|
|
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta.
Suramnya Bayang Bayang 311
Tanggal: Jumat, 25-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
ORANG yang berdiri ditengah lingkaran itu
memandang lawan-lawannya dengan tajamnya. Apalagi ketika ketiga pengawal
yang lain pun telah melakukan hal yang sama.
“Ki Sanak,” berkata orang yang berdiri ditengah itu. “Kalian mulai bermain
dengan senjata. Apakah kalian menyadari akibatnya. Sentuhan senjata sangat
berbeda akibatnya dengan sentuhan jari dengan kekuatan wajar. Sentuhan ujung
senjata akan dapat menggores kulit dan mengoyak daging.”
“Aku memang ingin mengoyak kulit dagingmu dan merobek jantungmu,” berkata
pengawal itu.
“Betapa garangnya,” sahut orang itu. “Tetapi baiklah. Kita akan melihat arti
dari tingkah laku kalian itu.”
Para pengawal tidak menjawab lagi. Namun dengan demikian maka mereka sudah
siap untuk mulai dengan pertempuran yang menentukan karena mereka sudah
bersenjata.
Namun ketika orang yang dikepungnya itu memandang arena pertempuran antara
kawannya dan Ki Wiradana, maka para pengawal itu diluar sadarnya juga
berpaling sekilas. Namun mereka menjadi gelisah. Ternyata bahwa Ki Wiradana
telah terdesak beberapa langkah surut.
“Apa kataku,” berkata orang yang berada di dalam kepungan, “Bukan kawanku
yang terdesak, tetapi Ki Wiradana.”
“Persetan,” geram salah seorang pengawal. “Kami bunuh kau, kemudian kami
akan bertempur bersama Ki Wiradana.”
Para pengawal itu tidak menunggu jawaban. dengan serta merta mereka telah
menyerang dengan senjata mereka masing-masing.
Bagaimanapun juga orang yang berada di dalam kepungan itu mengalami
kesulitan untuk menghindari serangan dari empat ujung pedang pada jarak yang
pendek. Karena itu, tiba-tiba saja ia telah mengambil sesuatu dari balik
bajunya. Ternyata ia telah menarik pisau belati panjang. Sepasang, tidak
hanya sebuah.
Dengan sepasang pisau belati itu, ia telah melawan empat ujung pedang di
tangan para pengawal.
Perlawanan orang itu memang mengejutkan. Dengan pisau-pisaunya ternyata ia
mampu menangkis serangan pedang yang datang beruntun dari segala arah.
Bahkan ketika terjadi benturan-benturan antara senjata mereka, maka keempat
pengawal itu mejadi semakin heran. Pisau-pisau yang terhitung kecil
dibandingkan dengan pedang-pedang mereka itu mampu menggetarkan tangan
mereka hampir pada setiap sentuhan antara senjata mereka.
“Orang ini memang luar biasa,” berkata para pengawal itu di dalam hatinya.
Apalagi ketika kemudian orang itu mulai berloncatan dan justru menyerang.
Maka kepungan keempat pengawal itu telah terdorong melebar dengan sendirinya,
sehingga kepungan itu tidak banyak memberikan arti lagi.
“Bukan salahku,” berkata orang itu. “Kalianlah yang mulai dengan senjata.”
Para pengawal tidak menjawab. Pertempuran itu menjadi semakin sengit. Tetapi
para pengawal ternyata tidak berbuat banyak.
“Dengar para pengawal,” berkata orang itu. “Aku kali ini hanya mempergunakan
pisau-pisau belati. Jika aku mempergunakan senjataku yang sebenarnya yang
masih berada di pelana kudaku, maka kalian akan menjadi semakin menyesal.”
Keempat pengawal itu tidak sempat menjawab. Mereka justru berloncatan
semakin jauh. Namun demikian, maka setiap kali mereka berusaha untuk
menyerang beruntun, tetapi kadang-kadang juga berbareng.
Sementara itu, orang-orang yang lewat dan bahkan orang-orang padukuhannya
pun melihat perkelahian yang telah terjadi itu. Karena itu maka mereka pun
menjadi semakin lama semakin gelisah. Pemilik warung yang ketakutan itu
akhirnya tidak dapat menahan diri lagi. Pada saat pertempuran itu menjadi
semakin sengit, dan darah mulai meleleh dari luka, maka ia pun telah berlari
ke gardu terdekat dan dengan sekuat tenaga telah membunyikan kentongan.
Suara kentongan dengan nada titir itu menjadi semakin menarik perhatian.
Bahkan beberapa lama kemudian, terdengar suara kentongan yang lain telah
menyambutnya dan sambung menyambung suara kentongan itu menjalar semakin
lama semakin jauh.
Ternyata suara kentongan itu telah terdengar oleh para bebahu padukuhan itu.
Dengan segera mereka pun berlari-lari menuju ke banjar. Namun orang-orang di
banjar masih belum tahu pasti apa yang terjadi. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 312
Tanggal: Sabtu, 26-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
BARU sejenak kemudian, dua orang
berlari-lari memberitahukan apa yang telah terjadi di warung itu. Dua orang
yang dianggap gegedug di daerah padukuhan itu dan sekitarnya sama sekali
tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan kemudian beberapa orang yang semua
bersama-sama singgah di warung itu telah saling berkelahi.
Dengan demikian maka para bebahu padukuhan itu telah membawa laki-laki yang
bersedia membantunya dengan senjata di tangan menuju ke warung itu. Meskipun
mereka bukan orang-orang berilmu, tetapi menurut pendapat bebahu itu, jika
mereka datang dalam jumlah yang besar, maka hal itu tentu akan berpengaruh
juga.
Ketika seorang bekel yang memimpin orang-orang padukuhan itu datang dengan
hati-hati memasuki halaman warung di pinggir jalan itu, hatinya menjadi
berdebar-debar. Ia melihat orang-orang yang sedang berjalan melalui jalan
itu berhenti dan mengerumuni pintu pagar yang rendah dari halaman warung itu
“Minggir Ki Sanak,” minta Bekel yang diikuti oleh sekelompok laki-laki
bersenjata.
Beberapa orang telah menyibak. Namun ketika Ki Bekel itu memasuki pintu
warung, maka pemilik warung itu berkata, “Terlambat Ki Bekel.”
“Kenapa?” bertanya Ki Bekel.
“Dua orang perampok itu telah melarikan diri dengan meninggalkan
korban-korbannya,” jawab pemilik warung itu.
Ki Bekel termangu-mangu. Sementara itu pemilik warung itu pun berkata, “Aku
persilakan Ki Bekel melihat disebelah warungku ini.”
Ki Bekel dan beberapa orang laki-laki itu kemudian pergi keserambi yang
ditunjukkan oleh pemilik warung itu. Yang dijumpainya sangat mengejutkan.
Beberapa orang terbaring di amben bambu di serambi itu. Sementara itu,
seorang di antara mereka yang terluka itu pun duduk di bibir amben sambil
menyeringai menahan sakit.
“Apa yang terjadi Ki Sanak?” bertanya Ki Bekel.
Ki Wiradana, satu-satunya orang yang masih sempat duduk meskipun sambil
menahan sakit itu pun menjawab, “Telah terjadi perampokan.”
“Di siang hari begini?” bertanya seseorang.
“Ya,” jawab Ki Wiradana. “Perampokan yang gila. Dua orang telah mengikuti
perjalananku dari Pajang. Ternyata mereka baru bertindak ketika aku sampai
disini.”
“Apakah Ki Sanak melawan?” bertanya Ki Bekel.
“Ya. Kami telah melawan. Tetapi kedua perampok itu agaknya memang memiliki
ilmu yang tinggi,” jawab Ki Wiradana.
“Apakah ada barang-barang Ki Sanak yang sempat dibawa?” bertanya Ki Bekel.
“Tidak,” jawab Ki Wiradana. “Kami masih mampu mempertahankannya meskipun
kawan-kawanku mengalami cidera yang agak parah.”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Kemudian seorang yang memiliki
pengetahuan tantang obat-obatan datang untuk mengobatinya.
“Siapakah Ki Sanak sebenarnya?” bertanya Ki Bekel.
Ki Wiradana pun kemudian menyebut tentang dirinya dan jabatannya. Baru
kemudian ia pun bertanya, “Dan Ki Sanak?
“Aku adalah Bekel di padukuhan ini,” jawab Ki Bekel. Lalu, “Jika Ki Sanak
pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka perjalanan Ki Sanak ke
Pajang agaknya ada hubungannya dengan jabatan Ki Sanak itu.”
“Agaknya memang demikian,” jawab Ki Wiradana.
Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Dengan keadaan Ki Sanak dan
para pengawal Ki Sanak, maka agaknya Ki Sanak tidak akan sempat melanjutkan
perjalanan hari ini. Kami ingin mempersilakan Ki Sanak tinggal barang satu
dua hari di padukuhan ini. Jika keadaan Ki Sanak sudah baik, maka kami
persilakan Ki Sanak melanjutkan perjalanan. Namun Ki Sanak perlu
berhati-hati. Mungkin para perampok itu masih saja mengiktui Ki Sanak.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Jika keadaanku sudah baik,
aku tidak akan menunda perjalanan kembali. Sebenarnya aku tidak gentar
menghadapi keduanya.”
“Tetapi Ki Sanak terluka cukup parah,” berkata Ki Bekel. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 313
Tanggal: Selasa, 29-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“Mungkin aku telah melakukan satu kesalahan.
Aku terlalu menganggap mereka tidak berbahaya,” jawab Ki Wiradana. Lalu
katanya, “Tetapi bukankah jalan menuju ke Sembojan tidak hanya satu?”
“Memang ada beberapa jalur. Aku dapat menunjukkan jalur jalan yang jarang
sekali dilalui. Mungkin Ki Sanak dapat mengambil jalan itu.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Bahkan kemudian katanya, “Kami sangat
berterima kasih atas kesediaan Ki Sanak untuk menerima kami barang satu dua
hari di padukuhan ini. Aku kira dalam dua hari keadaan kami sudah menjadi
baik kembali. Namun apakah dengan demikian kami akan dapat menyulitkan
padukuhan ini jika kedua orang itu dengan nekad berusaha meneruskan niatnya
untuk merampok kami justru pada saat kami masih dalam keadaan seperti ini?”
Ki Bekel itu pun menjawab, “Jumlah kami cukup banyak. Mungkin kemampuan kami
tidak seberapa. Tetapi dalam jumlah yang tidak terhitung dibandingkan jumlah
yang hanya dua orang itu, maka kami akan dapat mempertahankan diri kami dari
keduanya.”
Dengan demikian, maka Ki Wiradana dan para pengawalnya pun kemudian telah
dibawa ke banjar. Ki Wiradana sendiri mampu berjalan meskipun kemudian Ki
Bekel mempersilakannya naik juga ke atas sebuah pedati sebagaimana para
pengawalnya.
“Naiklah,” berkata Ki Bekel. “Jika kau memaksa diri untuk berjalan juga,
maka luka-lukamu akan terasa semakin parah.”
Ki Wiradana tidak membantah. Ia pun kemudian naik ke atas pedati. Namun
katanya kemudian, “Kami menitipkan kuda-kuda kami.”
“Jangan kau risaukan,” jawab Ki Bekel. “Kami mengurusi kuda-kuda kalian
sebaik-baiknya.”
Dengan demikian maka Ki Wiradana pun tinggal di banjar padukuhan itu.
Ternyata orang-orang padukuhan itu adalah orang-orang yang lugu dan ramah.
Namun dalam keadaan yang bagi mereka cukup gawat itu, hampir setiap
laki-laki telah menyediakan diri untuk berbuat sesuatu bagi padukuhannya.
Ketika senja mulai turun, maka gardu-gardu pun mulai terisi. Jauh lebih
banyak dari mereka yang berkewajiban ronda pada malam itu. Peristiwa di
warung ditepi jalan yang menghubungkan Pajang dan Sembojan itu, telah
mendorong setiap orang laki-laki untuk berbuat sesuatu.
Tetapi tidak seorang pun yang datang mengganggu padukuhan itu. Yang
dicemaskan, bahwa kedua orang perampok itu, apalagi jika mereka mengajak
kawan-kawan mereka untuk datang ke padukuhan itu, ternyata tidak terjadi.
Malam-malam di padukuhan itu terasa sebagaimana malam-malam sebelumnya.
Tenang dan sepi, selain di gardu-gardu peronda, mereka yang berjaga-jaga
sibuk berusaha agar mereka tidak segera tertidur. Ada yang merebus air,
merebus ketela pohon, dan ada yang berjalan hilir mudik di depan regol-regol
padukuhan.
Namun tiga malam telah lewat. Keadaan Ki Wiradana pun benar-benar telah
kelihatan baik meskipun sebenarnya luka-lukanya masih belum sembuh benar.
Dalam keadaan yang banyak melepaskan tenaga, maka luka-luka itu akan dapat
berdarah lagi.
Apalagi para pengawalnya. Keadaan mereka masih belum sebaik keadaan Ki
Wiradana.
Namun Ki Wiradana mulai menjadi gelisah. Meskipun sejak ia berangkat dari
Tanah Perdikan ia sudah mengatakan bahwa kepergiannya mungkin memerlukan
waktu beberapa hari untuk menyelesaikan persoalan Tanah Perdikan Sembojan
dengan tuntas, namun ia pun mulai digelisahkan oleh kemungkinan bahwa
orang-orang di Tanah Perdikan Sembojan sudah menunggu-nunggunya.
Karena itu, meskipun keadaannya masih belum sembuh sama sekali, Ki Wiradana
kemudian minta diri untuk meneruskan perjalanannya.
“Sebaiknya kau menunggu luka-lukamu sembuh sama sekali,” berkata Ki Bekel.
“Terima kasih Ki Bekel. Aku agaknya sudah terlalu lama meninggalkan Tanah
Perdikan Sembojan. Pertolonganmu sudah terlalu banyak sehingga aku tidak
dapat melupakannya disaat-saat mendatang. Mungkin aku masih akan hilir mudik
antara Sembojan dan Pajang setelah keadaan menjadi tenang. Dalam kesempatan
itu, aku akan dapat singgah di rumahmu,” jawab Ki Wiradana. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 314 ( Senin 28 April 2003 )
KI BEKEL tidak dapat menahannya lagi. Ia mengerti, bahwa tugas seorang
Kepala Tanah Perdikan bukannya tugas yang ringan, sehingga karena itu, maka
sebagai pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Ki Wiradana tidak dapat
terlalu lama pergi.
Sebenarnya para pengawal Ki Wiradana masih ingin tinggal lebih lama agar
luka-luka mereka menjadi semakin baik. Tetapi agaknya Ki Wiradana sudah
tidak dapat menunggu lagi, sehingga mereka pun terpaksa ikut pula
bersiap-siap untuk meninggalkan padukuhan itu.
“Sebenarnya aku masih ingin menunda perjalanan ini dalam dua tiga hari lagi,”
berkata salah seorang di antara mereka.
“Tempat ini menyenangkan,” desis kawannya. “Aku dapat tinggal disini dengan
tenang dan mendapat pelayanan yang menyenangkan pula.”
Tetapi mereka tidak dapat mencegah Ki Wiradana yang merasa sudah terlalu
lama meninggalkan kewajibannya.
Dalam pada itu Ki Bekel pun bertanya, “Ki Wiradana. Demi keamanan perjalanan
Ki Wiradana, apakah aku dapat memerintahkan dua tiga orang pergi ke Sembojan
untuk memanggil pengawal yang cukup seandainya di perjalanan Ki Wiradana
yang masih belum sembuh benar itu bertemu dengan para perampok?”
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Jarak antara Sembojan dan padukuhan itu
memang tidak terlalu jauh. Ia akan dapat menunggu sehari jika ia sependapat
dengan pendapat Ki Bekel. Dengan demikian mungkin lima atau enam orang
pengawalnya akan dapat menjemputnya.
Namun Ki Wiradana itu akhirnya menggeleng. Katanya, “Terima kasih Ki Bekel.
Biarlah aku dan para pengawal yang ada menempuh perjalanan kembali. Seperti
yang sudah kita sebut-sebut, jalan ke Tanah Perdikan bukan hanya satu.
Mudah-mudahan aku tidak diganggunya lagi dalam perjalanan pulang.”
Demikianlah, maka setelah membenahi diri, maka pada saat fajar menyingsing,
Ki Wiradana pun telah berada di punggung kudanya bersama para pengawalnya.
Mereka akan menempuh perjalanan mereka yang sebenarnya memang sudah tidak
terlalu jauh. Namun kemungkinan yang buruk itu masih saja dapat terjadi,
jika kedua orang perampok itu mencegat mereka di perjalanan kembali.
Tetapi Ki Wiradana akan memilih jalan yang paling kecil kemungkinannya
diketahui atau diperkirakan oleh para perampok itu akan dilaluinya, sehingga
Ki Wiradana berharap bahwa para perampok itu tidak akan mengganggunya disisi
perjalanannya itu.
Sejenak kemudian, beberapa ekor kuda itu pun telah berpacu. Ki Bekel dan
para bebahu padukuhan itu mengantar mereka sampai ke regol banjar.
Ki Wiradana menempuh sisa perjalanannya dengan hati yang berdebar-debar.
Bagaimanapun juga ia tidak dapat ingkar, bahwa sebenarnyalah Ki Wiradana
tidak akan mampu menandingi ilmu orang yang berusaha merampoknya itu. Ia
akan dapat berkata apa saja kepada orang lain sebagaimana kepala Ki Bekel,
bahwa seolah-olah ia telah lengah menghadapi lawannya karena ia tidak
mengira sama sekali, bahwa perampok itu ternyata memiliki ilmu yang cukup.
Tetapi kepada dirinya sendiri ia harus mengakui imbangan kemampuan yang
sebenarnya antara dirinya dengan perampok yang telah melukainya itu.
Dalam pada itu, ternyata bahwa perjalanan Ki Wiradana yang sudah tidak
terlalu panjang itu dapat ditempuhnya dengan terlalu cepat, karena keadaan
Ki Wiradana terutama para pengawalnya yang masih belum sembuh benar. Bahkan
Ki Wiradana dan para pengawalnya masih juga harus beristirahat disebuah
kedai untuk menjaga agar keadaannya tidak menjadi terlalu buruk.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan dengan penuh ketegangan, Ki Wiradana
dan para pengawalnya pun selamat sampai ke rumah mereka di Sembojan.
Demikian mereka memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka rasa-rasanya jantung
mereka telah tersiram dengan embun yang sejuk. Meskipun kemungkinan buruk
itu masih saja dapat terjadi di Tanah Perdikan mereka sendiri, tetapi
kemungkinan itu sudah menjadi sangat kecil.
Meskipun demikian, kedatangan Ki Wiradana telah mengejutkan hati Warsi yang
menunggunya dengan berdebar-debar. Ki Wiradana yang datang dengan luka-luka
ditubuhnya meskipun sudah mengalami penyembuhan meskipun belum sempurna.
(Bersambung)-o
Suramnya Bayang Bayang 315 ( Selasa 29 April 2003 )
KI WIRADANA tidak dapat mengulas peristiwa yang terjadi itu terlalu
banyak, karena beberapa orang pengawal menyaksikan kekalahannya. Meskipun
demikian, ia masih mampu membuat kesan, bahwa kekalahannya itu bukannya
karena ilmunya yang berselisih banyak, tetapi semata-mata karena kelengahan
Ki Wiradana sendiri.
Sementara itu, para pengawalnya yang masih dalam keadaan yang lebih buruk
dari Ki Wiradana sendiri, demikian mereka sampai di rumah pemang-ku jabatan
Kepala Tanah Perdikan itu, maka mereka langsung pergi ke serambi samping.
"Beri kami minum panas," berkata salah seorang di antara mereka kepada
pelayan Ki Wiradana, sementara itu para pengawal itu pun segera membaringkan
diri. Badan rasa-rasanya masih terlalu lemah dan luka-luka mereka yang sudah
pampat itu rasa-rasanya akan kambuh lagi jika mereka tidak segera
beristirahat.
Seseorang yang mengalami luka parah di punggungnya mempergunakan cara
tersendiri untuk beristirahat. Ia duduk disebuah lincak di serambi sambil
memeluk bantal dan bersandar menyamping pada lengannya.
Jantung Warsi menjadi berdegupan lebih cepat. Ketika ia melihat luka Ki
Wiradana maka ia dapat mengambil kesimpulan sesuai dengan ketajaman
pengamatannya meskipun tidak dikatakan kepada Ki Wiradana, bahwa yang
melukai suaminya adalah orang yang melukai ayahnya yang mengaku saudagar
permata.
"Saudagar itu masih berada disini," berkata Warsi. "Apakah kakang perlu
bertemu dan berbicara tentang orang yang melukai kakang? Mungkin mereka
mempunyai hubungan atau bahkan orangnya adalah orang itu juga, yang
pekerjaannya memang memasuki penginapan-penginapan dan merampok orang-orang
bermalam."
"Tetapi orang-orang yang merampok kami di perjalanan tidak melakukannya di
penginapan sebagaimana yang dilakukan atas saudagar emas itu," jawab Ki
Wiradana.
"Apakah mereka akan berani melakukannya di Pajang? Di sebuah kota yang ramai,
yang setiap saat jalan-jalan dilalui oleh prajurit yang sedang meronda?"
sahut Warsi.
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, "Mungkin kau benar. Baiklah, aku
akan berbicara dengan saudagar itu."
"Tetapi tentu tidak perlu sekarang. Kakang perlu beristirahat setelah
menempuh perjalanan dalam keadaan terluka seperti itu," berkata Warsi.
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ia memang merasa tubuhnya sangat
letih. Bukan saja karena perjalanannya, tetapi juga karena luka-lukanya yang
belum sembuh benar.
Ketika ia kemudian pergi ke pakiwan, maka dilihatnya para pengawalnya berada
di serambi sambil menghirup minuman panas. Mereka nampak sangat letih dan
bahkan nampaknya mereka masih merasakan luka-luka mereka pedih tersentuh
keringat. Tetapi minuman panas itu agaknya membuat mereka merasa segar.
"Minumlah," berkata Ki Wiradana. "Kemudian kalian masih memerlukan
pengobatan. Kita mempunyai tabib yang lebih baik dari dukun di padukuhan itu,"
berkata Ki Wiradana kepada para pengawalnya. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 316
Tanggal: Rabu, 30-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
SETELAH membersihkan diri serta menghadapi
minuman dan makanan, maka Ki Wiradana telah memanggil saudagar yang masih
berada di rumahnya. Diceriterakannya apa yang telah terjadi atasnya di
perjalanan serta disebutnya ciri-ciri orang itu sebagaimana dikenalnya.
Bahkan ciri-ciri tata geraknya yang paling tajam dapat ditangkap oleh Ki
Wiradana.
Saudagar itu mengangguk-angguk. Katanya, "Tentu orang itu juga. Ciri-ciri
itu sesuai benar. Sebenarnyalah bahwa kedua orang itu adalah orang-orang
yang pekerjaannya merampok para korbannya di penginapan atau diperjalanan
setelah dari penginapan itu."
"Dengan demikian, maka kita harus mengawasi setiap penginapan yang ada di
Tanah Perdikan ini," berkata Ki Wiradana. "Tetapi agaknya disini hanya ada
satu dua. Tidak lebih dari lima buah di seluruh Tanah Perdikan di
pusat-pusat perdagangan. Selebihnya orang-orang dalam perjalanan akan
bermacam di banjar-banjar padukuhan. Mereka biasanya tidak memerlukan
penginapan-penginapan sebagaimana para pedagang dan saudagar-saudagar."
Saudagar itu mengangguk-angguk. Katanya, "Satu pengalaman yang berharga."
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi timbul di dalam angan-angannya satu
usaha untuk menjebak kedua orang perampok itu di penginapan yang berada di
Tanah Perdikan Sembojan pada suatu saat dengan cara yang harus
diperhitungkan sebaik-baiknya.
Agaknya berbeda dengan pikiran Ki Wiradana, Warsi memandang peristiwa itu
dengan rangkaian-rangkaian peristiwa yang lain. Warsi belum pernah mendengar
sebelumnya, bahwa ada perampok-perampok yang berusaha mencari korbannya di
penginapan-penginapan.
"Mungkin kedua orang itu melakukan cara yang aneh itu belum terlalu lama,"
berkata Warsi di dalam hatinya.
Tetapi ia cenderung menduga, bahwa kedua orang itu sama sekali tidak ingin
merampok sebagaimana diduga oleh Ki Wiradana. Kedua orang itu adalah bagian
dari sekelompok orang yang mengadakan pertunjukan keliling dengan penari
yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana yang hilang. Mereka sengaja
menumbuhkan kesan yang dapat mengganggu ketenangan hidup Ki Wiradana dengan
keluarganya, bahkan seisi Tanah Perdikan Sembojan.
Dengan demikian maka Warsi mengambil satu kesimpulan, bahwa mereka adalah
orang-orang yang berpihak kepada Iswari yang telah hilang itu.
"Ternyata kekuatan mereka cukup meyakinkan," berkata Warsi di dalam hatinya.
Namun kemudian, "Tetapi mereka baru menilai kemampuan kami dari kemampuan
ayah dan kakang Wiradana. Pada saatnya nanti mereka akan berhadapan dengan
aku sendiri."
Tetapi Warsi sependapat dengan langkah yang diambil oleh Ki Wiradana untuk
mengawasi setiap penginapan. Yang penting baginya bukan pengawasan
penginapan itu sendiri. Tetapi kesiagaan dan peningkatan kemampuan para
pengawal yang akan dapat dipergunakannya setiap saat pada langkah-langkah
berikutnya.
Namun yang menggelisahkan Warsi kemudian adalah adanya salah satu syarat
bagi pelaksa-naan wisuda. Bagi Tanah Perdikan Sembojan berupa sebuah bandul
yang bertatahkan lukisan kepala seekor burung elang dan tergantung pada
seutas rantai yang kesemuanya terbuat dari emas.
"Wiradana memang dungu," geram Warsi di dalam hatinya. "Kenapa ia tidak
dapat menguasai benda itu sebelumnya.
Namun Warsi pun telah diganggu oleh perasaan sesal karena ia dengan
tergesa-gesa telah membunuh Ki Gede sebelum pertanda itu berada di tangan Ki
Wiadana. Namun hal itu dilakukannya karena Warsi belum mengetahui, bahwa
Wiradana, anak Ki Gede itu sendiri belum mengetahuinya juga meskipun ia
pernah melihat benda itu.
"Tetapi langsung atau tidak langsung Ki Gede sudah mengatakannya pada saat
ia menunjukkan benda itu," berkata Warsi di dalam hatinya. "Tetapi otak
Wiradana memang tumpul. Ia hanya tampan pada wajahnya, tetapi otaknya tidak
lebih dari otak udang." (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 317
Tanggal: Kamis, 01-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Namun sementara itu Wiradana telah berusaha
untuk mencari benda yang merupakan salah satu syarat bagi diwisudanya
menjadi Kepala Tanah Perdikan itu diseluruh sudut rumahnya. Ia telah
membongkar bilik ayahnya dan bahkan mengeluarkan semua perabot yang ada di
dalam bilik itu.
"Aku harus menemukannya," geram Ki Wiradana.
Betapapun jantung Warsi bergejolak, namun dihadapan suaminya ia berkata, "Kakang
memang harus menemukannya. Tetapi kakang tidak perlu menjadi sangat gelisah
dan bahkan menjadi bingung. Jika hal itu memang temurun kepada kakang, maka
pertanda itu tentu akan dapat kakang ketemukan. Bukankah kakang tidak perlu
tergesa-gesa? Pada saat ini sebagaimana kakang katakan, pimpinan
pemerintahan di Pajang, termasuk Kanjeng Adipati sendiri dengan disibukkan
oleh peristiwa yang mengejutkan, yang menurut kakang telah terjadi di Demak.
Karena itu, sambil mencari dengan tenang kita masih harus menunggu persoalan
Demak itu dapat diselesaikan dan Kanjeng Adipati di Pajang kembali ke
istananya."
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata isterinya itu memang dapat
sedikit menenangkan kegelisahannya. Tetapi sebelum benda itu diketemukan,
rasa-rasanya hatinya masih saja merasa selalu gelisah.
Sementara itu, maka Warsi pun kemudian bertanya, "Tetapi apakah kakang
sempat mengingat, apakah benda itu pernah diberitahukan atau ditunjukkan
kepada orang lain selain kakang?"
"Maksudmu kepada siapa?" justru Ki Wiradana ganti bertanya.
"Kepada istri kakang pada waktu itu misalnya?" Warsi menjelaskan.
Wiradana mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat, apakah ayahnya
pernah menunjukkan benda itu kepada Iswari.
Karena itu maka katanya, "Aku belum pernah melihat ayah menunjukkan benda
itu kepada Iswari. Tetapi ayah sangat dekat dengan perempuan itu, sehingga
kemungkinan itu memang ada."
"Apakah mungkin benda itu justru dibawa oleh istri kakang itu?" bertanya
Warsi kemudian.
"Tentu tidak. Pada waktu ia pergi untuk yang terakhir kalinya, ia bersama
perempuan di padukuhan diluar Tanah Perdikan ini pergi menengok seseorang
yang melahirkan. Mustahil bahwa dengan demikian ia membawa benda itu," Ki
Wiradana mengingat-ingat. Namun katanya kemudian, "Aku akan mencari benda
itu di manapun juga. Mungkin memang Iswari yang menyimpannya."
Sekali lagi Wiradana membongkar rumahnya. Ia mencari ditempat-tempat yang
mungkin menjadi tempat penyimpanan bagi Iswari. Namun ia sama sekali tidak
menemukan apapun juga.
Dalam keadaan yang hampir putus asa Wiradana itu berkata, "Segala sesuatunya
akan aku serahkan kepada Ki Tumenggung Wirajaya. Jika benda itu memang tidak
diketemukan, maka ia akan mengusahakan dengan cara apapun juga. Tetapi sudah
tentu lebih baik jika benda itu dapat diketemukan. Maka semuanya akan
berjalan lancar dan tidak berbelit-belit."
Warsi mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia pun tidak dapat berbuat apa-apa.
Ia melihat, bagaimana Wiradana berusaha mencari benda yang menjadi pertanda
kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan itu. Tidak ada jengkal ruang yang
terlampauinya. Namun benda itu benar-benar tidak dapat diketemukan.
Karena itu, harapan yang masih ada tinggal pada Ki Tumenggung Wirajaya. Ki
Tumenggung yang ramah dan baik hati, yang nampaknya memang tidak ada niat
untuk mempersulit persoalan.
Namun sebagaimana pejabat yang terdahulu, memang ada kemungkinan bahwa Ki
Tumenggung Wirajaya itu akan diganti. Tetapi menilik waktu jabatannya, maka
hal itu tidak akan segera terjadi jika tidak ada persoalan yang sangat
penting.
Tetapi hubungan antara Pajang dan Demak tentu akan mengalami
goncangan-goncangan dengan peristiwa yang baru saja terjadi, sehingga
kemungkinan-kemungkinan itu memang dapat saja terjadi dalam waktu dekat.
Dengan menyesal, Wiradana pun berkata kepada istrinya, "Sayang sekali Warsi.
Benda itu tidak dapat aku ketemukan." (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 318
Tanggal: Jumat, 02-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Bagaimanapun juga gejolak perasaan Warsi,
namun dengan lembut ia berkata, “Sudahlah kakang. Kita serahkan segala
sesuatunya kepada Yang Maha Adil. Jika hak itu memang akan temurun kepada
kakang, maka bagaimanapun caranya, maka pada suatu saat kakang tentu akan
diwisuda.”
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku berharap bahwa wisuda
itu akan dilakukan sebelum anak kita lahir.”
“Bukan suatu tuntutan yang mutlak kakang,” berkata Warsi. “Hal itu kita
inginkan agar di saat anak kita lahir, maka ia adalah anak kepala Tanah
Perdikan yang sah. Tetapi segala sesuatunya tentu tergantung kepada keadaan.
Meskipun anak kita lahir sebelum kakang diwisuda, namun anak itu tetap anak
kakang yang kapanpun saatnya akhirnya akan diwisuda juga menjadi Kepala
Tanah Perdikan.”
Wiradana mengangguk-angguk. Kata-kata Warsi itu memang dapat sedikit
meredakan gejolak kegelisahannya. Meskipun demikian ia tidak akan dapat
melupakan sama sekali, bahwa ia masih belum memegang benda yang menjadi
pertanda kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan.
Namun dalam pada itu, maka persoalan lain harus dilakukannya pula. Ia tidak
dapat terpancang kepada satu persoalan yang masih belum dapat dipecahkannya
itu, karena Tanah Perdikan Sembojan menuntut penyelesaian banyak sekali
persoalan-persoalan.
Yang dilakukan lebih dahulu oleh Ki Wiradana adalah usaha untuk mengatasi
kemungkinan datangnya dua orang perampok di rumah-rumah penginapan. Karena
itu, maka Ki Wiradana telah menghubungi para pemimpin penginapan di
padukuhan-padukuhan yang memiliki rumah penginapan yang tidak banyak
jumlahnya, termasuk pimpinan pengawal di padukuhan induk.
“Aku akan bersedia menjadi umpan,” berkata saudagar yang bermalam di rumah
Ki Wiradana yang tidak lain adalah ayah Warsi sendiri itu.
“Tetapi perampok itu tahu, bahwa barang-barang Ki Sanak sudah tidak ada lagi,”
berkata Ki Wiradana.
“Sudah barang tentu aku akan meninggalkan Tanah Perdikan ini untuk beberapa
lama. Baru kemudian aku akan kembali lagi dengan membawa barang-barang
berharga. Nah, mudah-mudahan mereka akan dapat kita jebak dengan cara itu,”
sahut saudagar permata itu.
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia merasa ragu-ragu, apakah
hal itu tidak akan membahayakan saudagar itu sendiri. Pada benturan pertama,
perampok itu tidak membunuhnya, atau tidak sempat membunuhnya karena para
pengawal telah berdatangan. Tetapi pada kesempatan lain, mungkin perampok
itu akan benar-benar membunuh.
Tetapi Ki Wiradana tidak melihat orang lain yang mungkin dapat dijadikan
umpan. Umpan itu sendiri memang harus tidak terlalu lunak sehingga
memungkinkannya bertahan untuk beberapa saat lamanya sebelum para pengawal
datang membantunya menangkap kedua orang perampok itu.
Sementara itu saudagar itu pun berkata, “Nah, dalam keadaan yang sudah
diperhitungkan, maka kita akan dapat berhasil. Sementara itu, aku sebenarnya
memang akan segera datang lagi. Bukankah sudah aku katakan bahwa aku memang
ingin mempunyai sebidang tanah di Tanah Perdikan ini?”
Ki Wiradana itu pun mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Kita
harus merencanakannya dengan cermat agar dengan demikian, kita tidak akan
mengalami kegagalan, dan bahkan Ki Saudagar akan benar-benar kehilangan lagi
barang-barang yang mahal harganya itu.”
Dengan demikian, maka keduanya pun telah membuat rencana yang terperinci
untuk menjebak perampok yang menurut dugaan mereka selalu melakukan
perampokan atas orang-orang yang berada di penginapan-penginapan.
Orang-orang yang mereka duga membawa barang-barang yang cukup berharga,
meskipun Ki Wiradana menjadi heran juga bahwa kedua orang itu dapat menyebut
bandul dan kalung pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan.
“Agaknya kedua orang itu berusaha menyelidiki calon korbannya dengan seksama.
Atau mungkin ada orang lain yang mempunyai tugas khusus untuk menyelidiki
calon korbannya, sedang keduanya tinggal melaksanakan saja,” berkata Ki
Wiradana. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 319
Tanggal: Sabtu, 03-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Saudagar itu mengangguk-angguk. Jawabnya,
“Mungkin demikian. Karena itu, maka kita pun harus berhati-hati. Kita tidak
boleh menganggap mereka terlalu ringan. Mungkin dua orang yang merampok aku
berbeda dengan dua orang yang melakukannya atas Ki Wiradana, sehingga mereka
merupakan satu jaringan kekuatan yang harus kita perhatikan dengan
sungguh-sungguh karena tangan-tangannya telah mulai meraba ketenangan Tanah
Perdikan Sembojan.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa sepeninggalan ayahnya tidak
ada lagi orang kuat di Tanah Perdikan Sembojan itu. Wiradana sendiri hanya
dapat menyombongkan kemampuan ayahnya, karena Wiradana tidak mempelajari
ilmu itu dengan tekun dan melakukan laku yang seharusnya dilakukan, namun
terasa sangat berat.
Tetapi ia tidak dapat sekadar menyesali diri. Ia harus mengisi kekurangan
itu dengan memperkuat pasukan pengawalnya, sementara itu, ia harus berusaha
untuk menyisihkan waktu, melakukan latihan-latihan yang berat, agar ilmunya
dapat meningkat.
Namun Wiradana pun sadar, bahwa tanpa guru, usahanya akan merupakan usaha
yang sangat sulit dan berat, serta memerlukan kesungguhan yang tidak
tanggung-tanggung.
Akhirnya Wiradana telah menemukan kesepakatan. Saudagar emas itu akan segera
meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan dan dalam waktu sebulan akan kembali
lagi. Sementara itu, Wiradana akan menyiapkan pengawal-pengawal khusus bagi
penginapan yang akan dipergunakan oleh saudagar emas dan permata itu.
Demikianlah, maka setelah cukup lama saudagar itu tinggal pada keluarga
Wiradana, serta keadaannya telah pulih kembali seperti sediakala, maka
saudagar itu bersama seorang kawannya telah minta diri. Namun mereka terikat
pada rencana yang akan mereka lakukan sebulan kemudian. Saudagar itu bukan
saja akan menjadi umpan untuk menjebak kedua perampok itu, tetapi ia juga
ingin membeli sebidang tanah di Tanah Perdikan Sembojan.
Dalam pada itu, ketika Warsi sempat berbicara tanpa hadirnya Wiradana ia
berkata, “Ayah, agaknya ayah dapat bertindak tepat. Sebagaimana ayah ketahui,
bahwa kita berhadapan dengan kekuatan yang agak cukup besar. Mungkin kedua
orang yang merampok ayah itu juga orang yang merampok kakang Wiradana.
Tetapi mungkin bukan meskipun mereka berasal dari kelompok yang sama. Kita
tidak boleh melepaskan persoalan itu dengan hadirnya serombongan pengamen
dengan seorang penari yang mirip dengan Iswari, istri kakang Wiradana yang
terdahulu. Kemudian perampokan atas ayah dan yang baru saja terjadi atas
kakang Wiradana. Kenapa perampokan iu hanya terjadi disekitar kita saja.
Bukan orang lain. Seandainya orang itu tidak mengetahui bahwa ayah adalah
ayahku, namun mereka menganggap bahwa ayah telah berhubungan dengan keluarga
Wiradana, sehingga perhiasan yang ayah bawa, kecuali yang tertinggal padaku,
telah diambilnya.”
Ayah Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin pengamatanmu benar. Karena
itu, kau harus berhati-hati.”
“Ayah, aku sekarang sedang mengandung. Sementara itu, kakang Wiradana
ternyata tidak cukup kuat untuk melindungi aku dan Tanah Perdikan ini jika
kekuatan tertentu itu benar-benar akan menghancurkan kedudukannya. Karena
itu, aku mohon ayah dapat membantu kami,” minta Warsi.
“Sebulan lagi aku akan berada disini,” berkata ayahnya.
“Maksudku, bukan ayah sendiri. Bukankah ayah juga tidak dapat berbuat banyak
terhadap kedua orang perampok itu?” berkata Warsi.
“Lalu, maksudmu bagaimana?” bertanya ayahnya.
“Ayah harus mengirimkan orang lain kepadaku,” berkata Warsi. “Orang yang
memiliki kekuatan yang memadai.”
“Siapakah yang kau maksud?” bertanya ayahnya. “Orang yang kau anggap sebagai
ayahmu itu?”
“Pada satu saat itu juga ia harus berada disini. Tetapi ayah dapat
berhubungan dengan keluarga Kalamerta yang berada di tempat lain yang
menurut ayah akan dapat membantuku. Apakah orang itu akan datang sebagai
pamanku atau sebagai siapapun juga.”(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 320
Tanggal: Minggu, 04-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Ayahnya mengangguk-angguk. Ia dapat
mengikuti jalan pikiran Warsi, bahwa agaknya memang ada kekuatan yang
membayangi kekuasaan Ki Wiradana. Bahkan seperti juga Warsi, ayahnya memang
dipengaruhi juga oleh satu dugaan, bahwa Nyai Wiradana yang tua itu belum
mati.
“Baiklah Warsi,” berkata ayahnya. “Aku akan berusaha berhubungan dengan
kekuatan-kekuatan yang akan dapat membantumu. Karena ternyata Wiradana
memang tidak dapat berbuat banyak menghadapi orang-orang yang mungkin dengan
sengaja membayangi kekuasaannya.”
“Terima kasih ayah,” sahut Warsi. “Semakin cepat orang itu datang, agaknya
akan menjadi semakin baik. Kita rasa-rasanya sudah didesak oleh keadaan yang
tidak dapat kita hindari lagi. Sementara ini aku memang hanya bersandar
kepada kakang Wiradana dan para pengawalnya, yang meskipun tidak memiliki
ilmu apapun juga namun jumlahnya ternyata cukup banyak. Nanti, jika anakku
telah lahir, maka agaknya aku harus mengambil sikap yang lebih mantap untuk
menentukan masa depan bagi keturunanku.”
Ayahnya mengangguk-angguk. Namun agaknya ia sedang mengingat-ingat, siapakah
yang mungkin akan dapat dihubungi.
Namun tiba-tiba ia berkata, “Bagaimana jika aku berhubungan dengan kakekmu
di kaki Gunung Kukusan. Maksudku, pamanku yang tinggal disebuah padepokan
yang tidak banyak dikenal.”
“Maksud ayah, adik kakek?” bertanya Warsi.
“Ya. Bukankah kau sudah mengenalnya?” bertanya ayahnya pula.
“Tentu ayah. Bukankah satu saat dimasa kecilku, aku pernah tinggal di
padepokan itu?” wajah Warsi tiba-tiba menjadi cerah. Namun sejenak kemudian
nada suaranya menurun, “Tetapi apakah kakek akan bersedia datang?”
“Aku akan mencoba. Aku akan mengatakan semua persoalan yang terjadi, sejak
kematian pamanmu Kalamerta. Mungkin hatinya akan bergerak,” berkata ayah.
“Tetapi aku tidak dapat memastikannya apakah ia mau datang dan bermain-main
bersama kita.”
“Tergantung cara ayah menyampaikan persoalan,” berkata Warsi. “Tetapi aku
menjadi lupa-lupa ingat akan sifat dan watak kakek itu.”
“Baiklah,” berkata ayah Warsi. “Aku mempunyai waktu sebulan. Mudah-mudahan
ia akan bersedia mendahului aku dan menemuimu, benar-benar sebagai kakekmu
dan kau perkenalkan kepada Wiradana juga sebagai kakekmu.”
“Ayah dari orang yang mengaku ayahku itu?” bertanya Warsi.
“Bukankah kau mempunyai ayah dan ibu? Katakanlah bahwa kakekmu itu adalah
kakek menurut garis dari ibumu,” jawab ayahnya.
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Permainan ini menjadi terlalu
rumit. Mungkin pada suatu saat aku lupa berhadapan dengan siapa aku
sebenarnya dan siapa menurut permainan yang sedang kita lakukan.”
“Tetapi bukankah hal itu tidak akan berlangsung terlalu lama? Jika kau sudah
melahirkan anakmu, maka semuanya akan menjadi sesuai dengan keadaanmu yang
sebenarnya. Kau akan menguasai Wiradana sebagaimana kau menguasai permainan
yang tidak berdaya. Apalagi dengan orang-orang yang kita anggap akan dapat
bekerja bersama dengan kita,” berkata ayahnya.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 321
Tanggal: Senin, 05-05-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Warsi mengangguk-angguk. Ia memang akan
menghentikan permainan itu sampai batas kelahiran anaknya. Sesudah itu, maka
semuanya akan bergerak dengan wajar meskipun barangkali tidak akan
menyenangkan hati Wiradana.
Namun demikian, Warsi masih juga bertanya, “Tetapi bagaimana jika kakang
Wiradana ternyata masih belum diwisuda?”
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Tentu
merupakan satu persoalan. Mau tidak mau kita harus menunggunya.”
Warsi memandang ayahnya sekilas. Tetapi ia pun berdesah, “Aku pun
memikirkannya.”
“Tetapi jangan terlalu risau,” berkata ayahnya. “Kau harus menginat anak di
dalam kandungan itu agar tidak terlalu terpengaruh oleh
kegelisahan-kegelisahan ibunya. Dengan demikian maka anakmu tidak akan
terganggu badani maupun jiwani.”
Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya ayah. Namun demikian aku menunggu
perkembangan keadaan selanjutnya. Sebagaimana ayah ketahui, kakang Wiradana
tidak cukup berilmu menghadapi kekisruhan yang setiap saat akan dapat
melanda Tanah Perdikan ini. Meskipun mungkin dalam keadaan terpaksa aku
masih mampu melindungi diriku dengan gerak yang terbatas, namun sebelum
saatnya datang sesuai dengan perhitungan yang mapan, aku belum akan
menyatakan diriku sendiri di hadapan kakang Wiradana dan dihadapan
orang-orang Tanah Perdikan ini.”
“Baiklah Warsi. Tetapi sepeninggalanku kau memang harus berhati-hati. Aku
sudah menentukan batas waktu satu bulan. Dengan demikian maka selama ini aku
tidak akan berada di Tanah Perdikan ini,” berkata ayahnya.
“Namun untuk mengurangi beban, biarlah dipertengahan bulan nanti, orang yang
aku sebut sebagai ayahku itu akan dapat datang mengunjungi aku barang
sepekan untuk membantuku jika aku benar-benar dalam kesulitan,” berkata
Warsi.
“Baiklah. Aku akan mengatakan kepadanya, agar ia datang mengunjungimu,”
jawab ayahnya.
Dengan demikian, maka disamping kesepakatan Wiradana dengan saudagar emas
itu, maka saudagar itu telah membuat kesepakatan sendiri dengan Warsi di
luar pengetahuan Ki Wiradana. Sehingga sampai pada saatnya orang itu
benar-benar minta diri dan meninggalkan rumah Ki Wiradana bersama seorang
kawannya.
Sepeninggalan orang itu, Wiradana memang merasa sepi. Bukan saja karena
tidak ada kawan berbincang di ujung malam, namun menurut Ki Wiradana, ia
benar-benar menjadi sendiri menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat
terjadi.
Dalam keadaan yang demikian, maka Ki Wiradana telah menenggelamkan diri ke
dalam lingkungan pasukan pengawalnya. Ia menjadi semakin bergairah
memberikan latihan-latihan yang berat bagi orang-orang yang khusus dan
mendapat kepercayaan sepenuhnya daripadanya.
Dengan sungguh-sungguh Ki Wiradana mengajari mereka untuk mengawasi beberapa
rumah penginapan, terutama penginapan yang akan dipergunakan oleh saudagar
emas pertama itu sebulan mendatang.
Namun kekuatan yang dibangun oleh Ki Wiradana itu tidak saja ditujukan bagi
para perampok yang diduga sering mendatangi rumah-rumah penginapan, tetapi
juga untuk menegakkan kedudukannya, karena Ki Wiradana masih merasa sangsi,
apakah ia tidak akan mengalami kesulitan jika pertanda kuasa Tanah Perdikan
Sembojan itu tidak diketemukan. Seandainya Ki Wiradana tidak menemui
kesulitan karena sikap Ki Tumenggung Wirajaya, namun jika hal itu diketahui
oleh orang-orang Sembojan sendiri, mungkin justru akan dapat timbul masalah
karenanya.
Sementara itu, ayah Warsi yang meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan telah
berada di rumahnya. Kepada orang-orangnya ia memerintahkan untuk
bersiap-siap.
“Sebanyak mungkin di antara kita harus berada di Sembojan,” berkata ayah
Warsi. “Jika tidak ada sanak saudara kita yang berada di Sembojan, maka
kalian yang harus merantau dan mencari pekerjaan di Sembojan, atau ada di
antara kalian yang akan turut dengan aku tinggal di Sembojan karena aku akan
membeli tanah di Tanah Perdikan itu. Dengan demikian maka kedudukan Warsi
akan menjadi semakin kuat.” (Bersambung)-c
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 16/X/2002
12 Oct. is Bali's mourn
27 April Bom meledak di Bandara Sukarno Hatta
Last Updated 5 Mei 2003
Sign My Dreambook
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Ready Stock Gouramy Larvae to Gouramy
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
XE.com Personal Currency
Assistant
|