Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Sabtu, 06-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 031

 "O," Wiradana pun termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian bertanya, "Dimana Kiai Badra?"

 "Ia pergi kesungai," suara gadis itu sendat. 

"Ke sungai?" ulang Wiradana. 

"Ya. Bersama kakang Gandar," jawab gadis itu pula masih sambil menundukkan kepalanya. 

Wiradana tidak bertanya lebih lanjut. Ia pun kemudian meninggalkan gandok itu dan melihat orang-orang yang terluka. Namun agaknya semua sudah mendapat perawatan sebaik-baiknya. Bahkan mereka yang terluka ringan, telah diantarkan kembali ke rumah masing-masing, sementara yang terluka agak berat, telah ditempatkan di serambi di rumah Ki Gede. Mereka akan berada ditempat itu agar pengobatan mereka dapat dilakukan secara teratur dan baik oleh Kiai Badra. 

Namun dalam pada itu, Wiradana juga tidak lengah. Ia memerintahkan para pengawal untuk tetap berjaga-jaga disetiap padukuhan. Di antara para perampok itu ada yang berhasil melari-kan diri. Karena itu, para pengawal masih harus selalu memperhitungkan kemungkinan pembalasan dendam. 

"Tetapi kita benar-benar telah menghancurkan mereka," berkata salah seorang di antara anak-anak muda Sembojan. 

"Ya. Tetapi mungkin mereka masih mempunyai kawan ditempat lain. Atau mereka bersama-sama dengan gerombolan-gerombolan lain datang untuk sekadar membalas sakit hati," sahut Wiradana. 

Anak-anak itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa kemungkinan yang demikian memang ada. Sehingga karena itu, maka setiap pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan telah mengatur penjagaan sebaik-baiknya. 

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Kiai Badra dan Gandar tidak pergi ke sungai sebagaimana yang dikatakan oleh cucunya, karena kepada cucunya ia memang mengatakan demikian. 

Tetapi Kiai Badra dan Gandar telah pergi ke hutan yang menjadi ajang pertempuran antara anak-anak muda Sembojan dengan para perampok itu. Bahkan Kiai Badra telah singgah dipadukuhan diujung Tanah Perdikan dan mengajak beberapa orang untuk pergi ke hutan itu. Terutama anak-anak mudanya. 

"Untuk apa?" bertanya orang-orang padukuhan itu. 

"Mayat-mayat yang terkapar ditempat itu masih belum dikuburkan," jawab Kiai Badra. 

"Bukankah Wiradana sudah mengatakan, bahwa kita tidak usah memperdulikannya?" bertanya salah seorang anak muda. 

"Tetapi jika benar-benar kita membiarkannya, maka yang paling parah terkena akibatnya adalah padukuhan ini. Padukuhan ini adalah padukuhan yang terdekat," berkata Kiai Badra. 

"Apakah mereka akan menjadi hantu? Dan kemudian mengganggu padukuhan ini?" bertanya orang-orang padukuhan itu. 

"Tidak. Bukan menjadi hantu. Tetapi jika tubuh itu membusuk, maka akan dapat menimbulkan berbagai penyakit yang akan dapat menjalar sampai padukuhan ini. Binatang-binatang kecil mungkin akan terbawa angin atau lalat yang beterbangan di padang perdu itu telah membawa bibit-bibit penyakit. Aku adalah orang yang menekuni berbagai penyakit dan penyebabnya," sahut Kiai Badra. 

Orang-orang di padukuhan kecil itu mulai berpikir. Sementara itu Kiai Badra berkata, "Penyakit menular itu tidak akan kalah mengerikan daripada kedatangan para perampok itu dimasa hidupnya. Bahkan penyakit menular tidak hanya akan memusuhi anak-anak muda dan orang-orang tua. Bukan hanya para pengawal dan bebahu padukuhan ini. Tetapi anak-anak pun akan mereka bunuh juga dengan kejamnya." 

Ternyata bahwa keterangan Kiai Badra itu dapat masuk ke dalam akal mereka. Karena itu, maka orang-orang padukuhan itu pun telah pergi bersama-sama dengan Kiai Badra dan Gandar sambil membawa cangkul dan alat-alat yang diperlukan ke hutan diseberang padang perdu.

(Bersambung)-m
Minggu, 07-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 032

 Hal itu akhirnya telah didengar pula oleh Wiradana. Karena itu, ketika malam turun di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana telah memanggil Kiai Badra untuk mendapat keterangan tentang usahanya menguburkan orang-orang dari gerombolan Kalamerta yang terbunuh.

 “Aku tidak sampai hati membiarkan hal itu terjadi ngger,” jawab Kiai Badra. “Tetapi yang lebih mencemaskan bagiku, adalah keselamatan padukuhan kecil itu sendiri. Angger dapat membayangkan, bahwa binatang buas akan dapat membawa mayat-mayat itu berserakan di dalam hutan. Atau karena hal yang lain, mayat-mayat yang membusuk akan dapat menumbuhkan penyakit mengerikan dan sulit untuk diatasi.” 

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Jika alasan Kiai bahwa hal itu Kiai lakukan demi keselamatan orang-orang Sembojan, maka aku tidak berkeberatan. Bahkan aku mengucapkan terima kasih atas usaha Kiai.” 

Kiai Badra tidak menjawab.Tetapi rasanya ada sesuatu yang kurang mapan di dalam hatinya. Meskipun demikian, Kiai Badra sama sekali tidak mengatakannya. 

Dalam pada itu, kehancuran gerombolan Kalamerta telah membuat kehidupan di Sembojan menjadi tenang kembali. Orang-orang Sembojan tidak lagi merasa dibayangi oleh kekuatan yang akan dapat mengejutkan mereka di malam hari. 

Namun dalam pada itu, keadaan Ki Gede masih saja mencemaskan. Bagaimanapun juga Kiai Badra berusaha, tetapi perkembangannya memang sangat lambat. Apalagi kaki Ki Gede yang seolah-olah telah lumpuh sama sekali. 

“Kiai,” berkata Ki Gede pada suatu hari, “Apapun yang terjadi atasku, akan aku terima dengan senang hati. Dengan melihat perkembangan pribadi Wiradana, maka rasa-rasanya tugasku memang sudah selesai.” 

“Ki Gede,” jawab Kiai Badra, “Aku masih akan berusaha. Menilik keadaannya, maka Ki Gede tidak akan mengalami kelumpuhan mutlak, meskipun kaki dan tangan Ki Gede tidak akan dapat pulih seperti sediakala. Namun setidaknya Ki Gede masih dapat berjalan sendiri dan berbuat sesuatu dengan tangan sendiri.” 

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara datar ia berkata, “Terima kasih Kiai. Ternyata yang Kiai lakukan jauh melampaui harapan.” 

“Itu sudah menjadi kewajibanku, Ki Gede,” jawab Kiai Badra. 

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Sebenarnya aku ingin mempersiapkan Kiai untuk tetap berada di Sembojan. Aku dapat membuat sebuah padepokan yang Kiai perlukan. Bukankah Kiai tidak meninggalkan seorang cantrik di padepokan Kiai? Gandar dan cucu Kiai sudah berada disini.”

Kiai Badra tersenyum. Namun kemudian katanya, “Terima kasih Ki Gede. Tetapi sebenarnyalah padepokan kecil itu rasa-rasanya sudah mengikat aku untuk tetap berada disana.” 

Ki Gede tidak menjawab. Tetapi yang ditanyakan kemudian adalah cucu Kiai Badra. 

“Apakah cucu Kiai itu krasan tinggal disini?” bertanya Ki Gede. 

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Pada mulanya ia hanya memberi aku waktu dua atau tiga hari. Tetapi ternyata ia betah tinggal disini. Apalagi ketika ia sudah mulai mengenal satu dua orang pembantu Ki Gede. Sekarang cucuku sudah sering berada di dapur.” 

“O,” Ki Gede pun tersenyum. “Tetapi jangan Kiai suruh anak itu bekerja. Kasihan. Biarlah ia tinggal di gandok.” 

Tetapi jawab Kiai Badra, “Anakku adalah gadis padepokan Ki Gede. Jika ia harus tinggal di gandok saja, maka ia akan benar-benar minta pulang. Biarlah ia bekerja. Justru di padepokan ia bekerja jauh lebih keras. Ia harus mencari kayu, mencari air dan bekerja sendiri di dapur.” 

“Kasihan anak itu,” desis Ki Gede. Namun hampir di luar sadarnya Ki Gede bertanya, “Tetapi Kiai, dimanakah ayah dan ibu anak itu?” (Bersambung)-m

 

Senin, 08-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 033

 KIAI Badra mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi buram. Nampak sesuatu terbayang di wajahnya itu.

 “Peristiwa itulah yang membuat aku lebih senang tinggal menyendiri Ki Gede,” jawab Kiai Badra dengan suara dalam. 

“Maaf Kiai,” berkata Ki Gede kemudian. “Aku tidak ingin membuat Kiai bersedih karena peristiwa yang telah terjadi.” 

“Tidak Ki Gede,” jawab Kiai Badra. “Yang terjadi itu memang sudah terjadi.” 

Ki Gede tidak bertanya lagi. Tetapi Kiai Badralah yang kemudian berceritera sendiri. “Suatu kecelakaan yang sulit diterima dengan nalar. Pada saat itu, cucuku baru berada di rumahku yang tidak jauh dari rumah anakku itu. Tiba-tiba rumah anakku itu terbakar dan anakku serta istrinya tidak sempat menyelamatkan diri. Mereka ikut terbakar di dalam rumah itu,” Kiai Badra itu berhenti sejenak. Lalu, “Bukankah sulit diterima nalar, bahwa dua orang yang sudah tua tidak mampu keluar dari api yang membakar rumahnya? Seandainya pintu rumah itu sudah terbakar, apakah mereka tidak dapat menerobos dinding bambu?”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Memang aneh. Dan apakah pintu rumahnya itu hanya ada satu?” 

“Ya. Itulah agaknya yang membuat aku menjadi sangat prihatin. Sehingga timbul dugaanku, bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak dapat kami duga sebelumnya. Mungkin satu permusuhan. Tetapi menurut pengamatanku, anakku suami istri adalah orang yang bergaul dengan wajar. Mereka tidak pernah bersikap bermusuhan dengan siapapun.” 

Ki Gede mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra meneruskan, “Karena itu, maka akupun telah mengambil satu keputusan untuk menyingkir. Memang ada perasaan takut, bahwa akupun akan dimusuhinya. Sementara itu aku telah merawat cucuku yang secara kebetulan tidak ada dirumahnya pada saat kebakaran itu.” 

“Kasihan anak itu,” desis Ki Gede. “Siapakah nama cucu Kiai itu?” Ia sudah berada disini beberapa hari. Tetapi aku masih belum mengetahui namanya.” 

“Ia anak padepokan,” jawab Kiai Badra. “Na-manya juga seburuk anak itu sendiri. Orang memanggilnya Endang Iswari.” 

“Bagus sekali,” sahut Ki Gede. “Namanya yang bagus. Jika tidak disebut dengan endang, maka orang tidak akan membayangkan bahwa ia adalah gadis padepokan.” 

“Nama yang asal saja menyebutnya,” jawab Ki Badra. 

“Kiai,” berkata Ki Gede kemudian, “Daripada cucu Kiai itu bekerja di dapur, maka biarlah ia membantu merawatku. Biarlah anak itu membawa minuman dan makananku. Biarlah aku mengenal anak yang malang itu semakin dekat. Aku tidak mempunyai anak perempuan Kiai.” 

“Ah,” desis Kiai Badra, “Anak itu adalah anak yang dungu dan bodoh. Mungkin Ki Gede akan kecewa jika Ki Gede mengenalnya lebih banyak.” 

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Biarlah ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan pribadinya dalam lingkungan yang lebih besar. Disini terdapat banyak orang, karena kebetulan aku adalah seorang pamong dari Tanah Perdikan. Dengan demikian maka hidupnya tidak terlalu terbatas pada sebuah padepokan kecil. Biarlah ia belajar bergaul dengan sesamanya, karena pada saatnya nanti, bekal itu akan sangat diperlukan.” 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia bergumam, “Aku tidak dapat meninggalkan padepokan kecil itu.” 

“Jika Kiai ingin kembali kelak, biarlah anak itu tinggal disini. Kiai akan dapat menengoknya kapan saja Kiai inginkan,” berkata Ki Gede. 

“Dan aku akan selalu sepi tanpa cucuku itu,” berkata Kiai Badra. 

“Maaf Kiai, tetapi sebaiknya Kiai jangan terlalu mementingkan diri sendiri,” berkata Ki Gede Sembojan. “Berilah cucu Kiai itu kesempatan.” (Bersambung)-o

 

Selasa, 09-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 034

 Kiai Badra termangu-mangu. Namun katanya, “Dalam beberapa hari ini biarlah ia melakukan sebagaimana Ki Gede kehendaki. Tetapi jika Ki Gede kecewa, sebaiknya Ki Gede berterus terang.”


Ki Gede tersenyum. Sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Baiklah. Tetapi seandainya cucu Kiai itu masih belum dapat melakukannya dengan baik, maka ia masih mempunyai kesempatan untuk belajar.” 

Dengan demikian, maka dihari-hari berikutnya, cucu Kiai Badra itu mendapat tugas untuk melayani Ki Gede yang sedang sakit. Dengan cekatan, Iswari menyediakan minuman dan makan Ki Gede pada saatnya. Sementara Gandar masih juga merawatnya dengan sungguh-sungguh, sedang Kiai Badra dengan tekun berusaha untuk mengurangi kelumpuhan pada kaki dan tangan Ki Gede. 

Ternyata bahwa usaha Kiai Badra itu tidak sia-sia. Sedikit demi sedikit, kaki dan tangan Kia Gede itu pun telah mampu digerakkan. Kekuatan racun yang mencengkam dengan garangnya dengan menumbuhkan beberapa kerusakan pada jaringan tubuh, lambat laun dapat diatasi meskipun tidak akan mampu memulihkannya. 

Namun dengan demikian, justru Kiai Badra tidak dapat beringsut sama sekali dari Tanah Perdikan Sembojan. Dengan sangat Ki Gede minta agar Kiai Badra tetap tinggal sampai puncak usahanya. 

“Jika sudah sampai pada batas yang dapat dicapai, apa boleh buat,” berkata Ki Gede kepada Kiai Badra. 

Namun dalam pada itu, Ki Gede justru menjadi semakin tertarik kepada cucu Kiai Badra. Ki Gede merasa, bahwa ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah dewasa. Sementara itu, cucu Kiai Badra itu pun telah menginjak usia dewasa pula bagi seorang gadis. Bahkan ternyata kemudian, bahwa Endang Iswari bukannya seorang gadis yang dungu. Ia memiliki kelebihan dari gadis-gadis lain di Tanah Perdikan itu. 

Ketika Ki Gede melihat Iswari memperhatikan huruf-huruf pada sarung pedang yang tergantung didinding dengan tidak sengaja telah menanyakan apakah Iswari dapat membaca. Maka sambil menundukkan kepalanya gadis itu berkata, “Ayah mengajariku untuk membaca. Tetapi aku belum pandai.” 

“Seandainya aku memberimu sebuah kidung yang tertulis di atas rontal, apakah kau dapat membacanya?” bertanya Ki Gede. 

Gadis itu hanya menunduk saja. Namun dari sorot di wajahnya Ki Gede menangkap pengakuan, bahwa serba sedikit, gadis itu akan dapat membacanya. 

Demikianlah ketika malam mulai turun, Ki Gede telah memanggil Kiai Badra untuk datang ke dalam biliknya. Dengan senyum dibibirnya ia berkata, “Kiai. Dalam kegelisahan ini, rasa-rasanya aku ingin sesuatu yang dapat membuat jiwaku menjadi segar. Kiai sudah berhasil merawat tubuhku sehingga harapan-harapan baru telah tumbuh. Namun, apakah Kiai sependapat, jika malam ini aku minta Iswari untuk membaca sebuah kidung bagiku?” 

“Membaca kidung?” ulang Kiai Badra. “Cucuku adalah seorang gadis yang bodoh.” 

Tetapi Ki Gede tertawa. Katanya, “Meskipun ia tidak mengatakannya, tetapi aku tahu, bahwa Kiai sudah mengajari cucu Kiai membaca dan menulis. Sungguh satu kelebihan bagi seorang gadis.” 

Kiai Badra tidak menjawab, tetapi tampak senyum di sela-sela bibirnya. 

Karena itu, maka Ki Gede pun kemudian minta Iswari untuk membaca sebuah cerita yang tertulis pada setumpuk rontal yang ada di sisi pembaringannya. 

Semula Iswari menolak. Tetapi akhirnya gadis itu pun telah mencobanya juga membaca kidung dalam tembang yang mengalun disepinya malam, ditunggui oleh ayahnya. 

Ternyata bahwa suara itu telah menyusup di sela-sela dinding dan menyentuh telinga anak-anak muda yang sedang bertugas di luar. Beberapa orang anak muda yang sedang duduk digardu di dekat regol halaman pun mulai tergelitik hatinya mendengar tembang yang menggetarkan udara malam yang dingin.

 

 

 

 Banner 10000004

 

 Rabu, 10-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 035

 SEMENTARA itu, di dalam bilik yang lain, Wiradana pun mendengar suara tembang itu. Hampir di luar sadarnya ia pun bangkit dari pembaringannya. Jelas terdengar olehnya, bahwa suara tembang itu berasal dari bilik ayahnya.

 Dengan hati-hati Wiradana keluar dari biliknya. Hampir berjingkat ia mendekati pintu bilik ayahnya. Sementara di antara suara tembang yang merdu ia mendengar ayahnya kadang-kadang berbicara dengan Kiai Badra tentang makna isi tembang itu. 

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu telah bergejolak di dalam hatinya. Ia jarang-jarang bertemu dengan cucu Kiai Badra itu. Karena itu, ia jarang memperhatikannya. Namun ketika telinganya menangkap suara tembang itu ia mulai membayangkan, betapa lembutnya wajah cucu Kiai Badra. 

“Wajah itu memang tidak cantik sekali,” gumam Wiradana di dalam hati tetapi kelembutan yang terpancar dari wajah itu membayangkan betapa lembut pula hatinya. Apalagi ketika terdengar suaranya dalam nada tembang yang menawan.” 

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian kepada diri sendiri pula, “Anak itu ternyata anak yang pandai. Ia mampu membaca kitab itu.” 

Untuk beberapa saat Wiradana mendengarkan suara tembang itu. Namun akhirnya seakan-akan ada sesuatu yang memaksanya untuk masuk ke dalam bilik ayahnya itu. 

Namun ketika bilik itu terbuka, dan Wiradana masuk dari bilik pintu, dengan serta merta, cucu Kiai Badra itu pun telah berhenti. Kepalanya menunduk dalam-dalam, sehingga malampun menjadi hening sepi. 

“O, kau Wiradana,” sapa Ki Gede. 

“Aku mendengar suara tembang,” desis Wiradana. 

“Gadis itulah yang sedang membaca,” jawab Ki Gede, “Ternyata ia adalah gadis yang pandai dan suaranyapun jernih sekali. Aku sedang mendengar ia melagukan tembang itu.” 

Wiradana pun tiba-tiba saja jadi bingung. Apalagi yang akan dikatakannya kepada ayahnya. Sekilas ia memandang gadis itu. Tetapi gadis itu tetap menunduk dalam-dalam. 

Namun akhirnya ia berkata, “Ah, biarlah ia membaca terus. Aku akan mendengarkan diluar saja.” 

Wiradana tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian melangkah surut sambil menutup pintu bilik ayahnya kembali. 

Namun dalam pada itu, Iswari tidak lagi berminat untuk membaca. Ketika ia sempat memandang ayahnya, maka nampak sorot matanya, bahwa gadis itu tidak ingin lagi meneruskannya. 

Karena itu, maka Kiai Badra pun justru bertanya kepadanya, “Bagaimana Wari? Apakah kau masih akan meneruskannya?” 

Iswari menggeleng lemah. Tetapi ia tidak menjawab.
 

 

 

 

 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

 Kamis, 11-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 036

 Ki Gede tertawa pendek. Ia mengenal sifat gadis-gadis.Agaknya cucu Kiai Badra itu pun menjadi malu karenanya. Dengan demikian, maka sulit baginya untuk mulai lagi membaca kelanjutan ceritera yang sebenarnya menarik itu.

 “Baiklah,” berkata Ki Gede, “Sebenarnya aku senang sekali kau membaca untukku. Suaramu jernih dan landung. Las-lasan dan dengan greget yang mapan.” 

“Ah. Ki Gede terlalu memuji,” sahut Kiai Badra. 

“Aku berkata sebenarnya. Biarlah Iswari sering membaca untukku. Bukan saja dapat membuat hatiku semakin cerah. Tetapi hal itu penting bagi Iswari sendiri. Ia menjadi semakin lancar membaca dan suaranya akan menjadi semakin matang,” jawab Ki Gede. 

Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi ia pun tertawa pula. 

Namun dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian minta diri untuk kembali ke gandok bersama anak gadisnya. Agaknya gadis itu telah mengantuk pula. 

Demikianlah, pada hari-hari tertentu, Ki Gede minta Iswari untuk membaca buatnya. Mula-mula Kiai Badra masih harus menungguinya sambil mengamati keadaan Ki Gede yang menjadi semakin baik pula. Namun kemudian Iswari itu menjadi semakin berani. Ia sudah mau membaca ceritera sendiri di bilik Ki Gede Sembojan. 

Sebenarnyalah sikap Ki Gede pun terasa sangat baik kepada gadis itu. Gadis yang telah kehilangan ayah dan ibunya itu, merasa seakan-akan ia menemukan ayahnya yang baru. Ki Gede bukan saja mendengarkan Iswari membaca. Tetapi kadang-kadang Ki Gede masih harus membetulkan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Iswari. Bahkan kadang-kadang kalimat-kalimat dalam tembang yang dibacanya, sehingga lancar membaca tetapi ia pun menyadap pengertian-pengertian yang tersirat dari kita yang dibacanya. Mirip sekali sebagaimana dilakukan oleh kakeknya jika kakeknya itu sedang mengajarnya membaca dan mengerti arti dan makna dari bacaannya itu. 

Namun dalam pada itu, ternyata Iswari tidak saja pandai membaca ceritera dalam ungkapan tembang yang merdu. Tetapi ternyata Iswari pandai juga bermain rinding. Dengan alat yang sederhana itu ia dapat melahirkan lagu-lagu yang dapat menyentuh hati. 

Dengan demikian, maka rasa-rasanya Ki Gede menjadi semakin dekat dengan gadis itu. Bahkan, di dalam angan-angannya Ki Gede mulai membayangkan, bahwa gadis itu akan dapat diambilnya menjadi menantunya. 

Tetapi Ki Gede tidak dapat mengambil keputusan itu sendiri. Karena itu, maka ia sudah berniat untuk berbicara dengan Wiradana, apakah Wiradana sependapat jika Ki Gede berniat untuk mempertemukan Wiradana dengan gadis itu. 

Untuk membicarakan hal itulah, maka Ki Gede telah memanggil Wiradana. Ketika Wiradana memasuki biliknya, wajah anak muda itu berubah menjadi cerah. Ternyata ayahnya tidak lagi berbaring saja di pembaringannya. Tetapi Ki Gede itu sudah duduk di bibir pembaringannya itu. 

“Ayah,” desis Wiradana. 

“Ya Wiradana. Aku sedang mencoba untuk duduk. Semalam Kiai Badra menolong aku bangkit. Kemudian aku telah dimintanya untuk mencoba dan mencoba bangkit. Ternyata bahwa pagi tadi aku sudah berhasil untuk bangkit sendiri dan duduk, meskipun aku belum dapat berbuat apa-apa selain duduk ini,” berkata ayahnya. 

“Tetapi bukankah hal itu sudah merupakan suatu kemajuan yang sangat menggembirakan dan memberikan harapan-harapan,” jawab Wiradana. 

“Ya. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Kiai Badra, bahwa kaki dan tanganku terutama, tidak akan dapat pulih seperti semula. Meskipun barangkali aku akan dapat berjalan lagi dan tanganku dapat aku pergunakan, namun tidak akan seperti sebelum jaringan tubuhku dirusakkan oleh racun keris Kalamerta itu,” berkata Ki Gede.
(Bersambung)-o
 

 

 

 VirusAlert_468x60


Jumat, 12-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 037

 “Ayah dapat minta kepada Kiai Badra untuk berbuat apa saja agar keadaan ayah dapat pulih kembali. Ayah dapat menawarkan upah berapa saja yang diminta,” berkata Wiradana.

 “O,” Ki Gede mengerutkan keningnya, “Jangan salah menilai orang tua itu. Ia berbuat tanpa pamrih sama sekali. Ia tidak akan mau menerima apapun yang akan aku berikan kepadanya.” 

“Ah, apakah begitu ayah? Ia memang seorang dukun. Karena itu mengobati orang adalah pekerjaannya. Ia hidup dari pekerjaan itu. Jika orang yang diobatinya tidak memberikan upah kepadanya, maka ia tidak akan dapat membiayai hidupnya dengan cucu serta seorang cantriknya itu,” jawab Wiradana. 

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan berprasangka begitu dangkal terhadap dukun yang satu ini. Ia bukan orang yang menjajakan jasanya untuk mendapatkan sedikit upah buat hidupnya. Agaknya ia memang orang lain dari orang-orang yang kau sebutkan itu. Karena itu, maka duduklah. Barangkali aku dapat berbicara agak panjang.” 

Wiradana pun kemudian duduk dipembaringan disisi ayahnya. Sementara itu Ki Gede berkata, “Wiradana. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu.” 

Wiradana termangu-mangu. Rasa-rasanya ayahnya memang ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadanya. 

Tetapi untuk beberapa saat Ki Gede tidak mengatakan sesuatu. Memang ada keseganan Ki Gede untuk mengatakannya berterus terang. Seandainya anaknya menerimanya apakah gadis itu bersedia. Dan apakah Kiai Badra dapat menyetujuinya. 

Namun akhirnya Ki Gede memutuskan untuk menanyakannya lebih dahulu kepada Wiradana, kalau Wiradana bersedia, baru Ki Gede akan membicarakannya dengan Kiai Badra. 

Demikianlah, betapapun beratnya, maka Ki Gede pun telah mengatakan niatnya kepada Wiradana. Bahwa ia ingin melihat Wiradana dapat hidup bersama dengan cucu Kiai Badra. 

“Aku sangat berhutang budi kepada Kiai Badra,” berkata Ki Gede. “Namun aku pun mengerti, bahwa dasar hidup bersama bukanlah sekadar membalas budi. Tetapi harus ada keserasian perasaan dan nalar dari kedua orang yang ingin mempertautkan hidupnya. Karena itu, aku bertanya kepadamu. Kau mempunyai kesempatan untuk merenungkan. Dan aku memang tidak ingin kau menjawab sekarang.” 

Wiradana menundukkan kepalanya. Di luar sadarnya ia mulai membayangkan gadis yang bernama Iswari, cucu Kiai Badra itu. Seorang gadis yang sederhana tetapi mempunyai kecerdikan alamiah. Bahkan kakeknya telah mengajarinya membaca dan melagukan kidung-kidung yang merdu. Bermain rinding dan ketrampilan bekerja melampaui perempuan-perempuan lain yang ada dirumah itu. Bukan saja bekerja di dapur dan membersihkan isi rumah, tetapi gadis itu trampil juga bekerja yang lebih berat lagi. Mengambil air, menumbuk padi dan dipagi-pagi benar menyapu halaman. 

“Pikirkanlah anakku,” berkata Ki Gede. “Tetapi segalanya terserah kepadamu. Kau dapat mempertimbangkan banyak hal. Tetapi kau harus lebih banyak melihat masa depanmu sendiri.” 

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memikirkannya ayah. Aku mengerti kenapa ayah mengusulkan hal itu. Meskipun demikian aku ingin mengenal gadis itu lebih banyak lagi.” 

“Lakukanlah yang baik menurut pertimbanganmu. Aku akan menahan Kiai Badra untuk tinggal disini beberapa saat lagi, sementara kau sudah dapat mengambil satu keputusan,” berkata Ki Gede. “Namun dalam pada itu, aku sama sekali masih belum berhubungan dengan Kiai Badra untuk membicarakan persoalan ini. Baru jika kau setuju aku akan mulai merintis pembicaraan, agar tidak menimbulkan salah paham.”
(Bersambung)-m

 

Sabtu, 13-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : Suramnya Bayang - Bayang 038

 Wiradana mengangguk-angguk pula. Jawabnya, "Baiklah ayah. Aku minta waktu beberapa hari."  Ketika kemudian Wiradana itu meninggalkan bilik ayahnya, maka pikirannya selalu saja dipengaruhi oleh keinginan ayahnya. Wiradana mengerti, bahwa Kiai Badra sudah berhasil menolong jiwa ayahnya. Tetapi seperti yang dikatakan ayahnya, jika ia mengambil keputusan untuk menerima keinginan ayahnya, dasar utamanya bukanlah sekadar membalas budi.

 Tetapi ternyata bahwa hal itulah yang lebih tebal menyelubungi perasaannya. Bagaimanapun juga, ayahnya telah berhutang budi kepada seorang yang bernama Kiai Badra itu, terikat pada suatu keadaan yang sulit untuk dilupakan Ayahnya itu. 

Dihari-hari berikutnya. Wiradana mulai memperhatikan Iswari dengan sungguh-sungguh, meskipun ia tetap memelihara jarak agar Iswari sendiri tidak mengetahuinya. Hampir semua sikap dan tingkah lakunya tidak terlepas dari pengamatan Wiradana. 

Namun kebimbangan masih saja menyelubungi hati anak muda itu. Sebagai seorang anak Kepala Tanah Perdikan, maka ia mempunyai kesempatan untuk menggantikan kedudukan ayahnya karena ia memang tidak mempunyai seorang pun saudara yang akan dapat memperkecil kesempatan itu. Karena itu, maka segalanya selalu dihubungkannya dengan kedudukan yang kelak akan diterimanya sebagai warisan itu. 

"Apakah gadis itu pantas menjadi isteri Kepala Tanah Perdikan," berkata Wiradana di dalam hatinya. "Ia terlalu sederhana. Kehidupan padepokan telah membentuknya menjadi gadis lugu dan nampaknya sedikit dungu, meskipun ia dapat membaca, menulis dan bahkan melagukan kidung-kidung pujian. Ia terlalu terbiasa bekerja keras. Mengambil air untuk mengisi jambangan, menumbuk padi dan kerja-kerja yang lain meskipun beberapa orang sudah berusaha mencegahnya. Tetapi hal yang demikian akan menguntungkan kedudukannya sebagai seorang istri Kepala Tanah Perdikan yang besar? Apakah hal itu tidak akan mengurangi wibawaku kelak?" 

Demikianlah, berhari-hari Wiradana membuat pertimbangan-pertimbangan yang kadang-kadang justru membingungkan. 

Namun lambat laun ia berhasil melihat kelebihan gadis itu. Gadis itu memang gadis yang cekatan meskipun pendiam. Cepat mengambil keputusan dalam keadaan yang memerlukan. Sifat yang nampaknya lugu itu ternyata adalah ujud dari sikapnya yang jujur, sementara ia sama sekali bukan gadis yang dungu seperti yang nampak pada ujud lahiriahnya. 

Dari hari kehari, Wiradana berhasil melihat kelebihan gadis itu dari gadis-gadis sebayanya. Jarang sekali seorang gadis yang mendapat kesempatan untuk dapat membaca dan menulis. Mengenali kitab-kitab yang berisi ceritera tentang para pahlawan, nasehat tentang kebaikan budi dan kidung pujian bagi Yang Maha Agung. 

Diberati pula dengan perasaan berhutang budi, maka ketika kemudian Wiradana menghadap ayahnya, maka ia pun berkata, "Ayah. Aku telah membuat pertimbangan-pertimbangan. Agaknya gadis itu memang mempunyai beberapa kelebihan dari perempuan-perempuan lain ayah." 

"Jadi kau tidak keberatan jika aku melamar gadis itu kepada kakeknya?" bertanya Ki Gede. 

"Terserahlah kepada ayah," jawab Wiradana. 

"Jangan berkata begitu. Jangan menyerahkan persoalan yang menyangkut masa depanmu sepenuhnya kepada ayah," berkata Ki Gede. 

"Baiklah," jawab Wiradana. "Aku dapat menerimanya. Namun bukankah segalanya masih tergantung juga kepada gadis itu sendiri?" 

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, "Aku akan berbicara dengan Kiai Badra. Mudah-mudahan tidak akan timbul masalah." 

Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan bilik ayahnya. (

 

 affinity468x60_7

 

Minggu, 14-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 039

 Ki Gede yang berbaring dipembaringannya tersenyum sendiri. Rasa-rasanya ia sudah melihat secercah cahaya yang menerangi Tanah Perdikannya bagi hari hari depan. Wiradana, anaknya satu-satunya akan mendapat seorang istri yang rajin, trampil, dan mempunyai kepandaian yang jarang dimiliki oleh kebanyakan perempuan.

 Ketika hal itu disampaikan kepada Kiai Badra pada satu kesempatan, maka terasa sesuatu membayangi kejernihan sorot mata Kiai Badra. Satu hal yang tidak terduga oleh Ki Gede. Ia berharap bahwa keinginannya itu akan disambut dengan gembira oleh orang tua itu. 

“Bagaimana pendapat Kiai Badra?” bertanya Ki Gede. 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya tidak pasti. “Ki Gede. Segala sesuatunya tergantung kepada cucuku itu. Aku akan menyampaikannya. Dan ia akan mengambil satu keputusan. Namun aku sebagai kakeknya, mengucapkan terima kasih yang tidak dapat aku gambarkan betapa besarnya, karena perhatian Ki Gede terhadap cucuku. Seorang anak padepokan yang bodoh dan malas.” 

“Jangan terlalu merendahkan diri Kiai. Aku tahu, cucu Kiai adalah seorang gadis yang pandai dan yang membuatnya nampak bodoh adalah justru kejujurannya,” jawab Ki Gede. Tetapi kemudian, “Namun demikian, segalanya memang tergantung kepada anak itu sendiri. Aku hanya berharap, agar keinginanku ini tidak tersia-siakan.” 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia telah menerima beban yang sangat berat. 

Karena itu, maka sejenak kemudian, ia pun telah mohon diri. Katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan cucuku Ki Gede.” 

“Silakan Kiai. Aku menggantungkan harapan kepada usaha Kiai meyakinkan cucu Kiai itu,” jawab Ki Gede. 

Dengan kepala tunduk, Kiai Badra pun kemudian meninggalkan bilik Ki Gede kembali ke gandok. Ketika ia membuka pintu biliknya, dilihatnya Gandar masih duduk merenungi jari-jari tangannya yang dikembangkannya. 

Tetapi demikian pintu berderit, ia pun segera bangkit dan menarik nafas dalam-dalam. 

“Nampaknya ada sesuatu yang penting Kiai?” bertanya Gandar. 

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Penting sekali.” 

“Apakah ada tanda-tanda bahwa gerombolan itu bangkit kembali dan akan menyerang Tanah Perdikan ini?” bertanya Gandar pula. 

Kiai Badra menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Bukan soal gerombolan itu lagi. Bukan pula tentang penyakit Ki Gede yang semakin baik. Tetapi persoalannya menyangkut hubungan antara aku dan Ki Gede.” 

“Maksud Kiai?” desak Gandar. 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Gandar. Aku sebenarnya memang ingin mempertimbangkanmu sebelum aku menyampaikannya kepada adikmu.” 

Wajah Gandar menjadi tegang. Tetapi kesan itu pun sejenak kemudian telah lenyap dari wajahnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah ada persoalan yang menyangkut pribadi Kiai?” 

“Ya Gandar,” jawab Kiai Badra. 

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Keduanya yang kemudian duduk di amben kayu nampak menjadi bersungguh-sungguh. 

“Gandar,” berkata Kiai Badra kemudian, “Sebenarnyalah bahwa Ki Gede menaruh minat terhadap adikmu untuk diambilnya menjadi menantu.” 

Terasa sesuatu bergejolak di dalam jantung Gandar. Tetapi seperti semula, semua kesan itu tidak nampak di sorot matanya. Bahkan ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Satu penghargaan yang sangat tinggi.” (Bersambung)-m

 

 Senin, 15-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 040

 “Itulah yang aku cemaskan Gandar. Hal ini dilakukan oleh Ki Gede justru karena aku telah mengobatinya. Mungkin Ki Gede merasa bahwa aku telah menyelamatkan jiwanya. Padahal yang aku lakukan bukan apa-apa. Aku hanya sebagai lantaran. Jika ia menghargai aku terlalu tinggi maka akibatnya akan kurang baik bagi Iswari sendiri. Apalagi jika angger Wiradana akan menerimanya dengan agak terpaksa,” berkata Kiai Badra dengan wajah yang muram. 
Gandar mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Ki Gede tentu sudah mempertimbangkannya dari segala segi. Ki Gede pun tentu sudah membicarakannya dengan Wiradana. Bahkan mungkin permintaan ini datang dari Wiradana sendiri setelah ia mengenal Iswari lebih dekat.” 
Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia pun bertanya, “Bagaimana pendapatmu Gandar. Sebelum aku menyampaikannya kepada adikmu.”

“Jika Iswari setuju, maka tentu tidak akan ada keberatannya Kiai. Bukankah Wiradana pada saatnya akan menggantikan kedudukan ayahnya menjadi seorang Kepala Tanah perdikan yang cukup besar?” 

Kiai Badra memandang wajah Gandar sejenak. Seolah-olah ia ingin membaca isi hatinya. Tetapi ia tidak melihat kesan apapun pada orang itu. 

Bahkan Gandar pun kemudian berkata, “Bukankah dengan demikian Kiai akan dapat menanggalkan satu beban? Gadis itu memang merupakan beban bagi Kiai. Jika ia sudah mendapat tempat yang baik, maka sebaiknya Kiai melepaskannya.” 

“Tempat yang baik itulah yang aku sangsikan,” jawab Kiai Badra. 

“Kiai terlalu berprasangka,” jawab Gandar. 

“Gandar, adikmu adalah anak yang dungu. Kurang mempunyai wawasan terhadap lingkungan, justru ia cukup lama hidup dalam dunia terpisah. Ia mengenal masyarakat dari satu jarak, sehingga ia tidak masuk ke dalamnya,” berkata Kiai Badra kemudian. 

“Tidak Kiai. Meskipun Iswari tinggal di padepokan terpencil, tetapi ia bergaul dengan sesamanya. Ia sering pergi ke pasar untuk menjual hasil tanah kita. Ia mempunyai beberapa orang kawan gadis-gadis padukuhan yang sering bergurau bersamanya di sungai ketika mereka sedang mencuci,” sahut Gandar. 

“Tetapi Iswari tidak melihat kehidupan yang utuh dari satu lingkungan. Ia melihat orang-orang yang berada di pasar. Ia bergurau dan bergembira bersama dengan kawan-kawannya di sungai. Tetapi ia tidak melihat kesulitan, kesedihan disamping kegembiraan pada persoalan-persoalan hidup yang lain dari satu lingkungan keluarga. Ia tidak melihat masalah-masalah yang dapat timbul. Kelaparan, kekerasan, perselisihan dan bahkan kekuasaan. Ia tidak pernah mengalami bencana kekeringan karena kemarau yang panjang atau banjir di musim hujan. Padepokan kita yang terpencil itu bukan satu gambaran yang utuh kelak ia menjadi istri seorang Kepala Tanah Perdikan, maka bekal pengalamannya atas rakyatnya akan sangat miskin,” berkata Kiai Badra kemudian. 

(Bersambung)-o

 

 spiral_laptop

 



 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 14/VI/2002

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 & (021) 5601215
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant