Tersedia Keladi Tikus (Rodent Tuber) hubungi ibu Erni di 0812 802 5102 atai (021) 5671778

Gajahsora.Net

 

  

 

 

 

 

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta.

Suramnya Bayang Bayang 354
Tanggal: Selasa, 10-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Selanjutnya, “Orang-orang jahat, akan dapat memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan diri mereka sendiri. Apalagi jika perhatian para Adipati tertuju kepada pengisian tahta yang kosong itu. Tetapi lebih parah lagi jika terjadi benturan pendapat dan bahkan mungkin peperangan. Tetapi sekali lagi aku peringatkan pesan Ki Randukeling, bahwa Ki Wiradana untuk berpihak kepada Jipang adalah merupakan satu keputusan yang masih sangat rahasia. Hanya orang-orang di dalam rumah Ki Wiradana sajalah yang boleh mengetahui. Pengawal yang paling dipercaya pun sebaiknya belum mendengar tentang keputusan ini.” 

“Ya Ki Saudagar. Aku memang belum mengatakan kepada siapapun juga,” jawab Ki Wiradana. 
“Bagus,” jawab saudagar itu. “Sementara itu Ki Wiradana dapat mengatur para pengawal sebaik-baiknya. Aku akan membantu memberikan latihan-latihan bersama seorang kawanku itu.” 
“Terima kasih. Kita memang harus segera mulai,” berkata Ki Wiradana. 
“Semakin cepat semakin baik. Aku yakin bahwa Ki Randukeling akan bergerak dengan cepat. Kita harus sudah siap dengan susunan tataran para pengawal sebelum beberapa orang perwira dari Jipang itu datang.” 
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Dalam waktu sebulan aku akan sudah siap dengan susunan tataran para pengawal sebagaimana dikehendaki oleh kakek dari Gunung Kukusan. Aku tidak terlalu banyak membuat perubahan-perubahan. Yang penting bagiku adalah justru penegasan, nama-nama dari pasukan khusus dan nama-nama dari para pengawal yang lain.” 
Dengan demikian, maka Ki Wiradana telah memanggil beberapa orang kepercayaannya. Dengan singkat ia menguraikan keadaan yang mereka hadapi pada saat-saat terakhir, dengan kosongnya tahta di Demak, maka mungkin akan terjadi persoalan-persoalan yang tidak dikehendaki. Tetapi seperti yang dipesankan Ki Randukeling dan Ki Saudagar, persoalan hubungan antara Jipang dan Tanah Perdikan itu sama sekali tidak disinggungnya. 
Demikianlah, maka dalam waktu yang terhitung singkat, Ki Wiradana telah menyiapkan susunan tataran pada pengawal. Ia telah membuat suatu barak yang akan menjadi barak para pengawal khusus dari pasukan berkuda Tanah Perdikan Sembojan. 
Dalam waktu yang singkat pula, setiap padukuhan harus sudah mengirim nama-nama para pengawalnya. 
Ki Saudagar ternyata mengagumi gerak Ki Wiradana yang cepat itu. Sebagaimana dikatakannya, dalam waktu satu bulan hanya lebih beberapa hari, semuanya telah tersusun rapi. Meskipun barak yang khusus bagi pengawal berkuda masih belum selesai sepenuhnya, tetapi sebagian dari pengawal berkuda yang pada umumnya terdiri dari anak-anak muda yang belum berkeluarga itu telah dapat mempergunakannya. 
“Bagi mereka yang sudah berkeluarga akan tetap tinggal pada keluarga masing-masing,” berkata Ki Wiradana. “Tetapi mereka harus mampu bergerak cepat dan berada di barak pasukan pengawal berkuda dalam waktu pendek. Kecuali jika ada perintah lain,” berkata Ki Wiradana kepada para pengawal itu. 
Dengan para pemimpin pengawal, Ki Wiradana telah membicarakan cara yang akan ditempuh untuk memberikan latihan-latihan yang lebih baik bagi mereka. 
“Untuk sementara, aku dan Ki Saudagar akan menempa mereka dari pasukan pengawal yang tinggal di barak dan mereka yang termasuk pasukan pengawal khusus yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Hanya dalam waktu sekali sepekan, para pengawal di padukuhan-padukuhan akan mendapat latihan-latihan dari para pengawal khusus,” Ki Wiradana menegaskan. 
Dengan demikian, maka Tanah Perdikan Sembojan itu nampaknya menjadi semakin hidup. Setiap hari mereka melihat latihan-latihan yang dilakukan oleh para pengawal khusus. Sedangkan sepekan sekali pasukan khusus itu justru mendapat waktu untuk beristirahat dari latihan-latihan mereka, tetapi mereka justru memberikan latihan-latihan kepada para pengawal yang lain di padukuhan-padukuhan. (Bersambung)-m

 

Suramnya Bayang Bayang 355
Tanggal: Rabu, 11-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Tetapi di samping kegiatan para pengawal yang membuat Tanah Perdikan Sembojan itu nampak bertambah perkasa, terdengar di banyak sudut Tanah Perdikan orang yang mengeluh. Ternyata peningkatan beban anggaran Tanah Perdikan Sembojan itu harus dipikul oleh rakyat. Orang-orang yang dianggap berkecukupan harus memberikan sumbangan khusus disamping pajak mereka. Bahkan kemudian bukan saja mereka yang berkecukupan. Pelaksanaannya ternyata telah menimbulkan persoalan-persoalan tersendiri. 

Batas antara mereka yang berkecukupan dan yang tidak termasuk berkecukupan memang sulit untuk ditentukan. Apalagi ada kesengajaan dari para petugas yang menentukan batas untuk mengaburkan batasan yang tidak jelas itu, sehingga dengan demikian maka sebagian besar dari orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu dianggap saja berkecukupan. Sedakan besar kecilnya sumbangan yang harus mereka berikan itu pun merupakan masalah yang kadang-kadang harus diatasi dengan kekerasan. 
Namun dalam pada itu, rakyat kecil di Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat menolak ketentuan yang dipaksakan kepada mereka oleh Ki Wiradana, pengemban tugas Kepala Tanah Perdikan yang mempergunakan para pengawal khusus sebagai alat untuk melaksanakan ketentuan itu. Yang dapat mereka lakukan tidak lebih dari mengeluh dan bergeremang di antara mereka. 
Sementara itu, Rangga Gupita telah membawa berita tentang Tanah Perdikan Sembojan itu ke Jipang. Ketika ia langsung menyampaikan masalahnya kepada Ki Patih Mantahun, maka Ki Patih itu pun bertanya, "Apakah kau yakin bahwa Tanah Perdikan itu benar-benar dapat dipercaya." 
"Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan adalah cucu Ki Randukeling," jawab Rangga Gupita. 
"Bawa Ki Randukeling kemari," berkata Ki Patih Mantahun. 
"Ia berada di padepokannya, di Gunung Kukusan," jawab Rangga Gupita. "Ia ingin mempersiapkan segala sesuatunya, karena Ki Randukeling sendiri ternyata ingin tinggal untuk waktu yang agak lama di Tanah Perdikan Sembojan. Sehingga karena itu, maka ia harus mengatur padepokannya, agar selama ia tidak berada di padepokan, segala sesuatunya dapat berjalan lancar." 
"Katakan, bahwa Mantahun ingin berbicara langsung. Aku kira ia akan menyediakan waktu, karena Ki Randukeling kadang-kadang mempunyai pikiran yang menarik, sebagaimana usahanya untuk menarik Tanah Perdikan Sembojan ke dalam lingkungan perjuangan Kanjeng Adipati Jipang. Justru karena kelak Sembojan yang menguntungkan dan tanahnya yang menurut pendengaranku sangat subur," berkata Ki Mantahun. 
"Sebagian tanahnya memang sangat subur," jawab Rangga Gupita. "Tetapi baiklah. Aku akan menghubungi Ki Randukeling. Mudah-mudahan ia cepat selesai dengan padepokannya sendiri." 
Sebenarnyalah, bahwa Ki Randukeling sama sekali tidak berkeberatan untuk pergi ke Jipang setelah ia selesai membenahi padepokan yang akan ditinggalkannya untuk waktu yang mungkin agak lama. Memang ada sesuatu yang ingin langsung dibicarakannya dengan Ki Patih Mantahun tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan di Tanah Perdikan Sembojan.(Bersambung)-mx
 

 

 

 

Suramnya Bayang Bayang 356
Tanggal: Kamis, 12-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Namun sambil menunggu kedatangan Ki Randukeling maka para pemimpin di Jipang telah dapat membicarakan rencana yang mapan bagi Tanah Perdikan Sembojan. 

Dengan demikian, ketika Ki Randukeling benar-benar datang menemui Ki Patih Mantahun bersama Rangga Gupita, maka banyak persoalan yang sudah dapat disiapkan pemecahannya. Dengan demikian maka tidak banyak lagi masalah-masalah yang masih harus dipersoalkan. 
“Yang perlu,” berkata Ki Randukeling, “Jipang harus segera mengirimkan beberapa orang perwira untuk memberikan latihan-latihan kepada para pengawal di Tanah Perdikan. Dengan demikian Tanah Perdikan itu akan dapat dipersiapkan, bukan saja sebagai sumber persediaan makanan, tetapi sumber kekuatan. Ki Patih mungkin tidak dapat memperkirakan, berapa lama Kanjeng Adipati Arya Penangsang memerlukan waktu untuk menyelesaikan perjuangannya.” 
“Kau benar Ki Randukeling,” jawab Ki Patih Mantahun. “Kita harus bersiap-siap untuk perjuangan yang lama.” 
“Bukankah sampai saat ini masih belum jelas, apa yang akan terjadi?” bertanya Ki Randukeling. 
“Para pemimpin di Demak, orang-orang tua yang berpengaruh dan para Adipati sedang berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang paling baik bagi masa depan Tanah Perdikan ini. Tetapi pembicaraan itu tidak akan berkeputusan. Kanjeng Adipati di Jipang harus berpegangan kepada jalur kekuasaan yang sebenarnya di Demak, karena terbunuhnya ayahanda Adipati di Jipang telah menggeser jalur kedudukan Sultan di Demak, dari keturunan Sekar Seda Lepen kepada keturunan Trenggana,” berkata Patih Mantahun. 
“Tetapi apakah Adipati Jipang mendapat cukup dukungan?” bertanya Ki Randukeling. 
“Memang mungkin dukungan itu masih harus diperjuangkan. Tetapi itu merupakan bagian dari perjuangan Adipati Jipang dalam keseluruhan,” jawab Patih Mantahun. Namun kemudian, “Tetapi alat perjuangan terakhir adalah siap di Jipang. Kami, para pemimpin di Jipang sudah bertekad, bahwa alat perjuangan terakhir, yaitu kekuatan senjata, telah cukup memadai untuk melawan semua kekuatan yang mungkin akan bergabung, termasuk Pajang. Apalagi para pengawal di Tanah Perdikan Sembojan itu dapat dibina sebagaimana prajurit.” 
“Sejak sebelumnya mereka sudah mendapat latihan-latihan yang tentu masih belum memadai. Tetapi setidaknya dapat merupakan pemanasan dari usaha berikutnya, menempa mereka menjadi prajurit-prajurit sebagaimana prajurit Jipang.” 
Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mengirim beberapa orang perwira segera.”
“Sesudah aku berangkat ke Tanah Perdikan,” berkata Ki Randukeling. 
“Kapan kau berangkat?” bertanya Ki Patih. 
“Besok aku akan kembali ke padepokan. Hanya untuk satu malam. Kemudian aku akan langsung menuju ke Tanah Perdikan. Bersama Rangga Gupita,” jawab Ki Randukeling. 
“Jika demikian, aku akan mengirimkan beberapa orang perwira tiga hari mendatang. Mereka akan langsung pergi ke Tanah Perdikan Sembojan,” berkata Ki Patih. 
“Perintahkan mereka menemui aku di Tanah Perdikan di rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikannya,” pesan Ki Randukeling. “Tetapi ingat, jangan menarik perhatian orang-orang kebanyakan. Dalam kelompok-kelompok kecil, yang sebanyak-banyaknya terdiri dari tiga orang.” 
“Baik. Aku akan menuruti petunjukmu. Sementara itu, persiapan yang lain pun telah dilakukan,” berkata Ki Patih Mantahun. 
“Sebaiknya Ki Patih mempersiapkan satu pasukan yang dapat memancing perhatian orang-orang Pajang. Jika kekerasan itu tidak dapat dihindari, maka biarlah sepasukan Jipang berada disebelah barat Pajang untuk menarik perhatian mereka. Sementara itu, Sembojan dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyerang Pajang dari arah Selatan,” berkata Ki Randukeling. 
“Kami akan sangat memperhatikan. Tetapi jika saatnya datang, aku akan menghubungi lagi Ki Randukeling sambil mengetahui sampai dimana persiapan yang dilakukan oleh Sembojan,” berkata Ki Patih. 
(Bersambung)-m
 

Jumat, 13 Juni 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 357 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 Demikianlah, maka Ki Randukeling telah meninggalkan Jipang. Ia tidak merasa perlu berhubungan langsung dengan Arya Jipang, karena baginya Arya Jipang dan Ki Patih Mantahun tidak banyak bedanya. Meskipun Patih Mantahun telah cukup tua dilihat dari banyaknya umur, tetapi ia masih tetap seorang Patih yang pikirannya sangat diperlukan oleh Arya Jipang. Bahkan dalam umurnya yang semakin tua, bukan saja pikirannya yang masih jernih, tetapi kemampuan ilmunya jarang ada duanya. 

 Sepeninggalan Ki Randukeling, Ki Patih Mantahun telah mempersiapkan beberapa orang perwira yang akan dikirim ke Tanah Perdikan Sembojan. Menurut perhitungannya maka agaknya duapuluh orang perwira yang berbobot akan dapat membentuk satu pasukan yang kuat dalam waktu yang singkat di Tanah Perdikan. Dengan demikian, maka Tanah Perdikan yang semula menjadi daerah kuasa Pajang itu justru akan dapat membayangi Pajang sendiri. Sementara pasukan Jipang yang sebenarnya akan berada di sebelah Barat Pajang. 

“Memang hanya Pajang yang perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh,” berkata Mantahun di dalam hatinya. 

Sebenarnyalah bahwa saingan yang terberat bagi Arya Penangsang adalah Adipati Pajang Hadiwijaya. Meskipun Hadiwijaya bukan menantu dari puteri tertua Sultan Trenggana, tetapi ia adalah orang yang dianggap memiliki kemampuan terbaik di antara keluarga Sultan Demak itu. 

Meskipun demikian, Arya Penangsang tidak tanggung-tanggung menghadapi keturunan Trenggana yang dianggapnya telah merenggut tahta dari ayahnya. Sehingga dengan demikian, dalam kekuasaan yang wajar, ia tentu bukan salah seorang dari calon yang akan menggantikan Sultan Trenggana. 

Dalam pada itu, Ki Patih Mantahun yang telah mempersiapkan duapuluh orang perwira pilihan, telah melaporkannya pula kepada Arya Penangsang bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah menyatakan diri berdiri dipihak mereka. 

“Kau yakin?” bertanya Arya Penangsang. 

“Hamba yakin Kanjeng Adipati,” jawab Mantahun, “Karena hamba telah bertemu langsung sahabat hamba yang bernama Ki Randukeling.” 

“Ya. Aku mengenal orang itu,” potong Arya Penangsang. 

“Nah, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang kecewa terhadap Pajang itu adalah cucu Ki Randukeling,” jawab Patih Mantahun. 

“Bagus,” jawab Arya Penangsang, “Kita harus menjadikan Tanah Perdikan itu, kecuali alas penyediaan makan bagi perjuangan jangka panjang, juga tenaga. Aku tidak berkeberatan atas rencanamu tentang Tanah Perdikan itu.” 

“Hamba sudah menyiapkan duapuluh orang perwira terpilih,” berkata Mantahun. 

“Biarlah mereka pergi,” jawab Arya Penangsang. “Tetapi mereka harus bekerja cepat. Mereka harus selalu menyesuaikan diri dengan langkah-langkah yang akan aku ambil.” 

“Rangga Gupita berada di Tanah Perdikan itu pula. Ia adalah seorang perwira dari pasukan sandi. Ialah yang akan mengatur segala hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang,” jawab Mantahun. 

“Tetapi apakah kita mungkin dalam waktu dekat, sebelum kita sempat berbuat sesuatu. Pajang telah datang dengan pasukannya untuk memaksa Tanah Perdikan itu kembali tunduk kepada kuasa Pajang?” bertanya Arya Penangsang. 

“Terhadap Pajang, Tanah Perdikan itu belum menyatakan sikap. Baru kemudian, jika Tanah Perdikan itu sudah kuat, maka barulah ia akan menyatakan dirinya berada dibawah perlindungan Jipang. Sementara itu, Jipang telah menempatkan pasukannya untuk membayangi Pajang dari arah Barat,” jawab Patih Mantahun. 

Arya Jipang mengangguk-angguk, “Aku memang merasa perlu untuk menekan Pajang dengan menunjukkan kekuatan. Dengan demikian maka Pajang akan menjadi cemas, sehingga dalam pembicaraan-pembicaran yang akan berlangsung, Pajang tidak akan bersitegang untuk mempertahankan keturunan Trenggana memegang kendali pemerintahan di Demak,” Arya Penangsang itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi jika Tingkir itu tetap keras kepala, maka apaboleh buat. Pajang harus dihancurkan.”(Bersambung)-m.

 

Suramnya Bayang Bayang 358
Tanggal: Sabtu, 14-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Dengan demikian, maka Arya Penangsang pun telah merestui rencana Patih Mantahun yang akan diterapkan di Tanah Perdikan Sembojan dan Arya Penangsangpun tidak berkeberatan untuk mengirimkan pasukannya ke sebelah Barat Pajang untuk memancing perhatian Pajang dan sekaligus memberikan tekanan dalam pembicaraan-pembicaraan yang diadakan di Demak. 

Dengan ijin dan bahkan restu itu, berangkatlah duapuluh orang perwira ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi seperti pesan Ki Randukeling, maka duapuluh orang itu tidak pergi bersama-sama dalam satu iring-iringan. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua atau tiga orang dengan mengikuti jalan yang berbeda-beda, sehingga dengan demikian kepergian mereka ke Tanah Perdikan tidak menarik perhatian orang disepanjang jalan. Apalagi dalam kemelut yang sedang terjadi di Demak, maka setiap keadaan akan selalu menjadi arah pengamatan dari pihak yang lain. 
Beberapa hari kemudian, Ki Randukeling yang telah berada di Tanah Perdikan Sembojan itu lebih dahulu. Ia datang bersama Rangga Gupita yang diakunya sebagai cantriknya. 
Kedatangan Ki Randukeling memberikan harapan-harapan baru bagi masa depan Tanah Perdikan itu, meskipun harus dilalui melewati masa-masa ketegangan. 
Demikian Ki Randukeling berada kembali di Tanah Perdikan, maka ia pun segera menyampaikan kepada Ki Wiradana bahwa hubungan dengan Jipang sudah terjalin. 
“Dalam waktu dekat, akan datang para perwira yang mendapat tugas untuk menyusun kekuatan di Tanah Perdikan ini. Orang-orang Jipang percaya, bahwa disini, di Tanah Perdikan ini tersedia tenaga yang cukup. Jika terdapat beberapa orang yang dapat menyusunnya menjadi satu kekuatan yang teratur, maka kekuatan Tanah Perdikan ini harus diperhitungkan,” berkata Ki Randukeling kemudian. 
“Terima kasih kakek,” jawab Ki Wiradana. “Waktunya memang menjadi semakin mendesak. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Warsi akan melahirkan, sementara itu, sama sekali tidak ada kabar dari Pajang tentang wisuda itu. Sehingga dengan demikian maka keputusan untuk berpihak kepada Jipang akan aku tunjukkan kepada Pajang.” 
“Tetapi jangan tergesa-gesa dan jangan bertindak sendiri. Kau harus menyesuaikan langkahmu dengan tahap-tahap yang dilakukan oleh Jipang menghadapi kemelut ini.” 
Ki Wiradana mengangguk-angguk, katanya, “Aku mengerti kakek.” 
“Nah, sejak sekarang kau dapat mempersiapkan orang-orangmu. Duapuluh orang akan datang. Tidak hanya satu atau dua orang. kau sadari jumlah itu? Duapuluh orang. Satu kekuatan yang cukup besar bagi Tanah Perdikan ini. Dan mereka akan membantumu menyusun pasukan pengawal di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Randukeling. “Bukankah dengan demikian Tanah Perdikan ini akan menjadi Tanah Perdikan yang kuat?” 
Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Namun ia pun merasa bahwa ternyata ia tidak harus bekerja sendiri sebagaimana dilakukan oleh ayahnya dahulu. Ia kini mempunyai beberapa orang kawan. Dan bahkan duapuluh orang perwira dari Jipang akan datang ke Tanah Perdikan ini. 
Rencana kehadiran duapuluh orang perwira itu pun kemudian diberitahukan oleh Ki Wiradana dalam satu pertemuan tertutup para pemimpin pengawal Tanah Perdikan. Kepada mereka pun Wiradana belum mengatakan, bahwa orang-orang yang bakal datang itu adalah orang-orang dari Kadipaten Jipang. Ki Wiradana hanya mengatakan, bahwa mereka adalah para sahabat kakeknya. 
“Namun demikian, pada saatnya kalian memang harus mengetahui langkah-langkah yang akan kami ambil kemudian,” berkata Ki Wiradana. 
Keterangan Ki Wiradana itu memang menjadi bahan pembicaraan para pemimpin pengawal. Mereka memang berpengharapan untuk mendapatkan ilmu yang lebih tinggi. Tetapi mereka juga ingin tahu, siapakah sebenarnya duapuluh orang yang bakal datang. (Bersambung)-m


 

Suramnya Bayang Bayang 359
Tanggal: Minggu, 15-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

“Jika orang-orang itu sudah pasti berada di Tanah Perdikan ini, maka barulah aku akan memberitahukan persoalan yang sebenarnya kepada kalian,” berkata Ki Wiradana kepada para pemimpin pengawal yang agaknya selalu dibayangi oleh berbagai macam pertanyaan itu. 

Wiradana menjadi gelisah menunggu kedatangan para perwira seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling. Tetapi Ki Randukeling berkata, “Mereka pasti akan datang. Mungkin hari ini. Mereka tidak akan berjarak lebih dari dua hari dari kedatanganku.” 
Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling, maka orang pertama dan kedua telah datang pada hari itu. Mereka langsung menuju ke rumah Ki Wiradana, disusul dengan orang-orang berikutnya. 
Agar tidak menarik perhatian orang-orang Sembojan sendiri, maka sebagian dari kuda-kuda mereka pun telah dibawa langsung ke halaman belakang. 
Ternyata dua puluh orang itu datang berurutan dalam jarak waktu yang tidak terlalu dekat. Mereka memang menempuh jalan yang berbeda atau kecepatan yang berselisih, sehingga tidak menimbulkan kesan, bahwa orang-orang berkuda dalam kelompok-kelompok kecil itu merupakan satu kesatuan. 
Setelah kedua puluh orang itu lengkap berada di rumah Ki Wiradana, maka mereka pun telah diterima dengan resmi oleh Ki Randukeling. Kemudian Ki Randukeling menyerahkan keduapuluh orang itu kepada Ki Wiradana. 
“Ki Wiradana dapat memanfaatkan keduapuluh orang perwira ini untuk membentuk satu pasukan yang kuat di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Randukeling. Lalu, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Wiradana. Tetapi keduapuluh orang ini mempunyai pengetahuan dan pengalaman. Meskipun demikian, keputusan terakhir tetap pada Ki Wiradana, karena pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan disini adalah Ki Wiradana. Keduapuluh orang itu tidak mencampuri pemerintahan di Tanah Perdikan ini. Mereka datang untuk membantu Ki Wiradana. Tidak untuk menyaingi pemerintahan Ki Wiradana.” 
Ki Wiradana pun kemudian menerima mereka dengan senang hati dan penuh dengan harapan bagi masa depan Tanah Perdikan itu. Untuk selanjutnya, keduapuluh orang itu akan ditempatkan di beberapa rumah yang sudah disediakan didekat barak yang sudah dibuat bagi para pengawal khusus. 
Dengan kehadiran mereka, maka untuk selanjutnya Ki Wiradana tidak merasa perlu lagi untuk merahasiakan hubungan Tanah Perdikan itu dengan Jipang khusus terhadap para pemimpin pengawal. Namun demikian, para pemimpin pengawal itu harus merahasiakannya kepada orang-orang diluar lingkungan mereka karena Tanah Perdikan Sembojan tidak ingin Pajang segera melakukan tindakan seandainya mereka mengetahui. Jika berita tentang keduapuluh orang itu tersebar dan hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang meluas diketahui, maka hal itu tentu akan segera sampai kepada orang-orang Pajang. Karena itu orang-orang Sembojan harus berusaha untuk menyimpan rahasia itu sejauh mungkin dan menyesuaikan langkah-langkah mereka dengan langkah-langkah yang diambil oleh Jipang menghadapi Demak dan Pajang. 
Demikianlah dengan hati-hati, keduapuluh orang itu telah dirempatkan di rumah-rumah yang sudah disediakan didekat barak pada pengawal khusus. Sementara itu, Ki Wiradana telah mengambil langkah-langkah selanjutnya. 
“Kalian harus membantu aku,” berkata Ki Wiradana. “Karena itu maka kalian harus melakukan kewajiban kalian dengan sebaik-baiknya. Keduapuluh orangyang datang itu merupakan satu kesempatan yang sangat baik bagi Tanah Perdikan ini, karena dengan demikian Tanah Perdikan ini akan dapat menyusun satu pasukan pengawal yang kuat, melampaui kekuatan Tanah Perdikan manapun juga. Kalian tidak lagi berada pada tataran pengawal Tanah Perdikan sebagaimana para pengawal Tanah Perdikan yang lain, tetapi kalian adalah prajurit-prajurit pilihan yang berada pada tataran prajurit Demak sendiri,” Ki Wiradana berhenti sejenak, lalu, “Namun demikian langkah-langkah yang aku ambil sekarang ini harus kalian rahasiakan. Keduapuluh orang itu akan berbaur menjadi satu dengan kalian, sehingga tidak akan nampak dari luar, bahwa disini ada duapuluh orang perwira dari prajurit Jipang.” 
(Bersambung)-m

Suramnya Bayang Bayang 360
Tanggal: Senin, 16-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)


 

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka mendengarkan penjelasan Ki Wiradana yang panjang lebar dengan seksama, sehingga mereka pun mengerti dengan jelas segala maksud dan tujuannya. 

Demikian, sejak saat itu, Ki Wiradana menyerahkan pasukan pengawalnya kepada para perwira itu untuk mendapatkan latihan-latihan yang sebaik-baiknya. 
Pada hari-hari pertama, keduapuluh orang itu berusaha untuk mengetahui tingkat kemampuan para pengawal yang ada di barak yang akan menjadi alas ukuran untuk mulai dengan latihan-latihan berikutnya. Kemudian para perwira dari Jipang itu telah membagi para pengawal menjadi duapuluh kelompok kecil. Masing-masing sepuluh orang. Dengan demikian maka Tanah Perdikan Sembojan akan mempunyai duaratus orang yang akan menjadi inti kekuatan Tanah Perdikan itu. 
Ternyata bahwa keduapuluh orang perwira itu pun telah menentukan waktu latihan sebagaimana ditentukan oleh Ki Wiradana sebelumnya. 
“Kami akan memberikan satu hari dalam sepekan kepada kalian untuk melatih kawan-kawan kalian di padukuhan-padukuhan, sehingga dengan demikian maka para pengawal di padukuhan-padukuhan itu pun pada saatnya akan dapat membantu kalian dengan sebaik-baiknya,” berkata para perwira itu kepada kelompoknya. 
Dengan demikian, maka mulailah Tanah Perdikan Sembojan dengan satu masa yang sangat sibuk. Para pengawal benar-benar harus menjalani latihan-latihan yang sangat berat, sebagaimana latihan-latihan yang dilakukan oleh prajurit. Apalagi para perwira itu menghadapi satu jumlah yang terhitung kecil bagi latihan-latihan keprajuritan. 
Namun demikian ternyata rahasia bagi kedatangan duapuluh orang Jipang itu tetap merupakan rahasia yang hanya diketahui oleh para pemimpin pengawal dan duaratus pengawal khusus yang mendapat latihan yang sangat berat itu. Mereka dengan rapat menyimpan rahasia itu sehingga para pengawal di padukuhanpun tidak mengetahui, bahwa dalam latihan-latihan pasukan pengawal khusus itu terdapat orang-orang Jipang. 
Sementara itu, latihan-latihan bagi para pengawal khusus itu memang sangat berat. Setiap pagi mereka menempa kemampuan jasmaniah mereka dengan berlari-lari menempuh jarak yang semakin lama semakin panjang. Memanjat lereng-lereng pegunungan atau meloncati bebatuan di sungai-sungai. Mereka mendapat latihan-latihan dalam perkelahian pribadi maupun dalam kelompok. Sementara itu pada saat-saat tertentu, mereka bersama-sama berlatih dalam perang gelar yang mapan. 
Mereka pun diajari berkelahi dengan mempergunakan bermacam-macam senjata. Senjata yang disediakan, bahkan senjata apapun yang mereka ketemukan ditempat perkelahian itu terjadi. Batu, potongan kayu, bambu dan bahkan lumpur dan pasir. 
“Kalian harus menjadi seorang yang mampu mengatasi segala persoalan yang dapat timbul di peperangan,” berkata para perwira itu kepada para pengawal. (Bersambung)-m



 



 

 

 

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 16/X/2002
12 Oct. is Bali's mourn

updated 18 juni 2003


Tulis Komentar


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Jakarta Barat- Indonesia
(0812) 802 5102 (ibu Erni Mimbar) 
 


UCCXE.com Personal Currency Assistant