Tersedia Keladi Tikus (Rodent Tuber) hubungi ibu Erni di 0812 802 5102 atai (021) 5671778

Gajahsora.Net

 

  

 

 

 

 

Sejak Juni 2002 diambil dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta http://kr.co.id

Jumat, 27 Juni 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 371 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 Sentuhan-sentuhan serangan kedua orang berwajah kotor itu menjadi semakin terasa menyakitkan tubuh kedua pengawal itu. Tetapi mereka memang tidak dapat berbuat sesuatu selain mengumpat dan sekali-kali berusaha menghindar. Tetapi jika mereka melangkah sedikit panjang, tubuh mereka justru telah terhuyung-huyung karena kehilangan keseimbangan. 

Kedua orang itu benar-benar menjadi berputus asa, ketika seorang demi seorang keduanya telah kehilangan senjata mereka. Dengan kecepatan yang masih utuh, lawan pengawal yang tinggi itu sempat menendang pergelangan tangannya sehingga pedangnya telah terlempar, sementara yang lain justru berhasil merebut pedang pendek pengawal yang bertubuh kotor itu. 

Sambil mengacukan pedang itu, orang bercaping lebar itu berkata, ”Nah, sekarang datang giliranku mengancammu. Serahkan kudamu atau kau akan aku cincang disini.” 

Pengawal bertubuh kokoh itu tidak dapat berbuat apapun juga, sementara kawannya pun telah menjadi semakin lemah. Apalagi orang berwajah kotor yang seorang lagi telah memungut pula pedang pendek pengawal yang terlepas dari tangannya itu. 

”Ki Sanak,” berkata salah seorang dari orang yang berwajah kotor itu, ”Aku minta kau menjawab dengan sebenarnya. Apakah benar bahwa perempuan yang bernama Warsi berada disini?” 

Pengawal yang bertubuh tinggi itu memandang kawannya sejenak. Namun tiba-tiba saja lawannya telah menarik bajunya sambil membentak, ”Jawab.” 

Pengawal itu tidak dapat berbuat lain. Ia pun kemudian mengangguk kecil. 

”Jadi benar bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikanmu itu telah kawin dengan perempuan itu?” orang berwajah kotor itu meyakinkan. 

Meskipun ragu-ragu pengawal itu mengangguk pula. 

”Jadi anak itu benar-benar berada disini dan menjadi istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini?” desis salah seorang berwajah kotor itu. Lalu, ”Jika demikian maka kita harus segera bertindak. 

Kedua orang pengawal itu berdiri termangu-mangu. Tubuh mereka terasa bagaikan kehilangan tulang-tulangnya. Sedangkan perasaan sakit menyengat dimana-mana. 

”Ki Sanak,” berkata salah seorang di antara kedua orang yang mencegat mereka, ”Apakah kalian sadari, apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan ini sejak Ki Wiradana kawin dengan perempuan yang bernama Warsi itu. Sebenarnya ia memang bukan kemanakanku. Bukan pula sanak kadang. Aku bukan orang-orang yang ingin bertemu dengan Ki Wiradana. Tetapi kami berdua memang ingin berbicara dengan para pengawal.” 

Kedua pengawal itu tidak menjawab. Tetapi mereka pun sudah menyadari sejak semula, bahwa dalih yang dikatakan oleh kedua orang itu memang sekadar untuk memancing persoalan. Karena itu, keduanya tidak terkejut sama sekali. 

”Ki Sanak,” berkata orang yang ikat kepalanya disangkutkan dilehernya. ”Apalagi kini kalian berdua berada dibawah pimpinan para pelatih dari Jipang. Apakah dengan demikian Tanah Perdikan ini sudah berpaling dari Pajang dan berpihak kepada Jipang?” 

Kedua pengawal itu mengerutkan keningnya. Seorang di antara mereka bertanya, ”Darimana kau tahu?” 

”Tidak semua orang dungu sebagaimana kau dungu,” jawab orang yang menyangkutkan ikat kepalanya dilehernya. ”Cara yang dipergunakan oleh para pelatih pasukan pengawal khusus itu adalah cara-cara orang Jipang. Memang agak berbeda dengan yang dilakukan oleh orang-orang Pajang dan Demak. Mereka sama-sama keras dalam memberikan tuntunan, sama-sama berat dan bersungguh-sungguh. Tetapi adanya perbedaan yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang banyak menekuni olah kanuragan. Yang kalian miliki sekarang dibawah latihan-latihan yang berat dari para perwira Jipang itu sama sekali belum sekuku ireng dibandingan dengan kemampuan orang-orang yang khusus menekuni olah kanuragan. Karena itu, seharusnya kalian jangan terlalu berbangga dengan bekal ilmu kalian. Namun yang lebih penting dari itu, aku ingin mendengar pendapat kalian apakah kalian merupakan pendukung yang setia, yang dengan kesadaran melangkah sejalan dengan Ki Wiradana, atau sekadar melakukan sebagaimana kebanyakan dilakukan orang. Sekadar menginginkan kedudukan, upah dan sedikit pujian dari sanak kadang?” (Bersambung)-m.

 

Sabtu, 28 Juni 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 372 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 Kedua orang itu menjadi bingung. Mereka tidak begitu mengerti apakah mereka mendukung perjuangan Ki Wiradana dengan sadar atau tidak.

 Tetapi bahwa dengan kedudukan mereka sebagai seorang di antara pasukan pengawal khusus, memang memberikan kabanggaan kepada mereka. Seolah-olah Tanah Perdikan Sembojan tidak ada orang, apalagi anak muda yang lebih terhormat daripada anggota pasukan pengawal khusus. Karena itu, maka keduanya merasa kedudukannya itu merupakan kedudukan yang sangat menarik. Bahkan di samping kebanggaan mereka pun merasa bahwa mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi, yang tidak kalah dengan kemampuan prajurit Jipang atau Demak sekalipun. 

Namun ternyata dihadapan dua orang berwajah kotor itu keduanya tidak mampu berbuat apa-apa. 

Karena keduanya tidak segera menjawab, maka orang yang mengikatkan ikat pinggangnya di lambungnya itu pun berkata, “Nah, ternyata kalian tidak mengerti apa yang kalian lakukan selama ini selain mendapat kedudukan dan sedikit kebanggaan. Karena ketahuilah, bahwa kalian telah berada disatu tataran yang terpisah dari rakyat Tanah Perdikan ini. Sampai sekarang kalian melihat Warsi, istri Ki Wiradana sekarang sebagai seorang istri yang baik dan patuh. Namun sebenarnyalah ia merupakan sumber kesulitan yang bakal terjadi di Tanah Perdikan ini. Sedangkan alat-alat yang dipergunakannya di antaranya adalah kalian berdua.” 

“Omong kosong,” geram salah seorang dari kedua orang pengawal itu. 

Orang yang mengikatkan ikat pinggangnya dilambungnya itu memandangnya dengan tajamnya. Katanya, “Aku dapat menampar mulutmu sampai semua gigimu rontok. Jika tidak dengan tanganku aku dapat mencongkelnya dengan ujung pedang pendekmu ini. Tetapi dengar, aku tidak omong kosong. Jika kau mempunyai telinga, cobalah dengarkan keluh kesah rakyat Tanah Perdikan ini. Jika kau mempunyai mata, lihatlah tataran kehidupan rakyat yang menjadi semakin melarat. Nah, terserah kepada kalian, apa yang akan kalian lakukan. Aku tidak banyak berkepentingan dengan Tanah Perdikan ini. Tetapi aku mempunyai telinga dan mempunyai mata untuk mendengar dan melihat.” 

Kedua orang pengawal itu termangu-mangu. Namun mereka mendengarkan pendapat kedua orang yang tidak dikenalnya itu. 

Namun tiba-tiba salah seorang di antara kedua orang berwajah kotor itu bertanya, “Apakah kalian pernah melihat penari yang disebut-sebut mirip dengan Nyai Wiradana yang dahulu?” 

Hampir diluar sadarnya keduanya menggeleng. Hampir berbareng pula keduanya menjawab, “Belum.” 

“Nah, kalian harus memperhatikan berita itu. Mungkin di antara para pengawal ada yang pernah melihatnya. Karena ada di antara mereka yang pernah memburunya. Tetapi tidak berhasil menangkapnya,” berkata orang berwajah kotor itu. 

Kedua pengawal itu masih saja terdiam. Tetapi sebenarnyalah mereka mendengar semua yang dikatakan oleh kedua orang berwajah kotor itu. Bukan saja mendengar, tetapi mereka mulai tertarik kepada kata-katanya. Seolah-olah keduanya telah memberikan sesuatu yang baru, yang selama itu mereka sisihkan dari perhatian mereka. 

Nah, berkata orang yang memakai caping lebar dan menyangkutkan ikat kepalanya di lehernya, “Sekarang, aku memerlukan kuda-kuda kalian. Sebenarnya kuda itu tidak perlu sama sekali bagi kami. Tetapi dengan demikian, maka kami telah membuat suatu persoalan yang benar-benar harus kalian laporkan.” 

“Itu tidak mungkin,” sahut salah seorang di antara kedua pengawal itu. 

“Kenapa tidak. Bukankah lebih baik aku membawa kuda kalian daripada aku harus membantu kalian disini?” jawab orang yang menyangkutkan ikat kepala dilehernya. 

Pengawal itu tidak menjawab. Mereka memang tidak akan dapat melawan. Sementara mereka menggenggam pedang ditangan, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi pedang mereka telah berpindah tangan. 

“Nah, menyingkirlah,” berkata yang menyangkutkan ikat kepalanya dilehernya. “Kami akan mengambil kuda-kuda kalian.(Bersambung)-m.

 

Minggu, 29 Juni 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 373 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 Kedua orang pengawal itu pun bergeser mundur. Mereka memang tidak dapat berbuat lain. Sementara orang yang mengambil kuda mereka itu pun berkata, ”Jika kalian tidak kehilangan kuda kalian, kalian dapat menutupi kekalahan kalian dan tidak melaporkan apa yang terjadi sekarang ini. Tetapi jika kalian kembali ke barak tanpa kuda kalian, maka kalian tidak akan dapat ingkar, bahwa kalian telah dikalahkan dan tidak dapat mempertahankan kuda-kuda kalian.” 

 Kedua pengawal itu hanya dapat mengumpat. Tetapi mereka tidak dapat mencegah kedua orang itu mengambil kuda mereka dan kemudian meloncat ke punggung kuda itu. 

”Terima kasih,” berkata orang yang mengikatkan ikat kepala dilambung. 

Kedua ekor kuda itu pun kemudian telah berderap meninggalkan para pengawal yang termangu-mangu. Namun beberapa langkah dari keduanya, kuda-kuda itu berhenti. Kedua orang yang menunggang kuda itu pun telah melemparkan pedang-pedang pendek para pengawal itu sambil berkata, ”Inilah ciri kebesaran kalian. Namun ingat, bahwa jika kalian benar-benar akan menjadi pengikut orang-orang Jipang, maka kalian akan berhadapan dengan Pajang. Dan apabila kalian tidak juga mau mendengar keluh kesah dan melihat kesulitan hidup orang-orang Tanah Perdikan ini, maka kalian berhadapan dengan orang-orang Tanah Perdikan ini, yang terdiri atas keluarga kalian sendiri.” 

Demikian orang itu selesai berbicara, maka mereka pun telah memacu kuda mereka meninggalkan kedua orang pengawal yang termangu-mangu itu. 

Baru ketika kuda-kuda itu lenyap ditikungan bagaikan ditelan gelapnya malam, maka para pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. 

”Permainan yang gila,” geram salah seorang dari kedua pengawal itu, ”Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya mereka kehendaki.” 

Kawannya, pengawal yang bertubuh kekar kokoh itu pun menyahut, ”Mereka sekadar ingin mengguncang Tanah Perdikan ini. Agaknya keduanya adalah pengikut Nyai Wiradana yang hilang itu. Bukankah mereka menyebut-nyebut nama Nyai Wiradana?” 

”Ya, mereka menyebut penari yang mirip Nyai Wiradana itu,” jawab yang bertubuh tinggi. 

”Kita memang harus membuat laporan. Tetapi apakah kita juga akan mengatakan seutuh kedua orang itu tentang para perwira Jipang di Tanah Perdikan ini?” bertanya yang bertubuh kokoh. 

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Aku kira belum perlu mengatakannya sekarang. Kita melaporkan saja bahwa kita bertemu dengan beberapa orang yang telah merampok kuda-kuda kita. Kita berada di bulak yang jauh dari padukuhan sehingga kita tidak sempat membunyikan isyarat bahwa ada sekelompok perampok yang memasuki Tanah Perdikan ini.” 

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, ”Marilah. Kita sadar bahwa kita akan mendapat hukuman karenanya. Tetapi itu lebih baik karena kita tidak dicincang disini.” 

”Kedua orang itu tentu mempunyai maksud jauh dari pada sekadar mengadakan kekacauan disini di Tanah Perdikan ini. Aku sependapat, bahwa tentu ada hubungannya dengan Nyai Wiradana yang terdahulu,” desis pengawal yang bertubuh tinggi. 

”Mungkin Nyai Wiradana yang terdahulu dengan sengaja telah meninggalkan suaminya ketika ia mendengar bahwa suaminya telah berhubungan dengan seorang penari jalanan,” berkata pengawal yang bertubuh kokoh itu tiba-tiba, ”Di tempat persembunyiannya ia telah membangun suatu kekuatan yang akan dapat mengimbangi kekuatan Ki Wiradana.” 

”Mungkin kedua orang itu termasuk pendukungnya. Tetapi darimana orang itu tahu, bahwa para pelatih dari pasukan khusus itu adalah orang-orang Jipang,” desis orang yang bertubuh tinggi. ”Bukankah dengan demikian orang itu akan dapat berhubungan dengan Pajang.” 

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi hampir diluar sadarnya ia bertanya, ”Manakah yang sebenarnya lebih baik. Pajang atau Jipang?” 

Kawannya termangu-mangu. Namun akhirnya ia menggeleng, ”Aku tidak tahu, kenapa Ki Wiradana memilih Jipang daripada Pajang. Padahal menurut ingatanku, ketika ayah Ki Wiradana memegang pimpinan Tanah Perdikan ini dan Tanah Perdikan ini berada dibawah kuasa Pajang, tata kehidupan di sini berjalan dengan baik. Tidak ada kekisruhan dan tidak ada kesulitan. Namun pada saat-saat terakhir, sejak munculnya Kalamerta, maka keadaan menjadi semakin memburuk.” 

(Bersambung)-m.

 

Senin, 30 Juni 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 374 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 “Dan Ki Gede Sembojan berhasil membunuh Kalamerta,” desis kawannya. 
“Ya. Tetapi sejak itu keadaan Tanah ini menjadi kacau. Ki Wiradana tertarik kepada penari janggrung itu,” desis yang lain. 

 Keduanya mengangguk-angguk. Tetapi keduanya tidak dapat mengambil satu kesimpulan pun dari persoalan yang mereka bicarakan. 

Sejenak kemudian, maka dengan tergesa-gesa keduanya telah kembali ke barak mereka dan langsung berhubungan dengan pemimpin pengawal yang sedang bertugas. 

Dengan memotong-motong peristiwa yang sebenarnya dan dengan menambah sedikit, mereka menyampaikan laporan tentang sekelompok perampok yang mencegat mereka di bulak panjang. 

“Berapa orang seluruhnya?” pemimpin pengawal itu bertanya. 

“Enam orang,” jawab pengawal yang bertubuh tinggi itu. “Mereka merampok kuda-kuda kami. Menilik tata geraknya mereka adalah perampok-perampok yang sudah terbiasa dengan pekerjaan mereka.” 

Pemimpin pengawal itu memandang kedua pengawal itu dengan wajah yang tegang. Dengan suara lantang ia berkata, “Dan kalian sama sekali tidak berdaya menghadapinya?” 

“Kami telah bertempur dengan segenap kemampuan kami,” jawab yang bertubuh kokoh. Lalu, “Kami tidak tahu, seandainya pertempuran itu berlangsung terus, apakah kami yang akan mereka kalahkan, atau kami yang akan berhasil menangkap mereka.” 

“Jadi mereka melarikan diri?” bertanya pemimpinnya. 

“Ya,” jawab pengawal yang kokoh itu. “Empat orang bertempur melawan kami, dua yang lain mengambil kuda kami. Kemudian mereka pun telah berloncatan kepunggung kuda masing-masing.” 

“Kalian tidak dapat berbuat apa-apa?” pemimpin pengawal yang marah itu hampir berteriak. “Justru pada saat mereka meloncat ke punggung kuda mereka.” 

“Demikian cepatnya, rasa-rasanya kami tidak mendapat kesempatan,” yang bertubuh tinggi menyambung. “Dua orang lebih dahulu meloncat ke punggung kuda, sementara yang dua orang berusaha menahan kami, namun yang kemudian, dua orang yang sudah berada di punggung kuda itulah yang menyerang kami dari atas kudanya, sehingga memberikan kesempatan kedua orang kawannya yang lain naik ke atas kudanya pula. Sejenak kemudian, mereka telah memacu kuda mereka serta membawa kuda-kuda kami bersama mereka.” 

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Tetapi kenapa wajah kalian menjadi kotor dan kau menjadi basah kuyup.” 

Kedua pengawal itu tergugup. Pengawal yang bertubuh tinggi itu menjawab, “Aku membersihkan kepalaku dengan air di pinggir jalan itu. Orang-orang berkuda itu telah membaurkan tanah dan pasir ke kepalaku pada saat aku mendesaknya, sehingga sesaat aku kehilangan penglihatanku karena pasir yang masuk ke dalam mataku.” 

“Dan kau mencuci kepalamu dengan debu?” bertanya pemimpin pengawal itu kepada pengawal yang bertubuh kokoh. 

Pengawal yang bertubuh kokoh itu menjadi bingung. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Aku tidak mencuci kepalaku. Tetapi cara lawanku pun tidak berbeda dengan cara yang sudah dilakukan oleh kawan-kawannya. Tetapi selain itu aku memang jatuh tertelungkup ketika aku berusaha mengejar orang-orang berkuda itu. Aku demikian tergesa-gesa dan pada saat mereka melarikan diri aku memang menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan, sehingga langkahku yang tergesa-gesa itu membuat aku kehilangan keseimbangan.” 

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia berkata, “Meskipun agak ragu-ragu, tetapi aku terima alasan kalian untuk sementara. Meskipun demikian, bahwa kalian telah kehilangan kuda kalian, maka kalian harus menunggu keputusan yang akan diambil terhadap kalian untuk mempertanggungjawabkan kelengahan kalian itu.” 

Kedua pengawal itu tidak menjawab. Tetapi mereka sudah menduga, bahwa mereka akan mendapat hukuman karenanya.(Bersambung)-o.

 

 

 Selasa, 01 Juli 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 375 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 Ketika keduanya mendapat kesempatan untuk membenahi diri, maka orang yang bertubuh tinggi itu berkata, “Aku menjadi tidak sabar menunggu pagi, agar jalan itu dilalui pedati dan orang-orang yang pergi ke pasar.” 
“Kenapa?” bertanya yang bertubuh kokoh. 

 “Aku cemas jika laporan ini didengar oleh para pelatih dari Jipang dan mereka dengan teliti melihat bekas perkelahian itu. Bukankah sama sekali tidak ada bekas perkelahian berkuda?” berkata orang yang bertubuh tinggi. 

Kawannya mengangguk-angguk. Ia pun menjadi cemas pula karenanya. Namun ternyata bahwa mereka tidak melihat usaha untuk melihat bekas arena itu sehingga matahari terbit. Dengan demikian maka segala jejak dan bekas pun akan terhapus oleh kaki orang-orang yang akan ke pasar serta pedati atau kaki-kaki kuda termasuk kuda beban. 

Baru setelah keduanya yakin bahwa para pemimpin pengawal dan para pelatih dari Jipang itu tidak melihat bukti kebohongan mereka, barulah mereka sempat beristirahat. Mereka sempat memejamkan mata sekejap. Namun sebentar kemudian mereka pun harus sudah bangun. 

Ketika keduanya keluar dari dalam bilik, mereka melihat barak mereka telah kosong. Kawan-kawan mereka telah pergi keluar untuk berlatih bagi ketahanan tubuh mereka seperti yang setiap hari mereka lakukan, kecuali yang semalam bertugas dan yang masih belum selesai bertugas. 

Kedua orang pengawal itu pun segera membenahi dirinya, karena waktu istirahat mereka akan segera habis. Sebentar lagi mereka harus bersiap mengikuti upacara serah terima tugas. Baru kemudian mereka mendapat istirahat sehari penuh. Namun menjelang sore mereka harus sudah bersiap ke barak mereka lagi untuk mengikuti latihan-latihan yang diadakan terus menerus dibawah pimpinan para perwira di Jipang. 

Namun sementara itu, keduanya masih juga berbicara tentang kedua orang yang mereka jumpai itu. Ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki penglihatan yang tajam di dalam bidang olah kanuragan. Ternyata mereka mengetahui hanya dengan melihat cara-cara berlatih, bahwa pelatih itu adalah orang-orang Jipang. 

“Apa maksud mereka sebenarnya?” pertanyaan itulah yang selalu mengganggu kedua pengawal itu. 

Ternyata pertanyaan itu selalu saja timbul meskipun mereka berusaha melupakannya, sehingga akhirnya keduanya tidak mampu lagi menyimpannya di dalam hati. Keduanya dapat merahasiakan kehadiran para pelatih dari Jipang itu dan tidak membocorkannya kepada siapapun. Tetapi mereka tidak dapat menyimpan rahasia mereka sendiri tentang kedua orang itu. 

Tetapi keduanya tidak dapat mengatakan kepada sembarang orang. Keduanya ternyata juga memilih orang yang mereka anggap cukup dewasa untuk menanggapi keadaan yang mereka alami. Orang yang tidak akan mungkin mencelakakannya. 

“Aku telah memberikan laporan palsu,” berkata orang yang bertubuh tinggi itu kepada seorang kawannya yang dianggap akan dapat memberikan pertimbangan kepadanya, apakah sebaiknya ia berterus terang kepada pemimpin pengawal yang masih belum memutuskan hukuman apakah yang akan diberikan kepadanya. (Bersambung)-m.

 

Rabu, 02 Juli 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 376 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 “Aku kira begitu,” berkata orang itu. “Nampaknya kedua orang itu mempunyai tujuan yang sangat luas di Tanah Perdikan ini.” 

 “Kedua orang itu juga menyebut-nyebut tentang Nyai Wiradana keduanya. Baik yang sudah hilang maupun yang sekarang dalam perbandingan yang berlawanan. Mereka memuji Nyai Wiradana yang hilang itu dan mencela yang sekarang sampai habis-habisan,” berkata yang bertubuh kokoh. “Orang itu pun mengatakan tentang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana yang hilang itu. Sayang aku belum pernah melihat penari itu.” 

Tetapi diluar dugaan, kawannya yang diajak berbicara itu menyahut, “Aku pernah melihatnya. Aku bahkan pernah memburunya untuk menangkap. Tetapi aku dan beberapa orang pengawal pada waktu itu gagal menangkapnya. Ternyata para pengiring penari itu memiliki kemampuan melampaui kemampuan kami. Bahkan perempuan yang mirip dengan Nyai Wiradana itu pun memiliki kemampuan dalam ilmu kanuragan, sehingga seorang di antara kami tidak berdaya menghadapinya.” 

“Bukan main,” desis pengawal yang bertubuh kokoh itu. “Dan kalian tidak berhasil menangkap mereka?” 

“Tidak. Kami tidak berhasil. Tetapi kami pun tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi Kami hanya mengatakan bahwa kami tidak berhasil menemukan mereka,” jawab kawannya itu. 

Pengawal yang bertubuh tinggi itu pun mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah benar, Nyai Wiradana yang hilang itu memang mirip dengan penari yang kau katakan itu?” 

“Menurut pendapatku bukan hanya sekadar mirip. Tetapi orang itu adalah Nyai Wiradana,” jawab kawannya. 

“Ah, mana mungkin. Nyai Wiradana telah hilang,” jawab pengawal yang bertubuh tinggi. 

Tetapi kawannya menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Tidak seorang pun yang tahu, kemana hilangnya Nyai Wiradana. Mungkin Nyai Wiradana memang pergi meninggalkan Tanah Perdikan ini setelah ia mengetahui bahwa suaminya berhubungan dengan seorang penari jalanan. Siapa tahu, bahwa Ki Wiradana telah berhubungan lama dengan perempuan itu, tetapi yang hanya diketahui oleh Nyai Wiradana sendiri. Bahkan Ki Gede Sembojan pun tidak mengetahui.” 

“Kami juga menduga seperti itu,” berkata pengawal yang bertubuh tinggi. 

Namun mereka tidak berani mengambil kesimpulan apapun juga tentang kehilangan Nyai Wiradana dan tentang penari yang mirip Nyai Wiradana. Namun para pengawal itu menduga, bahwa adalah satu kemungkinan dengan sengaja Nyai Wiradana tampil sebagai penari jalanan untuk menyindir kehadiran Nyai Wiradana yang sekarang ini.

Tetapi semua dugaan itu hanyalah untuk diri mereka sendiri. Tidak ada di antara mereka yang berani mengatakannya kepada siapapun juga kecuali kepada orang-orang terdekat. 

Namun yang masih menjadi pertimbangan adalah bahwa orang yang merampas kuda itu mengetahui bahwa para pelatih pengawal khusus itu adalah orang-orang Jipang. 

Dengan diam-diam maka peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada kedua orang pengawal itu telah menjadi bahan pembicaraan meskipun hanya dilingkungan yang sangat terbatas. Dilingkungan para pengawal yang merasa saling mempercayai dan bersahabat erat. 

Namun dalam lingkungan yang terbatas itu, benar-benar telah menimbulkan satu masalah yang semakin lama semakin mencengkam. 

Tetapi dalam pada itu latihan-latihan di Tanah Perdikan Sembojan itu berlangsung terus. Kedua orang pengawal yang telah kehilangan kudanya itu telah mendapat hukuman. Mereka harus melakukan latihan jauh lebih berat dari kawan-kawannya untuk waktu sepekan. 

Dengan latihan-latihan yang berat, maka para perwira dari Jipang itu pun merasakan kemajuan yang pesat dari anak-anak muda Tanah Perdikan itu. Bahkan anak-anak muda itu telah mendekati tataran seorang prajurit di dalam olah kanuragan. Seandainya mereka harus turun ke medan, maka mereka tidak akan merasa canggung menggerakkan senjata mereka, meskipun seandainya mereka harus menghadapi para prajurit Pajang sekalipun.(Bersambung)-m.

 

 

 

Kamis, 03 Juli 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 377 Halaman untuk diprint  Beritahu teman


 Karena itulah, maka para perwira dari Jipang itu merasa perlu untuk memperluas tingkat kemampuan anak-anak muda Tanah Perdikan itu. Sehingga dengan demikian, maka mereka telah memberikan hari lagi bagi anak-anak Tanah Perdikan Sembojan untuk berlatih bersama para pengawal di padukuhan-padukuhan. Karena itu, maka untuk selanjutnya, setiap pekan, para pengawal yang sudah mendapat latihan khusus dari para perwira Jipang itu harus memberikan latihan kepada kawan mereka di padukuhan sebanyak dua hari. 

Dengan demikian maka Tanah Perdikan terasa menjadi semakin sibuk. Para pengawal di Tanah Perdikan pun menjadi semakin bergairah untuk mengikuti latihan-latihan itu. 

Meskipun yang melatih mereka kemudian adalah kawan-kawan mereka sendiri, tetapi ternyata bahwa kawan-kawan mereka itu seakan-akan semakin lama menjadi semakin berubah. Mereka menjadi jauh lebih keras dan taat mempergunakan waktu. 

Agaknya para perwira dari Jipang telah menempa mereka menjadi seorang pengawal yang memiliki kemampuan dan tekad seorang prajurit pilihan. 

Sementara itu, dalam kesibukan latihan-latihan yang berat, ternyata telah terjadi satu peristiwa yang menggerakkan hati orang diseluruh Tanah Perdikan. Nyai Wiradana telah melahirkan seorang anak laki-laki sebagaimana yang diharapkan oleh ayahnya. 

Dengan demikian maka anak laki-laki itu telah disambut dengan penuh kegembiraan oleh Ki Wiradana. Karena itu, maka seisi Tanah Perdikan Sembojan harus ikut bergembira dengan diisi berbagai macam acara. Di rumah Ki Wiradana sendiri telah diadakan pula beberapa malam tuguran. Beberapa orang laki-laki berkumpul untuk bergantian membaca sebuah kitab yang berisi kisah dalam bentuk kidung macapat. Sementara itu ditempat-tempat lain juga diadakan tuguran semacam itu, sekaligus menjadi tempat berkumpul para pengawal Karena Ki Wiradana telah memerintahkan, di samping kegembiraan yang sangat besar bagi Tanah Perdikan Sembojan, mereka tidak boleh lengah. 

Karena itulah, maka di samping malam tuguran sambil membaca kitab yang berisi kidung dalam bentuk tembang macapat, di gardu-gardu para pengawal pun tetap berjaga-jaga sebagaimana seharusnya. 

Tetapi gardu-gardu tidak lagi berisi anak-anak muda yang sekadar datang untuk bergurau dengan kawan-kawannya pada malam-malam mereka tidak bertugas. Anak-anak muda yang sedang tidak bertugas itu telah berkmpul ditempat-tempat orang-orang tua membaca kitab berisi kisah dalam tembang itu. 

Namun ternyata bahwa pada malam-malam yang gembira itu, Tanah Perdikan Sembojan masih harus mengalami peristiwa-peristiwa yang dapat menumbuhkan kegelisahan. Justru pada malam sepasaran yang meriah yang dirayakan di rumah Ki Wiradana, dipinggir Tanah Perdikan Sembojan telah lewat serombongan tukang ngamen dengan seorang penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana yang telah hilang. 

Meskipun rombongan itu hanya sekadar lewat, namun ternyata telah menumbuhkan kesan yang sangat menggemparkan Tanah Perdikan itu, justru setelah para perwira Jipang berada di Sembojan. 

“Gila,” geram Ki Wiradana. “Jika aku sempat menemukan mereka.”

Meskipun demikian, ternyata Ki Wiradana telah memanggil para pemimpin pengawal dan menunjukkan kemarahannya. 

“Mereka hanya lewat di sebuah padukuhan terpencil,” jawab seorang pemimpin pengawal. 

“Apakah di padukuhan itu tidak ada pengawal?” bertanya Ki Wiradana dengan nada tinggi. 

“Rombongan itu menyusuri dinding padukuhan hanya lewat beberapa halaman, lalu seakan-akan telah menghilang. 

Ketika laporan mengenai rombongan itu sampai di gardu, maka rombongan itu agaknya telah meninggalkan padukuhan itu. Ternyata ketika para pengawal datang ke tempat rombongan itu nampak dan berhenti beberapa saat, rombongan itu sudah tidak ada,” jawab pemimpin pengawal yang bertanggung jawab di padukuhan itu. 

“Kalian memang bekerja terlalu lamban,” suara Ki Wiradana meninggi. “Jika kalian bekerja dengan cepat, maka kalian tentu masih dapat menemukan rombongan itu. Bukankah ada di antara pengawal yang dapat mengejar rombongan itu dengan berkuda?” (Bersambung)-m.

 

 

 

Jumat, 04 Juli 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 378 Halaman untuk diprint  Beritahu teman


 Pemimpin pengawal itu tidak berani lagi menjawab. Ki Wiradana agaknya benar-benar marah, sehingga jika ia masih juga menjawab, maka Ki Wiradana justru akan bertambah marah. 

 Namun dalam pada itu, ternyata Ki Wiradana masih juga bertanya, “Apakah ada di antara orang-orang padukuhan ini yang sempat melihat bahwa di antara orang-orang di dalam rombongan itu terdapat seorang penari yang mirip dengan Iswari?”

“Ya,” jawab pemimpin pengawal itu dengan hati yang berdebar-debar. “Di antaranya terdapat seorang perempuan.” 

“Aku tidak bertanya seorang perempuan. Apakah perempuan itu mirip dengan Iswari?” Ki Wiradana membentak semakin keras. 

Keringat dingin mulai membasahi tubuh pemimpin pengawal itu. Namun kemudian jawabnya, “Hal itu masih perlu diadakan pengamatan lagi Ki Wiradana. Sebenarnyalah masih kurang jelas, apakah yang terjadi sebenarnya. Rombongan itu berada di luar padukuhan. Beberapa orang sempat keluar lewat butulan di dinding padukuhan. Merekalah yang melihat dan seorang di antara mereka pulalah yang telah memberitahukan kepada para pengawal di regol, bahwa rombongan penari yang untuk beberapa lama tidak tampak itu telah datang kembali.” 

Ki Wiradana telah menghentakkan tangannya sambil menggeretakkan giginya. Dengan keras ia berkata, “Kesalahan ini tidak boleh terulang kembali. Jika rombongan penari itu datang lagi, maka mereka harus dapat ditangkap, hidup atau mati.” 

Perintah itu ternyata sangat mengejutkan. Beberapa orang pemimpin pengawal saling berpandangan. 

Namun Ki Wiradana menegaskan, “Jika orang-orang di dalam rombongan itu melawan pada saat mereka akan ditangkap, maka kalian mendapat wewenang untuk bertindak lebih tegas terhadap mereka. Itu adalah hak kalian, karena dengan demikian maka orang-orang itu telah melawan perintah pemimpin Tanah Perdikan ini.” 

Para pemimpin pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak menjawab. Namun dengan demikian mereka menyadari, bahwa Ki Wiradana telah sampai ke puncak kesabarannya menghadapi rombongan penari yang mempunyai seorang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana yang hilang itu. 

Karena itulah, maka para pemimpin pengawal pun menjadi keras pula seperti sikap Ki Wiradana. Perintah yang terloncat dari mulut Ki Wiradana itu pun telah menjalar pula kepada para pengawal. 

“Jika orang-orang di dalam rombongan penari jalanan itu tidak mau ditangkap dan berusaha melawan, maka para pengawal diberi wewenang untuk mempergunakan kekerasan,” berkata para pemimpin pengawal itu kepada para pengawal. Bukan saja para pengawal khusus yang terpilih untuk mendapat latihan-latihan dari para perwira di Jipang, tetapi juga para pengawal yang lain. 

Namun dalam pada itu, di antara para pengawal terpilih itu terdapat orang-orang yang pernah gagal menangkap rombongan penari itu. Meskipun mereka telah mendapat tempaan dari para perwira Jipang, namun mereka masih tetap ragu-ragu, apakah para pengawal akan dapat melakukannya. 

Tetapi lebih daripada sekadar keragu-raguan, apakah mereka akan dapat menangkap atau tidak, ternyata pengawal itu lebih banyak dipengaruhi oleh satu anggapan, bahwa penari itu bukan sekadar mirip Nyai Wiradana, tetapi orang itu adalah Nyai Wiradana sendiri. 

“Jika benar orang itu Nyai Wiradana, apakah yang harus aku lakukan seandainya aku menjumpainya sekali lagi?” bertanya pengawal itu kepada diri sendiri. “Apakah aku harus menangkapnya atau aku harus bersikap lain?” 

Beberapa orang terdekat memang mulai membicarakannya. Jika orang itu bernama Iswari, seharusnya Ki Wiradana merasa bersyukur, bahwa istrinya yang hilang itu telah diketemukan kembali. Tetapi dengan kehadiran Warsi, maka persoalannya tentu akan berbeda. 

Namun dalam pada itu, Ki Wiradana benar-benar dicemaskan oleh kehadiran penari yang mirip dengan Iswari itu. Menilik sikap perempuan yang disebut Serigala Betina, maka Ki Wiradana menjadi ragu-ragu apakah perempuan itu benar-benar telah membunuh Iswari. Bahkan Ki Wiradana condong menduga, bahwa Serigala Betina itu telah membohonginya. (Bersambung

Sabtu, 05 Juli 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 379 Halaman untuk diprint  Beritahu teman


 Karena itulah, maka Ki Wiradana menjadi cemas, bahwa rahasianya akan dapat terbuka. 
Dengan demikian maka atas persetujuan Warsi, Ki Wiradana sendiri hampir setiap malam telah meronda di daerah rombongan penari itu muncul untuk yang terakhir kali. Bahkan kadang-kadang telah ikut pula bersamanya, penggendang yang diakunya sebagai ayah Warsi dan pedagang emas berlian yang justru sebenarnya adalah ayah Warsi. 

 Ki Wiradana menolak jika para perwira dari Jipang menawarkan diri untuk ikut meronda berkeliling Tanah Perdikan. Ia tidak yakin bahwa orang-orang Jipang itu akan dapat sejalan dengan rencananya. 

“Jika rombongan itu diketemukan, maka yang harus diperhatikan adalah penari itu. Jika benar ia adalah Iswari yang belum dibunuh oleh Serigala Betina itu, maka dengan cara apapun juga, perempuan itu harus dibungkam untuk selamanya,” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya. 

Sementara itu kemelut di Demak ternyata bukan semakin susut, tetapi justru semakin membara. Sepeninggal Sunan Prawata, maka telah terjadi pula pembunuhan yang menggemparkan. Ketika Ratu Kalinyamat mengadukan kematian kakaknya, Sunan Prawata ke Demak, maka diperjalanan pulang, suaminya telah terbunuh pula oleh orang-orang yang tidak dikenal. 

Namun Ratu Kalinyamat yakin, bahwa pembunuh-pembunuh itu adalah orang-orang yang telah dikirim oleh Arya Penangsang dari Jipang. 

Di Tanah Perdikan Sembojan para perwira Jipang yang bertugas ternyata telah mendapat perintah pula untuk mempersiapkan Tanah Perdikan itu dalam keterlibatan yang lebih jauh. Karena itulah, maka Rangga Gupita telah berbicara secara khusus dengan Ki Randukeling mengenai persoalan yang akan menjadi semakin luas itu. 

“Nampaknya Arya Penangsang telah mengambil langkah-langkah berikutnya,” berkata Ki Randukeling. 

“Ya. Kanjeng Adipati Jipang sudah jemu menunggu. Ia harus mempercepat persoalan, sehingga akan segera menjadi jelas baginya mukti atau mati,” jawab Rangga Gupita. 

“Apakah Tanah Perdikan ini harus segera mempersiapkan pasukan tempur dan bersiap melawan Pajang?” berkata Ki Randukeling. 

“Agaknya memang demikian. Tetapi masih belum dengan terbuka. Jipang sendiri juga masih belum dengan terbuka menyatakan perang melawan Pajang. Bagi Jipang, Pajang adalah kekuatan yang paling besar yang dihadapinya untuk menuju ke tahta Demak yang ditinggalkan oleh Sultan Trenggana itu,” jawab Rangga Gupita. 

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Cucuku juga sudah melahirkan. Ia akan dapat berbuat lebih banyak dari sebelumnya.” 

“Ki Wiradana sudah cukup berbuat sesuai dengan yang kita kehendaki,” berkata Rangga Gupita. 

Tetapi Ki Randukeling menggeleng. Katanya, “Ia masih terlalu lamban. Bayangan istrinya yang lama masih mengendalikan langkah-langkahnya. Agaknya Warsi akan dapat berbuat lebih baik jika pimpinan pemerintahan ada padanya.” 

Rangga Gupita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun menjawab, “Mungkin. Tetapi jangan dengan serta merta. Apalagi Warsi masih belum pulih benar setelah ia melahirkan.” 

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Memang semua langkah harus diperhitungkan baik-baik. Aku sependapat. Tetapi aku pun menganggap bahwa waktunya sudah tiba. Yang perlu diperhatikan adalah cara yang paling tepat dan tidak menimbulkan persoalan-persoalan baru yang dapat justru mempersulit diri kita disini.” 

Rangga Gupita mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Aku akan berbicara dengan Ki Wiradana sambil melihat anaknya yang memberikan kebanggaan bagi Ki Wiradana dan seluruh Tanah Perdikan ini. Tetapi sudah tentu bersama dengan Ki Randukeling.” 

Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, “Wiradana sudah tahu siapakah sebenarnya Ki Rangga Gupita.” 

Rangga Gupita tersenyum. Katanya, “Meskipun ia sudah mengetahuinya, tetapi kita akan berbicara bersama-sama.” 

Ki Randukeling tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan minta agar Ki Wiradana memanggil orang-orang terpenting di Tanah Perdikan ini. Bukankah begitu yang kau maksud?” (Bersambung)-m.

 

 

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 26/6/2003
 

Tulis Komentar


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Jakarta Barat- Indonesia
(0811) 80 65 49 (Mimbar Seputro) 
 


UCCHome ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 14/7/2003
 

Tulis Komentar


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Jakarta Barat- Indonesia
(0811) 80 65 49 (Mimbar Seputro) 
 


UCCXE.com Personal Currency Assistant

 

 

BODY>