|
|
|
Sejak Juni 2002 diambil dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
http://kr.co.id
Suramnya Bayang Bayang 401
Tanggal: Senin, 28-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Namun perwira Jipang itu pun tidak
berpengharapan lagi ketika tubuhnya mulai terluka. Meskipun darah yang
menitik dari tubuhnya itu menjadikannya semakin garang, tetapi kekuatannya
pun menjadi semakin cepat susut.
Sementara itu, Gandar yang berdiri di antara kedua lawannya yang sudah tidak
berdaya itu pun kemudian berkata, “Ada keinginan untuk sekali-kali membunuh
pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi jika aku melakukannya, agaknya
sangat kurang bijaksana. Karena itu, maka biarlah kalian tetap hidup untuk
menjadi saksi dari satu kenyataan, bahwa kalian bukan apa-apa. Perwira dari
Jipang itu pun bukan apa-apa.”
Pengawal itu menggeram. Namun mereka benar-benar sudah tidak berdaya.
Tulang-tulangnya bagaikan terlepas sendi-sendinya, sementara luka-lukanya
yang kecil tetapi tersebar diseluruh tubuhnya itu terasa menjadi sangat
pedih terkena oleh keringat mereka sendiri.
Sementara itu, lawan Jati Wulung yang seorang telah menjadi pingsan,
sementara yang lain terbaring dengan kaki yang bagaikan lumpuh.
Pada saat-saat terakhir, maka pedang Sambi Wulung telah beberapa mengoyak
tubuh perwira Jipang itu. Darah pun semakin banyak mengalir. Namun perwira
itu sama sekali tidak menghentikan perlawanannya.
“Gila,” geram Sambi Wulung. Namun demikian sebenarnyalah bahwa ia tidak
ingin membunuh. Yang dilakukannya hanya sekadar melukai lawannya untuk
menghentikan perlawanannya.
Betapa garangnya perwira dari Jipang itu, namun ternyata bahwa pada satu
saat, batas kemampuannya itu pun telah dilampauinya. Karena itu, maka
tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah. Selain karena perwira itu telah
menitikkan banyak darah, ia pun benar-benar telah mengerahkan segenap tenaga
dan kemampuannya sehingga pada saatnya telah terperas habis.
Dengan demikian, maka pada saatnya, orang Jipang itu seakan-akan sudah tidak
mampu lagi mengayunkan pedangnya.
Pada saat yang demikian, maka Sambi Wulung pun telah melepaskan lawannya.
Beberapa langkah ia mundur sambil memandangi perwira Jipang yang
terhuyung-huyung itu.
Namun dengan garangnya perwira Jipang itu menggeram, “Akhir dari pertempuran
adalah kematian. Aku masih hidup sehingga aku masih akan sanggup melawan dan
bahkan membunuhmu.”
Tetapi Sambi Wulung menjawab, “Semua orang yang menyaksikan perkelahian ini
akan dapat mengatakan, siapa yang kalah dan siapa yang menang. Kesombongan
yang demikian sama sekali tidak ada harganya. Tetapi jika kau ingin mati,
kau dapat membunuh dirimu sendiri, karena kau juga menggenggam pedang. Kau
dapat menusuk tenggorokanmu atau kau dapat menusuk ke arah jantungmu.”
“Gila,” geram perwira dari Jipang itu. “Pengecut. Jika kau prajurit, kau
harus berani melihat darah dan melihat lawanmu mati terkapar di tanah.”
“Aku bukan prajurit. Aku mencari kemenakanku. Tidak lebih,” berkata Sambi
Wulung. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku memang berbohong. Aku tidak
sedang mencari Iswari, tetapi aku ingin mengabarkan bahwa Iswari masih
hidup.”
“Aku tidak peduli. Aku tidak berkepentingan dengan perempuan cengeng itu.
Tetapi aku berkepentingan dengan kekuatan yang tersimpan di Tanah Perdikan
ini,” teriak perwira Jipang itu.
“Tetapi kalian telah gagal untuk menempa mereka. Lihat keempat pengawal itu
tidak berarti sama sekali menghadapi kawan-kawanku. Itukah hasil dari
kerjamu disini? Dengan orang-orang semacam itukah kalian akan pergi ke
Pajang, menghadapi prajuritnya Adipati Hadiwijaya? Sebutlah nama kakek
nenekmu. Kau hanya akan mengirimkan tubuh-tubuh yang akan menjadi mayat di
Pajang kelak. Sementara tenaga anak-anak muda ini sangat dibutuhkan bagi
tanah Perdikannya.”
“Tutup mulutmu,” teriak orang Jipang itu.
Sambi Wulung tidak menjawab. Tetapi dipandanginya Gandar sambil berkata,
“Marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”
Gandar mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Kita sudah terlalu lama berada
di Tanah Perdikan Sembojan.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 402 tanggal 28 Juli 03
“He, apakah kalian orang Pajang?” berteriak orang Jipang itu pula.
“Kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pajang,” berkata Sambi
Wulung. Lalu, “Maaf Ki Sanak. Kami terpaksa membawa kuda kalian. Kami
memerlukannya. Tetapi yang lebih penting, kami akan dapat meninggalkan
tempat ini dengan bebas tanpa diburu oleh isyarat yang akan kalian
bunyikan.”
“Tidak,” teriak perwira dari Jipang itu. “Kalian tidak akan dapat
meninggalkan tempat ini.”
Sambi Wulung berpaling ke arahnya. Tetapi perwira itu justru
terhuyung-huyung. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
Tetapi perwira itu masih tetap bertahan. Sorot matanya yang kabur itu masih
tetap menyalakan kebencian.
Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Gandar dan
adik seperguruannya, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”
Ketiga orang itu pun kemudian melangkah menuju ke kuda-kuda yang tertambat.
Sementara itu perwira dari Jipang itu berteriak kepada kedua orang petani
yang berdiri termangu-mangu. “Cegah mereka. Cegah mereka. Cepat, pengecut.”
Tetapi kedua orang petani yang menyaksikan perkelahian itu dengan jantung
yang berdegupan sama sekali tidak beringsut.
Dengan langkah-langkah yang tenang ketiga orang yang telah melawan para
pengawal dan seorang perwira Jipang itu pun menuju dan kemudian meloncat ke
punggung-punggung kuda. Mereka memerlukan tiga ekor kuda. Tetapi dua ekor
kuda yang lain pun ternyata tidak mereka tinggalkan.
“Aku terpaksa membawanya pula,” berkata Sambi Wulung.
Sejenak kemudian kuda-kuda itu pun mulai bergerak. Sementara perwira dari
Jipang itu berteriak, “Tangkap mereka.”
Tetapi suaranya hilang ditelan angin yang bertiup semakin kencang di bulak
itu. Yang kemudian terdengar adalah derap kaki-kaki kuda. Sedangkan
pandangan mata perwira Jipang yang terluka itu menjadi semakin kabur,
sehingga akhirnya perwira itu telah jatuh berlutut, dan bahkan kemudian
jatuh terguling di tanah. Ternyata ia pun telah menjadi pingsan.
Dalam pada itu, seorang pengawal yang kakinya bagaikan lumpuh, namun masih
memiliki kesadaran sepenuhnya itu pun berteriak kepada para petani itu.
“Cepat lari ke padukuhan terdekat. Panggil para pengawal yang bertugas dan
bunyikan isyarat, agar semua pengawal bersiap. Perwira itu memerlukan
pertolongan dengan cepat. Demikian juga kawan-kawan yang lain.”
Petani itu masih termangu-mangu. Namun pengawal itu sekali lagi membentak,
“Lakukan. Atau kalian harus dianggap menentang para pengawal?”
Kedua orang petani itu menyadari, apa yang harus dilakukannya. Karena itu,
maka mereka pun segera berlari ke padukuhan terdekat.
Sejenak kemudian telah terdengar isyarat kentongan dalam nada titir.
Suaranya merambat dari satu padukuhan ke padukuhan lain. Sehingga dengan
demikian, maka para pengawal di semua padukuhan telah bersiap-siap karenanya
menghadapi segala kemungkinan. Namun mereka masih belum jelas, apakah yang
sebenarnya telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.
Namun sementara itu, ketiga orang yang telah berhasil mengganggu para
pengawal itu telah memacu kuda-kuda yang berhasil mereka rampas menuju ke
jalan keluar dari Tanah Perdikan Sembojan. Namun mereka telah memilih
jalan-jalan sempit yang tidak mendapat pengawasan langsung dari para
pengawal Tanah Perdikan yang tentu telah bersiaga karena suara kentongan
yang telah bergema diseluruh Tanah Perdikan.
Karena itu, ketika sekelompok pemimpin Tanah Perdikan Sembojan dan beberapa
orang perwira Jipang berderap melintasi jalan-jalan bulak menuju ketempat
kejadian, maka Sambi Wulung dan kawannya telah meninggalkan Tanah Perdikan.
Yang terjadi kemudian adalah kesibukan yang luar biasa di Tanah Perdikan
itu. Dengan tergesa-gesa maka perwira Jipang yang terluka itu telah dibawa
ke banjar padukuhan terdekat untuk mendapat perawatan yang lebih baik.
Sementara itu wajah Ki Rangga Gupita menjadi gelap. Ki Randukeling pun
merasa sangat terhina karena peristiwa yang baru saja terjadi itu.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 403
Tanggal: Selasa, 29-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Para pengawal Tanah Perdikan itu tidak dapat berbohong tentang apa
yang telah terjadi, karena ada dua orang petani yang menyaksikan peristiwa
itu. Sementara kedua orang petani itu sudah memberikan keterangan lebih
dahulu tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi. Bahkan perwira Jipang yang
terluka agak parah itu pun ternyata telah memberikan laporan yang sebenarnya
pula ketika ia telah menyadari tentang apa yang terjadi atas dirinya.
“Kita tidak perlu menyembunyikan kenyataan ini,” berkata perwira Jipang itu.
“Aku kira orang-orang ini pulalah yang telah merampas kuda dua orang
pengawal sebelumnya. Tetapi sudah tentu mereka tidak perlu datang dengan
sekelompok orang. Ternyata seorang di antara mereka mampu mengalahkan dua
orang pengawal tanpa mengalami kesulitan apapun juga dengan senjata yang
sangat sederhana.”
Keempat pengawal yang tidak berdaya menghadapi dua orang di antara ketiga
orang yang tidak dikenal itu hanya dapat menundukkan kepala mereka. Perwira
Jipang itu dengan gamblang menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi,
sehingga keterangannya tidak berbeda dengan keterangan yang telah diberikan
oleh para petani yang menjadi saksi dari peristiwa itu.
“Jadi orang itu memiliki kemampuan melampaui kemampuan para perwira dari
Jipang?” bertanya Rangga Gupita.
“Ya,” jawab perwira itu dengan jujur. “Bahkan agaknya orang itu masih mampu
meningkatkan kemampuannya.”
“Apakah orang-orang itu para perwira dari Pajang?” bertanya Rangga Gupita.
“Aku kira tidak. Aku mengenal para perwira Pajang. Ketiga orang itu
bertempur dengan cara mereka sendiri yang tidak mirip dengan sikap dan tata
gerak para perwira Pajang,” jawab perwira itu.
“Mungkin mereka adalah petugas sandi dari Pajang yang mempunyai cara sendiri
dalam melaksanakan tugas mereka, termasuk ciri-ciri mereka,” berkata Rangga
Gupita.
“Mungkin. Sebagaimana kau yang mungkin mempunyai gaya yang jauh berbeda
dengan prajurit Jipang pada umumnya,” berkata perwira yang terluka parah
itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi satu hal yang bagiku aneh. Orang-orang
itu tidak mau membunuh seorang pun di antara kami. Dalam keadaan yang tidak
berdaya, kami telah mereka tinggalkan. Apakah hal itu mungkin dilakukan oleh
orang-orang Pajang?”
Rangga Gupita mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika orang itu orang Pajang,
mungkin ia tidak akan membunuh para pengawal. Tetapi kau yang dikenalnya
sebagai seorang perwira Jipang tentu tidak akan mendapat kesempatan untuk
tetap hidup. Bahkan mungkin dengan cara yang mengejutkan.”
Perwira Jipang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia bergumam,
“Aku sependapat. Jika orang itu orang Pajang mungkin aku sudah
dicincangnya,” perwira itu terdiam sejenak, lalu, “Ada segi yang lain yang
harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh di Tanah Perdikan ini.”
Rangga Gupita mengerutkan keningnya, “Apa itu?” ia bertanya.
Perwira Jipang itu menjadi ragu-ragu. Tetapi karena tidak ada orang lain
yang berada di dekat Rangga Gupita yang menungguinya, ia pun berkata
perlahan-lahan, “Agaknya persoalan keluarga Ki Wiradana telah mengundang
pertentangan di Tanah Perdikan ini. Ki Wiradana telah melakukan satu
kesalahan atas keluarganya, sehingga ada pihak yang merasa tersisih dari
lingkungan keluarga pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini.
Orang-orang itu telah menyebut-nyebut nama Iswari. Istri Ki Wiradana yang
tua. Sedang mereka telah mengutuk Nyai Wiradana yang sekarang. Mereka
menyebut-nyebutnya sebagai penari janggrung.”
Rangga Gupita mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia justru tersenyum.
Katanya, “Itu adalah persoalan Ki Wiradana. Tetapi istrinya yang sekarang
memang sangat cantik, meskipun barangkali ia adalah bekas penari jalanan.
Tetapi ia bukan penari sebagaimana penari jalanan kebanyakan.”
Perwira Jipang itu memandang Ki Rangga Guptita dengan tajamnya. Hampir
diluar sadarnya ia bertanya, “Bukan penari jalanan kebanyakan yang bagaimana
yang kau maksud?” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 404
Tanggal: Rabu, 30-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
” Sudahlah, kita tidak usah membicarakan
persoalan di keluarga lain,” potong Rangga Gupita.
“Aku tidak membicarakan urusan keluarga orang lain jika hal ini tidak
menyangkut tugas kita di Tanah Perdikan ini. He, kau lihat salah satu
akibatnya telah terjadi atasku dan barangkali masih akan terjadi beberapa
peristiwa yang lebih besar lagi. Menilik sikap dan kemampuan mereka, maka
mereka akan dapat melakukan langkah-langkah yang lebih besar dari yang sudah
dilakukan sambil bergurau ini,” jawab perwira itu.
“Jangan cemas. Persoalan keluarga itu akan segera teratasi. Kau lihat disini
ada Ki Randukeling. Apakah kau belum pernah mendengar bahwa Ki Randukeling
adalah orang yang sulit untuk dicari duanya. Ia memiliki kemampuan
sebagaimana Patih Mantahun. Serahkan persoalan keluarga itu kepadanya dan
kepada saudagar emas berlian yang juga berada di sini.”
“Saudagar yang pernah dirampok dan tidak mampu mempertahankan miliknya itu?
Kau kira bahwa perampok itu tidak ada hubungannya dengan ketiga orang yang
aku jumpai itu? Juga yang telah merampas kedua ekor kuda pengawal yang
terdahulu? Bahkan aku mengira, bahwa serombongan pengamen dengan penari yang
mirip dengan Nyai Wiradana itu bukan satu kebetulan. Dan bahwa penari itu
mungkin Nyai Wiradana itu sendiri,” berkata perwira itu.
“He, kenapa kau telah memasuki persoalan keluarga Ki Wiradana terlalu dalam?
Sudahlah. Jangan kau pikirkan. Aku tidak menyalahkan Ki Wiradana dan
siapapun juga dalam persoalan keluarga itu. Tetapi yang penting, kita harus
menyiapkan sepasukan pengawal yang kuat menuju ke Pajang. Prajurit Jipang
yang berangkat langsung ke Pajang sudah ada di tempat yang ditentukan.
Sementara Pajang sekarang telah lemah karena sepasukan yang kuat telah
meninggalkan Pajang untuk ditempatkan disebelah Barat Bengawan Sore
berhadapan dengan pasukan Jipang yang membayangi Demak,” berkata Rangga
Gupita.
Perwira Jipang yang terluka itu termangu-mangu. Tetapi ia tidak sependapat,
bahwa persoalan keluarga Ki Wiradana diabaikan dari persoalan Tanah Perdikan
itu dalam keseluruhan. Karena ternyata bahwa persoalan keluarga itu pada
akhirnya akan menjadi sangat mengganggu.
Ki Rangga Gupita melihat keragu-raguan membayang di wajah perwira yang
terluka itu berkata hampir berbisik, “Dengar. Kau tidak boleh terseret oleh
arus perasaanmu. Yang penting kita berhasil menyusun satu pasukan untuk
menyerang Pajang. Jangan hiraukan apa yang kemudian terjadi di Tanah
Perdikan ini. Itu bukan persoalanmu, bahkan seandainya Tanah Perdikan ini
akan hancur karena persoalan keluarga Ki Wiradana itu, asal pasukan yang
kita perlukan sudah berangkat menuju Pajang. Satu langkah yang harus cepat
kita lakukan sebelum terlambat.”
Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk kecil ia berkata,
“Aku mengerti.”
“Serahkan persoalan kecil itu kepada Ki Wiradana, Warsi dan Ki Randukeling
sendiri,” desis Ki Rangga Gupita.
Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak mengatakan sesuatu lagi.
Yang kemudian sibuk mempersoalkan ketiga orang yang tidak dikenal itu adalah
keempat pengawal yang telah dikalahkan oleh dua orang di antara orang-orang
yang tidak dikenal itu. Mereka pun merasa heran, bahwa orang-orang itu telah
meninggalkan mereka justru ketika mereka sudah tidak berdaya. Seperti yang
pernah terjadi, orang-orang itu sama sekali tidak membunuh. Demikian juga
orang yang telah merampas kuda para pengawal yang terdahulu.
Ketika dua orang pengawal yang lebih dahulu pernah kehilangan kudanya itu
mengunjungi keempat kawannya yang terluka itu maka diluar sadar mereka telah
berbincang tentang perisitiwa yang pernah terjadi sebelumnya.
“Apakah benar waktu kalian telah dirampok oleh sekelompok orang yang terdiri
dari banyak orang?” bertanya salah seorang dari para pengawal yang terluka
itu.
Kedua orang pengawal itu saling berpandangan. Namun kemudian seorang di
antara mereka berkata, “Tidak. Sebenarnya hanya dua orang sajalah yang
mencegat kami dan merampas kuda-kuda kami. Waktu itu kami merasa malu, bahwa
kami, pengawal yang sudah terlatih secara khusus masih dikalahkan oleh
orang-orang tidak dikenal. Tetapi setelah seorang di antara para perwira
Jipang itu juga dikalahkan, maka aku baru yakin, bahwa orang-orang itu
memang memiliki ilmu yang bukan tandingan kami.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 405
Tanggal: Kamis, 31-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Keempat orang yang terluka itu
mengangguk-angguk. Bahkan kemudian pembicaraan mereka pun telah merembet
pada pengertian-pengertian yang sengaja dilontarkan oleh orang-orang yang
selalu mengganggu ketertiban di Tanah Perdikan itu.
“Aku semakin yakin, bahwa mereka mempunyai hubungan dengan Nyai Wiradana
yang hilang itu. Ada semacam dendam yang tersirat di hati mereka kepada Nyai
Wiradana yang sekarang,” tiba-tiba seorang di antara para pengawal itu
berdesis.
“Aku sudah lama tertarik kepada persoalan ini,” berkata pengawal yang lain.
“Jika sekali lagi aku bertemu dengan mereka, aku ingin berbicara. Tidak
berkelahi.”
Para pengawal yang lain agaknya sependapat dengan kawannya itu. Namun mereka
tidak mengucapkannya.
Dalam pada itu, peristiwa yang telah terjadi dengan seorang perwira Jipang
dan empat orang pengawal itu benar-benar telah menarik perhatian. Beberapa
orang pengawal mulai memikirkan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang
tidak dikenal itu. Apakah cukup besar manfaatnya jika mereka pergi ke Pajang
bersama dengan sepasukan pengawal yang kuat. Apakah kepergiannya itu akan
dapat memberikan arti bagi Tanah Perdikan Sembojan.
Namun tidak seorang pun di antara mereka yang berani mempertanyakannya,
meskipun ada juga yang berani membisikkan ketelinga kawan-kawannya
terdekat.
Yang kemudian menjadi pusat perhatian tetangga-tetangganya adalah kedua
orang petani yang melihat sendiri apa yang telah terjadi di bulak di siang
hari itu. Satu perkelahian yang membuat mereka menjadi pening.
“Tetapi ternyata orang-orang yang tidak dikenal itu memenangkan
perkelahian,” berkata salah seorang dari mereka.
“Tetapi yang menarik adalah kata-kata mereka pada saat-saat terakhir,”
berkata yang lain. “Menurut orang-orang itu, maka mereka meyakini bahwa Nyai
Wiradana itu masih hidup.”
“Itu tentu benar,” tiba-tiba seorang di antaranya menyahut. “Penari itu
tentu Nyai Wiradana.”
“Kau sudah melihatnya?” bertanya petani yang menyaksikan perkelahian di
tengah bulak itu.
“Sudah. Kami, hampir seisi padukuhan ini pernah melihat perempuan yang mirip
Nyai Wiradana itu. Sebagai seorang penari ia nampak sangat cantik. Lebih
cantik dari Warsi,” berkata tetangganya itu. Bahkan ia pun bertanya, “Apakah
kau belum pernah melihatnya? Aku kira kau pun pernah ikut berkerumun di
pojok padukuhan itu ketika rombongan itu kebar. Bahkan ketika rombongan itu
diminta untuk melakukan pertunjukan di rumah Ki Saenu, kau juga ada
disana.”
“Ya. Aku juga pernah melihatnya,” jawab petani itu. “Dan aku pun sependapat,
bahwa penari itu adalah Nyai Wiradana. Tidak lain. Seandainya ia tidak
mengaku maka itu tentu sekadar satu langkah yang kurang kita mengerti.
Tetapi bahwa ia berada di jalan-jalan sambil menari itu tentu dengan satu
maksud tertentu yang lebih jauh dari sekadar menyindir.”
Orang-orang yang mendengarkan keterangan itu mengangguk-angguk. Agaknya
orang-orang di padukuhan itu dapat saling mendekatkan pendapat mereka
tentang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana itu. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 406
Tanggal: Jumat, 01-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Adalah diluar kehendak mereka, bahwa telah
terbersit di dalam hati mereka, mengharapkan penari itu datang kembali ke
padukuhan itu.
“Tetapi jika rombongan itu berani mendekati padukuhan, maka mereka tentu
akan di tangkap?” orang-orang itu pun merasakan kecemasan pula tentang
rombongan itu.
Namun kedua petani yang melihat ketiga orang yang tidak dikenal itu
bertempur, maka mereka menduga, bahwa ketiga orang itu merupakan sebagian
dari para penabuh gamelan yang mengiringi penari yang mirip dengan Nyai
Wiradana itu.
“Tentu sulit untuk menangkap mereka,” berkata petani itu di dalam hatinya.
Tetapi mereka pun sadar, jika dikerahkan duaratus orang pengawal khusus dan
duapuluh orang perwira dari Jipang, maka mereka mungkin akan dapat
ditangkap.
Namun dengan demikian, maka rasa-rasanya hubungan perasaan Nyai Wiradana
yang hilang itu tidak terputus lagi karena mereka tidak begitu banyak
berhubungan dengan Nyai Wiradana yang sekarang, karena Nyai Wiradana jarang
sekali berada di antara rakyat Tanah Perdikan Sembojan sebagaimana Ki
Wiradana yang hanya berada di dalam lingkungan tertentu saja. Yang nampak
pada rakyatnya adalah bahwa Tanah Perdikan Sembojan kemudian menjadi Tanah
Perdikan yang kuat, yang mampunyai pasukan pengawal yang terlatih baik,
tidak ubahnya para prajurit Pajang dan Jipang. Namun untuk membiayai
pengawal yang sekian banyaknya itu, rakyat Tanah Perdikan Sembojan harus
memeras keringat dan bekerja keras.
Tetapi sementara itu, peristiwa yang terjadi di bulak itu bagi para perwira
Jipang merupakan satu dorongan untuk segera menentukan langkah-langkah yang
cepat.
“Kita tidak perlu memikirkan keadaan Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Rangga
Gupita. “Aku memang pernah berkata kepada Ki Wiradana agar sebelum kita
berangkat ke Pajang tanah ini harus dibersihkan dahulu. Tetapi sudah tentu
kita tidak akan mengorbankan kepentingan Jipang. Jika keadaan Tanah Perdikan
ini justru menjadi semakin kalut, maka biarlah kita menyerahkannya kepada Ki
Wiradana sepeninggalan kita. Ki Randukeling tentu tidak akan berkeberatan,
karena Ki Randukeling juga lebih memperhatikan kepentingan Jipang daripada
Tanah Perdikan ini. Namun kita akan memberikan beberapa pesan seolah-olah
kita benar-benar memikirkan keadaan Tanah Perdikan ini. Seolah-olah dengan
prihatin kita berangkat dan membagi perhatian kita untuk Pajang dan untuk
Tanah Perdikan ini.”
Beberapa orang perwira yang tertua yang diajak berbicara Ki Rangga itu
mengangguk-angguk. Agaknya mereka sependapat, bahwa mereka tidak boleh
terlalu lama membiarkan pasukan Jipang yang mendekati Pajang dari arah yang
lain menunggu dan tidak berbuat apa-apa. Dalam kejemuan para prajurit yang
sudah siap untuk bertempur akan dapat berbuat hal-hal yang aneh-aneh di luar
perhitungan para pemimpin mereka.
Dengan demikian, maka Ki Rangga Gupita dan para perwira tertua telah
mempersiapkan pasukannya. Duaratus orang pengawal khusus telah disiapkan
hampir semuanya, meskipun untuk mengelabuhi Ki Wiradana agar mereka dianggap
memperhatikan semua kepentingan, telah diputuskan untuk ditinggalkan
sebanyak duapuluh lima orang yang akan memimpin para pengawal di
padukuhan-padukuhan.
Di samping mereka akan diberangkatkan juga pengawal yang dipilih dari para
pengawal yang terdapat di padukuhan-padukuhan. Justru dalam jumlah berlipat
ganda dari para pengawal khusus itu.
Namun para pengawal dari padukuhan-padukuhan itu telah pernah mendapat
latihan-latihan pula dari kawan-kawan mereka yang termasuk para pengawal
khusus, sehingga mereka pun akan mampu menyesuaikan diri dengan medan yang
akan mereka hadapi, di samping kesediaan para pemimpin pasukan Jipang untuk
membaur sekelompok pasukan mereka di antara para pengawal Tanah Perdikan
Sembojan itu.
Ki Wiradana sudah tidak dapat berbuat lain daripada menyerahkan anak-anak
muda terbaik Tanah Perdikan itu kepada Jipang. Pada saat-saat ia ragu-ragu,
maka Warsi pun telah menekankan kepadanya, bahwa pasukan itu harus berangkat
ke Pajang. Mereka harus menghancurkan Pajang di tempat mereka sendiri. Bukan
Tanah Perdikan itulah yang akan menjadi ajang pertempuran yang mengerikan.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 407
Tanggal: Sabtu, 02-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Namun dalam pada itu, sebelum pasukan yang
disusun itu berangkat meninggalkan Tanah Perdikan, maka Ki Rangga menganggap
perlu untuk meningkatkan kesiapan jiwani dari pasukan, baik yang berangkat
ke Pajang, maupun yang akan tinggal di Tanah Perdikan.
“Satu pertanggungjawaban,” berkata Ki Wiradana kepada para pemimpin Tanah
Perdikan. “Kami telah menggunakan uang yang kami pungut dari rakyat, karena
itu biarlah mereka menyaksikan kekuatan yang dibangun dengan mempergunakan
uang mereka itu. Dengan demikian mereka mengerti, bahwa pajak yang mereka
bayar ternyata tidak sia-sia.”
Demikianlah, pada hari yang ditentukan, disebuah arena yang cukup luas di
luar padukuhan induk Tanah Perdikan telah diselenggarakan permainan yang
belum pernah dilakukan sebelumnya. Permainan yang hanya dilakukan di
alun-alun Pajang, Jipang dan Kadipaten-kadipaten lain dan yang lebih besar
lagi di Demak.
“Sodoran dan beberapa permainan ketangkasan dari pada pengawal,” berkata
orang-orang Tanah Perdikan yang menjadi ramai.
Sejak matahari terbit di tempat yang sudah dipasang gawar berkeliling itu,
menjadi ramai dikunjungi oleh orang-orang Tanah Perdikan. Laki-laki
perempuan, tua muda, bahkan hampir semua orang dari padukuhan induk dan
sebagian besar dari penghuni Tanah Perdikan itu.
Mereka berkumpul di ara-ara yang luas, yang biasanya menjadi tempat
anak-anak Tanah Perdikan itu menggembala kambing, lembu dan kerbau, untuk
menyaksikan suatu pertunjukan yang belum pernah mereka lihat.
Bahkan kesempatan itu merupakan kesempatan yang baik pula bagi orang-orang
Tanah Perdikan itu yang berjualan makanan. Jauh sebelum matahari terbit,
mereka sudah mencari tempat yang dianggap paling baik untuk menjajakan
jualannya, karena menurut pendengaran mereka, permainan ketangkasan para
pengawal itu akan berlangsung sampai sore.
Satu di antara pertunjukan yang akan menjadi paling menarik adalah
pertunjukan membunuh seekor harimau yang dilakukan hanya oleh tiga orang
pengawal bersenjata pedang pendek.
Seorang anak yang sedang mulai tumbuh berkata kepada temannya, “Kenapa
pengawal itu mesti bertiga? Apakah tidak dapat diselenggarakan permainan
yang lebih baik?”
Kawannya yang sebaya bertanya, “Lebih baik bagaimana?”
“Tidak tiga orang, tetapi satu orang,” jawab anak itu.
Kawannya mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Itu sangat berbahaya.
Bagaimana jika yang mati bukan harimaunya?”
“He, apakah kau sudah melihat harimau yang dikurung di banjar itu?”
“Sudah,” jawab kawannya.
“Tidak terlalu besar,” berkata anak itu. “Aku pernah melihat harimau yang
lebih besar yang dibunuh beramai-ramai oleh orang-orang padukuhan, ketika
harimau itu keluar dari hutan dan berusaha mencari kambing. Sudah ada dua
ekor kambing yang hilang, sehingga orang-orang padukuhan bersiap-siap
menjebaknya.”
Kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia tidak menjawab.
Sementara itu, ketika matahari mulai naik, maka ara-ara itu rasa-rasanya
sudah tidak muat lagi orang-orang yang berdatangan. Bahkan ada beberapa
orang dari luar Tanah Perdikan Sembojan yang ingin ikut menyaksikan
pertunjukan yang tentu sangat menarik itu.
Ketika panas matahari mulai terasa gatal dikulit, maka persiapan-persiapan
pun telah selesai dilakukan. Ara-ara itu menjadi gemuruh ketika para
pengawal mulai memasuki lingkungan yang sudah ditentukan. Sekelompok pasukan
berkuda telah memasuki ara-ara itu lebih dahulu. Dengan kuda-kuda yang tegar
mereka berderap mengelilingi arena yang sudah dipersiapkan dan dipagari
dengan gawar lawe dan di tandai dengan janur-janur yang berwarna
kekuning-kuningan.
Perasaan kagum memang telah menyentuh hati orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan. Mereka telah mengira, bahwa anak-anak mereka mampu mempertunjukkan
satu permainan berkuda yang mengasyikkan. Berlari-lari berkeliling kemudian
berderap dengan langkah-langkah kecil, nyirik dan kemudian kembali
nyongklang dengan langkah-langkah panjang.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 408
Tanggal: Minggu, 03-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Anak-anak yang menyaksikan permainan itu
dengan tanpa mengingat persoalan-persoalan lain yang menyangkut kehidupan
para pengawal serta biaya yang mendukungnya, telah dengan serta merta
bertepuk tangan sambil berteriak-teriak mengaguminya.
Namun orang-orang tua mereka ternyata disamping kekagumannya, masih juga
dibayangi oleh besarnya pajak yang harus mereka pikul untuk membiayai
pasukan pengawal yang mengagumkan itu. Namun yang akhirnya, Kadipaten
Jipanglah yang akan mempergunakan mereka justru untuk memerangi Pajang,
Kadipaten yang seharusnya menjadi kiblat pemerintahan Tanah Perdikan
Sembojan.
Demikian pasukan berkuda itu selesai dengan permainan mereka, ternyata
sebagian dari mereka tidak keluar arena. Mereka justru berpencar untuk
mengamati dan menjaga agar orang-orang yang menonton permainan ketangkasan
itu tidak memasuki arena.
Permainan berikutnya masih permainan kelompok-kelompok pengawal. Mereka
menunjukkan kemampuan mereka untuk memasang gelar. Meskipun hanya oleh
beberapa puluh orang pengawal, tetapi orang-orang Tanah Perdikan dapat
melihat beberapa macam gelar yang dipertunjukkan oleh pasukan itu. Dengan
satu jenis gelar, pasukan itu berarak dari Utara ke Selatan. Kemudian
kembali ke Utara dengan perubahan gelar yang lain. Dari Garuda Nglayang yang
berubah menjadi Supit Urang.
Kemudian berubah menjadi Dirada Meta dan kemudian Cakra Byuha, Wulan
Panunggal dan Gedong Minep. Mereka juga memperagakan bagaimana mereka dapat
menjebak lawan mereka dengan gelar Jurang Grawah dan yang kemudian melanda
pasukan lawan dengan Gelar Samodra Rob.
Anak-anak Tanah Perdikan Sembojan yang menyaksikan pertunjukan itu tidak
henti-hentinya berteriak-teriak kekaguman. Apalagi yang di dalam permainan
itu ikut serta kakak-kakak mereka. Maka rasa-rasanya tali suara mereka
dileher akan terputus karenanya.
Namun sementara itu, maka orang-orang yang memanfaatkan peristiwa itu dengan
berjualan makanan dan minuman, ternyata telah menjadi sangat laku. Anak-anak
yang kelelahan berrteriak-teriak dan kepanasan oleh sinar matahari yang naik
semakin tinggi di langit telah mengerumuni mereka dan membeli berbagai macam
makanan dan minuman.
Ara-ara itu menjadi bagaikan meledak, ketika pertunjukan di arena mulai
berubah dengan permainan kelompok-kelompok yang lebih kecil, yang dimulai
dengan permainan yang mendebarkan. Tiga orang pengawal akan membunuh seekor
harimau yang garang yang akan dilepas ditengah-tengah arena itu.
Untuk beberapa saat telah diadakan persiapan-persiapan. Sebuah kerangkeng
telah dibawa ke arena di atas pedati. Lembu yang menarik pedati itu menjadi
sangat gelisah, karena setiap kali terdengar harimau itu menggeram dengan
penuh kemarahan.
Ketika harimau itu sudah berada ditengah-tengah arena, maka sekelompok
pengawal dengan senjata tombak telah menebar memagari arena, sementara itu
tiga orang pengawal terpilih memasuki arena dengan pedang pendek ditangan.
Suara gemuruh bagaikan meruntuhkan langit. Kebanggaan memang telah
mencengkam orang-orang Tanah Perdikan. Untuk beberapa saat mereka melupakan
beban mereka harus memeras keringat untuk membayar pajak.
Ketika para pengawal yang memagari arena dengan tombak di tangan itu sudah
siap dan ketiga orang pengawal yang akan membunuh harimau itu dengan pedang
pendeknya juga sudah siap, maka seorang pemimpin pengawal telah maju
mendekati kerangkeng yang berada di atas pedati, menghadap ke belakang.
Dibantu oleh beberapa orang pengawal, maka pemimpin pengawal itu telah
memberikan aba-aba dan kemudian dengan hati-hati menarik pintu kerangkeng.
Sejenak kemudian harimau yang marah karena kebebasannya yang dibatasi oleh
kerangkeng yang sempit itu tiba-tiba saja mengaum dengan dahsyatnya sambil
meloncat keluar dari kerangkengnya.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 409
Tanggal: Selasa, 05-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Ketegangan telah mencengkam bukan saja
ketiga orang pengawal yang harus membunuhnya dan para pengawal yang memagari
arena itu dengan jarak dua langkah dengan tombak ditangan yang mulai
merunduk, tetapi para penonton pun menjadi tegang pula.
Di tempat yang sudah disiapkan sebelumnya, para pemimpin Tanah Perdikan
serta para pelatih yang datang dari Jipang menyaksikan permainan itu dengan
tegang pula. Bagaimana pun juga, seekor harimau adalah seekor binatang buas
yang sulit diajak bermain-main. Apalagi untuk dibunuh. Sementara kemarahan
telah bergejolak karena perlakuan yang tidak sewajarnya.
Beberapa saat kemudian, ketiga orang pengawal yang berdiri berpencar di
tengah-tengah arena itu mulai bergerak.
Dengan pedang teracu mereka setapak demi setapak melangkah mendekati harimau
yang berdiri dengan garangnya memandang berkeliling arena.
Namun kemarahan pun menjadi semakin memuncak ketika mereka melihat tiga
orang yang datang mendekatinya untuk mengusiknya. Karena itu, maka harimau
itu pun menggeram. Kemudian berputar setengah lingkaran. Namun tiba-tiba ia
mulai merunduk sambil mengawasi salah seorang dari ketiga pengawal itu
dengan matanya yang bagaikan memancarkan cahaya kehijauan.
Pengawal yang menjadi sasaran itu berhenti. Dengan jantung yang
berdebar-debar ia menunggu harimau itu menerkamnya dengan pedang teracu,
sementara kedua orang kawannya telah melangkah mendekat. Mereka harus
berbuat sesuatu untuk membantu kawannya yang menjadi sasaran serangan
harimau yang marah itu, serta membuat harimau itu menjadi bingung.
Namun agaknya harimau yang marah itu tidak menghiraukan mereka. Sejenak
kemudian, maka terdengar harimau itu mengaum sambil meloncat menerkam.
Demikian cepatnya, sehingga beberapa orang yang menyaksikan telah terpekik
tanpa disadari.
Pengawal yang menjadi sasaran serangan harimau itu berusaha untuk
menghindar. Tetapi harimau itu mampu bergerak cepat pula. Seolah-olah
harimau itu telah menggeliat ketika sasarannya bergerak. Tangannyalah yang
kemudian menggapai dengan cepatnya.
Pengawal itu tangkas pula. Ia sempat bergeser. Namun ternyata bahwa
kuku-kuku harimau yang tajam itu sempat menyentuhnya sehingga ujung
kuku-kuku itu telah mengoyak bukan saja pakaiannya, tetapi juga kulitnya.
Namun hampir berbareng dua orang pengawal yang lain telah meloncat menerkam
harimau itu dengan ujung pedang mereka. Namun karena harimau itu pun
kemudian bergeser, maka ujung-ujung pedang itu tidak langsung dapat menikam
punggung dan lambung harimau itu, tetapi sekadar menyentuh kulitnya meskipun
berhasil melukainya.
Perasaan sakit itu membuat harimau yang marah itu semakin marah. Dengan
garangnya maka harimau itu pun telah menerkam seorang di antara mereka tanpa
merunduk lebih dahulu. Namun pengawal itu pun berusaha untuk menghindar
pula, meskipun ternyata bahwa seperti pengawal yang pertama, tubuhnya tidak
luput dari goresan kuku-kuku harimau yang tajam itu, sehingga darah pun
mulai mengalir.
Tetapi dalam kesempatan itu, seorang pengawal yang lain sempat menyerang
harimau itu dan menikam pada lehernya. Tetapi agaknya ujung pedangnya tidak
tepat mengenai sasarannya, karena harimau itu melenting sambil menggapai
dengan tangannya. Ujung pedang itu hanya menggores punggung dan melukainya
agak dalam.
Pada saat yang bersamaan dua orang pengawal yang lain pun telah menyerang
bersama-sama. Para pengawal yang terlukapun menjadi marah. Karena itu maka
mereka pun menjadi lebih garang menghadapi kemarahan harimau itu.
Dengan demikian, maka perkelahian itu pun menjadi semakin seru. Para
pengawal yang memagari arena itu justru telah berlutut pada sebelah kakinya,
namun tetap bersiaga denga tombaknya, untuk memberi kesempatan kepada
orang-orang yang berada di belakang mereka menyaksikan perkelahian itu,
serta para pengawal berkuda yang jumlahnya telah berkurang itu pun berusaha
untuk selalu bergeser agar kesempatan melihat pun merata di antara
orang-orang yang berdiri di luar gawar.(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 410
Tanggal: Rabu, 06-08-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Ketika
perkelahian menjadi semakin menegangkan, maka orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan tidak dapat lagi menahan diri. Jika seorang pengawal berhasil
menusukkan pedangnya maka yang terdengar adalah sorak yang membahana
bagaikan meruntuhkan langit. Bukan hanya anak-anak dan remaja. Tetapi
orang-orang tua bahkan perempuan-perempuan pun telah berteriak-teriak pula
sekuat-kuatnya.
Hiruk pikuk itu ternyata telah membuat mereka yang bertempur itu bagaikan
kehilangan nalar. Mereka seolah-olah menjadi mabuk dan bingung. Bukan saja
harimau yang telah menjadi merah oleh darahnya yang meleleh dari
luka-lukanya. Tetapi ketiga orang pengawal itu pun seakan-akan menjadi wuru
pula. Para pemimpin pengawal yang melihat perkelahian itu menjadi
berdebar-debar. Seorang di antara mereka telah melangkah mendekati diikuti
oleh beberapa orang pengawal, sementara harimau yang terluka itu menjadi
seperti gila. Tetapi oleh darahnya yang semakin deras mengalir, maka tubuh
harimau itu pun menjadi semakin lemah.
Namun demikian tidak ada jalan untuk lari. Harimau itu sama sekali bukannya
bertempur karena harga dirinya sehingga meskipun tubuhnya menjadi kesakitan
dan kehilangan tenaganya tetapi tidak mau meninggalkan arena. Namun harimau
itu memang tidak melihat jalan keluar dari arena itu. Dia putar arena, para
pengawal yang berlutut pada sebelah kakinya, telah menyiapkan tombak
masing-masing sehingga jika harimau itu berniat untuk lari, maka ujung-ujung
tombak para pengawal yang akan menyongsongnya.
Untuk beberapa saat harimau itu masih bertempur. Kukunya masih juga sempat
mengoyak pundak salah seorang lawannya, sehingga ketiga orang pengawal yang
berkelahi melawan harimau itu semuanya telah terluka. Namun ketiganya masih
sanggup berdiri tegak dengan pedang teracu.
Ketika perasaan sakit tidak lagi dapat ditahankannya maka harimau itu
benar-benar menjadi gila. Dengan marahnya ia menggeram. Namun tiba-tiba saja
harimau itu telah meloncat berlari meninggalkan arena pertempuran.
Para pengawal yang melingkari arena itu terkejut. Di arah harimau itu lari,
maka para pengawal segera bangkit dan mengacukan tombak mereka. Tetapi
tiba-tiba saja harimau yang berlumuran darah itu berbelok dan demikian
cepatnya meloncati para pengawal yang masih belum bersiap.
Tetapi para pengawal pun dengan sigapnya menyongsong pula. Beberapa ujung
tombak bersama-sama telah menerima harimau itu, bagaikan memetiknya di udara
dengan ujung-ujung tombak. Tetapi harimau itu cukup berat, dan dorongan
loncatannya cukup keras sehingga harimau itu bagaikan terlempar ke luar
arena dengan beberapa ujung tombak tertancap ditubuhnya.
Yang terdengar adalah suara auman yang dahsyat sekali. Orang-orang yang
berdiri di luar arena menjerit-jerit ketakutan. Mereka menyangka bahwa
harimau itu berhasil lolos dari kepungan sehingga mereka telah berdesakan
berlari-lari meninggalkan tempatnya. Sambil memekik-mekik mereka saling
mendorong, saling mendesak dan bahkan ada yang terjatuh dan terinjak-injak.
(Bersambung)-m
Last Updated
10/05/2004
e-mail: mimbarse@gajahsora.net
|