|
|
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta.
Suramnya Bayang Bayang 322
Tanggal: Selasa, 06-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Sementara itu katanya kepada laki-laki yang
disebut sebagai ayah Warsi. "Kau harus segera pergi ke Sembojan. Satu
atau dua pekan lagi. Mungkin Warsi memerlukan bantuanmu karena suaminya
tidak akan mampu melindunginya jika ia benar-benar dalam keadaan bahaya.
Warsi sendiri untuk beberapa bulan ini tidak akan dapat terlalu banyak
bergerak, karena ia sedang mengandung. Ia harus mempertahankan kandungannya,
sehingga dengan demikian maka keturunannya kelak akan dapat menggantikan
kedudukan Ki Wiradana."
Orang yang disebut ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah.
Secepatnya aku akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan."
"Sebaiknya kau tidak pergi sendiri," berkata ayah Warsi. "Ajaklah salah
seorang yang dapat kau percaya kemampuannya. Kau dapat menyebut paman Warsi
atau saudara sepupu atau apa saja. Warsi tentu akan tanggap."
"Jika demikian aku harus memilih. Tetapi aku tidak akan memerlukan waktu
sampai sepekan untuk mendapatkan teman pergi ke Tanah Perdikan Sembojan,"
jawab orang yang disebut ayah Warsi itu.
"Sementara itu, aku akan pergi ke kaki Gunung Kukusan. Aku akan pergi ke
rumah paman yang berada di padepokan itu. Mungkin akan dapat membantu jika
pada saatnya Warsi memerlukannya," berkata ayah Warsi.
"Kenapa harus pergi ke Gunung Kukusan?" bertanya laki-laki yang disebut ayah
Warsi itu. "Apakah kita tidak mempunyai kekuatan cukup untuk menghadapi
orang-orang Sembojan yang mungkin menjadi gila karena sikap Ki Wiradana?"
"Bukan terhadap orang-orang Sembojan," jawab ayah Warsi. "Mungkin Warsi
harus berhadapan dengan kekuatan di luar Tanah Perdikan. Kekuatan di dalam
Tanah Perdikan tidak akan banyak berarti lagi, karena Wiradana sudah
menyusun kekuatan. Tetapi menghadapi sekelompok orang-orang ngamen yang
memiliki seorang penari seperti Nyai Wi-radana yang terdahulu, kemudian
orang yang merampok aku dan orang yang merampok Ki Wiradana sendiri,
memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh."
Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Ia pun menyadari,
bahwa tentu ada kekuatan dari luar. Sebagaimana Warsi dan ayahnya, maka
laki-laki itu sependapat, bahwa kekuatan dari luar Tanah Perdikan Sembojan
itu tentu berhubungan dengan hilangnya Nyai Wiradana terdahulu.
"Apakah dengan demikian, kita tidak dapat menempuh jalan memintas?" bertanya
laki-laki yang disebut ayah Warsi itu.
"Maksudmu?" bertanya ayah Warsi.
"Bagaimana jika orang-orang Sembojan tidak justru menunggu. Jika kita yakin,
bahwa orang-orang itu tentu mempunyai hubungan dengan keluarga Nyai Wiradana
yang terdahulu, maka sebaiknya orang-orang Sembojan sajalah yang datang ke
padepokannya. Dengan demikian maka segalanya tentu akan selesai dengan
tuntas. Mereka tidak akan dapat lagi mengganggu kita untuk selamanya,"
berkata laki-laki itu.
"Jika kita berbuat dengan tergesa-gesa, yang mungkin terjadi adalah dua
kemungkinan. Yang tidak akan mengganggu mungkin mereka tetapi mungkin justru
kita," jawab ayah Warsi.
"Apakah kekuatan mereka sangat nggegirisi sehingga kita termasuk kekuatan
para pengawal Tanah Perdikan Sembojan harus merasa cemas?" bertanya
laki-laki itu pula.
"Kau memang dungu," jawab ayah Warsi. "Menghadapi sesuatu yang tidak jelas,
kita tidak boleh tergesa-gesa. Jika mereka tidak yakin memiliki kekuatan,
mereka tidak akan berani memasuki Tanah Perdikan Sembojan dalam kelompok
pengamen dan membawa seorang penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana."
"Bukankah itu baru sekadar dugaan? Mungkin kelompok itu tidak ada sangkut
pautnya dengan keluarga Nyai Wiradana yang hilang itu. Tetapi kita sajalah
yang dibayangi oleh keragu-raguan untuk bertindak dengan cepat," desis
laki-laki itu kemudian.
"Memang ada seribu kemungkinan," jawab ayah Warsi. "Tetapi kita harus
memilih yang paling baik bagi kita."
Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia
berusaha untuk membayangkan, perkembangan terakhir yang mencekam di Tanah
Perdikan Sembojan. Juga tentang pertanda kuasa yang tidak dapat diketemukan
oleh Ki Wiradana itu. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 323
Tanggal: Rabu, 07-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Dengan demikian, maka mereka telah
menyiapkan diri masing-masing. Ayah Warsi yang sebenarnya, bersiap-siap
pergi ke Kaki Gunung Kukusan, sementara orang yang disebut ayah Warsi itu
bersiap-siap untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Namun ia akan memilih
seorang kawan yang paling baik untuk menghadapi segala kemungkinan.
Namun orang itu sadar, bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah disentuh oleh
kekuatan yang tidak dapat dilawan oleh ki Wiradana sendiri dan oleh ayah
Warsi itu.
“Hanya Warsi yang akan mampu menghadapi mereka,” berkata orang itu di dalam
hatinya. Namun sebagaimana didengar dari ayah Warsi, bahwa Warsi itu sedang
mengandung, sehingga sebelum anaknya lahir ia tidak akan dapat banyak
berbuat.
Karena itu, maka akhirnya laki-laki yang diaku sebagai ayah Warsi di Tanah
Perdikan Sembojan itu pun tidak melihat cara lain kecuali yang akan
dilakukan oleh ayah Warsi, menghubungi salah seorang dari keluarga Kalamerta
yang dianggap memiliki kelebihan.
Setelah bersiap-siap, maka ayah Warsi itu pun kemudian berangkat ke kaki
Gunung Kukusan. Waktu yang ada padanya hanyalah sebulan saja sebelum ia
harus berusaha kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, ia harus
mempergunakan waktu itu sebaik-baiknya. Sedangkan laki-laki yang mengakui
sebagai ayah Warsi itu pun telah berusaha untuk menemukan seseorang di
antara beberapa orang kawannya untuk ikut ke Tanah Perdikan Sembojan pada
saat-saat keadaan Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin hangat.
Namun dalam pada itu, Warsi sendiri sedang dicengkam oleh kecemasan. Ia
tidak ingin kandungannya itu terganggu. Namun di Tanah Perdikan Sembojan
benar-benar tidak ada lagi kekuatan yang dapat diandalkan. Perampok-perampok
itu dengan leluasa dapat menerkam korbannya. Bahkan di antaranya adalah
pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu sendiri. Tetapi jika
tergesa-gesa menyatakan dirinya yang sebenarnya, maka untuk menghadapi
benturan kekerasan, ia mencemaskan kandungannya. Juga karena Wiradana
ternyata masih belum dapat menyelesaikan persoalannya untuk mendapatkan
wisuda sebagai Kepala Tanah Perdikan yang sah.
Dengan demikian, maka untuk sementara yang dapat dilakukan oleh Warsi adalah
sekadar mendorong agar ia bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan
pengawal-pengawalnya dan dirinya sendiri.
“Tetapi jangan terlalu memaksa diri kakang,” berkata Warsi dengan nada
lembut seorang istri.
Ki Wiradana mengangguk kecil. Baginya Warsi adalah seorang istri yang penuh
dengan kasih sayang. Yang berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya bagi
suaminya dan yang menjaga agar keadaan suaminya tidak menjadi memburuk
karena kerja yang terlalu keras. Yang selalu meredakan setiap ketegangan
yang mencekam dan yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri, karena
apapun yang dilakukan semata-mata bagi kepentingan suaminya saja.
Karena itu, bagi Wiradana, Warsi adalah seorang isteri yang sangat baik,
yang merasa bahwa dirinya berasal dari perempuan yang derajatnya tidak
seimbang karena seakan-akan Wiradana telah memungutnya dari pinggir jalan
dan bahkan telah mengorbankan istrinya yang terdahulu.
Dengan dugaan-dugaan yang demikian, rasa-rasanya Wiradana menjadi semakin
sayang dan bahkan didorong oleh perasaan iba dan belas kasihan, ia
menganggap bahwa Warsi adalah seorang istri yang sebaik-baiknya. Apalagi
setelah perempuan itu mengandung.
Namun dengan demikian, maka Wiradanalah yang ingin segala sesuatunya cepat
sekali. Ia ingin membuat istrinya menjadi sangat gembira bahwa pada saatnya
lahir, ia sudah diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Bukan lagi
sekadar pemangku jabatan .
Tetapi agaknya ia masih harus menempuh jalan yang berliku untuk sampai
kepada keinginannya itu.
Dalam pada itu, Wiradana mulai melihat istrinya mempersiapkan perlengkapan
bagi bayinya yang akan lahir kelak. Warsi sudah mulai membuat kain popok dan
menyiapkan bothekan.(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 324
Tanggal: Kamis, 08-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Bukankah waktunya masih agak lama?” bertanya
Wiradana.
“Tetapi membuat perlengkapan begini memang memerlukan waktu yang agak lama
kakang,” sahut istrinya.
“Bukankah masih ada waktu setengah tahun lagi,” berkata Ki Wiradana pula.
“Memang waktu rasa-rasanya masih panjang. Tetapi jika saatnya datang,
rasa-rasanya semuanya akan tergesa-gesa,” jawab istrinya.
Wiradana hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi rasa-rasanya hatinya menjadi
semakin membengkak ketika ia melihat istrinya dengan tekun dan
bersungguh-sungguh menyambut kedatangan bayinya meskipun masih setengah
tahun mendatang.
Sementara itu, Wiradana masih juga bekerja keras dengan pengawal khususnya.
Namun usahanya itu tidak sia-sia. Pengawal khususnya memang menjadi
sekelompok pengawal pilihan.
Pengawal pilihan itulah yang kemudian mendapat tugas dari Ki Wiradana untuk
mengembangkan kemampuannya kepada para pengawal di setiap padukuhan,
sehingga dengan demikian, maka jajaran pengawal Tanah Perdikan Sembojan
termasuk kesatuan pengawal yang kuat dan trampil.
Namun dalam pada itu, sebagaimana pernah dibicarakan dengan Ki Tumenggung
Wirajaya, bahwa pada permulaan bulan berikutnya dari saat Ki Wiradana
menghadap, maka Ki Wiradana itu akan datang lagi menghadap Ki Tumenggung.
Mungkin memang belum ada yang dapat dilakukan oleh Ki Tumenggung karena
keadaan yang tiba-tiba saja mencengkam keluarga Adipati Pajang dengan
gugurnya Kanjeng Sultan Demak. Namun mungkin ada sela-sela waktu yang
didapatkannya untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat
dilakukan di Tanah Perdikan Sembojan.
Karena itu, maka ketika bulan muda sudah datang dan memasuki peredarannya,
Ki Wiradana telah membicarakan kemungkinan untuk sekali lagi menghadap Ki
Wirajaya sebagaimana pernah dibicarakan sebelumnya.
“Memang mungkin aku belum akan mendapatkan penyelesaian yang tuntas,”
berkata Ki Wiradana. “Tetapi setidak-tidaknya aku akan dapat mengingatkan ki
Tumenggung jika Ki Tumenggung belum sempat membicarakannya dengan Kanjeng
Adipati.”
“Tetapi perjalanan ke Pajang ternyata berbahaya kakang,” berkata Warsi.
“Aku akan membawa pengawal lebih banyak lagi,” berkata Ki Wiradana. “Dengan
demikian, maka tidak akan ada orang yang akan mengganggu perjalananku.”
Warsi termangu-mangu. Sebenarnyalah bahwa ia cemas jika Wiradana akan
mengalami kesulitan di perjalanan. Jika para penjahat itu menginginkan
kematiannya, maka agaknya hal itu akan dapat dilakukannya. Tetapi dengan
pengawal yang lebih banyak, memang mungkin perjalanan Ki Wiradana akan
menjadi lebih aman.
Namun mengingat keinginannya untuk mendesak, agar Ki Wiradana segera
diwisuda, Warsi justru ingin mendorongnya agar Ki Wiradana segera berangkat
dan menyelesaikan persoalannya. Sehingga pada saat anaknya lahir, Ki
Wiradana benar-benar sudah seorang Kepala Tanah Perdikan yang sah. Dengan
demikian, maka jika ia ingin menguasainya, maka persoalannya tidak lagi akan
menyangkut dengan hari-hari wisudanya.
Akhirnya Warsi memilih untuk membiarkan Ki Wiradana pergi dengan pengawal
yang lebih banyak lagi. Apalagi pengawal-pengawal itu telah mengadakan
latihan hampir setiap hari dengan tekun dan bersungguh-sungguh.
Sambil menunggu kedatangan saudagar emas permata yang memberikan batas waktu
sebulan sejak ia meninggalkan Tanah Perdikan, maka Ki Wiradana pun telah
memutuskan untuk sekali lagi menghadap kepada Ki Tumenggung Wirajaya
sebagaimana dikatakannya pada waktu ia menghadap untuk pertama kalinya.
Pada saat-saat Ki Wiradana siap untuk berangkat, maka ia sudah mengatur para
penjaganya sebaik-baiknya. Ia sudah menentukan apa yang harus mereka lakukan
jika terjadi sesuatu.
Namun menjelang Ki Wiradana siap untuk berangkat, maka di rumah Ki Wiradana
telah kedatangan dua orang tamu. Seorang laki-laki yang dikenalnya sebagai
ayah Warsi, bersama seorang laki-laki yang lain yang disebutnya sebagai
suadara sepupunya.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang
Tanggal: Jumat, 09-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Ki Wiradana menjadi gembira sekali. Justru
pada saat ia akan meninggalkan istrinya yang sedang mengandung, maka orang
yang dianggapnya mertuanya itu telah datang.
“Kebetulan sekali ayah,” berkata Wiradana setelah ia menanyakan keselamatan
ayahnya, “Aku justru telah bersiap-siap untuk pergi ke Pajang. Dengan
demikian maka Warsi tidak jadi berada di rumah sendiri, karena ayah akan
berada di sini sampai paling sedikit, saatnya aku datang.”
“Ternyata satu kebetulan yang baik,” berkata laki-laki itu. “Tetapi apakah
Ki Wiradana akan pergi untuk waktu yang lama?”
“Tidak ayah. Aku hanya akan meyakinkan penyelesaian wisudaku menjadi Kepala
Tanah Perdikan yang sampai saat ini ternyata masih belum dapat dilaksanakan,”
jawab Ki Wiradana.
“Baiklah. Aku akan berada disini sampai kau kembali,” sahut laki-laki itu.
“Tetapi Ki Wiradana akan pergi kira-kira berapa hari?”
“Antara empat sampai lima hari saja ayah,” jawab Ki Wiradana. “Dalam waktu
itu mungkin aku sudah mendapatkan kejelasan meskipun mungkin masih ada
tenggang waktu dari pelaksanaan wisuda itu sendiri. Tetapi aku memerlukan
kepastian. Karena anakku akan lahir kira-kira setengah tahun lagi.”
“Pergilah,” berkata laki-laki itu, “Selama itu, bahkan mungkin sesudah kau
kembali, aku akan berada di tempat ini, membantu Warsi yang mungkin
memerlukannya.”
Dengan demikian, Ki Wiradana menjadi semakin longgar perasaannya untuk
meninggalkan istrinya, karena ayah mertuanya dan seorang saudara sepupunya
akan berada di rumahnya.
Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan, Wiradana pergi ke Pajang. Ia
tidak hanya dikawal oleh empat orang tetapi ia membawa tujuh orang pengawal
yang terpecah. Tiga orang bersamanya dan empat orang yang lain akan berkuda
beberapa puluh langkah di belakangnya. Selebihnya, Ki Wiradana telah memilih
jalan yang tidak terlalu banyak dilalui orang, sehingga dengan demikian maka
kemungkinan perjalanannya diketahui orang-orang yang bermaksud jahat menjadi
berkurang.
Sementara Ki Wiradana menempuh perjalanan ke Pajang, maka ayah Warsi yang
sebenarnya telah berada di padepokan pamannya, di kaki Gunung Kukusan.
Bahkan ia sudah mengutarakan semua persoalan yang dihadapi Warsi sebagai
keponakan Kalamerta dan yang telah berhasil membunuh orang yang telah
membunuh Kalamerta itu sendiri.
“Saat ini ia memerlukan bantuan untuk mewujudkan keinginannya sampai kepada
anak keturunannya,” berkata ayah Warsi kepada pamannya.
Pamannya, seorang pertapa di lereng Gunung Kukusan mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya, “Kalian tidak membicarakannya dengan aku sebelumnya.
Kalian tidak pernah datang berkunjung ketempat ini. Kalian hanya
memberitahukan kematian Kalamerta. Sesudah itu tidak ada apa-apa lagi.
Sekarang tiba-tiba saja kau datang dengan persoalan yang sudah menjadi rumit
karena pokal anakmu.”
“Tetapi Warsi mempunyai perhitungan buat masa depan bagi keturunannya,”
berkata ayahnya.
“Dan ia menyerahkan dirinya kepada seorang laki-laki hanya karena ia
menginginkan anaknya kelak menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan? Apakah
itu tidak sama artinya dengan perempuan-perempuan yang menyerahkan dirinya
kepada laki-laki untuk mendapatkan harta benda dan kekayaan?” bertanya
pamannya.
“Jangan menilai begitu terhadap Warsi paman,” berkata ayah Warsi. “Paman
tentu mengenal keluarga Kalamerta sebaik-baiknya. Apa yang kami kerjakan dan
apa pula yang kami inginkan.”
“Ya. Aku kenal gerombolan Kalamerta sebagai gerombolan perampok yang garang,”
berkata pertapa di kaki Gunung Kukusan itu.
“Jika pada suatu saat, keturunan Warsi dapat menjadi seorang yang terpandang,
maka aku kira cara untuk mencari harta dan kekayaan yang demikian itu tidak
akan terjadi lagi bagi keturunan keluarga Kalamerta,” jawab ayah Warsi. Lalu,
“Namun satu hal yang paman harus mengetahuinya, bahwa Warsi memang sudah
jatuh cinta kepada laki-laki yang sebelumnya ingin dibunuhnya itu. Dan
perasaan itulah yang pertama-tama tumbuh di hati Warsi. Baru kemudian ia
ingin anaknya menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu maka dugaan
paman tentang Warsi tidak seluruhnya benar.”(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 326
Tanggal: Sabtu, 10-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Petapa di kaki Gunung Kukusan itu
mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Sebenarnya aku tidak
berkeberatan melibatkan diri dalam persoala Warsi. Tetapi pada saat ini, aku
mempunyai sebuah persoalan tersendiri, yang juga memerlukan penyelesaian.
Bahkan segera.”
“Persoalan apa paman?” bertanya ayah Warsi.
“Apakah kau sudah mendengar bahwa Kanjeng Sultan Demak gugur di peperangan,
meskipun tidak sedang berada di medan?” bertanya petapa itu.
“Ya paman. Aku mendengarnya ketika aku berada di Sembojan,” jawab ayah Warsi.
“Nah, jika demikian, maka kau perlu mengetahui bahwa tahta yang kosong itu
telah menumbuhkan persoalan. Keluarga Kanjeng Sultan Demak mulai
mempersoalkan, siapakah yang akan menggantikan kedudukan Kanjeng Sultan.
Namun satu hal yang perlu kau ketahui, bahwa ada garis keturunan yang lain
yang juga berhak atas tahta Demak,” berkata petapa itu.
“Siapa paman?” bertanya ayah Warsi.
“Putera Pangeran Sekar Seda Lepen. Arya Penangsang dari Jipang,” jawab
pertapa itu.
Ayah Warsi mengerutkan keningnya. Namun demikian katanya, “Tetapi apakah hal
itu ada hubungannya dengan persoalan paman?”
Pertapa itu tersenyum. Katanya, “Aku adalah pengikut Adipati Jipang yang
setia. Aku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Ki Patih Mantahun,
pepatih Kadipaten Jipang.”
Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis,
“Paman akan menghubungkan persoalan itu dengan kedudukan Warsi di Sembojan?”
“Ya. Aku akan berada di Sembojan. Tetapi dalam rangka mempersiapkan Sembojan
menjadi alas perjuangan Adipati Jipang. Jika benar terjadi perang antara
Jipang dan keluarga Sultan Demak yang lain termasuk Adipati Pajang maka
Sembojan akan merupakan tempat berpijak yang sangat baik untuk menghadapi
Pajang. Sementara itu Arya Penangsang akan mempersiapkan pancadan perjuangan
menghadapi Cirebon dan sisa kekuatan di Demak sendiri,” berkata petapa itu.
Ayah Warsi mengangguk-angguk. Baginya sama sekali tidak ada keberatan apapun
juga, seandainya Sembojan berada di pihak Jipang jika benar-benar terjadi
permusuhan. Tetapi bagaimana dengan Ki Wiradana sendiri. Selama ini Sembojan
merupakan salah satu wilayah Pajang. Daerah Tanah Perdikan yang luas yang
membentang di bagian Timur Pegunungan Sewu di pesisir Selatan. Jipang yang
jauh dari Pajang memang memerlukan tempat berpijak. Meskipun Sembojan juga
tidak terlalu dekat dari Pajang, tetapi letaknya yang di arah Selatan itu
akan dapat memberikan banyak bantuan. Selain bantuan pangan, mungkin di
Sembojan terdapat anak-anak muda yang bersedia berjuang bagi Jipang.
Petapa di kaki Gunung Kukusan itu pun kemudian berkata, “Sembojan akan
menjadi sangat penting artinya. Bukankah di Sembojan terdapat tanah yang
subur? Dalam perang yang mungkin akan berlangsung lama kita harus
menyediakan sumber-sumber pangan untuk mendukung perjuangan itu. Bahkan
mungkin di Tanah Perdikan Sembojan terdapat orang-orang yang berotak waras,
yang melihat sejarah keturunan raja-raja di Demak dengan lebih cermat.
Sebenarnyalah bahwa Adipati Jipang mempunyai hak dan wewenang yang paling
besar untuk menduduki tahta Demak sepeninggal Trenggana. Karena ayahandalah
yang sebenarnya berhak untuk menjadi Sultan di Demak seandainya ia mendapat
gelar setelah terbunuh dengan Pangeran Sekar Seda Lepen. Dan keluarga
pengkhianat itulah yang kemudian berhasil menduduki tahta Demak. Nah, apakah
hal itu akan dapat dibiarkan berkelanjutan? Sudah waktunya tahta itu kembali
kepada yang sebenarnya berhak. Arya Penangsang dari Jipang.”
Ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Jika demikian, maka persoalannya menjadi
semakin luas. Tidak lagi persoalan antara keluarga Kalamerta dan keluarga Ki
Gede di Tanah Perdikan Sembojan serta kesulitan untuk mendapatkan kesempatan
wisuda karena pertanda kuasa yang belum diketemukan. Namun persoalannya
telah menyangkut hubungan antara Pajang dan Demak, bahkan dengan Jipang.
Jika Wiradana menyetujui sikap pamannya, maka berarti bahwa Sembojan akan
terseret ke dalam persoalan yang lebih besar dari persoalannya sendiri.(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 327
Tanggal: Minggu, 11-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Meskipun demikian, ayah Warsi itu berkata kepada
pamannya, “Paman, sebaiknya paman pergi ke Sembojan. Paman akan dapat
bertemu dan berbicara di antara kami yang berada di Sembojan.”
Pamannya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jadi aku harus memasuki
satu arena permainan yang membingungkan itu?”
“Jika paman sudah berada di Sembojan untuk beberapa hari, maka paman tidak
akan mengalami kebingungan lagi. Semuanya akan berjalan sebagaimana
sewajarnya,” berkata ayah Warsi. “Di Sembojan kita akan dapat menentukan
segala-galanya. Karena sebenarnya Warsi menghadapi lawan yang cukup berat.
Warsi mempunyai dugaan bahwa perampok-perampok itu bukannya sekadar perampok
yang menginginkan harta benda. Tetapi mereka tersangkut dalam satu kelompok
yang memang menginginkan kegoyangan pemerintahan Tanah Perdikan yang
dipimpin oleh Ki Wiradana. Menurut dugaan Warsi, mereka adalah orang-orang
yang setia kepada Nyai Wiradana yang lama, yang mungkin masih belum terbunuh
sebagaimana diduga oleh Ki Wiradana sendiri.
Paman ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan
pergi ke Sembojan. Kemudian aku akan menghubungi para pengikut Adipati
Jipang. Aku berharap, bahwa sebelum aku pergi ke Sembojan aku dapat berpesan
agar salah seorang dari petugas Sandi Jipang dapat pergi ke Sembojan menemui
aku.”
“Jika demikian, apakah paman dapat pergi bersamaku?” bertanya ayah Warsi.
“Aku juga harus datang ke Sembojan sebagai seorang pedagang?” bertanya
pertapa itu.
“Tidak. Paman datang benar-benar sebagai kakek Warsi,” jawab ayah Warsi.
“Tetapi Warsi sudah mempunyai ayah lain sebagaimana kau ceriterakan,” sahut
pertapa itu. “Bahkan seandainya aku adalah kakek Warsi, bagaimana alasannya
bahwa aku dapat datang bersama kau.”
“Kita tidak dapat bersamaan. Paman dapat langsung menuju ke rumah Warsi.
Sementara itu, aku akan langsung pergi ke penginapan yang sudah kami
sepakati sebelumnya untuk menjadi tempat menjebak perampok-perampok itu.
Bahkan mungkin paman akan dapat membantu kami menangkap perampok itu. Jika
kami dapat menangkap seorang saja di antara mereka, maka aku kira, segalanya
akan terungkap termasuk penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana,
apabila pendapat Warsi tentang orang-orang yang mengganggu Tanah Perdikan
itu benar,” berkata ayah Warsi.
Pamannya yang tinggal di sebuah Padepokan di Kaki Gunung Kukusan itu pun
mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan pergi ke Sembojan. Aku akan
menjajagi kemungkinan untuk menjadikan Sembojan salah satu landasan bagi
perjuangan Arya Penangsang disisi Selatan tanah ini. Tetapi sebelumnya ajari
aku untuk mengenali tokoh-tokoh ceritera yang hidup di negeri Sembojan itu,
agar aku tidak salah sebut dan tidak salah ucap. Adalah satu ceritera yang
lucu jika aku ternyata tidak mengenali orang yang disebut ayah Warsi itu,
justru adalah kakeknya.”
“Paman tentu sudah mengenalnya. Ia pernah datang kemari,” berkata ayah Warsi.
“Mudah-mudahan aku tidak salah pilih,” berkata pamannya.
“Agaknya lebih baik aku datang sehari sebelum paman. Aku akan dapat memesan
Warsi, agar ia dengan cepat menempatkan peranan masing-masing pada susunan
yang seharusnya,” berkata ayah Warsi.
“Agaknya memang lebih baik demikian,” berkata pamannya. Namun kemudian
katanya, “Tetapi jika menurut katamu tidak ada orang kuat di Tanah Perdikan
itu, kenapa Tanah itu tidak langsung dikuasainya saja oleh Warsi.”
“Warsi masih menunggu Ki Wiradana diwisuda, selain ia juga masih menunggu
bayinya yang akan lahir,” jawab ayah Warsi.
Demikianlah maka kedua orang itu pun telah menentukan rencana berikutnya,
sehingga pada saatnya segalanya akan dapat berjalan dengan lancar dan tidak
akan menumbuhkan persoalan sebelum saatnya itu memang akan ditumbuhkannya.”
(Bersambung)-m
SURAMNYA BAYANG BAYANG 328
12 Mei 2003
Ulang Tahun kerusuhan Mei 1998
Berakhirnya Tenggat Waktu terhadap GAM oleh TNI
Dalam pada itu, Ki Wiradana yang pergi ke Pajang, telah berada di Pajang
pula. Tetapi ia tidak ingin bermalam di rumah Ki Tumenggung Wirajaya agar
tidak merepotkannya. Ia bermalam di penginapan yang pernah dipergunakannya
dahulu, dengan pengertian bahwa ia telah membawa pengawal lebih banyak,
sehingga ia akan dapat mengatasinya jika kedua orang perampok itu masih akan
merampoknya lagi. Sementara itu tujuh orang pengawal yang pernah ikut
bersamanya namun yang sudah mendapat latihan-latihan yang keras untuk
meningkatkan kemampuannya meskipun dalam waktu yang terhitung singkat.
Ternyata Ki Tumenggung Wirajaya memang seorang yang ramah. Diterimanya
Wiradana dengan senang hati. Bahkan sekali lagi ia menawarkan agar Wiradana
bersedia bermalam di rumahnya.
“Terima kasih Tumenggung,” jawab Ki Wiradana. “Aku datang bersama beberapa
orang pengawal.”
“Pengawal?” bertanya Ki Tumenggung.
Dengan singkat Ki Wiradana menceriterakan pengalamannya ketika ia kembali ke
Sembojan pada saat ia menghadap yang terdahulu.
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya orang-orang itu
memanfaatkan keadaan yang mulai hangat di Demak.”
Ki Wiradana mengangguk kecil. Katanya, “Apakah ada persoalan yang timbul
sepeninggal Kanjeng Sultan Demak?”
“Persoalan yang sering dihadapi. Jawab dari pertanyaan, “Siapakah yang akan
menggantikannya,” jawab Ki Tumenggung.
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ternyata tentang warisan itu memang
akan dapat membakar persaudaraan. Bukan hanya orang-orang yang berderajat
rendah, tetapi orang-orang yang berderajat tinggi pun sering berebut warisan.
Warisan harta benda atau warisan kedudukan, atau bahkan kedua-duanya.
Namun dalam pada itu, Ki Wiradana pun segera kembali kepada persoalan
tentang dirinya, “Tetapi apakah Kanjeng Adipati Hadiwijaya sudah berada
kembali di Pajang?”
“Sudah Ki Wiradana. Tetapi tentu hanya untuk sesaat. Mungkin dalam waktu
dekat, Kanjeng Adipati akan kembali ke Demak dalam persoalan yang sama,”
jawab Ki Tumenggung.
“Jika demikian, bagaimana dengan persoalanku? Dengan kemungkinan
penyelenggaraan wisuda?” bertanya Ki Wiradana.
“Aku sudah menyampaikannya kepada Kanjeng Adipati,” jawab Tumenggung. “Namun
dalam kesibukannya, maka Kanjeng Adipati hanya memerintahkan untuk
menyiapkan pertanda kuasa di Tanah Perdikan Sembojan. Kanjeng Adipati masih
belum dapat mengatakan, kapan wisuda itu akan dapat dilakukan, berhubung
dengan kesibukan Kanjeng Adipati sendiri. Apalagi dalam persoalan ini
Adipati di Jipang, Arya Penangsang telah ikut campur pula, karena ia merasa
pula berhak atas tahta Demak.”
Wajah Ki Tumenggung menjadi tegang. Katanya, “Dengan demikian apakah berarti
bahwa mungkin dalam waktu setelah tahun ini, wisuda itu belum menemukan
pertanda kuasa Tanah Perdikan itu. Pada saat ayah tidak seorang pun yang
ingat akan benda yang penting bagi Tanah Perdikan Sembojan itu.”
Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya Ki Wiradana. Aku sebagai
seorang petugas dalam hal ini, akan selalu berusaha. Tetapi aku tentu tidak
akan dapat berbuat banyak jika Kanjeng Adipati sendiri baru dalam keadaan
sibuk dan tegang. Sebenarnyalah aku tidak berani mendesak sampai dua tiga
kali. Nanti, jika keadaan sudah menjadi semakin baik, barulah aku akan
mengulangi persoalan itu lagi.”
“Tetapi hal itu sangat penting bagi kami di Tanah Perdikan Sembojan Ki
Tumenggung,” desis Ki Wiradana.
“Aku mengerti Ki Wiradana. Aku akan membantu Ki Wiradana sejauh dapat dan
berani aku lakukan. Namun baiklah Ki Wiradana mengetahui, tetapi hanya untuk
Ki Wiradana sendiri agar tidak menggelisahkan rakyat, bahwa Kanjeng Adipati
telah memerintahkan untuk menyiapkan prajurit. Karena itu, maka dapat
dibayangkan bahwa persoalannya menjadi cukup gawat,” jawab Ki Tumenggung.
Ki Wiradana menjadi berdebar-debar. Nampaknya persoalan Demak itu akan
berpengaruh juga atas Tanah Perdikan Sembojan. Setidak-tidaknya bahwa saat
wisudanya pun akan tertunda sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. (Bersambung)-o
Suramnya Bayang Bayang 329
Tanggal: Selasa, 13-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Tetapi Wiradana memang merasa berada dalam
kesulitan. Ki Tumenggung Wirajaya adalah orang yang sangat baik
kepadanya. Ia sudah berbuat sejauh dapat dilakukan. Bahkan ternyata Ki
Tumenggung telah menyampaikannya pula kepada Kanjeng Adipati tentang
persoalan Tanah Perdikan Sembojan. Namun Kanjeng Adipati yang sedang
dicengkam oleh persoalan di Demak itu belum dapat menentukan, apa yang akan
dilakukannya.
“Jika Kanjeng Adipati sudah memerintahkan menyiapkan pasukan, maka keadaan
tentu akan benar-benar gawat,” berkata Wiradana di dalam hatinya.
Karena itu, maka ia hanya dapat berkata, “Ki Tumenggung. Jadi apakah yang
sebaiknya harus aku lakukan?”
“Maaf Ki Wiradana,” jawab Ki Tumenggung dengan penuh penyesalan. “Aku kira
yang dapat Ki Wiradana lakukan sekarang, adalah sekadar menunggu. Selama itu,
Ki Wiradana dapat mengusahakan pertanda yang hilang itu, mungkin akan dapat
diketemukan. Dalam keadaan seperti ini, maka Kanjeng Adipati tentu tidak
sempat memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain daripada mempergunakan tata
cara sebagaimana seharusnya berlaku.”
“Tetapi jika benda itu memang hilang Ki Tumenggung, karena ayah meninggal
dalam keadaan tidak wajar?” bertanya Ki Wiradana.
Ki Tumenggung itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang dapat
diusahakan untuk mengatasinya. Dengan beberapa orang saksi dan kesediaan
beberapa orang tua di Tanah Perdikan Sembojan untuk bertanggung jawab, serta
kesediaan beberapa orang pejabat di Pajang untuk ikut mempertanggung
jawabkan pula, bahwa yang di wisuda adalah pewaris sah.
Namun jika ditempuh cara itu, maka pelaksanaannya akan menjadi semakin rumit.
Justru pada saat Kanjeng Adipati sibuk sekali seperti sekarang ini,
pelaksanaannya tentu akan tertunda. Memang aku tidak dapat menyebut batasan
waktu. Jika persoalan Demak cepat selesai, maka hal yang menyangkut Tanah
Perdikan Sembojan pun cepat dapat diselesaikan. Tetapi jika tidak, maka
mungkin persoalan Ki Wiradana pun akan tertunda. Tetapi seperti yang aku
katakan, bukankah tidak ada persoalan apapun pada Ki Wiradana? Agaknya Ki
Wiradana tidak mempunyai kecemasan bahwa akan terjadi perebutan kekuasan di
Tanah Perdikan itu karena anak Kepala Tanah Perdikan yang terdahulu memang
hanya satu. Nampaknya tidak ada pula orang yang merasa berhak atas kedudukan
itu selain Ki Wiradana sendiri, sebagaimana Arya Penangsang bagi Kerajaan
Demak. Bukankah sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda kedudukan Ki Wiradana,
sesudah atau sebelum diwisuda?”
Ki Wiradana memang tersentuh ke dalam satu keadaan yang sulit. Ia tidak
dapat berbuat apapun atas Ki Tumenggung yang baik dan ramah itu. Namun
penundaan itu akan menyusahkannya dan mungkin juga istrinya yang ingin
wisuda itu dilaksanakan sebelum anaknya lahir.
Tetapi apaboleh buat. Segalanya terjadi diluar kuasa Ki Tumenggung itu
sendiri, bahwa kebetulan sekali telah terjadi persoalan di Demak dan
menyangkut Kanjeng Adipati Pajang.
Meskipun demikian, Ki Wiradana masih juga bertanya, “Ki Tumenggung, apakah
dalam keadaan seperti ini, aku diperkenankan menghadap Kanjeng Adipati?
Mungkin jika aku dapat memberikan penjelasan, Kanjeng Adipati akan bersedia
memikirkannya dan melakukan langkah-langkah darurat.”
Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Katanya, “Mungkin aku dapat
mengusahakan agar kau menghadap. Tetapi akibatnya tentu tidak akan
menguntungkan Ki Wiradana, justru karena pikiran Kanjeng Sultan yang sedang
kusut.”
Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan mohon
belas kasihannya. Mungkin agak berbeda dengan jika ia berhadapan dengan Ki
Tumenggung. Berhadapan dengan yang berkepentingan, mungkin hati Kanjeng
Adipati akan menjadi luluh meskipun dalam keadaan yang kusut sekalipun.”
Ki Tumenggung Wirajaya menjadi ragu-ragu. Namun ia berusaha untuk sekali
lagi memperingatkan, “Tetapi hal itu akan berakibat sebaliknya. Kanjeng
Adipati akan merasa selalu terdesak justru dalam keadaan yang tidak
menguntungkan.”
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 330
Tanggal: Rabu, 14-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Aku mohon dengan sangat Ki Tumenggung,”
berkata Ki Wiradana. “Bukan berarti aku tidak percaya kepada Ki Tumenggung.
Tetapi semata-mata dengan perhitungan, bahwa jika Kanjeng Adipati melihat
langsung keadaannku, mungkin Kanjeng Adipati akan memberikan sedikit
perhatian dalam kekalutannya itu.”
Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Jika kau
bersikeras hati untuk menghadap, aku akan berusaha.”
Sebenarnyalah Ki Tumenggung adalah orang yang sulit untuk menolak permintaan
orang lain meskipun hal itu akan dapat menyulitkan dirinya sendiri. Jika Ki
Wiradana sempat menghadap maka persoalannya tidak akan menjadi semakin mudah
dipecahkan. Namun ia tidak sampai hati untuk mengecewakan Ki Wiradana.
“Biarlah ia mendengar sendiri, apa yang dikatakan oleh Kanjeng Adipati,”
berkata Ki Tumenggung di dalam hatinya.
Karena itu, maka katanya, “Jika demikian, baiklah Ki Wiradana harap menunggu
satu dua hari. Mudah-mudahan kesempatan itu segera terbuka. Mungkin justru
tidak dihari-hari paseban. Tetapi pada saat-saat khusus yang sering
dipergunakan oleh Kanjeng Adipati untuk menerima persoalan-persoalan yang
tidak perlu dibicarakan dalam sidang di paseban.”
“Terima kasih Ki Tumenggung. Aku akan menunggu sampai saatnya Ki Tumenggung
memanggil aku. Aku berada di penginapan seperti yang pernah aku sebutkan,”
sahut Ki Wiradana.
Dengan demikian, timbullah di hati Ki Wiradana harapan. Ia akan menjelaskan
sebagaimana adanya. Jika Kanjeng Sultan menaruh belas kasihan atas anaknya
yang akan lahir, maka Kanjeng Sultan akan dapat mengambil satu kebijaksanaan.
Namun Ki Tumenggunglah yang mengalami kesulitan. Ia menjadi ragu-ragu untuk
menyampaikan permohonan Ki Wiradana kepada Kanjeng Adipati yang diketahuinya
sedang dalam keadaan yang terlalu sibuk. Bukan saja secara wantah, tetapi
juga kesibukan nalar dan budinya. Kanjeng Adipati memang menantu Kanjeng
Sultan Demak yang paling muda. Namun beberapa pihak menganggap bahwa ia
adalah salah seorang yang memiliki kelebihan dari menantu-menantu Kanjeng
Sultan yang lain.
Tetapi Ki Tumenggung yang tidak dapat menolak permintaan Ki Wiradana itu,
akhirnya dalam satu kesempatan memberanikan diri untuk menyampaikannya
kepada Kanjeng Adipati.
“Ampun Kanjeng Adipati,” berkata Ki Tumenggung dengan suara bergetar,
“Apakah hamba diperkenankan menyampaikan satu permohonan dari salah seorang
hamba di Pajang?”
Adipati Pajang menurut kebiasaannya memang bukan orang yang garang. Ia
banyak mendengarkan pendapat orang lain bahkan ia senang berbincang dalam
waktu-waktu senggangnya dengan siapapun juga yang dianggapnya berguna
baginya.
Namun dalam kekalutan itu, Kanjeng Adipati bertanya, “Siapakah yang akan
menghadap dan dalam persoalan apa?”
“Ampun Kanjeng Adipati. Yang akan menghadap Ki Wiradana, pemangku jabatan
Kepala Tanah Perdikan di Sembojan,” jawab Ki Tumenggung Wirajaya. (Bersambung)-m
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 14/V/2003
12 Oct. is Bali's mourn
Sign My Dreambook
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Ready Stock Gouramy Larvae to Gouramy
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
XE.com Personal Currency
Assistant
|