|
|
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta.
Jumat, 04 April 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 291
 |
Orang-orang tua yang berpengaruh itu
tidak dapat berbuat apa-apa lagi dihadapan Wiradana. Tetapi bukan
berarti bahwa mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali.
Karena itu, maka Wiradana pun sangat memperhatikan mereka.
Dengan tangan-tangan para pengawalnya ia dapat selalu mengawasi
orang-orang yang berpengaruh itu agar mereka tidak melakukan sesuatu
yang bertentangan dengan kepentingan Wiradana.
Sampai langkah-langkah itu, Warsi sesuai dengan pendirian suaminya.
Bahkan ia telah mendorong dengan lembut, sehingga tidak menimbulkan
persoalan di hati Wiradana sendiri.
Dalam pada itu, seperti yang dikatakannya, maka Wiradana telah
bersiap-siap pergi ke Kadipaten Pajang. Ia ingin dengan cepat
menyelesaikan masalahnya, sehingga ia akan dapat diangkat dan diwisuda
menjadi Kepala Tanah Perdikan yang sah. Bukan sekadar seorang
pemangku.
“Biarlah Ki Sanak berada disini sampai keadaan Ki Sanak pulih
kembali,” berkata Wiradana kepada saudagar permata itu.
“Terima kasih Ki Wiradana,” berkata orang itu. “Kebaikan hati Ki
Wiradana tidak akan dilupakan. Jika saat-saatnya aku kembali, maka aku
akan segera datang lagi ke Tanah Perdikan ini untuk membeli tanah
sebagaimana aku katakan.”
“Baiklah. Tetapi sebaiknya kalian menunggu sampai keadaan kalian
benar-benar baik sehingga kalian akan dapat meninggalkan Tanah
Perdikan ini dengan tenang dan dapat menjaga diri jika terjadi lagi
sesuatu di perjalanan,” berkata Ki Wiradana.
Namun dengan demikian, rasa-rasanya Ki Wiradana tenang juga
meninggalkan istrinya yang baru muai mengandung. Meskipun dua orang
saudagar itu belum pulih sepenuhnya, namun dalam keadaan yang sangat
penting mereka tentu akan dapat melindungi istrinya di samping para
pengawal yang bertugas.
Pada hari yang direncanakan, maka Ki Wiradana pun telah bersiap
bersama empat orang pengawalnya yang paling baik. Mereka akan pergi ke
Pajang, menghadap Ki Tumenggung Wirajaya, seorang Tumenggung yang
bertugas untuk mengurus tanah-tanah perdikan dan daerah yang terpencil
dilingkungan Kadipaten Pajang.
Pada pagi hari yang ditentukan, maka Ki Wiradana pun telah siap.
Ketika mereka sudah berada dihalaman, maka Warsi pun mengantar mereka
bersama dua orang yang mendapat perawatan di rumahnya.
“Berhati-hatilah kakang,” berkata Warsi. “Kakang akan menempuh
perjalanan yang cukup panjang. Mudah-mudahan segalanya dapat
diselesaikan dengan baik tanpa kesulitan, sehingga keinginan bayi di
dalam kandungan ini, agar pada saat ia lahir, kakang sudah diwisuda
akan dapat terwujud.”
“Baiklah Warsi,” berkata Ki Wiradana. “Aku akan berusaha
sebaik-baiknya. Mudah-mudahan aku berhasil.”
Demikianlah, maka sejenak kemudian lima ekor kuda telah berderap
meninggalkan regol rumah Ki Wiradana berpacu menuju ke Pajang.
Ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar emas berlian itu memandang
debu yang dilemparkan di belakang kaki-kaki kuda itu sampai
iring-iringan itu hilang di kelok jalan. Baru kemudian ia menarik
nafas sambil berkata, “Kita berdoa Warsi, mudah-mudahan usaha Ki
Wiradana berhasil. Jika ia sudah diwisuda maka kedudukannya akan
menjadi semakin kuat. Orang-orang yang menentangnya akan dengan mudah
disingkirkan dengan dalih apapun juga. Ia sudah Kepala Perdikan, yang
wewenangnya lebih luas dari seorang Demang yang memimpin sebuah
Kademangan.”
Warsi mengangguk-angguk. Desisnya, “Kakang Wiradana tentu akan
bekerja keras. Aku katakan kepadanya, bahwa jabang bayi di dalam
kandungan ini ingin agar pada saat ia lahir, ayahnya sudah diwisuda
menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang sah.
Dalam pada itu, maka Ki Wiradana yang menempuh perjalanan yang cukup
panjang itu berusaha untuk segera sampai. Jika ia harus bermalam di
Pajang atau karena pembicaraan yang mungkin memerlukan waktu, maka ia
berharap untuk tidak terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikannya yang
rasa-rasanya memang sedang diliputi oleh mendung.
(Bersambung)-m. |
Suramnya Bayang Bayang 292
Tanggal: Sabtu, 05-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Kepada pengawalnya ia berkata, “Jika aku
pulang dengan membawa satu kepastian tentang saat-saat wisuda itu, maka
kalian tentu akan mendapat kesempatan yang lebih baik. Aku sudah memutuskan
untuk menempatkan para pengawal di padukuhan-padukuhan untuk mengambil alih
tugas para Bekel dan bebahunya yang bekerja sangat lamban. Biar mereka masih
tetap dalam kedudukannya dan menikmati tanah pelungguhnya. Tetapi mereka
tidak lagi menjalankan tugas mereka. Terutama bagi kepentingan ketenangan
sikap orang-orang Tanah Perdikan. Dalam keadaan yang gawat, maka para
pengawal akan lebih cepat mengambil sikap.”
Para pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka memang sudah merasakan kelebihan
perhatian dari Ki Wiradana atas mereka daripada kepada pihak yang manapun
juga di Tanah Perdikan Sembojan.
Sementara itu kuda-kuda mereka berpacu terus menuju ke Pajang. Sekali-kali
mereka harus berhenti untuk memberi kesempatan kuda mereka beristirahat.
Namun pada satu saat, maka para penunggangnyalah yang memerlukan singgah
disebuah kedai untuk sekadar minum dan makan.
Namun ketika mereka berada disebuah kedai, maka mereka telah mendengar satu
berita yang mendebarkan. Seorang yang berada di kedai itu bersama dua orang
kawannya telah berbicara tentang satu peristiwa yang gawat di pusat
pemerintahan Demak.
“Mungkin hal itu masih dirahasiakan,” berkata orang itu. “Tetapi para
saudagar yang datang dari Demak mengatakan, bahwa Sultan Trenggana telah
terbunuh di peperangan, meskipun yang membunuh adalah abdi kinasihnya
sendiri.”
“Aku masih meragukan kebenarannya,” jawab yang seorang. “Tetapi kita
dapat menunggu. Jika hal itu benar, maka Adipati Pajang sebagai menantu
Sultan tentu sudah mendengarnya. Tentu ada utusan khusus yang datang ke
Pajang. Tetapi semuanya masih akan berkembang.”
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berdesis, “Semuanya masih
merupakan desas-desus. Aku kurang yakin apakah para saudagar itu benar-benar
mengerti persoalannya.”
Mereka kemudian tidak melanjutkan pembicaraan mereka tentang Sultan Demak
ketika pesanan mereka telah berada dihadapan mereka.
Namun pembicaraan itu memang sangat menarik perhatian Ki Wiradana. Meskipun
demikian, karena ia tidak mengenal orang-orang yang membicarakan kematian
Sultan Demak itu, maka ia tidak bertanya kepada mereka.
“Jika benar yang mereka katakan, maka aku akan mendapat keterangan dari
orang-orang di Pajang nanti,” berkata Wiradana di dalam hatinya.
Karena itu, maka Wiradana seakan-akan tidak memperhatikan persoalan yang
dibicarakan oleh orang-orang itu meskipun ia menjadi agak berdebar-debar
juga. Jika ada persoalan yang penting di Pajang, maka mungkin sekali
persoalan tentang dirinya akan tersisih. Baru kemudian setelah keadaan
menjadi lapang, orang-orang Pajang sempat membicarakan tentang kedudukannya.
Namun segalanya masih harus dibuktikan. Mungkin orang-orang itu berbicara
tentang desas-desus yang memang dilontarkan untuk kepentingan tertentu,
sebagaimana desas-desus tentang seorang penari di Tanah Perdikannya yang
mirip sekali dan bahkan ada yang menganggap bahwa orang itu adalah memang
Nyai Wiradana yang telah hilang itu.
Karena itu, maka ketika Wiradana dan para pengawalnya telah selesai makan
dan minum, maka mereka pun segera meninggalkan kedai itu. Ternyata
orang-orang yang membicarakan tentang kematian Sultan di Demak itu, masih
tetap didalam kedai itu sambil berbincang lebih panjang lagi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, maka Ki Wiradana dan para
pengawal pun telah memasuki Pajang yang menjadi semakin ramai. Perjalanan
Wiradana ke Pajang bukannya perjalanannya untuk yang pertama kali. Ia sudah
beberapa kali pergi ke Pajang bersama ayahnya. Dan ia pun pernah menghadap
Ki Tumenggung Wirajaya.
Karena itu, maka Wiradana tidak menjadi seperti orang bingung ketika ia
berada di kota. Ia langsung pergi ke sebuah kedai yang besar, yang
menyediakan tempat bagi mereka yang ingin menginap. Meskipun tempat itu
sangat sederhana, karena orang-orang yang menginap dipersilakan untuk tidur
di amben-amben yang besar dalam sebuah ruangan yang besar pula. (Bersambung)-m
293
Tanggal: Minggu, 06-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Hanya orang-orang yang mau membayar dengan
mahal sajalah yang mendapat tempat sebuah bilik yang sempit, tetapi
tersendiri.
Ternyata Wiradana tidak memilih bilik yang sempit itu. Ia bermalam
sebagaimana orang-orang lain bersama dengan empat orang pengawalnya. Selain
bayarannya lebih murah, maka segala sesuatunya tidak akan menarik perhatian,
seakan kehadirannya di Pajang membawa masalah yang sangat penting karena
caranya bermalam di kedai itu.
Malam itu Wiradana benar-benar beristirahat bersama para pengawalnya.
Sementara itu mereka dapat mengupah seorang untuk memelihara kuda-kuda
mereka sementara mereka berada di Pajang.
Baru pagi harinya, setelah mereka membenahi diri, maka mereka pun telah
pergi ke rumah Ki Tumenggung Wirajaya. Tetapi agar kedatangannya tidak
terasa mengganggu, maka hanya seorang saja dari para pengawalnya yang
dibawanya.
Adalah kebetulan bahwa hari itu bukannya hari penghadapan, sehingga Ki
Tumenggung berada dirumahnya.
Setelah mengutarakan maksudnya dengan para petugas di rumah Ki Tumenggung
dan yang kemudian menyampaikannya kepada Ki Tumenggung, barulah Ki Wiradana
mendapat kesempatan untuk naik ke pendapa bersama seorang pengawalnya.
Ternyata Ki Tumenggung Wirajaya adalah seorang yang ramah, sebagaimana
pernah dikenalnya sebelumnya ketika ia menghadap bersama ayahnya.
“Semua laporan telah aku terima,” berkata Ki Tumenggung kepada Ki Wiradana.
“Ya Ki Tumenggung,” sahut Ki Wiradana kemudian, “Kedatanganku kemari adalah
untuk sekadar mempertanyakan, apakah waktu yang terhitung dekat wisuda dapat
diselenggarakan.”
Ki Tumenggung tertawa pendek. Katanya, “Kau begitu tergesa-gesa anak muda.
Bukankah waktumu masih panjang?”
“Ki Tumenggung,” berkata Wiradana berterus terang. “Sebenarnya aku memang
tidak tergesa-gesa. Tetapi sekarang istriku sedang mengandung. Sebagaimana
kebiasaan orang yang sedang mengandung maka kadang-kadang ia mempunyai
permintaan. Bahkan kadang-kadang yang aneh-aneh.”
“Dan istrimu yang mengandung minta agar kau segera diwisuda menjadi Kepala
Tanah Perdikan Sembojan sepeninggalan ayahmu?” bertanya Ki Tumenggung.
Ki Wiradana tersenyum, sementara Ki Tumenggung berkata seterusnya, “Satu
permintaan yang bagus sekali.”
“Ya Ki Tumenggung. Menurut istriku, yang meminta bukannya istriku itu
sendiri,” berkata Ki Wiradana.
Ki Tumenggung tertawa. Katanya, “Yang meminta adalah bayi yang ada di dalam
kandungan. Begitu?”
Ki Wiradana mengangguk kecil sambil menyahut. “Ya Ki Tumenggung. Menurut
istriku adalah demikian.”
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku dapat mengerti. Tetapi segala
sesuatunya terserah kepada Kanjeng Adipati Pajang. Aku akan menyiapkan
segala sesuatunya yang menyangkut persiapan dan kemungkinan-kemungkinannya,
untuk kemudian mengusulkan kepada Kanjeng Adipati.”
“Terima kasih Ki Tumenggung. Kami, keluargaku dan seisi Tanah Perdikan
berharap agar wisuda itu dapat diselenggarakan sebelum anakku itu lahir
kira-kira tujuh bulan lagi.”
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi masih ada waktu tujuh bulan
lagi.”
“Ya Ki Tumenggung. Seandainya wisuda itu dapat diselenggarakan secepatnya,
maka istriku tentu akan bergembira sekali, sehingga pengaruhnya akan terasa
pada bayi yang dikandungnya,” berkata Ki Wiradana.
Ki Tumenggung Wirajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan semuanya
berjalan lancar. Tetapi ketahuilah, mungkin ada sesuatu yang akan dapat
menjadi penghambat, meskipun aku kira tidak akan memerlukan waktu sampai
tujuh bulan. Dalam satu dua bulan ini Kanjeng Adipati Hadiwijaya tentu akan
sibuk sekali.”
Wajah Ki Wiradana menegang. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “Apa yang
membuat Kanjeng Adipati sibuk dalam satu bulan ini?” bertanya Ki Wiradana.
“Ada utusan khusus dari Demak yang memberitahukan bahwa Kanjeng Sultan Demak,
ayah mertua Kanjeng Adipati di Pajang telah gugur di medan perang.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 294
Tanggal: Senin, 07-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
"Gugur?" ulang Ki Wiradana.
"Ya. Berita ini baru kemarin sampai meskipun peristiwa itu terjadi tiga hari
yang lalu. Namun nampaknya para pemimpin di Demak berusaha untuk
merahasiakan meskipun akhirnya berita itu harus disampaikan kepada keluarga
terdekat," berkata Tumenggung. Lalu, "Dan kemarin pula Kanjeng Adipati sudah
berangkat ke Demak."
"Jadi Kanjeng Adipati sekarang tidak ada?" bertanya Ki Wiradana dengan
kecewa.
"Untuk beberapa hari Kanjeng Adipati akan berada di Demak," jawab Ki
Tumenggung. "Bahkan seandainya Kanjeng Adipati adapun segalanya tidak akan
dapat diputuskan sekarang."
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Jadi beberapa hari lagi aku
akan mendapat kepastian itu Ki Tumenggung."
"Jangan dihitung hari. Tetapi hitunglah dengan hitungan bulan. Tetapi aku
kira tidak akan lebih dari tujuh bulan jika segala sesuatunya sudah
lengkap," jawab Ki Tumenggung.
"Apa yang dimaksudkan lengkap Ki Tumenggung? Bukankah sudah pasti, bahwa aku
berhak atas warisan jabatan yang ditinggalkan ayah itu," jawab Ki Wiradana.
"Ya. Tentu," jawab Ki Tumenggung. "Tetapi bukankah kebiasaan setiap Tanah
Perdikan adalah, bahwa setiap wisuda akan diselenggarakan upacara."
"Tentu Ki Tumenggung. Tanah Perdikan Sembojan juga akan mengadakan upacara
besar-besaran," jawab Ki Wiradana.
"Aku tentu akan berkesempatan hadir. Kau tentu akan menyembelih sepuluh ekor
lembu," berkata Ki Tumenggung. "Tetapi yang penting bukan itu. Setiap Tanah
Perdikan mempunyai lambang kekuasaannya masing-masing. Ada beberapa Tanah
Perdikan yang mengikatkan diri dengan Kadipaten Pajang. Misalnya Tanah
Perdikan Menoreh dengan lambang kekuasaan sebuah tombak. Tanah Perdikan
Karang Turi dengan lambang kekuasaan sebuah topeng berlapis emas. Dan
bukankah Tanah Perdikan Sembojan juga mempunyai lambang temurunnya
kekuasaan? Seingatku, seperti yang dikatakan ayahnya dan barangkali aku
dapat menanyakan kepada Ki Tumenggung Pancasanti yang menjabat jabatan ini
sebelum aku gantikan, Tanah Perdikan Sembojan mempunyai lambang kekuasaan
sebuah bandul beserta rantainya yang terbuat dari emas. Bahkan aku pernah
melihat bahwa bandul itu mempunyai ciri yang meyakinkan. Namun jika Ki
Tumenggung Pancasanti juga meragukan, aku akan dapat melihatnya dalam kitab
yang memuat segala ketentuan bagi Tanah Perdikan yang ada di dalam
lingkungan Kadipaten Pajang."
Wajah Ki Wiradana menjadi tegang. Dengan suara sendat ia berkata, "Ayah
meninggal dalam keadaan yang tidak wajar. Karena itu, ayah tidak sempat
memberikan hal itu kepadaku."
"Tetapi apakah sebelumnya ayahmu pernah menunjukkan bandul itu kepadamu?"
bertanya Ki Tumenggung.
Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berdesis dengan nada
ragu, "Agaknya memang sudah Ki Tumenggung. Aku pernah melihat sebuah bandul
pada seuntai rantai yang terbuat dari emas dan memang pada bandul itu
bertatahkan lukisan kepala seekor burung elang."
"Kau tidak tahu dimana benda itu sekarang?" bertanya Ki Tumenggung.
"Tidak Ki Tumenggung. Tetapi aku kira aku akan dapat mencarinya. Ayah tidak
pernah terpisah dari benda itu. Tetapi pada saat meninggalnya ayah tidak
membawanya. Mungkin bandul itu disimpannya di dalam peti simpanannya atau
dimana saja," Ki Wiradana menjadi gelisah. "Tetapi bagaimana jika benda itu
tidak dapat diketamukan?"
Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, "Segala
sesuatunya tentu dapat dicari jalan pemecahannya. Bukankah setiap orang
tahu, bahwa kau adalah anak laki-lakinya. Bahkan anaknya memang hanya kau
seorang saja. Karena itu, pada saatnya jika benda itu tidak dapat
diketemukan, aku akan ikut berusaha memecahkan persoalannya. Tetapi sekali
lagi aku beritahukan, bahwa untuk waktu satu dua bulan ini, agaknya Kanjeng
Adipati akan menghadapi kesibukan yang luar biasa."
Wajah Ki Wiradana menjadi semakin tegang. Tetapi ia tidak dapat berbuat
apa-apa. Adalah kebetulan sekali bahwa Adipati Pajang sedang mengalami satu
peristiwa yang akan dapat menggoncangkan kedudukan Demak, karena gugurnya
Sultan di medan perang. (Bersambung)-c
Suramnya Bayang Bayang 295
Tanggal: Selasa, 08-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Karena itu, maka agaknya Ki Wiradana tidak
akan dapat melanjutkan pembicaraan. Sebenarnya ia ingin menyelesaikan
persoalan sampai tuntas. Bahkan ia pun akan bersedia jika ia harus menghadap
Kanjeng Adipati. Ia sudah memperkirakan bahwa ia akan bermalam di Pajang
sekitar tiga atau empat hari.
Namun agaknya pembicaraan telah terputus sampai sekian. Ki Tumenggung tentu
tidak akan dapat mengambil keputusan apapun juga. Kesediaannya untuk
membantu memecahkan persoalan yang mungkin timbul, merupakan satu kebaikan
hati yang sangat menguntungkannya. Jika ia memaksa persoalan itu untuk
dibicarakan lebih cepat, dan membuatnya kecewa, maka mungkin sekali Ki
Tumenggung akan berubah sikap.
Karena itu, maka dengan menyesal, Ki Wiradana pun menghentikan pembicaraan
tentang permohonannya untuk segera diwisuda. Namun ia masih berkesempatan
untuk berbicara tentang beberapa hal dengan Ki Wirajaya sambil meneguk
hidangan yang telah disajikan.
"Kematian Sultan Demak di medan itu merupakan satu peristiwa yang sangat
pahit," berkata Tumenggung.
"Kenapa?" bertanya Ki Wiradana.
"Kanjeng Sultan telah dibunuh oleh hambanya yang terdekat. Seorang anak yang
masih sangat muda, yang biasanya menyediakan sadak kinang bagi Kanjeng
Sultan," berkata Ki Tumenggung.
"Jadi hal itu merupakan satu pengkhianatan?" bertanya Ki Wiradana.
"Jika yang terjadi benar seperti yang aku dengar, memang telah terjadi
pengkhianatan. Tetapi alasan pengkhianatan itu masih belum jelas. Nampaknya
kita di Pajang masih harus menunggu kejelasan peristiwa itu. Mungkin sesudah
Kanjeng Adipati kembali dari Demak, kita baru dapat mendengar dengan pasti,
apa yang telah terjadi," berkata Ki Tumenggung itu kemudian.
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun yang membelit hatinya adalah persoalan
yang menyangkut dirinya sendiri.
Dalam pada itu, setelah minum minuman dan makan makanan yang dihidangkan,
maka Ki Wiradana pun telah minta diri.
"Ki Wiradana akan kembali ke Sembojan sekarang?" bertanya Ki Tumenggung.
"Tidak Ki Tumenggung. Kami bermalam di sini. Bahkan aku sudah bersiap-siap
untuk bermalam barang tiga atau empat malam. Aku berharap bahwa aku akan
dapat membicarakan masalah ini sampai tuntas. Tetapi ternyata bahwa Kanjeng
Adipati sedang tidak ada di Kadipaten," jawab Ki Wiradana.
"Dimana Ki Wiradana bermalam?" bertanya Ki Tumenggung.
Ki Wiradana agak ragu. Tetapi akhirnya ia menjawab, "Di sebuah kedai makanan
itu Ki Tumenggung. Di penginapan untuk orang banyak."
"Ah, bersama para penjual hasil bumi yang kemalaman di Pajang ini?" bertanya
Ki Tumenggung.
"Ya Ki Tumenggung," jawab Ki Wiradana.
“Ki Wiradana menyewa sebuah bilik tersendiri di kedai itu?" bertanya Ki
Tumenggung pula.
"Tidak Ki Tumenggung. Aku bermalam bersama orang banyak agar tidak nampak
seperti orang kaya. Hanya saudagar-saudagar yang kaya saja yang bermalam di
bilik-bilik tersendiri," jawab Ki Wiradana. (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 296
Tanggal: Rabu, 09-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
BAGHDAD
JATUH,
Patung
Saddam Hussein di
robohkan
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya
kemudian, “Ki Wiradana. Jika Ki Wiradana masih ingin berada di Pajang untuk
waktu yang lebih lama lagi, biarlah Ki Wiradana bermalam di rumahku. Mungkin
Ki Wiradana akan mendapat tempat yang setidak-tidaknya tidak bercampur
dengan terlalu banyak orang.”
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Namun ia merasa bahwa ia tidak mempunyai
persoalan lagi yang akan dibicarakannya di Pajang karena Kanjeng Adipati
tidak ada ditempat.
Karena itu, maka katanya kemudian, “Terima kasih Ki Tumenggung. Mungkin lain
kali aku akan datang lagi untuk menghadap. Pada kesempatan itu aku akan
bermalam disini. Namun sebelumnya aku mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya. Sedangkan saat ini aku tidak akan berada di Pajang lebih
lama lagi, karena tidak ada persoalan yang dapat aku bicarakan sesuai dengan
penjelasan Ki Tumenggung itu.”
Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi aku akan berusaha
untuk secepatnya dapat menyelesaikan persoalan ini. Karena bagiku setiap
persoalan yang dapat diselesaikan dengan cepat, akan semakin baik. Dengan
demikian persoalan-persoalan itu tidak akan tertimbun dengan
persoalan-persoalan yang lain.
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Sikap Ki Tumenggung cukup baik. Agaknya ia
benar-benar ingin membantu. Hanya karena keadaan, maka segalanya memang
harus tertunda.
Demikianlah, maka Ki Wiradana pun segera minta diri.
“Pada kesempatan lain aku akan menghadap lagi,” katanya. “Mungkin pada
permulaan bulan depan. Meskipun mungkin Kanjeng Adipati masih sibuk, tetapi
aku berharap bahwa ada waktu yang dapat dipergunakan untuk membicarakan
persoalan Tanah Perdikan Sembojan.”
“Baiklah,” berkata Ki Tumenggung. “Ki Wiradana dapat datang pada permulaan
bulan depan. Mudah-mudahan tidak terjadi kesibukan yang berkepanjangan.
Karena jika benar Kanjeng Sultan terbunuh, maka tentu akan dipilih di antara
para keluarga siapakah yang akan menggantikan kedudukannya, oleh para
sesepuh di Demak. Tetapi karena Adipati Pajang adalah menantu wuragil, maka
kesibukannya hanya terbatas pada keadaan yang tiba-tiba saja berubah ini.”
Ki Wiradana mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, maka ia pun telah minta
diri dan pada keesokan harinya akan langsung kembali ke Tanah Perdikan
Sembojan.
Dengan demikian maka ternyata perjalanan Ki Wiradana itu sama sekali tidak
membawa hasil. Tetapi bukan karena Ki Tumenggung yang bertanggung jawab
tentang persoalan itu mempersulit persoalannya, tetapi karena akhirnya ia
masih harus menunggu kedatangan Kanjeng Sultan yang akan mengambil segala
keputusan.
“Tetapi sebelum aku kembali menghadap, agaknya Ki Tumenggung tentu sudah
menyampaikan persoalannya kepada Kanjeng Adipati,” berkata Ki Wiradana di
dalam hatinya. “Selanjutnya segala sesuatunya akan berjalan lancar dan cepat.”
Namun dalam pada itu, ada sesuatu yang terasa selalu mengganggu pikirannya.
Sebelumnya ia tidak pernah memikirkan tentang sebuah bandul yang tersangkut
pada seutas rantai yang semuanya terbuat dari emas. Pada bandul itu terdapat
ukiran kepala burung elang.
Menurut Ki Tumenggung, bandul itu menjadi pertanda pewarisan kekuasaan
Kepala Tanah Perdikan Sembojan dari satu tataran kepada tataran berikutnya.
“Aku melupakannya,” berkata Wiradana kepada dirinya sendiri. “Tetapi aku
harus menemukannya. Mungkin pada saat terakhir ayah tidak sempat mengatakan
apapun juga karena kemarahannya kepada orang yang membunuhnya dengan licik
itu.”
Di penginapan, Ki Wiradana sempat membicarakan dengan para pengawalnya.
Namun mereka tidak dapat berbuat sesuatu selain menunggu sampai bulan depan.
“Di permulaan bulan depan aku akan datang lagi kemari,” berkata Ki Wiradana.
“Tetapi Ki Tumenggung yang baik hati itu memberi kesempatan kepadaku untuk
bermalam di rumahnya. Bahkan sekarang pun jika aku mau, kita dapat berpindah
ke rumah Ki Tumenggung itu. Tetapi tidak banyak gunanya.
Besok kita sudah kembali ke Sembojan karena kita memang tidak dapat
melangkah lebih jauh saat ini. Segala persoalannya sudah di tangan Ki
Tumenggung. Namun keputusan terakhir tentang wisuda itu memang berada di
tangan Kanjeng Adipati. Meskipun demikian, Kanjeng Adipati tentu tidak dapat
melihat masalahnya sampai persoalan yang sekecil-kecilnya sehingga apa yang
menurut Ki Tumenggung sudah benar, Kanjeng Adipati tentu akan membenarkannya
juga.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 297
Tanggal: Kamis, 10-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Para pengawalnya mengangguk-angguk. Tetapi
mereka pun sebenarnya telah menjadi kecewa pula. Jika Ki Wiradana segera
diwisuda, maka mereka pun akan segera mendapat kedudukan yang lebih baik
pula.
Tetapi Ki Wiradana seakan-akan melihat gejolak di dalam hati orang-orang itu.
Karena itu, maka ia pun berkata, “Tetapi jangan kecewa. Biarlah yang kecewa
aku saja. Meskipun aku belum diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan, tetapi
aku sudah mempunyai wewenang untuk berbuat sesuatu di atas Tanah Perdikan
warisan orang tuaku, apalagi aku adalah satu-satunya anaknya sehingga
pewarisan kedudukan itu tidak ada masalah lagi.
Para pengawalnya mengangguk-angguk. Tetapi mereka percaya kepada Ki Wiradana.
Bahkan sebelum mereka pergi ke Pajang, para pengawal sudah mendapat
kedudukan yang jauh lebih baik dari orang-orang lain di Tanah Perdikan
Sembojan, sehingga para pengawal itu telah merupakan satu kelompok
orang-orang yang dimanjakan oleh Ki Wiradana. Namun yang daripadanya, Ki
Wiradana akan menyandarkan kekekuasaannya di Tanah Perdikan Sembojan.
Demikianlah, maka Ki Wiradana dan keempat pengawalnya masih bermalam satu
malam lagi di Pajang. Pagi-pagi benar mereka berniat untuk kembali ke Tanah
Perdikan Sembojan, karena tidak ada persoalan lagi yang mungkin
dibicarakannya lagi di Pajang.
Ketika malam tiba, maka Wiradana dan keempat pengawalnya telah berada di
dalam sebuah ruangan yang besar dari sebuah penginapan. Beberapa orang telah
berbaring di sebuah amben besar. Mereka yang menginap akan tidur berrjajar
di amben-amben besar yang terdapat di ruang itu. Mereka adalah
pedagang-pedagang hasil bumi yang kepayahan setelah sehari penuh mengurusi
barang-barang dagangannya. Sementara itu, di sebuah amben yang lain, yang
diperuntukkan bagi orang perempuan, terdapat juga satu dua orang pedagang
kain yang agaknya masih menyimpan beberapa lembar dagangannya yang masih
belum laku.
Sementara Ki Wiradana dan para pengawalnya masih duduk disebuah lincak bambu
sambil memesan minuman panas, dengan wajah yang mengandung teka-teki, mereka
melihat di antara mereka yang menginap ada dua orang yang nampaknya selalu
mengawasinya.
Ternyata bukan Ki Wiradana sendiri yang merasa selalu diawasi oleh kedua
orang itu. Para pengawalnya pun merasa pula, bahwa kedua orang itu setiap
kali menatap mereka dengan tatapan yang seolah menyelidik.
“Jangan pedulikan,” berkata Ki Wiradana. “Jika orang-orang itu berniat buruk,
maka aku akan menghancurkannya sama sekali disini dihadapan para saksi bahwa
kita tidak bersalah. Dengan demikian maka kita tidak akan dapat dituntut
telah melakukan kejahatan. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu di
penginapan ini akan mengatakan peristiwa yang terjadi sebagaimana sebenarnya.
Tetapi mudah-mudahan orang itu tidak bertingkah, sehingga aku tidak perlu
berbuat apa-apa. Karena setiap tindakanku akan dapat berakibat kurang baik
jika Ki Tumenggung Wirajaya menganggap aku berbuat kesalahan.”
Para pengawalnya sekali-kali juga berusaha mengamati kedua orang itu. Salah
seorang di antara mereka pun kemudian berkata, “Ki Wiradana tidak usah
berbuat apa-apa. Biarlah aku saja yang menyelesaikan mereka jika mereka
berbuat sesuatu atas kita. dengan kawan-kawan aku kira kami akan dapat
menyelesaikan kedua orang itu,”
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya, “Agaknya keduanya
juga bermalam di penginapan ini. Karena itu berhati-hatilah. Sebaiknya
kalian nanti malam tidak tidur bersama-sama, meskipun tidak perlu
diperhatikan kepada orang-orang yang menginap di penginapan ini. Apalagi
terhadap kedua orang itu. Kalian dapat tidur berganti-ganti. Jika seseorang
sudah tidak tahan lagi untuk tetap berjaga-jaga, maka ia akan dapat
membangunkan kawannya yang ada di sampingnya dengan tidak mengejutkan orang
lain. Sehingga semalam suntuk di antara kita harus ada yang tetap
berjaga-jaga.”
Para pengawal mengangguk-angguk. Mereka sependapat, bahwa mereka tidak boleh
tidur bersama-sama karena kedua orang itu nampaknya memang mencurigakan.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 298
Tanggal: Jumat, 11-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Wiradana teringat kepada dua orang yang
telah merampok saudagar emas permata di sebuah penginapan di Tanah Perdikan
Sembojan. Mungkin dua orang ini adalah juga perampok yang mengira, bahwa Ki
Wiradana membawa harta benda atau barangkali disangkanya juga seorang
saudagar. Atau bahkan mungkin kedua orang ini jugalah yang telah merampok
saudagar di Tanah Perdikan Sembojan itu.
“Jika demikian, maka keduanya adalah memang dua orang perampok yang
pekerjaannya merampok orang-orang yang dianggapnya membawa harta benda di
penginapan,” berkata Ki Wiradana di dalam hatinya.
Namun ia tidak perlu cemas. Ia sendiri akan dapat membunuh kedua orang itu.
Tetapi jika belum tersudut, ia sependapat dengan pengawalnya, bahwa biar
pengawalnya sajalah yang bertindak atas kedua orang itu, sehingga tidak akan
menimbulkan kesan buruk padanya. Apalagi jika penilaian itu diberikan Ki
Tumenggung Wirajaya.
Untuk beberapa saat lamanya, Ki Wiradana masih duduk berbincang di sebuah
lincak bambu. Sekali-kali ia meneguk minuman panas yang dipesannya. Demikian
juga para pengawalnya, sehingga akhirnya mereka mulai mengantuk pula.
“Aku akan tidur. Mungkin masih ada di antara kalian yang akan tetap duduk
sambil minum? Tetapi ingat, jangan tertidur semuanya. Jika kalian memang
merasa letih, bangunkan aku,” berkata Ki Wiradana.
Dua orang pengawalnya ternyata masih ingin tetap duduk sambil menghabiskan
minumannya. Sementara Ki Wiradana dan pengawalnya yang lain pun telah pergi
ke sebuah amben besar. Beberapa orang telah terbaring diam. Bahkan ada di
antara mereka yang mendengkur keras sekali, sehingga terasa mengganggu
kawan-kawannya.
Tetapi tidak seorang pun yang dapat menegurnya. Meskipun beberapa orang
harus menutup telinganya dengan bantal.
Ternyata malam itu tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kedua orang
yang dicurigai itu justru telah tidur semalam suntuk tanpa terbangun sama
sekali. Bahkan ketika matahari telah terbit dan semua orang telah berbenah
diri, kedua orang itu masih saja tidur dengan nyenyaknya.
Ki Wiradana mengumpat melihat kedua orang itu mendengkur. Lalu katanya
kepada pengawalnya, “Ternyata mereka adalah orang-orang dungu yang sekadar
ingin tahu melihat kita berlima.”
Demikianlah, setelah Ki Wiradana menyelesaikan biaya selama ia bermalam di
penginapan itu, maka ia pun telah meninggalkan Pajang bersama para
pengawalnya.
Dengan hati yang kecewa Ki Wiradana berpacu kembali ke Tanah Perdikannya.
Namun kepada istrinya, ia tidak dapat berceritera tentang hasil
perjalanannya. Bahkan yang akan didengar oleh istrinya adalah sekadar
perasaan kecewa saja.
Meski demikian, sikap Ki Tumenggung Wirajaya telah memberikan sedikit
ketenangan hatinya. Ki Tumenggung yang bertanggung jawab tentang Tanah
Perdikan itu telah bersedia membantunya dan memecahkan persoalan yang timbul
bila ternyata masih belum menemukan sebuah bandul yang menjadi pertanda
kekuasaan Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.
Seperti pada saat mereka berangkat, maka mereka pun berpacu melewati jalan
yang cukup jauh. Bulak-bulak yang panjang harus mereka lintasi dan
kadang-kadang sungai yang tidak terlalu dalam harus mereka seberangi.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja diluar kehendaknya, maka salah seorang
dari keempat orang pengawal itu telah berpaling. Pengawal itu menjadi
terkejut ketika ia melihat dua orang berkuda dijarak yang agak jauh.
“Ki Wiradana,” desis salah satu pengawalnya, “Apakah kedua orang yang
berkuda di belakang itu dua orang yang kita jumpai di penginapan?”
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Ketika ia pun berpaling, maka jantungnya
pun menjadi berdebar-debar. Dua orang itu menurut penglihatannya memang dua
orang yang berada di penginapan itu.
“Setan,” geramnya. “Dua orang itu lagi.”
“Jangan hiraukan,” berkata salah seorang pengawalnya. “Bahkan kita akan
menunggu apa yang akan mereka lakukan. Jika benar mereka berniat berbuat
buruk, maka bukan salah kita jika keduanya akan terbunuh di tengah-tengah
bulak panjang. Kita tidak bertanggung jawab atas mayatnya, karena bukan
salah kita.” (Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 299
Tanggal: Sabtu, 12-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian katanya, “Dalam perjalanan ini sebenarnya aku tidak ingin berbuat
sesuatu yang dapat memberikan kesan kurang baik. Memang ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan. Mungkin yang kita lakukan nanti tidak dilihat oleh
seorang pun sehingga tidak akan memberikan kemungkinan untuk diketahui oleh
para pejabat di Pajang. Namun jika timbul persoalan karenanya, dan para
pejabat di Pajang akhirnya mengetahui bahwa kita yang melakukannya,
sementara itu tidak ada saksi yang dapat memberikan keterangan bahwa kita
tidak bersalah, maka akan dapat timbul kesulitan.”
“Kami adalah saksi,” berkata pengawalnya.
“Tidak akan ada orang yang percaya karena kalian adalah pengawalku,” jawab
Ki Wiradana.
Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Tetapi kita tidak akan
dapat berdiam diri jika mereka benar-benar akan menyerang kita.”
“Ya, aku sadar,” jawab Ki Wiradana.
Pengawal itu tidak berbicara lagi. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya
kedua ekor kuda itu masih mengikutinya pada jarak yang sama.
Wiradana yang merasa terganggu oleh kedua orang itu ternyata kemudian
menggeretakkan giginya sambil berkata, “Persetan. Aku tidak peduli.”
Wiradana pun kemudian berusaha untuk tidak terpengaruh oleh kedua orang
berkuda yang mengikutinya. Pada jarak yang cukup jauh maka ia pun bertanya
kepada pengawalnya, “Apakah kuda-kuda kita sudah waktunya beristirahat?”
“Ya.” jawab pengawalnya. “Kecuali kuda kita memang harus beristirahat, kita
akan dapat menunggu, apakah yang akan dilakukan oleh kedua orang itu.”
Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku sependapat.
Kita akan beristirahat.”
Dengan demikian maka Ki Wiradana dan para pengawalnya pun telah berhenti
ditepi sebatang sungai. Mereka memberikan kesempatan kepada kuda mereka
untuk minum dan sekadar makan rerumputan segar.
Namun dada Ki Wiradana terasa hampir meledak ketika ternyata kedua orang
mengikutinya itu juga berhenti pada jarak yang sama.
“Gila,” seorang pengawalnya menggeram.
“Jangan hiraukan,” Ki Wiradana hampir berteriak. Tetapi di dalam nada
suaranya terkandung kegelisahan yang menggigit jantungnya.
Karena itu, maka iring-iringan itu tidak dapat beristirahat dengan tenang.
Sebelum kudanya puas dan menjadi segar kembali, Ki Wiradana sudah
memerintahkan kepada para pengawalnya untuk melanjutkan perjalanan.
Tetapi ternyata Ki Wiradana sudah mempunyai rencana lain. Ia ingin berhenti
disebuah kedai, sehingga dengan demikian ia akan mendapat kesempatan untuk
menjajagi niat kedua orang itu. Apakah keduanya akan menunggu pada jarak
yang tetap, atau keduanya akan ikut masuk ke dalam kedai itu juga.
Seandainya keduanya akan menunggu di luar, ia akan mendapat kesempatan untuk
berlama-lama di kedai itu sehingga kedua orang itu menjadi tidak sabar.
Karena itu, ketika perjalanan Ki Wiradana sampai ke sebuah kedai yang cukup
besar, maka ia pun berkata kepada para pengawalnya. “Kita berhenti di kedai
itu. Kita akan melihat, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.
Mudah-mudahan di dalam kedai itu terdapat orang lain. Jika terjadi sesuatu,
maka akan ada saksi yang dapat membebaskan kita dari segala macam tuntutan.
Jika keduanya menunggu diluar, biarlah kita habiskan waktu kita di kedai itu
sampai keduanya kehilangan kesabaran.”
Para pengawalnya pun mengerti maksudnya. Apalagi perut mereka memang sudah
merasa lapar.
Ki Wiradana dan para pengawalnya pun kemudian berhenti di depan kedai itu.
Mengikat kudanya pada patok-patok yang sudah disediakan dan kemudian
memasuki kedai yang di dalamnya sudah terdapat beberapa orang yang sedang
makan dan minum.
Namun jantung Ki Wiradana berdesis ketika demikian ia dan para pengawalnya
mulai duduk, dua orang yang mengikutinya itu telah berhenti pula di depan
kedai itu. Mengikat kudanya dan sejenak kemudian keduanya telah masuk pula.
(Bersambung)-m
Suramnya Bayang Bayang 300
Tanggal: Minggu, 13-04-2003
Topik: SH Mintardja (Cerbung)
Sejenak keduanya berhenti di muka pintu sambil
berdiri tegak, dipandanginya orang yang sudah ada di dalam kedai itu
termasuk Ki Wiradana sambil tersenyum. Kemudian keduanya duduk pula disudut
sambil saling berbisik. Tiba-tiba saja keduanya tertawa.
Sikap keduanya sangat menjengkelkan Ki Wiradana. Tetapi Ki Wiradana masih
menahan diri. Ia tidak mau menjadi penyebab jika terjadi keributan di dalam
kedai itu.
Karena itu, Ki Wiradana dan para pengawalnya seakan-akan sama sekali tidak
menghiraukan kedua orang itu. Mereka memesan makanan dan minuman seolah-olah
mereka tidak sedang merasa terganggu oleh kehadiran kedua orang itu.
Tetapi para pengawal Ki Wiradana yang memang sudah merasa lapar, benar-benar
lebih memperhatikan makanan mereka daripada kedua orang itu. Apalagi para
pengawal itu merasa bahwa mereka berada dalam kedudukan yang lebih kuat
karena jumlah mereka yang lebih banyak. Agaknya hanya Ki Wiradana sendirilah
yang merasa gelisah, karena ia menghubungkan kedua orang itu dengan kedua
orang yang telah merampok saudagar permata di Tanah Perdikan Sembojan.
Dalam pada itu, sikap kedua orang itu memang terasa sangat menjemukan bagi
Ki Wiradana. Setiap kali keduanya memperhatikannya, kemudian seakan-akan
mentertawakannya. Dengan demikian, maka gejolak di dalam jantung Wiradana
pun terasa semakin lama semakin panas.
Tiba-tiba saja Ki Wiradana itu menggamit seorang pengawalnya yang sedang
sibuk makan, “He, kau lihat sikap orang itu?”
Pengawalnya terkejut. Namun kemudian katanya, “Maaf Ki Wiradana ternyata aku
benar-benar sedang sibuk makan, sehingga aku tidak banyak memperhatikannya.”
“Perhatikan sejenak sekarang. Aku menjadi muak. Rasa-rasanya aku ingin
mencekiknya,” berkata Ki Wiradana.
Pengawalnya mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Apakah kita akan
memulainya?”
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.
Sementara itu, sikap kedua orang itu benar-benar memuakkan bagi Ki Wiradana.
Setiap kali keduanya tertawa. Bahkan keras-keras. Seolah-olah di dalam kedai
itu tidak terdapat orang lain.
Tetapi ternyata yang merasa tersinggung atas sikap itu bukan saja Ki
Wiradana. Adalah satu kebentulan bahwa di dalam kedai itu juga terdapat
seorang yang bertubuh tinggi tegap dan berkumis lebat, yang duduk bersama
dengan seorang yang bertubuh tinggi agak ke kurus-kurusan. Keduanya
mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala hitam pula.
Ketika kedua orang berkuda yang mengikuti Ki Wiradana itu kemudian tertawa
lagi keras-keras, maka orang berkumis lebat itu tiba-tiba saja membentak,
“He, tutup mulutmu. Kau mengganggu kami. Bahkan seisi kedai ini.”
Kedua orang itu terkejut. Dan serta merta keduanya pun terdiam.
“Jika kau tertawa lagi maka aku lemparkan kau keluar dari kedai ini,” geram
orang berkumis itu.
Kedua orang itu saling berpandangan. Namun salah seorang di antara mereka
kemudian berkata, “Maaf Ki Sanak. Kami tidak berniat untuk mengganggu
kalian.” (Bersambung)-m
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 16/X/2002
12 Oct.2002 is Bali's mourn
9 April 2003, Baghdad jatuh
Sign My Dreambook
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Ready Stock Gouramy Larvae to Gouramy
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
XE.com Personal Currency
Assistant
|