Tersedia Keladi Tikus (Rodent Tuber) hubungi ibu Erni di 0812 802 5102 atai (021) 5671778

Gajahsora.Net

 

  

 

 

 

 

Sejak Juni 2002 diambil dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta http://kr.co.id

Jumat, 27 Juni 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 381 

Suramnya Bayang Bayang 381
Tanggal: Senin, 07-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Warsi yang hadir juga dalam pertemuan itu pun menjadi berdebar-debar. Tetapi ia masih tetap menahan diri untuk tidak dengan serta merta menyatakan diri untuk berbuat sesuatu, sebagaimana dinasihatkan oleh kakeknya. 

Sementara itu, Ki Wiradana pun berkata, “Kita dapat melakukan bersama-sama. Kita membentuk pasukan tempur yang kuat sebagaimana dikehendaki, bukan sekadar pasukan pengawal, sekaligus membersihkan kerusuhan-kerusuhan yang ada di dalam lingkungan Tanah Perdikan ini. Para pengawal di padukuhan-padukuhan pun telah meningkat pula kemampuan mereka sehingga mereka bukan lagi sekadar orang-orang yang hanya dapat menjaga gardu di malam hari.” 
Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya, “Memang itu adalah jalan yang paling dekat yang dapat ditempuh. Dan kita akan menempuh jalan itu. Sampai sekarang Ki Wiradana masih menolak uluran tangan para perwira untuk membantunya membersihkan Tanah Perdikan ini dari kegelisahan itu. Dan itu aku hargai sebagai satu langkah yang bijaksana dan atas dasar harga diri. Namun jika keadaan memaksa, maka aku kira tidak ada salahnya jika para perwira itu ikut pula membantunya. Tentu akan dapat juga dilakukan oleh para pengawal khusus yang sudah terlatih. Tetapi dengan para perwira yang jauh lebih berpengalaman itu, tidak akan nampak terlalu banyak orang yang meronda di malam hari, sehingga tidak akan menimbulkan kegelisahan di antara orang-orang Tanah Perdikan ini.” 
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya beberapa orang pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu. Namun kemudian katanya, “Baiklah Ki Rangga. Aku akan memikirkannya. Mungkin pada saat tertentu aku juga akan memerlukan bantuan. Namun maksudku menghindari kemungkinan pengamatan orang lain atas kehadiran para perwira dari Jipang itu, sebagaimana rencana kita untuk menyusun satu pasukan tempur yang kuat, tetapi tidak dengan terbuka.” 
Ki Rangga mengangguk-angguk. Kemudian katanya kepada Ki Randukeling, “Kita sudah dapat mulai melangkah. Tetapi bagaimana pendapat Ki Randukeling?” 
“Aku sependapat dengan isi pembicaraan ini. Tetapi aku pun sependapat dengan Wiradana, bahwa untuk sementara biarkan saja Tanah Perdikan ini membersihkan diri sendiri tanpa bantuan para perwira dari Jipang untuk tetap menegakkan wibawa para pemimpin dan pengawal Tanah Perdikan ini. Jika perlu biarlah aku, Ki Saudagar dan ayah Wiradana sajalah yang membantu membersihkan Tanah Perdikan ini. Baru jika keadaan sangat memaksa, kami akan berhubungan dengan para perwira dari Jipang,” sahut Ki Randukeling. 
Ki Rangga Gupita mengangguk. Kemudian katanya, “Baiklah. Kita akan melihat perkembangan keadaan di Tanah Perdikan ini, sementara kita juga menunggu perkembangan yang terjadi di Demak.” 
Dengan demikian, maka Ki Wiradana merasa bahwa tugasnya menjadi semakin berat. Tetapi ia masih menghargai para perwira dari Jipang yang tetap menghargai kepemimpinannya. 
“Sikap yang tentu tidak dimiliki oleh para perwira Pajang,” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya. 
Namun dalam pada itu, Warsi yang memperhatikan pembicaraan itu, meskipun ia sama sekali tidak mencampurinya sebagaimana biasa dilakukannya, seolah-olah ia tidak lebih dari seorang istri yang setia dan tidak mempunyai keinginan untuk melampaui langkah yang dilakukan oleh suaminya, diluar sadarnya telah memperbandingkan kedua orang yang masih sama-sama muda. Suaminya, Ki Wiradana pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan di Sembojan, dengan Ki Rangga Gupita, seorang perwira Jipang dalam tugas sandi di Tanah Perdikan Sembojan. 
Sama sekali diluar keinginannya bahwa kemudian Warsi menilai keduanya. Namun yang dilihatnya adalah justru kelebihan pada Rangga Gupita. Baik seorang prajurit dan pemimpin maupun wujudnya sebagai orang muda. 
Tetapi angan-angan itu pecah ketika Warsi mendengar anaknya menangis. Anak laki-laki yang lahir dari perkawinannya dengan Ki Wiradana yang sudah melepaskan korban istri Ki Wiradana yang bernama Iswari.(Bersambung)-k

 

Suramnya Bayang Bayang 382
Tanggal: Selasa, 08-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Dengan demikian maka Warsi pun meninggalkan pertemuan itu untuk pergi ke biliknya. Dilihatnya anak laki-lakinya yang lahir dalam keadaan sehat itu menangis ketika ia terbangun dari tidurnya. 

Sementara itu pertemuan di pendapa itu masih berlangsung sesaat. Karena sebentar kemudian, pertemuan itu pun telah dianggap cukup. 
Namun Warsi yang baru berbaring disisi anaknya terkejut ketika ia mendengar suara di depan biliknya. 
“Silakah menunggu sebentar,” terdengar suara suaminya. 
Sejenak kemudian, pintu bilik itu pun telah terbuka. Suaminya melangkah masuk sambil menutup pintu itu kembali. 
Warsi yang kemudian bangkit itu pun bertanya, “Ada apa kakang?” 
“Tidak apa-apa Warsi. Sekadar ingin melihat anakmu,” jawab Ki Wiradana. 
“Siapa?” bertanya Warsi. 
“Ki Rangga Gupita,” jawab Wiradana. 
Tanpa diketahui sebabnya, Warsi menjadi berdebar-debar. Namun ia pun kemudian membenahi pakaiannya sambil berkata, “Biarlah aku bawa anak kita keluar. Bilik ini terlalu kotor.” 
Warsi pun kemudian membawa anaknya ke luar pintu biliknya. 
Sebenarnya telah menunggu di ruang dalam Ki Rangga dan Ki Randukeling. Demikian Warsi keluar sambil mengemban anaknya, maka Ki Rangga pun tersenyum sambil melangkah mendekat. 
“Begitu cepat besar,” berkata Ki Rangga. 
Warsi masih saja berdebar-debar. Apalagi ketika Ki Rangga itu kemudian semakin mendekatinya sambil menyentuh bayinya. 
“Gagah seperti ayahnya,” desis Ki Rangga. “Besok tentu akan menjadi seorang laki-laki pilihan seperti ayahnya juga.”
Ki Rangga tertawa. Warsi pun tersenyum pula. Tetapi ia berkata di dalam hati, “Tidak sekadar seperti ayahnya. Ayahnya sama sekali tidak mampu mengimbangi ilmu ibunya. Anak ini harus menjadi seperti atau bahkan malampaui kemampuan ibunya.” 
Sejenak Ki Gupita masih mengamati anak Warsi di dalam gendongannya. Baru kemudian ia berkata, “Sudahlah. Aku akan kembali ke barak para perwira Jipang.” 
Ki Wiradana mengangguk-angguk sambil menjawab, “Silakan Ki Rangga. Beberapa persoalan yang tumbuh akan aku bicarakan dengan kakek dan Ki Rangga.” 
“Ya. Aku akan selalu berusaha untuk ikut memecahkan masalah-masalah yang apalagi timbul karena hubungan Tanah Perdikan ini dengan Jipang.” 
Demikianlah, maka Ki Rangga yang kemudian tinggal bersama para perwira Jipang itu pun segera meninggalkan ruang dalam. Ketika ia turun dari tangga pendapa, Ki Randukeling masih saja mendampinginya. 
“Warsi nampaknya telah sehat kembali,” berkata Ki Rangga. 
Ki Randukeling berpaling. Dilihatnya Ki Wiradana dan Warsi berdiri di pendapa sambil memandangi mereka yang menyeberangi halaman menuju ke regol. Di tangan Warsi masih nampak anaknya yang sehat dan kuat menggerak-gerakkan tangannya, seolah-olah melambai kepada kedua orang yang meninggalkan pendapa itu. 
“Ya,” desis Ki Randukeling kemudian. “Kau ternyata lebih banyak mengetahui tentang Warsi daripada suaminya. Ki Wiradana masih belum mengetahui bahwa Warsi memiliki kemampuan yang tinggi dan bahkan pernah berkelahi dan mengalahkannya.” 
Ki Rangga Gupita tertawa. Katanya, “Bukan salahku. Bukankah Ki Randukeling sendiri lebih percaya kepadaku daripada kepada Ki Wiradana?” 
“Kenapa?” Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Tetapi Ki Rangga Gupita tidak segera menjawab. Ketika mereka melalui regol seorang pengawal berjaga-jaga dengan tombak ditangan. Selangkah tiga orang lainnya berada di gardu. 
Dengan serta merta ketiga orang yang berada di gardu itu pun meloncat turun sambil membungkuk hormat kepada Ki Rangga. 
Ki Rangga tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sementara itu kakinya melangkah terus sampai keduanya berada di luar regol. 
(Bersambung)-m
 

Suramnya Bayang Bayang 383
Tanggal: Rabu, 09-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

“Ki Randukeling. Kenapa Ki Randukeling justru memberitahukan kepadaku tentang kelebihan Warsi itu. Tidak kepada suaminya?” bertanya Ki Rangga. 

“Justru karena Ki Rangga bukan suaminya,” jawab Ki Randukeling sambil tertawa. “Ki Rangga. Warsi memang menghendaki demikian. Untuk dapat memasuki rumah itu, ia telah berpura-pura menjadi penari jalanan. Nah, atas dasar pribadi seorang penari itulah maka Warsi menjadi istri Ki Wiradana. Namun pada saatnya maka Warsilah yang akan mengendalikan kekuasaan di Tanah Perdikan ini. Meskipun demikian ia tidak akan dapat meninggalkan Ki Wiradana, karena hak atas Tanah Perdikan ini ada pada Ki Wiradana. 
“Bukankah hal itu menurut pandangan mata orang Pajang?” bertanya Ki Rangga. 
“Ya, sudah tentu, karena Tanah Perdikan ini berada di dalam wilayah Pajang,” jawab Ki Randukeling.
“Dan apakah Ki Randukeling akan mempertahankan Tanah Perdikan ini untuk seterusnya berkiblat kepada Pajang?” Ki Rangga justru bertanya. 
Ki Randukeling tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. 
Sementara itu, setelah Ki Rangga dan Ki Randukeling hilang di balik pintu regol, maka Warsi pun telah membawa bayinya kembali ke dalam biliknya, sementara Ki Wiradana masih akan berbicara dengan beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan yang masih tinggal. 
Namun dalam pada itu, adalah diluar kemauan Warsi sendiri, bahwa ia selalu memperhatikan sikap suaminya dibandingkannya dengan sikap Ki Rangga Gupita. Adalah diluar kehendaknya pula bahwa pada saat-saat tertentu ia melihat dengan mata angan-angannya tingkah laku Rangga Gupita. 
Tetapi Warsi tetap menyadari, bahwa ia adalah istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Anak yang dilahirkannya itu adalah anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang kelak akan menggantikan kedudukan ayahnya. 
Namun sementara itu, memang sudah mulai tumbuh niat di dalam hati Warsi, sebagaimana dirancangkannya sebelumnya, bahwa setelah ia melahirkan, maka ia akan menyatakan dirinya sendiri dihadapan suaminya dan mengendalikannya menurut kehendaknya. 
Dalam pada itu, maka Tanah Perdikan Sembojan pun telah berkembang dalam kendali Jipang. Setiap peristiwa dan perkembangan keadaan di Demak dan Jipang sendiri akan menjadi pegangan langkah-langkah yang diambil oleh Tanah Perdikan Sembojan. 
Namun dalam pada itu, di dalam lingkungan Tanah Perdikan itu sendiri telah terjadi pergolakan yang meskipun masih berada dibawah selimut ketaatan rakyat Sembojan kepada pemimpin-pemimpin mereka yang terasa asing. Beban yang semakin berat dan tingkah laku para pemimpin mereka yang semakin tidak dapat mereka mengerti. Kehadiran beberapa orang yang tidak dikenal sebelumnya yang langsung ikut mengendalikan pemerintahan dan kemudian kesibukan para pengawal yang betapapun diselubungi namun terasa oleh rakyat Sembojan bahwa di Tanah Perdikan itu tengah dilakukan satu kegiatan seolah-olah Tanah Perdikan itu akan terlibat kedalam satu peperangan. 
Namun dalam kedaan yang tidak menentu itu, perhatian rakyat Sembojan justru telah tertuju kepada seorang penari jalanan yang mirip dengan Nyai Wiradana yang hilang. Adalah sama sekali bertentangan dengan keinginan para pemimpin Tanah Perdikan itu, bahwa dalam keadaan yang semakin sulit, citra Nyai Wiradana yang hilang itu menjadi semakin baik dimata rakyat Tanah Perdikan. Perempuan-perempuan telah berbisik-bisik kepada suaminya di rumah, bahwa tingkah laku Nyai Wiradana yang hilang itu jauh lebih berbeda dengan tingkah laku Nyai Wiradana yang sekarang. Bagi perempuan-perempuan di Tanah Perdikan itu, Nyai Wiradana yang lama, meskipun masih muda dan belum terlalu lama berada di Tanah Perdikan itu, namun rasa-rasanya sudah menjadi sangat akrab dan bahkan rasa-rasanya dapat menjadi pengayoman yang manis dan tanpa pamrih. 
Karena itulah, setiap terbetik berita, serombongan orang-orang ngamen mamasuki Tanah Perdikan Sembojan dengan penari seorang perempuan yang mirip dengan Nyai Wiradana maka telah timbul harapan bahwa Nyai Wiradana itu akan timbul kembali di Tanah Perdikan itu. 
(Bersambung)-m


 

Suramnya Bayang Bayang 384
Tanggal: Kamis, 10-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Sebenarnyalah, sementara itu Iswari telah menyelesaikan laku yang sangat berat yang harus ditempuhnya untuk sampai kepada puncak ilmunya. Namun dengan kesungguhan hati dan tekad yang membaja serta rasa tanggung jawab akan hari depan anak laki-lakinya, maka Iswari benar-benar telah berubah. Meskipun nampaknya Iswari menjadi semakin kurus dan hitam dibakar oleh terik matahari dalam laku yang sangat berat, namun ia telah benar-benar menjadi seorang yang jarang ada duanya. 

Bahkan bukan saja Iswari yang telah menemukan satu tataran penguasaan ilmu yang sangat tinggi dibawah asuhan kakek dan neneknya, namun perempuan yang disebut Serigala Betina yang telah berada di padepokan kecil bersama dengan Iswari, telah mendapat kesempatan pula untuk meningkatkan ilmunya. 
“Aku yakin bahwa kau benar-benar telah menyadari jalannya yang sesat yang pernah kau rambah,” berkata Nyai Soka kepada perempuan yang disebut Serigala Betina itu. 
“Ya Nyai,” jawab perempuan itu. “Aku berjanji bahwa aku akan hidup dalam satu kehidupan yang baru. Hidupku yang lama yang berlumuran dosa itu harus aku tinggalkan dan tidak akan pernah tersentuh lagi.” 
“Apalagi setelah kau mendapat kesempatan untuk menguasai tingkat ilmu yang lebih tinggi dari yang pernah kau miliki dan kau pergunakan untuk kepentingan yang berbeda itu. Maka kau harus benar-benar hidup dalam satu dunia yang baru yang justru sangat berlawanan dengan duniamu yang lama,” berkata Nyai Soka. 
Serigala Betina itu tidak menjawab. Namun kepalanya tertunduk dalam-dalam. Ia sangat berterima kasih kepada Iswari yang justru telah menyentuh perasaannya pada saat ia siap untuk membunuhnya. Karena dengan demikian, maka Iswari telah memungkinkannya untuk memasuki satu kehidupan baru yang lebih cerah dan berarti bagi sesamanya. 
Sementara itu, perkembangan Tanah Perdikan Sembojan tidak terlepas dari perhatian orang-orang di padepokan tersebut setiap langkah Ki Wiradana selalu mereka ikuti dengan seksama. Satu kesempatan telah dicoba oleh Kiai Badra, apakah perhatian orang terhadap Nyai Wiradana yang lama masih tetap besar, dengan sekali mengirimkan rombongan pengamen dengan seorang penari yang oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan dianggap mirip sekali dengan Iswari, justru pada saat Tanah Perdikan itu sedang bergolak. 
Ternyata bahwa perhatian orang-orang Tanah Perdikan masih cukup besar. Dan ternyata bahwa rakyat kebanyakan masih menganggap bahwa penari itu mempunyai kedudukan yang khusus, sehingga tidak seorang pun di antara mereka yang telah mencoba mengganggu atau bahkan mencoba menangkapnya meskipun perintah itu sudah dijalankan. 
Ketika rombongan penari itu berhenti disebuah padukuhan, di depan mulut butulan dinding padukuhan itu, ternyata banyak orang yang telah keluar dan menemuinya. Pada saat seperti itu, penari jalanan itu memang mendapat tanggapan sebagaimana mereka berhadapan dengan Nyai Wiradana sendiri. 
“Citra Nyai Wiradana tidak berubah dimata rakyat Tanah Perdikan,” berkata Kiai Badra. 
Kiai Soka mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Tetapi kita harus memperhatikan persoalannya yang terjadi di Tanah Perdikan itu sekarang. Ternyata Wiradana berhasil menyusun satu kekuatan yang sangat besar dengan hadirnya orang-orang Jipang. Karena itu, jika pada saat ini kita bertindak, maka kita akan berhadapan dengan kekuatan yang seharusnya ditujukan kepada Pajang.” 
Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar. Memang bukan saatnya sekarang kita bertindak. Tetapi kita tidak boleh melepaskan ikatan rakyat Sembojan dengan Nyai Wiradana yang hilang itu.” 
“Aku sependapat,” desis Kiai Soka. “Setiap kali kita lakukan sesuatu untuk memberikan satu kesan tersendiri kepada orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Namun langkah kita yang terakhir masih harus kita tunda sampai saat yang paling tepat.” 
“Kita harus mencari kekuatan dari dalam lingkungan Tanah Perdikan itu sendiri,” berkata Kiai Badra. “Dan ini harus kita lakukan dengan sangat berhati-hati dan tidak berkeputusan.” 
“Bagaimana pendapat kalian jika kita berhubungan dengan Pajang,” tiba-tiba saja Nyai Soka bertanya. (Bersambung)-m


 

Suramnya Bayang Bayang 385
Tanggal: Jumat, 11-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

“Memang mungkin kita lakukan. Tetapi langkah-langkah terakhir Pajang nampaknya dipersiapkan untuk menghadapi pergolakan di Demak. Pajang juga sudah mempersiapkan pasukannya tidak saja untuk mempertahankan Pajang, tetapi nampaknya pasukan yang siap dikirim ke medan. Agaknya Pajang pun membuat perhitungan seperti Jipang yang lebih baik mengirimkan pasukan daripada sekadar bertahan. Itulah sebabnya maka Pajang agaknya menunda tanggapannya atas Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Kiai Soka. 

“Atau Pajang memang tidak menyadari akan sikap Sembojan karena perhatiannya yang dengan tajam ditujukan kepada Jipang,” berkata Nyai Soka selanjutnya. 
“Kemungkinan yang demikian memang ada,” Kiai Badralah yang kemudian menyahut. “Memang Demak memerlukan perhatian sepenuhnya dari Kanjeng Adipati Hadiwijaya, sebab tumpuan harapan keluarga Kanjeng Sultan Trenggana sepenuhnya ada pada Kanjeng Adipati Hadiwijaya di Pajang. Sementara sikap Jipang semakin tegas dan apalagi beberapa orang yang berpengaruh di Demak nampaknya telah timbul perbedaan pendapat pula, siapakah yang pantas untuk memegang kendali kekuasaan Demak.” 
“Agaknya Kanjeng Adipati di Pajang tidak hanya sekadar bersikap menunggu,” sahut Kiai Soka. “Agaknya Kanjeng Adipati di Pajang justru sudah mengambil langkah-langkah. Memang terlalu berat baginya jika ia dituduh terlalu bernafsu untuk merebut tahta Demak. Tetapi jika cara itu yang paling baik dilakukan pada saat seperti ini, maka Kanjeng Adipati harus rela mengorbankan sebutannya sebagai seorang yang tidak mempunyai pamrih. Karena pamrih yang sebenarnya bukan tahta itu sendiri, tetapi keselamatan dan kelangsungan kuasa Demak meskipun dapat saja berpusat di Pajang atau tempat lain. Tetapi tidak di Jipang yang bukan keturunan langsung Sultan Trenggana.” 
“Agaknya Pajang memang kurang memperhatikan Sembojan. Tetapi dengan demikian dapat membantunya. Kita dapat mengumpulkan keterangan tentang Tanah Perdikan itu sebanyak-banyaknya. Dalam kesempatan tertentu kita akan berhubungan dengan Pajang. Agar Pajang tidak dikejutkan oleh satu kekuatan yang tidak diketahuinya sama sekali,” berkata Kiai Badra. “Bahkan alangkah baiknya jika Tanah Perdikan Sembojan dapat menyelesaikan persoalannya sendiri.” 
“Apa maksud kakang?” bertanya Nyai Soka. 
“Tanpa menambah kesibukan berpikir dan kesibukan keprajuritan Pajang, Sembojan dapat dikuasai kembali oleh jalur kepemimpinan yang tidak menyimpang dan tetap berkiblat kepada Pajang,” jawab Kiai Badra. 
“Maksudmu kita berhubungan dengan Ki Wiradana untuk menyadarkan kesesatannya?” bertanya Nyai Soka. 
“Tidak,” jawab Kiai Badra. “Kekuatan di Sembojan sendiri menuntut pulihnya kekuasaan dan kiblat pemerintahan. Bukan Ki Wiradana yang sudah dikuasai oleh satu kekuatan yang tidak akan mungkin dilepaskannya.” 
“Lalu siapa?” bertanya Nyai Soka. 
“Seseorang yang memiliki pertanda khusus Tanah Perdikan Sembojan,” jawab Kiai Badra. 
 

SURAMNYA BAYANG BAYANG 386
Tanggal: Sabtu, 12-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Orang-orang yang mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti maksud Kiai Badra. Anak Iswarilah yang harus tampil meskipun masih harus ada seseorang yang menjadi walinya dalam pemerintahan karena anak Iswari itu masih belum dapat melaksanakan tugasnya. 

Kiai Soka pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan mencoba. Kita akan mempersiapkan satu kekuatan di antara orang-orang Perdikan sendiri. Satu rencana yang mungkin merupakan rencana yang panjang. Karena mula-mula kita baru dapat memelihara perhatian mereka terhadap Iswari. Kemudian menumbuhkan kesadaran orang-orang Sembojan atas sikap yang kurang menguntungkan dari para pemimpinnya. Jika perasaan ini dapat menyusup di antara para pengawal, maka akibatnya tentu akan lebih baik.” 
“Tetapi apakah kita akan sampai hati melihat perpecahan dan pertumpahan darah yang terjadi di Sembojan jika dua kekuatan yang timbul itu akan saling berhadapan?” bertanya Nyai Soka. 
“Pada saat yang demikian kita akan tampil menghadapi para pemimpin di Tanah Perdikan itu. Jika para pemimpin itu sudah dikuasai, maka persoalannya tidak akan terlalu banyak berkembang,” desis Kiai Soka. 
Orang-orang tua yang sedang berbicang tentang kemungkinan yang berkembang di Tanah Perdikan itu mengangguk-angguk. Nampaknya mereka telah menemukan kesepakatan. Meskipun demikian Kiai Badra masih berkata, “Tetapi segala sesuatunya masih harus disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi di Tanah Perdikan itu sendiri, Demak dan bahkan Jipang. Karena para perwira Jipang di Tanah Perdikan Sembojan tentu dikendalikan oleh perintah-perintah dari Jipang langsung.” 
Dengan demikian maka yang harus dilakukan oleh keluarga Iswari itu untuk selanjutnya hanyalah sekadar memelihara ingatan dan perhatian mereka kepada Iswari, sehingga orang-orang Sembojan masih merasa mempunyai ikatan dengan Iswari itu. Bahkan kesan bahwa Iswari masih hidup harus diperluas dan harus menjadi semakin jelas bagi orang-orang Sembojan.
Namun dalam pada itu, Gandar ternyata mempunyai pendapat tersendiri. Katanya, “Di samping semua rencana itu Kiai, aku berpendapat bahwa para pengawal di Sembojan harus menyadari, bahwa kemampuan mereka bukanlah kemampuan yang patut dibanggakan, agar mereka tidak merasa menjadi kekuatan yang meyakinkan. Apalagi untuk melawan Pajang.” 
“Aku sependapat,” sambung Jati Wulung. “Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan harus mendapat kesan, bahwa orang-orang yang pernah mengikuti latihan pada para perwira dari Jipang untuk waktu yang pendek itu, tidak mampu untuk mengatasi kerusuhan yang terjadi di Sembojan sendiri. Apalagi untuk menentang Pajang yang mempunyai kelengkapan keprajuritan yang tinggi dengan prajurit-prajuritnya yang terlatih dan berpengalaman untuk waktu yang terhitung panjang.” 
Orang-orang tua yang mendengarkannya ternyata tidak menentangnya. Bahkan sambil tersenyum Kiai Badra berkata, “Perhatian kalian justru tertuju kepada benturan kekerasan.” 
“Tetapi ada juga baiknya,” sahut Sambi Wulung, saudara tua seperguruan Jati Wulung dari perguruan Guntur Geni, “Bahkan jika perlu sekali-kali harus dibuktikan bahwa perwira-perwira Jipang itu tidak cukup mampu untuk mempertahankan diri dalam benturan kekerasan dengan orang-orang yang mungkin di Tanah Perdikan Sembojan disebut sebagai perampok atau perusuh atau istilah apapun.” 
“Kami tidak berkeberatan,” berkata Kiai Badra. Namun kemudian, “Tetapi hati-hatilah. Di Tanah Perdikan itu juga terdapat orang-orang yang disegani. Menurut Gandar Nyai Wiradana adalah orang yang memiliki ilmu tinggi dari keluarga Kalamerta. Dan bukankah kalian juga mengetahui, bahwa Ki Randukeling, kakek Warsi ada juga di Tanah Perdikan itu. Sementara kalian telah berhasil menjajagi kemampuan pedagang emas berlian yang ternyata adalah ayah Warsi itu sendiri sebagaimana pernah kalian katakan, karena kalian melihat mereka pernah bertemu di pasar. Tetapi Ki Randukeling dan petugas sandi yang berada di barak para perwira dari Jipang harus kalian perhatikan benar-benar. Bahkan aku ingin menasehatkan, hidarilah benturan kekuatan dengan Ki Randukeling.” 
(Bersambung)-m

 

Suramnya Bayang Bayang 387
Tanggal: Senin, 14-07-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Kedua orang dari Guntur Geni itu mengangguk-angguk. Sementara Gandar hanya menundukkan kepalanya saja. Apalagi ketika Kiai Badra kemudian berkata, “Khusus bagi Gandar yang sudah dikenal di Tanah Perdikan Sembojan. Kau harus lebih berhati-hati. Setiap pengenalan atas dirimu akan berakibat buruk bagi padepokan kecil kita. Meskipun barangkali mereka tidak akan dapat memburu kita sampai ke Tlaga Kembang ini, tetapi mereka akan dapat menghancurkan padepokan kita yang kecil itu.” 

“Aku akan berhati-hati Kiai,” jawab Gandar. “Namun meskipun aku pernah dikenal di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi hanya dalam lingkungan yang sangat terbatas. 
“Tetapi ciri-ciri tubuhmu akan dapat dikenali dalam ingatan Ki Wiradana karena ia tentu akan menghubungkannya dengan orang-orang disekitar Iswari,” jawab Kiai Badra. 
Gandar mengangguk-angguk. Tetapi ia dapat memahami pesan Kiai Badra itu, sehingga pesan itu akan tetap diingatnya. Meskipun demikian katanya kemudian, “Tetapi tidak seorang pun dari para perwira dari Jipang itu yang mengenal aku.” 
“Ah,” desah Kiai Badra. “Berpikirlah dengan tenang. Jangan terlalu dipengaruhi oleh perasaan. Bagiku sikap hati-hati adalah sikap yang paling baik.” 
Gandar mengangguk-angguk. Ia tidak lagi menyatakan sesuatu. Agaknya memang tidak ada pertentangan sikap. Namun orang-orang tua menghendaki langkah-langkah yang diambil dilandasi dengan sikap yang hati-hati. Karena persoalannya akan menyangkut persoalan yang sangat luas. Termasuk Tanah Perdikan Sembojan seluruhnya bahkan dalam hubungannya dengan Pajang dan Jipang. 
Sementara itu, pergolakan di Demak menjadi semakin menegangkan. Jipang benar-benar telah menyiapkan pasukan yang kuat. Bahkan ternyata sesuai dengan rencana, Jipang telah mengirimkan pasukan ke Selatan, mendekati Kadipaten Pajang. Satu perjalanan pasukan yang panjang. Namun ketabahan pasukan Jipang memang terpuji, sebagaimana sikap Adipatinya yang garang. Perjalanan itu sama sekali tidak membuat mereka mengeluh. Bahkan menghadapi tugas yang sangat gawat itu pun mereka sama sekali tidak merasa sebagai beban yang berat. 
Para pemimpin dari pasukan Jipang yang dikirim ke Selatan itu sudah mendapat keterangan terperinci tentang Pajang dan pasukan yang dipersiapkan di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka mendapat perintah untuk langsung menghubungi para perwira yang bertugas di Tanah Perdikan Sembojan agar gerakan pasukan dapat diatur sebaik-baiknya. 
Namun gerakan itu tidak lepas dari pengamatan para petugas sandi dari Pajang. Mereka mengetahui bahwa Jipang telah mengirimkan pasukan ke Selatan mendekati kedudukan Pajang. 
Tetapi Pajang tidak tergesa-gesa mengambil sikap. Namun demikian para pemimpin di Pajang memerintahkan untuk mengamati gerakan pasukan itu dengan cermat. Juga akibat dari gerakan itu terhadap padukuhan-padukuhan yang dilewatinya dan bahkan kemudian padukuhan yang akan menjadi tempat mereka membuat pasanggrahan. 
Dengan teratur laporan-laporan tentang gerakan itu diterima oleh para pemimpin di Pajang, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan sikap Jipang. Namun Pajang memang tidak dengan semata-mata bergerak menghadapi pasukan Jipang. Tetapi Pajang lebih banyak bergerak di lingkungannya dengan menyusun pertahanan yang kuat dan berlapis. 
Namun keterangan yang kemudian diterima, bahwa gerakan pasukan Jipang tidak hanya ke arah Pajang, tetapi juga ke arah Demak. 
Dengan demikian, maka Pajang harus dengan cepat mengambil sikap Pajang sendiri tidak mencemaskan pasukan Jipang yang membayangi Kadipaten itu. Tetapi bahwa Jipang kemudian juga menggerakkan pasukannya ke arah Demak, maka Adipati Pajang menjadi gelisah. Jika Adipati Jipang menguasai Demak, maka akan timbul pengaruh jiwani bagi para Adipati di daerah Timur, seolah-olah Arya Penangsang dari Jipang memang menguasai Demak sepeninggal Sultan Trenggana. (Bersambung)-m

 

SURAMNYA BAYANG BAYANG 388
Sementara itu pasukan Demak sendiri yang kehilangan gairah perjuangannya karena meninggalnya Sultan Trenggana, serta kekalutan yang kemudian timbul, harus mendapat lecutan untuk dapat bangkit kembali dari kegoncangan perasaan mereka. Jika Jipang menyerang Demak dalam keadaan yang demikian, maka Demak akan dengan mudah dapat dikalahkan oleh kegarangan Adipati Jipang Arya Penangsang dan pasukannya yang kuat. 
Karena itu, maka Pajang harus dengan segera mengimbangi gerakan Jipang karena menurut beberapa orang pemimpin Demak serta orang-orang yang berpengaruh di Demak, maka tidak ada orang lain yang akan menjadi pengganti Sultan Trenggana selain adipati Pajang, meskipun ia hanya seorang anak menantu. 
Ternyata Pajang telah mengambil satu sikap yang mengejutkan Jipang. Pajang tidak saja menyusun pertahanan yang kuat untuk menghadapi pasukan Jipang dikirim mendekati Pajang, namun ternyata Pajang juga mengirimkan pasukannya yang kuat langsung dihadapan pasukan Jipang yang membuat pesanggrahan di sebelah Timur Bengawan Sore dalam usahanya mendekati Demak. Sementara itu Pajang telah membuat pesanggrahan di sebelah Barat Bengawan Sore dan justru langsung dibawah pengamatan Adipati Pajang sendiri. 
Kemarahan Arya Penangsang tidak terbendung lagi menghadapi sikap Adipati Pajang. Namun demikian, Patih Mantahun yang bijaksana telah berusaha untuk menahan ledakan perasaan Adipati Jipang itu. 
“Apalagi yang kita tunggu?” bertanya Arya Penangsang. 
“Kanjeng Adipati, justru karena pasukan Pajang yang kuat berada disini, maka biarlah kita menghancurkan Pajang. Kita rebut Pajang dan dengan demikian maka Adipati Pajang akan menjadi bingung. Sementara itu, kita akan dapat menarik sebagian pasukan kita setelah Pajang jatuh untuk menghancurkan pasukan Pajang yang ada disini,” jawab Mantahun. 
Arya Penangsang termenung sejenak. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah pasukan yang kita kirim ke Pajang cukup kuat untuk menghancurkan Pajang?” Betapapun kuatnya pasukan Pajang yang ada di sebelah Bengawan Sore, namun Adipati Pajang tidak akan begitu bodoh untuk mengosongkan Pajang itu sendiri.” 
“Kita mempunyai kekuatan cadangan yang akan mampu membantu pasukan kita menghancurkan Pajang,” berkata Patih Mantahun. 
Arya Penangsang termangu-mangu. Namun ia pun segera teringat akan Sembojan. Karena itu, maka kemudian katanya, “Apakah Sembojan akan benar-benar dapat dibanggakan dalam persoalan yang besar dan bersungguh-sungguh ini?” 
“Aku percaya kepada para perwira yang sudah kita kirim ke Sembojan. Mereka akan berhasil membentuk satu pasukan yang kuat, yang akan dapat membantu menghancurkan Pajang dari sisi yang lain,” berkata Mantahun. “Selama ini kita selalu mengadakan hubungan dengan perwira itu untuk mendapat laporan dan mengirimkan pesan-pesan. Sementara itu, Ki Randukeling juga selalu berada di Sembojan sejak pergolakan semakin meningkat. Ia hampir tidak pernah meninggalkan Tanah Perdikan itu untuk kembali ke padepokannya.” 
Arya Penangsang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku mendengarkan pendapatmu. Aturlah sebaik-baiknya, agar Sembojan sempat mengerahkan pasukannya dan mendekati Pajang. Jika pasukan itu dianggap terlalu lemah, maka sebagian pasukan Jipang akan dapat dibaurkan dengan mereka. Dengan demikian maka Pajang akan dibayangi dari dua arah. Pada saat tertentu, maka kedua pasukan itu akan menyerbu Pajang yang lemah, karena sebagian pasukannya berada disini.” 
“Nah, baru setelah itu, maka sebagian dari pasukan Jipang akan ditarik untuk menghancurkan pasukan Pajang yang berada disini,” sambung Patih Mantahun. 
“Tetapi bagaimanakah jika justru Pajang yang mendahului menyerang kita disini?” bertanya Arya Penangsang. 
“Pajang tidak akan mungkin berani menyerang dengan pasukannya yang ada sekarang Kanjeng. Sebagaimana aku berpendapat bahwa sebaiknya kita juga tidak menyerang pasukan Pajang,” jawab Patih Mantahun. 
“Bengawan itu?” bertanya Arya Penangsang pula. 
(Bersambung)-o


 

Selasa, 15 Juli 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 389 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 “Ya. Pasukan yang seimbang seperti ini, akan selalu memperhitungkan langkah-langkah yang akan diambil sebaik-baiknya. Siapa yang berani menyeberangi Bengawan Sore, maka pasukannya akan dihancurkan di tengah-tengah Bengawan, atau justru pada saat pasukan itu akan naik ke darat. Dengan anak panah dan lembing, maka pasukan yang menunggu di darat akan dengan mudah mengurangi jumlah pasukan yang masih berada di dalam air Bengawan itu,” sahut Patih Mantahun. 

Arya Penangsang mengangguk-angguk. Menurut perhitungan nalar memang demikian. Tetapi kadang-kadang ledakan perasaannya sulit untuk dikekang, sehingga dalam keadaan tertentu, Arya Penangsang sering kehilangan kendali nalarnya. Pada kesempatan berpikir dengan bening. Arya Penangang merasa berterima kasih terhadap patihnya yang tua dan bijaksana itu. 

“Mantahun,” berkata Arya Penangsang kemudian, “Kau harus memperingatkan aku setiap saat agar aku tidak terseret oleh gejolak perasaanku.” 

“Aku selalu berusaha Kanjeng. Namun kadang-kadang Kanjeng terlalu dipengaruhi oleh perasaan, sehingga sulit untuk dikekang.” 

Arya Penangsang mengangguk-angguk. Memang tidak mungkin bagi Pajang atau Jipang mendahului menyerang dengan menyeberangi Bengawan Sore. Menurut perhitungan kridaning perang, maka yang menyerang akan dengan mudah dihancurkan tanpa ampun sebelum sempat naik ke darat. 

Dalam keadaan yang demikian, maka Jipang telah memberikan perintah kepada para perwiranya di Sembojan agar menyiapkan pasukan secepatnya dan bergerak mendekati Pajang dari arah yang berbeda dengan pasukan yang telah lebih dahulu berada di padukuhan-padukuhan di sebelah Pajang untuk membayanginya. 

Karena sebelumnya Sembojan memang sudah mempersiapkan diri, maka usaha untuk membentuk pasukan itu pun dapat dilakukan dengan cepat. Di samping duaratus orang pengawal khusus, maka telah disusun pula pasukan dalam jumlah yang lebih banyak di antara para pengawal di padukuhan-padukuhan.

“Ini adalah tanggung jawab kita,” berkata Ki Randukeling kepada Ki Wiradana. “Kita telah menyatakan diri berdiri dipihak Jipang. Maka kita pun harus melakukan segala perintahnya.” 

Namun Ki Wiradana rasa-rasanya menjadi sangat berat untuk melepaskan anak-anak mudanya meninggalkan Tanah Perdikannya untuk membayangi, dan bahkan kemudian menyerang Pajang 

“Kakek,” berkata Ki Wiradana kemudian. “Apakah bukan sebaiknya bahwa pasukan yang kita susun itu sekadar untuk mempertahankan Tanah Perdikan ini. Tetapi bukan untuk menyerang?” 

“Bukankah hal seperti ini sudah kita sadari sejak kita menerima para perwira dari Jipang itu?” jawab Ki Randukeling. “Dan kini saatnya sudah tiba. Bukan Pajang yang menyerang Tanah Perdikan ini. Tetapi kita yang akan menyerang Pajang.” 

“Tetapi rasa-rasanya sangat berat untuk melepaskan anak-anak muda itu kakek. Mereka akan berhadapan dengan prajurit-prajurit pajang yang sudah jauh lebih banyak berpengalaman. Sebagian dari mereka tentu tidak akan pernah melihat Tanah Perdikan ini kembali,” suara Ki Wiradana merendah.

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Sebagian dari mereka memang akan menjadi korban. Tetapi korban itu adalah korban yang tidak sia-sia. Sebagaimana setiap gegayuhan tentu harus berani melepaskan korban. Bukankah kau ingin melepaskan diri dari Pajang yang tidak berminat untuk mengukuhkan kedudukanmu sebagai Kepala Tanah Perdikan dan kemudian berpihak kepada Jipang? Sudah tentu dengan satu keinginan bahwa Jipang akan dengan senang hati menetapkan dan mewisudamu menjadi Kepala Tanah Perdikan.” 

“Tetapi bagiku pengorbanan yang diberikan itu rasa-rasanya terlalu berat. Sepuluh atau duapuluh bahkan mungkin lebih dari anak-anak muda terbaik Sembojan akan menjadi banten,” berkata Ki Wiradana. 

“Itu harus sudah kita sadari jauh sebelumnya. Coba bayangkan, apakah tidak akan ada bebanten seandainya Pajang yang datang kemari untuk memaksamu kembali tunduk kepada mereka?” Ki Randukeling berhenti sejenak. (Bersambung)-m.

 

SH Mintardja (Cerbung) Rabu, 16 Juli 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 390 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

Kemudian katanya selanjutnya, “Justru sekarang tugasmu menjadi jauh lebih ringan. Jipang sudah menempatkan pasukannya dihadapan Pajang. Sementara Pajang telah mengirimkan pasukan segelar-sepapan yang kuat kehadapan pasukan Jipang seberang-menyeberang Bengawan Sore. Bukankah dengan demikian kekuatan Pajang dirumahnya sendiri menjadi jauh lebih susut? Yang harus kita perhatikan kemudian adalah kesatuan langkah dengan pasukan Jipang yang sudah berada diharapan Pajang. Demikian pasukan Jipang itu menyerang untuk menembus pertahanan Pajang yang lemah, maka kita pun harus segera bergerak. Nah, kau dapat memperhitungkan kemungkinan itu. Bukankah tidak ada kesempatan lain yang lebih baik dari kesempatan itu? Jika Pajang pecah, maka Jipang akan memberikan bukan saja pengukuhan atas kedudukanmu, tetapi juga hak-hak yang lebih luas dan bahkan mungkin hadiah yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.” 

Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa dengan demikian Tanah Perdikan Sembojan akan mendapat hak-hak yang lebih banyak dari Jipang yang letaknya lebih jauh dari Pajang. Namun apakah ia akan sampai hati berdiri di atas pengorbanan anak-anak muda terbaik dari Tanah Perdikan ini. Karena betapapun besarnya keinginan Wiradana untuk mencapai kedudukan yang setinggi-tingginya, namun pada saatnya nuraninya pun telah terungkit untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang lebih baik. 

Dalam keadaan yang demikian, di luar sadarnya, terbayang kembali usaha ayahnya untuk membentuk satu lingkungan yang baik. Yang tenang dan tenteram. Yang memberikan perlindungan kepada isinya dan menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mudanya. Bukan justru mengorbankan anak-anak mudanya untuk kepentingan kedudukan yang lebih baik bagi dirinya sendiri. 

Dalam hal yang demikian, maka Ki Wiradana menjadi ragu-ragu. Tetapi ia sadar, bahwa para perwira Jipang telah berada di Tanah Perdikan itu. 

Sementara itu, para pengawal Tanah Perdikan itu sendiri, sebagian besar telah mendapat tempaan bukan saja lahiriahnya tetapi juga batiniah, sehingga kebencian terhadap Pajang perlahan-lahan sudah ditanamkan oleh para perwira itu. 

Dengan demikian, maka para pengawal itu sendiri, tentu akan menyambut dengan gembira, seandainya kepada mereka diberitahukan bahwa mereka harus pergi ke Pajang untuk bertempur. Apalagi setelah sekian lama mereka mengalami latihan-latihan yang sangat berat, maka sebagian besar dari mereka tentu akan berusaha untuk mencoba kemampuan mereka benar-benar di medan perang.

Dalam pada itu, selagi Ki Wiradana termangu-mangu, maka Warsi telah datang menghampirinya. Wajahnya nampak menyorotkan sinar yang berbeda dengan kebiasaannya yang luruh dan lembut. Dengan wajah tengadah Warsi berkata, “Kakang Wiradana. Saatnya sudah tiba. Kita tidak boleh terlalu pasrah kepada keadaan. Kita harus berani bergerak untuk mengubah keadaan, karena sebenarnyalah kita sendirilah yang akan menentukan keadaan kita.” 

Wiradana mengerutkan keningnya. Dipandanginya Warsi yang baginya nampak agak lain dari biasanya. Warsi itu tidak berbicara dengan wajah tunduk dan suara lembut kemanjaan. Tetapi suaranya menjadi tegas dan wajahnya tengadah memandanginya. (Bersambung)-m.