|
|
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Selasa, 25 Maret
2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 282
 |
Tetapi penginapan itu nampaknya sepi.
Tidak ada seorang pun yang kelihatan.
Namun pendengaran Ki Wiradana yang tajam, mendengar desah nafas yang
saling memburu di dalam sebuah bilik di belakang rumah itu. Dengan
cepat ia menuju ke pintu bilik itu. Sejenak ia mendengarkan. Kemudian
ia melangkah selangkah surut sambil berteriak, Ayo keluar. Siapa yang
ada di dalam? Aku Wiradana pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini,
memerintahkan kepada kalian.
Sejenak tidak terdengar jawaban. Namun kemudian terdengar lagi deru
nafas yang saling memburu.
Cepat, teriak Wiradana.
Baru kemudian terdengar jawaban dari dalam, Pintunya diselerak dari
luar.
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Baru kemudian ia melihat bahwa
pintu bilik itu memang diselarak dari luar. Karena itu, maka dengan
serta merta ia berteriak kepada para pengawal, Buka pintu itu.
Seorang pengawal telah melangkah maju dengan senjata telanjang di
tangan. Perlahan-lahan ia membuka selarak pintu, sementara kawannya
telah bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Namun ketika pintu itu terbuka, ia melihat beberapa orang yang berdiri
berdesakan di dalam bilik itu. Laki-laki dan perempuan.
Apa yang terjadi atas kalian? bertanya Ki Wiradana.
Beberapa orang mencoba menjelaskan. Tetapi karena mereka berbicara
bersama dan tidak berurutan, maka sulit untuk diketahui maksudnya.
Jangan berbicara beramai-ramai. Seorang saja di antara kalian, bentak
Ki Wiradana.
Seorang yang berambut mulai beruban maju selangkah. Tetapi yang
dikatakan pertama kali, Saudagar itu terluka parah. Barang-barangnya
telah dirampok orang.
Wiradana menjadi tegang. Tiba-tiba saja ia telah menyibakkan
orang-orang itu.
Ketika ia memasuki bilik yang tidak begitu luas itu ia melihat
saudagar yang terluka itu terbaring di pembaringannya.
Wiradana memandangi tubuh yang terbaring itu. Dari lukanya masih
mengalir darah. Karena itu, maka ia pun kemudian berteriak kepada
pengawal-pengawalnya, Beri saudagar ini pertolongan. Setidak-tidaknya
usahakan agar darahnya tidak terlalu banyak mengalir sambil menunggu
orang yang akan dapat mengobatinya.
Dua orang pengawal segera mendekatinya. Dengan sekadar pengalaman,
maka keduanya telah berusaha untuk mengurangi darah yang mengalir.
Tetapi lukanya sebenarnya tidak terlalu parah, berkata salah seorang
di antara kedua pengawal itu.
Tetapi ia pingsan, jawab Ki Wiradana.
Mungkin oleh sebab lain. Selain luka senjata, mungkin lawannya telah
menyerangnya tanpa senjata. Agaknya bukan lukanya yang menyebabkan ia
pingsan, jawab pengawal itu.
Rawat orang itu sebaik-baiknya, berkata Wiradana kemudian.
Sementara itu Wiradana pun telah membawa orang yang rambutnya mulai
ubanan itu ke ruang dalam. Katanya, Coba ceritakan apa yang telah
terjadi?
Orang itu pun kemudian menceritakan apa yang diketahuinya. Dua orang
datang untuk merampok. Nampaknya semula saudagar itu merasa dirinya
mampu mempertahankan miliknya, namun ternyata ia dapat dikalahkan.
Pada saat terakhir, saudagar yang pingsan itu telah diangkat oleh
perampoknya dan dibaringkannya di pembaringan, sementara orang-orang
yang ada di penginapan itu dipaksanya untuk masuk dan berdesakan di
dalam bilik yang diselaraknya dari luar.
Gila, geram Wiradana. Tetapi apakah orang itu benar-benar berhasil
merampok barang-barang saudagar itu?
Kami kurang jelas. Tetapi kampil saudagar itu dibawanya. Mungkin
barang-barang saudagar itu ada di dalam kampil itu, jawab orang yang
berambut ubanan itu.
Ki Wiradana mengumpat. Namun tiba-tiba saja ia mendengar seorang
pengawal berkata, Saudagar itu telah sadarkan diri. Dengan
tergesa-gesa Wiradana kembali masuk ke dalam bilik sambil berkata,
Cari air.(Bersambung)-m. |
Rabu, 26
Maret 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 283
Ketika Wiradana berdiri disisi pembaringan,
saudagar ini memang sudah membuka matanya. Ketika dilihatnya Wiradana
yang mula-mula nampak kabur, namun yang kemudian menjadi jelas bahwa
yang berdiri itu benar-benar Wiradana, saudagar itu mengeluh.
Keparat itu telah lari, geramnya.
Ki Sanak telah pingsan, berkata Ki Wiradana.
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk sambil
berdesis, Ya. Aku telah pingsan.
Apakah usaha orang itu merampok Ki Sanak berhasil? bertanya Wiradana
kemudian.
Ayah Warsi yang mengaku saudagar itu termangu-mangu. Namun kemudian ia
justru bertanya, Apakah kampilku masih ada di bawah tikar?
Ki Wiradana memandang orang yang rambutnya sudah ubanan, yang
mengatakan bahwa kampil saudagar itu telah dibawa oleh perampok yang
melukainya itu.
Orang yang berambut ubanan itu kemudian maju mendekat sambil berkata,
Ki Sanak. Kampil itu telah dibawanya.
Gila, ayah Warsi tersentak bangun. Seolah-olah mendapat tenaga baru,
maka ia pun kemudian bangkit berdiri. Ternyata kampilnya yang berisi
barang-barang yang dikatakan dagangannya itu telah tidak ada.
Wajah ayah Warsi itu menegang. Namun kemudian ia pun tertunduk dengan
lemahnya. Luka-lukanya masih terasa pedih, sementara tengkuknya terasa
bagaikan membengkak. Namun ketika ia meraba tengkuk itu, ternyata
tidak apa-apa.
Orang itu tentu memukul tengkukku sehingga aku pingsan, berkata ayah
Warsi itu di dalam hatinya.
Namun barang-barangnya yang hilang itu membuat ayah Warsi menjadi
sangat marah. Tetapi ia harus menahan kemarahannya itu di dalam
dadanya. Orang yang mengaku perampok itu ternyata memang memiliki ilmu
yang lebih baik dari padanya, sehingga ia dapat dikalahkan. Sementara
itu agaknya Dampa pun tidak berdaya menghadapi lawannya.
Perampokan yang berani itu segera terdengar oleh semua orang di Tanah
Perdikan. Ketika Wiradana kemudian pulang ke rumahnya, maka berita itu
pun sangat mengejutkan Warsi.
Jadi saudagar itu telah dirampok? bertanya Warsi dengan gugup.
Ya. Saudagar itu dan kawannya mengalami luka-luka agak parah. Kampil
yang dibawanya telah dirampas oleh perampok-perampok itu. Ketika kami
datang karena suara kenthongan, ternyata perampok-perampoknya telah
meloloskan diri meskipun saat itu para pengawal sudah mengepung
penginapan itu, berkata Wiradana.
Bagaimana hal itu mungkin terjadi? suara Warsi agak meninggi. Bukankah
para pengawal sudah mengepungnya?
Ya. Tetapi ternyata kedua perampok itu memiliki ilmu yang tinggi.
Saudagar yang merasa dirinya dibekali ilmu itu, ternyata tidak mampu
bertahan, sehingga ia dan kawannya menjadi pingsan dan terluka parah,
jawab Wiradana.
Jantung Warsi terasa bagaikan terlepas dari tangkainya. Jika perampok
itu mampu mengalahkan ayahnya, maka perampok itu tentu bukan orang
kebanyakan.
Terasa tangan Warsi menjadi gemetar. Seandainya ia mendapat
kesempatan, maka perampok-perampok itu tentu akan dibunuhnya.
Pada suatu saat aku tidak boleh menyembunyikan kemampuanku lagi,
berkata Warsi di dalam hatinya. Namun Warsi tidak akan dapat dengan
segera berbuat demikian. Ia harus menjaga keadaan badannya, karena
ternyata Warsi pun telah mulai mengandung.
Sekilas Warsi merasa bahwa kandungannya itu ternyata telah
mengganggunya. Namun ketika kemudian ia merenung, maka ia pun
menyadari, bahwa ia harus melahirkan anak, karena dengan demikian maka
ia akan melahirkan seseorang yang kelak akan dapat menggantikan
kedudukan Wiradana.
Wiradana kemudian tidak menjadi penting lagi bagiku. Aku memang
mencintainya sebagai seorang suami. Tetapi ia tidak boleh menjadi
penghalang anakku kelak yang harus menggantikannya, berkata Warsi di
dalam hati.
Namun dalam pada itu, ia harus menaruh perhatian terhadap ayahnya yang
terluka. Karena itu, maka ia pun bertanya, Tetapi bagaimana dengan
saudagar yang terluka itu? Apakah ia sudah mendapat perawatan?(Bersambung)-m.
|
Kamis, 27 Maret 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 284
 |
Ya. Seorang yang ahli di dalam hal
obat-obatan telah dipanggil untuk mengobati saudagar itu serta
kawannya. Aku berjanji kepadanya untuk segera datang kembali
mengurusi barang-barangnya yang hilang setelah ia selesai mendapat
perawatan, berkata Wiradana.
Warsi mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, Kakang Wiradana, jika
kakang setuju tetapi segalanya tergantung kepada kakang. Aku
mengusulkan agar saudagar yang terluka itu biarlah bermalam di rumah
ini. Bukankah keduanya dapat bermalam di gandok? Dengan demikian kita
akan dapat mengawasi perkembangan kesehatannya. Adalah kebetulan bahwa
kedua orang itu menjadi tamu kita sehingga kita pun ikut bertanggung
jawab atas keselamatannya. Namun demikian, terserah kepada kakang
Wiradana.
Wiradana mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian ia berkata, Kenapa kau
tidak mengambil sikap seperti itu sebelum terjadi sesuatu atas orang
itu. Jika sejak semula kita memperlakukannya demikian, dengan
memberikan tempat bermalam di gandok, maka tidak akan terjadi hal
seperti itu.
Tetapi bukankah kita tidak tahu, bahwa hal seperti itu akan terjadi?
sahut Warsi. Semula kita menganggap bahwa Tanah Perdikan ini cukup
aman. Sementara itu, menilik sikapnya, Ki Saudagar itu pun agaknya
cukup percaya kepada diri sendiri.
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, Ya. Agaknya
memang demikian. Tetapi baiklah nanti aku akan kembali ke penginapan
itu dengan membawa pedati. Agaknya Ki Saudagar itu tidak akan dapat
menempuh perjalanan dengan berjalan kaki atau naik kuda karena
keadaannya.
Jika demikian, maka biarlah gandok sebelah kanan itu disiapkan bagi
penginapan kedua orang itu. Mudah-mudahan kita akan segera dapat
memecahkan teka-teki perampokan itu, berkata Warsi.
Tentu orang-orang dari keluarga Kalamerta, berkata Wiradana.
Jantung Warsi berdesir. Hampir di luar sadarnya ia menjawab, Jangan
terpancang kepada keluarga Kalamerta. Dengan demikian kita akan dapat
lengah. Jika ternyata ada pihak lain yang memanfaatkan tebaran
pandangan kita yang sempit, maka kita akan mengalami kesulitan.
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Sikap Warsi terasa agak lain.
Biasanya ia tidak pernah menentukan sikap apapun. Apalagi memotong
pendapatnya seperti itu.
Namun agaknya Warsi menyadari. Karena itu, dengan serta merta ia pun
berkata, Tetapi tentu kakang lebih mengetahui. Mungkin kakang tidak
senang melihat sikapku kali ini. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku sedang
bingung. Justru pada saat orang itu berkepentingan dengan aku, karena
aku ingin membeli salah satu di antara barang-barangnya.
Sudahlah, berkata Wiradana. Jangan bingung, nanti aku akan pergi ke
penginapan itu dengan membawa sebuah pedati. Sekarang agaknya saudagar
dan kawannya itu sedang dirawat.
Seterusnya mereka akan dapat dirawat disini, berkata Warsi.
Ya. Seterusnya ia akan dirawat disini, sahut Wiradana.
Demikianlah, maka Wiradana pun telah menyiapkan sebuah pedati,
sementara Warsi menyuruh seorang pelayannya untuk membersihkan gandok.
Di gandok itu nanti ayahnya yang disebut sebagai saudagar permata itu
akan bermalam dan mendapatkan perawatan sampai sembuh.
Mungkin orang yang merampoknya itu ingin membunuhnya pula. Tetapi
karena tergesa-gesa setelah para pengawal mengetahuinya dan dengan
pertanda kentongan pula, maka niat itu belum dapat dilakukannya,
berkata Wrasi di dalam hatinya.
Namun yang penting bagi Warsi kemudian adalah siapapun orang yang
ingin membunuh ayahnya itu. Atau jika ia sekadar perampok biasa, maka
siapa pula mereka. Perampok yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Biasanya perampok-perampok itu memang mempunyai sekadar ilmu. Tetapi
tidak akan mungkin dapat mengimbangi ilmu ayahnya.
Tetapi untuk sementara Warsi harus menyimpan persoalan-persoalan itu
di dalam hatinya. Seandainya ia tidak sedang mengandung, maka mungkin
sekali ia tidak dapat lagi menahan diri. Mungkin ia sendiri akan
menangani persoalan itu. (Bersambung)-m
|
Jumat, 28 Maret 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 285
 |
Namun seandainya demikian, maka ia
pun tidak akan mudah menentukan arah lari para perampok itu.
Demikianlah, maka malam berikutnya, saudagar dan seorang
temannya telah berada di rumah Ki Wiradana. Ternyata saudagar itu
selama di Tanah Perdikan Sembojan telah kehilangan semua barang
dagangannya, kecuali yang justru berada di tangan Warsi.
Ketika Warsi sempat berbicara dengan ayahnya itu tanpa Ki Wiradana, ia
mendapat penjelasan terperinci tentang orang-orang yang merampoknya.
Tetapi meskipun demikian Warsi tidak segera dapat menduga siapa yang
melakukannya.
“Sudahlah ayah,” berkata Warsi. “Bukankah barang-barang itu juga
barang-barang yang ayah ambil dari orang lain. Relakan saja ayah.
Besok ayah dapat mengambil gantinya.”
“Bukan saja tentang barang-barangnya yang hilang itu Warsi,” jawab
ayahnya. “Tetapi bahwa ada juga perampok yang mampu mengalahkan
anggota keluarga Kalamerta. Apakah dengan demikian berarti bahwa ada
gerombolan yang tersusun rapi dan dapat menggantikan kedudukan
gerombolan Kalamerta?”
Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku sependapat
ayah. Kita harus bergerak cepat. Gerombolan itu harus kita singkirkan.
Tetapi persoalannya bukan saja perampokan yang baru saja terjadi,
tetapi bahwa ada sekelompok orang yang membentuk serombongan
pertunjukan jalanan dengan seorang penari yang mirip sekali dengan
Nyai Wiradana yang telah terbunuh itu pun merupakan satu teka-teki.
Apalagi ternyata bahwa perempuan yang telah membunuh Iswari itu
nampaknya sekarang berani menentang kakang Wiradana. Semua itu
merupakan satu pertanda bahwa kita memang bersiap-siap menghadapi
segala kemungkinan.”
“Apa yang sudah dilakukan oleh Wiradana?” bertanya ayahnya.
“Kakang Wiradana telah menyusun satu kekuatan. Jika pada suatu saat
sikap orang-orang Tanah Perdikan Sembojan ini menjadi lain karena
langkah-langkah yang diambil kakang Wiradana tidak sesuai dengan
nurani mereka, maka kakang Wiradana sudah mempunyai kekuatan,”
berkata Warsi.
“Kau sendiri merupakan kekuatan yang tidak akan terlawan jika pada
suatu saat kau menyatakan pribadimu,” berkata ayahnya.
“Ya. Ayah. Tetapi aku harus menunggu untuk waktu tujuh atau delapan
bulan mendatang,” berkata Warsi.
“Kenapa?” bertanya ayahnya.
“Aku sedang mulai mengandung,” jawab Warsi.
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ya. Kau harus
menunggu selama itu. Bayi yang kau kandung adalah calon pewaris Tanah
Perdikan ini. Karena itu, maka bayi itu harus kau jaga baik-baik.”
“Kakang Wiradana belum mengetahuinya. Aku belum mengatakan
kepadanya. Tetapi dalam waktu dekat aku tidak dapat menyembunyikannya
lagi. Rasa-rasanya perut ini mulai menjadi mual dan terdorong untuk
muntah,” berkata Warsi.
“Kenapa tidak segera kau katakan?” bertanya ayahnya. “Hal itu
penting baginya. Ia akan merasa bahwa ia akan mendapat keturunan.”(Bersambung)-m. |
Sabtu, 29 Maret 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 286
 |
“Aku akan segera mengatakannya,” jawab
Warsi. Namun kemudian, “Tetapi sementara itu, Tanah Perdikan ini
harus mempunyai kekuatan yang dapat dipercaya. Nampaknya mulai terasa
gejolak di antara rakyat Sembojan sejak timbul ceritera tentang
seorang penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana yang telah
disingkirkan itu.”
Sebenarnyalah bahwa beberapa orang di Tanah Perdikan Sembojan
mulai bertanya-tanya tentang keadaan yang kemudian berkembang di Tanah
Perdikan itu. Sikap Wiradana ternyata jauh berbeda dengan sikap
ayahnya. Wiradana bukan saja terlalu mementingkan dirinya sendiri dan
istrinya, tetapi ia juga kadang-kadang bersikap kasar dan keras.
Kehadiran penari yang dianggap mirip sekali dengan Iswari itu memang
banyak menimbulkan pertanyaan dihati orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan. Apalagi ketika ternyata kemudian Tanah Perdikan itu sudah
mulai dijamah oleh tangan-tangan perampok yang berani, yang melakukan
perampokan dihadapan hidung para pengawal. Ternyata para pengawal yang
mengepung penginapan itu sama sekali tidak berdaya menangkap dua orang
perampok yang berhasil membawa barang-barang yang nilainya sangat
mahal dari saudagar emas berlian itu.
Dalam pada itu, seperti yang dinasihatkan oleh ayahnya, maka Warsi pun
kemudian telah mengatakan kepada Wiradana, bahwa dirinya sudah mulai
mengandung.
“Karena itu kakang,” berkata Warsi. “Jika tingkah lakuku menjadi
agak berbeda, aku mohon kakang dapat mengerti.”
Wiradana merasa gembira sekali, bahwa ia akan mendapat keturunan.
Sekilas ia teringat kepada Iswari yang telah disingkirkannya pada saat
ia sedang mengandung.
Justru pada saat Warsi mulai mengandung, Wiradana telah merenungi
kembali apa yang sudah terjadi itu. Pada saat ia membunuh Iswari
dengan tangan orang lain berarti bahwa ia telah membunuh keturunannya
sendiri.
“Kenapa aku sekarang merasa sangat gembira, bahwa aku akan mendapat
keturunan?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah menggelitik hati
Wiradana.
Tetapi ia tidak memperlihatkan kegelisahan itu kepada istrinya. Yang
dilihat oleh Warsi adalah kegembiraan yang membayang di wajah
Wiradana.
“Mudah-mudahan anakmu laki-laki,” berkata Wiradana.
“Kenapa laki-laki?” bertanya Warsi.
“Ia akan menjadi penggantiku,” jawab Wiradana.
“Apakah jika ia perempuan menurut ketentuan Tanah Perdikan ini, ia
tidak berhak mewarisi kedudukan ayahnya?” bertanya Warsi.
“Jika anak itu perempuan, maka yang akan memerintah Tanah Perdikan
ini kelak adalah suaminya, meskipun atas namanya. Tetapi bagiku agak
berbeda. Tentu akan lebih mantap bagi kita, bahwa yang memegang
kendali pemerintahan itu adalah anak kita sendiri. Bukan menantu
kita.”
Warsi tersenyum. Tetapi ia dapat mengerti sikap Wiradana. Karena itu
maka katanya, “Bagiku apakah ia laki-laki atau perempuan akan sama
saja. Jika ia perempuan maka tugas kita memang akan bertambah berat.
Namun jika kita tepat memilih menantu, maka pemerintahan di Tanah
Perdikan ini akan berjalan dengan baik.”
Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang begitu. Kita
memang tidak boleh menganggap apakah ia laki-laki atau perempuan
sebagai satu hal yang berbeda. Kesemuanya itu adalah anak kita. Apapun
yang akan lahir, adalah karunia dari Yang Maha Agung.”
“Ya. Kita wajib menerima dengan hati yang lapang,” jawab Warsi.
Wiradana mengangguk-angguk. Namun dari dasar hatinya yang paling dalam
telah terungkat pertanyaan, “Kenapa kau binasakan karunia yang akan
kau terima lewat istrimu yang bernama Iswari?”
Rasa-rasanya jantung Wiradana tersentuh ujung duri. Tetapi dengan
cepat ia berhasil menyingkirkan perasaan itu. Bahkan kemudian ia
berkata kepada diri sendiri, “Semua kenangan atas Iswari harus
dilenyapkan. Juga penari yang mirip dengan Iswari itu, pada satu
kesempatan harus dibinasakan.”(Bersambung)-m. |
Minggu, 30 Maret 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
287
 |
Sebenarnyalah karena sikap perempuan yang
disebut Serigala Betina itu. Wiradana memang menjadi ragu-ragu, bahwa
Iswari benar-benar telah terbunuh. Karena itu, maka ia pun dengan
keras dan bersungguh-sungguh telah berusaha untuk menyusun kekuatan.
Semakin lama semakin kuat. Apalagi ketika dua orang saudagar emas
pertama telah dirampok di tlatah Tanah Perdikan Sembojan. Maka ia
merasa bahwa kekuatan akan dapat mendukungnya mempertahankan
kedudukannya.
“Jika benar Iswari belum mati dan pada suatu saat ia datang
kembali, maka ia tidak mempunyai wewenang apa-apa atas Tanah Perdikan
ini,” berkata Wiradana di dalam hatinya. “Ia pun tidak dapat
menuntut bahwa aku telah mencoba membunuhnya. Aku dapat mengatakan
bahwa itu merupakan fitnah yang paling besar. Iswari melarikan diri,
mungkin dengan seorang laki-laki, namun kemudian ia membuat ceritera
yang ingin menjerumuskan aku, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan
ini ke dalam kesulitan.”
Meskipun demikian Ki Wiradana selalu dibayangi oleh kemungkinan
kehadiran kembali Iswari. Bahkan ia pun mulai ragu, apakah Iswari
dengan sengaja telah mengganggunya dengan menjadikan dirinya penari
jalanan sebagaimana pernah dilakukan Warsi. Apalagi jika ternyata
Iswari melahirkan dengan selamat, sehingga ada seorang anak yang lain
kecuali anak Warsi yang merasa berhak pula atas Tanah Perdikan
Sembojan.
Karena itulah, maka untuk mengatasi kegelisahan itu sementara Wiradana
harus menyusun kekuatan. Kemudian pada waktunya ia dapat memerintahkan
satu dua orang terpilih untuk menyelidiki, apakah Iswari memang masih
hidup.
“Satu-satunya tempat tinggal baginya adalah padepokan Kiai Badra,”
berkata di dalam hatinya.
Sementara itu, ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar emas dan
permata itu sudah berangsur sembuh. Demikian pula Dampa. Keduanya
telah dapat melakukan pekerjaan bagi kepentingan mereka masing-masing.
Mereka hanya memerlukan waktu untuk memulihkan kekuatan mereka seperti
sediakala.
Namun dalam pada itu, ayah Warsi yang merasa terhina oleh tingkah laku
kedua perampok itu telah menyatakan diri untuk membantu Tanah Perdikan
Sembojan.
“Rasa-rasanya aku telah mendendam kepada para perampok itu,”
berkata ayah Warsi yang mengaku sebagai saudagar itu. “Karena itu,
maka aku dengan suka rela akan membantu mengamankan Tanah Perdikan
ini. Mungkin aku akan lebih banyak berada di Tanah Perdikan ini dalam
perjalanan dagangku. Sekali-kali aku memang pergi ke tempat yang jauh.
Mungkin ke Pajang, Jipang bahkan ke Demak. Tetapi dalam waktu-waktu
luang dari perjalanan itu, aku akan berada disini.”
“Terima kasih,” berkata Ki Wiradana. “Niat Ki Sanak itu akan
sangat menguntungkan Tanah Perdikan ini.”
“Kita akan saling menguntungkan,” berkata saudagar itu. Lalu
tiba-tiba saja ia berkata, “Bahkan aku ingin membeli sebidang tanah
di Tanah Perdikan ini. Rasa-rasanya aku akan kerasan tinggal disini.
Di hari tuaku, aku akan menetap di daerah yang paling sesuai dengan
keinginanku. Di Tanah Perdikan ini terdapat bukit, hutan yang masih
lebat yang akan dapat menjadi sasaran berburu yang menyenangkan, danau
yang meskipun tidak begitu luas tetapi mengasyikkan sampai menjangkau
pantai disisi Selatan negeri ini.”
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika Ki Sanak
menghendaki sebidang tanah disini, maka aku akan menyediakannya. Ki
Sanak tidak usah membelinya.”
“Ah, bukan begitu Ki Wiradana,” berkata ayah Warsi.
“Rasa-rasanya kurang mapan bagiku. Karena itu biarlah aku menempuh
cara yang sewajarnya. Aku akan membeli sebidang tanah disini. Dengan
demikian aku akan menjadi penghuni Tanah Perdikan ini dan aku akan
merasa ikut berkewajiban untuk menjaga keamanan di daerah ini.”
“Baiklah,” jawab Ki Wiradana. “Aku tidak ingin memaksa. Jika Ki
Sanak ingin menempuh cara yang wajar, maka biarlah orang-orangku
mencarikan sebidang tanah yang akan dapat Ki Sanak beli dengan harga
yang wajar. Ki Sanak akan dapat membangun rumah dan kemudian menjadi
warga Tanah Perdikan ini.”
(Bersambung)-m. |
Senin, 31 Maret 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 288
"Ya Ki Wiradana. Jika mungkin aku
ingin membeli tanah di padukuhan induk ini, agar aku tinggal dekat dengan ki
Wiradana. Selebihnya, aku akan dapat membantu para pengawal di padukuhan
induk ini."
"Jangan cemas," jawab Wiradana. "Orang-orangku tentu
akan mendapatkannya. Sebidang tanah yang cukup untuk membangun sebuah tempat
tinggal yang sedang. Bukankah begitu?"
"Ya, ya Ki Wiradana. Untuk membangun sebuah rumah yang sedang,"
jawab saudagar itu.
Pembicaraan yang didengar oleh Warsi itu benar-benar membesarkan hatinya.
Jika ayahnya tinggal dekat dengan rumahnya, maka ia akan merasa lebih
tenang. Ia akan dapat meminta orang yang diakunya sebagai ayahnya untuk
berada di Tanah Perdikan itu pula, sehingga pada suatu saat, jika waktunya
tiba, maka Wiradana akan terkejut dan ia akan kehilangan kesempatan untuk
mengelakkan sebuah kekuasaan yang selalu membayanginya.
Namun agaknya hal itu masih akan menunggu sampai anak di dalam kandungannya
itu dilahirkan.
Sementara itu, maka yang dilakukan oleh Wiradana adalah mengukuhkan
kedudukannya. Ia telah menempa pengawal-pengawalnya dan memberikan kedudukan
yang lebih baik dari orang-orang lain, sehingga dengan demikian ia
mengharapkan bahwa pengawal-pengawalnya akan merupakan pengawal yang setia
kepadanya.
Namun sementara itu, Warsi yang sedang mengandung itu tiba-tiba seakan-akan
diluar kehendaknya sendiri telah bertanya kepada suaminya, "Kakang
kapankah kira-kira kakang akan diwisuda?"
Pertanyaan itu membuat jantung Wiradana berdegup. Sebenarnya ia sendiri juga
menginginkan, agar ia secepatnya diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan.
Bukan sekadar pemangku jabatan seperti kedudukannya saat itu. Ia merasa
sudah terlalu lama menunggu. Namun ternyata masih belum ada berita apapun
dari Pajang, meskipun semua laporan tentang keadaan Tanah Perdikan itu sudah
disampaikan.
Karena Wiradana tidak segera menjawab, maka Warsi pun berkata selanjutnya,
"Kakang, sebenarnya bukan maksudku untuk mendesak kakang, karena bagiku
apapun kedudukan kakang, tidak ada bedanya. Saat ini aku sudah merasa berada
dalam kedudukan yang tidak pernah aku duga sebelumnya, karena aku hanyalah
sekadar penari jalanan. Tetapi dalam keadaan mengandung rasa-rasanya aku
didesak oleh satu keinginan bahwa anakku kelak lahir setelah ayahnya
diwisuda menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan."
Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti keinginan istrinya.
Apalagi Warsi pernah berkata, dalam keadaan mengandung kadang-kadang ia
melakukan sesuatu diluar kehendaknya sendiri.
Namun wisuda itu bagi Wiradana juga merupakan sesuatu yang penting. Dalam
keadaan yang goyah itu, ia akan dapat memantapkan kedudukannya, sehingga
apapun yang dilakukannya, tidak lagi sekadar dilakukan sebagai pemangku
jabatan Kepala Tanah Perdikan. Tetapi benar-benar sudah sebagai Kepala Tanah
Per- dikan.
Karena itu, maka katanya kemudian, "Warsi, Aku akan mempersoalkan hal
ini dengan para pejabat di Pajang. Aku tahu kepada siapa aku harus
mengadukan. Karena itu, maka biarlah dalam satu kesempatan aku akan segera
pergi ke Pajang."
Warsi mengerutkan keningnya. Katanya, "Bukan maksudku untuk berbuat
dengan tergesa-gesa kakang. Bukankah aku masih mempunyai waktu cukup lama.
Aku baru akan melahirkan kira-kira tujuh bulan lagi."
"Tujuh bulan memang lama Warsi," jawab Ki Wiradana. "Tetapi
jika kita tidak memulainya, maka pada suatu saat kita akan disusul oleh
waktu. Tiba-tiba saja waktu yang tujuh bulan itu sudah lewat."
Warsi tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah baginya, semakin cepat
pelaksanaan itu akan menjadi semakin baik. Semakin cepat Wiradana di wisuda
menjadi Kepala Tanah Perdikan, maka kedudukannya pun akan menjadi semakin
kuat.
(Bersambung)-c.
Selasa, 01 April 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 289
 |
Keinginan Wiradana untuk menyelesaikan
wisudanya itu menjadi semakin mendesak, ketika ia mendengar bahwa
beberapa orang berpengaruh di Tanah Perdikan Sembojan mulai
menunjukkan sikap kurang senang mereka. Sikap itu mula-mula terasa
oleh para pengawal. Orang-orang itu seakan-akan telah mengabaikan para
pengawal dan seolah-olah para pengawal itu tidak berhak untuk
melakukan tugas mereka, mengatur tata kehidupan di Tanah Perdikan
Sembojan.
Seseorang yang berpengaruh di Tanah Perdikan itu, pada suatu
saat berkata kepada seorang pengawal yang memerintahkan orang-orang
padukuhannya untuk memperbaiki bendungan, karena sebuah bendungan yang
terletak dekat dengan padukuhan itu mulai rusak,katanya, "Kau
sebaiknya berjaga-jaga saja di malam hari. Tugasmu adalah menjaga
keamanan. Daripada kau mengurusi bendungan, maka agaknya lebih baik
bagimu untuk menahan kemungkinan terjadinya perampokan seperti yang
pernah terjadi di penginapan itu."
"Tetapi bendungan itu perlu diperbaiki," berkata pengawal
itu.
"Aku sudah tahu. Kita akan melakukannya tanpa perintahmu. Justru
perintahmu yang kasar itu membuat kami menjadi segan melakukannya.
Sudah sejak tiga hari kami bersiap-siap untuk memperbaiki bendungan
itu. Kami sudah menyiapkan beberapa brujung untuk menyulam brunjung
yang rusak. Kami sudah menyediakan batu dan tali ijuk. Tetapi justru
dengan kasar kau memerintahkan kami, maka kami akan menunda kerja itu
sampai kau menyadari, bahwa kami bukan budak yang hanya bekerja atas
dasar perintah," jawab orang itu.
"Kau menentang perintah Ki Wiradana?" bertanya pengawal itu.
"Apakah kau mendapat perintah dari Ki Wiradana?" orang itu
justru bertanya.
Pengawal itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian ia menjawab, "Ya.
Aku mendapat perintah Ki Wiradana untuk mengatur segala sesuatu yang
kurang mapan. Termasuk bendungan, jalan-jalan dan parit. Aku adalah
pengawal yang mengemban tugas apa saja bagi kepentingan Tanah Perdikan
Sembojan. Bahkan sejak pekan mendatang, aku juga diberi wewenang untuk
menagih pajak?"
"Apa? Pajak? Kau sudah mengigau. Pajak adalah tugas para Bekel di
padukuhan-padukuhan," jawab orang itu.
"Tetapi semuanya berjalan terlalu lamban," jawab pengawal
itu dengan dada tengadah. "Karena itu, maka segala sesuatunya
kelak, tugas-tugas yang penting dan menentukan, akan dilimpahkan
kepada para pengawal."
"Omong kosong," jawab orang itu. "Sudah ada yang
mengatur sesuai dengan tata pemerintahan. Jika Ki Wiradana mengangkat
para pengawal, maka tugasnya tentu hanya di bidang pengamanan Tanah
Perdikan ini. Kau tidak berhak memerintah kami isi padukuhan ini.
Sudah ada jalur perintah Ki Wiradana atas kami. Yaitu Ki Bekel dan
para bebahunya, termasuk urusan bendungan. Apalagi persoalan pajak.
Karena itu, pergilah. Jangan membuat kami semakin muak melihat sikapmu
yang berlebih-lebihan itu."
Pengawal itu menjadi marah. Tetapi ia masih belum mendapat kekuasaan
untuk bertindak lebih jauh. Karena itu, maka ia masih harus menunggu
perintah Ki Wiradana itu diumumkan meluas.
Ternyata sikap pengawal itu telah menjadi bahan pembicaraan. Jika para
pengawal kemudian mempunyai wewenang untuk memerintah orang-orang
padukuhan, maka jalur perintah Ki Wiradana akan bergeser. Bekel-bekel
yang selama ini menjadi jalur perintah Kepala Tanah Perdikan akan
terputus. Sementara itu para pengawal akan mendapat kedudukan yang
lebih kuat. Mereka bukan sekadar mengawal Tanah Perdikan itu dari
kemungkinan-kemungkinan buruk, tetapi para pengawal sudah mempunyai
kekuasaan untuk memerintah orang-orang padukuhan, bahkan untuk menarik
pajak.
Karena itu, maka beberapa orang yang berpengaruh langsung menyatakan
sikap mereka. Jika rencana itu benar akan dilakukan oleh Ki Wiradana,
maka orang-orang yang mempunyai pengaruh di dalam kehidupan
sehari-hari di Tanah Perdikan itu, meskipun mereka tidak memiliki
jabatan apapun juga akan menyatakan sikap mereka, bahwa mereka akan
menolaknya. Mereka tetap mengakui jalur pemerintahan sebagaimana
dilakukan oleh ayah Ki Wiradana dan bahkan sejak Kepala Tanah Perdikan
sebelumnya. (Bersambung)-m. |
Kamis, 03 April 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 290
 |
Tetapi Ki Wiradana memang mempunyai
rencana yang demikian. Untuk memberikan kekuasaan lebih besar
kepada para pengawal, dan untuk menjaga kewibawaannya, maka Ki
Wiradana akan mempergunakan para pengawal untuk menjadi jalur
pemerintahannya di padukuhan-padukuhan. Ia mulai mengumpulkan
bahan-bahan yang penting untuk menunjuk orang-orang yang akan memegang
jalur pemerintahan di setiap padukuhan, dengan dibantu oleh sekelompok
pengawal yang mempunyai wewenang untuk mengatur dengan kekerasan.
Meskipun Ki Wiradana tidak melepaskan jabatan para Bekel, namun para
Bekel itu pun harus tunduk kepada kekuasaan pengawal yang akan
ditentukannya memegang kekuasaan dan para pembantunya.
Namun ternyata bahwa orang-orang yang mempunyai pengaruh di dalam
hidup bebrayan di Tanah Perdikan telah mempertanyakannya. Meskipun
agaknya para Bekel sendiri tidak langsung berani menentang rencana
itu, tetapi mereka benar-benar merasa tersinggung karenanya.
Tetapi ternyata bahwa langkah pertama yang dilakukan oleh Ki Wiradana
dalam menyusun kekuasaannya itu agaknya akan berhasil, justru terhadap
para Bekel yang masih merasa segan jika tanah plungguh mereka akan
diambil oleh Ki Wiradana. Bahkan ada Bekel yang justru menjadi acuh
tak acuh. Siapa saja yang akan melakukan pekerjaan itu, asal kedudukan
mereka tidak diambil termasuk tanah plungguh mereka.
Agak berbeda dengan para Bekel, orang-orang yang berpengaruh di
lingkungan bebrayan Tanah Perdikan itulah yang telah menunjukkan sikap
mereka.
Untuk memberikan tekanan atas rencana itu, maka Ki Wiradana berusaha
agar secepatnya ia diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.
Di samping kenyataan jabatan itu, maka ia pun telah menyusun satu
jaringan kekuasaan yang rapat dan tersebar diseluruh Ta-nah Perdikan
Sembojan.
Dalam pada itu, maka untuk menyatakan sikapnya beberapa orang tua yang
sejak masa pemerintahan ayah Wiradana selalu menjadi sasaran untuk
memberikan pertimbangan dan keputusan-keputusan penting yang akan
diambil, telah memerlukan bertemu dengan Ki Wiradana. Mereka
mempertanyakan rencana sebagaimana yang mereka dengar, bahwa jalur
pemerintahan memang akan bergeser.
“Hanya untuk sementara saja,” jawab Ki Wiradana. “Selama Tanah
Perdikan ini masih dibayangi oleh ketidakpastian. Bersama dengan itu
aku akan menemui para pejabat di Pajang yang bertanggung jawab atas
Tanah Perdikan yang terdapat di Kadipaten ini untuk mempersoalkan masa
wisuda bagiku.”
“Tetapi apakah hal itu tidak akan menimbulkan
kegoncangan-kegoncangan baru?” bertanya salah seorang di antara
mereka, “Apakah tidak sebaiknya, bahwa jalur pemerintahan itu tetap
sebagaimana sekarang, namun dari segi pengamanan Tanah Perdikan ini,
agar tidak terjadi lagi perampokan atau semacam itu, para pengawal
digerakkan di setiap padukuhan?”
“Aku telah mengambil keputusan,” berkata Ki Wiradana. “Aku bukan
saja merencanakan. Sebentar lagi peraturan tentang hal itu akan segera
berlaku.” (Bersambung)-m. |
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 3/IV/2003
Invasion on Iraq
Pemimpin, para elite selalu mengatakan keprihatinan terhadap persatuan
bangsa yangtercabik. Tetapi pada saat yang hampir bersamaan perbuatannya
cenderung memecah persatuan bangsa.
Sign My Dreambook
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Freshwater Aquaculture
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
XE.com Personal Currency
Assistant
|