Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Managersoftware ini free, dan digunakan jika anda sering menDL file besar dengan connection yang lambat

 

 

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  Buy Monsters Inc. (Double Sided) at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 

 

 

 

 

 WebHosting_468x60

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 021
Rabu 26.6.02

"Katakan Kiai, bahkan seandainya aku mati sekalipun," desis Ki Gede. Tetapi Kiai Badra menggeleng. Katanya, "Agaknya Yang Maha Murah masih memperkenankan Ki Gede untuk tetap menjadi pemimpin Tanah Perdikan ini untuk beberapa lama lagi. Namun ada sesuatu yang pantas Ki Gede ketahui. Aku mohon Ki Gede dapat menerimanya dengan sikap dewasa, karena menurut pendapatku, semakin cepat Ki Gede mengetahui, akibatnya akan menjadi semakin baik."

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Baiklah Kiai. Katakanlah." 

Kiai Badra merenung sejenak. Namun kemudian katanya, "Ki Gede. Kita memang wenang untuk berusaha. Tetapi segalanya terserah kepada Yang Maha Agung. Sebagaimana kita sudah berusaha bagi kesembuhan Ki Gede. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada Yang Maha Bijaksana." 

"Apa yang akan terjadi Kiai?" bertanya Ki Gede, "Apakah aku akan segera mati?" 

"Tidak Ki Gede. Menilik perkembangan keadaan Ki Gede serta keadaan tubuh Ki Gede, maka Ki Gede agaknya akan sembuh, jika tidak terdapat keadaan yang sangat khusus," jawab Ki Badra. Lalu, "Tetapi ternyata bahwa terdapat kelainan pada tangan dan kaki Ki Gede, yang nampaknya mengalami suatu keadaan yang kurang sewajarnya" 

Wajah Ki Gede menegang sejenak. Kemudian dengan nada dalam ia bertanya, "Maksud Kiai, apakah aku akan lumpuh?" 

Kiai Badra tidak segera menjawab. Tetapi kemudian katanya, "Ki Gede. Agaknya memang demikian. Tetapi menurut pengamatanku, kelumpuhan Ki Gede bukan kelumpuhan mutlak. Mungkin Ki Gede masih akan dapat berjalan dan menggunakan tangan, sebagaimana anggota badan Ki Gede yang lain. Tetapi tangan dan kaki Ki Gede tidak akan mempunyai kekuatan sewajarnya." 

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Dengan sendat ia berkata, "Aku mengerti, Kiai. Racun dari pusaka Gonggang Wirit itu telah melenyapkan segenap kemampuan ilmuku, karena kelemahan anggota badanku, sehingga kemudian aku tidak akan lebih dari sesosok golek yang terbuat dari daging dan tulang tanpa dapat berbuat apa-apa." 

Ki Badra tidak menyahut. Tetapi sebenarnyalah, bahwa Ki Gede menurut pengamatan Kiai Badra akan mengalami kesulitan dengan ilmunya, karena anggota badannya akan menjadi sangat lemah. 

"Baiklah Kiai," berkata Ki Gede kemudian, "Biarlah aku masih tetap mengucapkan terima kasih bahwa aku tidak mati. Meskipun aku tidak akan memiliki ilmuku sebagaimana sebelumnya, namun aku masih mampu berbuat sesuatu." 

"Ya Ki Gede," jawab Kiai Badra kemudian, "Sebenarnyalah bukan ilmu Ki Gede yang akan hilang dan tidak dapat Ki Gede kuasai lagi. Tetapi anggota badan Ki Gede sebagai alat untuk mengungkapkan ilmu itu tidak lagi memadai. Dengan demikian Ki Gede masih akan tetap memiliki kemampuan untuk memberikan petunjuk dan pengarahan kepada angger Wiradana, agar angger Wiradana mampu menguasai seluruh kemampuan Ki Gede." 

Ki Gede mengangguk-angguk kecil. Dipandanginya Wiradana sambil berkata, "Kau dengar Wiradana. Karena itu, maka satu-satunya harapanku adalah kau." 

Wiradana menundukkan kepalanya. Ada semacam kegelisahan di dalam hatinya, justru karena ayahnya akan kehilangan kesempatan untuk memiliki kembali semua ilmunya, karena tidak ada lagi dukungan wadagnya. 

"Tetapi menurut ayah, aku harus berusaha untuk memiliki semua ilmunya," berkata Wiradana di dalam hatinya. 

Untuk sejenak, bilik itu dicengkam oleh keheningan. Ki Gede yang terbaring itu menatap langit-langit di atas pembaringannya dengan kegelisahan yang menghentak-hentak di dadanya. Namun kemudian, Ki Gede itu pun berhasil menguasai perasaannya. Seperti yang dikatakan, akhirnya ia masih juga mengucapkan syukur, bahwa ia masih tetap hidup dan mendapat kesempatan untuk membuat anak laki-lakinya menjadi lebih baik dan menuntunnya dalam memimpin Tanah Perdikan Sembojan yang besar itu 

 

 Banner 10000004

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 022

Karena itu, maka yang mula-mula memecahkan keheningan itu adalah Ki Gede sendiri, "Kiai. Jika demikian maka aku akan tetap mengharap, agar untuk sementara Kiai tetap berada di Tanah Perdikan ini. Selain dengan demikian Kiai dapat menolong keadaanku, mungkin Kiai akan dapat menolong aku pula, menyempurnakan ilmu Wiradana." 
"Maksud Ki Gede ilmu kanuragan?" bertanya Kiai Badra. 
"Ya," jawab Ki Gede.

Tetapi Kiai Badra itu pun menggeleng. Katanya, "Maaf Ki. Aku sama sekali tidak bersentuhan dengan ilmu kanuragan." 

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. 

Dengan demikian, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, "Sudahlah Ki Gede, silakan beristirahat sebaik-baiknya. Aku pun akan beristirahat di gandok. Cucuku kini telah berada disini pula." 

"Syukurlah Kiai," jawab Ki Gede. "Mudah-mudahan ia kerasan tinggal disini." 

Demikianlah, Kiai Badra itu pun meninggalkan Ki Gede berbaring di dalam biliknya. Wiradana yang mengikutinya dengan nada gelisah bertanya, "Apakah ayah benar-benar tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi dalam olah kanuragan?" 

"Bukan tidak dapat berbuat apa-apa lagi, ngger. Tetapi kemampuan wadagnya akan sangat terbatas. Karena itu, maka aku ingin mempersilakan angger untuk mengambil alih segala sesuatunya. Dengan demikian yang akan memperingan perasaan ayah angger, angger memiliki kemampuan sebagaimana ayah angger, maka Ki Gede tentu akan merasa seakan-akan kemampuan dirinya telah pulih kembali, meskipun dengan mempergunakan harapannya," jawab Kiai Badra. 

Wiradana mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Badra. Namun akan berarti ia harus bekerja sangat berat. 

"Angger Wiradana," berkata Kiai Badra kemudian, "Dalam keadaan wajar, bukankah Ki Gede pada satu saat tentu akan meninggalkan angger juga? Ki Gede tentu akan meninggalkan Tanah Perdikan ini pula untuk selama-lamanya? Bukankah dalam keadaan yang demikian angger juga yang harus bangkit untuk menerima semua tugas dan kewajiban Ki Gede atas Tanah Perdikan ini?" 

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, "Aku mengerti Kiai." 

"Nah. Agaknya segalanya memang harus dipercepat. Tetapi seperti ayah angger, maka angger dapat bersyukur, sementara ini ayah masih dapat menuntut angger. Baik dalam olah kanuragan, maupun dalam memimpin Tanah Perdikan ini." 

"Ya, ya Kiai," jawab Wiradana. "Aku akan mencobanya." 

"Angger tentu akan dapat melakukannya," berkata Kiai Badra sambil tersenyum. "Bukankah sekarang angger sudah memiliki modal untuk itu. Angger sudah memiliki kemampuan dalam olah kanuragan, sementara itu angger pun telah mulai ikut dalam mengatur pemerintahan di Tanah Perdikan ini." 

Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi yang terbayang adalah beban yang akan diletakkan dipundaknya. 

Demikianlah, maka dari hari ke hari Kiai Badra masih berusaha untuk berbuat sesuatu atas Ki Gede. Namun kemampuannya memang terbatas sebagaimana orang lain dalam keterbatasannya masing-masing. 

Karena itu, Kiai Badra tidak dapat berbuat apa-apa juga atas kemungkinan yang buruk pada anggota badan Ki Gede Sembojan. Namun setidak-tidaknya Kiai Badra akan dapat mengurangi kemungkinan kelumpuhan mutlak. 

Namun dalam pada itu, ternyata para pengikut Kalamerta yang kehilangan pemimpinnya sudah tidak sabar lagi. Mereka benar-benar sudah siap untuk menyerang Tanah Perdikan Sembojan. 

(Bersambung)-m

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 023

TETAPI orang yang bertubuh tinggi kekar yang memimpin gerombolan Kalamerta itu cukup cerdik. Ia tidak akan melawan seluruh kekuatan Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka ia telah membuat rencana sebaik-baiknya. Gerombolan Kalamerta akan menghancurkan padukuhan demi padukuhan.

Tetapi yang terjadi adalah tidak seperti yang dikehendaki oleh orang bertubuh tinggi itu. Adalah satu kecelakaan bahwa Wiradana sendiri yang kebetulan berada disebuah kedai itu dalam pasar yang ramai telah melihat orang yang agak mencurigakan. Dua orang yang bertubuh besar dan berwajah keras. Tingkah laku mereka sama sekali tidak mencerminkan tingkah laku orang-orang Sembojan atau Kademangan disekitarnya.

Tetapi Wiradana tidak tergesa-gesa bertindak atas mereka. Bahkan Wiradana berusaha untuk dapat duduk didekat mereka dan mulai bercakap-cakap. 

“Apakah Ki Sanak orang Sembojan?” bertanya Wiradana. 

“Kau orang mana?” salah seorang dari keduanya bertanya. 

“Aku orang Keduwung,” jawab Wiradana. 

“Kenapa kau sampai ke Sembojan?” bertanya orang itu. 

“Aku seorang pedagang wesi aji,” jawab Wiradana yang kemudian memesan tuak. 

“Beri aku tuak,” minta Wiradana. 

Pemiliki warung itu heran. Wiradana tidak pernah memesan tuak. Tetapi dengan matanya Wiradana sempat memberi isyarat, sehingga pemilik warung itu pun kemudian memberikan sebumbung tuak aren yang keras. 

“He, kau pernah minum tuak?” bertanya Wiradana. 

Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Tuak adalah jenis minuman yang sangat menarik bagi mereka. Tetapi sudah beberapa lama mereka tidak sempat minum tuak, karena selama mereka berada di Tanah Perdikan Sembojan, mereka tidak mendapat kesempatan untuk membelinya. Selain mereka belum tahu dimana mereka mendapatkan, juga uang yang mereka bahwa memang sangat terbatas. Apalagi sebelum mereka berhasil mendapatkan sesuatu pemimpin mereka, Kalamerta sudah terbunuh. 

“Marilah,” berkata Wiradana, “Orang-orang Keduwung memang senang minum arak. Adalah perlambang laki-laki bagi siapa yang dapat menelan tuak paling banyak.” 

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi ketika Wiradana menuang tuak itu kebumbung-bumbung kecil, maka keduanya telah meneguknya sampai kering. 

Tetapi Wiradana tidak tinggal diam. Dengan cepat ia menuangkan lagi sehingga bumbung-bumbung itu menjadi penuh kembali. 

Agar orang-orang itu tidak menjadi curiga, maka Wiradana yang tidak terbiasa minum tuak itu pun telah membasahi mulutnya dengan tuak pula. Bahkan ia pun pura-pura telah meneguk, beberapa bumbung pula. 

Ternyata bahwa usaha Wiradana berhasil. Perlahan-lahan kedua orang itu mulai mabuk. Sementara itu Wiradana telah memerintahkan kepada pemilik kedai untuk menutup saja pintu kedainya untuk sementara. 

“Aku akan berbicara dengan mereka,” berkata Wiradana. 

Pemilik kedai itu tahu pasti niat Wiradana. Tetapi ia menurut saja apa yang diperintahkannya. 

Dalam keadaan mabuk itulah Wiradana bertanya kepada keduanya. Siapakah mereka sebenarnya. 

Tanpa dapat menahan dan mencegah diri mereka maka keduanya pun telah mengatakan rencana mereka. 

“Tanah Perdikan ini akan kami hancurkan,” berkata salah seorang dari mereka. 

“Bagus,” sahut Wiradana, “Aku akan membantu. Tetapi siapakah kalian?” 

“Kami adalah orang-orang yang harus mengamati perkembangan Tanah Perdikan ini. Kami adalah pengikut Kalamerta yang terbunuh. Dan kami sedang menyiapkan rencana untuk membalas dendam.” 

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 024

KEDUANYA juga mengatakan, bahwa mereka sedang mengamati padukuhan terpenting selain padukuhan induk di Tanah Perdikan itu. Padukuhan itulah yang akan menjadi sasaran pertama. Kemudian padukuhan-padukuhan yang lain pula.

Wiradana berhasil menyadap beberapa keterangan penting tentang kedua orang itu dan seluruh gerombolan Kalamerta. Tetapi ia bertindak cerdik. Wiradana tidak menangkap kedua orang itu. Tetapi ia membiarkan saja kedua orang itu kembali ke gerombolannya. 

Ketika keduanya mulai sadar, maka mereka berusaha untuk mengenali keadaan sekitarnya. Ternyata orang yang menyebut dirinya orang Keduwung itu sudah tidak ada ditempatnya. Yang ada adalah justru dua orang lain yang agaknya baru saja masuk. 

"He," salah seorang dari kedua orang yang mabuk itu memanggil pemilik kedai, "Dimana orang Keduwung itu?" 

"Orang itu telah dilempar keluar dari pasar oleh orang-orang disekitar warung ini," jawab pemilik kedai itu. 

"Kenapa?" bertanya orang yang baru sadar itu. 

"Orang itu mabuk. Seperti juga kalian. Tetapi kalian berdua langsung saja tidur, meskipun cukup lama sehingga pasar ini sudah sepi, jawab pemilik kedai itu. Tetapi orang Keduwang itu akan mengamuk. Hampir saja warung ini akan menjadi berantakan karena ulahnya." 

Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika mereka menengok keluar, ternyata pasar sudah sepi. Matahari pun telah melampaui titik puncak dilangit. 

"Agaknya aku cukup lama tidur disini," gumam salah seorang dari kedua orang yang mabuk itu. 

"Ya," jawab pemilik kedai, "Kalian berdua telah mempergunakan dua dingklik di warung ini, sehingga orang-orang lain yang akan membeli makanan di warung ini tidak mendapat tempat selain pada satu dingklik disebelah." 

Orang yang masih sedikit pusing itu termangu-mangu. Namun terloncat pula kata-katanya, "Kami minta maaf. Tetapi orang Keduwung itu memang gila. Ia telah membuat aku mabuk, meski dirinya sendiri juga mabuk." 

"Bahkan nampaknya orang itu berbahaya," sahut pemilik kedai. 

"Kami minta diri," berkata salah seorang dari kedua orang berwajah kasar itu, "Biarlah harga tuak itu dibayar oleh orang Keduwung itu jika ia datang kemari." 

Pemilik kedai itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, "Jadi aku harus menunggu orang Kademangan itu?" 

"Bukankah ia yang memesan?" desis yang lain. 

"Ya. Ya," jawab pemilik warung itu, "Biarlah aku bertanya kepadanya. Ia sering datang kemari di hari pasaran. 

Kedua orang itu pun kemudian meninggalkan kedai itu. Kepala mereka masih terasa pening. Namun salah seorang dari mereka ber0kata, "Untunglah kami langsung tertidur ketika kami menjadi mabuk, sehingga kami tidak berbicara tentang rencana yang akan kami lakukan atas Tanah Perdikan ini." 

"Tetapi orang Keduwung itu memang orang gila," geram yang lain. "Untunglah bahwa ia pun mabuk dan bahkan dilemparkan keluar pasar. Jika ia memancing persoalan, dalam keadaan mabuk, kami pun akan dapat juga berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya, sementara kami sedang mengemban tugas rahasia." 

Kawannya tidak menjawab. Tetapi keduanya merasa beruntung, bahwa tidak seorang pun yang mendengar sesuatu dari mulut mereka. 

"Jika kami mengungkapkan rahasia kami, maka kami tentu sudah ditangkap oleh orang-orang Sembojan," berkata mereka di dalam hati. 

Namun dalam pada itu, segala rahasia itu telah didengar oleh Wiradana. Bahkan kemudian telah dilaporkannya kepada ayahnya yang masih saja terbaring di pembaringannya. 

"Jadi kedua orang itu kau biarkan saja?" bertanya ayahnya.


SURAMNYA BAYANG-BAYANG 025

“Ya ayah. Dengan demikian mereka akan merasa bahwa rahasia mereka masih belum kita ketahui,” jawab Wiradana.

“Bagus. Kau memang cerdik. Jika demikian, maka siapkan para pengawal. Menilik sikap mereka yang ingin menghancurkan padukuhan demi padukuhan, kekuatan mereka tidak akan mengimbangi seluruh kekuatan padukuhan-padukuhan Sembojan jika bergabung. Karena itu, jangan menunggu. Kalian yang harus pergi, kepada mereka, dengan mengerahkan segenap kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini.” 

“Baik ayah. Menjelang fajar kami akan berangkat. Tepat pada saat matahari terbit kami akan menghancurkan mereka dan membebaskan Sembojan dari kemungkinan yang paling buruk,” desis Wiradana. 

“Berhati-hatilah Wiradana. Ayah tidak dapat menyertaimu. Mudah-mudahan kau berhasil. Sebenarnyalah Tanah Perdikan ini selanjutnya akan banyak tergantung kepadamu,” berkata Ki Gede kemudian. 

Wiradana pun kemudian telah minta diri kepada ayahnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya, serta mohon doa restu, agar usahanya benar-benar akan berhasil. 

Namun dalam pada itu, Wiradana telah mengajak Kiai Badra dan Gandar untuk ikut pula bersama pasukan itu. 

“Kiai tidak usah ikut bertempur,” berkata Wiradana. “Tetapi jika terjadi kesulitan yang gawat pada anak-anak Sembojan, Kiai akan dapat menolongnya dengan cepat tanpa menunggu membawa mereka kembali ke padukuhan induk ini.” 

“Tetapi aku akan menjadi ketakutan,” berkata Kiai Badra. “Pertempuran tentu akan sangat mengerikan.” 

“Sepuluh orang akan menjadi pelindung Kiai dan Gandar. Mereka tidak akan beranjak dari sisi Kiai apapun yang akan terjadi di peperangan itu,” jawab Wiradana. 

Akhirnya Kiai Badra tidak menolak. Namun demikian, ada masalah yang harus diatasinya. Mula-mula cucunya berkeberatan ditinggalkan sendiri oleh kakeknya. Tetapi akhirnya cucu perempuannya itu harus melepaskan Kiai Badra pergi. 

Demikianlah, setelah semuanya dipersiapkan sebaik-baiknya tanpa banyak memberikan kesan yang mungkin dapat dilihat oleh pengamat yang dikirim oleh para pengikut Kalamerta, maka Wiradana pun menentukan, menjelang fajar di hari berikutnya mereka akan berangkat. 

Sesuai dengan keterangan kedua pengikut Kalamerta di dalam mabuknya, mereka telah bersembunyi di hutan yang tidak terlalu besar yang terpisahkan dari padukuhan di ujung Tanah Perdikan oleh bulak persawahan dan padang perdu yang gersang. 

“Kita akan memasuki hutan itu disaat langit mulai menjadi merah. Kita akan menyerang mereka tepat pada saat matahari terbit,” berkata Wiradana kepada para pemimpin pengawal, “Aku sudah mendapat gambaran, dimana mereka membuat sarang. Dalam mabuknya kedua orang itu telah memberikan petunjuk agak terperinci dengan ciri-ciri yang mudah dikenal. Kita, anak-anak Sembojan tentu mengenal hutan itu lebih baik dari para pengikut Kalamerta. Kita sering bermain-main di hutan semasa kecil. Menggembala di padang rumput dan mencari kayu bakar di pinggir hutan itu pula.” 
(Bersambung)-m




 


blue695fpcgi1_468x60.gif

  

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 026

DENGAN tekad yang bulat untuk menyelamatkan Tanah Perdikan mereka, maka anak-anak muda Sembojan dan para pengawal yang berpengalaman telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bukan saja kesiapan lahir, tetapi juga kesiapan batin.

“Yang ragu-ragu, tidak usah ikut,” berkata Wiradana. 

Tetapi tidak ada seorang pun yang mengundurkan diri. Mereka semuanya sudah bertekad untuk menghancurkan para pengikut Kalamerta itu lebih dahulu sebelum mereka justru menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan. 

Menjelang keberangkatan pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu, maka mereka telah berusaha untuk dapat beristirahat sebaik-baiknya, sehingga jika saatnya tiba, mereka akan dapat mempergunakan tenaga mereka sepenuhnya. 

Sebagaimana mereka merencanakan, maka menjelang fajar pasukan Tanah Perdikan Sembojan sudah siap. Sementara itu telah terjadi kesibukan pula di dapur Ki Gede dan dibeberapa tempat yang lain untuk mempersiapkan makan pagi bagi mereka yang akan pergi ke hutan disebelah padang perdu. 

Baru setelah segala persiapan tidak mengecewakan, maka Wiradana itu pun minta diri kepada ayahnya dipembaringannya. 

“Sebentar lagi, langit akan menjadi merah ayah,” berkata Wiradana. “Kami akan berangkat. Sebelum matahari terbit, kami harus sudah mengepung sarang gerombolan Kalamerta itu dan kemudian menghancurkannya.” 

“Pergilah. Berhati-hatilah menghadapi gerombolan itu,” pesan ayahnya. 

Demikianlah, sejenak kemudian maka sebuah iring-iringan yang panjang meninggalkan rumah Ki Gede Sembojan. Sementara kelompok yang lain telah berangkat dari banjar dan beberapa kelompok kecil dari padukuhan-padukuhan yang lain pula. Mereka telah menentukan satu tempat di sebuah pategalan, di pinggir padang perdu, untuk berkumpul sebelum mereka menyeberangi padang itu. 

Dengan isyarat kentongan dalam nada yang tidak mencurigakan, maka kelompok-kelompok itu tahu pasti, kapan mereka harus berangkat. Karena itu, ketika mereka mendengar kentongan dalam nada daramuluk ganda, maka mereka pun segera menuju ketempat yang telah ditentukan. 

Ternyata segalanya berlangsung sebagaimana direncanakan. Pada saat hari masih gelap, meskipun bayangan fajar telah nampak di langit, pasukan Tanah Perdikan yang cukup besar itu pun telah menyeberangi padang perdu. Untuk tidak menarik perhatian, seandainya secara kebetulan para pengikut Kalamerta yang mengawasi padang perdu itu, maka mereka telah berpencar. Dengan sangat hati-hati mereka berusaha untuk tetap berlindung oleh gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh disana sini di padang itu. 

Demikian pasukan itu sampai ketepi hutan, maka sebagaimana telah di atur oleh Wiradana, pasukan itu pun segera berpencar. Meskipun hari masih tetap gelap, tetapi mereka harus menemukan ciri-ciri dari arah yang harus mereka lalui. 

Meskipun gerak pasukan itu menjadi lamban, tetapi kelompok-kelompok yang lebih kecil telah mencapai tempat-tempat yang sudah ditentukan. Sebenarnyalah, mereka menemukan apa yang dikatakan oleh Wiradana. Mereka telah menemukan gumuk-gumuk kecil disatu arah, sementara yang lain menemukan sebatang pohon raksasa yang dahannya telah patah di arah yang lain. 

Dengan demikian, maka pasukan itu merasa, bahwa mereka telah menempatkan diri di tempat yang benar. 

Yang harus mereka lakukan kemudian adalah menunggu saat matahari terbit yang akan mereka pergunakan sebagai ancar-ancar untuk mulai bergerak. 

 

 

 VirusAlert_468x60


 

 

 affinity468x60_7

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG 027

Ternyata bahwa waktu yang tidak panjang itu terasa sangat menegangkan. Disela-sela pepohonan hutan yang tidak begitu lebat, mereka melihat langit menjadi semakin cerah. Sementara itu, lima orang di antara mereka menunggu dipinggir hutan, mengamati langit yang mulai dibayangi oleh cahaya matahari.

“Hanya tinggal menunggu sekejap lagi,” desis salah seorang di antara mereka. 

“Ya. Lihat. Bayangan itu mulai nampak,” sahut yang lain.

“Nah, sekarang,” terdengar orang tertua di antara mereka memberi aba-aba. 

Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terdengar suara kentongan kecil yang dibawa oleh seorang dari mereka. Suara kentongan yang bernada tinggi itu telah menyusup di antara pepohonan dan dedaunan. Suaranya bergema memecah keheningan pagi di hutan yang sepi. 

Anak-anak muda Sembojan dan para pengawal yang tegang, tiba-tiba saja telah bangkit. Mereka segera menarik senjata-senjata mereka dari sarungnya. Dengan jantung yang serasa berdegup semakin cepat mereka menunggu pemimpin-pemimpin kelompok mereka memberikan aba-aba. 

Demikianlah sejenak kemudian aba-abapun telah mengumandang di dalam hutan itu. Berbareng dengan itu, maka anak-anak muda Sembojan dan para pengawal itu pun telah dengan cepat melangkah maju ke sasaran. 

Sebagaimana digambarkan oleh Wiradana, maka di dalam hutan itu memang terdapat beberapa buah gubug yang terpencar. Gubug yang dihuni oleh gerombolan Kalamerta yang ganas yang ditakuti oleh banyak orang dan telah membuat gelisah di beberapa tempat. 

Kedatangan orang-orang Sembojan itu memang mengejutkan. Orang-orang yang berada di dalam gubug-gubug itu sama sekali tidak menyangka, bahwa justru orang-orang Sembojanlah yang telah menyerang mereka lebih dahulu. Karena itu, beberapa orang telah terbangun dan mendengar suara kentongan dan kemudian teriakan aba-aba para pemimpin kelompok, telah berteriak-teriak pula di dalam gubug mereka. 

“Bangun,” teriak orang-orang yang mendengar kedatangan serangan yang tiba-tiba itu, “Cepat bangun jika kalian tidak ingin dibantai di pembaringan.” 

Para pengikut gerombolan Kalamerta itu pun menjadi terkejut karenanya. Beberapa orang yang dengan tergesa-gesa bangkit dan tidak segera dapat menanggapi keadaan, sehingga seorang di antara mereka sempat bertanya, “Ada apa?” 

“Cepat ambil senjatamu sebelum dipenggal kepalamu,” jawab kawannya. 

Demikianlah, gubug-gubug itu pun menjadi riuh. Orang-orang yang ada di dalam gubug itu pun serentak menggapai senjata mereka tanpa dapat membenahi diri. Dengan tergesa-gesa mereka berloncatan keluar dari gubug-gubug mereka menyongsong kedatangan anak-anak muda Sembojan. 

Tetapi anak-anak muda Sembojan sudah terlalu dekat, sehingga karena itu, maka rasa-rasanya mereka menjadi kebingungan. Anak-anak muda itu datang dari segala penjuru, seakan-akan bermunculan dari setiap batang pohon disekitar gubug-gubug mereka. 

Tetapi para pengikut Kalamerta adalah orang-orang yang penuh dengan pengalaman. Hidup mereka selalu diwarnai oleh kekerasan, sehingga karena itu, maka mereka pun segera menyesuaikan diri dengan keadaan yang mereka hadapi. 

Tiba-tiba saja para pengikut Kalamerta itu pun berteriak nyaring, menyambut kedatangan anak-anak muda Sembojan dan para pengawal dengan senjata mereka. 

Ketika kedua belah pihak berteriak, maka suasana pun menjadi sangat gaduh. Namun segera senjata pun berdentangan. 

Anak-anak Sembojan dan para pengawal Tanah Perdikan itu mempunyai kesempatan dan peluang yang lebih baik dari lawannya yang baru saja bangkit dari tidurnya. Bahkan masih ada di antara mereka yang meloncat dari pembaringan dan berlari keluar sambil mengusap mata yang masih kabur. 
Rabu, 03-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 028

 SELAIN kesempatan yang lebih baik, jumlah anak-anak muda dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan adalah jauh lebih banyak dari jumlah para perampok yang tinggal di gubug-gubug itu. Orang yang bertubuh tinggi dan kekar yang telah mengambil alih pimpinan gerombolan itu mengumpat-umpat dengan kasar. Ia pun tidak menyangka sama sekali, bahwa orang-orang Sembojan itu mengetahui persembunyian mereka dan bahkan telah datang menyerang dengan kekuatan yang tidak dapat diimbangi.

 Kemarahan yang mencengkam jantungnya telah membuatnya bagaikan seekor harimau yang kelaparan. Senjatanya sebuah canggah bertangkai pendek menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. 

Namun sebenarnyalah lawan memang terlalu banyak. Sehingga bagi para perampok itu, hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk dapat menyelamatkan diri. 

Dalam pada itu, Wiradana yang berdiri tegak sambil mengamati seluruh medan itu masih juga sempat berteriak, “Hancurkan mereka. Gerombolan itu adalah gerombolan yang paling ganas yang pernah disebut namanya. Ayah sudah membunuh pemimpinnya, sehingga karena itu, maka kalian harus menghancurkan sisanya.” 

Anak-anak muda dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan ternyata berbuat cepat dan sebaik-baiknya. Perlawanan orang-orang yang bersarang digubug itu tidak terlalu berarti. Satu di antara mereka mengamuk dengan garangnya. Tetapi untuk menghadapi orang-orang yang demikian, maka dua atau tiga orang anak muda dan pengawal telah menghadapinya bersama-sama. 

Terpisah dari pertempuran itu, Kiai Badra dan Gandar mengikuti hiruk pikuk itu dengan jantung yang berdebaran. Sepuluh orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan menunggui mereka dengan senjata siap ditangan. Jika keadaan menjadi gawat, maka sepuluh orang itu telah siap untuk bertempur melindungi Kiai Badra yang hadir di pertempuran itu sambil membawa obat-obat yang mungkin diperlukan. 

Sementara itu Wiradana masih sibuk meneriakkan aba-aba. Namun ketika ia melihat perlawanan para pengikut Kalamerta itu menjadi semakin lemah, maka ia pun kemudian berdiri sambil tertolak pinggang. 

Di bibirnya membayang sebuah senyuman, sementara itu terdengar ia berdesis yang hanya dapat didengarnya sendiri, “Ayah, aku berhasil menghancurkan gerombolan yang paling garang yang pernah disebut namanya di tlatah Pajang.” 

Sebenarnyalah pada saat itu, anak-anak muda dan pengawal Sembojan benar-benar telah menguasai keadaan. Gerombolan Kalamerta tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mempertahankan dirinya. Bahkan setiap orang di antara mereka, tidak mempunyai peluang untuk melindungi dirinya sendiri. 

Karena itu, maka orang-orang yang tersisa di antara mereka, tidak dapat berbuat lain kecuali melarikan diri. Selagi ada kesempatan, tanpa menghiraukan kawan-kawan mereka, maka para pengikut Kalamerta itu telah bercerai berai untuk mencari hidup masing-masing. 

Tetapi anak-anak muda dan para pengawal Sembojan tidak melepaskan mereka begitu saja. Beberapa orang yang bernasib buruk, telah kehilangan kesempatan sama sekali ketika punggung mereka tertembus ujung tombak. 

Namun akhirnya pertempuran yang terhitung singkat itu segera selesai. Sementara matahari pun sudah memanjat semakin tinggi. 

Yang tinggal kemudian adalah tubuh-tubuh yang terkapar berlumuran darah. 

“Kumpulkan kawan-kawan kita yang terluka,” teriak Wiradana kemudian. 

Ternyata bahwa selain yang luka-luka, ada juga empat orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang gugur dalam pertempuran itu. 

Wiradana merenungi kedua sosok mayat itu dengan wajah yang murung. Sambil menghentakkan tangannya ia menggeram, “Seharusnya semua orang di dalam gerombolan itu dibunuh saja”. (Bersambung)-m
Kamis, 04-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 029

 Anak-anak muda yang kemudian mengerumuni kawan mereka yang gugur itu pun menjadi marah pula. Namun orang-orang Kalamerta itu sudah benar-benar dihancurkannya. Yang tersisa telah berusaha untuk menyelamatkan dirinya.

 “Panggil Kiai Badra,” gumam Wiradana. 

Sejenak kemudian maka Kiai Badra pun telah berada di antara anak-anak muda Sembojan. Dengan tekun dibantu oleh Gandar dan anak-anak muda itu sendiri. Kiai Badra berusaha untuk mengobati mereka yang terluka. Terutama mereka yang terluka parah. 

Ketika tugas itu telah dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka ia pun mulai menanyakan tentang orang-orang dari gerombolan Kalamerta. Katanya, “Aku akan mengobati mereka yang terluka pula.” 

Wiradana menjadi heran. Sambil berdiri bertolak pinggang ia bertanya, “Apakah gunanya Kiai?” 

“Bukankan menjadi kewajibanku untuk mengobati setiap orang yang terluka?” jawab Kiai Badra. “Bagiku tidak ada batasnya kawan atau lawan di medan perang. Semua orang yang terluka memang harus mendapat pengobatan.” 

Wiradana mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berpaling kepada anak-anak muda Sembojan. Dengan wajah yang aneh ia memandang anak-anak muda itu seorang demi seorang. 

Tiba-tiba saja terdengar suaranya meledak. Wiradana dan anak-anak muda Sebojan itu tertawa berkepanjangan, sehingga Kiai Badra menjadi heran. 

“Kenapa kalian tertawa?” bertanya Kiai Badra. 

“Sikap Kiai memang aneh,” jawab Wiradana, “Mereka adalah orang-orang yang garang yang sangat berbahaya bagi pergaulan sesama. Bagi mereka, tidak ada jalan yang lebih baik daripada jalan ke neraka. Seandainya Kiai menolongnya sekarang, maka hal itu akan sama artinya bahwa Kiai telah ikut terlibat kedalam satu langkah yang akan dapat mengakibatkan korban yang berjatuhan dikemudian hari. Tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan mungkin lebih dari itu semua.” 

Kiai Badra termangu-mangu. Ia tidak begitu mengerti jalan pikiran anak-anak muda Sem-bojan itu sebagaimana anak-anak muda itu juga tidak mengerti jalan pikiran Kiai Badra. 

Namun ternyata bahwa tidak ada usaha sama sekali untuk menolong orang-orang terluka parah pada gerombolan Kalamerta. 

“Kiai,” berkata Wiradana kemudian, “Kita akan segera meninggalkan tempat ini. Kita akan kembali ke Sembojan.” 

“Bagaimana dengan orang-orang itu? Apakah kita tidak akan menguburkannya?” bertanya Kiai Badra. 

“Jangan cemas. Kawan-kawan mereka tentu akan kembali. Mereka akan mengubur kawan-kawan mereka yang terbunuh dipertempuran ini. Meskipun aku sangsi, apakah mereka mau membawa kawan-kawan mereka yang terluka parah,” jawab Wiradana. 

Sungguh satu sikap yang sulit untuk diterima. Tetapi Kiai Badra tidak dapat mencegah mereka. Sejenak kemudian orang-orang Sembojan itu pun terlah bersiap-siap untuk kembali sambil memapah kawan-kawan mereka yang terluka serta membawa dua sosok mayat yang membuat anak-anak muda Sembojan semakin marah kepada orang-orang dalam gerombolan Kalamerta. 

Demikianlah, maka iring-iringan yang panjang pun kemudian keluar dari hutan yang tidak begitu lebat menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Mereka telah membawa hasil yang gemilang sekaligus membawa empat sosok mayat yang telah gugur dan beberapa kawan mereka yang terluka. Namun kehadiran Kiai Badra di hutan itu memberikan banyak pertolongan kepada anak-anak muda yang terluka, sehingga mereka tidak terlambat mendapatkan perawatan. 

Kehadiran pasukan Sembojan itu disambut dengan gembira oleh keluarga mereka. Namun di antara kegembiraan dan kebanggaan atas kemenangan mereka atas segerombolan berandal yang ditakuti, beberapa orang telah menangisi keluarganya yang terpaksa meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. (Bersambung)-m

 


 Jumat, 05-07-2002
SH Mintardja - Suramnya Bayang-Bayang : SURAMNYA BAYANG-BAYANG 030

 “Setiap usaha yang besar tentu memerlukan pengorbanan,” berkata Wiradana yang berusaha menghibur keluarga yang kehilangan itu. “Seluruh Tanah Perdikan akan tetap mengenang jasa-jasanya. Pengorbanan kalian tidak sia-sia. Ternyata kita telah menghancurkan sebuah gerombolan yang paling ditakuti di seluruh Pajang.”


Orang-orang yang berduka itu mencoba untuk mengerti. Tetapi sebagian dari mereka masih saja meratapi kematian keluarganya. 

“Jika harus jatuh korban, kenapa korban itu harus salah seorang dari kami,” berkata salah seorang dari mereka didalam hati, “Kenapa bukan orang lain.” 

Dengan demikian, maka bagaimana pun juga kebanggaan menghentak-hentak di dalam dada, namun Tanah Perdikan Sembojan memang harus berkabung. 

Dalam pada itu, maka Wiradana pun telah menghadap ayahnya pula. Dengan bangga ia pun melaporkan kemenangan yang telah didapatkannya di hutan yang tidak begitu lebat itu. 

“Sebagian besar dari mereka memang telah kami hancurkan,” lapor Wiradana. “Kami datang dengan tiba-tiba. Orang-orang di dalam gerombolan itu tidak menyangka, sehingga mereka tidak sempat memberikan perlawanan sebaik-baiknya. Meskipun demikian ada empat orang di antara kami yang terbunuh. Sedangkan beberapa orang lain telah terluka.” 

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya kau memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Karena itu, maka apapun yang terjadi atasku, aku tidak akan berkecil hati. Aku yakin bahwa Tanah Perdikan ini akan justru menjadi semakin berkembang.” 

“Semoga ayah,” jawab Wiradana. “Kami, anak-anak muda Sembojan akan berusaha untuk tidak mengecewakan ayah.” 

“Terima kasih Wiradana,” gumam ayahnya. Lalu, “Bagaimana dengan mereka yang terluka?” 

“Kiai Badra yang kebetulan ada di Tanah Perdikan ini telah sangat membantu. Ia ikut pergi ke hutan itu dan menyiapkan pengobatan dengan segera, sehingga dengan demikian tidak terjadi seorang anak yang terluka kehilangan kesempatan untuk sembuh karena keterlambatan pengobatan,” jawab Wiradana. 

Ayahnya mengangguk-angguk. Nampak kepuasan membayang diwajah orang yang sedang sakit itu. 

Dalam pada itu, Ki Gede itu pun kemudian bertanya pula, “Dimana Kiai Badra sekarang?” 

“Ia berada digandok,” jawab Wiradana. 

Ki Gede tidak bertanya lagi. Bahkan Wiradana pun kemudian telah keluar dari bilik ayahnya dengan dada yang berkembang atas keberhasilannya. 

Namun hampir di luar sadarnya, maka tiba-tiba saja ia telah singgah di gandok. Ketika ia mengetuk pintu, yang membuka pintu gandok adalah seorang gadis yang sedang meningkat dewasa. Demikian pintu dibuka, maka gadis itu pun berdiri membeku sambil menundukkan kepalanya. (Bersambung)-m

 

 

 



 Buy 1 Get 1 FREE!!!

 Buy The Lord of the Rings - The Fellowship of the Ring at AllPosters.com
Buy it at AllPosters.com

 

 


Langsung ke KR

PREVIOUS | NEXT

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 14/VI/2002

 

 

Read My Dreambook Dreambook Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 & (021) 5601215
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant