|
|
|
Rabu, 05
Maret 2003, SH
Mintardja (Cerbung)
Suramnya Bayang Bayang 262
DEMIKIANLAH, maka sampai matahari
terbit, Warsi tidak dapat memejamkan matanya lagi. Pada saatnya ia pun
bangun dan pergi ke Pakiwan sebagaimana kebiasaannya, sementara Wiradana
masih saja tertidur nyenyak. Kecuali oleh keletihan dan sakit-sakit
ditubuhnya, maka obat yang diusapkan di wajah Wiradana memang mempunyai
daya yang membuatnya tidur nyenyak.
Dalam pada itu, perempuan yang disebut Serigala Betina itu tengah dalam
perjalanan menuju ke sebuah padepokan yang jauh bersama seorang perempuan
tua, namun yang ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi, Nyai
Soka.
“Mudah-mudahan kita selamat sampai ke padepokan Nyai,” berkata Nyai
Soka.
“Aku berharap bahwa di padepokan kita
akan bertemu dengan Iswari, kakang Badra dan pembantunya yang sangat
setia, yang masih mempunyai hubungan darah, bernama Gandar. Mudah-mudahan
mereka tidak berada di padepokan kakang Badra.”
Perempuan yang disebut Serigala Betina itu mengangguk-angguk. Namun
sebenarnyalah ia merasa heran, bahwa perempuan tua itu dengan mudah dapat
mengalahkan Wiradana. Dengan demikian ia menjadi malu kepada dirinya
sendiri yang mendapat sebutan Serigala Betina namun yang tidak berarti
apa-apa bagi perempuan tua itu, sehingga ia lebih pantas disebut Kelinci
Sakit-sakitan daripada Serigala Betina itu.
Perjalanan mereka memang merupakan perjalanan yang agaknya panjang. Tetapi
rasa-rasanya mereka memang sedang menuju ketempat yang menyimpan
pengharapan. Apalagi bagi Serigala Betina itu. Ia memang ingin sekali
bertemu dengan Iswari. Orang yang pernah diancamnya untuk dibunuhnya.
Tetapi syukurlah bahwa pada waktu itu hatinya mendapat tenang sehingga ia
mengurungkan kesediaannya untuk membunuh Nyai Wiradana yang sedang
mengandung itu.
Setelah menempuh perjalanan panjang, maka akhirnya mereka memasuki sebuah
padepokan yang sejuk. Padepokan Tlaga Kembang. Padepokan yang sejuk.
Padepokan tempat memelihara air tawar dan yang pagarnya penuh dengan
bunga-bungaan.
Ketika mereka memasuki padepokan itu, ternyata padepokan itu masih kosong.
Kiai Soka dan orang-orang yang lain masih belum nampak berada di
padepokan.
Ketika Nyai Soka bertanya kepada seorang cantrik, maka cantrik itu
menjawab, “Bukankah mereka pergi bersama Nyai.”
“Ya. Tetapi arah kepergian kami berbeda-beda,” jawab Nyai Soka.
“Tetapi agaknya mereka singgah di
padepokan kakang Badra lebih dahulu.”
Namun dalam pada itu, seorang cantrik telah mengajak seorang bayi
laki-laki yang gemuk panjang menghadapi Nyai Soka. Anak itu gembira sekali
ketika melihat Nyai Soka sehingga kedua tangannya menggapai-gapai dan
berteriak-teriak tidak menentu.
Nyai Soka pun kemudian menerima anak itu. Kepada perempuan yang datang
bersamanya ia berkata, “ini adalah anak Iswari itu.”
“O,” perempuan itu termangu-mangu. Terasa kerongkongannya menjadi
panas. Anak itu adalah anak yang manis. Jika ia saat itu membunuh ibunya,
maka anak itu pun tentu tidak akan pernah lahir di muka bumi.
Tetapi untunglah, bahwa seakan-akan ada yang mencegah melakukannya.
Ternyata perempuan yang untuk selamanya tidak pernah membayangkan akan
mendapat seorang anak pun karena ia tidak pernah kawin itu, tertarik juga
untuk menggendong anak yang manis itu.
Ternyata anak Iswari adalah anak yang berani. Ia mau saja diajak oleh
siapapun juga. Bahkan di tangan perempuan yang belum pernah dikenalnya
itu, anak yang manis itu sempat juga melonjak-lonjak kegirangan.
“O,” Serigala Betina itu pun menjadi gembira, “Anak ini tentu akan
menjadi anak yang nakal sekali.”
Namun perempuan itu mengerutkan keningnya ketika ia teringat bahwa anak
itu adalah anak Wiradana, seorang yang telah mencoba untuk
membunuhnya.
“Tetapi neneknya sangat sayang kepadanya,” berkata perempuan itu di
dalam hatinya, kemudian, “Bahkan anak ini pun hampir saja menjadi korban
ketamakan ayahnya sendiri lewat tanganku.”
Kamis, 06 Maret
2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 263
Sejenak kemudian, maka digendongnya
anak itu berkeliling padepokan bersama Nyai Soka untuk melihat-lihat
dan menikmati sejuknya udara di padepokan.
Agaknya mereka masih harus menunggu dua tiga hari lagi sampai
saatnya Kiai Soka datang. Menurut perhitungan Nyai Soka, mereka
tentu singgah dahulu di padepokan Kiai Badra untuk satu dua hari.
Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana telah memanggil
lima orang terbaik dari para pengawalnya. Kelima orang itu telah
diberinya petunjuk-petunjuk untuk melakukan tugas mereka di luar
Tanah Perdikan Sembojan.
“Kita tidak boleh membuang waktu,” berkata Wiradana, “Demikian
kita menemukannya, maka kita akan membunuhnya.”
Kelima orang pengawalnya mengangguk-angguk. Namun mereka menjadi
berdebar-debar juga. Meskipun setiap kali Wiradana mengatakan bahwa
sasaran mereka tidak lebih dari perempuan sakit-sakitan.
Ketika rencana itu di dengar oleh Warsi, maka ia telah berusaha
mencegahnya. Meskipun Warsi tidak dapat berkata berterus-terang
bahwa ia pernah datang pula ke rumah Serigala Betina yang kosong,
namun Warsi dapat mengatakan, “Perempuan itu tentu tidak akan
berani lagi berada di rumahnya. Ia akan pergi dan hidup di sarang
para perampokdan penyamun.”
“Mungkin, tetapi mungkin pula ia merasa, karena ia tidak berada di
Tanah Perdikan Sembojan, sehingga ia sama sekali tidak memikirkan
bahwa kami akan datang untuk menangkap mereka.
Sementara itu meskipun mereka tidak berada di Tanah Perdikan
Sembojan, namun mungkin sekali mereka membuat landasan di tempat itu
untuk melakukan perampokan di Tanah Perdikan ini,” berkata
Wiradana.
Warsi tidak mencegahnya meskipun ia tahu, bahwa Wiradana tidak akan
menemukan orang yang dicarinya.
Ketika hari menjadi gelap, maka Wiradana pun telah bersiap dengan
orang-orangnya. Mereka akan memasuki Kademangan sebelah dengan
diam-diam dan mengambil perempuan yang disebut Serigala Betina itu.
Namun pada pengawalnya dan juga Warsi menggambarkan, bahwa
seandainya Wiradana masih menemukan perempuan yang dicarinya, maka
akan terjadi pertempuran melawan para perampok dan penyamun yang ada
di rumah perempuan itu.
Karena itu, bagaimanapun juga, ada semacam kecemasan di hati Warsi.
Karena itulah, maka ketika Wiradana kemudian berangkat ke padukuhan
di luar Tanah Perdikan itu menjelang tengah malam. Warsi pun telah
meninggalkan rumahnya pula dengan diam-diam. Ia mencemaskan nasib
suaminya.
Mungkin perempuan yang disebut Serigala Betina itu justru akan
memanggil kawan-kawannya lebih banyak lagi, sehingga suaminya yang
hanya membawa lima orang pengawal itu akan terjebak oleh satu
kekuatan yang tidak terlawan.
Namun Warsi tidak dapat berkata terus terang, bahwa ia melibatkan
diri dalam persoalan antara suaminya dengan perempuan yang disebut
Serigala Betina itu.
Demikianlah, maka Ki Wiradana bersama kelima orang pengawalnya
memasuki Kademangan di sebelah Tanah Perdikan itu dengan laku justru
sebagai orang-orang yang ingin merampok.
Mereka menyusup memasuki Kademangan itu dengan menyusuri jalan-jalan
setapak yang sepi. Kemudian meloncati dinding padukuhan dan
menghindari gardu-gardu peronda.
Namun ketika mereka sampai di rumah perempuan yang disebut Serigala
Betina itu, maka rumah itu telah menjadi kosong. Mereka tidak
melihat seorang pun yang ada di rumah itu, selain bilik-bilik yang
kotor, dinding yang pecah dan geledeg yang terguling.
“Gila,” geram Wiradana. “Mereka benar-benar telah pergi.”
“Ya,” jawab salah seorang dari pengawalnya, “Tidak ada
tanda-tanda bahwa rumah ini ditempati oleh seseorang.”
Wajah Wiradana menjadi tegang. Kepergian perempuan itu akan dapat
menumbuhkan persoalan baru padanya. Mungkin perempuan itu akan
membuka rahasia, bahkan mungkin disertai fitnah yang lebih jahat
lagi.
Tetapi Wiradana tidak dapat berbuat apa-apa. Perempuan itu
benar-benar telah pergi dan tidak diketahui arah kepergiannya.
Jumat, 07 Maret
2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 264 |
Karena itu, betapapun kesalnya
Wiradana, maka yang dapat dilakukannya kemudian adalah kembali
dengan tidak berhasil melakukan sesuatu.
Ketika Wiradana dan kelima pengawalnya dengan hati-hati meninggalkan
rumah itu, agar tidak diketahui oleh para tetangga dan barangkali
para peronda, maka seseorang ternyata mengamati tingkah laku mereka
dari kejauhan. Orang itu adalah Warsi.
Sebenarnyalah Warsi pun menjadi cemas. Perempuan yang mengetahui
rahasia kematian Iswari itu akan dapat mengkhianati suaminya
sehingga akan timbul persoalan yang lebih rumit lagi.
"Tidak ada jalan lain" berkata Warsi di dalam hatinya.
"Aku harus mengundang kekuatan yang akan dapat mendukung
kedudukan Wiradana, karena dengan demikian, maka keturunanku kelak
akan dapat mewarisi Tanah Perdikan ini."
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Namun sebenarnyalah bahwa Warsi
memang mencintai Wiradana. Ia tidak mau kehilangan suaminya apapun
yang terjadi. Karena itu, maka ia merasa wajib utuk
menyelamatkannya, di samping kedudukan yang mungkin akan dapat
diwarisi oleh anaknya kelak.
"Dengan modal Tanah Perdikan, maka gegayuhan yang lebih tinggi
tentu akan dapat dicapainya," berkata Warsi di dalam hatinya.
Sementara itu ketika Wiradana sampai di rumahnya, Warsi sudah berada
kembali di biliknya seperti biasanya. Namun nampak betapa cemas
wajahnya ketika ia melihat Wiradana memasuki bilik itu pula.
"Apa yang terjadi kakang?" bertanya Warsi.
"Seperti yang kau katakan, perempuan itu sudah pergi,"
jawab Wiradana.
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk memberikan kesan
bahwa ia tidak mengetahui akan hal itu.
Namun dalam pada itu, Warsi pun harus mulai berpikir, jika pada
suatu saat perempuan itu berkhianat, maka apakah yang sebaiknya
harus dilakukannya.
Persoalan itu pun dihubungkannya dengan serombongan penari yang
telah menggelisahkan Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan Warsi berpikir
lebih jauh lagi, bahwa telah terjadi satu permainan yang sangat
rumit yang masih belum dapat dipecahkannya.
Warsi memang tidak begitu percaya kepada kecerdasan berpikir
suaminya. Ia memang mencintai suaminya, tetapi baginya suaminya
tidak lebih dari seorang laki-laki yang tampan, yang manarik hati
perempuan. Tetapi yang otaknya tumpul dan tidak mempunyai pengamatan
yang jauh ke depan.
Bahwa Wiradana terlalu mempercayainya, adalah bukti yang tidak dapat
diingkari oleh Warsi sendiri, bahwa suaminya terlalu mudah untuk
ditipu. Sehingga justru karena itu, maka Warsi pun mempunyai
pendapat seperti itu terhadap suaminya, dalam hubungannya dengan
orang-orang lain.
"Mungkin sekali Wiradana juga ditipu oleh iblis betina
itu," berkata Warsi di dalam hatinya. "Bahkan mungkin
Iswari itu tidak dibunuhnya dan penari itu memang Iswari itu
sendiri."
Wajah Warsi menjadi tegang. Tetapi ia bukan perempuan yang cukup
menyerah kepada kebingungan dan putus asa. Ia adalah seorang yang
mempunyai tekad yang menyala di dalam dadanya.
Karena itu, maka ia pun sudah bertekad, bahwa pada suatu ketika ia
tidak akan dapat bersembunyi lagi. Ia harus menunjukkan dirinya yang
sebenarnya, sementara suaminya harus tunduk kepadanya.
Dengan cerdik Warsi memperhitungkan saat-saat yang paling tepat
untuk bertindak. Ia harus membiarkan suaminya tersudut dan sulit
untuk keluar dari persoalan yang membelitnya. Pada saat yang
demikian ia akan tampil untuk menyelamatkannya dan sekaligus memaksa
suaminya itu untuk mencium kakinya.
"Ia harus bersedia menjadi laki-laki yang dapat menjadi suami
tetapi juga bersedia menjadi budak," berkata Warsi di dalam
hatinya. Sementara itu, ia sama sekali tidak ingin melepaskan Tanah
Perdikan Sembojan dari tangannya atau keturunannya.
Dalam keadaan yang demikian, maka laki-laki yang disebutnya ayahnya
itu sangat diperlukannya. Ia harus dapat bertindak cepat dalam
keadaan yang sangat mendesak. |
Sabtu, 08 Maret
2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 265
 |
Di luar pengetahuan Wiradana maka
pada satu saat laki-laki yang disebut ayahnya itu dipanggilnya.
Dengan sungguh-sungguh Warsi mengatakan keadaan yang mungkin akan
dapat menjadi gawat.
“Kau harus pulang menghadap ayah,” berkata Warsi. “Ayah
harus mempersiapkan kekuatan yang kami perlukan. Cari semua orang
kita yang pada saat tertentu akan dapat kita pergunakan. Kumpulkan
mereka dan siapkan mereka untuk tugas-tugas yang mungkin akan cukup
berat. Bahkan mungkin akan terpaksa terjadi pertumpahan darah.”
Orang yang diakunya sebagai ayahnya itu mengangguk-angguk. Lalu
katanya, “Apakah aku harus berangkat sekarang?”
“Kau memang sangat dungu,” bentak Warsi. Hampir saja ia menampar
mulut orang itu.
“Jangan berbuat sesuatu yang
dapat menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan. Jika kau tiba-tiba saja
minta diri untuk pulang, maka Wiradana akan berpikir.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia bertanya,
“Jadi bagaimana?”
“Nanti malam kita akan mencari kesempatan. Kita dapat berbicara
tentang apa saja. Baru kemudian kau mengatakan, bahwa kau sudah
terlalu lama berada disini. Karena itu, maka kau ingin menengok
rumah,” jawab Warsi.
Laki-laki itu mengangguk-angguk. Ia harus melakukan peranannya
sebaik-baiknya. Jika ia gagal, maka kemungkinan yang terjadi adalah
bahwa kepalanya akan dapat dipenggal oleh perempuan yang berwatak
seribu itu.
Demikianlah, maka ketika mereka duduk mengelilingi makan malam di
amben besar di ruang dalam, mereka pun bercakap-cakap tentang banyak
hal yang terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Namun agaknya Wiradana
dengan sengaja tidak mengatakan tentang kegelisahannya kepada
laki-laki yang disangkanya adalah mertuanya. Ia berharap bahwa
laki-laki itu dapat tinggal di Tanah Perdikan Sembojan dengan tenang
dan merasa damai.
Dalam kesempatan itulah, maka laki-laki itu pun kemudian menyatakan
keinginannya untuk kembal ke rumahnya.
“Sudah lama aku tidak menengok keluarga,” berkata laki-laki itu.
“Sudah waktunya aku minta diri.”
“Begitu tergesa-gesa?” bertanya Wiradana.
“Bukankah aku sudah lama berada disini?” sahut laki-laki itu.
Kemudian, “Namun dalam pada itu, aku pun tidak akan terlalu lama
meninggalkan Warsi. Pada suatu saat yang pendek, aku akan segera
datang kembali menengok kalian.”
Wiradana mengangguk-angguk. Jawabnya, “Sebenarnya aku ingin ayah
berada di Tanah Perdikan ini lebih lama lagi.”
“Terima kasih. Bukankah aku akan sering datang berkunjung?”
berkata laki-laki itu pula.
Wiradana tidak mencegahnya. Bahkan ia pun merasa lapang, jika
laki-laki itu tidak berada di Tanah Perdikan justru pada saat Tanah
Perdikan itu bergolak.
Karena itu, maka katanya kemudian, “Jika demikian ayah, maka
silakan. Tetapi sudah tentu dengan pengertian, bahwa setiap saat
kami menunggu kedatangan ayah.” (Bersambung)-m.
|
Minggu, 09 Maret
2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
266
 |
“Aku tidak akan sampai hati
meninggalkan kalian terlalu lama,” jawab laki-laki itu. “Warsi
masih terlalu muda. Bukan umurnya tetapi pengalamannya sehinga ia
memerlukan bimbingan yang terus menerus. Mungkin dari suaminya,
mungkin dari ayahnya.”
Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi Warsi sendiri mengumpat di dalam
hati. Meskipun demikian kesan itu sama sekali tidak nampak di
wajahnya. Bahkan wajahnya yang nampak luruh itu menunduk
dalam-dalam.
Wiradana tidak berusaha untuk menahan lebih lanjut. Ketika
matahari kemudian terbit di keesokan harinya, maka Wiradana telah
mempersiapkan segala sesuatunya yang akan dibawa oleh ayahnya.
Bahkan ia telah menawarkan seekor kuda yang tegar untuk
dipergunakan.
“Jika ayah ingin mempergunakan seekor kuda, maka kuda yang tegar
yang merupakan kuda pilihan bagi Tanah Perdikan ini, dapat ayah
pergunakan. Dengan demikian maka setiap kali ayah dapat menempuh
perjalanan dengan waktu yang lebih singkat.”
“Kuda itu memang sangat menarik,” berkata laki-laki itu.
“Nampaknya aku akan sangat berterima kasih jika aku berkesempatan
untuk mempergunakannya.”
Ternyata bahwa laki-laki itu kemudian memang mempergunakan seekor
kuda yang tegar dan kuat. Sudah lama ia menginginkan kuda yang
demikian. Karena itu maka tawaran Wiradana merupakan satu kebetulan
yang sangat menyenangkan.
Sejenak kemudian maka laki-laki itu pun telah berpacu meninggalkan
Tanah Perdikan. Segala sesuatunya yang didengarnya dari Warsi memang
harus segera disampaikan kepada ayah perempuan itu. Jika terlambat,
maka segala impian Warsi akan lenyap ditiup oleh keadaan yang tidak
diperhitungkannya sebelumnya.
Perjalanan laki-laki yang disebut ayah Warsi itu memang jauh. Tetapi
berkuda maka jarak itu terasa menjadi pendek. Karena itu, maka ia
merasa begitu cepat sampai ke padukuhannya meskipun ia telah
menempuh perjalanan hampir sehari semalam. Hanya pada saat-saat
kudanya terasa letih sajalah ia berhenti untuk memberi kesempatan
kudanya minum dan makan rerumputan segar di perjalanan.
Tanpa beristirahat, maka laki-laki yang disebut ayah oleh Warsi itu
pun kemudian telah mencari ayah Warsi yang sebenarnya. Nampak pada
wajah dan sikapnya, bahwa ada sesuatu yang menggelisahkannya. Karena
itu, maka ayah Warsi pun menjadi berdebar-debar pula.
“Apa yang telah terjadi?” bertanya ayah Warsi yang sebenarnya
kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu pun menceriterakan apa yang telah dialami oleh Warsi.
Kegelisahan dan keadaan yang tidak menentu. Setiap saat keadaan di
Tanah Perdikan itu akan dapat bergolak.
“Kenapa bergolak,” bertanya ayah Warsi. “Bukankah segala
keputusan ada di tangan Wiradana? Seandainya perempuan yang disebut
Serigala Betina itu membuka rahasia Wiradana, maka Wiradana akan
dapat menangkapnya dengan tuduhan bahwa perempuan itu telah
memfitnahnya.”
“Tetapi bagaimana jika Iswari itu memang masih hidup?” laki-laki
itulah yang kemudian bertanya.
Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia bertanya,
“Bagaimana menurut Warsi?”
“Warsi tidak mempunyai jalan lain kecuali mempergunakan kekuatan.
Jika rahasia itu terbongkar, maka tidak ada pilihan lain kecuali
memaksa Wiradana untuk bersikap keras. Tetapi juga mendukungnya
dengan kekuatan yang akan dapat melindunginya,” jawab laki-laki
itu.
Ayah Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Warsi sudah benar. Tetapi
ia tidak perlu merasa terlalu cemas menghadapi keadaan ini. Jika
rahasia itu terbongkar, maka Wiradana dapat menakut-nakuti rakyatnya
dengan tindakan kekerasan.”
“Itulah yang dimaksud oleh Warsi,” jawab laki-laki itu.
“Aku mengerti. Dan aku sudah membenarkannya. Karena langkah itu
meyakinkan, maka Warsi tidak perlu menjadi gelisah atau ketakutan.
Segalanya akan teratasi. Jika perlu harus jatuh korban untuk
menunjukkan bahwa Wiradana dan Warsi tidak main-main,” berkata
ayah Warsi.
(Bersambung)-m. |
Senin, 10 Maret
2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 267
 |
Kemudian hubungan antara Warsi dan
Wiradana pun akan berubah. Jika sampai saat ini Warsi adalah seorang
perempuan yang manja dan lembut hati, bahkan agak cengeng, maka
pada suatu saat ia akan menjadi perempuan yang garang. Dan Wiradana
harus menerima kenyataan ini,” berkata laki-laki itu.
Ayah Warsi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Hal itu tidak
dapat diingkari. Biarlah yang akan terjadi itu terjadi. Bukankah
Warsi menghendaki atau menyiapkan kekuatan yang setiap saat
diperlukan?”
Laki-laki itu mengangguk.
“Baiklah. Mulai besok aku akan bekerja keras. Aku memang
menghendaki Warsi tidak menjadi korban dalam keadaan apapun. Karena
itu, maka kita harus dapat memenuhi kebutuhannya. Juga menyangkut
kekuatan,” berkata ayah Warsi.
Laki-laki itu masih mengangguk-angguk. Ternyata ayah Warsi tahu
tepat apa yang diperlukan anak perempuannya. Dengan demikian
laki-laki itu tidak akan banyak mengalami kesulitan di dalam
tugasnya. Sementara itu Warsi memang sudah berpesan, bahwa jika
kekuatan yang diperlukan itu sudah siap, maka laki-laki yang disebut
sebagai ayah Warsi itu harus datang lagi ke Tanah Perdikan Sembojan
untuk memberitahukan hal itu kepada Warsi. Sehingga dengan demikian
maka Warsi akan dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan
untuk mengatasi persoalan yang mungkin akan memuncak di Tanah
Perdikan itu.
Dalam pada itu, sebenarnya bahwa ayah Warsi telah bekerja dengan
cepat. Ia telah menghubungi beberapa orang pengikutnya dan mereka
yang pernah disebut sebagai keluarga Kalamerta. Dengan kesetiaan
yang tinggi, maka mereka telah menyatakan untuk tetap berada dalam
lingkungan keluarga Kalamerta.
Beberapa orang kemudian telah terkumpul. Orang-orang yang mempunyai
kekuatan yang akan dapat membantu Warsi dalam keadaan yang sangat
diperlukan. Bahkan orang-orang itu masih saja dibayangi pula oleh
dendam karena kematian Kalamerta oleh Ki Gede Sembojan.
“Tetapi kalian tidak akan dapat mendendam kepada Wiradana,”
berkata ayah Warsi. “Wiradana sekarang sudah menjadi suami anakku.
Bagaimanapun juga Warsi mencintainya dan lebih daripada itu,
keturunan Warsi kelak akan dapat menggantikannya menjadi seorang
Kepala Tanah Perdikan. Jika ia tidak mempunyai seorang anak
laki-laki, maka menantunyalah yang akan menjadi Kepala Tanah
Perdikan.”
Tetapi orang-orang itu sudah merasa puas, ketika mereka telah
mendengar bahwa Ki Gede Sembojan sendiri sudah terbunuh. Sehingga
sasaran dendam yang sebenarnya sudah terselesaikan. Justru oleh
Warsi sendiri.
Sementara itu ayah Warsi pun kemudian berkata kepada bekas
pengendang Warsi, “Agaknya aku sudah melakukan sebagaimana
dikehendaki oleh anakku. Jika diperlukan, maka mereka akan dapat
segera datang ke Tanah Perdikan Sembojan kapan saja untuk keperluan
apa saja.”
“Baiklah,” berkata orang yang disebut ayah Warsi di Tanah
Perdikan Sembojan itu. “Aku akan segera kembali. Tetapi tentu
tidak akan terlalu cepat, agar tidak justru menimbulkan pertanyaan.
Namun meskipun demikian, kita wajib mengamati keadaan. Sebaiknya
salah seorang dari kita, berada di sekitar Tanah Perdikan itu.
Mungkin kita dapat menemui Warsi jika sekali-kali ia pergi
berbelanja meskipun hal ini jarang sekali dilakukan. Namun pada
suatu saat, Warsi juga pergi ke pasar. Mungkin Warsi memerlukan
sesuatu.”
“Jika demikian kenapa bukan kau sajalah yang pergi?” bertanya
ayah Warsi.
“Aku sudah banyak dikenal di Tanah Perdikan Sembojan,” jawab
orang itu.
Ayah Warsi menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia
berkata, “Aku sendiri akan pergi ke Tanah Perdikan itu.”
“Tetapi ingat, ayah Warsi adalah aku,” berkata bekas pengendang
itu.
“Ya. Aku akan selalu ingat hal itu. Aku pinjam kudamu. Kuda yang
besar dan tegar. Lebih baik dari kuda yang manapun yang kita
miliki,” berkata ayah Warsi.
“Sebenarnya aku tidak berkeberatan. Tetapi kuda itu adalah
pemberian Wiradana. Jika orang-orang Tanah Perdikan itu
mengenalinya, mungkin akan timbul persoalan lain tentang kuda
itu,” jawab bekas pengendang itu. (Bersambung)-k. |
Selasa, 11 Maret
2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang
“Gila kau,” geram ayah Warsi.
“Kau memang kikir sekali.”
“Bukan aku yang kikir,” jawab bekas pengendang itu. “Tetapi
terserah kepadamu. Kau tahu darimana aku mendapatkan kuda itu.”
“Persetan dengan kudamu. Aku akan pergi berjalan kaki. Aku
akan membawa seorang kawan di perjalanan,” berkata ayah Warsi
kemudian.
Dengan demikian, maka sudah menjadi keputusan, bahwa ayah Warsi akan
pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi ia tidak akan langsung
pergi ke rumah Warsi. Tetapi ia akan mencari kesempatan untuk dapat
bertemu dengan Warsi, kemudian menentukan tempat untuk setiap kali
dapat berbicara tentang persoalan-persoalan yang menyangkut Warsi,
suaminya dan Tanah Perdikan Sembojan.
Sementara itu, di padepokan Tlaga Kembang, Kiai Badra dan
kawan-kawannya telah berkumpul. Ternyata mereka memang singgah di
padepokan Kiai Badra untuk beberapa saat. Baru kemudian mereka pergi
ke padepokan Kiai Soka.
Ketika Iswari yang datang bersama Kiai Badra dan kawan-kawannya
melihat perempuan yang disebut Serigala Betina itu, ia terkejut.
Namun kemudian hampir di luar sadarnya, Iswari telah berlari dan
memeluknya.
“Kapan kau datang Nyai?” bertanya Iswari ketika ia kemudian
melepaskan pelukannya.
Wajah perempuan itu menjadi tegang. Terasa pelupuknya menjadi panas.
Tetapi ia adalah perempuan yang hidupnya telah ditempa oleh keadaan
yang sangat keras, sehingga ia pun kemudian berhasil menguasai
perasaannya.
“Aku datang ke padepokan ini bersama Nyai Soka,” jawab perempuan
itu.
“Syukurlah,” berkata Iswari. “Kami memang mencemaskan keadaan
Nyai.”
“Nyai Soka tentu akan dapat menceriterakan peristiwa yang mungkin
sangat menarik,” berkata perempuan itu.
Nyai Soka tersenyum. Jawabnya, “Sebagaimana juga Iswari tentu akan
dapat membuat ceritera yang lebih menarik lagi tentang
perjalanannya.”
Iswari mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum juga.
Sejenak kemudian mereka pun telah duduk di pendapa padepokan Tlaga
Kembang. Beberapa orang laki-laki ada di antara mereka. Laki-laki
yang pada umumnya sudah terhitung tua. Termasuk Kiai Badra dan Kiai
Soka. Dua orang yang tubuhnya masih nampak kekar dan kuat, yang
justru mendebarkan hati perempuan itu. Kedua orang itu sudah dikenal
oleh perempuan yang disebut Serigala Betina itu.
“Kau sudah berada disini pula?” berkata salah seorang di antara
kedua orang itu.
“Ya Kiai,” jawab Serigala Betina itu. “Ternyata Kiai juga
berada disini.”
Yang tua, yang bernama Sambi Wulung itu pun bertanya pula, “Kenapa
kau tiba-tiba saja berada disini?”
“Sudah aku katakan kepada Nyai Wiradana, aku datang bersama Nyai
Soka,” jawab Serigala Betina itu.
“Panggil aku Iswari,” potong Iswari.
“O,” perempuan itu mengangguk. “Aku belum terbiasa memanggil
seperti itu.
“Mulailah. Kau akan terbiasa mengucapkannya,” berkata Iswari
kemudian.
Perempuan yang disebut Serigala Betina itu pun menarik sesuatu yang
penting. Mereka berbicara tentang padepokan, tentang musim dan
tentang tanaman.
Karena itu, maka Nyai Soka pun kemudian telah mengajak perempuan
yang disebut Serigala Betina itu dan Iswari untuk pergi ke belakang.
“Tenaga kami akan lebih berarti di belakang daripada disini,”
berkata Nyai Soka. “Mungkin kami dapat membantu masak atau mencuci
mangkuk.”
“Silakan,” jawab Kiai Soka. “Kami masih ingin berbicara
tentang apa saja.”
Nyai Soka dan kedua perempuan yang lain itu pun telah meninggalkan
pendapa. Tetapi ternyata Nyai Soka tidak membawa mereka ke dapur,
tetapi mereka masuk ke ruang dalam.
“Nyai,” berkata Nyai Soka kemudian, “Ada yang ingin aku
tunjukkan. Bukankah Nyai pernah mempertanyakan tentang penari yang
di Tanah Perdikan Sembojan di ributkan mirip dengan Iswari?”(Bersambung)-m.
Rabu,
12 Maret 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 269
Perempuan itu termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian ia pun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku
memang pernah mempertanyakan hal itu.”
“Bungkusan itu adalah bungkusan yang dibawa oleh salah
seorang pembantu kakang Badra. Cobalah lihat, apa isinya,” berkata
Nyai Soka.
Perempuan itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun telah membuka
bungkusan itu.
Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku sudah mengira.
Karena itu, aku tidak terlalu terkejut karenanya. Apalagi aku tahu
pasti, bahwa Nyai Iswari memang masih hidup.”
Nyai Soka mengangguk-angguk. Iswari sendiri berdiri saja bagaikan
membeku. Bungkusan itu adalah bungkusan pakaian seorang
penari.
“Nyai,” berkata perempuan itu. “Sebenarnya aku ingin
orang-orang Tanah Perdikan Sembojan seluruhnya sempat melihat
sendiri, bahwa ada seorang penari yang mirip dengan Nyai Wiradana.
Dengan demikian persoalannya akan cepat diselesaikan. Karena aku
yakin, bahwa orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tentu sempat
berpikir dan mengurai apa yang sebenarnya terjadi. Aku bersedia
menjadi saksi dan memaparkan persoalan yang sesungguhnya itu kepada
orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.
Iswari tidak segera menjawab. Tetapi matanya justru menjadi redup.
Sementara itu, Nyai Sokalah yang menjawab, “Ada banyak
pertimbangan pada hati Iswari.”
Perempuan yang disebut Serigala Betina itu mengangguk-angguk. Ia
dapat mengerti perasaan Iswari yang sebenarnya lembut sebagaimana
sikapnya. Meskipun suaminya telah berniat dan bahkan telah melakukan
usaha untuk membunuhnya, tetapi agaknya sikap Iswari terhadap
suaminya tidak akan mungkin sekeras sikap suaminya.
Meskipun demikian, bukan berarti bahwa Iswari harus berdiam diri
menghadapi sikap suaminya.
Sebenarnyalah bahwa Nyai Soka pun memberikan beberapa pertimbangan
kepada Iswari. Ia dapat saja memaafkan suaminya dan sama sekali
tidak ingin membalas dendam. Tetapi ia tidak boleh mengorbankan
Tanah Perdikan Sembojan. Mungkin Iswari memang tidak begitu
berkepentingan dengan Sembojan, karena Iswari memang bukan orang
Perdikan itu. Tetapi anak laki-lakinya adalah pewaris Tanah Perdikan
itu. Seandainya Wiradana mempunyai anak laki-laki yang lain, maka
anak laki-laki Iswari adalah anaknya yang pertama. Ia adalah orang
yang paling berhak mewarisi Tanah Perdikan itu kelak.
Sementara itu, perempuan yang juga disebut Serigala Betina itu pun
kemudian mengetahui selengkapnya tentang rombongan penari yang
penarinya mirip sekali dengan Iswari, karena penarinya memang Iswari
itu sendiri. Sementara pengiringnya adalah orang-orang tua yang
memiliki ilmu yang sangat tinggi. Di samping dari perguruan Guntur
Geni itupun telah menggabungkan diri pula bersama mereka, ditambah
dua orang Puthut yang dianggap sudah memiliki kemampuan yang memadai
dari perguruan Tlaga Kembang.
Karena itulah, maka rombongan penari yang satu ini sudah barang
tentu akan merupakan rombongan penari yang tidak biasa sebagaimana
rombongan-rombongan yang lain. Dalam keadaan tertentu rombongan
penari ini akan dapat menghadapi kekuatan yang betapapun
besarnya.
Dalam pada itu, orang-orang yang berada di pendapa ternyata telah
membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan dapat terjadi. Ketika
kemudian Iswari keluar sambil menggendong anaknya, maka Kiai Soka
pun telah memanggilnya.
“Duduklah,” berkata Kiai Soka. “Bukankah anakmu tidak
menangis?”
“Tidak kakek,” jawab Iswari.
“Baiklah, dengarlah,” berkata Kiai Soka. “Rasa-rasanya kami
bersepakat untuk meneruskan permainan kami sampai seluruh Tanah
Perdikan yakin, bahwa kau masih tetap hidup.”
Wajah Iswari menunduk. Ia sama sekali tidak menjawab.
“Iswari,” berkata Kiai Soka. “Menurut Gandar, perempuan yang
kemudian menjadi istri Wiradana itu adalah perempuan yang tentu
memiliki ilmu yang sangat tinggi. Kau yang baru mulai, masih akan
terpaut banyak. Jika kita tidak mulai sekarang maka semakin lama
kedudukannya tentu akan semakin kuat. Ia tentu tidak berdiri
sendiri, karena ia mempunyai kekuatan ilmu Kalamerta. Karena itu,
bukankah lebih baik jika kita mulai seawal mungkin?(Bersambung)-m.
Kamis, 13 Maret 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 270

Iswari mengangkat wajahnya sejenak. Namun
kemudian kembali wajah itu menunduk. Tidak ada yang dapat dikatakannya
kepada Kiai Soka.
Sementara itu, Kiai Badra sendiri hanya dapat memandangi cucunya tanpa
berkata sepatah kata pun. Ia sependapat dengan Kiai Soka. Tetapi ia juga
mengerti perasaan cucunya.
Karena itu, maka ia menunggu perkembangan keadaan yang mungkin
terjadi.
Dalam pada itu, Kiai Soka pun kemudian berkata, "Baiklah Iswari.
Meskipun kita harus bekerja cepat, tetapi kita masih mempunyai waktu pada
saat ilmumu akan dapat menyusul ilmu perempuan iblis yang telah membunuh
Ki Gede itu. Nenekmu mempunyai sejenis air yang dapat mempercepat putaran
kejadian. Air yang didapatkannya dari tempat yang paling sulit dicapai.
Jika ia berkenan, maka ia akan dapat mempercepat putaran kejadian,
termasuk usahamu memperdalam ilmumu."
Iswari tidak menjawab. Meskipun demikian ia juga tidak menolak.
Demikianlah, maka ketika Iswari telah meninggalkan mereka maka orang-orang
tua itu telah menyusun rencana mereka sendiri. Setiap saat rencana itu
akan dapat dimanfaatkan. Meskipun demikian mereka tidak dapat meninggalkan
kesediaan Iswari sendiri.
Namun agaknya Kiai Soka telah berbicara kepada Nyai Soka tentang air yang
dikatakannya. Air yang dapat mempercepat putaran kejadian, yang disebutnya
sebagai Banyu Gege.
Ternyata bahwa Nyai Soka telah memanggil Iswari seorang diri ketika
anaknya sudah tidur nyenyak, ditunggi oleh seorang endang yang biasa
melayaninya. Bahkan anak itu tidak akan rewel meskipun ditinggal ibunya
sampai berhari-hari.
"Iswari," berkata Nyai Soka kemudian. "Apakah kakekmu, Kiai
Soka pernah menyinggung tentang Banyu Gege, semacam air yang dapat
mempercepat putaran kejadian?"
"Ya nenek. Kakek bermaksud agar aku dapat meningkatkan ilmuku dengan
cepat," jawab Iswari.
Tetapi Nyai Soka itu tersenyum. Katanya, "Kakekmu memang benar
Iswari. Tetapi yang dimaksud tentu bukan sejenis air yang dapat diminum
atau dapat dipergunakan untuk mandi yang kemudian dengan sendirinya segala
putaran peristiwa peristiwa akan berlangsung dengan cepat. Kau akan dengan
tiba-tiba memiliki ilmu yang tinggi, atau peristiwa-peristiwa seperti
itu."
Iswari mengerutkan keningnya. Ia memang menjadi bingung, karena ia kurang
mengerti maksud neneknya.
Sementara itu, Nyai Soka berbicara terus, "Iswari. Yang dimaksud
tentu satu usaha yang terus menerus, mengalir tanpa henti seperti
mengalirnya air. Dengan usaha yang demikian, maka kau akan menjadi semakin
meningkat."
Iswari mengangguk kecil. Katanya, "Apapun yang harus aku lakukan, aku
tidak akan ingkar nenek. Bukankah selama ini juga aku patuh kepada
nenek?"
"Ya. Tetapi untuk mempercepat kemajuanmu, maka segala sesuatunya
harus dilakukan berlipat ganda. Kau harus menempuh laku yang sangat berat.
Ada dua tugas yang saling bertentangan yang harus kau lakukan. Kau harus
memeras tenagamu untuk melakukan latihan-latihan, namun sementara itu,
jenis makanan yang boleh kau makan harus dikurangi. Anakmu sudah menjadi
semakin besar, sehingga sudah sering kau tinggalkan dan tidak kau susui
lagi. Ia sudah tumbuh dan berkembang dengan baik. Karena itu, maka kau
dapat meninggalkan beberapa jenis makanan yang selama ini kau makan,
apalagi pada saat-saat kau menyusui," Nyai Soka berhenti sejenak,
lalu.
(Bersambung)-m.
Updated Kamis 13 Maret 2003
Sign My Dreambook
TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|