|
|
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta.
Suramnya Bayang Bayang 302
Tanggal: Selasa, 15-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
DEMIKIAN orang-orang itu melangkahi pintu,
maka Ki Wiradana pun berkata, "Bukan kita yang ternyata terlibat. Tetapi
agaknya sasaran mereka sebenarnya adalah kita seperti yang dikatakannya,
bahwa yang terjadi adalah meleset."
Seorang pengawal mengangguk-angguk masih sambil mengunyah makanannya.
Kemudian katanya setelah ia menelan makanannya itu, "Agaknya kita tidak
dapat berdiam diri. Sasaran mereka memang kita. Karena itu, jika kedua orang
itu sudah diselesaikan, maka mereka akan berpindah kepada kita. Karena itu,
kita memang harus bersiap-siap."
"Ya," berkata Ki Wiradana. "Agaknya keduanya terlalu percaya kepada diri
mereka sendiri. Terhadap kedua orang itu pun mereka sama sekali tidak
tergetar meskipun sikap kedua orang itu cukup kasar. Menurut penglihatanku,
agaknya kedua orang berkuda itu akan dapat mengalahkan kedua orang yang
sudah lebih dahulu ada di kedai ini."
Pengawalnya tidak menyahut. Namun Wiradana berkata kemudian, "Selesaikan
sehingga perutmu menjadi kenyang, agar kau mampu bertempur sebaik-baiknya."
Para pengawalnya itu pun memang dengan cepat menyelesaikan makan dan minum
mereka. Kemudian sambil mengusap perut mereka dengan tangan kanan, maka
tangan kiri mereka telah meraba hulu pedang mereka yang tergantung di
pinggang.
Sementara itu, Wiradana sempat memperhatikan dua orang lain yang berada di
kedai itu. Nampaknya keduanya justru menjadi ketakutan sebagaimana pemilik
kedai itu sendiri. Sehingga dengan demikian maka Wiradana dapat mengambil
kesimpulan, bahwa kedua orang itu tentu tidak akan ikut campur.
Setelah selesai makan dan minum, maka Wiradana sempat menjulurkan kepalanya
untuk melihat apa yang terjadi diluar. Nampaknya keempat orang itu sudah
bersiap untuk bertempur.
Wiradana sempat mendekati pemilik kedai itu dan menghitung makanan dan
minuman yang telah dihabiskannya bersama para pengawalnya. Kemudian
membayarnya dan sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Wiradana pun melangkah
ke luar, diikuti oleh para pengawalnya.
Demikian Wiradana berada diluar pintu, maka ia telah mendengar orang
berkumis lebat itu menggeram sambil melangkah semakin dekat, "Kau akan yakin,
bahwa kau tidak dapat berbuat sekehendakmu di daerah ini."
"Aku sudah siap," tiba-tiba saja orang berkuda itu menjawab dengan nada
datar.
"Gila," orang berkumis itu mengumpat, "Kau memang ingin lehermu aku pilin
sampai patah."
Orang berkuda itu tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi
lawannya, orang bertubuh kekar dan berkumis lebat itu. Sedangkan kawannya
telah berhadapan pula dengan orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang
agaknya lebih cepat menjadi marah dan bahkan telah menyiram wajah orang
berkuda yang seorang itu dengan minuman hangat.
Wiradana termangu-mangu. Sekilas orang berkuda yang melawan orang berkumis
itu berpaling kepadanya. Wajahnya nampak tegang. Namun sejenak kemudian ia
pun telah kembali memperhatikan lawannya yang sudah bersiap untuk mulai
dengan serangan-serangannya.
Sebenarnya, bahwa sejenak kemudian orang berkumis itulah yang telah mulai
menyerang. Dengan gerak yang mantap ia meloncat sambil mengayunkan mendatar.
Tetapi lawannya benar-benar telah bersiap menghadapi kemungkinan itu,
sehingga karena itu, ia pun telah meloncat menghindar.
Dengan demikian, maka pertempuran itupun telah mulai. Di depan kedai itu
telah terjadi dua lingkaran pertempuran. Orang yang bertubuh tinggi
kekurus-kurusan melawan seorang di antara dua orang berkuda yang wajahnya
telah disiramnya dengan minuman hangat, dan yang seorang telah bertempur
melawan orang yang bertubuh kekar dan berkumis lebat.
Ki Wiradana dan para pengawalnya berdiri termangu-mangu menyaksikan
pertempuran itu. Ada terbersit niatnya untuk menghindari saja pertentangan
dengan kedua orang berkuda itu dengan meninggalkan tempat itu selagi mereka
bertempur. Tetapi harga dirinya ternyata telah mengekangnya, sehingga
Wiradana akhirnya tetap berdiri ditempatnya. Ia tidak mau disebut sebagai
pengecut yang meninggalkan lawannya karena ketakutan. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 303
Tanggal: Rabu, 16-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
DENGAN tegang Wiradana dengan para
pengawalnya telah menyaksikan pertempuran yang semakin lama menjadi semakin
garang dan keras. Namun sejenak kemudian Ki Wiradana pun melihat, bahwa
orang-orang yang garang yang lebih dahulu dikedai itu, tidak mempunyai
kemampuan yang cukup untuk mengimbangi la-wannya, orang-orang berkuda itu.
Dengan demikian maka Ki Wiradana pun telah menggamit pengawalnya sambil
berdesis, “Ternyata orang-orang berpakaian garang dan bersikap kasar itu
sama sekali tidak mempunyai ilmu yang cukup mendukung kegarangannya.”
Para pengawalnya mengangguk-angguk. Agaknya dua orang itu adalah dua orang
yang merasa dirinya disegani oleh tetangga-tetangganya dengan sedikit ilmu.
Namun ia sama sekali tidak mengetahui keadaan diluar lingkungannya, bahwa
ilmunya dibanding dengan orang-orang yang benar-benar mendalami ulah
kanuragan, sama sekali tidak ada artinya.
Ternyata dua orang penunggang kuda yang mengikuti Ki Wiradana itu justru
terkejut melihat perlawanan kedua orang yang garang itu. Bahkan orang yang
telah menyiram wajah salah seorang penunggang kuda itu, sama sekali tidak
mampu mengelak ketika lawannya menyerangnya dengan loncatan yang menghentak
dan tangan yang terjulur lurus.
Demikian dadanya tersentuh serangan itu, maka ia pun telah terdorong
beberapa langkah surut dan jatuh berguling di tanah.
“O,” penunggang kuda itu berdiri termangu-mangu, “Apakah kau benar-benar
telah jatuh?”
Orang itu berusaha meloncat berdiri. Wajahnya menyala bagaikan bara api.
Namun kemarahannya itu tidak banyak memberikan arti kepada perlawanannya.
Karena ketika ia kemudian menyerang, maka serangannya itu sama sekali tidak
menyentuh lawannya. Bahkan ketika lawannya itu bergeser dan menjulurkan
kakinya, maka kakinya itulah yang telah menyentuh lambung orang bertubuh
tinggi kekurus-kurusan itu.
Sekali lagi orang itu terhuyung-huyung dan jatuh berguling. Dengan
tergesa-gesa ia berusaha untuk bangkit. Tetapi ternyata bahwa lambungnya
terasa bagaikan ditindih batu segumpal.
Namun dengan susah payah akhirnya orang itu berhasil berdiri. Tetapi sakit
dilambungnya tidak segera berkurang.
Sementara itu, kawannya yang berkumis tebal itu pun tidak dapat berbuat
banyak atas lawannya. Bahkan ia justru telah terdesak dan kehilangan
kesempatan untuk melawan.
Tetapi agaknya lawannya tidak ingin menyakitinya. Ketika orang yang berkumis
tebal itu tersudut sehingga punggungnya melekat dinding halaman kedai yang
tidak begitu luas itu, maka lawannya justru menghentikan serangannya. Dengan
nada berat ia berkata, “Ki Sanak. Apakah aku harus mencabuti kumismu?”
“Persetan,” geram orang berkumis lebat itu, “Kau sangka aku sudah menyerah?”
“Lalu kau mau apa?” bertanya lawannya.
Orang berkumis lebat itu pun kemudian menggeram. Tiba-tiba saja ia mencabut
sebilah golok yang terselip pada wrangkanya di pinggangnya.
“Aku dapat membunuhmu,” berkata orang berkumis lebat itu.
Lawannya mengerutkan keningnya. Namun ia pun justru tersenyum. Katanya,
“Jangan main-main dengan senjata. Senjata itu akan dapat mengerat lehermu
sendiri. Nampaknya golokmu cukup tajam untuk memotong kepalamu.”
Wajah orang berkumis lebat itu menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Kau
jangan menakut-nakuti aku seperti menakut-nakuti anak-anak. Kau kira dengan
kata-katamu yang kasar itu, kau mampu menggetarkan jantungku.”
“Baiklah,” berkata lawannya. “Jika demikian maka aku memang ingin
membuktikan. Marilah berikan golok itu kepadaku.”
Orang berkumis itu menjadi bingung. Namun kemudian ia membentak, “Apakah kau
memang benar-benar sudah gila. Senjata ini adalah senjataku. Senjata yang
akan aku pergunakan untuk membunuhmu.”
“Ada dua cara untuk memiliki senjata itu. Kau berikan kepadaku atau aku
harus merampasnya,” berkata orang itu.
“Persetan. Kau memang sombong sekali. Jika kau terbunuh disini jangan
menyesal,” berkata orang berkumis itu sambil memutar goloknya.
Lawannya, orang berkuda itu melangkah surut. Dengan demikian seakan-akan ia
memberi kesempatan kepada orang berkumis lebat itu untuk bergerak. Karena
itu, maka orang berkumis itu pun bergeser pula maju. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 304
Tanggal: Kamis, 17-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
ORANG berkuda yang melihat golok lawannya
itu berputaran menjadi sangat berhati-hati. Bagaimanapun juga golok itu akan
dapat melukainya.
Namun sejenak kemudian, pertempuran antara orang berkumis lebat dan orang
berkuda itu pun meningkat semakin cepat. Orang berkuda itu mampu bergerak
bagaikan burung sikatan. Untuk beberapa saat ia berhasil membuat lawannya
menjadi bingung karena kehilangan arah. Bahkan sejenak kemudian, orang
berkuda itu justru telah dapat mengenainya dengan serangan-serangan kakinya,
meskipun orang berkumis itu bersenjata.
Terdengar orang berkumis itu mengumpat. Tetapi ia tidak dapat mengingkari
kenyataan. Bahkan kemudian, serangan lawannya menjadi semakin sering
menyentuhnya.
Orang berkumis lebat itu memaki dengan kasar ketika terasa pergelangan
tangannya dicengkam oleh kekuatan yang tidak dapat dilawannya. Sebelum ia
sempat berbuat apa-apa, maka tangannya itu sudah terpilin kebelakang. Dengan
satu bentakan maka goloknya sudah terlepas dari tangannya.
Belum lagi jantungnya berkerut, tubuh orang itu bagaikan didorong oleh
kekuatan raksasa sehingga orang bertubuh kekar dan berkumis lebat itu
terdorong beberapa langkah dan kemudian jatuh terjerembab.
Lawannya kemudian mendekatinya. Ketika orang bertubuh kekar dan berkumis
lebat itu berusaha untuk bangkit, maka goloknya sendiri telah teracu tepat
didadanya.
“Jika kau bangkit, maka ujung golokmu sendiri akan menghisap darah dari
lubang didadamu yang akan terkoyak.”
Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan masih juga bertempur melawan
salah seorang dari orang berkuda yang mengikuti Ki Wiradana, dan yang sudah
disiram dengan air panas di wajahnya. Namun seperti orang bertubuh kekar dan
berkumis lebat itu, ia tidak banyak dapat memberikan perlawanan. Bahkan ia
sama sekali tidak sempat mempergunakan senjatanya, karena demikian ia
mencabut goloknya, maka terasa pergelangan tangannya telah didera oleh suatu
kekuatan yang sangat besar sehingga goloknya telah terlepas dari tangannya
sebelum ia dapat berbuat apa-apa.
Demikianlah kedua orang yang sebelumnya telah berada lebih dahulu di warung
itu sama sekali tidak berdaya. Dua orang berkuda yang mengikuti Ki Wiradana
itu ternyata memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan kedua orang itu.
Karena itu, maka sejenak kemudian keduanya benar-benar telah dikuasai oleh
kedua orang berkuda itu.
“Nah, apa yang akan kau lakukan?” bertanya orang berkuda yang wajahnya telah
disiram dengan minuman hangat itu, “Aku dapat membalasmu, mengguyur wajahmu
dengan air yang sedang mendidih.”
“Jangan,” minta orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu, “Jangan
lakukan.”
Orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berpaling ke
keadaan sekelilingnya. Ketika terpaandang olehnya wajah Ki Wiradana, maka ia
pun tersenyum sambil berkata, “Bagaimana menurut pendapatmu Ki Sanak?
Bukankan permainan kami cukup menarik?”
Wiradana terkejut mendapat pertanyaan itu. Namun kemudian ia pun sadar,
bahwa orang itu tentu akan memancing persoalan, karena sebenarnyalah bahwa
dirinyalah yang menjadi sasaran bersama keempat pengawalnya.
Tetapi Wiradana merasa bahwa dirinya bukan sekadar orang yang sedikit
mempunyai ilmu dan pengalaman sebagaimana kedua orang yang dapat dikalahkan
oleh orang-orang berkuda itu. Apalagi ia membawa empat orang pengawalnya
yang terpilih, yang pernah diajarinya bertempur dan mempergunakan segala
macam senjata. Namun yang lebih diperdalam adalah ilmu pedang, karena mereka
kemudian bersenjata pedang.
Karena itu, dengan tidak gentar Wiradana melangkah maju sambil berkata,
“Benar Ki Sanak. Permainanmu memang sangat menarik. Kau mampu
mempertunjukkan ilmumu yang kasar dan tidak bernilai apapun juga. Baik dari
segi kemampuan maupun dari segi ketrampilan.”(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 305
Tanggal: Sabtu, 19-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
“AH jangan begitu Ki Sanak,” jawab orang
berkuda itu. “Bukankah dengan bangga aku dapat mengatakan, bahwa aku telah
memenangkan pertarungan ini? Demikian pula kawanku itu, sehingga orang
berkumis itu menjadi tidak berdaya sama sekali. Ia terbaring diam dengan
ujung goloknya sendiri siap mematuk dadanya menembus jantung. Apakah hal itu
bukan merupakan satu kebanggaan bagiku dan bagi kawanku.”
“Mungkin kalian dapat berbangga,” jawab Ki Wiradana. “Tetapi silakan. Aku
tidak mempunyai sangkut paut dengan kalian.”
“He, kau tidak mampunyai sangkut paut? Kau menyaksikan apa yang telah
terjadi. Apakah kau bukan kawan kedua orang ini?” bertanya orang berkuda itu.
“Jangan berpura-pura. Atau kau memang benar-benar dungu seperti seekor
kerbau,” jawab Ki Wiradana. “Bukankah kau mengikuti kami sejak dari Pajang.
Kau tentu sudah mengetahui jumlah kawan-kawan kami. Kenapa kalian bertanya
tentang kedua orang itu seolah-olah mereka adalah kawan-kawanku.”
Kedua orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Tetapi orang yang wajahnya
tersiram minuman panas itu kemudian justru tertawa, katanya, “Kau benar.
Tetapi siapa tahu, dua orang itu memang telah menunggumu disini untuk
bersama-sama mengeroyokku.”
“Kau jangan mencari-cari persoalan,” berkata Ki Wiradana. “Kami mengerti,
sejak di penginapan di Pajang kalian berdua selalu memperhatikan kami.
Kemudian mengikuti kami sampai ditempat ini. Tentu kau mempunyai maksud
tertentu. Nah, sekarang katakan saja apa maksudmu. Dengan demikian dihadapan
beberapa orang saksi, maka kita akan dapat membuat penyelesaian. Karena aku
sadar, bahwa segala tingkah lakumu yang memuakkan itu sebenarnya kau tujukan
untuk memancing persoalan dengan aku dan kawan-kawanku. Tidak dengan kedua
orang itu. Adalah kebetulan saja bahwa kedua orang itu pun menjadi muak
melihat tingkah lakumu, sehingga persoalannya telah bergeser dari sasaran.”
Kedua orang berkuda itu saling berpandangan. Kemudian mereka pun telah
melepaskan lawan masing-masing. Sambil mendorong lawannya orang yang
tersiram minuman panas di wajahnya itu berkata, “Pergilah. Kau tidak
mempunyai persoalan dengan kami.”
Orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu terdorong beberapa langkah. Ia
masih sempat berpaling dengan wajah yang penuh dibayangi oleh kebimbangan.
Sementara itu kawannya yang berkumis tebal itu pun mendapat kesempatan untuk
bangkit pula, setelah lawannya melepaskan goloknya dan berkata, “Kau juga
mendapat kesempatan untuk pergi. Atau barangkali kau akan tetap berada di
halaman ini? Sebaiknya kau menjadi saksi apa yang akan terjadi.”
Orang itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian bergeser menepi dan kemudian
berdiri di samping kawannya yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.
Dalam pada itu, kedua orang yang mengikuti Ki Wiradana itu perhatiannya
kemudian sepenuhnya tertuju kepada Ki Wiradana. Namun ketika mereka sempat
memandang disekelilingnya, ternyata ada beberapa orang yang menonton
peristiwa itu. Ada yang dari dalam kedai, ada yang diluar halaman dan kedua
orang yang baru saja dikalahkan oleh kedua orang berkuda itu, berada di
pinggir halaman itu juga. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 306
Tanggal: Minggu, 20-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
TETAPI kedua orang berkuda itu tidak begitu
menghiraukan mereka. Jarak antara tempat itu dengan Pajang sudah cukup
jauh, sehingga para prajurit Pajang yang meronda tidak akan sampai ke tempat
itu. Apalagi keadaan daerah itu biasanya memang tidak memerlukan kehadiran
para peronda dari Pajang karena orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan
merupakan pengawal-pengawal padukuhan yang disegani. Namun yang ternyata
ilmunya masih belum berarti dibandingkan dengan orang-orang yang memang
bertualang di dunia olah kanuragan.
Dalam pada itu, kedua orang itu pun kemudian melangkah mendekati Ki Wiradana,
sementara Ki Wiradana pun maju pula.
“Bukankah aku berhadapan dengan Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah
Perdikan di Sembojan?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Namun ia pun menyadari, bahwa agaknya
kedua orang itu memang dengan sengaja mencari keterangan tentang dirinya dan
para pengawalnya.
Karena itu, maka jawab Ki Wiradana, “Ya. Aku adalah Wiradana, pemangku
jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Dimana kau tahu tentang aku?”
Kedua orang itu tersenyum. Katanya, “Aku tahu banyak tentang kau Ki Wiradana.”
“Tentu saja aku mempunyai kepentingan lain. Aku tahu bahwa kau menghadap Ki
Tumenggung Wirajaya untuk mengurus kemungkinan wisudamu menjadi Kepala Tanah
Perdikan, karena Ki Tumenggung adalah seorang pejabat yang mengurusi tentang
Tanah Perdikan dan orang-orang yang memimpinnya. Dengan demikian maka kau
tentu membawa pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan sebagai kelengkapan
wisuda yang kau minta. Nah, Ki Wiradana. Aku tidak menginginkan apapun juga
kecuali bandul emas dengan rantainya yang terbuat dari emas itu. Bandul dan
rantainya itu tentu berharga sangat mahal.”
Wajah Ki Wiradana menjadi merah padam. Dengan suara gemetar oleh
kemarahannya ia berkata, “Kau mengigau seperti orang kesurupan. Aku tidak
membawa bandul itu. Barang yang sangat berharga itu tentu tidak akan aku
bawa kemanapun juga.”
“Jangan bohong Ki Wiradana. Tanpa bandul itu Ki Tumenggung Wirajaya tidak
akan memperhatikan permohonanmu. Hanya orang-orang yang mempunyai
kelengkapan yang dapat menjadi Kepala Tanah Perdikan. Orang itu harus anak
langsung atau menantu laki-laki langsung dari seorang Kepala Tanah Perdikan.
Jika seorang Kepala Tanah Perdikan tidak mempunyai anak sama sekali, maka
salah seorang kemanakannya yang ditunjuk oleh Kepala Tanah Perdikan yang
bersangkutan. Namun yang kesemuanya itu dibuktikan dengan pertanda kebesaran
yang ada di Tanah Perdikannya masing-masing. Ada yang berupa senjata, ada
yang berupa tongkat, ada yang berupa topeng, dan adalah kebetulan sekali
bahwa Tanah Perdikan Sembojan tanda kekausaan itu berupa sebuah bandul
dengan rantainya yang terbuat dari emas,” berkata orang itu.
“Barang itu tidak aku bawa,” bentak Ki Wiradana. “Tetapi seandainya barang
itu ada padaku sekarang, maka apa artinya permintaanmu itu? Kau ingin
menggagalkan wisudaku menjadi Kepala Tanah Perdikan atau kau ingin memiliki
barang itu karena nilainya yang sangat tinggi? Namun kau pun tentu tahu
jawabanku seandainya barang itu ada padaku sekarang.”
“Kau akan berkeberatan?” desis orang berkuda itu.
“Bukan hanya berkeberatan. Tetapi aku akan dapat membunuh orang yang telah
berani mencoba merampas pertanda kekuasaan Tanah Perdikan Sembojan itu,”
berkata Ki Wiradana.
“O,” desis orang itu. “Jadi kau akan membunuh orang yang telah berani
mencoba merampas pertanda itu? Lalu orang yang berhasil merampas akan kau
apakan jika yang sedang mencoba saja sudah kau bunuh?”
Dada Ki Wiradana tergetar mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia menyadari,
bahwa ia tidak boleh terpancing untuk menjadi marah dan kehilangan
perhitungan. Karena itu maka katanya, “Jangan main-main Ki Sanak. Berbuatlah
sewajarnya. Jika kau memang ingin membuat perkara, aku tidak akan mengelak.
Meskipun aku tidak mencari musuh dalam perjalananku ke Pajang, tetapi jika
aku dihadap kan kepada persoalan seperti ini, maka apa boleh buat” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 307
Tanggal: Senin, 21-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
ORANG berkuda itu tersenyum. Katanya, “Kau
memang sudah menjadi lebih dewasa sekarang Ki Wiradana. Mendekati wisuda kau
akan menemukan kepribadianmu yang sebenarnya. Tetapi baiklah, aku kembali
kepada persoalanku semula. Berikan bandul itu kepadaku.”
“Aku tidak membawanya,” jawab Wiradana. “Terserah kepadamu. Percaya atau
tidak percaya.”
Wajah orang itu mulai menegang. Senyumnya telah tidak membayang lagi di
wajahnya. Katanya, “Jadi kau berkeras untuk mempertahankan bandul itu?”
“Aku tidak membawanya. Apakah kau tuli?” Ki Wiradana mulai menjadi tidak
sabar.
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Maaf Ki Wiradana, aku akan
menggeledahmu. Aku akan melihat di kantong-kantong ikat pinggangmu, atau kau
masukkan ke dalam kampil yang kau bawa di bawah pelana kudamu.”
“Kalau kau ingin berkelahi, marilah kita berkelahi. Habis perkara,” potong
Ki Wiradana. Lalu, “Sebaiknya kau tidak perlu membuat terlalu banyak alasan.
Kau tahu apa jawabanku, jika kau menggeledahku. Bukankah tujuan akhirmu
sebuah perkelahian?”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kata-nya, “Baiklah. Kita akan berkelahi.”
Ki Wiradana memandang orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. Kepada
kedua orang yang dikalahkan oleh dua orang penunggang kuda itu ia berkata,
“Kalian menjadi saksi. Bukan kamilah yang telah memulianya. Tetapi mereka.
Jika terjadi sesuatu dengan mereka, maka kami tidak akan dapat disalahkan.
Kami sudah berusaha untuk menghindari perkelahian, tetapi keduanya
benar-benar memaksakan sebuah perkelahian.”
Kedua orang berkuda itu termangu-mangu. Seorang di antaranya berkata, “Kami
tidak perlu saksi.”
“Memang tidak,” sahut Ki Wiradana. “Hanya yang tinggal hidup sajalah yang
memerlukan saksi.”
Orang berkuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Bukan main. Kau
ternyata masih saja terlalu sombong. Bertanyalah kepada para pengawalmu,
apakah kau terlalu sombong atau tidak.”
Wajah Ki Wiradana menjadi merah. Tetapi ia masih tetap sadar, bahwa ia tidak
boleh menjadi kehilangan akal sehingga tingkah lakunya kemudian hanya
sekadar dikemudikan oleh perasaan. Jika demikian maka ia akan kehilangan
sebagian dari kemungkinan untuk menang dalam perkelahian yang agaknya
benar-benar akan terjadi, karena jika ia kehilangan akal maka perhitungannya
dalam perkelahian akan menjadi kabur.
Karena itu,
Ki Wiradana justru tidak menjawab lagi. Semakin banyak mereka berkesempatan
untuk berbicara, maka jantungnya menjadi semakin menggelepar di dalam
dadanya sehingga kemarahannya pun menjadi semakin terungkat.
Karena Ki Wiradana tidak menjawab, maka orang itu bertanya, “He, kenapa kau
diam saja? Apakah di dalam hatimu, kau mengakuinya sehingga kau mulai
memikirkan kebenaran kata-kataku?”
Wiradana masih tetap berdiam diri. Namun ia sudah bersiap untuk berbuat
sesuatu jika lawannya mulai menyerang.
Dalam pada itu, para pengawalnya pun telah bersiap pula. Bahkan seorang di
antara merekalah yang kemudian menjawab, “Aku menjadi muak mendengar
kata-katamu Ki Sanak.”
“Baiklah,” berkata orang itu. “Aku akan bertempur melawan Ki Wiradana.
Kalian minggirlah dan jadilah saksi bahwa Ki Wiradana mati disini karena
kesombongannya. Hanya yang akan tinggal hidup sajalah yang memerlukan saksi.”
Ki Wiradana tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Tetapi ia masih tetap
menyadari bahwa ia tidak boleh kehilangan akal dan tetap berpegang kepada
nalarnya.
Namun justru karena itu, maka ia pun berusaha untuk menutup mulut lawannya
dengan menyerangnya. Jika perkelahian itu segera terjadi, maka orang itu
tidak akan berbicara lagi berkepanjangan dan sengaja untuk membuatnya marah.
Atas dasar pertimbangan itulah, maka Ki Wiradana pun telah melangkah
mendekati salah seorang di antara mereka. Dengan tangannya ia mulai
menyerang, menampar wajah orang yang masih saja akan berbicara itu.
(Bersambung)-k
Suramnya Bayang Bayang 308
Tanggal: Selasa, 22-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
"UH," orang itu bergeser surut, "Kaulah yang mulai."
Ki Wiradana tidak menjawab. Kakinyalah yang kemudian terjulur mengejar orang
itu. Tetapi sekali lagi orang itu meloncat surut.
"Jika aku tidak segera mulai, maka mulutmulah yang akan terus menerus
membuat hatiku panas. Meskipun aku yang memulainya, tetapi para saksi tahu,
bahwa kau berusaha untuk merampok aku," Ki Wiradanalah yang berbicara.
Tetapi ketika lawannya
akan menjawab, maka serangan Ki Wiradana menjadi semakin cepat. Ia meloncat
mendekat dan sekaligus kakinya telah berputar menyerang lambung.
Orang itu terpaksa bergeser lagi, sementara kawannya masih saja berdiri
termangu-mangu.
Dengan demikian, maka pertempuran antara Ki Wiradana dengan salah seorang
dari dua orang yang telah mengikutinya sejak dari Pajang itu pun semakin
lama menjadi semakin cepat. Ki Wiradana dengan sangat cermat berusaha untuk
tidak membuat kesalahan-kesalahan yang berakibat pahit baginya. Ia sadar,
bahwa lawannya itu tentu bukan orang kebanyakan. Bahkan ia menduga bahwa dua
orang itu pulalah yang telah merampok saudagar emas permata di penginapan di
Tanah Perdikan Sembojan dan mengalahkan saudagar itu.
Dalam pada itu, seorang lagi di antara kedua orang itu nampaknya masih belum
berbuat sesuatu. Ia masih mengawasi saja kawannya yang sedang bertempur
melawan Ki Wiradana.
Namun orang itu terkejut ketika ia mendengar salah seorang pengawal Ki
Wiradana berkata, "Sebaiknya kau tidak ikut campur, meskipun seandainya kau
akan bertempur berpasangan, Ki Wiradana tidak akan gentar."
Orang itu berpaling ke arah para pengawal. Kemudian dengan nada datar ia
bertanya, "Apakah kalian pengawalnya?"
"Ya," jawab pengawal itu. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawab orang itu. Tetapi ia pun kemudian bertanya, "Kenapa
kau tidak melibatkan diri dalam pertempuran itu jika kau pengawalnya?"
"Kenapa aku harus melibatkan diri? Sebentar lagi pertempuran itu akan
selesai dan kawanmu akan terkapar di tanah, mati," jawab pengawal itu. Lalu,
"Nah, jika kau ikut campur, maka nasibmu akan sama saja seperti kawanmu itu."
"O," orang itu tiba-tiba saja tersenyum. Katanya, "Kalian ternyata juga
sombong seperti pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu."
"Aku mengatakan sebenarnya. Jika kau tidak percaya marilah kita tunggu
beberapa saat saja," jawab pengawal itu.
Orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, "Aku akan
membuktikan dengan cara lain. Aku tidak akan menunggu sampai kawanmu
terkapar mati. Jika benar kata-katamu, maka aku akan ikut campur. Jika kami
harus mati, biarlah mati bersama-sama. Tetapi aku yakin bahwa kami berdua
akan dapat mengalahkan Ki Wiradana."
Pengawal itu termangu-mangu. Lalu katanya, "Sebaiknya kau menunggu."
"Bukankah kau anjurkan aku agar melibatkan diri meskipun kemudian kau
mengancam bahwa dengan demikian nasibku akan sama seperti kawanku? Nah, aku
akan mencobanya sebab aku mempunyai keyakinan yang lain," jawab orang itu.
Pengawal itu agak kebingungan sejenak. Namun kemudian katanya, "Sebaiknya
kau tetap disini."
"Kenapa?" bertanya orang berkuda itu. "Apakah kau takut, bahwa ternyata
kemampuan Ki Wiradana tidak seperti yang kau katakan?"
Wajah pengawal itu menjadi merah, sementara kawannya telah melangkah
mendekat, "Kau jangan berbuat sesuatu yang dapat mencekik lehermu sendiri,
mengerti."
Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, "Aku akan membantu kawanku
membantai Ki Wiradana. Apa kata kalian?"
"Kau tahu jawabannya," jawab seorang pengawal yang lain.
"Baik. Marilah. Siapa yang akan mati lebih dahulu, atau keempatnya akan maju
bersama?" bertanya orang itu.
Para pengawal itu termangu-mangu sejenak. Hampir diluar sadar, mereka telah
berpaling ke arah Ki Wiradana yang sedang bertempur melawan salah seorang
dari kedua orang berkuda itu. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 309
Tanggal: Rabu, 23-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
NAMUN mereka pun telah terkejut. Ternyata
pertempuran itu terjadi dengan sengitnya. Para pengawal itu tidak dapat
mengatakan, apakah Ki Wiradana mempunyai kelebihan dari orang berkuda yang
akan merampoknya, karena keduanya telah bertempur dengan dahsyatnya.
Keduanya saling mendesak, saling menyerang dan meng-hindar, seakan-akan
keduanya harus mengerahkan segenap kemampuan mereka.
Para pengawal itu memperhatikan dengan mata hampir tidak terpejam. Apa benar
penglihatannya, bahwa Ki Wiradana pada saat-saat tertentu justru telah
terdesak.
Sementara itu, orang berkuda yang seorang lagi tertawa pendek. Katanya,
“Perhatikan dengan seksama. Apakah dalam keadaan yang demikian itu Ki
Wiradana akan dapat dengan cepat membunuh kawanku? Jika kalian sedikit saja
mengenal ilmu kanuragan, maka kalian akan melihat bahwa keduanya memiliki
kelebihannya masing-masing. Nah, jika dalam keadaan yang demikian itu aku
memasuki arena, maka Ki Wiradana akan segera mengakui, bahwa ia tidak akan
mampu bertahan lebih lama lagi.”
Para pengawalnya itu tidak dapat ingkar. Ternyata bahwa Ki Wiradana tidak
segera dapat mendesak lawannya. Bahkan kemudian ternyata, sekali-kali Ki
Wiradana harus meloncat surut.
Karena itu, maka salah seorang pengawal itu pun berkata, “Meskipun kami
tidak mencemaskan Ki Wiradana, tetapi jika kau ingin mencampuri persoalan
itu, maka kaulah yang akan lebih dahulu kehilangan nyawamu.”
“Suaramu bagaikan petir yang menggelegar langit. Mengejutkan memang. Tetapi
aku kira kalian adalah pengawal-pengawal Tanah Perdikan yang oleh Ki
Wiradana sekadar dipergunakan untuk menakut-nakuti anak-anak saja,” berkata
orang itu. “Karena itu minggirlah. Jangan ikut campur. Kalian masih belum
waktunya berbicara di dalam lingkungan dunia olah kanuragan.”
Para pengawal itu benar-benar terhina. Karena itu, maka mereka pun telah
bergerak serentak diseputar orang itu.
Orang berkuda itu tertawa, katanya, “Nah, bukankah aku juga dapat berbuat
kesombongan seperti kalian? Dan kalian ternyata menjadi marah. Tetapi aku
memang ingin membuat kalian marah. Nah, sekarang apa yang akan kau
lakukan?”
Para pengawal itu tidak dapat menahan perasaan mereka lagi. Meskipun mereka
di dalam hati menjadi gelisah melihat cara orang berkuda yang seorang lagi
bertempur melawan Ki Wiradana, namun mereka masih harus membuktikan, apakah
yang seorang itu juga memiliki ilmu yang sama.
Karena itu, maka para pengawal itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka
sudah siap menyerang dari empat arah diseputar orang berkuda itu.
Orang itu pun telah mempersiapkan diri pula. Sekilas ia memandang kedua
orang yang telah berkelahi. Kedua orang itu masih saja berdiri
termangu-mangu. Mereka memandang pertempuran antara Ki Wiradana dengan salah
seorang dari orang-orang yang telah mengikutinya dari Pajang dengan
pandangan mata tanpa berkedip.
Sementara itu, maka para pengawal itu pun sudah mulai bergerak, sehingga
orang yang dikepungnya itu pun telah bergerak pula. Orang itu mulai
merendahkan dirinya dan bersikap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan
yang bakal datang.
Bahkan orang itu masih sempat memancing serangan. Katanya, “Marilah,
siapakah yang akan mulai? Kalian atau aku?”
Para pengawal itu benar-benar tidak dapat menahan diri lagi. Dengan
garangnya seorang di antara mereka telah menyerang orang berkuda yang
dikepungnya itu.
Tetapi orang yang berdiri di dalam kepungan itu sudah bersiap. Karena itu,
maka ia pun dengan sigapnya telah menghindari serangan itu. Namun ketiga
orang pengawal yang lain telah memperhitungkannya pula. Demikian orang itu
menghindar, maka hampir bersamaan ketiganya telah menyerang pula. Mereka
menyergap orang itu dengan perhitungan, bahwa orang itu akan sulit untuk
menghindari serangan yang datang dari tiga arah bersamaan. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 310
Tanggal: Kamis, 24-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
NAMUN yang terjadi adalah diluar dugaan.
Demikian ketiganya menyerang, maka orang itu bagaikan telah melenting dengan
kecepatan yang luar biasa, lepas dari kepungan. Bahkan pengawal yang
menyerang terdahulu, telah terdorong oleh kekuatan orang itu, sehingga
terhuyung-huyung beberapa langkah surut.
Ketika para pengawal itu menyadari, maka orang itu telah berdiri tegak
sambil bertolak pinggang.
“Marilah,” berkata orang itu sambil tersenyum. “Sebenarnya rencana kalian
cukup baik. Kerjasama di antara kalian telah mapan. Sebagai pengawal Tanah
Perdikan kalian sudah terhitung baik, sehingga agaknya pengawal Tanah
Perdikan Sembojan merupakan pengawal yang tangguh.
“Persetan,” geram salah seorang dari para pengawal itu, “Yang kau lakukan
adalah satu kebetul-an justru pada saat kami belum bersungguh-sungguh.”
Orang yang telah berhasil meloncat dari kepungan itu tertawa. Katanya, “Kau
berbicara kepada siapa? Kau sangka aku semacam anak-anak yang tidak mampu
menilai keadaan? Sudahlah. Jangan berbicara hilir mudik. Aku memperingatkan
kalian sekali lagi, bahwa kalian masih belum waktunya memasuki benturan
kekerasan dalam dunia oleh kanuragan. Agaknya ilmumu tidak lebih baik dari
dua orang yang sekarang berdiri ditepi halaman itu.”
Namun demikian pemimpin pengawal itu masih menjawab, “Tetapi kami berempat
akan mampu mengalahkanmu.”
“Tidak Ki Sanak,” berkata orang itu. “Meskipun kau berempat, tetapi kau
tidak akan mampu mengalahkan aku. Aku berkata sebenarnya. Tetapi jika kau
ingin mencoba, aku tidak berkeberatan.”
Keempat orang itu sama sekali tidak menghiraukan kata-kata orang itu
meskipun ada juga semacam pengakuan di dalam hatinya bahwa orang itu agaknya
memiliki ilmu yang jauh lebih dari tingkat ilmu mereka.
Karena itu, maka keempat orang itu telah bersiap pula. Mereka berusaha untuk
sekali lagi mengepung lawan mereka dan bersiap menyerang dari segala arah.
Namun dalam pada itu, orang yang berada di dalam kepungan itu berkata lagi,
“Jadi kalian mau mengulangi lagi kegagalan kalian? Apakah kalian tidak
mempunyai cara yang lebih baik dari cara yang bodoh ini.”
Para pengawal itu termangu-mangu. Namun salah seorang di antara mereka
tiba-tiba saja menggeram, “Kau mulai menjadi ketakutan melihat kami
bersungguh-sungguh mengepungmu.”
Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian orang itu tertawa. Tidak
terlalu keras, sangat menyakitkan hati. Katanya, “Kau memang aneh-aneh. Ada
saja cara untuk menutupi kekurangan diri. Tetapi baiklah. Marilah, kita
mulai dengan permainan jamuran ini. Nanti sekali-kali bergantian di tengah
lingkaran.”
Keempat orang itu jantungnya bagaikan disentuh bara. Kemarahan telah
membakar seisi dadanya. Karena itu, apapun yang terjadi, maka mereka
benar-benar akan menyelesaikan pertempuran itu.
Karena itu, maka tiba-tiba saja seorang di antara keempat orang itu telah
menarik pedangnya sambil berkata, “Ki Sanak. Apaboleh buat. Menghadapi
perampok dan penyamun memang tidak ada paugeran untuk tidak mempergunakan
senjata.(Bersambung)-m
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
12 Oct. is Bali's mourn
24 April 2003 - Perundingan GAM dengan RI
Sign My Dreambook
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Ready Stock Gouramy Larvae to Gouramy
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
XE.com Personal Currency
Assistant
|