakan
busur dan anak panah. Sasaran yang dibawa berlari di atas punggung kuda
harus mereka kenai. Sebuah jeruk bali yang ditancapkan di atas ujung
tombak.
Sejenak kemudian beberapa orang pengawal dengan busur dan anak panah telah
bersiap di arena. Dengan tidak sabar orang-orang yang menyaksikan permainan
itu menunggu.
Namun sejenak kemudian, beberapa orang berkuda telah bersiap dengan sasaran
yang harus dikenai oleh para pengawal yang akan menunjukkan ketangkasan
mereka memanah.
Ketika terdengar aba-aba , maka semuanya segera bersiap. Penonton pun
menjadi kehilangan kesabaran, sehingga mereka telah berdesak-desakan.
Ketika terdengar suara bende maka lepaslah tiga ekor kuda yang penunggangnya
masing-masing membawa sasaran. Ketiga ekor kuda itu berlari-lari berputar
beberapa saat. Baru kemudian mereka memasuki daerah sasaran anak panah yang
akan dilepaskan oleh para pengawal yang memegang busur dan endong di
punggung yang berisi anak panah.
Ketiga ekor kuda itu mengambil jarak. Sesaat kemudian kuda yang pertamalah
yang berlari melintasi sederet pengawal yang telah siap menarik busurnya.
Demikian kuda itu lewat dengan penunggang yang membawa jeruk bali di ujung
tombaknya yang terangkat, maka beberapa anak panah telah terlepas dari
busurnya.
Sorak yang gemuruh telah terdengar lagi. Anak panah yang terlepas dari
busur-busur itu telah hinggap pada buah jeruk bali yang dibawa berlari di
atas punggung kuda itu.
Belum lagi sorak itu mereda, maka sasaran kedua pun telah melintas. Dengan
sigapnya para pengawal menarik anak panah dari endongnya di punggung serta
seakan-akan tanpa membidik, maka anak panah itu pun telah mengejar
sasarannya.
Sorak para penonton pun bagaikan meruntuhkan langit. Anak panah yang
terlepas itu telah menancap pada sasaran kedua
Sekejap kemudian telah disusul dengan sasaran ketiga. Lebih cepat, karena
jarak kedua ekor kuda itu lebih pendek dari yang terdahulu. Namun para
pengawal cukup sikap menyiapkan busur dan anak panahnya, sehingga ketika
kuda yang membawa sasaran itu berlari beberapa puluh langkah dihadapan para
penonton pun telah meledak pula.
Anak panah-anak panah yang meluncur itu mengejar sasaran yang berlari
kencang dan kemudian hinggap pada buah jeruk di ujung tombak itu. Satu demi
satu.
“Luar biasa,” desis seorang laki-laki separo baya. “Jika aku masih muda, aku
ingin ikut pula menjadi pengawal seperti itu”
Namun diluar dugaan orang yang berdiri di sebelahnya menyahut, “Dan kemudian
dibawa ke Pajang untuk bertempur melawan prajurit Pajang.”
Laki-laki separo baya itu mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling, maka
dilihatnya seseorang berdiri tegak tanpa berpaling kepadanya. Orang itu
mengamati permainan para pengawal dengan kerut didahinya. Tetapi orang itu
belum dikenalnya.
“Apakah kau bukan orang Tanah Perdikan Sembojan,” bertanya laki-laki separo
baya itu.
Tanpa berpaling orang itu menjawab, “Bukan. Aku berasal dari Kademangan
Randusari.”
Laki-laki separo baya itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
berbicara lebih lanjut. Orang yang mengaku dari Kademangan Randusari itu
nampaknya justru tidak begitu senang melihat para pengawal Tanah Perdikan
menjadi trampil.(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 413
Tanggal: Sabtu, 09-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa seorang
yang bertubuh pendek yang berdiri dekat dengan kedua orang itu pun menyahut,
“Seorang di antara para pengawal yang membawa busur itu adalah adikku. Aku
juga menyesal atas sikap Ki Wiradana yang telah mengijinkan anak-anak Tanah
Perdikan itu untuk dikirim ke Pajang dan bertempur melawan Pajang. Apakah
keuntungannya berpihak kepada Jipang dalam keadaan seperti sekarang ini?”
Orang yang mengaku dari Randusari itu menyambung. “Kau benar. Seperti
Randusari, Tanah Perdikan ini berpaling kepada Pajang seharusnya. Tidak
kepada Jipang.”
“Tidak,” sahut laki-laki separo baya. “Jipang lebih berhak atas tahta di
Demak daripada Pajang. Para penasehat dan tetua di Demak pun condong untuk
mengembalikan tahta pada jalur yang sebenarnya.”
“Apa yang dimaksud dengan jalur yang sebenarnya?” bertanya orang yang
mengaku dari Kademangan Randusari itu.
“Jalur Sekar Seda Lepen. Bukan Jalur Trenggana,” jawab laki-laki separo baya
itu.
“Omong kosong. Ceritera tentang pembunuhan Sekar Seda Lepen oleh Sunan
Prawata itu tidak lebih dari isapan jempol. Nah, karena itu, maka pembunuh
Sunan Prawata baru-baru ini dan bahkan Pangeran Hadiri harus ditangkap dan
diadili,” jawab orang yang mengaku dari Kademangan Randusari. Lalu, “Padahal
tidak terlalu sulit untuk menunjuk hidungnya yang digantungi kumis yang
tebal, siapakah yang membunuh mereka atau memerintahkan membunuh mereka.”
“Kau menuduh Arya Penangsang?” geram laki-laki separo baya itu.
“Siapa yang mengatakan Arya Penangsang?” orang Randusari itu justru
bertanya.
“Kau sebut orang itu berkumis?” desak laki-laki separo baya.
“Apakah yang berkumis hanya Arya Penangsang? Aku menduga orang yang
memerintahkan membunuh itu berkumis. Tetapi belum tentu Arya Penangsang.
Memang mungkin yang melakukan adalah Arya Penangsang,” jawab orang Randusari
itu.
“Kau memang menuduh,” geram laki-laki separo baya itu dengan wajah merah.
Tetapi orang bertubuh pendek itu pun berkata, “Jangan ribut. Kita disini
berbangga mempunyai pengawal yang kuat, tangkas dan trampil. Tetapi kita
akan menyesal bahwa kemampuan itu tidak dipergunakan bagi kepentingan Tanah
Perdikan ini sendiri. Apalagi jika kemampuan itu akhirnya hanya akan digilas
di peperangan oleh kemampuan yang lebih baik dari Pajang. Adikku itu adalah
anak yang paling disayangi oleh seluruh keluarga. Kami berbangga akan
kemampuannya. Tetapi kami meratapi kepergiannya ke Pajang.”
“Bagaimana dengan sikap adikmu sendiri?” bertanya laki-laki separo baya
itu.
“Ia berbangga atas dirinya sendiri,” jawab laki-laki bertubuh pendek itu.
“Nah, kenapa kalian ribut dengan persoalan yang tidak genah. Anak muda itu
sendiri berbangga akan dirinya dan bersedia untuk berangkat,” berkata
laki-laki separo baya itu
Orang Randusari itu tidak menjawab. Orang bertubuh pendek itu pun kemudian
terdiam.
Namun agaknya laki-laki separo baya itu menjadi curiga, bahwa orang yang
mengaku dari Kademangan Randusari itu justru petugas sandi dari Pajang.
Karena itu, maka tiba-tiba saja ia bermaksud melaporkan kepada para
pengawal, bahwa seseorang pantas dicurigai.
Sejenak ia menunggu, agar orang yang akan dilaporkannya itu tidak justru
mencurigainya lebih dahulu. Baru kemudian ia beringsut dari tempatnya.
Namun ternyata laki-laki separo baya itu kecewa. Laki-laki yang mengaku dari
Kademangan Randusari itu sudah tidak ada di tempatnya.
“Licik,” ia berdesis.
Laki-laki yang bertubuh pendek itu berpaling ke arahnya. Dengan heran ia
bertanya, “Siapa yang licik?”
“Laki-laki dari Randusari itu,” jawabnya.
Orang bertubuh pendek itu tidak menyahut. Ia menyaksikan pameran kemampuan
mempergunakan anak panah dalam berbagai keadaan dengan sasaran bergerak.
Kemudian justru pemanah-pemanahnyalah yang bergerak dengan sasaran diam.
Bahkan kemudian pemanah-pemanah itu bergerak dengan sasaran bergerak pula.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 414
Tanggal: Minggu, 10-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Sorak yang gemuruh terdengar berkali-kali.
Kebanggaan telah menggelegak memenuhi rongga dada orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan.
Karena itulah, maka orang-orang Tanah Perdikan itu tidak menyadari betapa
mereka sudah terlalu lama berdiri disepanjang arena. Mereka tidak menyadari
bahwa matahari telah condong ke Barat.
Namun masih ada yang akan sangat menarik untuk ditonton. Anak-anak yang
lapar dapat membeli makanan. Yang haus dapat membeli minuman. Kemudian
mereka kembali lagi mengitari arena, berdesakan untuk menyaksikan pameran
kekuatan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.
Ketika matahari menjadi semakin condong, maka sampailah pameran itu pada
acara yang paling menegangkan. Para pengawal di perkenankan memasuki
gelanggang untuk bermain sodoran. Mereka memasuki arena di atas punggung
kuda dengan landean tombak panjang yang ujungnya tidak dipasang mata
tombaknya, tetapi justru dibalut dengan lapisan batang pisang yang sudah
kering sehingga menjadi sebuah bulatan yang lunak, diikat dengan tali rami
yang kuat. Mereka saling menyerang dengan senjata yang tumpul itu untuk
saling menjatuhkan dari punggung kuda. Siapa yang mampu bertahan sampai
permainan berakhir, maka ia adalah pemenangnya.
Setelah beristirahat sejenak, maka para pengawal itu pun telah memasuki satu
permainan yang sangat menarik. Memang tidak semua pengawal ingin ikut dalam
permainan itu meskipun diperkenankan. Tetapi banyak juga di antara mereka
yang ingin ikut.
Demikianlah maka arena itu telah terbagi menjadi beberapa bagian. Permainan
itu akan membujur dari Selatan ke Utara, sehingga tidak ada yang merasa
dirugikan karena silau oleh cahaya matahari yang masih condong.
Sejenak kemudian beberapa pasang penunggang kuda dengan senjata panjang
mereka telah bersiap. Mereka saling berhadapan pada jarak dari ujung arena
sampai ke ujung yang lain.
Ketika mereka mendengar suara bende yang pertama, maka mereka telah berada
di jalur masing-masing. Ketika bende kedua berbunyi mereka pun segera
mempersiapkan diri dan mempersiapkan kuda-kuda mereka. Dan ketika terdengar
suara bende yang ketiga maka kuda-kuda itu pun segera terpacu. Setiap pasang
berhadapan di atas punggung kuda yang berdiri ke arah yang berlawanan.
Sorak para penonton tidak terkirakan. Rasa-rasanya langit memang akan
runtuh. Matahari yang tergantung dilangit seakan-akan telah bergetar
karenanya dan awan yang tipis telah terhalau ke arah laut.
Sejenak kemudian, maka hampir ditengah arena, kedua orang dalam pasangan
permainan itu bertemu. Mereka segera merundukkan tombak-tombak tumpul
mereka, sehingga sejenak kemudian telah terjadi benturan yang sangat
menegangkan.
Separo dari para penunggang kuda itu telah berjatuhan di tanah, sementara
yang separo masih tetap di punggung kuda sambil mengangkat tombak mereka
tinggi-tinggi sebagai pertanda kemenangan mereka.
Namun sejenak kemudian beberapa orang penunggang kuda telah memasuki arena
untuk melakukan permainan yang sama. Mereka yang telah memenangkan permainan
pertama mendapat kesempatan untuk beristirahat. Pada saatnya para pemenang
akan bertemu satu sama lain sehingga akhirnya di antara meraka akan terpilih
seorang yang paling baik dalam ketangkasan sodoran sambil menunggang kuda.
Demikianlah permainan itu berlangsung dengan sangat serunya. Para pengawal
ternyata benar-benar mampu menunjukkan, bahwa mereka adalah kekuatan yang
terlatih baik, sehingga mereka tidak akan terlalu mengecewakan jika mereka
diturunkan di arena pertempuran melawan prajurit Pajang.
Setiap kali beberapa orang telah tersisih dari arena hingga akhirnya
permainan itu telah sampai kepada empat orang terbaik. Di antara mereka akan
dipilih, siapakah yang memiliki ketangkasan dan ketrampilan tertinggi dalam
permainan sodoran.
Karena itu, empat orang itu akan bersama-sama memasuki arena. Sepasang di
antara mereka akan bertanding disisi Barat, sementara yang lain disisi
Timur. Dua pemenang terakhir akan turun lagi ke gelanggang. Pemenangnya
adalah orang yang paling baik di antara para pengawal dalam permainan
sodoran yang menegangkan itu. (Bersambung)-m
Senin, 11 Agustus 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 415
|
Namun
dalam pada itu, ketika empat orang terbaik sudah siap untuk mulai dengan
permainan mereka, tiba-tiba saja telah terdengar panah senderan yang
bersuit di udara.
Semua orang terkejut mendengar suara itu. Tidak ada seorang pun yang tahu,
siapakah yang telah melontarkan anak panah itu, karena perhatian semua
orang terikat kepada empat orang penunggang kuda yang telah berada di
arena.
Selagi orang-orang yang berada di arena maupun di sebelahnya
menebak-nebak apa yang telah terjadi, maka tiba-tiba saja mereka telah
mendengar derap kuda berpacu. Justru di luar arena.
Orang-orang yang berada di luar arena itu menjadi gelisah. Apalagi
ketika disatu sisi para penonton permainan itu melihat seorang di atas
punggung kudanya berpacu dengan membawa ladean tombak yang ujungnya
terbalut sebagaimana yang dipergunakan oleh para pengawal di
tengah-tengah arena.
Dengan tergesa-gesa orang-orang itu telah menyibak. Sementara itu
penunggang kuda itu pun dengan serta merta telah memasuki arena sambil
menengadahkan dadanya.
Semua orang memandanginya dengan tegang. Namun tidak seorang pun di
antara mereka yang mengetahui, siapakah penunggang kuda itu.
Sebenarnyalah penunggang kuda itu memang dengan sengaja menyembunyikan
kenyataan tentang dirinya. Dengan sehelai kain orang itu menutup
wajahnya, sehingga hanya mata sajalah yang nampak.
Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan pun menjadi berdebar-debar pula.
Tetapi sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, maka orang itu telah
memberikan isyarat kepada keempat penunggang kuda yang telah berada di
arena untuk bersiap menghadapinya.
Dengan kepala terangkat dan sikap yang penuh keyakinan, orang itu
mengacungkan jari telunjuknya. Kemudian mengangkat empat jarinya pula.
Satu isyarat, bahwa orang itu telah menantang keempat orang yang masih
berada di arena itu. Justru empat orang terbaik.
Para pengawal itu benar-benar telah merasa direndahkan oleh seorang yang
tidak dikenalnya. Sejenak mereka menjadi ragu-ragu. Tetapi sekali lagi
penunggang kuda yang menutup wajahnya dengan sehelai kain itu memberikan
isyarat. Mengangkat satu jarinya, kemudian empat jari.
Seorang di antara empat orang pengawal terbaik di gelanggang sodoran itu
ternyata tidak dapat menahan perasaan lagi. Itulah yang pertama-tama
memacu kudanya ke arah orang yang menutup wajahnya itu. Penunggang kuda
yang memasuki gelanggang itu telah menyongsong pula. Demikian mereka
berpapasan, maka pengawal yang menyerangnya itu pun telah menundukkan
senjatanya setinggi dada.
Namun yang terjadi kemudian berbeda dengan yang dibayangkan oleh para
penonton. Keduanya sama sekali tidak terjatuh dari kudanya. Penunggang
kuda yang menutup wajahnya itu tidak merundukkan senjatanya, tetapi ia
bergeser di atas punggung kudanya. Satu permainan yang benar-benar
mengagumkan. Namun ujung senjata lawannya yang berbentuk bulatan kulit
batang pisang kering itu tidak mengenainya. Pengawal yang gagal mengenai
lawannya itulah yang justru hampir saja terjatuh karena senjatanya tidak
mengenai sasaran. Untunglah bahwa ia sempat memperbaiki keseimbangannya
sambil mengendalikan kudanya.(Bersambung)-k |
Suramnya Bayang Bayang 416
Tanggal: Selasa, 12-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Kawan-kawannya justru termangu-mangu untuk
sesaat. Namun bagaikan terbangun dari mimpi, maka mereka pun serentak telah
bersiap.
Sejenak kemudian telah terjadi satu permainan yang tidak pernah direncanakan
lebih dahulu. Penunggang kuda itu telah bertanding melawan empat orang,
pengawal terbaik dalam permainan sodoran.
Para penonton untuk beberapa saat telah tercekam oleh satu peristiwa yang
mengejutkan, sehingga mereka justru berdiri tegak mematung menyaksikan
pertandingan yang sangat menegangkan. Namun perlahan-lahan mereka mulai
menyadari, apa yang sedang mereka saksikan itu.
Ternyata orang yang memasuki arena itu mempunyai ketangkasan yang sulit
dibayangkan. Ia dapat menghindari serangan dari dua orang pengawal
sekaligus. Bahkan dua pengawal yang lain yang menyilang arah lari kudanya
pun tidak berhasil menjatuhkannya.
Para penonton yang telah menyadari apa yang mereka saksikan telah kembali
dengan kegembiraan mereka. Mereka mulai bersorak-sorak lagi. Bertepuk tangan
dan berteriak-teriak. Penunggang kuda yang melawan empat orang itu
benar-benar telah menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Yang tidak dapat
dimengerti oleh kebanyakan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.
Beberapa orang perwira dari Jipang yang telah melatih para pengawal pun
merasa heran, bahwa seseorang telah dengan tiba-tiba saja memasuki arena.
Bahkan sekaligus melawan empat orang pengawal diluar acara yang telah
ditentukan.
Ketika beberapa orang perwira itu berdiri dan bergeser dari tempatnya.
Mereka pun melihat para pemimpin pengawal yang mengatur permainan itu telah
melangkah ke arena pula. Namun agaknya mereka tidak segera bermaksud
menghentikan permainan itu. Agaknya mereka justru tertarik untuk menyaksikan
permainan yang tidak direncanakan lebih dahulu itu.
Empat orang pengawal itu dengan tangkasnya berganti-ganti memacu kuda mereka
menyambar penunggang kuda yang telah menantang mereka berempat. Keempat
orang pengawal itu berniat untuk menjatuhkan orang itu lebih dahulu.
Baru kemudian mereka akan saling memperebutkan kedudukan sebagai pengawal
terbaik dalam permainan sodoran.
Tetapi ternyata menjatuhkan orang itu bukannya suatu pekerjaan yang mudah.
Beberapa saat mereka telah bertanding. Namun orang berkuda itu masih saja
menguasai dirinya sepenuhnya. Ujung tombak tumpulpun itu justru menjadi
semakin berbahaya bagi keempat orang lawannya bermain.
Bahkan sejenak kemudian telah terjadi sesuatu yang tidak terduga. Meskipun
orang itu harus menghadapi empat orang pengawal, namun pada suatu saat,
justru seorang dari para pengawal itu telah terdorong ujung tombak yang
tumpul itu sehingga ia benar-benar telah kehilangan keseimbangannya dan
jatuh berguling di tanah.
Orang itu mengumpat oleh kekecewaan yang menghentak di dadanya. Tetapi
sebagaimana ketentuan dalam permainan itu, siapa yang telah jatuh dari
punggung kudanya, maka ia tidak lagi berhak untuk ikut serta dalam permainan
berikutnya.
Karena itu, maka setelah berdiri tegak sambil mengibaskan pakaiannya,
pengawal yang seorang itu telah menuntun kudanya menepi, sementara ketiga
orang kawannya masih melanjutkan permainan yang menjadi semakin sengit itu.
Tetapi justru karena itu para pengawal yang masih berada di punggung kudanya
mulai dijalari oleh hentakan-hentakan perasaan. Seorang kawannya yang
terjatuh dari punggung kuda membuat jantung mereka menjadi panas menghadapi
orang yang tidak mereka kenal itu.
Ketiga ekor kuda para pengawal itu pun kemudian menyambar-nyambar dengan
garangnya. Mengitari ara-ara, kemudian memotong menyilang menyerang
penunggang kuda yang tidak dikenal itu.
Rangga Gupita mengerutkan keningnya. Namun ia pun mengangguk mengiakan.
Dengan demikian maka Ki Wiradana lewat para pemimpin pengawal telah
memerintahkan para pengawal mengepung arena agar orang berkuda itu tidak
dapat meloloskan diri dari arena, siapapun orang itu. Bahkan Ki Wiradana
menghubungkan kehadiran orang yang sombong itu dengan orang-orang yang
sering melakukan perampokan di Tanah Perdikan, meskipun ia ragu-ragu apakah
mereka berani melakukan hal itu. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 417
Tanggal: Rabu, 13-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Karena itu, maka sejenak kemudian, beberapa
orang pengawal telah berlari-lari di pinggir gelanggang dan menebar
sebagaimana mereka lakukan pada saat tiga orang pengawal berkelahi melawan
seekor harimau. Ki Wiradana pun telah menyiapkan pula beberapa orang
pengawal berkuda, tidak dengan tombak yang tumpul, tetapi benar-benar dengan
senjata yang berujung tajam.
Bahkan beberapa orang perwira Jipang telah mempersiapkan diri. Seakan-akan
penunggang kuda yang tidak dikenal itu telah menantang mereka pula.
Sejenak kemudian pertandingan itu menjadi semakin seru. Sorak para penonton
pun rasa-rasanya menjadi semakin gemuruh. Mereka menyaksikan sesuatu yang
selama hidup mereka belum pernah mereka lihat. Satu permainan berkuda yang
luar biasa. Seluruh gelanggang rasa-rasanya telah dipenuhi oleh empat ekor
kuda yang terlibat dalam permainan itu.
Beberapa saat kemudian, bumi bagaikan terguncang oleh sorak yang meledak
tanpa disadari. Namun kemudian penonton itu menjadi berdebar-debar, justru
karena mereka melihat bahwa seorang pengawal telah terlempar lagi dari
punggung kudanya. Dan tanpa sadar mereka telah menyorakinya.
Para pemimpin Tanah Perdikan pun menjadi berdebar-debar pula. Ki Wiradana
benar-benar menjadi gelisah, sementara wajah Ki Rangga Gupita pun menjadi
semakin tegang.
"Kita harus bertindak," tiba-tiba Ki Wiradana menggeram.
Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Namun dalam waktu yang singkat,
telah terjadi guncangan perasaan pada para pemimpin pengawal dan bahkan Ki
Wiradana dan para perwira Jipang yang berada diseputar arena. Hampir
berbareng dua orang pengawal yang tersisa telah terlempar pula dari kudanya
dan jatuh terpelanting. Bahkan seorang di antara para pengawal itu agaknya
kurang dapat menguasai tubuhnya pula saat ia jatuh dari kudanya sehingga
karena itu, maka puggungnya terasa menjadi sangat sakit dan bagaikan akan
patah.
Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan menjadi ragu-ragu untuk bersorak.
Ternyata para pengawal kebanggaan mereka telah dikalahkan oleh seorang
penunggang kuda yang tidak mereka kenal.
Dalam pada itu, hampir berbareng beberapa orang perwira Jipang yang melatih
para pengawal itu telah bergerak maju. Seakan-akan berebut mereka berkata
kepada Ki Rangga Gupita, "Biarlah aku membuatnya jera."
Tetapi Ki Rangga yang memiliki pengamatan yang sangat tajam atas kemampuan
seseorang telah berkata, "Orang itu bukan lawanmu."
"Jadi, kita akan membiarkannya saja dan membuat hati para pengawal susut
sebesar biji kemangi?" bertanya seorang perwira.
"Jika kau yang memasuki gelanggang, justru hanya akan menambah kegelisahan
saja. Menilik kemampuannya, maka kau tidak akan dapat mengalahkannya," jawab
Rangga Gupita.
"Jadi bagaimana?" bertanya perwira yang lain.
Ki Rangga menengadahkan wajahnya. Dipandanginya penunggang kuda yang
mengangkat tombaknya tinggi-tinggi sebagai pertanda kemenangan itu. Namun
para penonton tidak lagi bersorak dengan gemuruh. Mereka menjadi ragu-ragu
dan bahkan mereka menjadi cemas. Kebanggaan yang telah menyesak di dalam
dada mereka menjadi kabur.
Dalam pada itu, terdengar suara Ki Rangga Gupita berat dalam nada datar,
"Akulah yang akan menyelesaikannya."
Para perwira terdiam. Mereka mengerti, bahwa Ki Rangga Gupita adalah seorang
yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, ketika Ki Rangga Gupita
menyatakan bahwa ia sendiri yang akan memasuki arena, para perwira itu pun
tidak ada yang mendesak lagi untuk turun ke gelanggang.
Namun ketika Ki Rangga Gupita itu melangkah selangkah maju, maka
rasa-rasanya tiba-tiba saja Ki Randukeling telah berdiri disebelahnya sambil
berkata, "Apakah kau sendiri yang akan turun ke arena?"
"Ya. Menurut pengamatanku, orang itu memiliki ilmu yang melampaui ilmu para
perwira," jawab Ki Rangga Gupita.
Tetapi tanggapan Ki Randukeling terasa aneh sekali. Bahkan ia tersenyum
dengan lontaran perasaan yang sulit dijajagi.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 418
Tanggal: Kamis, 14-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Kenapa Ki Randukeling tersenyum?” bertanya
Ki Rangga Gupita.
“Orang itu memang memiliki ilmu melampaui para perwira. Sebenarnya aku ingin
Ki Wiradana yang tampil lebih dahulu. Tetapi agaknya ia sudah didahului oleh
para perwira. Bahkan Ki Rangga Gupita, seorang perwira dari petugas sandi di
Jipang yang memiliki ilmu yang tinggi, sudah siap untuk turun sendiri di
arena,” jawab Ki Randukeling.
“Aku tidak mengerti Ki Randukeling,” jawab Ki Rangga Gupita.
“Nah, jika kau kehendaki masuklah ke gelanggang. Kau akan mengetahui apa
yang telah terjadi?” jawab Ki Randukeling.
Wajah Ki Rangga Gupita menjadi tegang. Sekali lagi diamatinya penunggang
kuda yang masih saja mengangkat tombaknya sambil berkeliling arena. Namun
tidak terdengar lagi sorak yang gegap gempita di antara para penonton
permainan itu.
Namun tiba-tiba Ki Rangga Gupita pun tersenyum. Katanya, “Aku mengerti Ki
Randukeling. Memang sebaiknya Ki Wiradanalah yang tampil.”
Hampir di luar sadarnya, Ki Rangga telah berpaling ke arah Ki Wiradana.
Sementara itu Ki Wiradana dan beberapa orang pemimpin pengawal menjadi
tegang.
Selangkah demi selangkah Ki Rangga Gupita mendekati Ki Wiradana dengan
tatapan mata yang mengandung maksud tertentu. Selangkah dihadapan Ki
Wiradana, Ki Rangga berhenti sambil berkata, “Apakah kita akan membiarkannya
tetap mengangkat tombaknya di arena, sehingga setiap orang menganggap bahwa
orang itu tidak terkalahkan di Tanah Perdikan ini?”
Ki Wiradana termangu-mangu. Namun kemudian seperti yang diharapkan ia
berkata, “Aku sendiri yang akan melawannya.”
Ki Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang lebih sesuai
jika Ki Wiradana yang tampil. Ki Wiradana tentu memiliki kemampuan melampaui
para perwira dari Jipang. Hampir saja aku terdorong oleh perasaan marahku,
sehingga aku sendiri akan turun ke gelanggang sebelum aku mendapat ijin dari
Ki Wiradana. Namun ternyata bahwa Ki Wiradana sendiri akan melakukannya.”
“Ya. Aku akan melakukannya,” geram Ki Wiradana.
Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang wajah Ki
Rangga, namun kemudian ia pun mengangguk kecil.
Demikianlah maka Ki Wiradana pun telah mempersiapkan diri. Dengan seekor
kuda yang tegar maka ia telah menggenggam tombak yang berujung tumpul untuk
terjun ke gelanggang sodoran.
Demikian Ki Wiradana memasuki arena di atas kudanya sambil menjinjing tombak
berujung tumpulnya, maka gemuruh rakyat Tanah Perdikan bagaikan menggetarkan
bumi.
Orang berkuda yang masih berada di tengah-tengah arena ketika melihat Ki
Wiradana memasuki gelanggang, telah memutar kudanya menghadap ke arah
pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.
Untuk beberapa saat keduanya berputar di tengah-tengah arena, sementara
beberapa orang pengawal masih tetap mengepung arena itu. Mereka mendapat
perintah untuk menjaga, agar orang berkuda itu tidak ke luar dari lingkungan
arena pertandingan.
Sementara itu, Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling telah berada di punggung
kuda pula. Mereka telah memasuki gelanggang meskipun mereka tidak akan
bertanding. Tetapi seakan-akan mereka akan menjadi saksi dari pertandingan
yang akan terjadi kemudian.
Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu menjadi tegang. Ki Wiradana pun
nampaknya telah menjadi tegang pula.
Namun ternyata bukan hanya mereka saja yang menjadi tegang. Tetapi orang
yang berada di punggung kuda dan memasuki arena itu dengan cara yang tidak
wajar, nampaknya telah menjadi tegang pula.
Beberapa saat kemudian, Ki Rangga Gupita pun telah memberikan isyarat untuk
membunyikan bende sebagai pertanda bahwa permainan itu akan dimulai,
sehingga dengan demikian permainan itu seakan-akan adalah permainan yang
memang disiapkan sebagaimana permainan-permainan sebelumnya, kecuali ketika
orang yang memasuki gelanggang itu bertanding melawan empat orang sekaligus.(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 419
Tanggal: Jumat, 15-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Demikian terdengar suara bende, maka kedua
orang yang telah berada di gelanggang itu bersiap. Ketika bende berbunyi
sekali keduanya memperbaiki dan membenahi diri dipunggung kuda
masing-masing. Ketika bende berbunyi dua kali maka mereka telah bersiap di
arah masing-masing. Tanpa ada yang mengatur, keduanya telah berada di
ujung-ujung arena.
Ketika benda berbunyi tiga kali, maka kedua ekor kuda dengan penunggangnya
masing-masing lepas berlari seperti anak panah yang dilontarkan dari
busurnya.
Dalam pada itu, kedua senjata ditangan kedua orang yang berpacu di atas
punggung kuda itu sudah merunduk, siap untuk mendorong lawan masing-masing
dari punggung kuda mereka.
Namun ternyata keduanya memiliki ketangkasan yang tinggi. Dalam benturan
yang terjadi kemudian, Ki Wiradana memang hampir saja terlempar dari
kudanya. Tetapi ternyata ia masih mampu bertahan. Sementara penunggang kuda
yang lain bergeser sedikit di atas pelana kudanya. Namun keduanya masih
mampu mempertahankan keseimbangan masing-masing.
Pertandingan selanjutnya, keduanya tidak terikat lagi pada arah. Mereka
mendapat kebebasan untuk menyerang dan menghindar, sehingga kedua orang itu
telah bertanding sambar menyambar.
Dengan demikian, maka pertandingan sodoran itu pun kemudian berlangsung
semakin lama semakin sengit. Debu yang dilemparkan oleh kaki kuda mereka pun
semakin lama menjadi semakin banyak, sementara kedua ekor kuda itu
berlari-lari memenuhi ara-ara yang disediakan sebagai gelanggang
pertandingan.
Namun dalam beberapa hal, Ki Rangga Gupita dan Ki Randukeling melihat
keragu-raguan pada tata gerak orang berkuda yang bertanding melawan Ki
Wiradana. Senjatanya yang merunduk tepat mengenai dada, kadang-kadang telah
bergeser justru pada saat benturan hampir terjadi, sehingga ujungnya yang
tumpul itu hanya menyentuh pundaknya saja. Namun sementara itu, Ki Wiradana
telah berjuang sejauh dapat dilakukan. Ia telah mengerahkan semua kemampuan
yang ada padanya, serta ketrampilan berkuda. Tidak ada lagi yang tersisa
padanya.
Namun demikian ia tidak mampu menjatuhkan orang berkuda yang memakai tutup
pada wajahnya.
Karena itulah maka pertandingan itu pun berlangsung agak lama. Ki Wiradana
telah memeras segenap kemampuan, ketangkasan dan ketrampilannya untuk
berusaha mengimbangi penunggang kuda yang tidak dikenal itu. Tetapi ternyata
bahwa bagaimanapun juga ia berusaha, namun kemampuannya memang tidak akan
dapat mencapai tataran yang setingkat dengan lawannya.
Karena perbedaan kemampuan serta ketangkasan bermain kuda itulah, maka pada
suatu saat, Ki Wiradana lebih banyak menjadi sasaran serangan lawannya
daripada menyerang. Tangannya yang memegang senjatanya tidak lagi mampu
mengangkat dan merundukkan ujungnya tanpa gemetar oleh kelelahan. Sementara
lawannya masih juga dengan tangkasnya menyambar-nyambar.
Dengan demikian maka beberapa saat kemudian, baik Ki Wiradana sendiri,
maupun orang-orang yang menyaksikannya, terutama pera perwira dari jipang
dan para pengawal, melihat bahwa orang berkuda yang tidak dikenal itu
benar-benar telah menguasai arena. Ki Wiradana tidak lagi berdaya untuk
mempertahankan diri ketika serangan yang keras pun datang menyambarnya.
Orang berkuda yang tidak dikenal itu telah menggertakkan giginya untuk
melenyapkan keragu-raguan yang terasa mewarnai jantungnya.
Benturan yang kemudian terjadi, benar-benar telah menentukan. Ki Wiradana
tidak mampu untuk menangkis serangan itu dengan senjatanya. Karena itu, maka
ujung senjata lawannya yang tumpul itu telah mengenai sasarannya.
Dada Ki Wiradana telah terdorong oleh kekuatan yang tidak terlawan. Karena
itu, maka ia pun kemudian telah terlempar dari punggung kudanya. Tangannya
yang memegang kendali kudanya pun telah terlepas sehingga dengan demikian
maka kudanya pun telah berlari tanpa penunggang mengelilingi arena.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 420
Tanggal: Sabtu, 16-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak
lagi bersorak-sorak. Jantung mereka tercengkam oleh ketegangan. Ki Wiradana,
pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang dianggap sebagai
seorang yang memiliki kelebihan di antara orang-orang Tanah Perdikan itu
telah dijatuhkan oleh orang yang tidak dikenal.
Suasana diseputar gelanggang itu justru menjadi tegang. Wajah-wajah
menunjukkan kerisauan dan kegelisahan.
Ki Rangga Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.
Ia tidak bersiap untuk turun ke gelanggang sebagaimana pernah dikatakannya.
Beberapa orang perwira Jipang telah datang mendekatinya dengan wajah yang
memancarkan kemarahan yang menghentak di dadanya.
“Ki Rangga. Apa yang akan kita perbuat?” bertanya salah seorang perwira
itu.
Ki Rangga justru tersenyum. Katanya, “Kita sedang menyaksikan satu permainan
yang mengejutkan di antara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.
“Apa yang Ki Rangga maksudkan?” bertanya perwira yang lain.
Sementara itu, Ki Wiradana yang terjatuh dari punggung kudanya itu pun telah
berdiri dan berjalan dengan gejolak perasaan yang menghentak-hentak
mendekati Ki Randukeling dan Ki Rangga Gupita.
“Ki Wiradana ternyata tidak mampu melawannya,” berkata Ki Rangga.
Ki Wiradana mengangguk. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang disaksikan
oleh sebagian orang-orang Tanah Perdikan di sebuah gelanggang yang terbuka,
bahwa ia telah terjatuh dari punggung kuda dalam sebuah permainan yang
keras.
Namun dalam pada itu, Ki Wiradana pun telah menjawab, “Aku tidak pernah
melakukan permainan seperti ini.”
“Tetapi apakah lawanmu itu juga sering melakukannya?” bertanya Ki Rangga.
Ki Wiradana berpaling ke arah penunggang kuda yang tidak dikenal yang masih
duduk di atas kudanya sambil memegangi senjatanya.
“Aku tidak tahu,” jawab Ki Wiradana. “Aku tidak mengenalnya. Apakah Ki
Rangga dapat mengenali orang itu?”
“Soalnya bukan pernah atau tidak pernah. Tetapi ketangkasan dan kenal ilmu
yang ada di dalam diri para pemain dari pertandingan ini akan ikut
menentukan,” berkata Ki Rangga.
“Tetapi siapakah orang itu?” bertanya Ki Wiradana.
“Bertanyalah kepada Ki Randukeling,” jawab Ki Rangga.
Ki Wiradana terdiam sejenak. Sementara itu orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan itu, menyaksikan pertandingan itu bagaikan mematung. Beberapa orang
yang sempit berpikir merasa sangat kecewa atas kekalahan Ki Wiradana. Mereka
menganggap Ki Wiradana tidak sebagaimana ayahnya yang pernah membunuh
Kalamerta, namun yang kemudian terbunuh dengan cara yang sangat licik.
Dalam pada itu, Ki Wiradana memandang Ki Randukeling yang tersenyum. Dengan
penuh keragu-raguan ia bertanya, “Kakek, apakah kakek dapat menyebutkan,
siapakah orang yang memakai tutup di wajahnya itu?” (Bersambung)-m
Last Updated
10/05/2004
5 Agustus 2003 JW Marriott - Jakarta Blast!
e-mail: mimbarse@gajahsora.net
|