Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net  

 

  

 

 

 

 
 

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Jumat, 14 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang271 Halaman untuk diprint  Beritahu teman


 “Tetapi kau sekarang sudah dapat menentukan bagi dirimu sendiri. Kau harus mengurangi makan nasi dan rangkaiannya. Kau harus mulai dari sedikit makan empon-empon. Kau harus mengurangi tidur dan kau harus lebih banyak berada di sanggar untuk memusatkan nalar budi. Laku itu harus kau jalani beberapa pekan sebelum pada satu saat, kau akan berpuasa empat puluh hari empat puluh malam. Jenis makanan yang boleh kau makan menjadi semakin me-nyempit. Setelah itu, maka tiga hari kemudian kau harus pati geni. Jika kau kuat melakukannya, maka kau akan kuat mulai dengan mempelajari satu ilmu yang nggegirisi. Ingat, setelah laku itu, kau baru akan mulai dengan satu latihan dari ilmu itu. Bukan karena laku itu maka kau telah memiliki ilmu itu.” 

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian maka ia benar-benar akan terjun ke dalam dunia olah kanuragan. 

Namun dalam pada itu, neneknya itu pun telah mendesaknya, “Bagaimana pendapatmu Iswari? Apakah kau akan mampu melakukannya? Me-mang dengan laku itu, seakan-akan berhasil mendalami satu ilmu dengan cara yang lebih cepat dari jalan yang biasa sebagaimana kau tempuh sekarang. Tetapi sebelum kau mulai, kau harus memikirkannya masak-masak, agar kau tidak akan membuang banyak waktu dan tenaga. Karena jika berhenti ditengah, maka yang sudah kau korbankan itu akan terhapus dan tidak akan mempunyai nilai apapun juga.” 

Iswari berpikir sejenak. Namun bagaimanapun juga, ada juga perasaan yang asing didasar hati-nya terhadap perempuan yang kemudian menjadi Nyai Wiradana. Apalagi anak laki-lakinya pada suatu saat tentu memerlukan perlindungannya, karena anak itu telah terlepas dari perlindungan ayahnya. Bahkan ayahnya telah sampai hati untuk melenyapkannya bersama ibunya sekaligus. 

“Akulah yang harus melindunginya. Aku adalah ibunya sekaligus ayahnya. Padahal perempuan yang kemudian menjadi Nyai Wiradana dan yang tidak mustahil telah membunuh Ki Gede dengan cara yang sangat licik itu adalah perempuan yang memiliki ilmu yang sangat tinggi,” berkata Iswari di dalam hatinya. 

Karena itu, maka akhirnya Nyai Wiradana yang telah dianggap terbunuh itu pun mengangguk. Ia lebih banyak berpikir bagi anaknya. Jika ia tidak memiliki ilmu yang memadai, maka apakah ia akan dapat melindungi anaknya dari tangan Wiradana dan istrinya itu. 

Namun dengan demikian, maka rencana Kiai Soka untuk mulai lagi dengan permainan rombongan penarinya harus ditunda. Tetapi karena mesu raga itu penting sekali bagi Iswari, maka tidak ada seorang pun yang berkeberatan. Bahkan murid-murid Guntur Geni itu sudah menyatakan, bahwa untuk sementara mereka tidak akan kembali ke perguruannya, karena beberapa orang sudah mampu untuk melakukan tugasnya, karena perguruannya itu pada dasarnya tidak mempunyai persoalan dengan perguruan yang lain. 

Dalam pada itu, maka di hari yang sudah ditentukan, maka Iswari pun telah mandi keramas dengan air landha merang. Kemudian mempersi-apkan diri lahir dan batinnya, untuk memasuki satu masa perjuangan yang sangat berat. 

Sehari semalam Iswari berada di dalam sanggarnya dalam doa. Ia telah mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Dengan tulus ia mohon tuntunan, perlindungan dan kemampuan untuk menyelesaikan usahanya, menempuh laku lahir dan batin. 

Ternyata bahwa Iswari benar-benar bertekad mantap. Dengan demikian maka dihari berikutnya, Iswari sudah memasuki masa perjuangannya. Meskipun nampaknya ia tetap melakukan tugasnya sehari-hari, namun waktunya memasuki sanggar menjadi berlipat. Sementara itu ia telah mengurangi jenis makannya sebagaimana biasanya. Ia mulai makan empon-empon sebagaimana dimaksud oleh neneknya. 

Namun dalam pada itu, bukan hanya Iswari sajalah yang harus bekerja berat. Tetapi Nyai Soka dan Kiai Soka pun telah bekerja berat pula untuk mewariskan ilmunya kepada cucunya itu. 

Dari hari ke hari Iswari berada di dalam sanggar, berlatih dan menambah ilmunya setapak demi setapak. Namun yang dipelajarinya adalah semata-mata ketrampilan wadagnya dan meningkatkan kekuatannya. Usaha untuk membangun tenaga cadangan yang memiliki kekuatan berlipat dari kekuatan wajarnya. Mempertajam inderanya, terutama penglihatan dan pendengarannya, serta mempercerdas daya tangkap dan daya cerna pikirannya.(Bersambung)-m

 

Sabtu, 15 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 272 Halaman untuk diprint  Beritahu teman


 Dengan sungguh-sungguh dan tidak mengenal lelah Iswari melakukannya. Meskipun demikian kadang-kadang timbul satu pertanyaan dihatinya, bahwa menurut neneknya segalanya baru akan dimulai setelah ia selesai dengan laku yang terakhir, pati geni. 

Tetapi Iswari tidak bertanya. Ia melakukan apa saja yang diajarkan oleh neneknya. Apalagi dalam ujud wadag yang kasat mata dan dapat ditirukan. Jika terjadi kesalahan, maka neneknya atau kakeknya masih dapat membetulkannya. 

Namun demikian, Iswari masih tetap memikirkan satu masa setelah ia selesai dengan pati geni. Latihan-latihan apa lagi yang harus dilakukan. Jika yang dilakukan itu masih belum dianggap mulai, maka ia tidak dapat membayangkan apa yang harus dilakukan kemudian. 

Sementara itu, selagi Iswari berada didalam sanggarnya, hampir disetiap saat, maka di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana telah mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu. Ternyata jalan pikiran Wiradana sesuai dengan jalan pikiran Warsi, meskipun sebelumnya ia tidak pernah membicarakannya lebih dahulu. Agaknya Wiradana menganggap jika keadaan memaksa, maka sandaran yang paling baik baginya untuk mempertahankan kekuasaannya adalah kekuatan. 

Karena itu, maka Wiradana pun telah dengan sungguh-sungguh membangun satu kekuatan untuk memagari kekuasaannya. 

“Apakah yang sebenarnya kakang lakukan akhir-akhir ini?” bertanya Warsi yang pura-pura tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh suaminya, “Nampaknya kakang menjadi sibuk sekali.” 

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kepergian perempuan iblis yang disebut Serigala Betina itu membuat aku selalu gelisah. Karena itu, maka aku ingin meyakinkan diri, bahwa aku mempunyai sandaran kekuatan di Tanah Perdikan ini.” 

“O,” Warsi mengerutkan keningnya. “Apakah yang kakang maksudkan? Apakah dengan demikian berarti akan terjadi benturan kekuatan di Tanah Perdikan ini?”

“Mudah-mudahan tidak Warsi,” jawab Wiradana. “Tetapi aku masih selalu cemas bahwa Serigala Betina itu pada suatu saat akan berkhianat. Jika ia membuka rahasiaku, maka mungkin sekali orang-orang Tanah Perdikan ini akan kehilangan kepercayaan kepadaku. Bahkan mungkin orang-orang yang tidak mempunyai nalar akan dengan cepat mengambil sikap yang dapat menjerumuskan Tanah Perdikan ini ke dalam satu peperangan. Maka untuk mencegah hal itu terjadi, aku harus mempunyai landasan kekuatan. Dengan demikian maka tidak akan ada orang yang berani menentangku dalam keadaan apapun juga.” 

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Pikiran itu sesuai sekali dengan jalan pikirannya. Tetapi ia masih berpura-pura berkata, “Tetapi aku mohon kakang, jangan sampai terjadi kekerasan lagi. Sepeninggalan Ki Gede, maka rasa-rasanya kekerasan hanya akan menambah korban yang tidak berarti.” 

“Aku akan berusaha Warsi. Tetapi jalan yang aku tempuh adalah dengan menyusun kekuatan. Mungkin kau kurang memahami jalan pikiranku. Tetapi hal itu adalah jalan yang sebaik-baiknya yang dapat aku lakukan sekarang ini,” berkata Wiradana. 

Warsi tidak menjawab lagi. Wajahnya menunduk, sementara matanya menjadi buram. Namun dalam pada itu, hatinya bergejolak dan berkata, “Aku juga telah menyusun satu kekuatan. Kekuatan itu harus dapat mengatasi semua persoalan. Tetapi terhadap diri kita masing-masing maka kekuatanmu tidak akan dapat mengimbangi kekuatanku, sehingga kedalam, pada suatu saat kau harus tunduk kepadaku.” 

Wiradana sama sekali tidak dapat membaca perasaan istrinya. Ia hanya melihat istrinya itu menundukkan wajahnya. Menurut dugaannya istrinya menjadi cemas, bahwa sesuatu akan terjadi di atas Tanah Perdikan Sembojan. 

Dalam pada itu, maka Wiradana pun telah melakukan usahanya dengan tidak mengenal lelah. Ia memperkuat pengawal-pengawal yang setia kepadanya. Ia memberikan sesuatu yang lebih banyak kepada mereka. Di setiap padukuhan Wiradana telah menyusun kekuatan pengawal yang khusus akan dapat menjalani perintahnya dengan cepat tanpa mempersoalkan benar atau salah, buruk atau baik. (Bersambung)-m.

 

 

Senin, 17 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 274 Halaman untuk diprint  Beritahu teman


 “Setiap saat aku akan berbicara dengan ayah,” berkata Warsi. “Tetapi kenapa ayah tidak datang ke rumahku.” 
“Aku datang sebagai apa?” bertanya ayah Warsi. “Aku tidak akan dapat mengatakan bahwa aku adalah ayahmu.” 

 Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Ayah datang sebagai pedagang emas berlian. Apakah aku akan membeli atau tidak, tetapi ayah dapat menawarkannya sekadar untuk datang ke rumahku.” 

Ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baik, aku akan datang.” 

“Tetapi apakah ayah seorang diri di Tanah Perdikan ini?” bertanya Warsi. 

“Tidak. Aku datang bersama seorang keluarga kita,” jawab ayahnya. 

“Siapa?” bertanya Warsi. 

“Dampa,” jawab ayahnya. 

Warsi menarik nafas. Dampa adalah seorang yang cukup unik untuk mengawali ayahnya, karena menurut pengertian Warsi, Dampa adalah seorang yang memiliki ilmu yang termasuk paling baik di antara kawan-kawannya. 

“Baik ayah,” berkata Warsi kemudian. “Aku menunggu kedatangan ayah Sementara itu, dalam satu kesempatan, ayah akan dapat berceritera tentang kekuatan yang sudah ayah siapkan.” 

Warsi pun kemudian berpisah dari ayahnya. Sambil menjinjing kampil kecil, ayahnya menyusup di antara orang-orang sibuk di dalam pasar. 

Namun ternyata bahwa baik Warsi maupun ayahnya sama sekali tidak mengetahui, bahwa di antara mereka yang ada di pasar itu, seseorang tengah memperhatikan mereka dengan seksama. 

Ketika Warsi berpisah dengan ayahnya, maka orang itu pun telah bangkit pula dari tempatnya, duduk bersila di antara orang-orang yang sedang memilih alat-alat untuk bekerja di sawah yang dijajakan dekat dengan pintu masuk pasar yang hanya ramai sepekan sekali itu, sambil menjinjing sebuah linggis untuk mengupas kelapa. 

“Mudah-mudahan linggis ini tidak cepat tumpul,” berkata orang itu. 

“Aku tanggung,” berkata penjualnya. “Jika kelak menjadi tumpul bawa kemari.” 

“Untuk apa?” bertanya pembeli linggis itu. “Akan diganti yang lebih baik?” 

“Tidak. Hanya untuk melihat apakah benar linggis itu menjadi tumpul,” jawab penjual linggis itu sambil tertawa. 

Orang yang membeli linggis itu tertawa pula. Tetapi ia bergumam, “Awas, jika linggis itu tumpul, aku minta uang kembali.” 

Warsi lewat di belakang orang itu. Tetapi Warsi tidak memperhatikannya. Sementara orang itu sempat pula berpaling dan memandanginya. 

“Cantik sekali,” desis orang itu. 

“He, jangan mencoba mengganggunya jika kepalamu tidak ingin tembus oleh linggismu sendiri,” sahut penjual linggis itu. 

“Aku tahu, bukankah perempuan itu Nyai Wiradana,” sahut orang yang membeli linggis itu. “Dan bukankah aku hanya sekadar memujinya.” 

Penjual linggis itu mengumpat. Tetapi pembelinya tidak mendengarnya. 

Sejenak kemudian pembeli linggis itu pun telah meninggalkan tempat itu. Ia berjalan di antara orang-orang yang sibuk berada di pasar dengan kepentingan mereka masing-masing. Namun demikian ketajaman penglihatannya masih me-mungkinkannya untuk melihat arah perjalanan orang yang baru saja berbicara dengan Nyai Wiradana. 

Di sudut pasar ternyata telah menunggu seorang kawannya yang disebut Dampa itu. Kemudian berdua mereka keluar dari pasar dan berjalan menyusuri jalan dimuka pasar itu. Mereka berjalan perlahan-lahan saja, tanpa memperhatikan orang-orang yang masih berjejalan di dalam pasar. 

Namun ternyata orang itu tidak lepas dari pengamatan orang yang membeli linggis. Meskipun ia tidak mengikutinya, tetapi di sore hari orang yang membeli linggis itu telah duduk di dalam sebuah kedai yang besar di ujung jalan. Sambil membeli beberapa jenis makanan ber-sama seorang kawannya, maka ia bertanya, “Apakah saudagar intan berlian itu masih ber-malam di sini?” 

Pemilik kedai itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kenapa dengan saudagar itu?” 

“Tidak apa-apa. Aku tidak tahu bahwa ia ada disini malam ini sehingga aku tidak mengajak istriku,” berkata orang itu.(Bersambung)--o

Selasa, 18 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 275 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 “Kenapa dengan istrimu?” bertanya pemilik warung. 
“Ia memerlukan sepasang giwang untuk anaknya yang tiga hari lagi akan dibawa suaminya ke Pajang,” berkata orang itu. 
“Sekarang kau dapat menemuinya,” berkata pemilik warung, “Ia di dalam.”

 “Biarlah. Besok aku akan datang dengan istriku,” berkata orang itu. 

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun telah meninggalkan warung itu. Seolah-olah tidak ada persoalan yang terselip di dalam pertanyaan-pertanyaannya tentang saudagar intan berlian itu. 

Dalam pada itu, pemilik kedai itu pun tidak lagi menghiraukan apa yang dikatakan oleh kedua orang yang pernah membeli makanan di warungnya. Ia pun tidak menghiraukan ketika hari berikutnya orang itu pun tidak datang lagi, apalagi dengan istrinya. 

Sementara itu, sebagaimana dikatakan, maka di sore hari berikutnya ayah Warsi bersama seorang kawannya telah ke rumah Ki Wiradana. Keduanya diterima sebagaimana mereka menerima orang asing yang belum pernah dikenalnya. Sikap Warsi pun cukup meyakinkan bahwa ia belum mengerti orang yang baru datang itu. 

Namun dengan bahasa yang tersusun, orang itu pun kemudian berhasil meyakinkan kepada Ki Wiradana, bahwa ia datang untuk menawarkan beberapa jenis perhiasan yang dibawanya. Intan berlian dan emas. 

“Kami mohon maaf Ki Wiradana, mungkin kedatangan kami terlalu tiba-tiba dan tidak memberitahukan sebelumnya. Tetapi bukankah kami tidak terlalu mengganggu. Segalanya terserah. Kami adalah pedagang-pedagang yang menawarkan kepada mereka yang kami anggap mempunyai kemungkinan untuk membeli. Seandainya tidak dapat dibayar sekaligus, maka kami tidak berkeberatan untuk menerima pembayarannya dalam tahap-tahap, karena kami yakin bahwa Ki Wiradana tentu akan dapat memenuhinya pada saat-saat yang dijanjikannya,” berkata ayah Warsi yang mengaku sebagai pedagang intan berlian itu. 

Wiradana memandang istrinya, Katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada istriku. Jika ia menyenangi salah satu dari perhiasan yang Ki Sanak bawa, serta harga yang kau tawarkan wajar, maka mungkin sekali kami akan membelinya.” 

“Tentu,” berkata saudagar itu, “Kami tidak pernah menawarkan harga barang-barang kami dengan berlebih-lebihan. Kami akan mengambil keuntungan yang sekecil-kecilnya, namun jika barang kami sering laku maka yang kecil itu pun akan menjadi besar.” 

Wiradana memang menyerahkan segalanya kepada istrinya. Ada beberapa barang perhiasan yang dilihat oleh Warsi. Tetapi Warsi masih belum memutuskan untuk mengambil yang mana di antara barang-barang itu. 

“Apakah Ki Sanak besok masih ada disini?” bertanya Warsi. 

“Ya. Aku masih berada disini untuk beberapa hari. Aku ingin datang ke rumah beberapa orang kaya di Tanah Perdikan ini. Mungkin Ki Wiradana dapat membantu kami, sekadar menunjukkan kepada siapa kami harus menawarkan barang-barangku. Bukan dengan satu kepastian untuk dibeli. Hanya sekadar menawarkan saja,” jawab orang itu. (Bersambung)-m.
 

Rabu, 19 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 276 Halaman untuk diprint  Beritahu teman


 “Jika demikian Ki Sanak,” berkata Nyai Wiradana. “Datanglah besok kemari. Aku akan memikirkannya dan memilih. Apakah Ki Sanak tidak berkeberatan untuk meninggalkan beberapa macam perhiasan itu disini?” 

 “Tentu,” jawab pedagang itu, “Aku tidak akan mencurigai Nyai Wiradana, istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi sudah tentu hanya satu atau dua saja, sebab yang lain harus aku tawarkan kepada orang lain lagi. 

Warsi pun kemudian memilih dua macam perhiasan. Seuntai kalung dan sepasang giwang. Katanya, “Mungkin aku akan membeli salah satu di antara keduanya. Bukan kedua-duanya.” 

Dengan demikian maka kesengajaan Warsi untuk memberi kesempatan ayahnya datang ke rumahnya itu dimengerti oleh ayahnya. Karena itu, maka ia pun benar-benar telah meninggalkan dua macam perhiasan di rumah Warsi. 

Ketika keduanya kembali ke penginapan, maka ayah Warsi itu pun berkata, “Ternyata aku mendapat kesempatan lebih baik untuk berhubungan dengan Warsi dari sekadar mencegatnya di pasar. Besok aku akan datang dan mudah-mudahan persoalannya tidak cepat sekali, sehingga aku akan mendapat kesempatan untuk hilir mudik.” 

Dampa tersenyum. Katanya, “Warsi memang seorang yang cerdik. Nampaknya suaminya sangat sayang kepadanya.” 

“Ia adalah anakku. Ia mewarisi kecerdikan, kepandaian dan kemampuan olah kanuragan seperti aku juga,” berkata ayah Warsi sambil tertawa. 

Dampa itu pun tertawa pula. Sebenarnya bahwa Warsi memang seorang perempuan yang pandai mempergunakan segala kesempatan. 

Ayah Warsi itu kembali ke kedai tempat ia menginap telah malam mulai turun. Ia memasuki kedai yang sudah memasang lampu. Demikian ia bersama kawannya selesai makan malam, maka keduanya telah memasuki bilik yang disediakan bagi mereka. 

Tetapi ternyata telah terjadi sesuatu yang tidak terduga sebelumnya. Malam itu, dua orang dengan diam-diam telah mendekati kedai tempat saudagar intan berlian itu menginap. 

“Kita akan menunggu sampai tengah malam,” berkata seorang dari kedua orang itu. 

Kawannya mengangguk-angguk. Namun agaknya tengah malam sudah tidak terlalu jauh lagi. 

Malam itu, udara terasa sejuk. Meskipun langit berawan tipis, tetapi angin semilir bertiup di antara dedaunan. 

Pada lewat tengah malam, dua orang telah dengan diam-diam memasuki kedai tempat saudagar intan berlian itu menginap. Mereka dengan hati-hati telah merusak pintu dan masuk ke dalamnya. Meskipun tidak ada lampu sama sekali di dalam kedai itu, namun kedua orang yang memasuki pintu itu ternyata dapat melihat meskipun tidak sejelas dalam sinar lampu minyak. 

Di bagian belakang kedai itu, terdapat sebuah pintu. Jika mereka mamasuki pintu itu terdapat sebuah ruang yang luas dengan amben-amben yang besar. Beberapa orang pedagang bermalam disitu dan tidur berjajar di amben besar itu. Sebuah amben besar buat laki-laki dan sebuah amben besar buat perempuan. 

Tetapi agaknya pedagang intan berlian itu tidak mau tidur dalam keadaan demikian. Ia dan seorang kawannya telah minta disediakan secara khusus sebuah bilik. 

Meskipun bilik itu sempit, tetapi cukup memadai bagi dua orang yang mengaku saudagar intan berlian itu, karena dengan demikian mereka tidak harus tidur berhimpitan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. 

Kedua orang yang memasuki kedai dengan diam-diam itu telah berusaha membuka pintu itu. Perlahan-lahan sekali, agar deritnya tidak membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak. 

Demikian pintu terbuka, maka keduanya tertegun. Mereka mendengar dengkur yang keras di antara orang-orang yang menginap di ruang yang besar itu. Namun agaknya hari itu, yang menginap di bilik itu tidak cukup banyak sebagaimana hari-hari pasaran. 

Dengan hati-hati kedua orang itu mendekati orang-orang yang sedang tidur nyenyak. Namun ternyata mereka tidak menemukan pedagang intan berlian, sehingga kedua orang itu kemudian menduga bahwa keduanya telah ditempatkan ditempat yang lain. (Bersambung)-m.

 

Kamis, 20 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang bayang 277 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 Karena itu, maka mereka pun telah mencari pintu lain yang menghubungkan ruang yang besar itu dengan ruang yang lain. Ketika mereka menemukan pintu itu, maka mereka pun kemudian berusaha untuk membukanya. 

Tetapi kedua orang itu menyadari bahwa kedua orang mengaku pedagang intan berlian itu orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Apalagi orang yang mencoba mendengarkan percakapan orang itu dengan Nyai Wiradana, melihat sikap Nyai Wiradana yang cukup hormat dan sebutan terhadap orang itu, bahwa orang itu adalah ayahnya. Bahkan ayah yang sesungguhnya. 

"Kita harus berhati-hati," desis yang seorang. "Kita tidak boleh gagal. Sudah berhari-hari kita mengamati Nyai Wiradana dan yang kemudian kita berhasil menemukan pertemuannya dengan ayahnya yang mengaku saudagar ini. Kita harus memanfaatkan keadaan ini." 

Kawannya mengangguk. Namun dengan demikian keduanya telah bersiaga sepenuhnya menghadapi keadaan yang mungkin akan berkembang dengan cepat. 

Perlahan-lahan pintu itu didorong ke samping. Sedikit demi sedikit pintu itu terbuka. Namun mereka tidak dapat menghindari sepenuhnya derit pintu yang sedang dibuka itu. 

Karena itu, maka bunyi pintu itu telah membangunkan kedua orang yang berada di dalamnya. Seandainya keduanya bukan orang-orang berilmu yang memiliki indera yang tajam, maka derit pintu itu tidak akan membangunkannya. Tetapi karena keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi, maka ternyata bahwa keduanya telah terbangun. 

Ketika kedua orang itu melihat pintu terbuka dan ada orang yang berusaha memasuki bilik itu, maka keduanya pun segera bersiaga. 

Ayah Warsi yang kemudian berdiri didepan itu pun bertanya, "Ki Sanak. Apa maksudmu malam-malam begini memasuki bilik tidurku." 

"Jelas," jawab orang itu. "Aku datang untuk mengambil perhiasan-perhiasan yang kau bawa. Apakah kau berkeberatan?" 

"Jangan gila," geram ayah Warsi. "Barang-barang itu adalah barang daganganku." 

"Apapun yang kau katakan, kami datang untuk mengambilnya," jawab orang itu. 

"Kau sangka kau dapat menakut-nakuti kami? Agaknya kau memang belum mengenal kami. Nasibmu kali ini ternyata sangat buruk, bahwa kalian telah merampok kami," berkata ayah Warsi. 

"Kami telah marampok puluhan orang dan berhasil dengan baik. Kali ini pun kami akan berhasil merampok perhiasan yang kau bawa dengan hasil yang baik pula," berkata orang yang memasuki bilik itu. 

"Perampok yang malang," desis ayah Warsi. "Aku peringatkan sekali lagi, bahwa aku bukan pedagang kebanyakan. Jika kau tidak ingin mati, pergilah. Aku tidak akan mengganggumu." 

"Jangan banyak bicara," geram orang yang memasuki bilik itu. "Serahkan semua perhiasanmu. Aku tidak mempunyai banyak waktu." 

Keributan itu agaknya telah membangunkan pula orang-orang yang tidur di ruang yang besar itu. Mereka berloncatan turun dari pembaringan. Ada di antara mereka yang segera menghadapi apa yang terjadi, namun ada yang masih bertanya-tanya. Sementara itu, ada orang yang merasa dirinya wajib ikut menangkap orang yang akan merampok itu, sementara ada yang menjadi ketakutan. 

Namun dalam pada itu, ayah Warsi itu pun berkata, "Lihatlah. Orang-orang itu sudah terbangun. Apa yang dapat kau lakukan kemudian? Mereka akan beramai-ramai menangkapmu dan kemudian menyeretmu ke Ki Wiradana, pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan di Sembojan ini." 

"Jangan banyak cakap. Serahkan, atau kau berdua akan mati disini," geram orang yang ingin merampok itu. 

Ayah Warsi bukan orang yang sabar. Karena itu, ketika orang yang dianggapnya akan merampok itu membentaknya, maka ia pun membentak pula sambil melangkah maju. Disambarnya pedang yang berada dibawah tikar tempat ia tidur. 

"Aku memang ingin membunuhmu dan membuktikan kepada orang-orang Sembojan, bahwa semua kejahatan di Sembojan akan dapat dilawan dan dibinasakan," geram ayah Warsi itu. 

Kedua perampok itu pun bergeser surut. Orang-orang yang semula berada di luar pintu pun telah menyibak. Sementara itu ayah Warsi dan Dampa telah melangkah maju pula. (Bersambung)-o

.

Rabu Malam 19 Maret 2003, Baghdad diserang Amerika Serikat

Jumat, 21 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 278 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 "Di sini tempatnya agak luas," berkata orang yang disangka perampok itu. "Kami akan membunuh kalian berdua kemudian mengambil barang-barang yang kalian bawa," orang itu terdiam sejenak. Kemudian sambil berpaling kepada orang-orang yang ada disekitarnya di dalam bilik yang luas itu, ia berkata, "Siapa yang akan ikut campur?

 Aku menasihatkan kepada kalian untuk tidak mencampuri persoalan kami. Aku akan merampok barang-barangnya. Bukan barang-barang kalian. Karena itu, kalian tidak usah melibatkan diri, karena melibatkan diri dalam pertempuran bersenjata akan dapat berakibat maut. Selebihnya, kami akan dapat mendendam kepada orang-orang yang membantu menggagalkan usaha kami.

Wajah orang-orang yang berada di ruang itu pun menjadi tegang. Namun ayah Warsi pun berkata, "Baiklah. Aku sependapat. Jangan turut campur. Persoalan ini adalah persoalan kami. Orang-orang itu akan merampok barang-barangku. Karena itu, maka aku berhak untuk membunuh mereka," lalu katanya kepada kawannya, "Marilah Dampa, kita selesaikan saja mereka. Baru nanti kita akan melaporkan kepada Ki Wiradana bahwa kita terpaksa membunuh untuk mempertahankan barang-barang milik kita yang akan dirampok." 

Kedua orang yang ingin merampok barang-barang saudagar emas itu pun telah bersiap pula. Ketika mereka berpencar, maka orang-orang yang ada di ruang itu pun menyibak. Bahkan perempuan-perempuan telah saling berdesakan disudut ruangan. 

Dalam pada itu, dua orang yang ingin merampas barang-barang milik saudagar itu masih berkata, "He, apakah kalian tidak memanggil para pengawal Tanah Perdikan jika kalian takut menghadapi kami berdua." 

"Persetan," geram ayah Warsi, "Bersiaplah untuk mati." 

Sebelum orang yang akan merampas barang-barang itu sempat menjawab, ayah Warsi telah mencabut pedangnya. Agaknya ia tidak ingin berlama-lama bertempur. Ia ingin segera membunuh perampok itu dan menyerahkan mayatnya kepada Wiradana. Dengan demikian, maka dengan tidak langsung ia telah menunjukkan kepada anak perempuannya, bahwa ia telah siap untuk membantu apapun yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. 

Sejenak kemudian pertempuran telah terjadi di dua lingkaran. Ayah Warsi dan Dampa masing-masing melawan seorang dari kedua orang yang akan merampok mereka itu. 

Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di dalam bilik itu pun menjadi ketakutan. Mereka melihat ilmu pedang yang tidak mereka mengerti. Benturan senjata dan teriakan-teriakan nyaring. 

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin cepat. Ternyata bahwa ayah Warsi, keluarga Kalamerta, memang memiliki ilmu yang nggegirisi. Pedangnya berputar seperti baling-baling. Sekali-kali mematuk dengan cepat mengarah ke jantung lawan. 

Dengan demikian, maka perampok yang melawannya itu pun harus mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan ilmu pedang yang jarang ada bandingnya ia melawan ayah Warsi itu. Pedangnya mampu berputar cepat sekali. Bahkan kemudian bagaikan kabut putih yang melingkari tubuhnya, sehingga sulit bagi lawannya untuk menembus perisai putaran pedang itu. 

Sementara itu, Dampa telah mempergunakan senjatanya pula. Ia tidak terbiasa mempergunakan pedang. Tetapi ia lebih senang mempergunakan sepasang tongkat baja yang dirangkaikan dengan seutas rantai. Dengan kemampuan yang sangat tinggi, maka senjata itu benar-benar merupakan senjata yang sulit untuk dilawan. Kedua tongkat itu kadang-kadang berputar. Namun kadang-kadang mematuk kepala dengan kerasnya. Bahkan sebelah tongkat baja itu dapat bagaikan terbang menyambar lawannya. 

Salah seorang di antara kedua orang yang akan merampok perhiasan itu menempatkan diri menjadi lawannya. Senjatanya adalah sepasang trisula bertangkai pendek. 

Dengan demikian maka pertempuran itu pun memerlukan tempat yang semakin luas, karena ayunan senjata yang semakin panjang menjangkau loncatan-loncatan lawannya. Tongkat bertangkai itu dapat digenggam untuk bertempur pada jarak jangkauannya, tetapi dapat pula berputar sepanjang rantai yang mengikatnya. (Bersambung)-m.

 

Sabtu, 22 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 279 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

Agaknya orang yang ingin merampok itu merasa, ruangan itu terlalu sempit untuk menghadapi senjata lawannya yang menggetarkan, sehingga karena itu, maka ia pun telah bergeser ke pintu. 

Ketika ia mendapat kesempatan, maka ia pun telah meloncat dan membuka pintu itu. Kemudian meloncat turun ke halaman. 

Dengan demikian, maka dua lingkaran pertempuran itu terjadi di dua bagian penginapan itu. Yang satu berada di dalam dan yang lain berada di luar. 

Pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang menggetarkan. Di ruang depan penginapan itu, dua orang yang memiliki ilmu pedang yang matang telah mengerahkan kemampuan masing-masing. Bahkan ayah Warsi merasa beruntung, bahwa ada orang yang berusaha untuk merampoknya. 

Dengan demikian ia dapat menunjukkan kepada anaknya dan juga kepada Ki Wiradana yang tidak mengenalnya sebagai mertuanya, bahwa ia telah berjasa bagi Tanah Perdikan Sembojan. Dengan demikian maka ia akan mendapat kepercayaan yang lebih besar dari Ki Wiradana. Ia akan dapat mondar-mandir di Tanah Perdikan itu tanpa dicurigai dan bahkan ia akan mendapat kesempatan ikut berkuasa karena kemampuannya. 

"Jika aku menunjukkan bahwa aku mempunyai kekuatan, maka aku tentu akan ikut mendapatkan kekuasaan. Apalagi apabila pada suatu saat Warsi berhasil mendorong Wiradana untuk mengeterapkan kekuatan untuk memperkuat kekuasaannya apabila persoalan-persoalan yang pernah dilakukan itu akhirnya diketahui oleh orang banyak," berkata ayah Warsi di dalam hatinya. 

Karena itu, maka ia pun telah berusaha untuk dalam waktu singkat melumpuhkan perampok itu dan kemudian baru memberitahukan kepada Ki Wiradana. 

Orang-orang yang ketakutan di penginapan itu sama sekali tidak berani berbuat sesuatu. Mereka berdesakan di sudut ruang dengan wajah yang pucat. Sebelumnya mereka belum pernah mengalami perampokan seperti itu. 

Sedangkan di halaman pertempuran antara Dampa dan seorang di antara kedua orang yang akan merampok itu menjadi semakin sengit. Ternyata keduanya telah mempercayakan diri kepada kekuatan mereka. Benturan-benturan yang keras telah terjadi, sehingga bunga-bunga api pun berloncatan di udara memercik seperti bintang-bintang kecil yang berhamburan mengoyak gelapnya malam. 

Demikian pertempuran di dua lingkaran itu benar-benar merupakan benturan ilmu yang tinggi. 

Namun kemudian mulai nampak geseran keseimbangan dalam pertempuran itu. Baik di dalam, maupun diluar. 

Ternyata bahwa kedua perampok itu memiliki ilmu yang lebih baik dari ayah Warsi dan kawannya. Perlahan-lahan keduanya mulai terdesak. Bahkan Dampa mulai kehilangan pengamatan atas senjatanya, ketika ujung senjata lawannya mulai menyentuh tubuhnya. 

"Gila," Dampa sedikit berteriak. Sementara perampok yang melawannya itu tertawa. Katanya, "Ayo Ki Sanak. Apakah yang sebenarnya kau banggakan?" 

Tongkat baja itu pun kemudian berputaran semakin cepat memagari tubuhnya. Tetapi benturan yang terjadi telah merusakkan putaran senjatanya itu. Bahkan dalam usaha untuk memperbaiki keadaan, maka lawannya telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menyerang. 

Sambil menyeringai kesakitan, Dampa meloncat surut. Namun ternyata darah telah mengalir dari tubuhnya. 

Dengan demikian, kemarahan yang membakar jantungnya bagaikan telah mendidihkan darahnya. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa lawannya telah berhasil melukainya. 

Pertempuran semakin lama menjadi semakin kasar. Dampa yang berusaha untuk bertempur dengan cara yang lebih baik dari kebiasaannya, dalam keadaan terdesak, tidak lagi dapat menyembunyikannya watak dan sifatnya. Sebagai pengikut Kalamerta yang hidup dalam dunia yang hitam, maka ia adalah orang yang kasar dan adalah menjadi kebiasaannya untuk bertempur dengan kasar pula. (Bersambung)-m.
Minggu, 23 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 280 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 Tetapi lawannya sama sekali tidak terkejut ketika ia melihat perkembangan ilmu lawannya. Namun demikian ada yang mulai dipikirkannya. Dampa bertempur sambil berteriak-teriak. Mengumpat dengan kasar dan mengaum bagai serigala.

Orang-orang yang berada di dalam penginapan itu menjadi semakin ngeri. Karena mereka tidak melihat, maka yang mereka sangka berteriak menggetarkan jantung itu adalah justru salah satu dari kedua perampok itu. 

Namun kawan perampok itu sendiri dan sebagaimana juga ayah Warsi, mengerti bahwa yang berteriak-teriak kasar itu adalah Dampa. 

Dengan nada rendah salah seorang yang akan merampok ayah Warsi dan sedang bertempur melawannya itu berkata, Nah kau dengar, kawanmu bukan seorang yang bertabiat lembut. Ia justru jauh lebih kasar dari kawanku. Seorang perampok. He, apakah memang demikian kebiasaan para saudagar? 

Namun dengan cerdik ayah Warsi menjawab, Aku tidak peduli. Aku bawa orang itu untuk mengawalku siapapun dia. Tetapi selama ini aku mempercayainya karena kesetiaannya. 

Tetapi Ki Sanak, berkata lawan ayah Warsi. Ada satu hal yang harus aku pertimbangkan. Kawanmu telah berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Dengan demikian maka ada satu kemungkinan bahwa kawanmu telah menarik perhatian orang lain yang akan melaporkannya kepada para pengawal. 

Persetan dengan para pengawal. Aku tidak memerlukan para pengawal. Justru aku akan menyerahkan mayat kalian kepada para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, jawab ayah Warsi. 

Mungkin kau berpendirian begitu, jawab lawannya. Tetapi orang lain yang tidak tahu menahu tentang keinginan itu, akan dapat mengambil sikap. Mereka melihat perkelahian di halaman itu. Kemudian dengan tidak menghiraukan sikapmu, mereka berlari-lari melaporkan para pengawal. 

Tetapi jika para pengawal itu datang, aku akan minta kepada mereka untuk menjadi saksi, bahwa malam ini aku telah membunuh perampok di Tanah Perdikan Sembojan, Tanah yang biasanya tenang dan tentram, jawab ayah Warsi. 

Lawannya tertawa. Katanya, Agaknya memang sudah sampai waktunya kita mengakhiri permainan ini. 

Ya. Permainan ini akan segera berakhir dengan kematianmu, geram ayah Warsi. 

Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Tiba-tiba saja kemampuan lawan ayah Warsi itu masih juga mampu meningkat. Bahkan sejenak kemudian, ayah Warsi seolah-olah telah kehilangan kemampuan untuk mengikuti kecepatan gerak lawannya yang membingungkan. 

Dengan demikian, maka seperti Dampa yang bertempur di halaman, maka ujung senjata orang yang akan merampok itu telah mulai menyentuh tubuh ayah Warsi. Segores luka telah menyilang di dadanya, sehingga darahnya pun telah mengalir pula membasahi pakaiannya. 

Dalam pada itu, sebenarnyalah pertempuran itu memang telah menarik perhatian orang-orang disekitar penginapan itu. Teriakan-teriakan Dampa memang sudah membangunkan orang-orang yang tinggal tidak terlalu jauh dari warung itu. Karena itu, dengan berbagai pertanyaan di dalam diri mereka, maka mereka pun telah keluar dari rumahnya untuk melihat apa yang telah terjadi. (Bersambung)-m.

 

Senin, 24 Maret 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 281 Halaman untuk diprint  Beritahu teman

 Orang-orang itu terkejut ketika mereka melihat perkelahian di halaman penginapan itu. Ada di antara orang-orang itu yang justru menjadi ketakutan dan kembali masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat. Tetapi ada pula yang menghubungi tetangganya sambil berkata, "Kita harus melaporkannya." 

Berbeda dengan orang-orang yang terjebak di dalam penginapan itu, maka orang-orang yang tinggal disebelah menyebelah penginapan dan tidak begitu mengetahui persoalannya, mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu. 

Karena itu, dua orang telah berlari ke gardu di mulut padukuhan, sementara orang lain telah langsung pergi ke sebuah kentongan disudut rumahnya, telah menyambung isyarat itu dengan irama yang sama. 

Dalam waktu yang singkat, maka Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi ribut. Ketika para peronda di gardu mendengar laporan tentang peristiwa yang terjadi di penginapan itu, maka mereka pun dengan segera berlari-lari menuju ke tempat kejadian. Namun demikian ketika mereka menjadi semakin dekat, merekapun menjadi ragu-ragu. 

"Dimana para pengawal," anak-anak muda itu saling bertanya. 

Namun mereka tidak menunggu terlalu lama. Beberapa orang pengawal yang tinggal di padukuhan itu pun segera berada di sekitar penginapan itu. Meskipun mereka belum mengambil satu tindakan, namun dua orang di antara mereka telah berpacu untuk menyampaikan laporan kepada Ki Wiradana. 

Demikian dua ekor kuda berderap dengan kencangnya, maka para pengawal pun telah mengepung penginapan itu bersama anak-anak muda yang sedang meronda. Namun, sebenarnyalah hati mereka menjadi berdebar-debar. 

Satu dua orang pengawal yang berani telah mendekati pintu gerbang halaman dan dengan sangat hati-hati membuka pintu gerbang itu. Tetapi ternyata mereka sudah tidak melihat sesuatu. Tidak ada perkelahian di halaman dan tidak ada suara apapun juga. 

Dalam keragu-raguan itu, para pengawal mendengar derap kaki kuda mendekat. Beberapa orang pengawal telah datang bersama dengan Ki Wiradana sendiri. 

"Apa yang telah terjadi?" bertanya Wiradana. 

"Kami baru menyelidiki," jawab seorang pengawal. "Tetapi seseorang telah melihat perkelahian di halaman ini. Perkelahian yang sangat mengerikan. Seorang di antara mereka yang berkelahi itu berteriak-teriak dengan keras dan bahkan mengaum seperti serigala." 

"Dan kalian tidak memasuki halaman penginapan itu?" bertanya Wiradana. 

"Kami memang akan memasukinya. Tetapi justru karena pertempuran itu sudah selesai, maka kami merasa harus berhati-hati," jawab pengawal itu. 

"Pengecut," geram Wiradana. "Ikut aku." 

Wiradanalah yang kemudian memasuki halaman itu pertama-tama. Meskipun demikian ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Senjatanya telah terhunus dan teracu ke depan. Siap untuk mematuk jantung. 

Tetapi penginapan itu sudah menjadi sepi. Tidak ada lagi suara pertempuran. Bahkan seakan-akan penginapan itu telah menjadi sebuah rumah yang kosong dan tidak berpenghuni sama sekali. 

Tetapi Wiradana terkejut ketika ia melihat sesosok tubuh yang berbaring di dalam kegelapan. Dengan serta merta ia telah mendekatinya. Selangkah dari tubuh itu Wiradana berhenti dan berkata kepada seorang pengawalnya, "Lihat, siapakah orang itu." 

Para pengawal yang kemudian memperhatikan tubuh itu menggeleng sambil menjawab, "Aku belum mengenalnya." 

Tetapi tiba-tiba saja seorang di antara mereka berkata, "Orang ini adalah salah seorang yang menginap di warung ini. Aku melihatnya ketika aku sedang makan di warung ini. Ia adalah kawan saudagar yang juga menginap di penginapan ini pula." 

"He," Wiradana terkejut. "Apakah orang itu sudah meninggal?" 

Pengawal itu menggeleng, jawabnya, "Ia masih hidup. Tetapi ia berada dalam keadaan yang parah." 

"Panggil seseorang yang dapat mengobatinya. Cepat," berkata Wiradana. Sementara Wiradana sendiri yang menjadi cemas tentang saudagar emas berlian itu sudah berlari memasuki penginapan yang pintunya sudah terbuka. 

(Bersambung)-o.

 

 

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 16/X/2002
12 Oct. is Bali's mourn
Updated 24 Maret 2003


Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....


KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo

Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant