|
|
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta.
Suramnya Bayang Bayang 361
Tanggal: Selasa, 17-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Namun dalam pada itu, betapapun berat
latihan-latihan yang harus mereka jalani, mereka pun mendapat keseimbangan
dengan pemberian yang cukup banyak dari Ki Wiradana. Mereka tidak perlu lagi
memikirkan makan dan minum. Mereka juga tidak memikirkan karena semuanya itu
sudah disediakan oleh Ki Wiradana. Bahkan mereka masih mendapat uang untuk
keperluan mereka yang lain.
Tetapi dengan demikian, maka semakin lama semakin banyaklah rakyat yang
mengeluh. Pasukan pengawal khusus itu merupakan beban yang berat bagi Tanah
Perdikan Sembojan. Meskipun atas dasar beberapa pertimbangan Jipang justru
telah memberikan bantuan atas terbinanya pasukan pengawal khusus itu bagi
kepentingan Jipang, namun beban itu masih terasa sangat berat di pundak
rakyat Tanah Perdikan itu.
Meskipun demikian, keluhan mereka sama sekali tidak didengar oleh para
pemimpin di Tanah Perdikan. Apalagi yang kemudian memegang kendali
pemerintahan di Sembojan bukan lagi Ki Wiradana dan para pembantu serta
orang-orang tua di Tanah Perdikan itu, tetapi justru orang-orang yang tidak
dikenal sebelumnya. Selain Ki Wiradana terdapat seorang pertapa yang disebut
kakek Nyi Wiradana. Kemudian seorang saudagar emas dan berlian untuk menetap
pula. Yang lain adalah seorang laki-laki yang disebut ayah Nyi Wiradana
meskipun wajah mereka tidak mempunyai kemiripan sama sekali.
Sementara itu yang melaksanakan segala tugas di Tanah Perdikan itu memang
sudah bergeser pula. Para Bekel di padukuhan-padukuhan tidak lagi bertugas
apapun, karena semuanya telah dilaksanakan oleh para pemimpin pengawal yang
bertanggung jawab langsung kepada Ki Wiradana. Para pemimpin pengawal itu
hanya menghubungi para bekel untuk menentukan besar kecilnya pajak tambahan.
Itu pun akhirnya yang mengambil keputusan adalah para pemimpin pengawal itu
sendiri. Dalam pelaksanaan pemungutannya dilakukan oleh para pemimpin
pengawal itu.
Dengan demikian, maka tata pemerintahan di Tanah Perdikan Sembojan memang
benar-benar telah bergeser.
Dalam pada itu, dari hari kehari, kandungan Warsi pun menjadi semakin besar.
Saat-saat kelahiranpun menjadi semakin dekat. Namun demikian Ki Wiradana
sudah tidak lagi mempunyai keinginan untuk pergi ke Pajang menanyakan
kemungkinan wisuda bagi pengukuhan jabatannya. Apalagi sampai sedemikian
lama, Wiradana masih belum menemukan ciri kekuasaan di Tanah Perdikan
Sembojan yang berupa sebuah bandul pada rantai yang terbuat dari emas dan
bertatahkan lukisan kepala burung elang.
Demikianlah, pada saat-saat Tanah Perdikan Sembojan sedang sibuk
meningkatkan kemampuannya di bidang kekuatan pasukannya serta menunggu
kelahiran anak Warsi yang menjadi semakin dekat, maka di Demak telah terjadi
satu kegemparan yang dengan cepat tersebar beritanya. Meskipun peristiwa itu
sendiri tidak terjadi di Demak, namun peristiwa itu terjadi sebagai akibat
kekosongan tahta di Demak.
Sunan Prawata, salah seorang putra Sultan Trenggana telah terbunuh.
Meskipun sulit untuk mengetahui bagaimana pembunuhan itu terjadi, namun
didekat tubuh Sunan Prawata yang terbunuh bersama istrinya, terdapat mayat
seorang yang diduga telah membunuh Sunan Prawata.
Sementara itu, berita kematian Sunan Prawata itu telah dihubungkan dengan
niat adipati Jipang untuk mengambil kembali tahta dari Demak ke Jipang.
Ki Wiradana yang mendengar berita itu kemudian telah bertanya kepada Ki
Randukeling, “Bagaimana pendapat kakek tentang berita ini.”
“Aku mendengarnya dari para perwira Jipang yang mendapat berita dari
penghubung mereka, bahwa Sunan Prawata seharusnya memang terbunuh,” jawab Ki
Randukeling.
“Kenapa?” bertanya Ki Wiradana.
“Menurut orang-orang Jipang. Sunan Prawatalah yang memerintahkan seseorang
membunuh ayah Adipati Jipang. Seandainya ayah Adipati Jipang itu tidak
terbunuh, maka ialah yang berhak menggantikan kedudukan ayahnya yang pada
waktu itu memegang kekuasaan di Demak. Tetapi karena ayah Adipati Jipang itu
terbunuh, maka tahta telah diwariskan kepada adiknya, Sultan Trenggana,”
berkata Ki Randukeling. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 362
Tanggal: Rabu, 18-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
"Tetapi apakah benar bahwa ayah Arya
Penangsang dibunuh atas perintah Sunan Prawata?" bertanya Ki Wiradana.
Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, "Tidak ada
seorang pun yang menghendaki kematiannya kecuali Sunan Prawata. Ia mengharap
bahwa dengan demikian, maka tahta temurun kepada ayah Sunan Prawata.
Pangeran Trenggana."
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Randukeling berkata, "Tidak
ada yang dapat mengatakan yang sebenarnya. Baik kematian Sekar Seda Lepen,
maupun kematian Sunan Prawata. Orang-orang yang membunuh mereka telah
terbunuh pula ditempat kejadian, sehingga dengan demikian tidak ada seorang
pun yang dapat menceriterakan, siapakah sebenarnya yang telah memerintah
kepada orang-orang itu untuk melakukan pembunuhan. Namun yang sudah terjadi
adalah Pengeran Sekar Seda Lepen terbunuh oleh orang yang kemudian dibunuh
oleh para pengikut Pangeran Sekar Seda Lepen ditempat itu juga. Sedangkan
pembunuh Sunan Prawata telah mati juga ditempat pembunuhan terjadi. Menilik
keadaannya, maka keris yang dipergunakannya untuk membunuh Sunan Prawata
dengan menusuknya sampai tembus dari dada ke punggung, bahkan ujung keris
itu telah menyentuh pula istri Sunan Prawata itu pulalah yang dipergunakan
untuk membunuh pembunuh itu dengan melemparkannya dan langsung mengenai
pembunuh itu. Karena itu, maka segala macam kesimpulan dan dugaan
semata-mata. Meskipun demikian, dugaan itu tentu mendekati kebenaran."
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun yang penting langkah-langkah ternyata
sudah mulai diambil dari pihak manapun juga. Justru langkah-langkah
kekerasan. Yang terjadi adalah satu pembunuhan yang tentu akan mempunyai
akibat berikutnya.
Karena itu, maka Ki Wiradana menganggap peristiwa itu sebagai permulaan dari
benturan-benturan mendatang. Termasuk di Tanah Perdikannya yang telah
menentang Pajang Dengan peristiwa kematian Sunan Prawata itu, mungkin Pajang
pun akan mulai menggerakkan pasukannya untuk mengatasi keadaan.
Dengan demikian, maka Ki Wiradana telah berusaha untuk bekerja lebih keras.
Ia ingin membuat Tanah Perdikannya menjadi kuat dan jika saatnya datang,
maka Tanah Perdikan Sembojan tidak akan mengecewakan.
Karena itu, maka Ki Wiradana telah berusaha dengan segenap alat kekuasaannya
yang ada untuk menambah pemasukan pajak yang disebutnya sebagai bebasan
perjuangan bagi rakyat Tanah Perdikan. Dengan hasil pajak itu, Ki Wiradana
telah membuat peralatan perang yang lebih baik dari yang telah ada. Ki
Wiradana telah memerintahkan untuk membuat senjata, perisai dan alat-alat
lain yang mungkin dipergunakan dalam peperangan.
Namun dengan demikian, maka rakyat Tanah Perdikan itulah yang merasa diri
mereka menjadi semakin kering diperah oleh pemangku jabatan Kepala Tanah
Perdikan itu. Tetapi mereka sama sekali tidak berani mengelak. Apalagi
setelah mereka melihat, bahwa pengawal Tanah Perdikan Sembojan menjadi
semakin kuat dan semakin garang meskipun terhadap tetangga-tetangga mereka
sendiri.
Tetapi ternyata tidak semua orang dalam lingkungan pasukan pengawal khusus
serta para pemimpin pengawal menjadi seperti orang yang kehilangan kiblat.
ternyata masih ada dua orang di antara mereka yang tetap menyadari, apa yang
telah terjadi di Tanah Perdikan mereka. Tetapi karena mereka tidak mempunyai
kesempatan serta kekuatan untuk menentang, maka untuk sementara mereka
merasa lebih baik mengikuti arus. Bahkan mereka telah berusaha untuk dapat
ikut serta terpilih menjadi pengawal khusus yang tinggaldi barak dan
mendapatkan latihan-latihan yang sangat berat, namun yang kemudian telah
membuat mereka benar-benar setataran dengan prajurit Demak.
Sebenarnyalah bahwa duaratus orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah
menjadi pengawal pilihan. Kemampuan mereka tidak kalah dengan prajurit Demak
yang terpilih sekalipun. Namun demikian setiap dari mereka masih harus
berlatih dengan keras untuk memelihara keadaan tubuh mereka dan meningkatkan
kemampuan mereka. Baik secara pribadi maupun dalam kelompok-kelompok dan
perang gelar yang lengkap. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 363
Tanggal: Kamis, 19-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Tetapi sebenarnyalah bahwa perkembangan
Tanah Perdikan Sembojan bukannya tidak diamati oleh orang-orang diluar Tanah
Perdikan itu. Tetapi bukan oleh Pajang, karena Pajang benar-benar sedang
sibuk dengan persoalan De-mak. Apalagi ketika berita tentang kematian Sunan
Prawata telah sampai ke Pajang. Maka Pajang pun menjadi gempar pula.
Namun dalam pada itu, Kanjeng Adipati di Pajang ternyata jarang sekali
berada di istananya di Pajang. Sebagian besar waktunya telah dipergunakan
untuk mencoba memecahkan persoalan yang rumit yang terjadi di Demak. Bahkan
Adipati Hadiwijaya masih berusaha untuk melerai setiap pertengkaran yang
mungkin terjadi.
Tetapi ketika agaknya arah penunjukkan pewaris Demak adalah dirinya, maka
kemudian telah timbul kesulitan pada Adipati Hadiwijaya untuk dianggap tidak
berpihak. Orang-orang lain, terutama Arya Penangsang tentu menuduh, bahwa
langkah-langkah yang diambilnya adalah sekadar meratakan jalan untuk
mengangkat dirinya sendiri menjadi Sultan. Mungkin di Demak, mungkin di
Pajang sendiri.
Meskipun demikian, usaha Adipati Pajang itu masih juga dilanjutkannya, tanpa
mengenal lelah.
Sementara itu, kekuatan Tanah Perdikan Sembojan pun telah menjadi semakin
kuat. Pasukan pengawal khusus itu benar-benar merupakan pasukan yang luar
biasa.
Keadaan di Tanah Perdikan itu telah membuat sekelompok orang menjadi
berprihatin. Dengan cermat mereka telah mengamati perkembangan yang terjadi
di Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tidak yakin bahwa Tanah Perdikan itu akan
dapat berkembang demikian pesatnya tanpa campur tangan orang lain.
Karena itu, maka dengan sangat hati-hati dua orang telah berada di Tanah
Perdikan itu. Dengan cermat mereka mengamati keadaan. Sekali-sekali mereka
melihat latihan-latihan yang telah diselenggarakan oleh para pengawal
khusus.
Meskipun tidak pernah mendengar di dalam pembicaraan dimanapun juga, namun
dengan mangamati cara latihan yang dipergunakan maka kedua orang itu dapat
menduga, bahwa para pengawal khusus itu telah mendapat tuntunan dari para
prajurit Jipang.
"Latihan-latihan itu menunjukkan ciri yang sama dengan para prajurit di
Jipang," berkata salah seorang di antara mereka.
Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak dapat mengamati
latihan-latihan itu terlalu lama, agar tidak ada seorang yang kemudian
menjadi curiga.
Ketika keduanya meninggalkan tempat-tempat latihan maka yang seorang telah
berkata, "Ya. Kita dapat memastikan. Jipang telah ikut campur di dalam
persoalan ini."
"Bukankah Tanah Perdikan ini sebenarnya termasuk wilayah Pajang?" bertanya
kawannya.
Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Tanah Perdikan ini memang wilayah
Pajang. Jika Jipang memasuki Tanah Perdikan ini tentu sudah dibicarakannya
lebih dahulu dengan Ki Wiradana, sehingga dengan demikian maka Tanah
Perdikan Sembojan ternyata telah berusaha untuk melepaskan diri dari
induknya dan berusaha menggabungkan diri dengan Jipang. Mungkin pergolakan
yang terjadi di Demak dengan meninggalnya Sultan telah membuat Tanah
Perdikan ini berubah sikap."
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Memang menarik untuk
diketahui. Kita sebaiknya mengamati perkembangan ini dengan seksama. Kita
biarkan saja saudagar emas itu di penginapannya. Agaknya ia memang dengan
sengaja memancing kita untuk merampoknya sekali lagi."
Yang lain tersenyum. Katanya, "Tetapi aku justru ingin melakukannya. Aku
ingin mengetahui sampai dimana tataran kemampuan para pengawal itu setelah
mereka mendapat latihan-latihan dari orang-orang Jipang."
"Kita sudah dapat menduganya dengan melihat latihan-latihan yang sekadar
dilakukan seperti anak-anak yang sedang bermain sembunyi-sembunyian dan
kadang-kadang sedikit bermain senjata. Tetapi aku condong untuk sekadar
mengganggu, agar Tanah Perdikan ini menyadari, bahwa mereka tidak dapat
melakukan menurut kehendak hati mereka tanpa dinilai oleh orang lain,"
berkata yang seorang. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 364
Tanggal: Jumat, 20-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
"Bukankah dapat kita lakukan keduanya
sekalipun?" jawab yang lain. "Menganggu dan sedikit menunjukkan kepada
para pengawal yang terlalu berbangga dengan kemampuan itu, bahwa apa yang
telah mereka miliki bukan berarti apa-apa bagi mereka yang bertualang di
dunia kanuragan."
Kawannya mengangguk-angguk. Lalu, "Apa yang akan kita lakukan?"
"Apakah sebaiknya kita membawa Iswari sekaligus dalam pakaian penarinya?"
desis yang lain.
"Kita harus bertanya dahulu kepada Kiai Badra atau Kiai Soka," jawab
kawannya. "Tetapi kita berbuat sesuatu sekarang ini."
Yang lain mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Yang paling mudah adalah
mencegat pengawal khusus yang sedang meronda di malam hari. Kita hentikan
mereka dan kita rampas kudanya."
Kawannya mengangguk-angguk pula, "Aku sependapat," katanya.
"Tetapi apakah kita perlu meninggalkan pertanda perguruan Tidar Geni," desis
yang seorang.
Tetapi kawannya menggeleng. Jawabnya, "Belum waktunya. Kita masih ingin
membuat orang-orang Sembojan kebingungan."
Ternyata kedua orang itu benar-benar ingin melakukan apa yang mereka
katakan. Mereka ingin menjajagi kemampuan para pengawal khusus, namun
sekaligus mereka ingin menunjukkan, bahwa ada sesuatu yang harus
diperhatikan oleh Tanah Perdikan Sembojan."
Sementara itu, karena sudah cukup lama tidak terjadi sesuatu di Tanah
Perdikan Sembojan, maka para pemimpin pengawal dan para pe-mimpin Tanah
Perdikan Sembojan itu tidak terlalu banyak memperhitungkan kemungkinan
terjadinya kejahatan. Yang mereka pikirkan adalah peningkatan tataran para
pengawal. Jika para pengawal menjadi kuat, maka tentu tidak ada orang yang
berani mengganggu ketenangan Tanah Perdikan itu.
Namun yang terjadi ternyata berbeda dengan dugaan orang-orang Sembojan,
bahwa sudah tidak ada lagi orang yang berani mengganggu ketenangan Tanah
Perdikan itu. Karena itu, maka para pengawal tidak lagi banyak melakukan
pengamatan di atas Tanah Perdikannya itu.
Meskipun demikian sekali-kali masih juga dilakukan perondaan yang melintasi
jalan-jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang
lain. Itu pun sebenarnya dalam rangka pemeliharaan kewibawaan Ki Wiradana
dengan meragakan pasukan pengawal berkudanya.
Namun yang terjadi, pada satu malam adalah justru mengejutkan sekali. Ketika
dua orang pengawal berkuda melintasi sebuah bulak panjang, maka tiba-tiba
mereka telah dihentikan oleh dua orang yang tidak dikenal. Dua orang yang
nampaknya kotor sekali, mengenakan caping bambu yang lebar dan bertelanjang
dada. Salah seorang dari keduanya telah menyangkutkan ikat kepalanya
dilehernya, sedangkan yang lain mengikatkan ikat kepalanya pada lambungnya.
Kedua orang pengawal yang merasa pernah ditempa oleh para perwira dari
Jipang itu pun menghentikan kuda mereka. Dengan keyakinan yang kuat terhadap
diri sendiri, maka keduanyapun telah meloncat turun dan mengikatkan kuda
mereka pada batang-batang perdu di pinggir jalan.
Sambil bertolak pinggang salah seorang dari keduanya itu pun bertanya, "He,
apakah kalian orang-orang yang sudah gila. Ujud kalian memang mirip dengan
orang gila. Apalagi tingkah laku kalian."
"O, tentu tidak Ki Sanak," berkata salah seorang yang telah menghentikan
peronda itu, "Kami hanya ingin bertanya."
"Tetapi caramu menghentikan kudaku bukanlah cara seseorang yang ingin
sekadar bertanya. Tetapi seolah-olah kalian ingin merampok kami. He, apakah
kalian tidak mengetahui, bahwa kami berdua adalah dua orang dari pasukan
pengawal khusus?" bertanya pengawal itu.
"Aku tidak tahu Ki Sanak," jawab orang yang menghentikannya. "Aku hanya
mengetahui bahwa Ki Sanak berdua adalah orang-orang berkuda yang melintas."
Pengawal itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, "Kau akan bertanya
apa?"
(Bersambung)-m

Sabtu, 21 Juni 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 365
|
Kedua orang itu termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian seorang di antara keduanya berkata, “Kami ingin
bertanya, apakah jalan ini menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan?”
Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Kemudian yang seorang berkata, “Ya.
Jalan ini menuju ke padukuhan induk. Apakah kau mempunyai keperluan di
padukuhan induk?”
“Ya Ki Sanak,” jawab orang yang tidak berbaju itu. “Kami mempunyai
kepentingan dengan seorang perempuan yang bernama Warsi. Bekas seorang
penari jalanan yang tidak tahu diri. Kepada keluarganya dan
tetangga-tetangganya ia mengaku menjadi istri Kepala Tanah Perdikan
Sembojan. He, bukankah itu ngayawara? Bukankah itu hanya sebuah mimpi
dan bahkan mungkin akan dapat mencemarkan nama baik Kepala Tanah
Perdikan disini?”
Kedua pengawal itulah yang kemudian saling berpandangan. Sejenak
kemudian salah seorang dari kedua pengawal itu berkata, “Siapakah kalian
sebenarnya?”
Jawab orang yang tidak berbaju itu seakan-akan meyakinkan, “Aku adalah
pamannya.”
“Kalau kau berhasil mencapai padukuhan induk, apa yang akan kau
lakukan?” bertanya pengawal itu.
“Aku akan melaporkannya kepada Kepala Tanah Perdikan ini. Biarlah Kepala
Tanah Perdikan ini menangkap perempuan jalanan yang menyebut dirinya
istri Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu,” jawab orang berwajah kotor
itu.
Seorang di antara pengawal itu pun kemudian bertanya, “Apakah kau
mengetahui, bahwa Kepala Tanah Perdikan Sembojan sudah meninggal?
Sekarang, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu adalah anaknya, Ki
Wiradana.”
“O,” orang berwajah kotor itu menangguk-angguk. “Tetapi apakah benar
bahwa pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu kawin dengan seorang
penari jalanan?”
Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab. Karena itu maka salah
seorang pengawal itu berkata, “Bukankah penari itu kemenakanmu?”
“Seandainya kemenakanmu itu benar-benar kawin dengan seorang pemangku
jabatan Kepala Tanah Perdikan, apakah kau merasa bangga?” bertanya
pengawal itu.
“Tidak. Sama sekali tidak. Jika terjadi demikian tentu ada yang tidak
wajar. Apalagi menurut pendengaranku dengan sombong kemenakanku yang
penari jalanan itu mengatakan, bahwa ia berhasil merebut Kepala Tanah
Perdikan itu dari istrinya, seorang perempuan yang baik, yang berasal
dari padepokan. Yang bekerja dengan jujur sebagai istri Kepala Tanah
Perdikan bagi kesejahteraan Tanah Perdikan ini. Bahkan menurut
pendengaranku, istri Kepala Tanah Perdikan yang lama itu telah dibunuh
oleh suaminya sendiri hanya karena Kepala Tanah Perdikan, atau
pemangkunya itu, ingin memperistri kemenakanku itu,” berkata orang
berwajah kotor itu.
“Cukup,” tiba-tiba pengawal itu membentak. “Ingat kata-katamu dapat
menyeretmu ke dalam kesulitan.”
“Tunggu Ki Sanak,” potong orang yang berwajah kotor itu. “Aku justru
ingin melaporkannya kepada pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu,
agar ia mengetahuinya. Dengan demikian maka ia akan dapat bertindak
lebih baik menghadapi berita-berita yang dapat mencemarkan namanya.”
Kedua pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian seorang di antara
mereka berkata, “Baiklah. Mari ikut kami. Kami akan mempertemukan kau
dengan pemangku Kepala Tanah Perdikan ini.”
(Bersambung)-m. |
Minggu, 22 Juni 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 366
|
Kedua orang yang berwajah kotor
itulah yang kemudian menjadi termangu-mangu. Mereka tidak menyangka
bahwa para pengawal itu akan menawarkan niatnya yang demikian. Namun
sudah barang tentu keduanya tidak bermaksud menghadap Ki Wiradana.
Karena itu maka seorang di antara mereka berkata, ”Kami hanya ingin
tahu, apakah jalan ini menuju ke padukuhan induk.”
”Ya. Jalan ini memang menuju ke padukuhan induk. Karena itu, marilah, kita
berjalan bersama-sama. Aku akan menuntun kudaku dan bersama-sama pula
menghadap Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini,”
jawab salah seorang pengawal itu.
”Terima kasih,” jawab salah seorang dari kedua orang yang berwajah kotor
itu. ”Kami akan pergi sendiri. Kami akan menghadap jika matahari telah
terbit. Bukankah menghadap pada saat sekarang ini sudah tidak waktunya
lagi.”
”Tetapi kau dapat menunggu dan jika kau tidak pergi ke padukuhan induk
sekarang, dimana kau akan bermalam?” bertanya salah seorang dari kedua
pengawal itu.
”Kami dapat bermalam dimana saja. Mungkin di banjar padukuhan terdekat.
Tetapi mungkin ditempat lain,” jawab orang yang menyangkutkan ikat
kepala di lehernya.
”Tidak Ki Sanak,” berkata pengawal itu. ”Justru karena tingkah laku
kalian yang aneh, maka sebaiknya kalian pergi ke padukuhan induk bersama
kami.”
”Kami berkeberatan Ki Sanak,” jawab orang yang mengikatkan ikat kepala
di lambungnya.
”Keberatan atau tidak keberatan,” jawab pengawal yang seorang.
”Tegasnya, kami akan menangkap kalian karena sangat mencurigakan.”
Tetapi kedua orang berwajah kotor itu menggeleng. Yang seorang berkata,
”Jangan memaksa Ki Sanak. Apalagi berusaha menangkap kami. Kami datang
dengan maksud baik. Seharusnya kalian justru membantu kami,”orang itu
berhenti sejenak, lalu tiba-tiba saja ia berkata, ”Ki Sanak. Bukankah
kalian tidak berkeberatan, bahwa untuk kepentingan kami selama berada di
Tanah Perdikan ini, kalian meminjamkan kuda-kuda kalian? Nah, dengan
demikian kalian telah membantu kami untuk membersihkan nama baik Kepala
Tanah Perdikan kalian.”
Kedua pengawal itu menjadi tegang. Dengan demikian maka mereka pun
pasti, bahwa kedua orang itu memang dengan sengaja ingin membuat
persoalan.
Karena itu, maka kedua pengawal itu telah bersiap untuk menghadapinya
sesuai dengan keadaan. Apalagi keduanya merasa bahwa mereka adalah
pengawal khusus yang telah ditempa baik secara berkelompok maupun secara
pribadi oleh para perwira dari Jipang.
Salah seorang dari kedua pengawal itu pun berkata, ”Kami memang sudah
menduga bahwa kalian memang ingin merampok kuda-kuda kami yang besar dan
tegar. Tetapi kalian ternyata telah salah langkah. Kami adalah pengawal
khusus Tanah Perdikan ini. Kami adalah orang-orang kepercayaan Kepala
Tanah Perdikan ini untuk menghadapi setiap usaha kejahatan.”
”Kami bukan penjahat,” jawab salah seorang di antara kedua orang
berwajah kotor itu.
”Kau dapat saja menyebut dirimu bukan penjahat, bahkan seorang penolong
atau seorang apapun juga menurut keinginan lindahmu. Aku tidak akan
berkeberatan. Tetapi bahwa kau ingin memiliki kuda kami itu adalah satu
unsur kejahatan meskipun kau dapatmenyebut dalih apapun juga. Nah,
sekarang kalian tidak usah banyak bicara. Menyerahlah. Sebab jika kami
sudah mulai bertindak, akibatnya mungkin akan lain daripada jika kalian
sekadar menyerah sebelum melakukan perlawanan,” berkata salah seorang
dari kedua pengawal itu.
Tetapi seorang dari kedua orang berwajah kotor itu justru tertawa.
Katanya, ”Kenapa kami harus menyerah untuk ditangkap, sementara kami
merasa diri kami justru berjasa.”
Kedua orang pengawal itu benar-benar telah kehilangan kesabaran. Yang
seorang telah memberikan isyarat kepada yang lain, sehingga keduanya pun
kemudian telah melangkah merenggang untuk mengambil jarak yang satu
dengan yang lain. Keduanya telah bersiap menghadapi kedua orang yang
berwajah kotor itu.
Ternyata kedua orang berwajah kotor itu pun telah bersiap pula. Tanpa
melepaskan caping mereka yang lebar, mereka pun telah mengambil jarak
pula, sehingga dengan demikian maka mereka telah berhadapan seorang
dengan seorang.
|
Senin, 23 Juni 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 367
|
Kedua pengawal itu berusaha untuk
mengenali wajah kedua orang yang dengan sengaja telah mengganggu mereka.
Tetapi selain wajah itu kotor, wajah itu seolah-olah telah terlindung
oleh bayangan caping mereka yang lebar yang menutupi kepala mereka.
Sehingga dengan demikian, kedua pengawal itu sama sekali tidak melihat
garis-garis wajah lawan-lawannya. Apalagi dalam keremangan malam.
Dengan demikian, maka memang tidak ada pilihan lain dari para pengawal itu
selain memaksa keduanya menyerah dengan kekerasan.
Sejenak kemudian, maka orang-orang yang sudah siap itu mulai bergerak.
Lambat, tetapi masing-masing berusaha untuk mengetahui kemungkinan yang
mereka hadapi dalam olah kanuragan.
Selangkah demi selangkah, maka mereka pun mulai memancing perkelahian.
Serangan-serangan yang pertama bukannya serangan yang sebenarnya. Namun
ketika tangan dan kaki mereka telah mulai bersentuhan, maka mulailah
mereka berloncatan. Serangan-serangan pun menjadi semakin mantap dan
kuat. Sementara gerak mereka pun menjadi semakin cepat.
Orang yang mengikatkan ikat kepalanya di lambung telah berkelahi dengan
pengawal yang bertubuh tinggi. Meskipun badannya tidak terlalu besar,
tetapi agaknya anak muda itu memiliki kemampuan gerak yang sangat cepat.
Tangan dan kakinya termasuk panjang sebagaimana tubuhnya yang tinggi.
Dengan kemampuan yang disadapnya dari para perwira Jipang, maka anak
muda yang bertubuh tinggi itu telah menyerang lawannya dengan kekuatan
yang semakin meningkat dan kecepatan yang semakin tinggi.
Orang yang mengikatkan ikat kepalanya di lambung itu seolah-olah hanya
melayaninya saja. Ketika pengawal bertubuh tinggi itu bergerak semakin
cepat, maka lawannya bergerak semakin cepat pula. Jika pengawal bertubuh
tinggi itu meningkatkan kekuatannya, maka lawannya pun telah
meningkatkan kekuatannya pula sehingga dalam benturan-benturan kekuatan
yang terjadi orang berwajah kotor itu tidak terdorong surut.
Sementara itu orang yang menyangkutkan ikat kepalanya di leher telah
bertempur dengan seorang anak muda yang tubuhnya tidak terlalu tinggi.
Tetapi dadanya nampak bidang dan tubuhnya kokoh kuat seperti seekor
kerbau jantan. Geraknya pun cepat dan meyakinkan. Justru karena tubuhnya
yang tidak terlalu tinggi, namun mantap dan kokoh, geraknya lebih banyak
pada bagian bawah sebagaimana ia lebih banyak menyerang bagian tubuh
yang rendah. Tetapi kakinya yang kokoh itu sekali-kali menyambar dengan
kekuatan yang mengagumkan mengarah ke lutut lawannya.
“Ah,” desah orang yang menyangkutkan ikat kepala di lehernya,” Kau luar
biasa. Jika tumitmu mengenai lututku, maka kakiku mungkin akan patah.”
Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya datang
beruntun. Ketika ia meloncat dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka
jari-jarinya yang mengembang telah mematuk ke arah lambung.
“Uah,” lawannya berdesah lagi, “Ujung-ujung jarimu akan dapat mengoyak
perutku.”
“Diam,” geram anak muda yang bertubuh kokoh itu sambil meloncat menjauhi
lawannya.”
Tetapi lawannya segera memburunya. Dengan kekuatan yang semakin tinggi
anak muda yang bertubuh kokoh itu menyerangnya dengan kaki yang
berputar.
Tetapi serangan itu pun sama sekali tidak mengenai sasarannya. Bahkan
tiba-tiba saja, hampir tidak disadari, kaki orang yang berwajah kotor
itu telah menyambar kaki lawannya yang satu lagi, yang menjadi tumpuan
berat badannya selagi kakinya yang satu berputar.
Benar-benar diluar perhitungan anak muda itu. Karena itu, maka ia tidak
sempat mengelak, sehingga kakinya yang berpijak di atas tanah itu telah
disambar kaki lawannya sehingga ia pun kehilangan keseimbangannya.
Anak muda itu tidak mampu bertahan untuk tetap tegak. Karena itu maka ia
pun telah terdorong jauh. Tetapi dengan sigapnya ia telah berguling
beberapa kali, kemudian dengan cepat melenting berdiri.
Namun demikian ia tegak, terasa dadanya bagaikan didorong oleh kekuatan
yang tidak terlawan. Ternyata tangan lawannya telah melekat didadanya.
(Bersambung)-o. |
Selasa, 24 Juni 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 368
|
Sekali lagi keseimbangannya tergantung. Dan
sekali lagi ia terdorong jatuh terlentang. Tetapi anak muda itu tidak
jatuh terlentang seperti sebatang daun pisang. Ia sempat justru meloncat
dan berputar di atas kepalanya. Dengan cepatnya pula ia melenting
berdiri.
Tetapi ia telah dikejutkan lagi oleh lawannya yang berdiri hanya sejengkal
dihadapannya. Tetapi lawannya itu tidak berbuat apa-apa. Lawannya itu
tidak mendorongnya, tidak pula memukulnya. Ia hanya berdiri saja hampir
melekat didadanya. Sedangkan sisi capingnya menyentuh dahinya.
Anak muda itu menjadi kebingungan sesaat. Tetapi ia pun segera
menyadari, bahwa yang berdiri dihadapannya hampir beradu dada itu adalah
lawannya. Karena itu, maka ia pun telah menarik sebelah kakinya surut,
dan sambil merendah ia telah menghentakkan tangannya memukul dada orang
itu dengan ayunan tangan lurus ke depan.
Jarak mereka sangat pendek. Karena itu, maka pukulan itu tentu akan
meruntuhkan isi dada orang yang berwajah kotor itu. Tetapi anak muda itu
sekali lagi terkejut. Orang itu sempat bergeser menyamping ke sisi
tangannya yang menyerang. Dengan cepat orang itu menangkap tangan
pengawal itu dan sebelum pengawal itu sempat berbuat sesuatu, tangan itu
telah terpilin kebelakang sehingga tubuh pengawal itu pun telah terputar
pula.
Ketika pengawal itu berusaha untuk menghentakkan diri tiba-tiba saja
sebuah pukulan yang keras telah mengenai punggungnya, tepat dibawah
tengkuk. Pada saat yang demikian itu, tangannya yang terpilin itu pun
telah terlepas sehingga anak muda itu justru jatuh terjerembab. Wajah
anak muda itu telah menyentuh tanah, sehingga wajah itu pun telah
menjadi kotor, bahkan lebih kotor dari wajah lawannya. Sejemput pasir
telah melekat dibibirnya sehingga mulutnya rasa-rasanya telah tersumbat.
Ketika anak muda itu berguling menjauh, lawannya tidak memburunya.
Dibiarkannya anak muda itu bangkit sambil mengibas-ibaskan kepalanya dan
membersihkan mulutnya dengan tangannya. Bahkan kemudian dengan lengan
bajunya.
Orang berwajah kotor itu ternyata sangat menyakitkan hati. Ia justru
tertawa melihat keadaan anak muda yang telah menelan sebagian pasir
dimulutnya itu. Sementara itu, kawannya yang bertubuh tinggi pun
mengalami nasib yang sama. Anak muda bertubuh tinggi itu justu telah
terlempar ke dalam parit dipinggir jalan. Begitu ia berusaha bangkit,
tiba-tiba saja terasa kepalanya bagaikan dibebani sebongkah batu hitam,
sehingga tanpa dapat berbuat sesuatu kepalanya itu telah terbenam ke
dalam air.
Betapapun ia berusaha, tetapi pengawal bertubuh tinggi itu tidak kuat
mengangkat kepalanya dari dalam air. Tanpa dikehendakinya, maka beberapa
teguk air dari parit itu telah tertelan kedalam perutnya. Baru sejenak
kemudian, kepalanya itu dilepaskan oleh lawannya, sehingga ia dapat
meloncat berdiri.
Anak muda bertubuh tinggi itu mengumpat-umpat. Tetapi lawannya yang
telah berdiri di atas tanggul parit itu tertawa berkepanjangan.
”Nampaknya kau sangat haus anak muda,” berkata lawannya yang berwajah
kotor itu. ”Perkelahian ini baru saja mulai. Kau sudah tidak dapat
menahan perasaan hausmu sehingga kau telah minum beberapa teguk air
parit yang kotor itu.” Anak muda bertubuh tinggi itu menggeram.
Kesabarannya telah benar-benar habis, sehingga tiba-tiba saja ia telah
menarik pedang pendeknya.
”Orang gila,” ia menggeram. ”Jika kau mati dan tubuhmu terkapar di jalan
ini bukan salahku.”
Lawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia berkata, ”Jangan main-main
dengan senjata. Jika kau bermain dengan air, kau hanya akan menjadi
basah seperti kau sekarang ini. Tapi jika kau bermain dengan api, maka
kau akan dapat menjadi hangus. Dan jika kau bermain dengan senjata, maka
kulit dagingmu akan dapat terkoyak karenanya.”
”Persetan,” geram anak muda bertubuh tinggi itu. ”Aku hanya ingin
membawamu menghadap pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini untuk
mengetahui apakah yang kau katakan itu benar atau tidak. Tetapi karena
kau sudah melawan, maka aku akan dapat membunuhmu disini tanpa merasa
bersalah.”
|
Suramnya Bayang Bayang 369
Tanggal: Rabu, 25-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Orang yang berwajah kotor itu tertawa. Katanya,
”Kau dapat saja mengatakan tanpa bersalah. Memang sebagian besar kesalahan
ini tidak terletak kepadamu. Jika Wiradana tidak kawin dengan perempuan
jalanan sebagaimana pengakuan perempuan itu sendiri, maka semuanya ini tidak
akan terjadi. Karena itu, biarlah aku meminjam kudamu untuk mempersoalkan
hal ini di Tanah Perdikan Sembojan. Mudah-mudahan ceritera Warsi itu tidak
benar. Dan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikanmu tidak kawin dengan
perempuan yang tidak tahu diri itu.”
”Jangan banyak bicara,” bentak pengawal yang bertubuh tinggi, ”Menyerahlah
atau mati.”
Lawannya termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling ke arah kawannya, maka
perkelahiannya pun agak sedang terhenti. Namun kawannya itu sempat berkata,
”Aku memberi kesempatan kepada lawanku untuk membersihkan mulutnya. Jika
lawanmu minum air yang kotor itu, lawanku menjadi lapar dan makan beberapa
jemput pasir di tanah.”
Pengawal yang bertubuh tidak begitu tinggi dan berbadan kokoh itu telah
menarik pedang pendeknya pula. Senjata para pengawal, jika mereka bertugas
di dalam lingkungan Tanah Perdikan itu sendiri.
”Kau jangan mempergunakan senjata anak muda?” berkata lawannya.
”Kalian berdua akan mati,” jawab pengawal itu. ”Tetapi itu adalah salah
kalian sendiri. Kami sudah berbaik hati dengan tawaran kami untuk membawa
kalian menghadap Ki Wiradana. Tetapi kalian memilih mati.”
”Siapa yang memilih mati?” bertanya orang berwajah kotor itu.
”Persetan. Bersiaplah untuk mati,” geram pengawal itu.
Lawannya masih akan menjawab. Tetapi ia justru berpaling ketika ia mendengar
pengawal bertubuh tinggi itulah yang kemudian menggeram sambil meloncat
menyerang lawannya yang berdiri ditanggul parit.
”He, kau benar-benar bermain-main dengan pedang pendekmu itu?” berkata
lawannya sambil meloncat menghindar. ”Ingat, pedang itu adalah salah satu
ciri pengawal khusus Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, jangan kau
pergunakan seenaknya. Senjata itu dibuat dengan uang yang dipungut dari
rakyat Tanah Perdikan ini, sehingga jangan kau nodai dengan penggunaan yang
tidak sepantasnya. Pedang itu seharusnya kau pergunakan untuk berbuat baik
bagi kepentingan rakyat. Dengan pedang itu kau seharusnya melindungi aku
yang ingin berbuat baik bagi Tanah Perdikan ini.”
”Jangan mengigau lagi,” geram pengawal itu. ”Pedang pendek ini memang ciri
senjata para pengawal khusus. Karena itu, jika pedang pendek ini sudah
berada ditangan, berarti akan terjadi pembunuhan. Jika seorang pengawal
terpaksa membunuh, maka ia bertindak demi kepentingan Tanah Perdikan ini.
Lawannya tidak menjawab. Tetapi ia pun telah menyerang dengan garangnya.
Orang bertubuh kekar itu pun telah bersiap. Dengan nada datar ia berkata,
”Nasibmu tidak akan berbeda. Kau telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam
kesulitan yang tidak akan dapat kau atasi. Kau akan mati, dan kami berdua
akan membuat laporan terperinci tentang kematian kalian berdua.”
Lawannya justru tertawa. Katanya, ”Kematianku tidak berada ditanganmu.
Ingat, bahwa hidup dan mati tidak dapat ditentukan oleh kita sendiri atau
sesama kita.”
”Aku akan menjadi lantaran kematianmu,” geram pengawal itu.
”Aku akan mendapat jalan pembebasan dari kematian ini. Aku akan berusaha.
Dan baiklah kita akan melihat, siapakah yang usahanya dibenarkan oleh Yang
Maha Menentukan. Kau atau aku” desis lawannya.
Keduanya tidak berbicara lagi. Pedang pendek pengawal itu mulai bergerak.
Kemudian dengan garangnya ia telah meloncat menyerang.
Tetapi lawannya benar-benar telah bersiap. Karena itu, ketika serangan itu
datang, maka dengan tangkasnya orang berwajah kotor dan memakai caping yang
lebar itu telah meloncat menghindar. Namun pengawal itu tidak melepaskannya.
Dengan cepat pula ia meloncat memburu. Pedangnya menyambar mendatar ke arah
perut. Sentuhan ujung pedang yang tajam itu akan dapat membelah perut
lawannya. Tetapi pedang itu tidak menyentuh sasaran sama sekali.
(Bersambung)-m

Suramnya Bayang-bayang No 370
Sejenak kemudian pertempuran pun menjadi
semakin sengit. Kedua pengawal yang bersenjata pedang itu bertempur dengan
kemarahan yang membakar isi dada. Karena itu, maka dengan penuh nafsu untuk
menghancurkan lawan-lawan mereka, pedang mereka telah terayun-ayun dengan
dahsyatnya. Suaranya berdesing seperti suara gasing. Menyambar-nyambar dari
segala arah.
Tetapi lawan-lawan mereka pun memiliki kemampuan bergerak melampaui
kecepatan sambaran pedang itu. Karena itu, maka kedua ujung pedang itu sama
sekali tidak mengenai sasarannya.
Untuk beberapa lamanya, keempat orang itu masih terlibat dalam pertempuran.
Tata gerak mereka yang semakin cepat, telah memaksa mereka mengerahkan
tenaga yang ada di dalam diri mereka bahkan didorong oleh kemampuan tenaga
cadangan mereka.
Namun usaha para pengawal untuk menghabisi perlawanan kedua orang berwajah
kotor dan memakai caping yang lebar itu tidak dapat segera mereka lakukan.
Bahkan rasa-rasanya keduanya justru telah bergerak semakin cepat.
Pedang-pedang pendek para pengawal itu masih belum dapat menyentuh
keduanya.
Kedua pengawal itu telah mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga mereka.
Karena itu, dengan hentakan-hentakan yang kuat dan mengerahkan segenap
tenaga cadangannya, maka kedua pengawal itu berusaha melibat lawannya
semakin cepat. Pedang mereka berputaran dan terayun-ayun mengerikan,
bagaikan gumpalan awan yang bergulung-gulung melanda lawan-lawan mereka.
Tetapi kedua lawannya itu mampu bergerak bagaikan tatit di langit. dengan
kecepatan yang tidak terjangkau oleh gumpalan-gumpalan awan yang bergulung
itu, mereka sempat menghindarkan diri dari bahaya yang akan dapat menggulung
nasib mereka dan dengan demikian, menghentikan perlawanan mereka.
Namun kedua orang itu ternyata tidak terkapar di tengah jalan karena
pedang-pedang lawannya. Mereka justru telah memancing kedua pengawal itu
untuk mengerahkan segenap kemampuan mereka dan memeras seluruh tenaga
mereka.
Sebenarnyalah kedua pengawal itu telah benar-benar melepaskan segenap tenaga
yang ada. Karena itulah, maka kekuatan mereka pun segera menyusut dengan
cepat. Tangan mereka tidak lagi mampu mengayunkan pedang mereka dengan
kecepatan yang mantap. Sementara kaki mereka menjadi terasa sangat berat
bagaikan melekat di tanah.
Kedua orang berwajah kotor itu mulai tersenyum. Dalam keadaan yang demikian,
maka mereka mulai menentukan langkah berikutnya dari permainan mereka.
Pada saat kedua orang pengawal itu telah hampir kehabisan tenaga, maka
mulailah kedua orang itu justru menyerang. Sekali-kali tangan mereka
berhasil menyentuh pundak, punggung dan bahkan tengkuk.
Dengan cepat lawan-lawan para pengawal itu mampu menyusup dicelah-celah
putaran pedang yang menjadi sangat lamban. Bahkan perlawanan para pengawal
itu menjadi tidak berarti sama sekali.
(Bersambung)-m
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 26/6/2003
Tulis Komentar
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Jakarta Barat- Indonesia
(0812) 802 5102 (ibu Erni Mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|