|
|
|
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Jumat, 21 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 251
Sejenak kemudian, maka pemimpin pengawal
itu pun berkata, “Baiklah. Kami akan melanjutkan perjalanan. Tidak
dirampok orang apalagi penari cantik itu. Meskipun aku belum melihat dengan
jelas, karena hanya sekilas saja, maka aku tidak dapat menyebutnya. Tetapi
aku yakin bahwa ia memang cantik.”
“Kau pernah melihatnya?” tiba-tiba petani itu bertanya.
Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ya. Hanya
sekilas. Jauh sebelum orang-orang Tanah Perdikan ini mempersoalkan bahwa
wajahnya mirip dengan Nyai Wiradana. Ketika aku sedang ronda maka aku
melihat rombongan itu kebar di sudut sebuah padukuhan.”
Petani itu mengangguk-angguk, sementara para pengawal itu pun segera
meneruskan perjalanan mereka. Mereka sengaja tidak mengambil jalan kembali.
Tetapi mereka berjalan terus meskipun kemudian mengambil jalan melingkar dan
kembali ke rumah masing-masing.
Namun disepanjang jalan mereka sempat berbincang tentang satu alasan yang
mungkin harus mereka kemukakan jika datang laporan kepada Ki Wiradana bahwa
telah terjadi satu tindakan kekerasan di bulak di daerah pinggiran Tanah
Perdikan Sembojan.
“Mungkin rombongan itu justru telah dirampok,” desis salah seorang
pengawal itu.
Pemimpinnya mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Alasan sebagaimana dikatakan
oleh petani itu.”
Dengan demikian maka pendapat para petani Itu justru telah diambil alih oleh
para pengawal. Mereka akan membuat dugaan, bahwa rombongan itu telah
dirampok orang seandainya ada laporan tentang kerusakan kecil pada sawah dan
ladang di pinggir jalan, satu tempat yang telah dipergunakan sebagai arena
perkelahian antara para pengawal dan rombongan penari yang gagal ditangkap
itu.
Tetapi agaknya laporan itu tidak sampai ke Wiradana. Agaknya para petani itu
hanya sekadar membicarakan kerusakan itu di antara mereka sendiri. Bahkan
sebagian dari mereka justru menaruh belas kasihan kepada rombongan penari
yang mereka sangka telah dirampok orang.
Namun dalam pada itu, pemimpin pengawal yang gagal menangkap rombongan
penari itu tidak dapat mengingkari penglihatannya sendiri. Bagaimanapun
juga, penari itu memang mirip sekali dengan Nyai Wiradana yang hilang itu,
seperti yang dikatakan oleh petani di tengah bulak, dibekas tempat para
pengawal bertempur dengan rombongan itu.
Meskipun demikian pemimpin pengawal itu tidak dapat mengatakan hal itu
kepada para pengawal. Para pengawal malam itu bertempur tanpa banyak
menghiraukan penari yang dipersoalkan itu, sehingga mereka tidak banyak
mengetahui, apakah perempuan itu mirip dengan Nyai Wiradana atau
tidak.
Sementara itu untuk beberapa waktu lamanya, tidak ada cerita tentang penari
yang mirip dengan Nyai Wiradana itu. Orang-orang yang sekali-kali masih
berbicara tentang perempuan itu, hanya sekadar berbisik-bisik di antara
tetangga mereka, karena semua orang Tanah Perdikan Sembojan mengetahui,
bahwa Ki Wiradana tidak senang mendengar cerita tentang perempuan yang mirip
dengan istrinya yang hilang itu.
Namun dalam pada itu, Warsi sendirilah yang kemudian masih saja merasa
gelisah. Ia merasa seolah-olah rombongan penari itu merupakan sindiran bagi
kehadirannya di Tanah Perdikan. Meskipun Warsi tidak tahu persis, maksud
dari rombongan penari itu, namun bahwa penari itu mirip dengan Nyai Wiradana
yang hilang itu, seakan-akan merupakan satu kesengajaan dengan maksud
tertentu.
Dengan demikian, maka ada kecurigaan pada Warsi, bahwa yang dilakukan
Wiradana terhadap istrinya itu telah diketahui oleh seseorang. Atau
setidak-tidaknya ada pihak yang curiga terhadapnya.
Karena itu, maka dengan caranya, Warsi pun telah menyampaikan kepada Ki
Wiradana kemungkinan itu.
“Apakah kau beranggapan demikian?” bertanya Wiradana.
“Mungkin sekali kakang. Karena tiba-tiba saja Nyai Wiradana itu telah
hilang. Apapun yang kakang lakukan atas istri kakang itu namun hilangnya
telah menumbuhkan persoalan,” berkata Warsi dengan nada dalam.
(Bersambung)-m.
Sabtu, 22 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 252
"Hanya Serigala Betina itu sajalah
yang mengetahuinya," desis Wiradana.
Namun dengan demikian, maka ada keinginan Wiradana untuk menemui perempuan
itu lagi. Mungkin ia akan dapat memberikan keyakinan, bahwa persoalan itu
tidak diketahui oleh siapapun juga kecuali Wiradana sendiri.
"Jika ternyata perempuan itu berkhianat dan menceriterakan
persoalan ini kepada orang lain, maka tidak ada pilihan lain kecuali
membunuhnya," berkata Wiradana kepada diri sendiri.
Dengan demikian, maka tanpa diketahui oleh orang lain, maka Wiradana pun
telah pergi ke padukuhan kecil di luar Tanah Perdikan Sembojan. Ia ingin
bertemu dengan perempuan yang pernah dimintanya untuk membunuh Iswari.
Dalam malam yang gelap Wiradana menyusuri jalan kecil yang jarang dilalui
orang, apalagi di malam hari. Ia berusaha untuk menghindari pertemuan dengan
siapapun, sehingga kepergiannya ke padukuhan itu tidak menumbuhkan
kecurigaan bagi siapapun juga.
Namun dalam perjalanan Wiradana selalu digelitik oleh kegelisahan. Ada
beberapa pertimbangan yang ingin dilakukan. Apakah cukup baginya untuk
mendapatkan satu keyakinan yang lebih mantap bahwa Iswari telah dibunuh
tanpa ada orang lain yang mengetahuinya? Atau ia harus bersikap lebih tegas
lagi? Seandainya perempuan itu sampai saat terakhir tidak mengatakan apapun
juga kepada orang lain, tetapi apakah pada hari-hari mendatang ia juga tidak
akan mengatakannya kepada siappun juga?
Wiradana belum menemukan satu keputusan ketika ia sudah memasuki regol tua
sebuah rumah kecil yang dihuni oleh perempuan yang pernah disebut Serigala
Betina itu.
Bagaimanapun juga terasa jantung Wiradana berdegupan. Sudah agak lama ia
tidak berhubungan dengan perempuan itu. Mungkin telah terjadi satu
perubahan.
Tetapi menilik rumahnya, keadaannya dan suasananya, rumah itu masih tetap
seperti beberapa saat yang lalu ketika ia mulai menghubungi perempuan
itu.
Dengan hati-hati Wiradana melangkah mendekati pintu. Kemudian perlahan-lahan
ia mengetuk pintu rumah itu. Ia sadar bahwa perempuan itu adalah perempuan
yang berbahaya, yang pernah ikut dalam sebuah gerombolan yang
ditakuti.
Tetapi bagi Wiradana perempuan itu bukan perempuan yang pantas ditakuti.
Betapapun berbahayanya Serigala Betina itu, namun bagi Wiradana ia tidak
banyak berarti. Wiradana memiliki ilmu dan kemampuan yang jauh lebih tinggi
dari perempuan itu. Sebagaimana diyakini oleh Wiradana, bahwa perempuan itu
sangat takut kepadanya.
Untuk beberapa saat Wiradana menunggu. Tetapi belum ada jawaban dari dalam.
Sementara itu lampu minyak yang remang-remang nampak melontarkan cahayanya
lewat dinding-dinding yang berlubang.
Sekali lagi Wiradana mengetuk pintu rumah itu. Lebih keras.
Agaknya perempuan itu tertidur nyenyak. Ketukan yang semakin keras
membangunkannya, sehingga sejenak kemudian maka terdengar suara dari dalam,
"Siapa diluar?"
"Aku Nyai," jawab Wiradana.
"Siapa?" bertanya suara dari dalam pula.
"Aku Wiradana," jawab Wiradana pula.
"Ki Wiradana dari Sembojan?" bertanya yang berada didalam.
"Ya. Ada berapa Wiradana yang kau kenal he?" jawab Wiradana yang
menjadi tidak sabar lagi.
"O," suara di dalam itu terdengar berdesah, "Apakah ada
keperluan yang sangat penting Ki Wiradana?"
"Buka pintumu Nyai," geram Wiradana, "Jangan banyak tingkah.
Kau tahu, jika aku datang di malam begini, maka tentu ada kepentingan yang
tidak dapat ditunda."
"Aku sedang sakit Ki Wiradana," suara di dalam memang terdengar
gemetar. "Bangun pun terasa sangat sulit."
"Tetapi buka pintumu," Wiradana hampir membentak.
Terdengar lagi desah di dalam. Tetapi kemudian terdengar amben berderit.
Sejenak kemudian desir langkah seseorang mendekati pintu.
"Aku sedang sakit," suara itu menjadi semakin gemetar.
(Bersambung)-m
.
Minggu, 23 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 253
Ki
Wiradana menunggu sejenak. Tiba-tiba saja timbul sesuatu di dalam
hatinya. Perempuan itu sedang sakit, sementara perempuan itu merupakan duri
di dalam dagingnya. Setiap saat ia akan dapat berkhianat. Mungkin dengan
maksud tertentu, tetapi mungkin juga karena terpaksa.
Karena itu, seandainya perempuan itu dilenyapkannya saja, maka agaknya ia
tidak akan menambah persoalan baginya kelak, atau setidak-tidaknya dapat
mengurangi beban kegelisahannya disetiap saat.
Sebelum Ki Wiradana mendapatkan suatu keputusan, maka terdengar
selarak pintu sudah dibuka. Perlahan-lahan pintu itu pun terdorong ke
samping. Dalam keremangan lampu minyak yang suram, Wiradana melihat
seseorang yang berkerudung rangkap.
“O,” desah perempuan itu dengan suara yang gemetar, “Marilah masuk Ki
Wiradana. Tubuhku terasa dinginnya bukan main. Jika aku terlalu lama berdiri
disini, aku akan dapat jatuh pingsan.
Perempuan itu tidak menunggu Ki Wiradana menjawab. Dengan langkah yang
gemetar pula ia berjalan ke sebuah amben di ruang tengah rumahnya yang
kecil. Sambil duduk di bibir ambennya ia mempersilakan sekali lagi,
“Marilah Ki Wiradana.”
Wiradana memang sudah berdiri di dalam ruang itu. Ia pun kemudian menutup
pintu rumah kecil itu dan menyelarakkanya sama sekali.
Selangkah ia pun kemudian mendekati perempuan yang menggigil dan
mengerudungi tubuhnya rapat-rapat itu. Agaknya perempuan itu memang sedang
kedinginan.
“Duduklah,” perempuan itu mempersilakan tamunya dengan suaranya yang
mengambang tetapi bergetar.
Ki Wiradana termangu-mangu. Suara perempuan yang kedinginan itu sama sekali
tidak dikenalnya sebagai suara Serigala Betina. Namun agaknya Serigala
Betina yang sedang sakit itu, tidak dapat berbicara dengan wajar,
sebagaimana kebiasaannya. Lantang dan tegas.
Wiradana maju lagi selangkah. Tetapi ia tidak duduk di amben itu.
“Apakah Ki Wiradana akan memberikan tugas lagi kepadaku? Mungkin Ki
Wiradana sudah jemu dengan penari itu dan harus dibunuhnya pula?” bertanya
perempuan itu dengan suara tersendat-sendat.
“Tutup mulutmu,” geram Ki Wiradana. “Dengar perempuan liar. Aku datang
untuk meyakinkan, apakah benar-benar kau sudah melakukan tugasmu dengan
baik.”
“Tugas yang mana?” bertanya perempuan itu. Suaranya hampir melengking,
sementara ia membetulkan kerudungnya, sehingga seluruh tubuhnya telah
didekap oleh selimut kain panjang yang rangkap-rangkap.
“Membunuh Iswari,” jawab Ki Wiradana.
“Bukankah Ki Wiradana sudah yakin dan yang sampai sekarang ternyata tidak
ada akibat apapun juga yang meragukan?” bertanya perempuan itu.
“Tetapi kabar tentang penari yang mirip dengan Iswari itu membuat aku
ragu-ragu,” geram Wiradana. “Apalagi kita tidak dapat menemukan mayat
Iswari pada saat itu.”
“Sudah aku katakan, bahwa mayatnya aku masukkan ke dalam kedung dan dalam
waktu sekejap, yang tinggal hanyalah lingkaran-lingkaran di permukaan air.
Tubuh itu telah diseret oleh buaya-buaya kerdil ke dasar kedung.”
Ki Wiradana termangu-mangu. Dipandanginya tubuh perempuan yang sedang sakit
itu.
Namun tiba-tiba Wiradana berkata, “Berbaringlah. Jika kau merasa tubuhmu
tidak enak. Berbaringlah. Aku akan berbicara dengan berdiri saja
disini.”
“Tidak Ki Wiradana,” jawab perempuan itu. “Aku masih sanggup untuk
berbicara sambil duduk tetapi sudah tentu tidak terlalu lama.”
“Jangan kau hiraukan basa-basi itu,” berkata Ki Wiradana. “Mungkin aku
akan berbicara panjang.”
Perempuan itu termangu-mangu. Namun tubuhnya masih saja menggigil
kedinginan.
“Berbaringlah,” berkata Ki Wiradana. “Agar pembicaraan kita dapat kita
selesaikan dengan tuntas dan tidak tergesa-gesa.”
Perempuan yang sedang sakit itu termangu-mangu. Nafasnya agaknya menjadi
terengah-engah. Karena itu, maka katanya kemudian, “Aku memang sedang
sakit Ki Wiradana. Nafasku rasa-rasanya menjadi sesak setiap perasaan dingin
yang luar biasa ini datang. Sebentar lagi, perasaan dingin ini akan berubah
menjadi panas, sehingga keringatku akan terperas habis. Kerongkonganku akan
menjadi kering dan mataku serasa disentuh bara.”
Senin, 24 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 254
” Jika demikian maka kau benar-benar
sakit,” berkata Ki Wiradana.
Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian beringsut dan
dengan tubuh gemetar ia pun membaringkan dirinya. Menelentang dengan
menjelujurkan tubuhnya lurus-lurus, meskipun ia masih membungkus tubuhnya
dengan kain yang rangkap.
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Satu cara yang tidak bisa bagi
orang yang sedang sakit kedinginan seperti itu. Namun ia tidak mengatakan
sesuatu.
Tetapi agaknya perempuan itu dapat membaca perasaan Ki Wiradana. Maka itu
katanya, “Aku tidak berani tidur miring sambil melingkarkan tubuh. Jika
demikian, maka rasa-rasanya tubuh ini jadi membeku dan punggung bagaikan
terasa patah jika kemudian aku harus meluruskannya kembali nanti.
“Tetapi orang sakit panas dingin, biasanya tidur melingkar di saat dingin
mencengkam,” sahut Ki Wiradana.
“Mungkin,” jawab perempuan itu. “Tetapi aku sama sekali tidak
berani.”
Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Dipandanginya perempuan yang berkerudung
hingga kewajahnya sekali lagi. Hanya sepasang mata sajalah yang kelihatan,
sementara kedua telapak tangannya terbungkus pula di bawah kain
selimutnya.
Pada saat yang demikian, tiba-tiba timbul satu niat di hati Ki Wiradana
untuk menyelesaikan saja perempuan yang sedang sakit itu, sehingga tidak
akan menimbulkan persoalan di masa datang. Jika perempuan itu mati dalam
keadaannya, maka orang-orang yang akan menemukannya kelak tentu mengira
bahwa perempuan itu mati karena sakit. Tidak ada orang lain di rumah itu.
Sehingga tidak ada orang yang mengetahui, apa yang telah terjadi.
Karena itu, maka Wiradana pun menjadi berdebar-debar oleh rencananya
sendiri. Jantungnya terasa berdetak semakin cepat. Namun demikian desakan di
dalam dirinya untuk menyelesaikan saja perempuan itu terasa semakin
menekan.
“Aku dapat menutup jalan pernafasannya,” berkata Ki Wiradana di dalam
hatinya. “Sehingga perempuan itu mati lemas. Tidak ada bekas luka di dalam
dirinya, sementara selimutnya yang masih menyelubungi tubuhnya.
Dalam kebimbangan itu, hampir di luar sadarnya Wiradana telah bertanya,
“Sudah berapa hari kau sakit Nyai?”
Nafas perempuan itu masih saja terengah-engah. Disela-sela tarikan nafasnya
yang sendat ia menjawab dengan suara gemetar, “Sudah agak lama Ki
Wiradana. Aku mulai berbaring sejak lima hari yang lalu, meskipun aku mulai
merasa dihinggapi penyakit ini sejak sepuluh hari yang lalu.”
“Lalu siapakah yang melayani sejak kau berbaring,” bertanya Ki
Wiradana.
Perempuan itu tidak segera menjawab. Tetapi terdengar perempuan itu
merintih. Baru kemudian dengan suara sendat perempuan itu berkata, “Aku
masih harus melayani diriku sendiri. Aku tidak mempunyai anak, Ki Wiradana.
Aku juga tidak mempunyai sanak kadang.
Meskipun aku mempunyai sedikit uang, tetapi tidak ada orang yang bersedia
membantuku dengan upah berapapun juga, karena mereka mengenali latar
belakang hidupku.”
Ki Wiradana itu menarik nafas dalam-dalam. Keadaan perempuan itu merupakan
dorongan yang kuat baginya untuk melakukan rencananya. Membunuh saja
perempuan yang sedang sakit-sakitan itu.
Memang masih ada keragu-raguan yang menyelinap di hati Ki Wiradana.
Kedatangannya di dorong oleh satu keinginan untuk meyakinkan bahwa
rahasianya tidak akan diketahui oleh orang lain. Bahwa penari yang mirip
dengan Iswari itu bukan satu kesengajaan untuk menyindirnya. Tetapi keadaan
perempuan yang pernah dijuluki dengan panggilan yang menggerakkan bulu
tengkuk itu agaknya telah menimbulkan dorongan baru di dalam dirinya.
Karena itu, maka Ki Wiradana pun telah menghentakkan tangannya untuk
mempertegas niatnya. Selangkah demi selangkah ia mendekat. Kemudian katanya,
“Nyai. Jika kau tidak berkeberatan, sebelum aku berbicara banyak tentang
bekas istriku yang kau bunuh itu, apakah kau tidak berkeberatan jika aku
mengobatimu. Mungkin dengan satu dua pijatan pada dada dan pundak Nyai,
keadaan Nyai akan berangsur baik.” (Bersambung)-o.
Selasa, 25 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 255
“Apakah kau dapat melakukannya Ki
Wiradana?” berkata perempuan itu dengan penuh harap.
“Aku akan mencoba Nyai,” jawab Ki Wiradana. Namun kemudian ia pun
bertanya lebih lanjut, “Tetapi jawablah pertanyaanku dengan jujur, apakah
kau tidak mempunyai hubungan dengan serombongan penari yang disebut orang
mirip dengan Iswari itu?”
“Ah, tentu tidak. Apa pamrihku,” jawab perempuan itu. Lalu,
“Sekarang tolonglah, biarlah aku akan segera sembuh.”
“Dan kau yakin bahwa rahasia itu masih tetap tertutup rapat sampai
sekarang?” bertanya Ki Wiradana kemudian.
“Demi buaya-buaya kerdil di kedung itu,” jawab orang yang pernah disebut
Serigala Betina itu, “Hanya aku dan Ki Wiradana sajalah yang
mengetahuinya. Mungkin istri Ki Wiradana yang sekarang. Tetapi apakah ada
kecurigaan Ki Wiradana, bahwa rahasia itu diketahui orang?”
“Aku hanya menghubungkan dengan serombongan penari yang penarinya mirip
sekali dengan Iswari. Tetapi jika kau yakin bahwa rahasia kita tidak akan
terungkapkan, maka aku tidak akan gelisah,” berkata Ki Wiradana
kemudian.
“Aku bersumpah,” berkata perempuan itu. Lalu, “Sekarang, tolonglah aku
Ki Wiradana.”
Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Selangkah ia maju. Ia pun kemudian
berdiri disisi pembaringan perempuan yang pernah disebut Serigala Betina
itu. Sejenak Ki Wiradana mengumpulkan kekuatan lahir dan batinnya. Ia ingin
menekan leher perempuan itu dengan sekali gerak dan menghentikan
pernafasannya sama sekali. Sesudah itu, maka perempuan itu kelak akan
diketemukan mati dibawah selimut yang rangkap-rangkap dan dugaan bahwa ia
mati karena penyakitnya. Orang-orang di rumah sebelah menyebelah tentu
mengetahui bahwa perempuan yang dibenci oleh orang-orang disekitarnya itu
mengidap penyakit. Mereka akan menyangka, bahwa penyakitnya itulah yang
telah membunuhnya.
Demikianlah, ketika jantung Ki Wiradana telah menjadi mapan, maka tangannya
mulai bergerak. Tetapi ia tidak memijit dada dan pundak perempuan itu
sebagaimana dikatakan untuk dapat mengurangi penyakit di dalam diri
perempuan itu, tetapi tangan Ki Wiradana langsung menuju kelehernya dan
tiba-tiba saja satu cengkaman yang kuat telah menerkam leher perempuan
itu.
Terdengar perempuan itu memekik tertahan. Sementara itu Ki Wiradana menekan
leher itu semakin keras sambil menggeram, “Kau pantas untuk dibunuh
perempuan liar.”
Perempuan itu meronta. Tetapi tangan Ki Wiradana mencengkam semakin
keras.
Wiradana yakin, bahwa ia akan menyelesaikan perempuan itu dengan mudah.
Sementara itu, tidak akan ada orang yang akan menuduhnya melakukan
pembunuhan itu. Apalagi ia adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan
Sembojan.
Namun yang diduga oleh Ki Wiradana telah terjadi. Kedua tangan perempuan
itu, tiba-tiba saja telah menyusup di antara tangan Ki Wiradana. Ki Wiradana
sadar, bahwa meskipun dalam keadaan sakit, tetapi gerak naluriah perempuan
yang memiliki ilmu kanuragan itu, tentu akan berusaha melepaskan cekikan
tangannya. Karena itu, maka Ki Wiradana pun telah menghentakkan kekuatannya.
Rabu, 26 Februari 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 256
Tetapi tepat pada saat hentakan itu, ternyata
perempuan itupun telah menghentakkan tangannya pula. Kedua tangannya yang
menyusup di antara tangan Ki Wiradana tiba-tiba telah terbuka dengan
kekuatan yang luar biasa.
Satu kekuatan yang tidak diperkirakan sama sekali oleh Ki Wiradana
telah menggoyahkan kedudukan tangannya. Bahkan kemudian kedua tangannya
bagaikan direntang oleh kekuatan yang tidak terlawan dari seorang
perempuan yang sedang sakit.
Namun ternyata Ki Wiradana benar-benar kehilangan kesempatan untuk
membunuh perempuan itu. Kedua tangannya yang mencekik itu pun benar-benar
telah terbuka. Bahkan sebelum Ki Wiradana sempat berbuat sesuatu, maka
perempuan itu telah berusaha untuk bangkit.
Tetapi Ki Wiradana tidak membiarkannya. Demikian tangannya terlepas dari
leher perempuan yang bangkit itu, maka Ki Wiradana pun dengan serta merta
telah menyerang dada perempuan itu.
Tetapi sekali lagi, Ki Wiradana terkejut. Serangannya sama sekali tidak
menyentuh sasaran karena perempuan itu telah merebahkan dirinya yang baru
saja bangkit itu. Namun sekaligus ia telah menangkap tangan Ki Wiradana.
Oleh satu kekuatan yang tidak diduganya sama sekali, maka Ki Wiradana
telah terseret dan terlempar melampaui lebar pembaringan perempuan itu,
langsung membentur dan memecahkan dinding bambu.
Wiradana mengumpat ketika ia terjatuh di bilik sebelahnya menghantam
geledeg bambu.
Tetapi dengan serta merta Wiradana telah bangkit. Dengan tangkasnya ia pun
telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun dalam pada itu,
perempuan yang sedang sakit itu pun telah bangkit berdiri pula. Ia masih
juga berkerudung selimut meskipun tidak lagi rangkap seperti sebelumnya.
Namun ia masih menunjukkan sikap seorang yang sedang sakit.
“Ki Wiradana,” perempuan itu menggeram dengan suara gemetar.
“Apa maksudmu sebenarnya? Apakah benar
kau ingin membunuhku? Apa salahku?” Bukankah perjanjian kita sudah
sama-sama kita penuhi. Aku membunuh Iswari dan kau memberikan uang
kepadaku. Sekarang kenapa kau menuntut lebih banyak lagi? Bahkan
nyawaku?”
Wiradana memandang perempuan itu dengan sorot mata yang membara. Dengan
garangnya ia berkata, “Perempuan liar. Kau akan tetap merupakan duri di
dalam dagingku. Setiap saat kau akan dapat membuka rahasiaku. Mungkin
karena kau menginginkan upah tertentu atau oleh sebab-sebab yang lain.
Karena itu, maka sebaiknya kau mati saja sekarang. Maka kemungkinanmu
untuk membocorkan rahasia itu akan hapus bersama hapusnya nyawamu.”
“Kau laki-laki yang licik,” geram perempuan itu.
“Kau ingin membunuhku justru pada saat
aku sedang sakit. Meskipun demikian, aku tidak akan menyerahkan nyawaku
dengan begitu mudah. Aku akan melawan sekalipun aku tahu bahwa kau
memiliki ilmu yang tinggi, warisan dari Ki Gede di Sembojan. Tetapi kau
pun harus ingat bahwa aku adalah yang disebut Serigala Betina, yang pernah
membunuh orang tanpa mengedipkan mata. Nah, marilah, jika kau masih tetap
berniat membunuhku, maka biarlah aku atau kau yang akan terbunuh di
sini.”
Bagaimanapun juga terasa tengkuk Ki Wiradana meremang. Serigala Betina itu
agaknya terlalu yakin akan dirinya. Seolah-olah ia memiliki ilmu yang
seimbang dengan ilmunya. Namun ternyata pada hentakan pertama, perempuan
itu berhasil melepaskan diri dari cengkeraman tangannya di lehernya.
Dengan kekuatan yang tidak pernah diduganya, yang ternyata melampaui
kekuatan cengkeramannya. Bahkan kemudian ia telah terlempar oleh kekuatan
perempuan yang sedang sakit itu, menembus dinding bambu dan menimpa
geledeg di ruang sebelah.
Namun Wiradana yang merasa dirinya memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi
dari Serigala Betina itu kemudian membentak dengan kasar, “Tutup
mulutmu. Aku memang ingin membunuhmu dengan cara yang paling
berperikemanusiaan sehingga kau dengan cepat terbunuh tanpa merasakan
sakit. Bahkan aku pun telah mempercepat kematianmu karena gigitan
penyakitmu yang tidak mungkin dapat kau obati, sementara aku akan terlepas
dari kecemasan bahwa pada suatu saat kau akan berkhianat dengan alasan
apapun juga. Tetapi kau ternyata terlalu banyak tingkah sehingga akan
mempersulit jalan kematianmu sendiri. Kau kira, bahwa dengan melawan kau
akan dapat bebas dari kematian? Apalagi kau sedang dalam keadaan sakit.
Maka segala usahamu akan sia-sia. Bahkan hanya akan menambah penderitaan
disaat kematianmu yang pahit ini.”
Jumat, 28 Februari 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 258
Semuanya itu berlangsung demikian
cepatnya, sehingga Wiradana seakan-akan menjadi yakin bahwa sekali itu
lawannya tidak akan mampu mengelak.
Tetapi sekali lagi Wiradana salah. Kakinya yang terjulur sama sekali tidak
menyentuh apapun lagi. Bahkan di luar dugaan sama sekali, kaki perempuan
yang berkerudung dan berselimut rangkap itu sempat juga menyentuh kaki
Wiradana yang berpijak pada lantai, sehingga karena kakinya yang lain
masih terangkat, Wiradana tidak mampu mempertahankan keseimbangannya,
sehingga ia pun telah jatuh terlentang.
Dengan tangkasnya Wiradana berusaha untuk melenting dan tegak berdiri.
Tetapi demikian ia tegak, tanpa diketahui apa yang telah dilakukan, maka
perempuan yang sakit itu telah berdiri dihadapannya. Dengan kekuatan yang
sangat besar, tangannya bergerak menampar pipi Wiradana.
Sekali lagi Wiradana terhuyung-huyung. Namun sebelum ia terjatuh, tangan
lawannya telah memegang bajunya dan menariknya.
Wiradana sempat melihat tangan yang lain dari lawannya itu bergerak ke
arah wajahnya. Dengan cepat ia berusaha melindungi wajahnya itu dengan
tangannya. Namun ternyata tangan lawannya itu ditariknya. Serangannya pun
berubah sasaran. Yang kemudian terasa menjadi muak adalah perutnya yang
serasa ditimpa sebongkah batu hitam.
Wiradana menunduk. Tetapi bajunya masih belum dilepaskan. Sekali lagi
tangan yang memegangi bajunya itu dihentakkan. Ketika wajah Wiradana
sedikit tengadah, maka sekali lagi perempuan itu telah menampar keningnya,
bersa-maan dengan sebuah dorongan yang kuat pada bajunya yang digenggam
oleh tangan lawannya yang lain.
Wiradana benar-benar tidak mampu mempertahankan keseimbangannya. Ketika ia
berusaha berpegangan pada tiang pula, maka terasa sebuah serangan telah
menghantam dadanya. Demikian kuatnya, sehingga nafasnya serasa terputus
karenanya. Matanya menjadi kabur. Semakin lama semakin kabur, sementara
tubuhnya tidak lagi dapat dipertahankannya untuk tetap berdiri.
Sejenak kemudian Wiradana telah terjatuh dilantai. Matanya menjadi gelap
dan nafasnya terasa sesak. Sejenak kemudian maka semuanya bagaikan hilang
dari ingatannya. Pingsan.
Perempuan yang berdiri tegak disebelahnya itu telah membuka kerudung dan
selimutnya. Kemudian melemparkan kain itu ke pembaringannya. Dipandanginya
Wiradana yang pingsan itu dengan tatapan mata yang tajam. Namun perempuan
itu kemudian menarik nafas dalam-dalam.
"Nyai," tiba-tiba perempuan itu memanggil.
Dari belakang, seorang perempuan yang lain memasuki ruangan. Dipandanginya
tubuh Wiradana yang terbaring diam.
"Nyai telah membunuhnya?" bertanya perempuan yang baru saja
masuk itu.
"Ia tidak mati," jawab perempuan yang baru saja berkelahi itu,
"Ia hanya pingsan."
"Terima kasih Nyai. Tanpa Nyai, aku tentu benar-benar sudah
dibunuhnya. Agaknya ia mulai dibayangi oleh ketakutan bahwa rahasianya
pada satu saat akan dibongkar," berkata perempuan yang masuk dari
bilik belakang itu.
"Tetapi dengan demikian maka sikapnya terhadap Serigala Betina akan
berubah," berkata perempuan yang berkelahi itu.
Perempuan yang datang dari bilik belakang itu termangu-mangu. Katanya,
"Namun sebenarnyalah ia mengenal kemampuanku, orang yang sesungguhnya
disebut Serigala Betina. Ia mengerti bahwa kemampuanku tidak akan dapat
mengimbangi kemampuannya."
Perempuan yang telah berkelahi dengan Ki Wiradana itu mengangguk-angguk.
Katanya, "Ia tetap menganggap bahwa aku adalah Serigala Betina itu.
Tetapi keadaan selanjutnya mungkin akan sangat berbahaya atasmu. Karena
itu, marilah. Ikut aku ke padepokanku. Kau akan bertemu lagi dengan
Iswari. Aku benar-benar neneknya. Maksudku, aku adalah adik kakeknya
seperti yang sudah aku katakan."
Perempuan yang sebenarnya disebut Serigala Betina itu termangu-mangu.
Namun ia merasa, bahwa ia tidak akan dapat bertahan untuk hidup jika ia
tidak meninggalkan rumahnya.
Sabtu, 01 Maret 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 259
Karena itu, maka Serigala Betina itu pun
kemudian berkata, "Baiklah Nyai. Aku akan ikut Nyai, Nyai sudah
menyelamatkan hidupku. Dan untuk selanjutnya aku akan ikut saja kemana
Nyai akan pergi dan apa saja yang akan dilakukan oleh Nyai atasku."
"Baiklah. Kita akan segera meninggalkan tempat ini sebelum Wiradana
sadar. Tidak sia-sia aku berada disini untuk beberapa lama. Aku sudah
memperhitungkan, bahwa Wiradana akan datang kemari setelah ia gagal
menangkap penari yang dikatakan oleh orang-orang Tanah Perdikan ini mirip
dengan Iswari."
"Tetapi apakah benar penari itu Iswari?" bertanya Serigala
Betina itu.
Perempuan itu tersenyum. Katanya, "Marilah. Selagi Wiradana masih
nyenyak tidur."
Perempuan yang disebut Serigala Betina itu pun kemudian mengemasi
barang-barang yang mungkin dapat dibawanya. Ia memang mempunyai simpanan
sejak ia masih ikut serta dalam rombongan perampok dan penyamun. Sementara
itu, ia memiliki pula beberapa jenis perhiasan yang akan dapat
dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan apapun di sisa hidupnya, karena
ia tidak mungkin lagi dapat menggantungkan dirinya kepada orang lain.
Apalagi orang-orang yang sudah mengetahui latar belakang hidupnya di masa
muda.
Setelah perempuan itu selesai, maka keduanya telah meninggalkan tempat
itu. Serigala Betina itu tidak meninggalkan bekas apapun juga. Selimut
kain panjang yang dipergunakan oleh perempuan yang mengalahkan Wiradana
itu pun telah dibawanya pula. Hanya perkakas rumah tangganya sajalah yang
ditinggalkannya dengan dinding penyekat ruang yang pecah.
Untuk beberapa saat lamanya, Wiradana masih terbaring diam. Dari
celah-celah pintu yang tidak tertutup rapat, angin bertiup menyapu ruangan
rumah Serigala Betina yang sudah ditinggalkan itu. Segarnya angin malam
telah menyegarkan tubuh Ki Wiradana pula. Perlahan-lahan ia pun mulai
bergerak. Yang mula-mula terdengar adalah keluhan perlahan. Kemudian
kepala Ki Wiradana itu mulai bergeser.
Perlahan-lahan Ki Wiradana membuka matanya. Terasa nafasnya masih sesak.
Namun angin yang sejuk memang membuat tubuhnya semakin segar.
Ketika Ki Wiradana mulai mengingat apa yang telah terjadi, ia pun segera
berusaha bangkit.
Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, namun Wiradana telah memaksa diri
untuk berdiri. Diamatinya ruangan disekelilingnya. Pintu yang tidak
tertutup rapat. Dinding bambu yang pecah dan amben yang sudah kosong.
Perempuan yang disangkanya Serigala Betina yang sedang sakit itu sudah
tidak ada di dalam ruangan itu.
"Gila," Ki Wiradana mengumpat. "Ia berhasil melarikan
diri."
Selangkah Ki Wiradana bergeser. Lampu minyak masih menyala tidak begitu
besar, sehingga yang nampak hanyalah remang-remang saja.
Wiradana pun kemudian berhasil mengingat sepenuhnya apa yang telah
terjadi. Kepalanya masih terasa pening dan nafasnya masih saja seolah-olah
tersendat-sendat.
"Aku harus menemukannya," berkata Ki Wiradana kemudian.
"Pada kesempatan lain, aku harus datang lagi dan membunuhnya. Sudah
tentu dalam kesempatan yang tidak terlalu lama, agar ia belum mendapat
kesempatan berkhianat."
Wiradana pun kemudian berjalan ke pintu. Dengan hati-hati ia mendorong
pintu itu semakin lebar. Namun ketika ia sudah berada di luar, maka pintu
itu pun ditutupnya kembali.
Dengan dada yang sakit dan kepala yang pening, maka Wiradana meninggalkan
halaman rumah Serigala Betina itu. Memang ada keragu-raguan padanya untuk
pulang karena ia gagal membunuh perempuan yang disebut Serigala Betina
itu.
Namun akhirnya Ki Wiradana itu pun menemukan akal untuk menutupi
kelemahannya, karena tentu tidak masuk akal bahwa ia dapat dikalahkan oleh
perempuan yang sedang sakit itu.
Ketika Ki Wiradana sampai ke regol rumahnya itu merasa ragu-ragu. Sejenak
ia membenahi dirinya. Kemudian dengan cepat ia melintasi regol yang tidak
diselarak langsung menuju ke seketheng.
Minggu, 02 Maret 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 260
Para peronda yang ada di regol
termangu-mangu. Tetapi karena Wiradana berpaling pun tidak, maka mereka
pun sama sekali tidak pula bertanya tentang sesuatu.
Lewat pintu butulan, Wiradana memasuki rumahnya. Seorang pembantunya
mendengar pintu itu diketuk dan mendangar suara Wiradana memanggil
sehingga karena itu, maka ia pun telah membuka selarak pintu.
Tetapi ketika ia memasuki biliknya yang agak terang, ia pun tertegun.
Istrinya yang bangkit dari pembaringannya karena derit pintu, terkejut
melihat kehadiran Wiradana.
“Kakang, kau kenapa kakang?” bertanya istrinya dengan sangat
cemas.
“Aku kenapa?” bertanya Wiradana.
“Ada noda-noda kebiruan di keningmu,” berkata istrinya sambil meraba
wajah Ki Wiradana.
Wiradana menyeringai. Yang disebut noda-noda itu adalah bekas tangan
perempuan yang dikiranya Serigala Betina. Bekas itu masih terasa sakit
ketika disentuh oleh tangan istrinya.
“Apakah kau baru saja berkelahi?” bertanya Warsi yang mengenali
noda-noda seperti itu.
Wiradana tidak dapat mengelak. Tetapi ia tidak dapat mengatakan
kelemahannya bahwa ia sudah dikalahkan oleh perempuan yang disangkanya
adalah Serigala Betina itu.
Karena itu maka katanya, “Ya. Aku memang baru saja berkelahi.”
“Dengan siapa?” bertanya istrinya.
Wiradana pun kemudian menceriterakan bahwa ia memang pergi ke rumah
Serigala Betina. Tetapi ternyata di rumah itu terdapat beberapa orang dari
sebuah gerombolan perampok.
“Mungkin mereka orang-orang Kalamerta,” berkata Wiradana kemudian.
Warsi mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya ia menyahut, “Tentu
bukan.”
“Kau dapat memastikan bahwa mereka bukan para pengikut Kalamerta yang
mendendam yang kemudian bekerja bersama dengan perempuan itu?” bertanya
Wiradana.
Wajah Warsi menjadi tegang. Tetapi ia tidak dapat menjawab. Meskipun
demikian ia sama sekali tidak rela seandainya suaminya menjadikan para
pengikut Kalamerta kambing hitam.
Dalam pada itu, maka Wiradana pun berkata, “Besok malam aku akan kembali
ke rumah itu. Aku harus menemukan mereka dan menangkap mereka semuanya.
Aku akan membawa beberapa orang pengawal.”
“Tetapi bagaimana yang terjadi atas kakang?” bertanya Warsi pula.
“Aku sama sekali tidak menyangka bahwa di dalam rumah itu terdapat
beberapa orang. Sebenarnya aku ingin mendapatkan kepastian bahwa Serigala
Betina itu tidak berkhianat. Tetapi aku dijebak dalam perkelahian melawan
beberapa orang. Aku tidak dapat mengelakkan segala serangan yang datang
beruntun. Meskipun demikian, aku telah mengusir mereka. Sayang sekali aku
tidak berhasil menangkap seorang pun di antara mereka, sehingga aku tidak
dapat melacak kegiatan itu untuk selanjutnya,” berkata Ki Wiradana.
Wajah Warsi menjadi tegang. Bagaimanapun juga ia pun menjadi tersinggung
bahwa suaminya telah mengalami cidera karena pokal beberapa orang, yang
justru oleh suaminya disangka sisa-sisa gerombolan Kalamerta. Tetapi Warsi
tidak dapat berbuat apa-apa. Ia masih belum menyatakan dirinya bahwa ia
memiliki kemampuan yang justru lebih tinggi dari suaminya.
(Bersambung)-m.
Selasa, 04 Maret 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 261
Namun dalam pada itu Warsi pun bertanya, “Tetapi
jika kakang membawa perempuan ke rumah pengawal itu, apakah tidak akan
menimbulkan persoalan dengan Ki Demang yang menguasai padukuhan itu?”
“Aku akan datang dengan diam-diam, sehingga Ki Demang tidak akan
mengetahuinya. Apalagi perempuan yang disebut Serigala Betina itu adalah
perempuan yang dibenci oleh orang-orang disekitarnya. Sehingga orang-orang
disekitarnya, bahkan mungkin Ki Demang akan bergembira jika perempuan itu
terbunuh. Apalagi rumahnya kini telah dipergunakan untuk berkumpul para
perampok dan penyamun. Agaknya perempuan itu telah menjadi kambuh lagi.”
Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi hati-hatilah kakang. Mungkin
perempuan itu memang sangat licik, sehingga ia akan dapat berbuat apa saja
untuk mencapai niatnya.”
“Jangan cemas Warsi. Aku adalah Wiradana, anak Ki Gede Sembojan. Aku
akan dapat menyelesaikan setiap persoalan yang aku hadapi,” berkata
Wiradana kemudian.
Warsi tidak menjawab lagi. Namun bagaimanapun juga ia menjadi cemas
menilik keadaan suaminya, sementara perempuan yang disebut Serigala Betina
itu masih belum dapat diselesaikan. Agaknya kemungkinan buruk akan dapat
terjadi jika perempuan itu membongkar tingkah laku Wiradana.
Demikianlah, maka Warsi pun kemudian mempersilakan Wiradana untuk
membersihkan diri dan kemudian pergi ke pembaringan. Dengan obat-obatan
yang ada maka Warsi telah berusaha untuk mengobati noda-noda di wajah
Wiradana dengan obat itu.
Namun dalam pada itu, ketika Wiradana telah tertidur, Warsilah yang
kemudian bangkit dari pembaringannya. Dengan diam-diam ia pergi keluar.
Kemudian hilang di kegelapan tanpa setahu siapapun juga.
Warsi telah menyediakan jawaban jika seandainya Wiradana terbangun dan
menanyakan kemana ia pergi.
“Satu-satunya jawaban yang paling baik adalah pergi ke sungai,”
berkata Warsi kepada diri sendiri. “Tetapi mudah-mudahan kakang Wiradana
yang letih itu akan tertidur nyenyak. Apalagi obat yang aku usapkan pada
wajahnya mengandung reramuan yang dapat membuatnya tidur nyenyak.”
Dengan kemampuan seorang yang berilmu tinggi maka Warsi telah pergi ke
padukuhan yang diketahuinya sebagai tempat tinggal Serigala Betina itu.
Meskipun ia belum pernah datang ke rumah itu, tetapi dalam setiap
pembicaraan dengan suaminya, maka ia dapat membayangkan dimana letak rumah
itu.
Beralaskan atas ketajaman penggraitanya, maka ternyata Warsi dapat
menemukan rumah itu. Tetapi ia tidak menemukan seorang pun. Rumah itu
telah kosong. Namun ia memang melihat bekas-bekas perkelahian yang
terjadi. Dinding yang pecah, geledeg yang terguling dan barang-barang yang
berserakan.
“Memang mungkin sekali kakang Wiradana harus berkelahi melawan beberapa
orang,” berkata Warsi di dalam hatinya. Tetapi ia merasa kecewa bahwa ia
tidak dapat bertemu dengan perempuan yang disebut Serigala Betina itu.
Jika Warsi sempat bertemu, maka perempuan yang disebut Serigala Betina itu
benar-benar tidak berarti apa-apa baginya.
Dengan demikian maka Warsi menjadi bertambah cemas. Perempuan yang luput
dari tangan suaminya itu tentu akan dapat berkhianat. Karena itu, maka ia
harus secepatnya diketemukannya. Namun tidak ada orang yang tahu kemana
perempuan itu pergi. Jika benar ia telah berada kembali di antara para
perampok dan penyamun, mungkin ia telah kembali lagi berada di
sarang-sarang penyamun itu.
Dengan kegelisahan yang semakin mencengkam maka Warsi pun telah
meninggalkan rumah itu dan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. Ketika ia
memasuki rumahnya lewat pintu-pintu dibukanya pada saat ia keluar, maka ia
menjumpai suaminya yang masih tidur nyenyak sebagaimana diperhitungkannya.
Warsi pun kemudian membaringkan dirinya pula di samping suaminya setelah
ia membenahi pakaiannya.
Namun demikian kegelisahannya, membuatnya sama sekali tidak dapat tidur
barang sekejappun.
Tetapi akhirnya Warsi mengambil satu kesimpulan, “Jika pengkhianatan itu
terjadi, maka aku akan menyatakan diriku. Aku harus menunjukkan kuasaku
berlandaskan dengan kemampuanku.” (Bersambung)-m.
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Last updated 4 March 2003
my 50 years in this planet.
Sign My Dreambook
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant
|