| Gajahsora.Net |
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Selasa 12 Februari 2003
Tidak ada orang yang mencegah. Bahkan orang
tua yang berdiri tegak disisi penari itu. Apalagi mereka yang sedang
berkelahi. Bahkan penari itu sendiri seakan-akan justru berpaling
menghadapkan wajahnya pada obor yang sedang dibawa.
Obor itu memang tidak terlalu besar. Nyalanya pun tidak sedang
dibesarkan sebagaimana jika rombongan itu sedang mengadakan pertunjukan.
Namun dengan mendekatkan obor itu, pemimpin pengawal itu telah melihat wajah
penari yang disebut mirip dengan Nyai Wiradana itu.
Pemimpin pengawal itu benar-benar terkejut. Dalam cahaya obor di tangannya
ia melihat, bahwa perempuan itu memang mirip sekali dengan Nyai Wiradana.
Bahkan pemimpin pengawal itu seakan-akan telah melihat Nyai Wiradana berdiri
dihadapannya dalam sikap yang beku.
Pemimpin pengawal itu tiba-tiba surut beberapa langkah. Hampir di luar
sadarnya, pemimpin pengawal itu mengambilkan obor ditangannya pada
tempatnya.
Ketika kemudian berpaling dan memandang perempuan cantik itu, tiba-tiba saja
kulitnya meremang. Perempuan yang berdiri ditempat yang remang-remang, yang
tidak terlalu banyak terjangkau oleh cahaya obor, wajahnya tidak lagi nampak
jelas seperti wajah Nyai Wiradana. Tetapi dimata pemimpin pengawal itu,
rasa-rasanya ia berdiri dihadapan seorang hantu Nyai Wiradana yang bangkit
dari kuburnya, dikawal oleh jin dan gendruwo.
Namun pengawal itu tiba-tiba bagaikan terbangun dari sebuah mimpi yang
menakutkan, ketika punggungnya digamit seseorang. Ketika ia berpaling,
dilihatnya salah seorang pengamen meloncat menjauhinya karena kawan-kawannya
telah menyerang orang itu. Tetapi orang itu sempat berkata, “Bersiaplah.
Kenapa kau berdiri kebingungan.”
Pemimpin pengawal itu masih sempat termangu-mangu sejenak. Orang itu hanya
menggamitnya. Jika ia mau, maka ia dapat memukul tengkuknya dan sekaligus
membuatnya pingsan.
Namun dalam pada itu, maka pemimpin pengawal itu menggeram, “Aku tidak
peduli. Aku tidak boleh diombang-ambingkan oleh keadaan yang tidak begitu
jelas. Aku harus dapat menangkap dan membawa penari itu menghadap Ki
Wiradana.
Dengan demikian, maka pemimpin pengawal itu mempunyai rencana yang
dianggapnya akan dapat memotong tugasnya. Ia ingin langsung meloncat dan
menangkap penari itu dan mengancamnya. Jika para pengiringnya tidak mau
menyerah, maka perempuan itu akan dijadikan korban.
Pemimpin pengawal itu tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dengan tiba-tiba
saja ia telah meloncat menyergap penari yang memang mirip sekali Nyai
Wiradana itu.
Tetapi yang terjadi sangat mengejutkannya. Tubuhnya terasa telah terdorong
dengan kekuatan yang luar biasa sehingga ia pun telah terlempar jatuh.
Dengan tangkasnya pemimpin pengawal itu berguling untuk mengurangi kekerasan
benturan tubuhnya dengan batu-batu padas. Kemudian melenting berdiri.
Sejenak ia termangu-mangu. Ia melihat penari dan orang tua itu masih berdiri
saja seperti semula.
“Apakah aku yang sudah gila,” katanya di dalam hati.
Ketika pemimpin pengawal itu mengedarkan pandangannya ke seluruh arena, maka
ia pun melihat bahwa orang-orang yang mengiringi penari itu sebagai penabuh
benar-benar orang yang memiliki kemampuan berkelahi. Pengawal itu sadar,
bahwa biasanya dalam rombongan keliling memang terdapat orang yang memiliki
ilmu yang tinggi untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat
terjadi atas seluruh rombongan atau atas penarinya. Tetapi dalam rombongan
ini, bukan saja satu dua orang yang memiliki ketangkasan, namun semuanya.
Semuanya telah berkelahi dengan tangkasnya.
Pemimpin pengawal itu agaknya masih tetap pada rencananya. Ia tidak tahu,
kenapa ia terdorong oleh kekuatan yang tidak dapat dilawannya. Namun ia
masih tetap ingin langsung menangkap penari itu dan memaksa para
pengiringnya untuk menyerah. (Bersambung)-m.
Rabu : Iedhul Adha 1423 H, KR tidak terbit
Kamis, 13 Februari 2003,
SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 243
Karena itu, maka ia pun bergeser pula
mendekati penari yang masih tetap berdiri ditempatnya. Sejenak ia memperhatikan
pertempuran yang berlangsung itu. Tidak seorang pun yang memperhatikannya.
"Pengendang tua itu pun agaknya memiliki ilmu yang tinggi," berkata
pengawal itu di dalam hatinya.
Namun menurut pengamatannya, baik penari yang cantik maupun orang tua yang
berdiri di sisinya, sama sekali tidak bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk
yang dapat terjadi atas mereka. Karena itu, maka pemimpin pengawal itu melangkah
lebih dekat lagi sambil berkata, "Seharusnya kau perintahkan kawan-kawannya
menyerah."
"Kenapa?" bertanya orang tua itu, "Mereka masih belum kalah. Kau
dapat melihat apa yang telah terjadi."
"Tetapi aku berdiri bebas. Aku dapat menangkap penarimu dan memaksa
kawan-kawanmu untuk menyerah," jawab pemimpin pengawal itu.
Tetapi orang tua itu justru tertawa. Katanya, "Kau tidak akan dapat
menangkapnya. Lakukanlah jika kau mampu."
Pemimpin pengawal itu menjadi semakin heran. Tetapi sekali lagi ia
menggeretakkan giginya. Ia tidak boleh terseret arus perasaannya yang dapat
membuatnya seperti gila.
"Baiklah," berkata pemimpin pengawal itu dengan geram. "Tetapi
jika dengan demikian aku telah menyakitinya, itu bukan salahku. Aku hanya ingin
menangkapnya dan membawanya kepada Ki Wira-dana."
Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, "Silakan. Lakukanlah."
Pemimpin pengawal itu mengumpat di dalam hati. Laki-laki tua yang berdiri di
dekat perempuan cantik itu justru telah bergeser menjauh.
"Apakah aku memang sudah gila sehingga aku tidak mengerti apa yang
sebenarnya aku hadapi?" pertanyaan itu telah membelit dihati pemimpin
pe-ngawal itu.
Namun seperti yang telah dilakukannya, ia berusaha untuk menghentakkan
kegelisahan itu. Karena itu, maka dengan hati-hati ia melangkah mendekati
perempuan cantik itu sambil berkata, "Kau jangan berbuat sesuatu yang dapat
menyakiti dirimu."
Perempuan cantik itu tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.
Pemimpin pengawal itu memang menjadi bingung. Keringatnya mengalir diseluruh
tubuhnya. Namun ia pun kemudian meloncat menggapai tangan penari cantik
itu.
Tetapi ia tidak berhasil menyentuhnya. Penari itu bergeser dengan cepat.
Meskipun penari itu mengenakan kain panjang yang rapat, tetapi ternyata bahwa ia
mampu bergerak dengan agak leluasa sebagaimana jika ia menari.
"Aku sudah memperingatkanmu," berkata pemimpin pengawal itu.
"Jangan berbuat sesuatu yang dapat menyakiti dirimu sendiri."
Perempuan itu tidak menjawab. Ia masih tetap berdiri ditempatnya. Meskipun
pemimpin pengawal itu tidak dapat memandang wajah penari itu dengan jelas,
tetapi ia sudah mendapat gambaran tentang wajah itu. Mirip sekali dengan Nyai
Wiradana.
Sekali lagi pemimpin pengawal itu mendekatinya. Tetapi ia tidak mau gagal lagi.
Karena itu, maka kali ini ia tidak sekadar menjangkau tangan penari itu. Tetapi
pemimpin pengawal itu telah meloncat maju.
Tetapi pemimpin pengawal itu sudah mulai bergerak dengan memperhitungkan setiap
kemungkinan. Ketika perempuan itu bergeser menghindar, maka dengan cepat pula
pemimpin pengawal itu bergerak, meloncat dan usahanya ternyata memberikan satu
kesempatan kepadanya. Pada saat perempuan itu mengelak, maka pemimpin pengawal
itu dengan mengerahkan segenap tenaga yang ada padanya, berhasil melingkar ke
belakang penari itu. Dengan tangkas pula, tanpa dikekang oleh keragu-raguan,
maka pemimpin pengawal itu telah menyekap penari itu dari belakang.
Namun pada saat ia merasa bahwa ia berhasil, tiba-tiba saja tubuhnya terasa
diseret oleh satu gerakan yang kurang dimengertinya. Ia merasa kepalanya
dijangkau oleh sepasang tangan yang lembut, namun penari itu kemudian telah
membungkukkan badannya.
(Bersambung)-m
Jumat, 14 Februari 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Yang terjadi kemudian benar-benar tidak lagi
dapat diatasinya. Tubuh pemimpin pengawal itu benar-benar telah terlempar lewat
di atas penari yang membungkukkan diri rendah-rendah itu.
Ketika tubuh itu jatuh ditanah, maka terdengarlah pemimpin pengawal itu
mengaduh. Punggungnya bagaikan patah, sementara jantungnya seakan-akan telah
terlepas.
Pemimpin pengawal itu tidak dapat dengan tangkas meloncat bangkit.
Tulang-tulangnya bagaikan saling terlepas dari sendi-sendinya.
Ketika pemimpin pengawal itu berusaha bangkit, maka sepasang kaki bagaikan
tertancap ke bumi di sisi wajahnya. Kaki penari yang cantik itu.
“O,” pemimpin pengawal itu berdesah.
“Bangunlah,” berkata penari itu.
Sekali lagi pemimpin pengawal itu terkejut. Suara itu pun suara yang pernah
dikenalnya dengan baik. Suara Iswari, istri Wiradana yang terdahulu.
Karena itu, hampir di luar sadarnya pemimpin pengawal itu berusaha untuk bangkit
betapapun sakitnya.
“Berdirilah,” berkata perempuan itu lagi.
Sambil menyeringai, pemimpin pengawal itu berdiri dekat dihadapan penari itu.
Meskipun malam gelap, tetapi rasa-rasanya ia yakin bahwa yang berdiri
dihadapannya itu memang Iswari. Dalam hitamnya malam, jauh dari jangkauan cahaya
obor yang kecil, maka pemimpin pengawal itu tidak melihat warna-warna rias
diwajah penari itu, sehingga ia pun merasa benar-benar berada di hadapan Nyai
Wiradana.
“Kenapa kau memandang aku seperti itu?” bertanya penari itu.
Tubuh pemimpin pengawal yang kesakitan itu terasa gemetar. Di luar kehendaknya
jika kemudian ia dengan suara gemetar berdesis, “Nyai Wiradana. Bukankan kau
Nyai Wiradana?”
Perempuan itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkata,
“Apakah kau kehilangan ingatan? Kau tahu bahwa aku adalah seorang penari yang
menyusuri jalan-jalan padukuhan? Namaku Ruri Puspitasari. Kenapa kau sebut aku
Nyai Wiradana? Bukankah Wiradana pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan? Jika ia
mendengar kau berkata seperti itu, maka kau tentu akan dapat hukumannya. Tidak
mungkin seorang penari jalanan seperti aku dapat menjadi istri seorang Kepala
Tanah Perdikan.”
“O, maaf. Kau terlalu mirip dengan Nyai Wiradana, istri Ki Wiradana yang
pernah hilang,” jawab pemimpin pengawal itu.
“Pernah hilang? Apakah kemudian diketemukan?” bertanya penari itu.
“Tidak. Nyai Wiradana itu tidak pernah diketemukan lagi,” jawab pemimpin
pengawal itu. Lalu, “Tetapi wajahmu dan bahkan suaramu serta tekanan suaramu
benar-benar mirip dengan Nyai Wiradana yang hilang itu.
“Jangan mengigau,” berkata penari itu. “Kau akan dihukum cambuk sepuluh
kali dengan rotan jika kau berani menyebut seorang penari jalanan adalah istri
pemangku jabatan Kepala Perdikan Sembojan.
“Kenapa tidak? Bukankan istrinya yang sekarang itu juga seorang penari
jalanan?” jawab pemimpin pengawal itu.
“Ah, jangan berbicara seperti seekor burung yang berkicau,” penari itu
berhenti sejenak lalu, “Sekarang katakan, apakah kita akan berkelahi terus,
atau kau akan menyerah dan memerintahkan kepada orang-orang untuk menyerah?
Sementara itu kita lupakan dongengmu yang tidak masuk akal bahwa istri Kepala
Tanah Perdikanmu adalah seorang penari jalanan seperti aku.”
“Aku berkata sebenarnya,” jawab pemimpin pengawal itu.
“Cukup,” tiba-tiba saja penari itu memotong. “Yang ingin aku tanyakan, kau
menyerah atau tidak?”
Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun ia menyadari, bahwa ia tidak akan
dapat mengalahkan perempuan itu. Perempuan yang sangat mirip dengan Iswari. Baik
wajahnya, bentuk tubuhnya, suaranya dan tekanan kata-katanya.
“Agaknya kau ingin membuat perhitungan tentang imbangan kekuatan di arena
ini,” berkata penari itu. “Baiklah. Aku akan menunggumu untuk beberapa saat
lamanya. (Bersambung)-m.
Sabtu, 15 Februari 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Ternyata bahwa pemimpin pengawal itu tidak
mempunyai harapan apapun juga di medan pertempuran itu. Anak-anak muda Tanah
Perdikan Sembojan sama sekali tidak berdaya menghadapi rombongan orang-orang
ngamen itu, meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak.
Karena itu, maka agaknya tidak akan ada harapan lagi. Seandainya ia
memberikan keputusan untuk bertempur dalam tingkat tertinggi dan siap untuk
saling membunuh, bukan sekadar untuk menangkap saja, maka masih juga diragukan,
apakah para pengawal itu dapat menang atas para pengamen itu. Jika ia memberikan
aba-aba untuk mempergunakan senjata, sementara para pengamen itu juga
melakukannya dan ternyata mereka mempunyai kelebihan, akibatnya akan lebih parah
lagi bagi para pengawal.
Dengan demikian, maka pemimpin pengawal itu pun kemudian meneriakkan aba-aba
untuk menghentikan pertempuran.
"Kami menghentikan pertempuran," berkata pemimpin pengawal itu.
"Tetapi bukan berarti bahwa kami telah menyerah. Karena itu kami tidak akan
menyerahkan senjata kami. Bahkan jika perlu kami akan mempergunakan senjata
kami."
"Baiklah," jawab penari itu. "Apapun yang kau katakan, tetapi aku
setuju untuk menghentikan pertempuran ini."
Sejenak kemudian, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan itu berloncatan
mundur seperti yang diperintahkan oleh pemimpinnya lewat aba-aba perang. Namun
mereka masih tetap bersiaga. Bahkan beberapa orang di antara mereka menjadi
heran, bahwa mereka tidak dibenarkan untuk mempergunakan senjata sebagaimana
dipesankan kepada mereka meskipun tugas mereka terutama hanya menangkap dan
tidak membunuh. Tetapi dengan memberikan perlawanan seperti itu, maka mereka
dapat diselesaikan sebagaimana seorang pemberontak atau penjahat.
Selagi anak-anak muda itu terheran-heran, maka pemimpinnya itu berkata,
"Biarlah rombongan ini pergi."
Para pengawal itu terkejut. Seorang di antaranya bertanya,
"Kenapa?"
Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya dengan jujur,
"Kita tidak usah mengelak lagi dari kenyataan. Kita tidak akan dapat
menangkap mereka, karena kita tidak dapat menembus kemampuan mereka."
Seorang anak muda menyahut, "Kita dapat mempergunakan senjata. Jangan
batasi gerak kita dengan sekadar menangkap. Jika mereka melawan, berarti mereka
telah memberontak, dan kita akan dapat membunuhnya."
Pemimpin pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya,
"Apa yang dapat kita lakukan itu tentu dapat mereka lakukan juga. Jika
sampai saatnya kita semua kehilangan pengendalian diri, maka senjata akan
benar-benar dapat membunuh, sedangkan kita tidak yakin bahwa bukan kitalah yang
terbunuh, tetapi orang-orang yang kita anggap memberontak itu."
Anak-anak muda itu memang tidak dapat mengingkari kenyataan. Dalam pertempuran
tidak bersenjata, mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Jika mereka harus
bertempur dengan mempergunakan senjata, maka akan berarti
kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk akan dapat terjadi. Orang-orang tua
yang mereka anggap mempunyai kemampuan apapun juga itu, ternyata adalah
orang-orang yang mengagumkan.(Bersambung)-m
Minggu, 16 Februari 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
“Karena itu,” berkata pemimpin pengawal
itu, “Biarlah mereka pergi. Bukankah yang penting bagi kita, Tanah Perdikan
ini tidak diganggu oleh kemungkinan buruk pada hubungan antara keluarga.”
Namun tiba-tiba orang tua itu yang menjadi pengendangnya itu menyahut,
“Jadi menurut dugaanmu, setiap penari akan dapat merusakkan hubungan antara
keluarga? Mungkin memang pernah terjadi di Tanah Perdikan ini sebagaimana aku
dengar dari salah seorang di antara kalian yang mungkin adalah justru pemimpin
kalian, bahwa sebuah keluarga telah dirusakkan oleh seorang penari. Justru
keluarga Kepala Tanah Perdikan ini.”
“Tidak,” dengan serta merta pemimpin pengawal itu membantah, “Aku tidak
berkata begitu. Aku hanya mengatakan, bahwa istri Kepala Tanah Perdikan yang
sekarang juga seorang penari.”
“O,” orang tua itu mengangguk-angguk. “Jadi begitu. Agaknya aku salah
tangkap. Aku kira, karena kehadiran penari itu, maka keluarga Kepala Tanah
Perdikan ini menjadi rusak. Kepala Tanah Perdikan itu ingin kawin dengan penari
yang cantik itu, tetapi dengan menyingkirkan istrinya yang tua. Yang kemudian
dinyatakan hilang. Kemudian dengan leluasa ia dapat kawin dengan penari jalanan
itu. Apalagi setelah ayahnya, Ki Gede Sembojan, meninggal dunia.”
“Tidak. Tidak begitu,” teriak pemimpin pengawal itu, “Kau jangan
menyebarkan fitnah seperti itu.”
“Aku tidak menfitnah. Aku hanya mengatakan, bahwa ternyata aku salah mengerti.
Aku mengira bahwa demikianlah yang terjadi.”
Pemimpin pengawal itu menjadi tegang. Namun kemudian ia menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Sekarang pergilah. Jangan memasuki Tanah Perdikan ini
lagi demi keselamatanmu.”
Pengendang yang tua itu menjawab, “Baiklah Ki Sanak. Kami akan meninggalkan
tempat ini. Agaknya Ki Wiradana telah tersinggung oleh kehadiran kami, justru
karena Nyai Wiradana juga seorang penari jalanan. Atau barangkali Nyai Wiradana
yang tersinggung karena kehadiran kami dapat mengungkit kembali kenangannya
kepada masa lampaunya.”
Pemimpin pengawal itu tidak menjawab. Kemungkinan yang demikian memang ada.
Tetapi agaknya Wiradana ingin melepaskan kesan, bahwa penari itu adalah Iswari,
istrinya yang pernah hilang. Bukan karena sebab yang lain, meskipun sebab yang
lain itu mungkin pula dapat terjadi.
Sejenak kemudian, maka rombongan penari itu pun telah berkemas. Mereka pun
kemudian telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan, sementara para pengawal itu
mengamati mereka dengan jantung yang berdebaran.
Namun demikian rombongan itu hilang dikelok jalan, dan obor kecilnya sudah tidak
nampak lagi di mata para pengawal, maka pemimpin pengawal itu menarik nafas
dalam-dalam.
Namun salah seorang pengawalnya kemudian berkata, “Sekelompok orang-orang gila
yang berbahaya.”
“Ya.” jawab yang lain, lalu, “Tetapi apa yang harus kita laporkan kepada
Ki Wiradana tentang mereka?”
Pemimpin pengawal itu pun kemudian berdiri menghadap kepada para pengaal sambil
berkata, “Kita dihadapkan pada satu keadaan yang tidak mungkin dapat kita
atasi. Kita tidak dapat ingkar bahwa kita tidak akan dapat mengalahkan
mereka.”
“Kita belum mencoba mempergunakan senjata,” jawab salah seorang di antara
mereka.
“Sudah aku katakan,” jawab pemimpin pengawal itu. “Mungkin bukan mereka
yang akan menjadi korban ujung-ujung senjata, tetapi kita.”
“Tetapi apa yang dapat kita katakan kepada Ki Wiradana?” sekali lagi seorang
pengawal bertanya.
Pemimpin pengawal itu menjadi bingung. Ia memang harus mempertanggungjawabkan
tugas yang dibebankan kepadanya.
Namun kemudian katanya, “Kita dapat mengatakan kepada Ki Wiradana, bahwa kita
tidak menemukan rombongan penari itu. Kita dapat melaporkan bahwa ketika kita
tiba di padukuhan itu, rombongan penari itu telah dipaksa untuk meninggalkan
padukuhan oleh para penghuni padukuhan itu sendiri. Kita berusaha untuk
menyusulnya. Tetapi kita tidak berhasil menemukan mereka.”
(Bersambung)-m
Senin, 17 Februari 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Para pengawal itu saling berpandangan.
Agaknya cara itu dapat ditempuhnya demi keselamatan mereka. Mungkin Ki Wiradana
akan dapat mempercayainya dan tidak mempersoalkannya lebih jauh.
Salah seorang di antara para pengawal itu berkata, “Memang tidak ada yang
tahu, apa yang telah terjadi. Karena itu, kita semuanya harus ikut bertanggung
jawab. Hal ini tidak boleh diketahui oleh siapapun juga, sehingga jika salah
seorang di antara kita membocorkan persoalan ini dan kemudian terdengar oleh Ki
Wiradana, maka kita semuanya akan mengalami kesulitan.”
“Ya,” sahut pemimpin kelompok itu. “Kita semuanya harus sejalan. Yang akan
kita katakan harus sama kepada siapapun juga. Bahkan kepada orang-orang terdekat
di antara kita. Ayah ibu kita, saudara-saudara kita dan siapapun juga.”
Orang-orang dalam kelompok pengawal itu pun kemudian berjanji bahwa mereka akan
memegang rahasia itu sebaik-baiknya, sehingga mereka tidak akan mengalami
kesulitan karena sikap mereka itu. Ki Wiradana tidak akan percaya bahwa mereka
tidak akan dapat mengalahkan para penabuh gamelan dari sebuah rombongan penari
jalanan yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari jumlah mereka sendiri.
Dengan kebulatan tekad itulah maka mereka pun kemudian berbenah diri dan kembali
ke induk padukuhan Tanah Perdikan Sembojan. Seperti yang telah mereka rencanakan
maka mereka pun kemudian langsung mencari Ki Wiradana di rumahnya untuk
menyampaikan laporan mereka.
Tetapi agaknya Ki Wiradana tidak menunggu mereka dan telah tertidur lelap,
sehingga para pengawal itu harus menunggu sampai besok. Dengan demikian maka
para pengawal itu pun sempat tidur di gardu, sementara para peronda duduk sambil
mengumpat-umpat dibibir gardu, sementara beberapa orang pengawal yang lain telah
berbaring di amben yang ada di serambi gandok dan di atas tikar pandan di
pendapa.
Waktu mereka memang tinggal sedikit sekali. Baru saja mereka lelap, maka terasa
seseorang telah membangunkan mereka sambil membentak-bentak. Ternyata bahwa Ki
Wiradana telah terbangun lebih dahulu dari mereka.
“Apa yang kau kerjakan di sini he?” bentak Ki Wiradana kepada pemimpin
pengawal yang tertidur di pendapa. Rasa-rasanya baru saja ia memejamkan matanya.
Namun tergagap ia bangun.
“Kenapa kau tidak memberikan laporan kepadaku, apa yang kau lakukan semalam
he?” bentak Wiradana pula.
“Maaf Ki Wiradana. Aku baru saja datang. Agaknya Ki Wiradana pun baru saja
lelap menurut para peronda, sehingga kami tidak ingin mengganggu dengan
membangunkan Ki Wiradana. Maksudku kami akan menunggu sampai Ki Wiradana
terbangun,” jawab pemimpin pengawal itu.
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kumpulkan kawanmu.
Ceriterakan hasil yang kau capai semalam.”
Pemimpin pengawal itu menjadi berdebar-debar. Namun kemudian ia pun telah
mengumpulkan kawan-kawannya yang tersebar. Kemudian mereka duduk di pendapa
bersama Ki Wiradana dengan rambut dan pakaian yang masih kusut.
Untuk beberapa saat, para pengawal itu memang masih dicengkam oleh
keragu-raguan. Apakah Ki Wiradana tidak akan mengetahuinya jika mereka
berbohong.
Namun akhirnya pemimpin pengawal itu pun menceriterakan sebagaimana mereka
merencanakan. Jika Ki Wiradana tidak percaya, ia akan bertanya kepada anak-anak
muda padukuhan tempat rombongan penari itu kebar. Anak-anak muda itu tentu akan
mengatakan apa adanya, bahwa sekelompok pengawal telah berusaha untuk menyusul.
Selanjutnya anak-anak padukuhan itu tidak tahu apa yang terjadi.
Mendengar laporan itu, wajah Ki Wiradana menjadi merah. Kemarahannya telah
bergejolak membakar jantung.
“Jadi kalian tidak dapat menemukan rombongan penari itu?” bentak
Wiradana.
Para pengawal itu menjadi berdebar-debar. Tetapi beban mereka akan lebih ringan
jika mereka mengatakan, bahwa mereka tidak dapat menemukan rombongan penari itu,
daripada jika mereka melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi. Ki Wiradana tentu
tidak akan percaya, bahwa mereka tidak dapat menangkap rombongan penari itu.
(Bersambung)
Rabu, 19 Februari 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Agaknya ia
memang tidak dapat berbuat banyak. Segala sesuatunya sudah terlanjur. Sementara
itu, maka ia pun mendapat gambaran bahwa para pengawal yang memberikan laporan
kepadanya tentang rombongan itu pun tidak berbohong kepadanya.
Namun demikian Ki Wiradana masih juga berpesan dengan nada geram, “Sekali ini
memaafkan kalian. Tetapi jika terjadi lagi hal seperti ini, bukan saja
menyangkut serombongan penari, tetapi hal-hal yang lain, maka aku akan mengambil
tindakan. Bukankah dengan demikian ternyata bahwa kalian tidak mentaati
perintahku.”
Orang-orang padukuhan itu pun hanya dapat saling berpandangan. Namun tidak
seorang pun yang menjawab.
Para pengawal yang mengikuti Ki Wiradana dapat menarik nafas dalam-dalam.
Agaknya Ki Wiradana tidak mencurigai mereka. Ia membebankan kesalahan kepada
orang-orang padukuhan itu, sehingga kepada orang-orang padukuhan itu pula Ki
Wiradana melontarkan kemarahannya.
Setelah puas dengan pesan kemarahannya, maka Ki Wiradana pun kemudian telah
mengajak para pengawal itu kembali.
Namun dalam pada itu, demikian mereka sampai di rumah Ki Wiradana, dan kemudian
dengan geram pula ia memerintahkan para pengawal itu untuk pulang, maka pemimpin
pengawal itu kemudian mengajak ketiga orang kawannya untuk menelusuri yang
ditempuhnya semalam.
“Untuk apa?” bertanya salah seorang di antara para pengawal itu.
“Aku hanya ingin melihat saja. Entahlah, ada sesuatu yang mendorongku untuk
melakukannya,” jawab pemimpin pengawal itu.
Ketika kawannya pun kemudian tidak berkeberatan. Sejenak kemudian maka kuda-kuda
mereka pun telah terpacu dengan cepat melintasi bulak-bulak. Namun pemimpin
pengawal itu telah membawa kawan-kawannya melalui jalan yang lain, bukan jalan
yang ditempuhnya semalam.
Namun akhirnya mereka harus menelusuri jalan bulak yang sama. Di bulak itu
mereka berhasil menyusul rombongan penari tetapi yang tidak berhasil
ditangkapnya itu.
Keempat orang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat beberapa orang
petani yang berkerumunan di pinggir jalan itu. Demikian keempat orang pengawal
itu mendekat, maka mereka pun telah menyibak.
Para pengawal itu kemudian menghentikan kuda mereka. Dengan tangkas mereka pun
telah berloncatan turun. Pemimpin pengawal itu dengan berdebar-debar telah
bertanya kepada salah seorang di antara mereka, “Apa yang telah
terjadi?”
“Lihatlah,” berkata petani itu, “Tentu sesuatu telah terjadi disini
semalam.”
“Apa yang terjadi?” bertanya pegawal itu.
“Entahlah. Tetapi sebagian dari tanaman kami telah rusak meskipun tidak
terlalu berat,” jawab petani itu. “Mungkin telah terjadi sesuatu yang pahit
bagi rombongan penari yang telah kita usir dari padukuhan kita itu.”
“Apa yang terjadi atas mereka?” bertanya pe-mimpin pengawal itu.
Petani itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi sebelumnya belum pernah
terjadi sebagaimana yang kami angan-angankan. Namun demikian, bagaimana
sekiranya jika rombongan penari itu telah dicegat oleh sekelompok orang yang
tidak bertanggung jawab. Mereka tentu mengira bahwa rombongan itu telah
mendapatkan banyak uang. Mereka tentu ingin merampas uang itu. Tetapi lebih
sakit lagi jika terjadi sesuatu atas penari yang cantik itu. Penari yang
seakan-akan tidak pernah bersalah. Yang menari dengan jujur untuk sekadar
mendapatkan beberapa keping uang buat menyambung hidupnya serta keluarga
nya.”
Pemimpin pengawal itu termangu-mangu sejenak. Tetapi rasa-rasanya hatinya
tersentuh juga. Namun ia tahu pasti, bahwa rombongan penari itu tidak dirampok
orang. Penari yang cantik itu sama sekali tidak mengalami cidera. Bahkan
pemimpin pengawal itu telah dilemparkannya lewat di atas tubuhnya yang merendah
dan terbanting ditanah, sehingga punggungnya terasa akan patah.
Meskipun demikian pemimpin pengawal itu bertanya, “Bagaimana jika terjadi
demikian, apa keberatanmu?”
(Bersambung)-m.
Kamis, 20 Februari 2003, SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
“Kami akan merasa berdosa, karena kami
telah mengusirnya tanpa berbuat kesalahan. Kenapa mereka harus pergi? Padahal
mereka tidak berbuat apa-apa Sementara rombongan yang lain tidak pernah mendapat
perlakuan yang kasar seperti itu, bahkan penarinya telah diangkat oleh Ki
Wiradana menjadi istrinya,” berkata petani itu.
“Kalian memang berdosa. Apalagi jika benar-benar perempuan cantik yang menjadi
penari itu mengalami sesuatu. Bukankah kalian tidak berhak mengusirnya? Bukankah
kalian justru harus melindunginya dan membawanya kepada Ki Wiradana?” berkata
pengawal itu.
Petani itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Istilah
yang kau pergunakan agak berbeda Ki Sanak. Kau seharusnya mengatakannya, bahwa
rombongan itu harus ditangkap. Karena itulah maka kami justru telah mengusirnya
agar mereka tidak ditangkap. Tetapi justru karena itu, kami telah berbuat
kesalahan sehingga rombongan itu mengalami bencana.”
Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun dalam pada itu salah seorang di
antara para pengawal itu berkata, “Kenapa kalian merasa begitu menyesal
seandainya rombongan itu mengalami kesulitan?”
“Sudah aku katakan,” jawab petani itu. “Mereka adalah orang-orang yang
tidak bersalah. Dan lebih dari itu, biarlah aku katakan meskipun ada orang lain
yang mengingkarinya, bahwa penari itu memang mirip sekali dengan Nyai Wiradana.
Bahkan seakan-akan aku yakin akan hal itu.”
“Bohong,” bentak pengawal yang lain. “Seorang anak muda di gardu dan baru
saja kami bertemu dengan orang-orang padukuhanmu, mengatakan, bahwa hanya
ujudnya sajalah yang mirip. Tetapi wajahnya jauh berbeda dengan wajah Nyai
Wiradana.”
Tetapi petani itu sama sekali tidak menarik keterangannya. Bahkan dengan wajah
yang tegang ia menjawab, “Aku tidak peduli pendapat orang lain. Sudah aku
katakan, mungkin memang ada orang yang mengingkarinya. Tetapi aku tidak. Aku
tetap menganggap bahwa penari itu mempunyai wajah yang mirip sekali dengan Nyai
Wiradana. Tetapi seandainya ia mempunyai wajah yang mirip dengan Nyai Wiradana,
apakah orang itu dapat dianggap bersalah? Tidak. Orang itu mirip dengan Nyai
Wiradana, tetapi orang itu tidak bersalah sama sekali.”
Pengawal itu menggeram. Kemarahan telah membayang diwajahnya. Namun pemimpin
pengawalnya mencegahnya ketika orang itu melangkah mendekat. “Jangan kau
hiraukan. Ia dapat mengatakan apa saja. Mungkin apa yang kau lihat, berbeda
dengan sudut penglihatannya. Demikian juga orang yang lain. Mungkin orang itu
justru sudah lupa akan wajah dan sifat-sifat Nyai Wiradana, sehingga ia
menganggap penari itu mirip sekali dengan orang yang sudah dilupakannya
itu.”
“Aku masih ingat benar,” potong petani itu.
“Diam kau,” bentak pemimpin pengawal itu, “Aku sedang berusaha melerai
perselisihan ini. Jika kau nekad saja dengan sikapmu tanpa mundur setapakpun,
aku biarkan pengawal itu mengambil sikap pula.”
Petani itu mengerutkan keningnya. Namun ia mengerti maksud pemimpin pengawal
itu, sehingga dengan demikian maka ia pun segera bergeser surut dan tidak
mengatakan apa pun juga.
(Bersambung)-m
[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002
Updated 20 Feb 2003
Inul Daratista, si goyang Ngebor
Berapa rpm yang dipakai saat dia turun.
Kwik Kian Gie masih seperti dulu, tajam dan makin tajam
TOKO
material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami
Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)
XE.com Personal Currency
Assistant