|
|
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta.
Suramnya Bayang Bayang 331
Tanggal: Sabtu, 17-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
”Untuk apa?” wajah Kanjeng Adipati mulai
berkerut.
“Sebenarnyalah hamba sudah menjelaskan tentang kedudukannya dalam hubungan
permohonannya untuk diwisuda. Namun ia ingin menghadap langsung Kanjeng
Adipati. Mungkin ia dapat memberikan penjelasan lebih banyak dan mungkin
Kanjeng Adipati akan berbelas kasihan jika Kanjeng Adipati langsung dapat
bertemu dengan orang itu,” berkata Ki Tumenggung dengan ragu.
Wajah Kanjeng Adipati Hadiwijaya itu menjadi tegang. Dengan nada datar ia
bertanya, “Bukankah aku sudah memberi jawaban atas hal itu kepadamu?”
“Hamba Kanjeng Adipati. Tetapi seperti yang hamba katakan. Ki Wiradana ingin
menyampaikan persoalannya langsung kepada Kanjeng Adipati,” jawab Ki
Tumenggung.
“Jika demikian, jika setiap orang yang mempunyai kepentingan dengan
persoalan Tanah Perdikan akan menghadap aku langsung, maka aku tidak
memerlukan kau lagi Ki Tumenggung. Aku mengangkatmu dalam jabatanmu adalah
agar aku tidak harus mengurusi semua persoalan yang timbul di Kadipaten ini,”
jawab Kanjeng Adipati.
Ki Tumenggung sudah mengira, bahwa ia akan mendapat jawaban yang demikian.
Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain justru karena ia ingin berbuat
sebaik-baiknya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Kanjeng Adipati berkata, “Tetapi
baiklah suruhlah Wiradana itu menghadap. Nanti sore setelah matahari turun
menjelang senja. Aku mempunyai waktu luang.”
Ki Tumenggung menjadi heran atas kesempatan yang tidak diduganya itu. Namun
sebagaimana didengarnya, bahwa Ki Wiradana mendapat kesempatan untuk
menghadap menjelang senja.
Karena itu, maka Ki Tumenggung kemudian mohon diri untuk menyampaikan berita
itu kepada Ki Wiradana.
Alangkah gembiranya hati Ki Wiradana. Ternyata demikian mudahnya ia mendapat
kesempatan untuk menghadap. Tidak ada kesulitan apapun juga. Sekali Ki
Tumenggung menyampaikan permohonannya, maka Kanjeng Adipati segera
memberinya kesempatan. Tidak besok, apalagi lusa. Tetapi nanti sore
menjelang senja.
Rasa-rasanya semuanya akan dengan cepat selesai. Besok ia akan pulang ke
Sembojan dengan kepastian, bahwa Kanjeng Adipati sudah menentukan hari
wisuda baginya, jauh sebelum anaknya itu lahir. Dengan demikian, maka ia pun
akan segera dapat membenahi Tanah Perdikan Sembojan tanpa ragu-ragu lagi.
Ketika matahari mulai turun, Ki Wiradana telah berada di rumah Ki Tumenggung.
Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu senja. Hari itu matahari menjadi
seakan-akan bergerak turun lambat. Namun akhirnya waktunya datang juga.
Bersama Ki Tumenggung Wirajaya, Ki Wiradana pergi ke istana Adipati
Hadiwijaya di Pajang.
Seperti yang dikatakan, maka Adipati Pajang benar-benar telah menerima Ki
Wiradana disebuah ruang yang khusus bagi Adipati Hadiwijaya untuk menerima
orang-orang yang datang menghadap di luar paseban.
Ketika Kanjeng Adipati memasuki ruangan, maka Ki Wiradana menjadi berdebar-debar.
Bahkan Ki Tumenggung pun tidak kurang berdebar-debarnya pula. Dengan
ketajaman penggraitanya, Ki Tumenggung merasakan sesuatu yang kurang wajar
terhadap sikap Kanjeng Adipati yang sedang dalam suasana yang kalut karena
kematian Sultan Trenggana di Demak.
Setelah beberapa saat Kanjeng Adipati duduk, barulah ia bertanya, “Apakah
kau yang bernama Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan?”
Ki Wiradana menunduk sambil menyembah. Katanya, “Kanjeng Adipati. Hamba
adalah Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”
“Apakah maksudmu mohon menghadap?” bertanya Kanjeng Adipati kemudian.
“Mungkin Ki Tumenggung Wirajaya pernah menyampaikan permohonan hamba untuk
mendapatkan wisuda, karena sebenarnyalah hamba dan istri hamba sangat
berharap, agar hamba telah diwisuda sebelum anak hamba itu lahir setengah
tahun mendatang,” jawab Ki Wiradana. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 332
Tanggal: Minggu, 18-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Jadi kau sudah menyampaikan persoalanmu kepada
Ki Tumenggung Wirajaya?” bertanya Kanjeng Adipati.
“Hamba Kanjeng Adipati,” jawab Ki Wiradana.
“Lalu, apakah jawab Ki Tumenggung?” bertanya Adipati Pajang itu.
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Ia mulai merasakan sesuatu yang menekan
jantungnya. Namun ia harus menjawab pertanyaan Kanjeng Adipati itu.
Karena itu, maka Ki Wiradana itu pun terpaksa mengatakan apa yang pernah
dikatakan oleh Ki Tumenggung Wirajaya. Ia tidak dapat mengurangi atau
menambah, karena Ki Tumenggung itu hadir juga di ruang itu.
Ketika Ki Wiradana selesai menyampaikan jawaban yang pernah diberikan
kepadanya oleh Ki Tumenggung, maka Adipati Pajang itupun bertanya, “Jika
demikian, maka aku kira persoalannya telah ditangani dan ditanggapi oleh Ki
Tumenggung yang memang mempunyai tugas untuk itu. Kenapa Ki Wiradana masih
memerlukan waktu untuk menghadap aku?”
“Hamba ingin memohon belas kasihan,” sahut Ki Wiradana dengan nada memelas.
“Ki Wiradana,” berkata Kanjeng Adipati Hadiwijaya, “Aku memang minta agar Ki
Wiradana datang saat ini. Tetapi apa yang akan aku katakan tidak berbeda
dengan apa yang sudah aku katakan kepada Ki Tumenggung Wirajaya. Sebagaimana
kau ketahui, bahwa pikiranku sekarang sedang kalut. Karena itu, jangan
menambah beban pada saat-saat yang begini. Ketahuilah, bahwa kau telah
melakukan satu kesalahan. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Wirajaya adalah
orang yang baik hati. Jika kau berhadapan dengan orang lain, maka kau tentu
sudah diusirnya dan bahkan persoalanmu akan menjadi berkepanjangan karena
kau telah berusaha melangkahi wewenangnya. Karena itu, kembalilah ke Tanah
Perdikan Sembojan. Tunggulah sampai Ki Tumenggung memanggilmu untuk diwisuda.
Kau harus belajar dari pengalamanmu agar kau menjadi dewasa. Bukan dalam hal
umur, tetapi dalam hal tataran pemerintahan.”
Jantung Ki Wiradana terasa bagaikan berhenti berdentang. Tubuhnya menjadi
lemas dan keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya.
“Jangan cemas bahwa aku akan menghukummu dengan mempersulit persoalanmu,”
berkata Kanjeng Adipati, “Tetapi ketahuilah, bahwa segala sesuatunya harus
dilakukan sesuai dengan paugeran. Siapkan semua uba-rampe. Baru kemudian
hari wisuda itu akan ditentukan. Dengan sedikit keterangan, bahwa aku masih
harus menyelesaikan persoalan Demak yang bagiku lebih penting karena
menyangkut lebih banyak lingkungan dan rakyat daripada Tanah Perdikan
Sembojan.”
Semua harapan yang telah ditimbun di dalam dada Ki Wiradana itupun telah
larut. Ternyata Adipati Pajang bukannya akan memberikan kesempatan kepadanya
untuk mendapat wisuda sesuai dengan permohonannya, tetapi Adipati Pajang itu
justru hanya sekadar ingin menunjukkan kesalahannya.
Karena itu, setelah pintu tertutup sama sekali baginya, maka ia pun bersama
Ki Tumenggung mohon diri.
“Kau masih harus lebih banyak belajar,” berkata Adipati Hadiwijaya itu. “Kau
harus mengendapkan gejolak keinginanmu yang tidak terkendali itu. Karena
dengan demikian, justru kau akan terjerumus ke dalam kesulitan.”
Betapa Ki Wiradana menyesali perbuatannya, namun sebenarnyalah bahwa Ki
Tumenggung Wirajaya adalah orang yang baik. Ia sama sekali tidak ikut pula
menyalahkan Ki Wiradana. Bahkan ia kemudian berusaha untuk meringankan beban
perasaan Ki Wiradana. “Sudahlah. Jangan kau risaukan. Nanti jika persoalan
Kanjeng Adipati dengan Demak itu selesai, maka akulah yang akan
menyampaikannya sekali lagi.”
“Tetapi kapan?” bertanya Ki Wiradana.
“Itulah yang tidak aku ketahui. Dan bahkan Kanjeng Adipati sendiri pun tidak
mengetahuinya,” jawab Ki Tumenggung.
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia sudah tidak mempunyai
harapan lagi untuk dapat memenuhi keinginannya, diwisuda sebelum anaknya
lahir. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 333
Tanggal: Senin, 19-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Ki Tumenggung yang melihat kekecewaan
membayang di wajah Ki Wiradana itu pun berkata, “Sekali lagi aku ingin
memperingatkanmu, Ki Wiradana. Bahwa kedudukanmu sekarang dengan sesudah
diwisuda tidak akan jauh berbeda. Bagimu tidak akan ada orang yang
mengganggumu dan merasa dirinya juga berhak atas Tanah Perdikan Sembojan
sehingga sebenarnya kau tidak perlu merisaukannya.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia pun mencoba untuk mengurangi perasaan
kecewanya dengan menekan pengertian seperti yang dikatakan oleh Ki
Tumenggung itu.
Dengan demikian maka Ki Wiradana menganggap tidak perlu lagi untuk berada di
Pajang lebih lama. Ia sudah menentukan, bahwa keesokan harinya, ia akan
kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.
Ketika ia menyampaikan hasil pertemuannya dengan Kanjeng Adipati, maka para
pengawalnya pun menjadi kecewa. Mereka sebenarnya berdoa agar Ki Wiradana
cepat diwisuda, karena dengan demikian, mereka pun akan menerima hadiah dari
pemimpinnya yang masih terhitung muda itu. Namun ternyata bahwa keinginan
itu akan tetap menjadi keinginan saja.
Namun dalam pada itu, pada hari-hari terakhir ia berada di Pajang, maka Ki
Wiradana memang melihat beberapa kesibukan yang tidak dilihat sebelumnya. Ia
melihat prajurit berkuda yang hilir mudik di jalan-jalan raya. Bahkan di
penginapan-penginapan telah terjadi semacam pemeriksaan terhadap orang-orang
yang bermalam. Masing-masing mendapat beberapa pertanyaan yang harus dijawab
dengan meyakinkan.
Ketika sekelompok peronda datang ke penginapan Ki Wiradana, maka mereka
memang menjadi curiga melihat beberapa orang yang berasal dari Tanah
Perdikan Sembojan bermalam. Namun Ki Wiradana yang langsung menghadapi para
peronda itu berhasil meyakinkan tentang yang dikatakannya.
“Jika kalian meragukan keteranganku, kalian dapat bertemu dengan Ki
Tumenggung Wirajaya atau bertanya langsung kepada Kanjeng Adipati,” berkata
Ki Wiradana.
Para peronda itu ternyata mempercayainya sehingga mereka tidak mengganggu Ki
Wiradana dengan tujuh orang pengawalnya.
Namun dalam pada itu, di bagian lain dari penginapan itu, justru pada bagian
yang sering dipergunakan oleh para saudagar dan orang-orang yang mempunyai
banyak bekal perjalanan, yaitu pada sebuah bilik, telah terjadi keributan.
Sekelompok peronda itu yang dipimpin oleh seorang lurah prajurit menemukan
seseorang yang dianggap mencurigakan. Apalagi ternyata ketika salah seorang
dari para prajurit itu justru telah dapat mengenalinya.
“He, bukankah kita pernah bertemu di Demak. Pada waktu aku bertugas mengawal
Kanjeng Adipati Hadiwijaya di Pajang. Aku tidak pernah dapat melupakanmu
karena kita waktu itu terlibat kedalam satu persoalan sehingga hampir saja
terjadi bentrokan di antara kita di Demak. Di warung itu kau agaknya memang
sedang mabuk. Sehingga kau mengigau tentang kedudukan yang seharusnya berada
di tangan Arya Penangsang,” berkata prajurit itu. “Sehingga ketika aku
mencegah kau membuat kerusakan di warung itu, kita terlibat dalam
perselisihan. Untunglah pada waktu itu sekelompok peronda dari Demak telah
melerai kita, sehingga persoalan yang hampir saja menyala menjadi benturan
kekerasan itu dapat dihindarkan. Sementara kau waktu itu telah diserahkan
kepada kawan-kawan yang kemudian datang. Para pengawal Adipati Jipang.”
Wajah orang itu menjadi tegang. Namun kemudian ia berkata, “Aku memang
prajurit Jipang. Tetapi apa salahku di sini. Aku sedang dalam perjalanan
menengok salah seorang saudaraku yang sedang sakit di sebuah padukuhan di
sebelah Selatan Pajang.”
“Di padukuhan mana?” bertanya prajurit itu.
“Kali Pancer,” jawab prajurit Jipang itu. “Jika kau tidak percaya, marilah,
besok kita pergi ke Kali Pancer.”
Para prajurit peronda itu termangu-mangu sejenak menghadapi seorang prajurit
Jipang itu. Namun akhirnya lurah prajurit itu berkata, “Baiklah Ki Sanak.
Jika kau memang prajurit Jipang dan tidak berniat untuk berbuat sesuatu yang
tidak kami inginkan di sini, maka kami ingin mempersilakan ki Sanak bermalam
tidak disini.”
“Kenapa?” bertanya prajurit itu.
(Bersambung)-k
Suramnya Bayang Bayang 334
Tanggal: Selasa, 20-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Untuk kepentingan keamanan Ki Sanak sendiri.
Marilah, ikut kami ke barak. Ki Sanak akan dapat bermalam disana. Besok Ki
Sanak akan dengan leluasa melanjutkan perjalanan menuju ke Kali Pancer. Di
sebelah Selatan Pajang memang ada sebuah padukuhan yang bernama Kali Pancer,”
berkata lurah prajurit Pajang yang sedang meronda itu.
“Aku tidak mengerti maksdmu,” berkata prajurit Jipang itu. “Apakah itu
berarti bahwa kalian ingin menangkapku?”
“Sama sekali tidak,” jawab lurah prajurit itu. “Tetapi kau tentu mengetahui
suasana yang sekarang sedang kemelut ini.”
“Yang kemelut adalah persoalan orang-orang besar. Tetapi orang-orang kecil
sekali seperti aku ini, tentu sama sekali tidak berkepentingan apapun juga,”
berkata prajurit itu.
“Karena itu, marilah. Sebaiknya kau bermalam di barak saja,” berkata lurah
prajurit Pajang.
“Kau aneh,” sahut prajurit Jipang. “Sebaiknya kau tidak perlu mengurusi aku.
Biar saja aku bermalam dimanapun.”
Lurah prajurit itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau jangan berprasangka
buruk. Prajurit Pajang bukan prajurit liar yang akan berbuat sekehendak
sendiri. Tetapi kami berbuat di atas landasan paugeran. Karena itu, jangan
cemas. Kami tidak ingin berbuat apa-apa. Kami hanya ingin agar tidak terjadi
sesuatu atas kau di sini. Karena bagaimana pun juga, tentu ada orang yang
akan dapat memancing di air keruh, justru pada saat kau berada di Pajang.
Disebuah penginapan dengan gaya seorang perwira atau seorang saudagar yang
kaya raya, karena kau telah memilih sebuah ruangan khusus yang mahal.”
Prajurit Jipang itu menjadi tegang. Ia memang pantas untuk dicurigai. Selain
ia tidak mengenakan pakaian kelengkapan seorang prajurit Jipang, ia memang
berada di tempat yang jarang dipergunakan bagi orang kebanyakan. Biasanya
orang-orang yang tidak mempunyai banyak uang akan bermalam di tempat yang
terbuka di penginapan itu.
Apalagi kebiasaan orang menempuh perjalanan biasa, yang kemalaman di jalan,
tidak bermalam di penginapan. Tetapi di banjar-banjar padukuhan. Apalagi
padukuhan yang disebut Kali Pancer adalah padukuhan yang sudah tidak jauh
lagi dari penginapan itu sehingga apabila ia benar ingin pergi ke Kali
Pancer, maka ia tidak akan singgah di tempat ini.
Dalam pada itu, seorang prajurit Pajang yang lain telah mendapat keterangan
dari pemilik penginapan itu bahwa orang itu sama sekali tidak mengaku
sebagai orang Jipang. Ia membawa seekor kuda dan datang bersama dengan orang
lain yang juga bermalam di tempat itu. Namun di tempat yang dipakai oleh
kebanyakan orang. Di tempat yang terbuka. Tidak di dalam bilik seperti orang
itu, yang mengaku sebagai seorang saudagar.
Prajurit Pajang menjadi semakin curiga. Prajurit yang mendapat keterangan
dari pemilik penginapan itu pun kemudian ikut pula menakan agar orang itu
bersedia bermalam di barak para prajurit.
Orang Jipang itu akhirnya menarik nafas dalam-dalam sambil berkata,
“Apaboleh buat. Kalian, orang-orang Pajang, terlalu berprasangka buruk
terhadap orang lain. Sebenarnya aku tidak mempunyai sangkut paut dengan
kemelut yang terjadi di Demak sekarang ini, karena aku tidak lebih dari
seorang prajurit rendahan.”
“Di barak kau tidak perlu membayar seperti di penginapan ini Ki Sanak,”
berkata lurah prajurit yang memimpin sekelompok kawan-kawan yang sedang
meronda itu. “Orang Jipang itu tidak keluar dengan membawa barang banyak.”
Prajurit Jipang itu mengerutkan keningnya. Sementara itu lurah prajurit
Pajang itu berkata selanjutnya, “Bayaran yang terlalu tinggi bagi seorang
prajurit rendahan seperti Ki Sanak ini. Bahkan mungkin tidak akan terjangkau.”
Wajah prajurit Jipang itu menegang. Ia merasakan tajamnya sindiran lurah
prajurit Pajang itu. Tetapi orang Jipang itu sama sekali tidak menanggapinya.
Bahkan ia berkata, “Baiklah. Aku akan mengikut kalian. Tetapi sewa bilik di
hari ini akan menjadi tanggungan kalian karena aku tidak mempergunakannya
seutuhnya.”
“Kami akan membicarakannya dengan pemilik penginapan ini,” berkata lurah
prajurit Pajang. “Tentu ia tidak akan berkeberatan untuk membebaskanmu dari
kewajiban membayar sewa bilik ini.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 335
Tanggal: Rabu, 21-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Tunggulah sejenak,” berkata prajurit Jipang
itu. “Aku akan membenahi barang-barangku.”
Orang Jipang itu pun kemudian masuk ke dalam biliknya, sementara dua orang
prajurit itu bergeser memperhatikan keadaan di ruangan terbuka dari
penginapan itu.
Ki Wiradana dan para pengawalnya sama sekali tidak ikut campur dalam
persoalan itu. Namun kesan yang mereka dapatkan adalah, bahwa persoalan
antara Pajang dan Jipang dalam hubungannya dengan kekosongan di Demak
menjadi agak meruncing. Meskipun Kanjeng Adipati Pajang tidak mengumumkan
secara terbuka agar tidak menggelisahkan rakyatnya, tetapi para prajurit
telah mendapat perintah untuk bersiaga sepenuhnya seperti dikatakan oleh Ki
Tumenggung Wirajaya.
Sejenak kemudian, pintu bilik itu pun telah bergerak. Tetapi yang terjadi
benar-benar sangat mengejutkan. Ternyata orang Jipang itu tidak keluar
dengan membawa barang-barangnya untuk pergi ke barak. Tetapi dengan
tiba-tiba saja ia sudah menyerang prajurit Pajang yang berada di muka pintu
biliknya.
Serangan itu demikian tiba-tiba sehingga kedua prajurit itu sama sekali
tidak siap untuk melawan.
Demikian pedang terjulur dari bilik pintu, maka kedua prajurit itu berusaha
untuk menghindar. Namun ujung pedang itu ternyata sempat memburunya dan
mengoyak kulit dagingnya.
Pada serangan pertama, kedua prajurit itu sudah terluka. Yang seorang
lambungnya sobek melintang, sedang yang lain dadanya terpatuk ujung pedang
melubangi dagingnya. Untunglah bahwa ujung pedang itu tidak memotong
jantungnya.
Tetapi kedua prajurit itu pun telah terjatuh dan tidak berdaya lagi untuk
melawannya.
Sementara itu, orang-orang yang menginap di penginapan itu pun telah
menjerit hampir berbareng. Terutama perempuan-perempuan yang berjualan hasil
bumi dan bermalam di penginapan itu.
Para peronda yang lain pun perhatiannya segera tertarik pula kepada
peristiwa yang tiba-tiba itu. Karena itu, maka mereka pun dengan tangkasnya
berloncatan dengan senjata yang sudah siap berada di tangan.
Sementara itu, prajurit Jipang telah melukai kedua prajurit Pajang sehingga
keduanya tidak lagi mampu bangkit dengan darah yang membasahi lantai
penginapan itu berdiri tegak dengan pedang yang telah menjadi merah oleh
darah kedua orang korbannya.
Namun yang kemudian berada dihadapannya bukan lagi hanya dua orang, tetapi
empat orang prajurit yang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Namun yang terjadi kemudian sekali lagi telah membuat orang-orang yang ada
di dalam bilik itu terkejut. Ternyata serangan berikutnya tidak datang dari
orang yang berdiri di depan pintu itu. Seseorang yang berada di antara
orang-orang yang berada di ruang terbuka penginapan itu telah menyergap
orang-orang yang sudah siap menghadapi prajurit Jipang yang berada di depan
pintu itu.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 336
Tanggal: Kamis, 22-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
SERGAPAN yang tiba-tiba itu sekali lagi
telah menelan korban. Dua orang terlempar dan jatuh berguling di lantai.
Darah memancar dari luka tubuhnya.
Serangan yang tiba-tiba itu benar-benar telah berhasil dengan baik. Yang
kemudian bersiap menghadapi segala kemungkinan tinggal dua orang saja di
antara para peronda itu.
Tetapi selanjutnya tidak terjadi pertempuran di antara mereka. Dua orang
yang telah melukai prajurit Pajang itu tiba-tiba saja telah menghambur
keluar dari penginapan itu, menyusup ke dalam gelap.
Kedua orang prajurit Pajang itu telah berusaha untuk memburunya. Namun yang
terdengar kemudian adalah derap kaki-kaki kuda.
“Tahan mereka,” teriak kedua orang prajurit itu hampir bersamaan.
Tetapi tidak seorang pun yang melakukannya.
Ketika salah seorang di antara dua orang prajurit itu siap turun ke halaman
untuk berlari ke arah kudanya, maka yang seorang di antara mereka, yang
ternyata adalah lurah prajurit peronda itu menahannya sambil berkata, “Kau
bunyikan saja tanda bahaya. Biarlah aku yang mencoba mengikutinya. Mungkin
aku dapat mencapai mereka sebelum mereka keluar dari gerbang.”
Prajurit itu mengurungkan niatnya. Sementara itu lurah prajurit itulah yang
kemudian meloncat ke atas punggung kudanya dan berusaha mengejar orang-orang
yang melarikan itu.
Sejenak kemudian terdengar suara kentongan yang mengoyak sepinya malam.
Suara kentongan yang kemudian disaut oleh suara kentongan yang lain,
sehingga akhirnya bergema diseluruh Pajang.
Sementara itu kaki-kaki kuda telah berderap di jalan-jalan kota. Namun lurah
prajurit yang mengejar dua orang prajurit Jipang itu ternyata telah
kehilangan arah. Ketika ia berusaha menyusul dan berbelok di tikungan,
ternyata keduanya bagaikan telah menghilang dihisap bumi.
Untuk beberapa lamanya lurah prajurit yang memimpin kelompok peronda itu
termangu-mangu. Namun kemudian ia bergerak maju lagi. Mungkin kedua orang
Jipang itu bersembunyi dicelah-celah bayangan. Sementara kudanya dibiarkan
lari menghilang, atau keduanya memang sudah berhasil lolos jauh dari
pengamatannya.
Ketika prajurit Pajang itu mendengar suara kuda berderap mendekat, ia pun
segera bersiaga. Tetapi yang dilihatnya adalah justru prajurit Pajang pula.
“Aku kehilangan buruanku,” berkata lurah prajurit itu kepada dua orang
prajurit Pajang yang mendekat.
“Mereka kemana?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit itu.
“Mereka berbelok ke tikungan ini. Namun ketika aku berbelok juga, mereka
sudah hilang. Aku tidak lagi mendengar derap kaki kuda,” jawab lurah
prajurit itu.
“Siapakah yang kau kejar?” bertanya salah seorang prajurit Pajang yang baru
datang, “Kami memang mendengar isyarat kentongan. Dan karena itu kami sudah
memencar. Tetapi kami tidak bertemu dengan orang yang mencurigakan.”
“Tetapi mereka tentu masih berada di dalam kota,” jawab lurah prajurit itu.
“Tentu mereka belum sempat keluar ketika isyarat kentongan itu berbunyi,
sehingga dengan demikian, maka para petugas di regol-regol kota akan
menghentikan orang-orang yang mereka curigai yang berusaha keluar dari kota.”
Kedua orang prajurit yang baru datang itu mengangguk-angguk. Sejenak mereka
berkeliling di tempat kedua orang Jipang itu hilang. Namun mereka tidak
menjumpai sesuatu.
Tetapi beberapa saat kemudian, mereka telah mendengar ringkik kuda disebuah
halaman yang luas tetapi nampak terlalu rimbun oleh gerumbul-gerumbul perdu.
Karena itu, maka ketiga orang prajurit Pajang itu pun segera mempersiapkan
diri menghadapi segala kemungkinan.
Ketiganya yang kemudian turun dari kuda mereka, dengan hati-hati telah
memasuki halaman itu. Pada jarak beberapa langkah di antara yang seorang
dengan yang lain, maka ketiganya menuju ke arah suara ringkik kuda dengan
senjata telanjang di tangan.
Beberapa langkah kemudian mereka berhenti. Mereka melihat gerak pada
gerumbul-gerumbul perdu. Kemudian mereka melihat seekor kuda yang
termangu-mangu di dalam kegelapan.(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 337
Tanggal: Jumat, 23-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Dengan isyarat, maka lurah prajurit itu
memberitahukan kepada kawan-kawannya. Beberapa langkah mereka maju. Namun
ternyata yang mereka ketemukan kemudian hanyalah seekor kuda. Bahkan
kemudian beberapa langkah ditempat yang lebih dalam seekor kuda yang lain
pun berdiri kebingungan.
Untuk beberapa saat lamanya ketiga orang prajurit itu masih tetap dalam
kesiagaan tertinggi. Namun setelah beberapa saat mereka mengelilingi halaman
itu dan tidak menemukan orang-orang yang mereka cari, maka mereka pun
menyadari, bahwa kedua orang itu tentu sudah melarikan diri dengan
meninggalkan kuda mereka. Dengan tanpa menunggang kuda, mereka akan lebih
mudah menyusup di antara pepohonan di halaman-halaman, kebun-kebun dan
daerah-daerah pepat yang lain. Jika mereka berhasil mencapai dinding kota,
maka mereka akan dapat dengan mudah meloncat keluar, tanpa melalui pintu
gerbang.
Namun dalam pada itu, kedua orang prajurit Pajang yang datang kemudian itu
berkata, “Peronda sudah tersebar setelah terdengar suara isyarat kentongan.
Mudah-mudahan kedua orang itu dapat dijumpai para peronda sebelum mereka
keluar dari kota.
Lurah prajurit itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku
akan kembali ke penginapan itu. Empat orang kawanku terluka oleh serangan
yang sangat licik.”
Ternyata bahwa kedua prajurit yang datang kemudian itu pun telah mengikuti
pula ke penginapan. Agaknya di tempat itu telah terdapat beberapa orang
peronda yang lain, dan orang-orang yang terluka itu telah mendapatkan
pertolongan seperlunya.
Namun ternyata bahwa luka mereka cukup parah. Sehingga mereka harus dibawa
ke tempat perawatan bagi para prajurit yang terluka.
Malam itu, seluruh kota telah menjadi sibuk. Para prajurit berusaha untuk
menemukan dua orang prajurit dari Jipang yang tentu dalam tugas sandi berada
di Pajang. Tetapi ternyata kedua orang itu tidak dapat diketemukan. Keduanya
seolah-olah telah lenyap tanpa bekas. Bahkan beberapa orang prajurit telah
memasuki beberapa rumah yang dicurigai. Tetapi mereka tidak menemukan
keduanya.
Dalam pada itu, di penginapan, lurah prajurit yang empat kawannya terluka,
ternyata menyesali sikap Ki Wiradana. Dengan nada datar ia berkata, “Ki
Sanak. Sebenarnya kau dapat mengambil bagian dalam peristiwa seperti ini.
Jika benar kau adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka
kau termasuk bagian dari Pajang.”
“Apa yang kau maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Wiradana.
“Kau dapat memerintahkan pengawalmu untuk ikut menangkap orang-orang Jipang
itu,” berkata lurah prajurit itu.
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Peristiwa itu
terjadi sedemikian tiba-tiba, sehingga aku tidak siap untuk berbuat sesuatu.
Ketika aku sadar, maka semuanya telah terjadi.”
Lurah prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti alasan itu.
Tetapi dengan demikian maka menurut penilaian lurah prajurit itu, Ki
Wiradana ternyata tidak mempunyai kemampuan berbuat dan mengambil keputusan
dengan cepat, pada saat-saat yang rumit. Jika ia mampu menyesuaikan dirinya,
maka kedua orang Jipang itu tentu dapat ditangkap, karena Ki Wiradana itu
membawa tujuh orang pengawal di samping Ki Wiradana sendiri.
Tetapi lurah prajurit itu tidak mau mempersoalkannya dengan Wiradana. Ia
memang tidak mempunyai kekuasaan untuk itu.
Sementara itu, Ki Wiradana sendirilah yang merasa bahwa prajurit Pajang itu
telah membuat penilaian atas dirinya. Namun segala sesuatunya telah terjadi.
“Apakah hal seperti ini akan didengar oleh Ki Tumenggung Wirajaya atau
bahkan Kanjeng Adipati sendiri?” pertanyaan itu terasa mulai mengganggu
perasaannya. Karena jika demikian, maka Ki Wiradana mencemaskan bahwa
akibatnya akan berpengaruh atas permohonan wisudanya.
Namun akhirnya Ki Wiradana itu menghibur dirinya sendiri, “Ki Tumenggung
Wirajaya bukan kanak-kanak lagi. Ia tahu mana yang baik dilakukan dan mana
yang tidak.”
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 338
Tanggal: Sabtu, 24-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Ternyata disisa malam itu, Ki Wiradana tidak
dapat tidur dengan nyenyak. Ia selalu merasa gelisah. Angan-angannya selalu
dibayangi oleh kegagalannya mohon untuk segera diwisuda. Namun ia pun
menjadi cemas bahwa akan datang orang-orang yang akan merampoknya.
“Apakah orang-orang yang merampok aku dan saudagar permata di Tanah Perdikan
Sembojan itu juga orang-orang Jipang?” pertanyaan itu pun telah timbul di
dalam hatinya. Tetapi ia sulit mencari hubungan antara Jipang dan perampokan.
Sudah tentu Jipang tidak akan mengumpulkan dana bagi perjuangannya
memperebutkan tahta Demak dengan perampokan, karena Jipang adalah sebuah
Kadipaten.
Karena Ki Wiradana tidak dapat tidur nyenyak, maka pagi-pagi benar ia sudah
bangun. Para pengawalnya pun telah dibangunkannya pula.
“Kita akan berangkat sebelum matahari terbit,” berkata Ki Wiradana.
Seperti yang dikatakannya, setelah biaya penginapannya bersama tujuh
pengawalnya diselesaikan, maka Ki Wiradana pun telah bersiap-siap
meninggalkan penginapan itu. Penginapan yang nampaknya masih tidur nyenyak.
Pedati-pedati yang berada di halaman milik orang-orang yang bermalam di
penginapan itu berderet di antara dinding sampai ke dinding. Lembu-lembunya
yang dilepas dari pasangan ditambatkan di halaman samping. Sedangkan di sisi
penginapan itu terdapat kandang kuda yang agak besar.
Agaknya orang-orang di penginapan itu kebanyakan akan terlambat bangun
karena semalam mereka terganggu oleh peristiwa yang mendebarkan, yang telah
membuat empat orang prajurit Pajang terluka parah.
Ketika Ki Wiradana keluar dari kota, beberapa kali ia harus berhenti untuk
diperiksa. Di gerbang kota ia tertahan cukup lama. Namun akhirnya Ki
Wiradana itu diperkenankan melanjutkan perjalanan karena jawaban-jawabannya
atas pertanya-an prajurit yang berjaga-jaga dapat meyakinkan mereka.
Namun demikian, meskipun Ki Wiradana dan para pengawalnya sudah terlepas
dari pintu gerbang, namun mereka masih juga merasa cemas. Karena itu, mereka
selalu bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Mungkin seperti dikatakan
oleh Ki Wirajaya, bahwa ada orang-orang yang dengan sengaja mempergunakan
kesempatan pada saat-saat kemelut itu untuk melakukan kejahatan.
Tetapi ternyata bahwa perjalanan Ki Wiradana dan para pengawalnya tidak
mengalami hambatan. Mereka dengan selamat mencapai Tanah Perdikan Sembojan.
Tanah Perdikan yang besar, yang subur di antara pegunungan yang tersebar,
namun yang ngarainya tetap basah di segala musim.
Kedatangan Ki Wiradana dengan perasaan kecewa telah disambut oleh Warsi dan
orang yang disangka ayahnya. Sebagaimana diperjalanan Wiradana yang selamat
secara wadag, maka di Tanah Perdikan Sembojan pun tidak terdapat sesuatu
yang dapat mengguncangkan ketenangannya.
Namun berita yang dibawa oleh Ki Wiradana benar-benar mengecewakan Warsi.
Apalagi ketika dengan jantung yang berdeguban Wiradana mengatakan, bahwa
wisuda itu tertunda untuk waktu yang tidak diketahui. Bahkan mungkin sampai
saat anaknya lahir.
Dengan singkat Wiradana menceriterakan apa yang telah terjadi di Pajang.
Dengan demikian, maka Warsi akan mendapat gambaran, bahwa sebenarnyalah
Pajang memang sedang kisruh.
Terasa isi dada Warsi bagaikan akan meledak. Ia ingin bertindak untuk
mengatasi persoalan yang seakan-akan terputus itu. Jika ia mendapat
kesempatan menghadap, maka ia tidak akan sedungu Wiradana. Ia tentu
mempunyai cara untuk mengemukakan alasan-alasannya.
Tetapi Warsi tidak dapat melakukannya. Selama ini ia berperan sebagai
seorang istri yang lembut, yang tidak bernafsu untuk memiliki dan menguasai
sesuatu yang menyangkut kebendaan dan kepentingan lahiriah.
Untuk beberapa saat Warsi berusaha menahan dirinya. Baru kemudian ia berkata,
“Sudahlah kakang. Jangan dirisaukan. Kakang memang dapat mengusahakan jalan
yang manapun juga. Tetapi jangan terlalu memaksa diri.”
Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menjawab, “Tetapi
apakah aku dapat menunggu sampai waktu yang tidak ditentukan itu Warsi? Dan
apakah aku harus menemukan benda yang menjadi syarat wisuda itu, sementara
aku sudah mencari disegala sudut rumah ini, tetapi aku tidak menemukannya?”
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 339
Tanggal: Minggu, 25-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Kakang masih terlalu letih,” berkata Warsi.
“Kita akan dapat memikirkannya kemudian. Sekarang sebaiknya kakang
beristirahat dahulu. Selanjutnya, persoalan kakang jangan terpancang kepada
hari wisuda itu saja. Tetapi pergolakan yang terjadi antara Demak dan Jipang
itu ternyata telah bergema sampai ke Pajang. Mungkin sebentar lagi akan
menjalar ke Tanah Perdikan ini.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sebagaimana biasa, ia menganggap bahwa
istrinya benar-benar berniat baik. Istrinya berusaha untuk membuatnya
menjadi tenang dari kegelisahannya.
Sementara itu orang yang disebut sebagai ayah Warsi itu pun berkata pula,
“Bukankah kita masih mempunyai waktu? Kita akan dapat memikirkannya dengan
tenang. Memang sebaiknya kau beristirahat saja dahulu. Agaknya persoalan
yang akan kau hadapi di Tanah Perdikan ini akan berkembang menjadi semakin
banyak. Kau masih harus memecahkan persoalan hari wisuda, sementara kau
sudah membicarakan dengan seorang saudagar bahwa kau akan menjebak
perampok-perampok itu sebagaimana diceriterakan oleh Warsi. Sementara itu
persoalan Pajang dalam hubungannya dengan Demak telah berkembang pula
menyangkut Kadipaten Jipang. Karena itu, maka agaknya memerlukan waktu untuk
memikirkannya dengan tenang.”
“Ya ayah,” jawab Ki Wiradana. “Tetapi aku disini merasa sendiri. Tidak ada
orang yang dapat aku ajak berbincang. Orang-orang tua di Tanah Perdikan ini
rasa-rasanya tidak mampu memberikan pendapat yang dapat membuka pikiranku.
Bahkan sebagian dari mereka berpikir terlalu sempit. Mereka tidak lebih dari
orang-orang yang merasa dirinya pandai tetapi dalam ruang lingkup yang
sangat sempit. Mereka tidak mengetahui persoalan-persoalan yang hidup dan
berkembang di luar Tanah Perdikan ini. Pada masa ayah memerintah, ayah
memang terlalu mumpuni, sehingga segala sesuatunya dipikirkan dan
dilaksanakan oleh ayah sendiri. Agaknya aku belum sampai pada tataran itu.”
“Agaknya memang demikian Ki Wiradana. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau
sendiri. Mungkin kau dapat berbincang dengan istrimu. Jika orang-orang tua
itu pun mungkin mempunyai pikiran-pikiran yang baik bagi Tanah Perdikan ini,
namun kau harus dapat menangkap maksudnya, meskipun masih harus kau
kembangkan sehingga menjadi pikiran yang berharga,” berkata laki-laki yang
mengaku sebagai ayah Warsi itu.
Ki Wiradana mengangguk-angguk kecil. Kemudian ia pun berdesis, “Baiklah
ayah. Aku akan beristirahat lebih dahulu. Namun dalam waktu dekat, aku
berjanji untuk menjebak kedua orang penjahat yang sering melakukan kejahatan
di penginapan-penginapan. Di Pajang kemarin kedua orang itu tidak dijumpai.
Namun kekalutan terjadi karena ada kedua orang Jipang yang juga berada di
penginapan itu pula.”
Demikianlah, Ki Wiradana pun telah berusaha melepaskan kerisauannya meskipun
hanya sekejab-kejab. Kerisauannya itu selalu datang menggelitik hatinya,
sehingga dihari-hari berikutnya ia menjadi lebih banyak merenung.
Namun dalam pada itu, dalam kesempatan tersendiri, Warsi itu pun bergumam
dihadapan orang yang disebut sebagai ayahnya itu, “Wiradana memang terlalu
bodoh untuk melakukan tugasnya. Pada saat ayahnya masih ada, ia agaknya
terlalu manja dan jarang sekali mendapat tugas-tugas penting yang harus
dipertanggung jawabkannya. Sampai saatnya ia menggantikan ayahnya, ia masih
saja seperti kanak-kanak yang harus dituntun di saat belajar berjalan.”
Laki-laki yang disebut ayahnya itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian,
“Tetapi benturan-benturan itu akan dapat menjadi pengalaman yang berharga
baginya. Mudah-mudahan ia akan segera menemukan sikap yang mantap.”
“Kau juga bodoh,” geram Warsi. “Akulah yang akan mengambil alih pimpinan di
Tanah Perdikan ini. Biarlah ia dungu. Aku mengemudikan kelak,” suara Warsi
tiba-tiba menurun. “Tetapi aku inginkan ia diwisuda lebih dahulu, baru aku
akan melakukannya. Sebelum itu, jika orang-orang Pajang mengetahuinya, bahwa
Wiradana sebenarnya tidak memerintah, akan dapat timbul persoalan dengan
wisudanya kelak. Bahkan mungkin akan ada langkah yang kurang menguntungkan
yang diambil oleh Pajang.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 340
Tanggal: Senin, 26-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu
mengangguk-angguk. Namun ia tidak mengatakan sesuatu lagi. Ia sudah
cukup mengenal watak dan sifat Warsi.
Dalam pada itu, maka hari-hari yang disepakati antara Ki Wiradana dengan
saudagar emas permata untuk menjebak para perampok itu menjadi semakin dekat.
Dengan demikian, maka Ki Wiradana pun telah mempersiapkan orang-orang
terbaiknya untuk mengawasi penginapan-penginapan, terutama yang akan
dipergunakan oleh saudagar itu. Bahkan Wiradana telah memerintahkan kepada
dua orang di antara para pengawal untuk bermalam di penginapan itu juga
nanti di malam yang sudah dibicarakannya. Bahkan sejak malam sebelumnya.
Semakin dekat dengan hari yang ditentukan, Ki Wiradana menjadi semakin
berhati-hati. Ia tidak ingin salah langkah. Apalagi saudagar itu justru akan
menjadi korban karena kekeliruannya menghitung hari.
Sebenarnyalah, pada hari yang ditentukan saudagar itu telah datang. Ia telah
memesan sebuah bilik khusus bagi dirinya dan seorang pembantunya. Sementara
itu, ia dengan sengaja telah berjalan hilir mudik di pasar dan kemudian
mengunjungi Ki Wiradana pada hari kedatangannya itu juga.
Kedatangannya telah disambut dengan gembira oleh Ki Wiradana sekeluarga.
Bahkan saudagar itu pun telah diperkenalkan pula kepada laki-laki yang
disebut sebagai ayah Warsi itu.
“Kami sudah siap,” berkata Ki Wiradana. “Mungkin malam ini atau malam-malam
berikutnya jika terjadi lagi perampokan itu, maka para pengawal tentu akan
berhasil menangkap mereka. Dengan demikian, maka akan terbuka rahasia
perampokan itu. Apakah mereka benar-benar perampok atau orang-orang yang
dengan sengaja membuat kekisruhan di Tanah Perdikan ini sebagaimana
rombongan pengamen dengan penari yang mirip dengan Iswari atau mereka adalah
orang-orang Jipang.”
“Orang-orang Jipang?” ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu terkejut.
“Ya, orang-orang Jipang,” jawab Ki Wiradana.
Ternyata saudagar itu memang belum mendengar apa yang terjadi di Pajang
tentang orang-orang Jipang itu. Karena itu, maka Ki Wiradana pun kemudian
berceritera serba singkat tentang orang-orang Jipang itu.
Saudagar itu mengangguk-angguk. Sekilas teringat olehnya rencana pamannya di
Gunung Kukusan yang segera akan berada di Tanah Perdikan itu pula. Pamannya
itu akan berusaha untuk menyeret Tanah Perdikan Sembojan ke dalam sengketa
antara Jipang dan Demak termasuk Pajang tentang warisan tahta Demak itu
sendiri.
“Ternyata asap dari api yang menyala di Jipang itu sudah sampai ke Pajang,”
berkata ayah Warsi di dalam hatinya.
Tetapi ia tidak ingin mendahului keterangan pamannya tentang persoalan yang
menyangkut hubungan Tanah Perdikan Sembojan dengan Jipang. Biarlah pamannya
itu mengatakannya langsung kepada Ki Wiradana.
Namun dari Ki Wiradana pula ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu
mendengar, bahwa kedudukannya masih belum dikukuhkan. Persoalannya berkait
dengan kesibukan Adipati Pajang karena pergolakan yang terjadi di Demak.
Apalagi kemudian meluas sampai ke Jipang. (Bersambung)-m
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Updated 26 May 2003
Sign My Dreambook
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Ready Stock Gouramy Larvae to Gouramy
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
XE.com Personal Currency
Assistant
|