|
|
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta.
Suramnya Bayang Bayang 341
Tanggal: Selasa, 27-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Tetapi pada suatu saat Ki Wiradana tentu akan
menemukan satu jalan keluar yang barangkali memadai,” berkata ayah Warsi
yang menyatakan dirinya sebagai seorang saudagar itu.
“Mudah-mudahan Ki Saudagar,” jawab Ki Wiraana. “Namun persoalan itu
rasa-rasanya telah membuat hatiku menjadi pepat.”
“Sudah barang tentu. Namun karena Ki Wiradana sekarang sudah memangku
jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka seharusnya bahwa perhatian Ki Wiradana
tidak boleh terampas hanya oleh satu persoalan saja,” berkata ayah Warsi itu.
“Apalagi kita sudah mempersiapkan sebuah jebakan dan aku sudah menyediakan
diri menjadi umpannya. Mudah-mudahan jebakan itu akan berhasil.”
“Mudah-mudahan,” desis Ki Wiradana.
Namun sementara itu, ketika Ki Wiradana beberapa saat meninggalkan Warsi
menemui Saudagar itu bersama orang yang mengaku sebagai ayahnya, maka ayah
Warsi yang sebenarnya itu pun berkata, “Kakekmu akan bersedia datang.”
“Syukur ayah,” jawab Warsi gembira. “Tetapi sampai saat ini kakek itu belum
tampak. Bukankah kakek itu akan ayah persilakan datang mendahului ayah?”
“Ternyata ia lebih suka datang kemudian setelah aku memberitahukannya
kepadamu. Mungkin ia memerlukan bantuanmu untuk mengatur orang-orang kita
yang terlibat ke dalam permainan ini, agar kakekmu tidak salah sebut. Juga
terhadap orang yang disebut sebagai ayahmu itu,” berkata ayah Warsi.
Warsi mengangguk-angguk. Desisnya, “Jadi kapan kakek akan datang?”
“Mungkin besok atau lusa,” jawab ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar
itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi di samping memenuhi undanganku, kakekmu
juga mempunyai kepentingan tersendiri.”
“Kepentingan apa?” bertanya Warsi.
“Ia ternyata terlibat dalam kemelut antara Jipang dan Demak. Kakekmu adalah
pengikut Arya Penangsang yang setia,” berkata ayah Warsi itu.
Warsi mengerutkan keningnya. Namun ketajaman penggraitanya telah menunjukkan
kepadanya arah pembicaraannya dengan ayahnya itu. Bahkan hampir di luar
sadarnya ia berkata, “Ayah, apakah kakek ingin melibatkan Sembojan dalam
persoalan ini?”
Ayahnya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Biarlah kakekmu
sendiri besok menjelaskannya.”
Warsi mengangguk-angguk. Desisnya, “Menarik sekali.
Nampaknya Pajang sudah tidak memperhatikan lagi keadaan Tanah Perdikan ini
dengan mempersulit persoalan. Jika Pajang tidak mempersulit, apakah susahnya
melakukan wisuda itu. Kami sendirilah yang mengadakan persiapan dan kemudian
menyelenggarakan upacara. Semua biaya dan tenaga, kami sendirilah yang
menanggungnya. Mereka, orang-orang Pajang itu tinggal datang dan mengucapkan
beberapa kalimat pengukuhan saja. Tidak ada kesulitan meskipun Pajang sedang
sibuk. Pengukuhan itu dapat berlangsung dalam waktu satu hari. Seandainya
Adipati Pajang sendiri tidak dapat datang, maka ia dapat menugaskan salah
seorang pemimpin pemerintahan, mungkin yang disebut Tumenggung Wirajaya itu
untuk datang, asal ia membawa pertanda kuasa Adipati Pajang. Maka selesailah
persoalannya.”
Ayah Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, kau menunggu kakekmu. Hari
ini atau besok aku masih menjadi umpan untuk memancing perampok itu.”
Hati-hatilah ayah. Meskipun kakang Wiradana sudah menyiapkan pengawal,
tetapi mungkin terjadi sesuatu di luar perhitungan kita,” pesan Warsi.
Untuk beberapa lama ayah Warsi yang dikenal oleh Wiradana sebagai saudagar
itu masih berada di rumahnya. Namun beberapa lama kemudian ia pun minta diri
untuk pergi ke penginapan.
Ki Wiradana yang kemudian menemuinya pula, telah mengantarkannya sampai ke
regol halaman. Seperti Warsi ia berpesan, “Hati-hatilah Ki Saudagar. Mereka
adalah orang-orang yang licik dan tidak segan-segan mempergunakan segala
cara untuk melakukan usahanya yang kotor itu.”
Ayah Warsi itu tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan melakukan kesalahan untuk
kedua kalinya.”(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 342
Tanggal: Rabu, 28-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Demikian orang itu meninggalkan rumahnya,
maka lewat seorang pengawal Ki Wiradana telah memerintahkan mereka yang
mendapat tugas khusus mengawasi penginapan yang terutama dipergunakan oleh
saudagar itu untuk bersiaga.
“Satu atau dua orang harus mengawasi terus ke mana saudagar itu pergi. Siang
apalagi malam. Karena perampok-perampk itu tidak memilih waktu,” berkata Ki
Wiradana. Ternyata Ki Wiradana sendiri sudah mengalami di rampok di siang
hari justru di jalan yang terhitung ramai.
Malam yang kemudian turun adalah malam yang tegang bagi Tanah Perdikan
Sembojan, terutama di padukuhan induk. Beberapa pengawal tersembunyi,
mengawasi penginapan yang dipergunakan oleh saudagar itu dengan seksama. Dua
orang pengawal yang tidak dalam sikap pengawal, berada di penginapan itu
pula.
Namun ternyata malam yang tegang itu lewat tanpa terjadi sesuatu. Para
pengawal yang berjaga-jaga semalam suntuk, mengumpat di dalam hati ketika
mereka melihat langit menjadi terang.
“Gila,” geram salah seorang di antara mereka, “Perampok itu sama sekali
tidak menampakkan ujung hidungnya.”
“Justru perampok yang cerdik,” jawab kawannya. “Ia tidak mau menjerumuskan
dirinya sendiri ke dalam kesulitan. Bahkan kemungkinan untuk tertangkap.”
Pengawal yang pertama mengumpat. Tetapi kawannya yang lain segera menyahut.
“Mungkin aku dapat menyebutnya dengan istilah lain agar kita merasa lebih
berjasa daripada menyebutnya cerdik. Mereka agaknya ketakutan melihat kita
mengawasi penginapan itu.”
“Persetan,” geram kawannya yang pertama membuka pembicaraan.
Para pengawal itu tidak saling berbicara lagi. Agaknya tugas mereka untuk
malam itu telah berakhir. Beberapa orang pengawal yang lain akan mengambil
alih tugas mereka di siang hari. Namun sebenarnyalah para pengawal itu
menjadi kecewa bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk menangkap
perampok yang telah mengganggu Tanah Perdikan mereka dan pemangku jabatan
Kepala Tanah Perdikan itu.
Di hari yang baru itu, Warsilah yang dibebani oleh sebuah harapan akan
kehadiran seorang tamu lagi. Kakeknya dari Gunung Kukusan sebagaimana
dikatakan oleh pamannya. Kakeknya bukan saja akan dapat melindunginya yang
sedang dalam keadaan mengandung itu, tetapi kakeknya juga membawa persoalan
yang menyangkut hubungan antara Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang.
Memang satu persoalan baru yang harus dipikirkannya. Tetapi Warsi agaknya
sudah tidak tertarik lagi untuk tetap berada dibawah kekuasaan Pajang yang
dianggapnya mengabaikan kepentingan Tanah Perdikan Sembojan.
“Tetapi aku memang memerlukan penjelasan dari kakek,” berkata Warsi di dalam
hatinya.
Ketika matahari naik sepenggalah, maka saudagar emas yang menginap di
penginapan serta menyediakan diri untuk menjadi umpan itu telah berada di
rumah Wiradana. Dengan nada kesal ia berkata, “Semalam aku menunggu.
Ternyata perampok licik itu tidak datang.”
“Aku pun hampir tidak tidur semalam,” sahut Ki Wiradana. “Aku selalu hilir
mudik antara gardu di regol dan bilik pembaringan. Tetapi sampai hampir pagi
aku tidak mendengar suara isyarat apapun juga.”
Saudagar itu mengangguk-angguk. Sementara itu pembicaraan mereka masih
berkisar kepada usaha mereka menjebak perampok-perampok itu.
Namun dalam pada itu, seorang tamu telah da tang kerumah itu. Seorang yang
rambutnya telah memutih dan wajahnya telah dipenuhi oleh garis-garis umur.
Namun demikian tubuhnya masih nampak tegap kekar dalam ketuaannya.
“Kakek,” tiba-tiba saja Warsi berlari menghambur, lalu, “Silakan kakek.”
Orang tua itu mengangguk-angguk. Wajahnya nampak terang dan tatapan matanya
bagaikan bersinar oleh nyala api kemauan yang membara di dalam dadanya.
“Ini rumahmu Warsi,” bertanya orang tua itu, “Bagus sekali.”
“Ya. Kakek. Marilah. Inilah kakang Wiradana, suamiku,” Warsi mempersilakan.
Orang tua itu melangkah masuk. Wiradana pun kemudian menyambutnya dengan
penuh hormat, “Aku adalah Wiradana kakek.”
“Kau adalah cucuku,” desis orang tua itu.
“Ini adalah kakekku kakang. Ayah dari ibuku,” Warsi memperkenalkan. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 343
Tanggal: Kamis, 29-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Marilah kakek, silakan,” Wiradana pun
mempersilakan pula.
“Hari ini ayah juga berada disini kakek,” berkata Warsi.
“O, begitu. Kebetulan sekali. Sudah lama aku tidak bertemu dengan ayahmu,”
jawab orang tua itu.
Sekilas orang tua itu memandang ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu.
Tetapi ia sudah tahu, bahwa yang disebut ayah oleh Warsi itu justru orang
lain.
Ketika Warsi datang bersama orang yang disebutnya ayahnya itu, kakeknya
mengumpat di dalam hati.
“Orang seperti kadal ini diakunya sebagai ayahnya,” berkata kakek Warsi di
dalam hatinya.
Namun ia pun menanggapi kehadirannya sebagai ia menanggapi kedatangan
menantunya.
Pertemuan itu pun rasa-rasanya menjadi akrab. Bahkan saudagar itu pun telah
terlibat pula dalam pembicaraan-pembicaraan yang berkepanjangan tentang diri
mereka masing-masing.
Kedatangan orang yang mengaku sebagai kakek Warsi itu memberikan harapan
baru bagi Ki Wiradana. Ia melihat pada wajah dan sorot matanya, bahwa orang
itu memiliki kemampuan berpikir melampaui orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan sendiri. Dengan demikian ia berharap bahwa selain Ki Suadagar, ayah
Warsi dan Warsi sendiri, ia akan mendapat kawan berbincang lebih banyak lagi.
Hari itu, kakek Warsi itu masih belum mengatakan sesuatu. Ia masih saja
berbicara tentang keluarganya. Tentang kampung halaman dan tentang
dongeng-dongeng yang lain yang menarik bagi Ki Wiradana.
Namun dalam pada itu, ketika senja mulai membayang di langit, Ki Wiradana
dan Ki Saudagar telah mempersiapkan lagi satu jebakan sebagaimana malam
sebelumnya. Mungkin perampok itu datang lagi setelah mereka tahu, bahwa
saudagar emas permata itu berada lagi di Tanah Perdikan Sembojan dan
bermalam di penginapan yang terdahulu.
Tetapi nampaknya kakek Warsi yang baru datang itu telah berusaha untuk
menahan saudagar itu, agar malam itu ia tidur di rumah Ki Wiradana.
“Ada yang ingin aku katakan,” berkata orang yang mengaku sebagai kakek Warsi.
“Kepada siapa?” bertanya saudagar itu, “Kepada Ki Wiradana dan istrinya atau
kepadaku.”
“Kepada kalian semuanya,” berkata orang itu.
Dengan demikian maka Ki Saudagar itu pun untuk malam itu telah bermalam di
rumah Wiradana. Orang yang mengaku kakek Warsi itu mempunyai persoalan yang
akan dibicarakan dengan mereka. Namun ayah Warsi yang mengaku sebagai
saudagar itu mengerti, apa yang akan dibicarakan oleh pertapa dari Gunung
Kemukus itu.
Sebenarnyalah malam turun perlahan-lahan di atas Tanah Perdikan Sembojan.
Orang tua yang diperkenalkan Warsi sebagai kakeknya yang bernama Ki
Randukeling, telah memanggil orang-orang yang ingin diajaknya berbicara di
ruang dalam termasuk Warsi sendiri.
Setelah orang-orang itu berkumpul, dan setelah mereka meneguk minuman panas,
maka Ki Randukeling itu pun berkata, “Aku minta maaf, bahwa aku datang
dengan membawa satu persoalan yang barangkali justru akan dapat mengganggu
ketenangan Ki Wiradana.”
Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Namun serba sedikit Warsi sudah dapat
menduga, bahwa yang akan dikatakan oleh Ki Randukeling adalah persoalan
Tanah Perdikan Sembojan dalam hubungannya dengan Pajang dan Jipang.
Ki Wiradana yang sama sekali masih belum mengetahui apa yang akan
dikatakannya telah mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, sementara itu Ki
Randukeling berkata selanjutnya, “Ki Wiradana, bukankah Ki Wiradana sudah
mengetahui serba sedikit persoalan yang timbul antara Demak, Pajang dan
Jipang yang barangkali juga akan menyangkut banyak pihak yang lain? Nah,
agaknya aku perlu berbicara serba sedikit tentang hal itu sesuai dengan
pengetahuanku. Jika ternyata aku keliru, maka aku mohon dapat diluruskan.”
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Menilik sikap dan pembicaraannya, maka
kakek Warsi itu benar-benar akan berarti baginya untuk membantunya
memerintah Tanah Perdikan Sembojan yang terasa mulai bergejolak karena
bermacam-macam sebab. (Bersambung)-m
Sabtu, 31 Mei 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 344
|
Dalam pada itu, Ki Randukeling
melanjutkan, “Tetapi sebelumnya aku mohon Ki Wiradana dapat
mempertimbangkan sebaik-baiknya. Jangan terlalu cepat mengambil
kesimpulan. Aku tidak berkeberatan di dalam pertemuan ini hadir Ki
Saudagar. Mungkin Ki Saudagar yang menurut dugaanku sering melakukan
perjalanan ke tempat-tempat yang jauh akan dapat memberikan pertimbangan
atas pendapatku.”
Ki Wiradana menjadi semakin berdebar-debar. Dengan jantung yang terasa
berdeguban semakin keras ia mendengarkan Ki Randukeling berkata
selanjutnya. “Ki Wiradana. Aku sudah mendengar dari Warsi, apa yang
terjadi atasmu dengan pengunduran saat-saat kau dikukuhkan karena Pajang
sedang sibuk. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, karena persoalanmu
tidak bersangkut paut dengan persoalan yang terjadi di Demak. Adipati
Pajang dapat saja melaksanakan kewajibannya atas Demak dan sekaligus
mengukuhkan kedudukanmu. Mungkin Adipati itu memang tidak dapat datang
sendiri ke Tanah Perdikan ini. Tetapi ia dapat memerintahkan orang lain
untuk melakukannya.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya kakek. Ternyata sikap
orang-orang Pajang tidak menguntungkan bagiku.”
“Itu adalah ciri orang-orang Pajang,” berkata Ki Randukeling selanjutnya.
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Ciri
yang bagaimana kakek?”
“Orang-orang Pajang memang orang-orang yang bekerja sangat lamban.
Bahkan lebih buruk dari itu, orang-orang Pajang termasuk Adipati
Hadiwijaya, selalu menunda-nunda pekerjaan yang sebenarnya dapat
diselesaikan dalam waktu singkat. Bahkan kadang-kadang ada-ada saja
alasan yang sebenarnya tidak masuk akal untuk memperlambat pekerjaan
mereka. Bukan sekadar karena orang-orang Pajang adalah orang-orang yang
malas, tetapi ada perasaan dengki terhadap keberhasilan seseorang.
Mereka lebih senang melihat Ki Wiradana dalam keadaan terkatung-katung
daripada Ki Wiradana dengan mantap menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan,”
berkata Ki Randukeling.
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Pantas. Ada saja alasan Ki
Tumenggung Wirajaya. Nampaknya Ki Tumenggung adalah seorang yang ramah,
dan dengan ikhlas ingin membantu mempermudah penyelesaian persoalan
pengukuhan ini. Tetapi agaknya benar juga pendapat kakek. Semua orang
Pajang memang bekerja dengan lamban, berpura-pura dan tidak jujur.”
“Tepat,” jawab Ki Randukeling, “Coba, ingat-ingat apa saja yang pernah
dilakukan oleh Ki Tumenggung itu.”
“Ia nampaknya baik sekali terhadapku kakek. Tetapi ia telah mempersulit
pengukuhan ini dengan alasan yang agaknya memang dibuat-buat. Ia memaksa
untuk menemukan sebuah bandul dan rantainya yang sampai saat ini hilang
sepeninggalan ayah. Menurut keterangan Ki Tumenggung, bandul emas yang
bertatahkan gambar kepala seekor burung elang itu merupakan syarat bagi
wisudaku sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, Ki
Tumenggung minta aku mencarinya sambil menunggu kesempatan setelah
persoalan Kanjeng Adipati Pajang dapat diselesaikan,” jawab Ki Wiradana.
“Nah, bukankah sudah nyata,” berkata Ki Randukeling, “Sebenarnya syarat
itu tidak perlu sama sekali. Siapakah yang meragukan bahwa Ki Wiradana
adalah anak Ki Gede Sembojan yang terbunuh itu? Jika orang-orang Pajang
tidak ingin mempersulit keadaan, maka pengukuhan itu dapat saja
dilakukan tanpa pertanda itu dan tidak usah menunggu persoalan dengan
Demak selesai.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Ki Randukeling.
Karena itu, ia menjadi semakin kecewa terhadap sikap orang-orang Pajang.
Bahkan Adipati Pajang sendiri. Karena ia pun telah langsung menghadapnya,
namun ia tidak berhasil mendapatkan ketetapan waktu sebelum anaknya
lahir.
Namun demikian, apakah yang dapat diperbuatnya, karena Tanah Perdikan
Sembojan termasuk daerah kekuasaan Adipati Pajang. Segala keputusan
hanya dapat diberikan oleh Pajang bagaimana pun bunyinya. (Bersambung)-m.
|
Minggu, 01 Juni 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) -
Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 345
|
Dalam
pada itu, ayah Warsi yang menyebut dirinya sebagai saudagar emas
permata itu pun berkata, “Ki Randukeling. Aku adalah seorang pedagang
keliling yang pernah mendatangi berbagai kota, termasuk Jipang, Pajang
dan Demak. Sebenarnyalah pemerintahan di Pajang adalah pemerintahan yang
paling buruk dibandingkan dengan Kadipaten lain. Terutama Jipang. Jipang
memiliki seorang Adipati yang terampil terengginas. Cepat bertindak dan
tidak terlalu memikirkan persoalan-persoalan kecil yang tidak berarti.
Seandainya persoalan Ki Wiradana ini terjadi di Jipang, maka aku kira
segala sesuatunya tentu sudah mendapat penyelesaian sewajarnya.”
“Ya,” sahut Ki Randukeling, “Agaknya tidak ada persoalan apapun juga yang
dapat timbul hanya karena bandul dan karena kesibukan. Sebenarnya
Adipati Pajang tidak usah menyibukkan diri untuk mengurusi Demak, karena
sudah ada orang-orang tertentu, para pemimpin Demak, orang-orang tua
serta para pemimpin agama yang memikirkan, bagaimana selanjutnya
pemerintah di Demak sepeninggalan Kanjeng Sultan Trenggana.”
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Sementara itu Warsi pun bertanya,
“Tetapi apakah kita boleh memilih kakek? Misalnya, kita ingin
menempatkan Tanah Perdikan ini dibawah kuasa Jipang bukan Pajang.”
Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan Warsi benar-benar
telah mengarah. Ternyata bahwa Warsi memang seorang yang memiliki
ketajaman berpikir, sehingga ia dapat langsung membimbing pembicaraan
itu ke sasaran tanpa disadari oleh Ki Wiradana.
Dipandanginya Warsi sejenak. Kemudian katanya kepada Ki Wiradana, “Sudah
tentu kita tidak dapat memilih. Bukan kitalah yang menentukan, Tanah
Perdikan ini berada dibawah kekuasaan siapa. Tetapi memang sudah ada
ketentuan sebelumnya yang disetujui bersama antara para Adipati, bahwa
satu lingkungan dinyatakan berada di wilayah Kadipaten tertentu. Karena
itu, kita harus tunduk kepada satu ketentuan pembagian wilayah itu. Dan
Pajang ternyata merupakan Kadipaten yang berhak memerintah Tanah
Perdikan ini.”
“Tetapi ternyata Pajang tidak dapat berbuat sebaik-baiknya bagi
kepentingan Tanah Perdikan ini kakek,” berkata Warsi pula.
Ki Randukeling termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya,
“Pertanyaanmu membuat aku berdebar-debar. Aku memang mempunyai persoalan
yang dapat kita bicarakan malam ini dengan sungguh-sungguh. Langsung
menyangkut hubungan antara Tanah Perdikan ini dengan Pajang.”
“Maksud kakek?” Warsi pulalah yang bertanya.
Ki Randukeling termenung sesaat. Ada semacam keragu-raguan membayang di
wajahnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku tidak akan terlalu
banyak memberikan alasan. Tetapi aku berharap bahwa kalian dapat
memikirkan persoalan ini dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana aku katakan,
aku tidak akan memaksa satu keputusan. Tetapi hendaknya masalah ini
dipikirkan baik-baik,” Ki Randukeling berhenti sejenak, sementara Ki
Wiradana menjadi berdebar-debar. (Bersambung)-m. |
Suramnya Bayang Bayang 346
Tanggal: Senin, 02-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Lalu katanya lebih lanjut, “Ki Wiradana.
Nampaknya Pajang memang tidak begitu menghiraukan Tanah Perdikan yang tidak
terlalu dekat dengan pusat pemerintahan Kadipaten Pajang, sehingga Adipati
Pajang menganggap bahwa Tanah Perdikan ini sama sekali tidak penting, atau
barangkali Adipati Pajang memang tidak ingin melihat ketidakpastian terjadi
di atas Tanah Perdikan ini. Karena itu, sebagai satu lingkungan yang hidup
dan memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu, maka kita tidak akan dapat
menentukan sikap terhadap Pajang. Pada saat Pajang berada di dalam
ketidakpastian. Karena Pajang adalah sebuah Kadipaten yang berada dibawah
kekuasaan Demak, maka dalam kekalutan ini, diharapkan akan dapat terjadi
pergeseran kekuatan dan kekuasaan dari keturunan Trenggana kembali ke
keturunan Sekar Seda Lepen.”
Wiradana mengerutkan keningnya. Keterangan Ki Randukeling telah membuatnya
menjadi berdebar-debar. Sementara itu Ki Randukeling berkata selanjutnya,
“Ki Wiradana. Jika Pajang memang tidak lagi menganggap Tanah Perdikan ini
penting untuk digarap dan dibimbing menuju ke satu keadaan yang mantap, maka
buat apa Tanah Perdikan ini masih tetap bersandar kepada Pajang. Kenapa kita
tidak beralih kiblat dengan menempatkan diri kita dibawah kekuasaan Jipang.
Jipang letaknya memang tidak jauh, tetapi jika yang lebih jauh itu mampu
memberikan tempat yang lebih baik bagi Tanah Perdikan ini, apa salahnya?”
Ki Wiradana menjadi tegang. Pada saat-saat ia mengikuti pembicaraan Ki
Randukeling, ia memang sudah menduga, bahwa pembicaraan itu akan sampai
kesana.
Namun demikian, agaknya tawaran ini memang sangat menarik. Rasa-rasanya ia
sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat dikukuhkan apalagi dalam waktu
singkat karena beberapa alasan. Salah satu alasan adalah pertanda kuasa
Tanah Perdikan Sembojan yang hilang itu.
“Memang mungkin hanya merupakan satu alasan saja,” berkata Ki Wiradana di
dalam hatinya. “Tetapi sebenarnya Pajang atau justru Adipati Pajang ingin
Tanah Perdikan ini hapus dan menjadi daerah Pajang sebagaimana
Kademangan-kademangan yang tidak mempunyai wewenang menentukan lingkungannya
sendiri selain patuh dan tunduk segala perintah dan paugeran dari Pajang,
terutama menyangkut pajak.”
Namun dalam pada itu, Ki Wiradana tidak segera menjawab. Ada kebimbangan di
dalam hatinya untuk menentukan pilihan, sehingga karena itu, maka untuk
beberapa saat ia justru terdiam.
Karena Ki Wiradana justru termangu-mangu, maka Ki Randukeling itu pun
berkata, “Kau tidak perlu gelisah dan memaksa diri untuk mengambil keputusan
cucuku. Berpikirlah. Karena kau mempunyai seorang istri, maka bicarakanlah
persoalanmu dengan istrimu.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah kakek. Aku akan mencoba
merenungkan. Mungkin dalam waktu singkat kami, maksudku aku dan istriku
sudah akan dapat mengambil keputusan.”
“Pertimbangkan keputusanmu baik-baik, karena persoalannya menyangkut bukan
saja kau berdua, tetapi seisi Tanah Perdikan ini,” berkata kakek itu pula.
Lalu, “Selebihnya Jipang letaknya lebih jauh dari Pajang. Karena itu dalam
beberapa hal, Tanah Perdikan ini akan mendapat lebih banyak kebebasan.
Jipang tidak akan sempat membuat perhitungan sampai yang sekecil-kecilnya
mengenai perkembangan Tanah Perdikan ini, juga dalam hal perhitungan pajak.
Apalagi sampai saat ini adalah sebuah Kadipaten yang kaya raya, sehingga
hal-hal seperti itu tidak akan banyak mendapat perhatian.
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi ia memang tidak ingin mengambil
keputusan. Ia akan membuat pertimbangan-pertimbangan sesuai dengan
keterangan-keterangan yang didengarnya dari kakek Warsi dan dari Ki Saudagar.
Dalam pada itu, ketika malam menjadi larut, maka orang-orang yang berbincang
itu pun merasa telah cukup. Mereka pun kemudian dipersilakan beristirahat di
bilik-bilik yang sudah disediakan. Saudagar emas itu pun bermalam pula di
rumah Ki Wi radana sebagaimana pernah dilakukannya sebelumnya. (Bersambung)-o
Suramnya Bayang Bayang 347
Tanggal: Selasa, 03-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Namun, ketika malam menjadi sepi, dan para
tamu Ki Wiradana sudah berada dibalik bilik masing-masing, maka Ki Wiradana
masih duduk di ruang dalam bersama istrinya.
“Warsi,” berkata Ki Wiradana kemudian, “Kita sudah mendengar keterangan
kakek tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat kita lakukan. Bagaimana
menurut pendapatmu?”
“Segalanya terserah saja kepada kakang,” berkata Warsi sambil menunduk,
“Mana yang baik bagi kakang, aku merasa akan baik juga bagiku.”
“Tetapi persoalan ini adalah persoalan yang gawat Warsi. Bukan saja
menyangkut aku dan kau. Tetapi menyangkut Tanah Perdikan ini. Jika aku
mengambil keputusan untuk menghindari kekuasaan Pajang dan menyatukan diri
dengan Jipang, maka ada beberapa kemungkinan dapat terjadi. Mungkin Pajang
akan datang untuk menghukum Tanah Perdikan ini. Menangkap aku dan bahkan
mungkin keluargaku. Kemudian merampas Tanah Perdikan ini untuk
selama-lamanya,” berkata Wiradana dengan sungguh-sungguh. “Tetapi jika kita
tidak bergabung dengan Jipang seperti yang dikatakan oleh kakekmu itu, nasib
Tanah Perdikan ini agaknya lambat laun juga akan sama saja. Tetapi sudah
barang tentu tidak akan terjadi kekerasan sebagaimana jika kita dengan serta
merta memisahkan diri dari Pajang. Sebab dengan demikian kita akan dapat
disebut sebagai pemberontak.”
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri berada dalam kebimbangan. Selama
ini ia adalah istri yang penurut, yang tidak banyak memberikan pendapat
selain menurut saja, meskipun dengan cara lain, cara yang sangat lembut
selalu memberikan tekanan yang tidak terlawan oleh Wiradana.
“Apakah aku dapat memberikan pendapatku dengan cara yang selama ini aku
pergunakan? pertanyaan itu mulai bergetar di hatinya.
Namun Warsi masih akan mencobanya. Jika ia mengalami kesulitan dalam
persoalan yang penting dan gawat ini, maka terpaksa ia akan mempergunakan
cara lain. Ia sendiri sudah memutuskan, bahwa Wiradana memang harus
menempatkan diri dibawah kuasa Jipang.
Sementara itu karena Warsi tidak segera menjawab, maka Ki Wiradana pun telah
mendesaknya, “Aku memerlukan pendapatmu Warsi.”
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya seorang istri kakang.
Segala sesuatunya memang terserah kepadamu. Apa yang baik bagimu, tentu akan
baik juga bagiku. Karena itu, barangkali kakang dapat berbicara sekali lagi
dengan kakek. Kakang dapat minta pendapatnya. Apa yang sebaiknya kita
lakukan di Tanah Perdikan ini. Namun sebenarnyalah aku kasihan melihat
keadaanmu kaang. Meskipun aku kurang mengerti, tetapi rasa-rasanya
orang-orang Pajang itu telah menganggap bahwa mereka dapat berbuat sesuka
hatinya terhadapmu. Sebagai seorang istri aku hanya dapat merasakan
sebagaimana kau rasakan. Sementara ini aku pun mengerti, bahwa kau tidak
lagi menghormati Pajang sebagaimana sebelumnya. Namun segalanya terserah,
manakah yang baik bagi kakang.”
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Seperti setiap kali terjadi, kata-kata
istrinya yang dikatakannya tidak dalam nada pertimbangan selain sekadar
pasrah itu memberinya dorongan untuk mengambil keputusan. Namun demikian ia
sependapat, bahwa sebaiknya ia berbicara sekali lagi dengan kakek Warsi.
Tetapi rasa-rasanya Ki Wiradana itu sudah mengerti bahwa Warsi sendiri
agaknya tidak lagi menginginkannya untuk tetap berkiblat kepada Pajang,
tetapi Warsi tidak berani mengatakannya dengan terus terang.
Tetapi Ki Wiradana tidak ingin mengganggu kakeknya yang sedang beristirahat.
Karena itu maka segalanya yang menyumbat dadanya ditahankan sampai keesokan
harinya.
Demikianlah, ketika Ki Wiradana dan tamu-tamunya duduk di sebuah amben besar
di pagi harinya, menghadapi mangkuk-mangkuk minuman panas, rasa-rasanya ia
tidak sabar lagi menunggu. Karena itu, maka Ki Wiradanalah yang kemudian
membuka pembicaraan tentang kemungkinan untuk melepaskan diri dari Pajang
dan bergabung dengan Jipang.
“Tetapi bagaimana jika Pajang itu datang dengan pasukan segelar sepapan?”
bertanya Ki Wiradana.(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 348
Tanggal: Rabu, 04-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Kakek Warsi itu menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Semuanya akan dapat diperhitungkan sebaik-baiknya. Sudah
barang tentu cucu tidak akan dengan serta merta mengumumkan, bahwa Tanah
Perdikan Sembojan tidak lagi berada dibawah kuasa Adipati Pajang. Kita akan
melakukannya dengan diam-diam seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Namun
sementara itu, kita membuat hubungan dengan Jipang. Baru setelah Jipang
menyatakan siap melindungi Tanah Perdikan ini, maka baru kita akan
menyatakannya secara terbuka. Sementara itu, antara Jipang dan Pajang sudah
tidak ada lagi pengikatnya yang akan dapat mengambil keputusan. Pada saat
Demak masih berdiri, maka persoalan yang timbul antara dua Kadipaten, akan
dicari penyelesaiannya di Demak. Tetapi kini tidak ada lagi kekuasaan Demak
itu. Sedangkan siapakah yang akan menggantikannya, masih dalam persoalan.
Bahkan mungkin kekuasaan Demak akan beralih ke Jipang karena Arya Penangsang
memang berhak atas kekuasaan itu,” Kakek Warsi pun berhenti sejenak,
sementara itu ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu pun berkata, “Aku
mengerti. Jika aku diijinkan memberikan pendapatku, aku setuju dengan
keterangan Ki Randukeling. Tidak ada yang dapat diharapkan lagi dari Pajang.
Apalagi ketika pada saat terakhir aku sempat melihat Jipang meskipun hanya
dalam waktu dua hari. Ternyata kekuatan Jipang jauh melampaui kekuatan
Pajang. Jika terjadi sesuatu, maksudku jika terjadi pertentangan sehingga
mengakibatkan perang maka tidak ada kekuatan yang akan dapat mengimbangi
Jipang. Kecuali itu, Arya Penangsang adalah seseorang yang tidak ada duanya
di Demak. Apalagi dibandingkan dengan Adipati Hadiwijaya dari Pajang. Karena
itu, menurut pendapatku, jalan seperti yang dikatakan oleh Ki Randukeling
itu akan dapat ditempuh oleh Tanah Perdikan ini, sementara itu,
latihan-latihan bagi para pengawal Tanah Perdikan dapat ditingkatkan.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya ia memandang
laki-laki yang disebut ayah oleh Warsi, sehingga orang itu pun kemudian
berdesis, “Agaknya memang tidak ada pilihan lain yang lebih baik.”
Pendapat orang-orang itu benar-benar telah menjeratnya. Namun demikian ia
masih juga bertanya kepada Warsi, “Bagaimana pendapatmu Warsi. Kau lihat,
orang-orang yang aku anggap mempunyai pengetahuan dan pengalaman ini
berpendapat, bahwa sebaiknya kita meninggalkan Pajang dan berpihak kepada
Jipang.”
Warsi menundukkan kepalanya. Namun katanya, “Aku tidak dapat memberikan
pertimbangan apapun kakang, karena aku memang tidak mengerti. Tetapi disini
ada kakek dan ada ayah. Sementara itu Ki Saudagar itu pun memiliki
pengetahuan dan pengalaman yang luas tentang Kadipaten-kadipaten yang berada
di luar Pajang. Mereka telah memberikan pertimbangan mereka, sehingga segala
sesuatunya kakanglah yang dapat memutuskannya. Bagiku, mana yang
menguntungkan bagi kakang dan Tanah Perdikan ini adalah yang paling baik.
Jika menurut kakang Jipang memberikan lebih banyak kemungkinan bagi kebaikan
Tanah Perdikan ini, maka aku pun hanya mengikut saja.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Meskipun Warsi tidak menentukan, tetapi Ki
Wiradana menjadi semakin mantap. Karena itu maka katanya, “Kakek. Jika
pertimbangan kakek dan ayah demikian, diperkuat oleh keterangan Ki Saudagar,
maka aku pun tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi dengan keterangan, bahwa
perpindahan kiblat itu tidak akan menimbulkan kesulitan bagi Tanah Perdikan
ini jika Pajang menggunakan kekerasan.”
“Aku akan membantu cucu,” berkata Ki Randukeling. “Aku mempunyai hubungan
dengan orang-orang Jipang. Aku akan minta kepada mereka untuk melindungi
Tanah Perdikan ini. Sementara itu para pengawal Tanah Perdikan ini sendiri
harus mendapat latihan-latihan yang sungguh-sungguh. Pada saatnya Pajang
tidak akan berani mengirimkan pasukannya keluar, jika mereka merasa terancam
oleh pasukan Jipang.”
“Tetapi Jipang letaknya cukup jauh kakek,” berkata Wiradana.
“Tetapi Jipang dapat mengirimkan pasukannya segelar sepapan mendekati Pajang.
Maka Pajang akan selalu merasa terancam bahaya,” berkata kakeknya.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 349
Tanggal: Kamis, 05-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Wiradana mengangguk-angguk. Agaknya kakeknya
tidak asal saja mengutarakan pendapatnya. Tetapi ia pun mempunyai
pertimbangan-pertimbangan berdasarkan nalar. Sementara itu kakeknya berkata,
“Jipang harus menempatkan pasukannya disebelah Barat Pajang agar perhatian
mereka selalu tertuju ke Barat. Tidak ke Timur.”
Dengan demikian, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu telah
mengambil satu keputusan. Namun keputusan itu akan tetap merupakan rahasia
sampai saatnya Tanah Perdikan Sembojan mampu menghadapi kemungkinan Pajang
mempergunakan kekerasan, dengan bantuan Jipang. Baru kemudian Tanah Perdikan
Sembojan akan menengadah wajahnya sambil berkata, “Pajang aku tidak
memerlukan pengukuhanmu. Aku dapat berdiri tanpa Pajang.”
Dalam pada itu, kakek Warsi itu pun kemudian berkata, “Jika kau sudah bulat
Wiradana, maka biarlah aku segera mulai dengan langkah-langkah berikutnya.
Tetapi aku berpesan kepada semuanya yang mendengar keputusan ini untuk tetap
merahasiakannya. Kau juga Warsi. Kau tidak boleh lupa membicarakannya jika
kau sedang berkumpul dengan perempuan-perempuan lain. Tidak seorang pun
boleh mengetahuinya.”
“Baik kakek,” jawab Warsi. “Aku akan selalu mengingatkannya.”
“Sementara ini segalanya dapat berjalan sebagaimana biasanya. Tidak ada
perubahan-perubahan yang boleh nampak,” berkata Ki Randukeling selanjutnya.
“Ya,” berkata Saudagar, “Aku pun akan melanjutkan usahaku menjebak perampok
itu.”
“Tetapi bagaimana jika mereka justru orang-orang Jipang?” bertanya Wiradana.
“Tidak apa-apa. Mereka harus ditangkap. Seperti aku katakan, sikap kalian
tidak boleh berubah dengan serta merta,” sahut Ki Randukeling.
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun ia berharap bahwa keadaan Tanah
Perdikan Sembojan akan mnejadi lebih baik. Menurut ingatannya, sejak ayahnya
menjadi Kepala Tanah Perdikan di Sembojan, Pajang memang tidak pernah
memberikan bimbingan apapun juga. Diserahkannya segala sesuatunya kepada
ayahnya untuk mengerjakan. Namun pada saat-saat tertentu, Pajang menghendaki
Tanah Perdikan Sembojan membayar pajak berwujud apa saja yang dapat
diserahkan. Bukan saja hasil bumi dan ternak. Tetapi juga uang. Sehingga
dengan demikian, maka menurut penglihatan Ki Wiradana kemudian setelah ia
mendapat keterangan dari kakek Warsi, Pajang hanya dapat memeras tanpa dapat
memberikan apa-apa.
Ternyata keputusan Ki Wiradana itu ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Ki
Randukeling. Sebagai pengikut Arya Penangsang yang setia, maka ia tidak mau
kehilangan kesempatan itu. Laporan tentang sikap Ki Wiradana itu harus
segera sampai kepada para pimpinan di Jipang, terutama Patih Mantahun.
Namun sebelum kakek Warsi itu berada di Tanah Perdikan Sembojan, ia memang
sudah berhubungan dengan petugas sandi dari Jipang. Orang itu harus berada
pula di Sembojan dan pada suatu saat harus menemuinya.
Sebenarnyalah ketika Ki Randukeling itu pada satu pagi yang cerah
berjalan-jalan di jalan bulak di antara tanaman padi yang subur, seseorang
telah berjalan pula searah di belakangnya. Namun orang itu berjalan lebih
cepat, sehingga semakin lama jarak di antara keduanya semakin dekat.
Ketika orang itu kemudian berada tiga langkah dibelakang Ki Randukeling,
maka orang itu bergumam, “Apakah aku berbicara dengan Ki Randukeling?”
Ki Randukeling berpaling. Dilihatnya seorang laki-laki muda berwajah cerah.
Laki-laki yang bertubuh tegap kekar, namun sama sekali tidak menunjukkan
sifat dan tingkah laku yang garang.
Ki Randukeling menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau Rangga Gupita?”
Laki-laki muda itu tersenyum. Katanya, “Aku mengikuti Ki Randukeling dari
ujung bulak ini.”
“Sejak kapan kau berada di Tanah Perdikan ini?” bertanya Ki Randukeling.
“Sesuai dengan pesan Ki Randukeling,” jawab laki-laki yang disebut Rangga
Gupita.
“Baiklah. Aku memang memerlukan kau segera,” berkata Ki Randukeling. “Kau
akan bersamaku ke rumah Ki Wiradana. Dan aku akan menyebutmu sebagai
cantrikku yang menyusul aku, karena seisi padepokanku di Gunung Kukusan
sudah menungguku.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 350
Tanggal: Jumat, 06-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Terserah saja kepada Ki Randukeling,” jawab
Rangga Gupita.
“Untuk selanjutnya aku hanya akan menyebut namamu saja. Tidak dengan
gelarmu,” berkata Ki Randukeling.
“Mana yang baik bagi kita di daerah yang masih belum aku kenal betul ini,”
jawab Rangga Gupita.
“Baiklah,” jawab Ki Randukeling. Lalu katanya, “Sebenarnyalah usahaku
ternyata telah berhasil. Aku dapat membujuk Ki Wiradana untuk menempatkan
dirinya dibawah pengaruh Jipang. Tanah Perdikan ini letaknya memang agak
jauh dari Pajang. Tetapi arahnya akan memberikan kemungkinan yang baik.
Sementara itu, Jipang juga akan menempatkan pasukannya di sebelah barat
Jipang.”
“Kau harus segera menyampaikan laporan kepada Ki Patih Mantahun. Yang perlu
segera dilakukan adalah mengirimkan beberapa orang perwira yang akan melatih
anak-anak muda Tanah Perdikan ini, agar pada saatnya dapat dipersiapkan
untuk menghadapi Pajang, di samping prajurit Jipang yang akan dikirim kelak.
Namun dengan kekuatan Tanah Perdikan ini, maka Jipang akan dapat menghemat
prajuritnya, karena Jipang tentu akan menghadapi kekuatan-kekuatan lain,”
berkata Ki Randukeling.
“Tetapi kekuatan yang paling besar adalah kekuatan Pajang,” sahut Rangga
Gupita.
Ki Randukeling mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tanah Perdikan ini juga
akan dapat memberikan dukungan kekuatan menghadapi Pajang.”
Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat dengan Ki
Randukeling. Dan aku akan segera melakukannya. Tetapi apakah aku perlu
singgah di rumah Ki Wiradana?”
“Kau belum mengenalnya. Kau perlu berkenalan dengan pemangku jabatan Kepala
Tanah Perdikan itu,” berkata Ki Randukeling. “Tetapi sebagai cantrikku.
Cantrik seorang pertama di Gunung Kukusan.”
“Baiklah. Aku akan berkenalan dengan Ki Wiradana. Tetapi kenapa aku harus
diebut sebagai cantrik Gunung Kukusan? Apakah ada salahnya jika aku menyebut
diriku seorang prajurit dari Jipang? Atau barangkali lebih lengkap lagi
bahwa aku berada disini dalam tugas sandi?” berkata Rangga Gupita.
“Kita masih belum yakin akan sikap Ki Wiradana. Nampaknya memang masih belum
mantap. Tetapi untuk sementara kau dapat menyebut dirimu cantrik Gunung
Kukusan. Pada saatnya nanti kau akan mengatakan yang sebenarnya,” jawab Ki
Randukeling.
“Jika demikian, maka aku harus menyesuaikan sikapku dan barangkali
pakaianku?” bertanya Rangga Gupita.
“Bagaimana dengan pakaianmu? Kau sudah memakai pakaian seorang petani.
Apalagi? Apakah pakaian cantrik itu harus lain dan barangkali lebih buruk
dari pakaian seorang petani seperti yang kau pakai?” berkata Ki
Randukeling.
“Memang kesannya, seorang cantrik adalah seseorang yang hidup dalam dunia
tersendiri. Disebuah padepokan tanpa menghiraukan kehidupan di luar
lingkungannya,” berkata Rangga Gupita.
“Aku adalah seorang pertapa. Tetapi jika aku keluar dari padepokan, maka aku
akan menyesuaikan diri dengan tujuanku sehingga aku akan dapat menempatkan
diri dimanapun dalam hubungan antar manusia,” berkata Ki Randukeling.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 351
Tanggal: Sabtu, 07-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
"Tetapi aku pernah melihat seorang pertapa
dalam pakaian kusut yang sekadar dililitkan ditubuhnya berada di jalan-jalan
raya di Jipang," berkata Rangga Gupita.
"Ah, tentu tidak. Tetapi mungkin juga, bahwa pertapa yang demikian
benar-benar telah melepaskan diri dari hubungan lahiriah dengan dunia ini,"
berkata Ki Randukeling. "Itulah bedanya antara mereka dengan aku. Aku masih
menganggap diriku yang pertapa ini, sebagian dari lingkunganku. Aku masih
berpikir tentang Tanah Perdikan Sembojan agar menjadi bagian dari Jipang dan
melepaskan diri dari Pajang. Aku masih mempunyai pilihan bahwa kekuasaan
Demak sebaiknya kembali saja kepada keturunan Sekar Seda Lepen, dan tidak
jatuh ke tangan keturunan Trenggana," jawab Ki Randukeling.
Rangga Gupita mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Aku mengerti. Dan kini
Ki Randukeling justru sedang sibuk melibatkan diri dalam persoalan besar
yang terjadi di Jipang."
"Ya. Demikianlah memang yang terjadi," jawab Ki Randukeling.
Rangga Gupita tersenyum. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.
Demikianlah keduanya pun kemudian berbelok dan melingkar lewat jalan sempit
kembali ke padukuhan induk. Ketika mereka mamasuki halaman rumah Ki
Wiradana, maka orang-orang yang melihatnya menjadi heran, bahwa pertapa itu
datang dengan seseorang.
Namun Ki Randukeling kemudian menjelaskan, bahwa orang itu adalah salah
seorang cantriknya yang menyusulnya.
"Namanya Gupita," berkata Ki Randukeling kepada Ki Wiradana.
Gupita pun diterima dengan baik, sementara Ki Randukeling pun kemudian
memanggil Ki Wiradana, Warsi dan laki-laki yang disebut sebagai ayah Warsi,
sementara ia pun menyuruh memanggil saudagar emas berlian yang sedang berada
di penginapannya dalam usahanya untuk menjebak dua orang perampok.
"Dua orang sedang pergi ke penginapan itu," Ki Wiradana memberitahukan
kepada kakeknya ketika mereka sudah berkumpul di ruang tengah.
"Kita menunggu sejenak," berkata Ki Randukeling.
Sementara itu Warsi telah menghidangkan minuman hangat dan makanan. Namun
sebenarnyalah bahwa ia telah mengerti apa yang akan dikatakan oleh kakeknya
itu.
Sejenak kemudian, maka saudagar emas berlian yang menginap di penginapan itu
pun telah datang pula dan duduk di antara mereka. Dengan kerut didahinya ia
bertanya, "Apakah ada sesuatu yang penting dan harus segera ditangani?"
"Tidak terlalu penting Ki Saudagar," jawab Ki Randukeling. Bahkan ia pun
masih sempat bertanya, "Bagaimana dengan perampok itu?"
"Mereka sama sekali tidak menampakkan dirinya," jawab Ki Saudagar itu.
"Ternyata mereka pun mempunyai perhitungan," berkata Ki Randukeling. Lalu,
"Tetapi baiklah. Aku akan mengatakan kepentinganku kali ini," kakek Warsi
itu berhenti sejenak, lalu katanya, "Seorang cantrik dari padepokan telah
menyusul. Mereka menganggap bahwa aku telah pergi terlalu lama."
"Jadi kakek akan kembali?" bertanya Ki Wiradana.
"Ya. Aku akan kembali ke Gunung Kukusan. Tetapi aku pun akan langsung
berhubungan dengan Jipang. Aku akan menyampaikan keputusan kalian. Namun aku
berpesan, jangan melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian. Jangan
membocorkan rahasia ini," jawab pertapa dari Kukusan itu.
"Lalu apakah yang dapat aku kerjakan disini?" bertanya Ki Wiradana.
Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, "Kau tetap
dapat meningkatkan latihan-latihan bagi pengawalmu menurut kemampuan tenaga
yang ada. Agaknya hanya kau sendirilah yang akan mampu memberikan
latihan-latihan itu."
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Jawabnya, "Ya kakek. Aku disini seolah-olah
hanya seorang diri. Aku harus melakukan semuanya."
"Apakah ayah cucu juga melakukan sebagaimana kau lakukan sekarang?" bertanya
Ki Randukeling.
"Ya kakek. Ayah juga berbuat segala sesuatunya sendiri. Ada beberapa
pengawal kepercayaannya. Tetapi kemampuan dan ilmunya tidak lebih baik dari
yang kita lihat sekarang," jawab Ki Wiradana.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 352
Tanggal: Minggu, 08-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Dalam pada itu, tiba-tiba saja saudagar emas
dan berlian itu berkata, ”Ki Wiradana. Jika Ki Wiradana tidak berkeberatan,
aku bersedia membantu. Bukankah aku juga akan menjadi penghuni Tanah
Perdikan ini jika aku sudah mendapatkan sebidang tanah disini? Bukankah juga
menjadi kewajibanku untuk ikut serta berbuat sesuatu bagi Tanah
Perdikannya?”
Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Terima kasih Ki
Saudagar. Aku sangat berterima kasih. Dengan demikian maka tugasku akan
menjadi sedikit ringan.”
Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu pun hampir saja ikut pula menyediakan
diri. Tetapi Warsi menggamitnya, sehingga orang itu mengurungkan niatnya.
Namun dalam pada itu, kakek Warsi itu pun berkata, ”Wiradana. Jika aku
berhasil berhubungan dengan Jipang, maka aku akan minta beberapa orang untuk
melatih para pengawal di sini. Mereka adalah perwira-perwira prajurit Jipang
yang memang mempunyai wewenang untuk menempa para prajurit. Dengan demikian
maka para pengawal Tanah Perdikan ini akan mempunyai kemampuan seorang
prajurit yang pilih tanding. Dalam keadaan yang demikian dibantu oleh
sekelompok prajurit Jipang yang sebenarnya, maka Pajang tidak akan dapat
berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan ini, sementara pasukan Jipang yang lain
mengancam Pajang dari arah Barat.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia berharap bahwa segala sesuatunya dapat
berjalan dengan baik sehingga Tanah Perdikan Sembojan akan benar-benar mampu
tegak di luar kekuasaan Pajang yang penilaian Ki Wiradana, tidak banyak
menghiraukan kepentingan Tanah Perdikan itu, selain dengan tekanan telah
memungut pajak yang besar.
Demikianlah, maka kakek Warsi itu pun telah menentukan, bahwa di pagi hari
berikutnya ia akan meninggalkan Tanah Perdikan itu kembali ke Gunung Kukusan
dan apabila mungkin akan berhubungan dengan Jipang untuk menyampaikan
maksudnya.
Namun sebelum meninggalkan Tanah Perdikan, kakek Warsi itu sempat memberikan
pesan-pesan yang sangat berarti bagi Ki Wiradana untuk menyusun
latihan-latihan bagi para pengawalnya.
Bahkan Ki Randukeling itu telah memberikan petunjuk tentang tataran para
pengawal.
”Ada tiga tataran,” berkata Ki Randukeling. ”Tataran pertama, adalah mereka
yang memang menyatakan diri sebagai pengawal. Jumlahnya memang tidak terlalu
banyak. Tetapi mereka adalah pusat kekuatan Tanah Perdikan ini. Mereka harus
tidak merangkap pekerjaan lain, kecuali mengkhususkan diri dalam tugasnya
sebagai pengawal. Bahkan sawah ladang mereka pun harus mereka serahkan untuk
digarap orang lain. Kepada mereka Ki Wiradana dapat memberikan penghasilan
tetap bagi hidup mereka dan jika sudah berkeluarga, bagi keluarga mereka.
Tataran kedua adalah anak-anak muda yang menyatakan diri bersedia menjadi
pengawal di padukuhan masing-masing. Tetapi mereka tidak mengkhususkan diri.
Mereka masih tetap dalam kerja mereka sehari-hari. Mereka harus bekerja di
sawah dan ladang bagi hidup mereka dan keluarga mereka. Namun pada saat
tertentu mereka mendapat tugas-tugas pengawalan, sebagai kewajiban mereka
terhadap Tanah Perdikan. Mereka pun harus mendapat latihan-latihan yang baik
sebagaimana seorang prajurit meskipun tidak akan sejajar dengan para
pengawal khusus. Sedangkan tataran yang ketiga adalah semua laki-laki di
Tanah Perdikan ini. Semua orang akan mendapat kewajiban untuk berbuat
sebagaimana para pengawal jika Tanah Perdikan ini terancam bahaya. Tegasnya
jika Tanah Perdikan ini diserang dari luar.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, ”Terima kasih kakek. Aku akan
mencoba menyusun tataran pengawal di Tanah Perdikan ini sebagaimana kakek
katakan. Mudah-mudahan aku berhasil.”
”Latihan-latihan harus segera kau mulai. Kau tidak perlu menunggu kedatangan
para perwira. Justru dengan demikian, maka tidak akan nampak perubahan yang
serta merta dalam latihan-latihan para pengawal di Tanah Perdikan ini,”
berkata kakek Warsi kemudian. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 353
Tanggal: Senin, 09-06-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Pesan ini ternyata sangat berarti bagi Ki
Wiradana. Bahkan telah menumbuhkan gejolak di dalam dadanya, mendorong
tekadnya untuk membuat Tanah Perdikan Sembojan sebagai Tanah Perdikan yang
kuat dan tidak tergoyahkan. Bukan saja menghadapi Pajang, tetapi juga
menghadapi orang-orang Sembojan sendiri yang nampaknya ada beberapa pihak
yang tidak dengan ikhlas melakukan perintah-perintahnya dan bahkan
menunjukkan gejala untuk menentangnya.
Sepeninggal kakek Warsi di saat yang telah direncanakan maka Ki Wiradanapun
segera berkemas. Namun ia merasa sedikit heran, bahwa ternyata kakek Warsi
adalah orang yang agaknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas. Ia
bukan seorang pertama yang berpandangan sesempit padepokannya. Bahkan
menurut pendapat Ki Wiradana, ayah Warsi pun bukan seorang yang terlalu
bodoh meskipun ia tidak lebih dari seorang penggendang.
“Nampaknya Warsi benar-benar tersesat ketika ia menjadi penari jalanan.
Bagaimanakah pendapat kakeknya jika ia melihat bahwa Warsi berjalan
beriringan dalam pakaian penari disepanjang jalan di malam hari, kemudian
menanggapi kekasaran laki-laki dalam janggrung yang dibaui oleh tuak?”
berkata Ki Wiradana di dalam hatinya.
Tetapi Ki Wiradana tidak mengatakan kepada siapapun juga pertanyaan yang
terbersit di dalam hatinya itu.
Dalam pada itu, sepeninggalan kakek Warsi, Wiradana dan Ki Saudagar
benar-benar telah bersiap untuk menyusun pasukan pengawal Tanah Perdikan
dalam tataran sebagaimana dikatakan oleh kakek Warsi. Meskipun yang ada
sebenarnya di Tanah Perdikan Sembojan sudah mirip sebagaimana dikatakan oleh
Ki Randukeling, namun Wiradana harus menegaskan, yang manakah pengawal
khusus dan yang manakah pengawal dalam tataran yang lebih luas.
Sementara itu, Warsi yang berbicara dengan laki-laki yang disebut ayahnya
telah mengeram, “Kau jangan ikut-ikutan. Hampir saja aku lupa menampar
mulutmu. Kau adalah seorang pengendang. Jangan merasa dirimu memiliki ilmu
untuk ikut melatih para pengawal di Tanah Perdikan ini.”
Laki-laki itu hanya mengangguk saja.
“Nah, hati-hatilah menempatkan dirimu sebagaimana aku harus sangat
berhati-hati menempatkan diriku,” berkata Warsi kemudian.
“Berpura-pura untuk waktu yang sangat lama kadang-kadang terlupa juga,”
gumam laki-laki itu.
“Jika kau merusakkan permainan ini, aku bunuh kau,” geram Warsi.
Laki-laki itu tidak menjawab. Tidak ada gunanya berbantah dengan Warsi.
Bahkan mungkin Warsi benar-benar akan menampar mulutku.
Demikianlah, Ki Wiradana telah bekerja keras untuk memperbaiki susunan
tataran pengawalnya. Ia memang tidak terlalu banyak harus membuat
perubahan-perubahan. Para pengawal yang ditunjuk untuk menjadi alas
kekuatannya itulah yang kemudian dianggapnya sebagai pengawal khusus. Mereka
sejak sebelumnya memang sudah menerima hadiah dan pemberian dari Ki Wiradana
lebih banyak dari para pengawal yang lain dengan harapan bahwa mereka akan
patuh dan selalu melakukan perintahnya.
“Jika mungkin, mereka sebaiknya ditempatkan di barak-barak tertentu.
Meskipun tidak semua dari para pengawal khusus itu. Tetapi inti dari pasukan
khusus yang mampu bergerak setiap saat dengan cepat. Katakanlah, mereka
adalah pasukan pengawal berkuda dari Tanah Perdikan ini.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun dengan demikian, ia akan memerlukan
anggaran yang banyak untuk kepentingan para pengawalnya.
“Pajak di Tanah Perdikan ini terlalu rendah,” berkata Ki Saudagar itu kepada
Ki Wiradana. “Maksudku bagi mereka yang berkecukupan, pajak dapat dinaikkan
serba sedikit. Ki Wiradana jangan menyebut bahwa mereka dikenakan pajak
lebih banyak, tetapi mereka harus membayar iuran bagi peningkatan
kesejahteraan Tanah Perdikan ini, termasuk segi keamanannya. Ki Wiradana
dapat sedikit memberikan gambaran apa yang terjadi di Demak, sehingga dalam
keadaan yang tidak menentu ini, mungkin terjadi kekisruhan,” Ki Saudagar itu
berhenti sejenak. (Bersambung)-o
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 09/VI/2003
Sign My Dreambook
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Ready Stock Gouramy Larvae to Gouramy
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
XE.com Personal Currency
Assistant
|