Tersedia Keladi Tikus (Rodent Tuber) hubungi ibu Erni di 0812 802 5102 atai (021) 5671778

Gajahsora.Net

 

  

 

 

 

 

Sejak Juni 2002 diambil dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta http://kr.co.id

 

 

 Kamis, 17 Juli 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 391   

 ”Warsi,” desis Wiradana kemudian, “Jadi kau juga sependapat jika kita mengirimkan pasukan ke Pajang?” “Ya. Kita tidak perlu cemas tentang keadaan kita jika Pajang telah hancur. Jika kita melewatkan kesempatan ini, dan Pajang sempat menahan diri, maka kitalah yang akan digilas. Dan dengan demikian maka korban akan jauh lebih banyak jatuh. Bahkan mungkin orang-orang yang tidak bersalah sama sekali. Jika Pajang yang datang ke Tanah Perdikan ini, maka Tanah Perdikan ini akan menjadi ajang pembantaian yang tidak terkendali. Sementara itu semua harta benda Tanah Perdikan ini akan dijarah rayah dirampas oleh prajurit-prajurit Pajang yang memasuki Tanah Perdikan ini.” 

 Ki Wiradana benar-benar menjadi heran melihat sikap dan cara Warsi menyatakan pendapatnya. Namun ia masih berusaha untuk memaklumi karena Warsi ingin menekankan pendapat kakeknya Ki Randukeling. 

Agaknya Ki Wiradana tidak akan dapat lagi ingkar. Jika ia menentang arus yang sudah terlanjur melanda Tanah Perdikan itu, maka ia sendiri akan mengalami kesulitan. 

Memang ada sepercik penyesalan di hati Ki Wiradana atas kesediaannya untuk berbalik dari Pajang dan kemudian berkiblat kepada Jipang. Tetapi ia sudah terlambat. Karena itu maka yang dapat dilakukan kemudian adalah mengikuti arus yang melanda Tanah Perdikannya. Ia harus menyiapkan pasukan yang akan disusun bersama dengan para perwira Jipang itu untuk menyerang Pajang bersama dengan pasukan Jipang pula. 

Namun tanpa menghiraukan persoalan yang berkembang antara Jipang dan Pajang, Gandar dan kedua saudara seperguruan dari Guntur Geni itu mempunyai rencananya tersendiri. Dengan caranya mereka berusaha agar orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak melupakan Nyai Wiradana yang telah hilang itu. Karena itu, maka yang mereka lakukan ternyata kadang-kadang nampak aneh. Yang penting bagi keduanya adalah, memberikan kesan tentang satu kemungkinan bahwa Nyai Wiradana akan muncul kembali di Tanah Perdikan itu. 

Pada satu kesempatan ketika orang itu telah berada di Tanah Perdikan Sembojan di siang hari, Gandar yang sudah dikenal oleh orang-orang Tanah Perdikan itu telah mengenakan pakaian yang lain dari yang biasa dipergunakannya. Ia tidak mengenakan ikat kepalanya di kepala, justru disangkutkannya saja di pundaknya. Sementara tanpa memakai baju dan berjalan timpang sambil membawa tongkat bersama kedua orang perguruan Guntur Geni yang juga memakai pakaian yang lusuh, mereka menyusuri sebuah bulak yang tidak begitu panjang. 

Ketika mereka bertemu dengan dua orang petani yang baru beristirahat duduk di tanggul sebuah parit maka Sambi Wulung mendekatinya sambil bertanya dengan nada memelas, “Ki Sanak apakah jalan menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan ini masih jauh?” 

Kedua orang petani itu memperhatikan ketiga orang itu. Mereka pun kemudian bangkit berdiri sambil termangu-mangu. Seorang di antara mereka pun bertanya, “Apakah Ki Sanak mencari seseorang atau ingin bertemu dengan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini?” 

“Ya Ki Sanak,” jawab Sambi Wulung. “Kami memang mencari seseorang. Kami mempunyai sanak keluarga yang menurut pendengaran kami berada di Tanah Perdikan ini.” 

“Siapa namanya,” bertanya petani Itu. 

“Namanya Iswari. Menurut keterangan yang kami dengar, ia telah menjadi istri Kepala Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Sambi Wulung. 

“O,” kedua orang petani itu saling berpandangan. Seorang di antara mereka kemudian bertanya, “Kenapa baru sekarang Ki Sanak mencarinya?” 

“Aku baru baru saja mendengar tentang hal itu,” jawab Sambi Wulung. “Karena itu, maka kami memerlukan untuk datang menengoknya. Kami merasa sangat berbangga hati, karena salah seorang dari keluarga kami telah menjadi seorang istri Kepala Tanah Perdikan.” 

“Bukan Kepala Tanah Perdikan, tetapi pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, karena masih belum mendapat pengukuhan,” jawab salah seorang dari petani-petani itu. “Tetapi apakah kau belum bertemu dengan Kiai Badra, kakek perempuan yang kau cari?” 

“Aku adalah saudara sepupu Kiai Badra,” jawab Sambi Wulung. “Aku mendengar dari seorang cantriknya yang kebetulan bertemu ketika cantrik itu menengok keluarganya di tempat yang jauh.(Bersambung)-m.

Suramnya Bayang Bayang 392
Tanggal: Jumat, 18-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

“KAPAN kau bertemu dengan cantrik itu?” bertanya petani itu pula. 
“Belum lama. Cantrik itu adalah anak padukuhan pula. Akulah yang membawanya ke padepokan Kiai Badra,” jawab Sambi Wulung. 

“Ceriteramu aneh Ki Sanak. Seharusnya cantrik Kiai Badra itu mengetahui apa yang sudah terjadi atas Iswari, cucu Kiai Badra itu,” jawab petani itu pula. 
“Apa yang sudah terjadi?” bertanya Sambi Wulung. 
“Iswari, istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini sudah lama hilang. Sudah kurang lebih setahun yang lalu,” jawab petani itu. 
“Hilang bagaimana?” Sambi Wulung berpura-pura keheranan. 
“Hilang, ya hilang. Tiba-tiba saja Iswari itu tidak ada di Tanah Perdikan ini. Semua orang, terutama Ki Gede Sembojan sendiri dimasa hidupnya, telah mencarinya kemana saja. Tetapi Iswari tidak dapat diketemukan,” jawab petani itu pula. 
“Ah, mustahil. Apakah seseorang dapat hilang begitu saja?” Sambi Wulung mendesak. “Aku tidak percaya.” 
“Kenapa kau tidak percaya?” bertanya petani yang seorang lagi. “Iswari itu hilang. Jika kau tidak percaya baiklah. Silakan pergi menemui suaminya yang sekarang sudah kawin dan mempunyai seorang anak laki-laki.” 
“O,” Sambi Wulung memegangi dahinya. “Bagaimana hal ini mungkin terjadi. Cantrik itu berkata, bahwa Iswari masih berada di Tanah Perdikan ini.” 
“Tidak Ki Sanak,” jawab petani yang lain. “Kau dapat juga bertanya kepada Kiai Badra. Ia dapat berceritera tentang cucunya.” 
Sambi wulung mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kenapa anak itu hilang? Apakah ia tidak disenangi di Tanah Perdikan ini, sehingga seseorang atau segolongan orang yang tidak menyenanginya telah membunuhnya dan dengan diam-diam menyembunyikan mayatnya sehingga tidak dapat diketemukan lagi?” 
“Tidak. Sama sekali tidak. Orang-orang Tanah Perdikan ini tidak pernah membencinya. Justru ia adalah seseorang yang dianggap sangat memperhatikan keadaan Tanah Perdikan ini,” jawab petani itu dengan serta merta. 
“Tetapi kenapa ia tiba-tiba saja hilang?” bertanya Sambi Wulung. 
“Itulah yang membingungkan kami,” jawab petani itu. “Sebenarnyalah kami mengharap Iswari itu muncul kembali. Mungkin ini merupakan satu keajaiban yang tidak mungkin terjadi. Tetapi kadang-kadang kami berharap mudah-mudahan penari yang disebut mirip dengan Nyai Wiradana itu benar-benar Nyai Wiradana.” 
Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Jadi, hilangnya Iswari bukan karena ia tidak dikehendaki oleh orang-orang Tanah Perdikan ini?” 
“Tentu bukan,” jawab petani itu. “Kami sama sekali tidak mengira bahwa hal itu terjadi. Dan kami, rakyat Tanah Perdikan ini merasa sangat kehilangan.” 
“Tetapi bukankah seperti kau katakan, bahwa suaminya sudah beristri lagi, dan bahkan sudah lahir anaknya laki-laki,” bertanya Sambi Wulung. 
“Ya,” jawab petani itu. “Ki Wiradana memang sudah kawin lagi dan mempunyai seorang anak laki- laki.” 
“Bagaimana dengan istrinya yang sekarang?” bertanya Sambi Legi. 
“Istrinya yang sekarang adalah seorang perempuan yang hanya tahu berhias sebagaimana kebiasaannya ketika ia masih menjadi janggrung di sepanjang jalan,” jawab petani itu. 
“Jadi, jika kalian harus memilih, maka kalian akan memilih Iswari dari istrinya yang sekarang?” bertanya Sambi Wulung. 
“Sayang bahwa kami tidak berwenang memilih, karena yang menentukan segala-galanya adalah Ki Wiradana,” jawab petani itu. 
Namun petani-petani itu menjadi heran ketika Sambi Wulung kemudian berkata, “Tetapi sebagaimana aku yakin, maka yakinilah, bahwa Iswari itu masih hidup. Cantrik itu berkata sesungguhnya bahwa Iswari masih hidup.” 
“Tetapi ia tidak ada di sini,” sahut petani itu. 
“Mungkin. Mungkin ia tidak ada disini. Tetapi biarlah aku berusaha mencarinya. Aku akan bertemu dengan Kiai Badra,” berkata Sambi Wulung kemudian. 
Para petani itu termangu-mangu. Ia melihat sesuatu yang kurang wajar pada ketiga orang itu. Sikapnya, kata-katanya dan terutama apa yang dikatakan. Tetapi keduanya tidak ingin bertanya, apa yang sebenarnya dikehendaki. (Bersambung)-m


 

Suramnya Bayang Bayang 393
Tanggal: Sabtu, 19-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Namun dalam pada itu, dari kejauhan mereka melihat debu mengepul. Beberapa orang berkuda menyusuri jalan bulak itu untuk mengamati keadaan yang berkembang di Tanah Perdikan itu setelah Tanah Perdikan itu benar-benar mengadakan persiapan untuk melibatkan diri ke dalam pertentangan antara Jipang dan Pajang. 

“Siapa mereka?” bertanya Sambi Wulung. 
“Para pengawal,” jawab petani-petani itu.
“O,” apakah mereka akan bertindak kasar?” bertanya Sambi Wulung.
“Hanya terhadap orang-rang yang dicurigai,” jawab salah seorang petani itu, lalu katanya. “Agaknya kalian bertiga memang lebih baik duduk saja di belakang semak-semak itu. Meskipun tidak selalu, tetapi orang-orang yang asing disini seperti kalian bertiga akan mungkin sekali dicurigai.” 
“Tetapi bukankah kami tidak berbuat apa-apa?” bertanya Sambi Wulung. 
“Cepat,” desak petani yang lain. “Debu itu menjadi semakin jelas. Mereka menjadi semakin dekat.” 
Ketiga orang itu memandangi debu yang mengepul di jalan bulak. Semakin lama memang menjadi semakin dekat. Namun ketiga orang itu sama sekali tidak beringsut dari tempatnya. 
Sebenarnyalah, bahwa Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak ingin bersembunyi. Mereka justru ingin berbuat sesuatu. Mereka ingin menyatakan sebagaimana pernah dilakukan, bahwa para pengawal Tanah Perdikan itu bukan orang-orang yang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan, apalagi untuk bertemu dengan para prajurit Pajang. 
Karena itu, ketika para petani itu semakin mendesaknya, maka Sambi Wulung pun berkata, “Kami tidak berbuat apa-apa. Jika mereka ingin menangkap kami, maka merekalah yang bersalah.” 
“Tetapi mereka adalah para pengawal. Mereka dapat berbuat apa saja. Bahkan terhadap orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri,” berkata petani-petani itu. 
Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak beringsut dari tempatnya, sehingga salah seorang dari kedua petani itu berkata, “Terserahlah kepada kalian. Aku sudah memberitahukan apa yang sebaiknya kalian lakukan.” 
Namun sambil tersenyum Sambi Wulung berkata, “Terima kasih. Jika terjadi sesuatu bukan salah kalian.” Petani-petani itu menjadi heran. Namun tiba-tiba mereka menjadi curiga. Ketika orang itu sama sekali tidak menjadi cemas melihat sekelompok orang-orang berkuda yang lewat di jalan bulak itu sebanyak lima orang. 
“Siapakah sebenarnya mereka, dan apakah hubungannya mereka sebenarnya dengan Nyai Wiradana yang hilang itu?” bertanya para petani itu di dalam hati. 
Sementara itu, orang-orang berkuda itu pun menjadi semakin dekat. Namun tiba-tiba saja salah seorang dari petani itu berdesis dengan nada yang sangat cemas, “Yang seorang itu bukan pengawal Tanah Perdikan.” 
“Siapa?” bertanya Sambi Wulung. 
“Salah seorang dari para pelatih yang membentuk pasukan khusus itu menjadi pasukan yang luar biasa,” jawab salah seorang petani itu. 
“Orang Jipang?” bertanya Sambi Wulung. 
Petani itu termangu-mangu. Para pengawal sendiri nampaknya sudah tidak menganggap bahwa kehadiran orang-orang Jipang itu masih menjadi rahasia, setelah semuanya menjadi jelas. Bahkan setelah dipersiapkan pasukan untuk mendekati Pajang. 
Namun percakapan itu terhenti ketika lima orang berkuda itu menjadi semakin dekat. Yang paling depan dari kelima orang berkuda itu memang salah seorang perwira Jipang yang berada di Tanah Perdikan Sembojan. 
Seperti yang telah diduga oleh para petani, maka ketiga orang itu telah menarik perhatian kelima orang berkuda itu. Karena itu maka kelima orang berkuda itu telah menarik kekang kuda mereka, sehingga kelimanya telah berhenti beberapa langkah dari ketiga orang yang mereka anggap orang asing itu. 
Kedua orang petani itupun bergeser beberapa langkah dengan jantung yang berdegupan. Ketiga orang itu tentu akan ditangkap dan dibawa menghadap Ki Wiradana. Jika demikian agaknya masih untung bagi ketiganya. Tetapi jika persoalan mereka ditangani langsung oleh para pengawal untuk memeras keterangan mereka karena dianggap mencurigakan, maka nasib mereka akan menjadi lebih buruk lagi. (Bersambung)-m
 


 

Suramnya Bayang-Bayang 394
Tanggal: Minggu, 20-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

“He, Siapakah orang-orang ini?” bertanya salah seorang pengawal yang kemudian bergeser maju di samping perwira dari Jipang yang berada di antara mereka, kepada para petani itu.
Salah seorang dari kedua petani itu menjawab, “Aku tidak mengenal mereka. Bertanyalah sendiri.” . Pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun memandang ketiga orang itu berganti-ganti. Pakaian yang lusuh. Sikap yang agak memelas dan wajah-wajah yang kotor.

“Siapakah kalian?” bertanya pengawal itu.
Seperti semula, Sambi Wulung lah yang menjawab, “Kami adalah orang-orang yang datang dari jauh.”
“Untuk apa?” bertanya pengawal itu.
“Kami ingin menengok kemanakan kami. Iswari,” jawab Sambi Wulung.
Pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya, “Istri Ki Wiradana yang tua maksudmu?”
“Ya,” jawab Sambi Wulung, “Menurut keterangan dari seorang cantrik, ia adalah istri Kepala Tanah Perdikan ini.”
“Iswari sudah tidak ada di Tanah Perdikan ini. Sudah lama sekali,” jawab pengawal itu.
“Aku tidak percaya,” jawab sambi Wulung. “Agaknya kalian ingin menghina kami. Kami menganggap bahwa karena ujud kami dan pakaian kami, maka kalian menganggap bahwa kami tidak pantas disebut sanak kadangnya Iswari. Tetapi ketahuilah, bahwa aku adalah saudara sepupu Kiai Badra.”
Para petani itu terkejut mendengar jawaban orang itu. Bahkan para pengawal pun terkejut.
Namun dalam pada itu, ternyata Sambi Wulung pun tidak lagi dapat mengendalikan perasaannya. Ia ingin cepat-cepat terjadi sesuatu karena justru ada seorang perwira Jipang yang ada di antara para pengawal itu. Dengan demikian, maka ia akan berhasil menjajagi kemampuan para perwira itu. Bahkan sebagaimana ia inginkan, bahwa Sambi Wulung ingin mengatakan kepada para pengawal, bahwa para perwira Jipang itu pun bukan orang-orang yang memiliki ilmu linuwih dan tidak terkalahkan dalam dunia kanuragan. Meskipun mereka memiliki keahlian dalam perang gelar.
Pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun ketajaman perasaannya cepat menghubungkan peristiwa yang dihadapi itu dengan peristiwa yang terjadi atas kedua orang pengawal yang lain, yang berjumpa dengan sekelompok orang yang kemudian telah merampas kuda-kuda mereka, sebagaimana mereka katakan dalam pengakuan mereka.
Karena itu, maka katanya langsung dengan nada keras, “Ternyata kau sengaja memancing persoalan. He, apakah kau merupakan sebagian dari sekelompok orang yang pernah merampas kuda para pengawal?”
Sambi Wulung pun tidak lagi ingin berputar-putar. dengan tegas ia menjawab, “Ya”, namun kemudian ia pun bertanya, “He, kenapa merupakan sebagian dari sekelompok orang? Kamilah yang melakukannya. Tidak ada orang lain.”
“Persetan,” geram pengawal itu, sementara para pengawal yang lain pun telah bersiap. Seorang di antara mereka menggeram, “Satu kebetulan. Kami akan menangkap kalian dan memeras keterangan kalian. Siapakah kawan-kawan kalian.”
Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Namun ia sadar agaknya pengawal yang kehilangan kudanya itu tidak mengatakan sebagaimana adanya.
Tetapi ia tidak peduli. Yang dihadapinya adalah para pengawal dan kebetulan sekali seorang di antara para perwira Jipang yang ada di Tanah Perdikan itu. Karena itu maka katanya, “He, kenapa kalian akan menangkap kami? Kenapa tidak kau tangkap saja penari janggrung yang sekarang berada di rumah Ki Wiradana? He apakah kalian sekarang sudah kehilangan nalar sehingga kalian tidak dapat melihat apa yang sebenarnya berkembang di Tanah Perdikan ini? Setelah Ki Wiradana kawin dengan penari jalanan itu serta menyingkirkan istrinya, ternyata kemudian telah melakukan satu kesalahan yang paling memuakkan. Ki Wiradana telah berpihak kepada Jipang dengan mengorbankan kehidupan rakyatnya yang harus diperas untuk membiayai pasukan yang dibentuk untuk kepentingan Jipang.
“Tutup mulutmu,” perwira Jipang itu berusaha untuk tidak mencampuri persoalan itu tiba-tiba saja membentak. Suaranya menggelegar seperti suara guruh oleh kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya. (Bersambung)


 

Suramnya Bayang Bayang 395
Tanggal: Senin, 21-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Suaramu membuat aku terkejut. He, apakah kau salah seorang dari para perwira Jipang itu?” 
“Persetan,” geram perwira itu. Lalu katanya, “Mulutmu memang harus disumbat dengan tumit.” 

“Baiklah,” berkata Sambi Wulung kemudian, “Aku akan berterus terang. Aku ingin membuktikan bahwa apa yang kalian lakukan sama sekali tidak memadai. Apakah artinya kepergian para pengawal Tanah Perdikan ini ke Pajang? Tidak lebih dari satu perbuatan bunuh diri yang bodoh. 
Wajah perwira Jipang itu menjadi merah membara. Sementara itu Sambi Wulung masih berkata lebih lanjut, “Karena itu sebelum terlanjur, tinjau kembali rencana pengiriman pasukan ke Pajang itu. Apalagi anak-anak muda di Sembojan ini sebenarnya mempunyai tugas yang sangat berat bagi Tanah Perdikannya sendiri. Kenapa kalian tidak berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikan kalian, justru melibatkan diri ke dalam pertentangan antara Jipang dan Pajang? Sementara itu rakyat Tanah Perdikan ini sendiri diperas habis-habisan untuk membiayai pasukan pengawal khusus yang tidak lebih daripada alat untuk menakut-nakuti rakyat itu sendiri dan yang kemudian sebagai batang-batang kayu bakar yang diselusupkan ke dalam api, jika kalian benar-benar pergi ke Pajang.” 
Perwira Jipang itu ternyata tidak dapat menahan diri lagi. Dengan serta merta ia pun telah meloncat turun dari kudanya. 
Para pengawal Tanah Perdikan itu pun telah melakukan hal yang sama. Mereka pun telah berloncatan turun dan mengikat kuda-kuda mereka pada batang-batang perdu. 
Para petani yang melihat peristiwa Itu menjadi gemetar. Mereka pun bergeser semakin lama semakin jauh. Namun rasa-rasanya ada yang mengikat mereka untuk tetap berada di tempat itu dan menyaksikan apa yang terjadi. 
Kelima orang itu pun dengan wajah yang marah mendekati ketiga orang yang telah dengan terbuka menantang mereka. Karena itu maka tidak ada langkah lain yang mereka ambil kecuali menangkap ketiga orang itu. 
Tetapi ketiga orang itu pun sudah bersiap. Namun Sambi Wulung masih berkata kepada para pengawal yang merupakan kekuatan yang sebenarnya di Tanah Perdikan ini. “Kenapa selama ini kalian telah kehilangan kiblat sehingga kalian tidak lebih dari seekor kerbau yang dicocok hidungnya dan kemudian diterapkan di depan wuluku dan dipekerjakan di sawah tanpa mempersoalkan martabatnya? Bukankah kalian masih lengkap dengan nalar dan perasaan kalian sebagai anak-anak muda di Tanah Perdikan ini?” 
Suara Sambi Wulung terputus. Perwira Jipang yang tidak dapat menahan kemarahannya itu tidak berkata sepatahpun lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang Sambi Wulung dengan tumitnya ke arah mulut sebagaimana dikatakannya. 
“Uhu,” Sambi Wulung dengan tangkasnya menghindari, sehingga tumit perwira Jipang itu tidak benar-benar menyumbat mulutnya. 
Tidak ada yang sempat berbicara lagi. Sejenak kemudian orang-orang itu sudah terlibat di dalam perkelahian. Sambi Wulung harus menghadapi perwira Jipang yang marah itu, sementara Gandar dan Jati Wulung harus bertempur menghadapi masing-masing dua orang pengawal. (Bersambung)-o
 

Suramnya Bayang Bayang 396
Tanggal: Selasa, 22-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Tidak ada masalah bagi Gandar dan Jati Wulung. Namun Sambi Wulunglah yang harus berhati-hati. yang dihadapinya adalah seorang perwira dari Jipang. 

Yang kemudian bertempur dengan dahsyatnya adalah memang Sambi Wulung. Ternyata perwira Jipang yang marah itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. 
Beberapa kali Sambi Wulung meloncat surut. Bukan karena ia benar-benar terdesak, tetapi semata-mata untuk menempatkan diri pada keadaan yang mantap untuk melawan seorang perwira yang ternyata memang memiliki kemampuan yang tinggi. 
Perwira Jipang itu berusaha untuk dengan cepat mengakhiri perkelahian. Ia ingin menangkap orang itu dan menyerahkan ke hadapan para pemimpin Tanah Perdikan. Orang itu tentu bagian dari kelompok-kelompok yang selama ini sengaja membuat kerusuhan di Tanah Perdikan ini. Jika kemudian para pemimpin Tanah Perdikan ini dapat membongkar kelompok ini, maka untuk seterusnya Tanah Perdikan Sembojan akan menjadi tenang. Keberangkatan pasukan ke Pajang tidak lagi tersendat-sendat karena adanya kekacauan yang selalu mengganggu Tanah Perdikan ini. Karena menurut perhitungan perwira Jipang itu, orang yang menjadi lawannya itu tentu mempunyai hubungan dengan para perampok yang pernah merampok saudagar emas dan berlian sebagaimana pernah diceriterakannya kepadanya. Juga orang-orang yang pernah merampok Ki Wiradana sendiri sekembalinya dari Pajang. Bahkan tentu orang-orang inilah yang telah menghimpun menjadi serombongan orang ngamen dengan seorang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana yang hilang itu. Atau bahkan jika orang itu memang Nyai Wiradana, maka segalanya akan segera terbongkar. 
Namun agaknya perwira dari Jipang itu telah membentur kekuatan yang tidak dibayangkan sebelumnya. Ternyata bahwa Sambi Wulung telah mengerahkan kemampuannya pula untuk mengimbangi perwira Jipang yang marah itu. Sambi Wulung mampu berloncatan secepat perwira Jipang itu meloncat. Dalam benturan kekuatan yang terjadi, maka kekuatan Sambi Wulung pun ternyata tidak berada di tataran yang lebih rendah dari perwira Jipang itu. 
Dengan demikian maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. bahkan para petani yang menyaksikan pertempuran itu seakan-akan justru mematung. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. 
Sementara itu, Gandar yang timpang itu harus bertempur melawan dua orang pengawal. Ia sama sekali tidak menemui kesulitan. Bahkan ia masih tetap dalam kedaan timpang yang dibuat-buatnya itu untuk menghilangkan ciri-ciri yang akan dapat dikenali oleh orang yang pernah mengenalnya sebelumnya. 
“Jika orang-orang itu menyebut lawannya timpang, maka tidak ada seorang pun yang akan menduga bahwa lawannya itu adalah Gandar yang pernah datang ke rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan ini,” berkata Gandar di dalam hatinya. 
Dalam pada itu, dua orang pengawal yang bertempur melawan Gandar itu menjadi heran. Orang yang timpang dan berpakaian lusuh itu ternyata mampu melawan mereka berpasangan. Bahkan nampaknya orang timpang itu sama sekali tidak perlu mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kedua lawannya yang telah sampai kepada puncak kemampuannya. 
“Iblis timpang ini sangat menjengkelkan,” berkata salah seorang pengawal itu. 
Kawannya tidak menyahut. Namun tiba-tiba saja ia telah mencabut pedang pendeknya. 
“Uah,” desan Gandar. “Kalian bersungguh-sungguh?” 
“Jika aku gagal menangkapmu, maka aku akan membunuhmu,” geram salah seorang dari kedua orang pengawal itu. 
“Kalian memaksa aku untuk melawan kalian dengan senjata pula,” berkata Gandar. 
“Lakukan,” geram para pengawal itu. 
Tetapi Gandar tidak menjawab lagi, “Tetapi aku tidak membawa senjata apapun.” Namun tiba-tiba Gandar berdesis, “He, aku tadi membawa tongkat kayu justru karena aku timpang.” 
Tiba-tiba pula Gandar melenting dan dengan tangkasnya menggapai sebuah tongkat kayu yang memang dipakainya untuk menopang tubuhnya karena ia timpang, yang tersandar pada sebatang pohon jarak. 
(Bersambung)-m

 

Suramnya Bayang Bayang 397
Tanggal: Rabu, 23-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Tetapi tongkat kayu itu bukanlah senjata, dan sama sekali tidak memadai untuk mengimbangi dua buah pedang pendek. Sehingga karena itu, maka salah seorang pengawal itu menggeram, “Kau sangka kami berdua tidak lebih dari sekelompok itik yang dapat digembalakan dengan tongkat kayu semacam itu.” 

Gandar memperhatikan tongkatnya. Tidak lebih sepotong kayu yang diambilnya pada sebatang ranting dipinggir jalan. Hanya kecil, tetapi lebih panjang dari tombak pendek itu. 
Karena itu, maka katanya, “Tongkatku memang terlalu lemah untuk melawan pedang. Tetapi tongkatku lebih panjang dari pedang kalian sehingga dengan demikian, aku akan dapat menggapai tubuh kalian lebih dahulu sebelum pedang pendek kalian menyentuh tubuhku.” 
“Dan kau sangka tubuhku akan terkoyak oleh ujung tongkat kayumu yang tidak lebih kuat dari sebatang lidi?” geram salah seorang dari kedua pengawal itu. 
“Aku menyadari. Tetapi dengan tongkat ini aku akan merasa lebih baik daripada tidak membawa tongkat sama sekali. 
Kedua pengawal itu benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka keduanya tidak mau bertanya lagi. Keduanya segera mengacukan pedang pendeknya mengarah ke dada Gandar. Bahkan seorang di antara mereka pun dengan serta merta telah meloncat menyerang dengan garangnya. 
Tetapi yang terjadi benar-benar tidak terduga. Demikian orang itu meloncat menyerang dengan pedang terjulur, maka tiba-tiba saja ia berteriak mengumpat. Dengan serta merta ia telah melenting surut sambil mengibaskan pedang pendeknya. 
Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian terdengar orang timpang itu tertawa, “He, aku masih mempunyai belas kasihan. Aku tidak mengenaimu tepat pada biji matamu.” 
Pengawal itu mengusap dahinya yang berdarah. Hanya beberapa lapis di atas matanya. 
Pengawal yang lain termangu-mangu. Tongkat yang kecil dan nampaknya tidak berarti itu ternyata mampu melukai kawannya didahinya. 
Namun luka itu justru membuat pengawal itu bertambah marah. Sambil mengusap lukanya, maka pengawal itu telah melangkah mendekat lagi sambil menjulurkan pedangnya. 
“Kau memanfaatkan kelengahanku,” berkata pengawal itu. 
“Ya. Ternyata kelengahanmu adalah senjataku yang paling baik, justru karena aku tidak mempunyai senjata yang memadai. Untuk seterusnya aku akan mempergunakan senjata yang sama,” jawab orang timpang itu. 
“Persetan,” pengawal itu menggeram dengan marah sekali. Namun ia menyadari, bahwa ia memang harus berhati-hati menghadapi orang yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi itu meskipun ia timpang. 
Dengan demikian kedua orang pengawal yang bertempur melawan Gandar itu harus memperhatikan tongkatnya yang semula dianggapnya tidak berarti sama sekali. 
Namun sejenak kemudian, maka kedua pengawal itu harus memeras tenaga mereka. Gandar yang timpang itu bergerak semakin lama semakin cepat. Tongkat kayunya berputar-putar dan bahkan berdesing-desing ditelinganya. Sekali-sekali terasa tongkat kayu itu menyentuh tubuh para pengawal yang bertempur berpasangan itu. Bahkan kemudian tongkat kecil itu telah menimbulkan perasaan sakit pada tubuh kedua orang pengawal itu. 
“Tentu tidak dengan kemampuan sewajarnya,” desis kedua pengawal itu di dalam hatinya, setelah beberapa kali terasa tongkat kecil itu membentur pedangnya dan sama sekali tidak patah. Bahkan rasa-rasanya sentuhan tongkat ditubuh mereka bagaikan sentuhan ujung tongkat baja yang kerasnya melampaui besi. 
“Orang ini mampu menyalurkan kekuatan tenaga pedangnya pada tongkat kayunya,” gumam pengawal itu di dalam hatinya. 
Sebenarnyalah kedua pengawal yang bersenjata pedang itu tidak mampu mengatasi putaran tongkat kayu yang nampaknya tidak lebih dari tongkat untuk menggembalakan itik di pinggir parit. 
Beberapa kali tongkat itu telah mengenai mereka dan bahkan menimbulkan luka-luka kecil, tetapi dari luka-luka kecil itu telah mengalir darah. Bahkan darah yang mengalir meskipun tidak banyak tetapi dari beberapa tempat itu telah menimbulkan kesan, seolah-olah para pengawal itu telah menjadi luka arang keranjang.(Bersambung)-m


 



 

Suramnya Bayang Bayang 398
Tanggal: Kamis, 24-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Pakaian para pengawal yang bernoda darah hampir disegala tempat menumbuhkan kesan yang mengerikan, meskipun daya tahan para pengawal itu dapat mengatasi rasa sakit dari luka-luka kecil di beberapa bagian tubuhnya. 

Namun yang sulit untuk mengatasi adalah justru sakit hati para pengawal itu. Ujung tongkat kayu itu masih saja menyengat-nyengat dan menimbulkan luka-luka. Bahkan bukan saja di badan kedua pengawal itu, namun juga dikening dan dahi. 
“Sebentar lagi, ujung tongkat kayu itu akan mengenai biji matamu,” berkata Gandar sambil tertawa. 
“Persetan,” geram salah seorang dari pengawal itu. Namun mulutnya segera terkatub karena ujung tongkat itu terlepas mengenai mulutnya dan dua buah giginya telah terlepas, sehingga mulutnya telah berdarah. 
Melihat darah meleleh dari sela-sela bibirnya, maka pengawal yang lain dengan cemas bertanya, “Kau memuntahkan darah? Apakah dadamu terluka?” 
“Sama sekali tidak,” pengawal itu hampir berteriak, “Gigiku patah.” 
Kawannya mengumpat, sedangkan Gandar tertawa berkepanjangan. 
Sementara itu, Jati Wulung telah bertempur melawan dua orang pengawal bersenjata. Namun ternyata Jati Wulung telah membawa senjata yang khusus. Senjata yang tidak begitu banyak dipergunakan. Senjata janget yang dibelit rangkap tiga, dengan sebuah bandul timah diujungnya. 
Ketika kedua lawannya menarik pedang pendeknya, sebagai ciri senjata para pengawal Tanah Perdikan yang dipergunakan dilingkungan Tanah Perdikannya, maka Jati Wulung telah mengurai janget rangkap tiganya yang dibelitkan di lambungnya, yang diberi bandul timah yang tidak begitu besar tidak lebih besar dari buah kemiri. 
Namun ketika bandul itu telah berputar diujung janget, maka suaranya berdesing bagaikan seribu gangsing yang berputar bersama-sama. 
Karena itu, maka kedua lawannya menjadi termangu-mangu. Namun mereka tidak dapat berbuat lain kecuali bertempur melawan bandul timah yang bagaikan selalu memburu mereka. 
Meskipun bandul timah itu hanya sekecil buah kemiri, namun sentuhannya telah membuat tulang bagaikan retak. Kulit dan daging menjadi biru kehitam-hitaman. Bahkan ketika bandul itu menyentuh kepala, maka kepala itu pun telah tumbuh bengkak sebesar bandul itu pula. Bahkan seandainya tidak dialasi dengan ikat kepala, maka tulang kepalanyalah yang akan retak. 
Dengan demikian, maka kedua orang pengawal yang bertempur melawan Jati Wulung itu pun segera mengalami kesulitan. Bandul itu bagaikan beterbangan mengelilingi kepala kedua orang pengawal itu, bahkan seluruh tubuhnya. Sekali-kali menyengat dan berdesing lagi semakin keras. 
Sementara itu, dilingkaran pertempuran yang lain, Sambi Wulung benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuannya. Perwira Jipang itu pun berkemampuan tinggi. Ia memiliki tenaga cadangan yang sangat besar, sehingga kekuatannya pun sering mengejutkan Sambi Wulung. 
Tetapi murid perguruan Guntur Geni itu ternyata memiliki bekal yang lebih rangkap. Pada saat-saat yang paling menentukan, Sambi Wulung telah menghentakkan tenaga cadangannya. Tidak saja melandasi kekuatannya yang menjadi bagaikan berlipat, tetapi tenaga cadangannya itu mampu mendorong pula kecepatannya bergerak. Sehingga dengan demikian, maka Sambi Wulung itu pun menjadi mampu bergerak semakin cepat. Sementara kekuatannya pun mampu mengimbangi kekuatan perwira Jipang yang telah mengerahkan tenaga cadangannya pula. 
Benturan-benturan kekuatan pun kemudian terjadi. Tetapi justru pada saat murid perguruan Guntur Geni itu mengeterapkan puncak kemampuannya dengan tenaga cadangannya, maka mulai nampak bahwa keseimbangan pun mulai berubah. 
Gandar yang sambil bertempur memperhatikan Sambi Wulung itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah cemas, bahwa hanya melawan seorang di antara dua puluh perwira Jipang yang berada di Tanah Perdikan Sembojan, Sambi Wulung akan mengalami kesulitan. (Bersambung)-m

 

Suramnya Bayang Bayang 399
Tanggal: Jumat, 25-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Tetapi kemampuan puncak Sambi Wulung ada pada pedangnya yang tidak dibawanya dalam kesempatan seperti ini,” berkata Gandar yang tahu bagaimana dahsyatnya kekuatan pedang yang bergabung dengan ilmu yang ada di dalam diri Sambi Wulung itu. Pedang yang pernah membentur kemampuan ilmu yang sulit dicari bandingnya yang ada di dalam diri Kiai Badra. 

Dengan demikian, maka perlahan-lahan Sambi Wulung dapat mendesak lawannya. Kecepatannya bergerak membuat lawannya menjadi bingung. Justru pada saat kemampuan lawannya yang dikerahkan dengan sepenuh tenaganya telah mulai surut. 
Perlahan-lahan tetapi pasti Sambi Wulung telah mendesak lawannya. Perwira yang terpilih dan dikirim oleh Jipang untuk menyusun pasukan yang kuat di Tanah Perdikan itu tidak mampu mengimbangi kecepatan gerak dan ketahanan kekuatan orang yang dianggapnya orang kebanyakan saja. 
Karena itulah, maka beberapa kali perwira dari Jipang itu harus meloncat surut. Loncatan-loncatan panjang Sambi Wulung kadang-kadang memang mengejutkannya, sehingga justru pada saat ia meloncat surut, Sambi Wulung memotongnya sambil mengayunkan tangannya mendatar. 
Tetapi perwira dari Jipang itu pun masih sempat pula menangkisnya. Dengan menekuk tangannya pada sikunya untuk melindungi wajahnya. 
Tangan Sambi Wulung yang terayun mendatar ke arah wajah perwira Jipang itu telah membentur tangan lawannya. Namun ternyata bahwa perwira Jipang itu harus meloncat surut sambil menyeringai menahan sakit. 
Tetapi Sambi Wulung tidak melepaskannya. Ia pun meloncat memburunya sambil menjulurkan kakinya ke arah lambung. 
Perwira Jipang itu masih harus meloncat surut lagi. Namun agaknya ia tidak lagi mempunyai kesempatan. Gerak Sambi Wulung rasa-rasanya menjadi semakin cepat justru pada saat geraknya sendiri mulai menjadi lamban. 
Karena itu, maka tidak ada jalan lain bagi perwira Jipang itu. Meskipun agak menyinggung harga diri namun perwira dari Jipang itu telah menarik pedang pendek sebagaimana pedang yang dibawa oleh para pengawal. 
Sambi Wulung tertegun sejenak. Ia mengurungkan niatnya untuk meloncat memburu. Seperti Gandar, maka ia tidak membawa senjata untuk menghadapi pedang pendek perwira dari Jipang itu. 
Karena itu, maka ia harus menghadapi pedang pendek itu hanya dengan kemampuannya bergerak cepat. 
Tetapi adalah tidak diduganya, bahwa tiba-tiba Jati Wulung bertanya, “He, kakang. Apakah kau memerlukan pedang pendek seperti yang dipakai oleh perwira Jipang itu?” 
Sambi Wulung termangu-mangu. Namun sebelum Sambi Wulung menjawab, Jati Wulung telah bergerak lebih dahulu. Dengan cepat ia mengayunkan jangetnya melampaui kesadaran orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang bertempur melawannya. Karena itulah, maka jangetnya telah melilit pergelangan tangan salah seorang di antara mereka. Satu hentakan telah membuat pengawal itu terkejut sekali. Tangannya yang terjerat itu terasa sakit sekali, sementara pedangnya bagaikan dihentakkan dan terlepas dari tangannya. 
Dengan cepat ia berusaha meloncat meraih pedangnya. Tetapi adalah diluar kemampuannya untuk menghindar dan menangkis ketika kaki Jati Wulung telah menghantamnya dan melemparkannya beberapa langkah. 
Pengawal yang lain pun berusaha untuk dengan cepat memburunya. Namun Jati Wulung bergerak lebih cepat. Jangetnya bergeletar dan tiba-tiba saja telah membelit kaki pengawal itu. Satu hentakan telah membuat pengawal itu terpelanting jatuh. Demikian kerasnya dan diluar dugaan, maka ternyata pedang pengawal itu telah menggores tubuhnya sendiri. 
Luka itu tidak begitu dalam, tetapi darah pun telah mengalir pula dari luka itu. 
Pada saat yang demikian, perwira Jipang itulah yang dengan tangkasnya telah menyerang Sambi Wulung. 
Tetapi Sambi Wulung tidak lengah. Ia pun mampu menghindar secepat datangnya serangan. Pedang yang terjulur sama sekali tidak menyentuh tubuhnya. (Bersambung)-m

 

Suramnya Bayang Bayang 400
Tanggal: Sabtu, 26-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Namun perwira dari Jipang itu tidak ingin memberi kesempatan kepada lawannya. Demikian serangannya gagal, maka dengan serta merta ia pun memutar pedangnya menyamping menyambar dada Sambi Wulung. 

Tetapi Sambi Wulung justru mempergunakan kesempatan itu untuk melenting mengambil jarak. Ia tidak ingin mendesak tanpa dapat mengambil ancang-ancang untuk memberikan perlawanan atas lawannya yang bersenjata pedang. 
Namun sementara itu terdengar suara Jati Wulung, “Jangan terlalu memberikan hati kepada-nya. Waktu kita tidak terlalu banyak. Kita tidak ingin terlalu lama berada disini.” 
Sambi Wulung berpaling sejenak. Pada kesempatan itulah, Jati Wulung telah melemparkan pedang yang berhasil dirampasnya dari lawannya. 
Dengan tangkas Sambi Wulung menangkap pedang itu. Tepat pada saat serangan datang, sehingga ia masih sempat melenting menghindar. 
Namun kemudian, ketika keduanya telah bersiap untuk bertempur kembali, keduanya telah sama-sama menggenggam pedang ditangan. 
Bagaimana pun juga perwira dari Jipang itu menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang yang berpakaian lusuh itu mempunyai kelebihan daripadanya. Karena itu, maka untuk selanjutnya ia harus mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan. 
Namun perwira dari Jipang itu tidak akan undur selangkah pun. Ia telah bertekad untuk menangkap orang itu. Apapun yang terjadi ia harus bertempur terus sebagaimana diajarkan pada jajaran prajurit Jipang. 
Tetapi ternyata bahwa Sambi Wulung pun tidak ingin pertempuran itu menjadi berkepanjangan. Jika datang lagi sekelompok pengawal yang lebih besar, atau satu di antara mereka sempat membunyikan isyarat kentongan yang terdapat disetiap gardu, maka akibatnya akan menjadi semakin sulit. Karena itu, maka ia pun telah mengerahkan kemampuannya bermain pedang meskipun ia tidak mempergunakan pedangnya sendiri. 
Pedang pendek yang merupakan ciri para pengawal di Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Putarannya berdesing menyambar-nyambar. Semakin lama semakin cepat, sehingga perwira dari Jipang yang kemampuannya mulai susut itu menjadi semakin gelisah, karena arah serangan Sambi Wulung yang semakin membingungkan. 
Sementara Sambi Wulung berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran itu, maka Gandar dan Jati Wulung telah kehilangan lawan-lawannya. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan itu sama sekali sudah tidak mampu melawan lagi. Ada di antara mereka yang berusaha untuk mencapai kudanya agar dapat memberikan isyarat kepada kawan-kawannya, tetapi bandul timah yang hanya sekecil buah kemiri itu telah mengenai mata kakinya, sehingga rasa-rasanya kakinya telah menjadi lumpuh. 
Keempat pengawal yang sudah tidak berdaya lagi itu hanya dapat menyaksikan pertempuran antara perwira Jipang dengan Sambi Wulung dengan jantung yang berdebar-debar. Mereka mengharap bahwa perwira Jipang itu akan dapat memenangkan pertempuran itu dan kemudian mampu mengalahkan kedua orang pengembara yang lain. (Bersambung)-m