| |
SURAMNYA BAYANG-BAYANG
Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian
Kedaulatan
Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta
*****
Kamis, 30-01-2003 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 231
Tetapi pembicaraan yang berkepanjangan
tentang penari itu telah membuat Wiradana pening. Dengan nada marah maka ia
berbicara dengan orang-orang dari padukuhan-padukuhan yang pernah didatangi
oleh penari itu serta melihat barang sekilas, “Kalian yang menjadi cengeng.
Orang yang sudah mati tidak akan pernah kembali. Meskipun demikian untuk
meyakinkan kalian semuanya, bahwa orang itu sama sekali bukan Nyai Wiradana,
biarlah aku sendiri akan menemuinya. Karena itu, jika benar rombongan itu
datang, maka jangan takut-takut. Kalian harus menangkap mereka. Mungkin
mereka tidak bersalah sama sekali dan kemudian dilepaskan. Tetapi keributan
kalian tentang wajah penari yang mirip dengan Iswari itu perlu dijernihkan.”
Orang-orang padukuhan itu hanya mengiyakan saja. Tetapi kata-kata Wiradana
adalah perintah. Jika rombongan itu kembali, kapanpun juga, maka mereka
harus ditangkap.
“Apakah salah mereka,” bertanya seseorang. Tetapi ia tidak berani
menyampaikan kepada Ki Wiradana kecuali kepada kawan-kawannya sendiri.
“Jangan berpikir lagi. Begitu perintah itu datang, kita langsung saja
melakukannya. Tanpa melihat baik dan buruknya.
Kawannya tidak menyahut. Hanya kepalanya sajalah terangguk kecil.
Tetapi setelah orang-orang di padukuhan itu bersiaga rombongan itu tidak
muncul lagi. Bukan saja untuk memenuhi janji mereka seperti yang mereka
katakan beberapa saat yang lalu, tetapi barangkali mereka memerlukan uang
upah yang cukup.
Dengan demikian maka rombongan penari yang penarinya mirip sekali dengan
Nyai Wiradana itu tetap teka-teki orang-orang di Tanah Perdikan Sembojan.
Dalam pada itu, Warsi yang juga mendengar kehadiran serombongan penari yang
aneh itu, telah menjadi berdebar-debar pula. Meskipun seperti orang-orang
lain ia berpikir bahwa orang yang sudah mati tidak akan kembali, namun
rerasan tentang penari itu telah membuatnya gelisah. Bahkan ketika Wiradana
sedang pergi secara khusus ia telah berbicara dengan orang yang disebutnya
sebagai ayahnya itu, “Bagaimana pendapatmu?” bertanya Warsi.
“Tidak lebih dari omong kosong,” jawab laki-laki itu.
“Tetapi jika rombongan itu sekali lagi datang, maka adalah tugasmu untuk
membuktikan, bahwa orang itu benar-benar bukan Nyai Wiradana.”
“Kau memang aneh. Seharusnya kau tidak usah menjadi gelisah, karena tidak
mungkin hal seperti kau cemaskan itu terjadi,” berkata laki-laki itu.
“Kita hanya meyakinkan saja,” jawab Warsi.
“Apakah agaknya kau telah mulai benar-benar menjadi cengeng,? bertanya
laki-laki.
“Tutup mulutmu,” bentak Warsi. “Kau kira aku tidak dapat menyumbat
mulutmu dengan terompah. Aku perintahkan kau untuk membuktikannya. Jangan
membantah. Jika kau masih membantah, maka aku bunuh kau dan aku kubur kau di
bawah amben pembaringanmu. Tidak akan ada orang yang akan mencarimu
selama-lamanya.”
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia tahu sifat-sifat Warsi sebaik-baiknya.
Karena itu, maka ia pun hanya mengangguk saja tanpa mengucapkan jawaban.
Dalam pada itu, selagi Tanah Perdikan sedang sibuk berbicara tentang penari
yang mirip dengan Nyai Wiradana, maka Wiradana sendiri telah disibukkan
dengan satu keinginan untuk segera berhubungan dengan Pajang.
“Sudah cukup waktunya untuk mengangkat seorang Kepala Tanah Perdikan yang
baru,” berkata Wiradana kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan.
“Ya Wiradana,” jawab salah seorang dari orang-orang tua itu,
“Nampaknya memang demikian.”
“Apakah tidak sebaiknya aku menghadap ke Pajang untuk memohon agar aku
segera diwisuda? Bukankah kita sudah cukup lama memberikan laporan tentang
kematian ayah?” berkata Wiradana kemudian.
“Ya. Sudah cukup lama. Meskipun demikian, hendaknya kau bersabar barang
sebulan lagi. Jika Pajang menganggap waktunya sudah datang, kau tentu akan
dipanggil untuk membicarakan persoalan itu,” berkata salah seorang dari
orang-orang tua itu.
Jumat, 31-01-2003 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 232
“Tetapi aku sudah terlalu lama menunggu,”
berkata Wiradana. “Bahkan mungkin orang-orang Pajang itu sudah lupa, bahwa
mereka mempunyai daerah yang disebut Tanah Perdikan Sembojan.”
“Tentu tidak,” jawab orang tua itu. “Tetapi jika mendesak para
pemimpin di Pajang, maka mungkin sekali mereka merasa tersinggung oleh
ketidaksabaranmu. Apalagi meninggalnya Ki Gede masih terhitung belum terlalu
lama.”
Wiradana ternyata mendengarkan petunjuk. Ia menunda kepergian ke
Pajang untuk menanyakan, kapan ia akan diwisuda. Meskipun yang akan terjadi
sesudah wisuda itu tidak akan berbeda dengan sebelumnya bagi dirinya dan
bagi Tanah Perdikan Sembojan, namun wisuda itu sendiri akan mempunyai arti
yang penting. Dengan wisuda maka kedudukannya benar-benar telah dikukuhkan
oleh Pajang sehingga apa yang dilakukannya, benar-benar atas nama kekuasaan
Pajang itu sendiri.
Namun, sementara Ki Wiradana menunggu, maka beberapa hal telah dilakukannya.
Wiradana ternyata tidak banyak memperhatikan perubahan yang terjadi di Tanah
Perdikannya, tetapi ia lebih banyak berbicara tetang perubahan-perubahan
atas rumah tempat tinggalnya. Meskipun perubahan-perubahan itu sebagian
adalah karena permintaan istrinya yang baru, Warsi.
Dalam kewajibannya sehari-hari, Warsi telah berusaha untuk mendapat tempat
dihati para pembantu rumahnya. Ia sudah berhubungan dengan
perempuan-perempuan yang ada di dapur setiap hari. Dengan orang-orang yang
sering membersihkan ruangan-ruangan di dalam rumah dan orang-orang lain yang
sering berhubungan dengan dirinya, di dalam rumah itu.
Tetapi ternyata bahwa sikap orang-orang itu kadang-kadang sangat menyakitkan
hatinya. Hampir setiap saat Warsi mendengar orang-orang itu memuji kebaikan
hati, ketrampilan dan kerendahan hati Iswari, istri Ki Wiradana yang
terdahulu.
Ketika Warsi mengatur ruang tidurnya, dan memanggil dua orang perempuan
untuk membantunya, maka kedua orang itu rasa-rasanya sangat segan
melayaninya.
“Tempat ini di atur sendiri oleh Nyai Wiradana,” berkata salah seorang
perempuan itu, “Aku tidak senang melihat perubahan-perubahan yang terjadi.
Nyai Wiradana telah mengaturnya dengan cermat.”
Wajah Warsi menjadi merah membara. Hampir saja tangannya terlontar ke wajah
perempuan itu. Untunglah ia segera menyadari kedudukannya, sehingga karena
itu, maka ia berusaha untuk menahan diri.
Dengan sabar ia berusaha menjelaskan, “Aku mengerti bibi bahwa bilik ini
telah diatur dengan rapi sekali oleh Nyai Wiradana yang terdahulu. Tetapi
sekarang, agaknya akulah yang harus menempatinya, sehingga aku dapat
mengaturnya sesuai dengan keinginanku. Namun jika kemudian ternyata bahwa
yang aku lakukan itu menjadi kurang baik, maka aku akan dengan senang hati
mengembalikannya kepada wajah yang sekarang.”
Tetapi perempuan itu menjawab, “Bagi kami, apa yang dilakukan oleh Nyai
Wiradana adalah yang sebaik-baiknya.”
“Mungkin demikian bibi,” jawab Warsi sareh, meskipun jantungnya
rasa-rasanya bagaikan terbakar, “Yang aku lakukan adalah sekadar mencoba
saja.”
Perempuan-perempuan itu termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka pun menyadari,
bahwa yang berkuasa saat ini adalah Nyai Wiradana yang baru, sehingga mereka
pun tidak dapat menolak untuk melakukan perintahnya.
Dengan demikian, maka beberapa perabot rumah pun telah diubah susunannya.
Bahkan dalam saat yang pendek dihari-hari terakhir, Wiradana telah
memerintahkan orang-orangnya untuk membuat atau membeli perabot-perabot
rumah yang baru dengan membuang perabot-perabot rumah yang lama yang tidak
sesuai dengan seleranya.
Tingkah laku Nyai Wiradana itu telah menumbuhkan sikap yang kadang-kadang
tidak menyenangkan bagi Wiradana itu sendiri. Tetapi Nyai Wiradana yang baru
itu agaknya tidak menghiraukannya.
Kepada Wiradana, Warsi kadang-kadang telah menyebut beberapa hal tentang
rumahnya itu, yang menurut pendapatnya agak kurang dapat memberikan
ketenangan. (Bersambung)-m.
Minggu, 02-02-2003 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 233
“Apa artinya bekas tangan Warsi itu?”
bertanya Wiradana. “Memang tidak apa-apa kakang. Tetapi setiap kali aku
teringat kepada istri kakang itu, maka hatiku menjadi berdebar-debar. Aku
masih saja selalu merasa bersalah kakang,” jawab Warsi.
“Kau memang aneh,” berkata Wiradana. “Kesalahan yang tidak
pernah ada itu selalu saja membayangimu. Aku yang bertanggung jawab atas hal
itu, tidak pernah dikejar-kejar oleh perasaan bersalah itu.”
“Mungkin memang lain kakang. Kau seorang laki-laki dan aku adalah seorang
perempuan. Apalagi aku adalah perempuan yang harus menggantikan kedudukan
istrimu yang sudah tidak ada itu,” jawab Warsi.
“Jangan hiraukan. Tetapi aku tidak menolak bahwa kau ingin mengadakan
perubahan-perubahan atas rumah ini,” berkata Wiradana kemudian.
Dengan demikian, maka beberapa perubahan telah dilakukan oleh Wiradana atas
rumah yang sebenarnya sudah memiliki bentuk yang mapan.
Wiradana telah memerintahkan untuk mengubah sungging pada tiang-tiang di
pendapa dan pringgitan rumahnya. Kemudian juga pada gebyok senthong tengah
dan kedua senthong sebelah menyebelah. Isi senthong tengah pun telah
disingkirkan dan diganti dengan yang baru.
Dengan demikian maka Wiradana menjadi sibuk. Tetapi kesibukannya sama sekali
tidak memberikan pengaruh apapun kepada Tanah Perdikan Sembojan, karena
kesibukannya sebagian besar adalah untuk memperbaiki, mengubah dan membuat
rumahnya menjadi lebih baik.
Beberapa pihak di Tanah Perdikan Sembojan mulai melontarkan beberapa
pertanyaan di antara mereka. Dalam waktu yang terhitung singkat, Wiradana
sudah menumbuhkan kesan yang kurang dapat dimengerti oleh rakyat Tanah
Perdikannya. Bahkan perempuan-perempuan yang berada di rumah Ki Wiradana
sebagai pembantu rumahnya, telah merasakan perbedaan yang sangat besar
antara Iswari yang bagi mereka sangat baik itu dengan Warsi yang lebih
mementingkan dirinya sendiri, cengeng dan terlalu manja.
“Tetapi itu adalah pencerminan dari kehalusan
budinya,” berkata seorang perempuan tua yang menjadi juru masak di rumah
Ki Wiradana itu.
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya, sementara
perempuan itu meneruskan, “Setiap kali Nyai Wiradana itu merasa
tersinggung, maka ia pun telah menangis dihadapan suaminya. Baru kemudian
suaminyalah yang mengambil langkah untuk mengatasinya. Kesannya memang
sangat cengeng dan manja. Tetapi orang-orang yang berpapasan sangat lembut
akan bersikap seperti itu.”
Keterangan itu agaknya memang kurang dapat dimengerti. Tetapi kawan-kawannya
sama sekali tidak membantah. Mereka berusaha untuk mengerti, bahwa perempuan
yang menggantikan kedudukan Iswari itu adalah perempuan yang hatinya lembut
sekali.
“Tetapi perempuan itu malas sekali,” bisik seorang perempuan muda.
“Aku belum pernah melihat ia bekerja mengenai sesuatu kewajibannya sebagai
seorang istri. Ia tidak pernah membersihkan biliknya jika bukan kita yang
melakukan. Ia tidak pernah turun ke dapur dan langsung memasak. Ia juga
tidak pernah berbuat apa-apa selain duduk-duduk sambil berbincang dengan Ki
Wiradana. Kemudian berteriak memanggil salah seorang di antara kita untuk
memberikan beberapa perintah.”
“Ia belum terlalu lama disini,” jawab perempuan tua yang menjadi juru
masak itu, “Pada saatnya ia akan berbuat baik. Kini belum waktunya kita
memberikan penilaian tentang perempuan itu.”
Yang lain pun telah terdiam kembali. Namun jantung
mereka tetap bergejolak di dalam dada mereka masing-masing.
Pada saat-saat yang demikian, maka Wiradana mulai
merasakan suatu kelainan sikap beberapa pihak di Tanah Perdikan itu. Tetapi
untuk sementara itu tidak terlalu menghiraukannya. Ia masih sibuk dengan
istrinya yang baru, yang mempunyai beberapa permintaan tentang ujud dan
susunan rumahnya. (Bersambung)-o.
Senin, 03-02-2003 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 234
Dalam pada itu, ternyata Warsi masih
menahan laki-laki yang disebutnya sebagai ayahnya untuk tetap berada di
Tanah Perdikan itu dengan berbagai alasan. Wiradana sendiri sama sekali
tidak merasa berkeberatan. Bahkan ia merasa kehadiran laki-laki itu dapat
dijadikannya bukan saja sebagai ayah mertuanya, tetapi juga kawan berbincang,
karena rumahnya yang seakan-akan telah menjadi kosong sepeninggalan ayahnya.
Namun bagi Warsi kehadiran laki-laki itu akan dapat menjadi orang yang
setiap saat siap menghubungkannya dengan ayahnya yang sebenarnya jika ia
memerlukan. Terlebih-lebih lagi ketika Tanah Perdikan itu mulai digemparkan
dengan kehadiran serombongan penari yang penarinya mirip sekali dengan
Iswari.
Untuk menanggapi sikap beberapa pihak yang nampaknya kurang menguntungkannya,
maka Wiradana telah mengambil langkah-langkah tertentu. Ia telah memanggil
beberapa orang anak muda yang kemudian ditempanya menjadi sekelompok
anak-anak muda yang dapat dipercaya dan siap melakukan tugas-tugas apa saja
yang dibebankannya kepada mereka.
Mula-mula anak-anak muda itu memang merasa janggal bahwa mereka telah
diperlakukan agak berbeda dengan kawan-kawan mereka. Tetapi lambat laun
mereka menjadi terbiasa mendapat perlakuan yang demikian dari Wiradana.
Kebutuhan mereka sangat diperhatikan, bahwa kepada mereka diberikan pakaian
yang khusus dan mereka mendapat penghasilan dari tugas-tugas mereka.
Anak-anak muda itu mula-mula menyangka bahwa mereka akan mendapat tugas
sebagai pengawal khusus sebagaimana pernah dilakukan oleh Ki Gede. Namun
pada masa Ki Gede memerintah, pengawal khusus itu tidak mendapat perlakuan
yang berlebihan. Justru mereka mendapat latihan-latihan yang berat serta
mengalami ujian bertingkat-tingkat. Sedangkan sekelompok anak-anak muda yang
mendapat perlakuan khusus dari Wiradana justru mendapat penghasilan yang
dapat memberikan kesenangan kepada mereka.
Tetapi anak-anak muda yang mendapat kepercayaan dari Wiradana itu semakin
lama semakin nampak terjadi perubahan-perubahan pada sifat-sifat mereka.
Mereka seakan-akan telah terpisah dari pergaulan kawan-kawan mereka. Tetapi
anak-anak muda itu telah berada dalam satu kelompok tersendiri yang
mempunyai tugas-tugas yang memang khusus pula.
Yang mengherankan bagi anak-anak muda Tanah Perdikan itu yang lain,
anak-anak muda yang menjadi kepercayaan Wiradana merasa diri mereka berkuasa
sebagai Wiradana sendiri. Mereka selalu menjalankan perintah Wiradana dengan
patuh dan bersikap aneh terhadap kawan-kawan mereka sendiri yang sebelumnya
merupakan kawan yang akrab.
Dengan demikian, maka di Tanah Perdikan Sembojan telah tersusun satu
kekuatan yang dipagari oleh sekelompok anak-anak muda yang telah di susun
untuk keperluan itu. Anak-anak muda yang kemudian seakan-akan telah
kehilangan kepribadian mereka sendiri dan melakukan apa saja yang
diperintahkan oleh Wiradana.
Dengan pasukan khusus itulah maka Wiradana telah memperkuat kedudukannya,
sehingga ia benar-benar ditakuti oleh rakyatnya. Tetapi ketakutan rakyat
kepada Wiradana jauh berbeda dengan perasaan takut rakyat Tanah Perdikan
Sembojan takut kepada Ki Gede. Anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan takut
kepada Ki gede sebagaimana mereka takut kepada ayah mereka. Tetapi kepada
Wiradana mereka merasa takut sebagaimana seorang budak merasa takut kepada
tuannya yang garang.
Dalam suasana yang demikian, maka Wiradana memerintah Tanah Perdikan
Sembojan didampingi oleh istrinya yang cantik. Warsi yang mula-mula dianggap
sebagai perempuan yang lembut, bahkan terlalu lembut, agak cengeng dan manja
telah berubah pula. Ia bukan lagi seorang perempuan yang lembut, tetapi yang
nampak padanya kemudian adalah kemanjaan saja. Merengek, menangis dan dengan
merajuk minta disediakan berbagai macam keperluan yang sebelumnya tidak
pernah dikenal di Tanah Perdikan Sembojan.
Selasa, 04-02-2003 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 235
Demikianlah, maka beberapa hal telah berubah di
Tanah Perdikan Sembojan. Tata kehidupan, kebiasaan dan tingkah laku
anak-anak mudanya. Anak-anak muda yang mendapat tugas khusus dari Wiradana
kadang-kadang telah melakukan tindakan yang justru menyakiti hati
kawan-kawan mereka sendiri.
Yang kemudian disebut penertiban pajak, ternyata adalah beban yang
menjadi terlalu berat bagi sebagian rakyat Tanah Perdikan Sembojan.
Sedangkan pemeliharaan kepentingan rakyat banyak, termasuk parit, jalan dan
bendungan agaknya terabaikan.
Dengan gayanya yang khusus Warsi benar-benar telah berhasil mengendalikan
Wiradana. Tata pemerintahan yang dilakukan, adalah hasil pikiran Warsi yang
diungkapkan dengan sikap kepura-puraan yang untuk sekian lama berhasil
membelenggu Wiradana.
Selagi Tanah Perdikan Sembojan mulai dibayangi oleh geseran beberapa tata
nilai yang berlaku, maka sekali lagi Tanah Perdikan itu digemparkan oleh
kehadiran serombongan penari yang berkeliling di salah satu padukuhan.
Kehadiran rombongan itu telah mengejutkan seisi padukuhan itu. Mereka telah
mendapat perintah, jika rombongan penari itu datang lagi, maka mereka harus
ditangkap.
Namun dalam pada itu, beberapa orang yang sebelumnya belum pernah melihat
rombongan itu, justru telah memerlukan untuk melihat, apakah benar bahwa
penari dari rombongan itu mirip sekali dengan Iswari, istri Wiradana yang
pernah hilang beberapa saat yang lalu dan tidak pernah diketemukan lagi.
Beberapa orang memang tidak percaya bahwa penari itu ada hubungannya dengan
Iswari. Tetapi mereka hanya ingin melihat, seseorang yang mirip sekali
dengan orang yang pernah menjadi keluarga yang akrab di Tanah Perdikan itu.
Ketika rombongan itu kebar di sudut padukuhan dengan lampu yang
remang-remang, maka sebenarnyalah semua orang yang menyaksikan sepakat bahwa
penari itu memang mirip sekali dengan Iswari.
“Tetapi Nyai Wiradana tidak pernah merias wajahnya seperti itu,” berkata
salah seorang di antara mereka yang menonton kebar itu.
“Aku tahu,” jawab yang lain. “Orang itu tentu bukan Nyai Wiradana.
Jika ia Nyai Wiradana kenapa ia harus menjadi penari jalanan seperti istri
Wiradana yang sekarang?”
Yang lain hanya mengangguk-angguk saja. Namun seorang laki-laki yang
rambutnya sudah berwarna dua mulai berpikir. Katanya di dalam hati,
“Kenapa perempuan yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana itu telah
melakukan satu pertunjukan keliling di Tanah Perdikan ini? Apakah orang itu
dengan sengaja telah menyindir istri Wiradana yang sekarang?”
Terlepas dari segala dugaan, ternyata bahwa penari yang cantik itu memang
mampu menari dengan lembut. Wajahnya yang cantik serta senyumnya yang luruh
membuat orang-orang yang menyaksi- kan menjadi sangat tertarik kepadanya.
Tetapi ternyata kemudian tidak ada seorang pun yang berani mengganggu penari
itu. Tidak ada seorang pun yang berniat buruk. Bahkan tidak ada seorang pun
yang akan memanggil dan mengupah penari itu untuk menyelenggarakan tayub dan
apalagi janggrung, karena yang terbayang di mata mereka bahwa penari itu
adalah Nyai Wiradana sendiri. Sehingga mereka tidak sampai hati
memperlakukan Nyai Wiradana sebagaimana terhadap penari-penari jalanan yang
lain.
(Bersambung)-m.
Rabu, 05-02-2003 , SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 236
Namun dalam pada itu, kecemasan telah
mencengkam jantung orang-orang yang menyaksikan kebar itu. Mereka sadar,
bahwa mereka harus berusaha menangkap. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak
dapat melakukannya. Rasa-rasanya penari itu memang benar Nyai Wiradana,
meskipun dengan nalar, mereka tidak dapat menerimanya.
Untuk beberapa saat orang-orang padukuhan itu menjadi bingung. Apakah
mereka akan mengikuti perintah Ki Wiradana untuk menangkap penari itu untuk
meyakinkan bahwa perempuan itu bukan Nyai Wiradana untuk kemudian dilepaskan
lagi, atau mereka tidak akan melakukannya. Namun dengan demikian Wiradana
akan menjadi sangat marah kepada mereka.
Selagi orang-orang itu kebingungan, maka tiba-tiba saja seorang di antara
mereka, seorang rambutnya sudah berwarna dua itu bergeser mendekati para
penabuh di belakang alat-alat tetabuhan mereka. Perlahan-lahan ia berbisik
di telinga salah seorang di antara mereka, “Silakan berhenti Ki Sanak. Ada
sesuatu yang ingin aku beritahukan.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian membisikkannya
kepada seorang kawannya. Demikian pula kawannya telah membisikkan kepada
pengendangnya.
Pengendang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun telah
menghentikan pertunjukan itu.
Beberapa orang justru menjadi lega. Mereka tidak ingin melihat rombongan itu
ditangkap. Karena itu, sebagian dari mereka justru berharap agar rombongan
itu dengan cepat meninggalkan padukuhan mereka.
Namun dalam pada itu, pengendangnya yang belum mengetahui apa yang akan
dikatakan oleh orang yang rambutnya sudah berwarna dua itu telah
mendekatinya sambil bertanya, “Ada apa Ki Sanak?”
Orang yang rambutnya telah berwarna dua itu termangu-mangu. Sejenak ia
memandang berkeliling. Namun karena yang ada disekitar arena itu hanyalah
orang-orang dari padukuhan itu saja, maka ia pun telah berkata kepada
pengendangnya itu, “Ki Sanak. Bukan maksud kami mengusir Ki Sanak. Tetapi
kami minta kalian meninggalkan padukuhan ini.”
Pengendang itu termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan suara yang datar ia
berkata, “Kenapa kami harus pergi? Apakah kami dianggap membuat kerusuhan
disini? Atau barangkali dengan kehadiran kami akan dapat menumbuhkan
kemungkinan-kemungkinan buruk bagi keluarga.”
“Tidak,” jawab orang yang rambutnya sudah berwarna dua itu, “Jika aku
mengatakan demikian maka semuanya itu belum terbukti.”
“Jika demikian, lalu apa kesalahan kami,” bertanya pengendang itu.
“Ki Sanak,” jawab orang berambut berwarna dua. “Mungkin Ki Sanak sama
sekali tidak dapat mengerti. Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Wiradana,
pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan kami disini telah mengeluarkan
perintah, jika rombongan ini datang lagi di Tanah Perdikan, maka rombongan
ini harus ditangkap.”
“Ditangkap?” pengendang itu terkejut.
“Memang mengejutkan bagi Ki Sanak,” jawab orang yang rambutnya berwarna
dua. “Tetapi sebenarnya memang demikian. Ketahuilah, bahwa penarimu
ternyata adalah seorang perempuan muda yang mirip sekali dengan bekas istri
pemangku Kepala Tanah Perdikan ini. Orang-orang di Tanah Perdikan ini telah
membicarakannya dan karena itu maka timbul berbagai macam tafsiran tentang
penarimu itu. Karena itu, maka Kepala Tanah Perdikan ini memerintahkan untuk
menangkap kalian. Kalian memang tidak bersalah. Tetapi Kepala Tanah Perdikan
kami hanya ingin menjernihkan keadaan, anggapan tentang penari yang mirip
sekali dengan istri Kepala Tanah Perdikan kami yang telah hilang beberapa
waktu lalu.”
“Tetapi kami tidak mempuny ai sangkut paut dengan orang yang hilang itu,”
desis pengendang itu.
“Ada. Karena penarimu mirip sekali dengan bekas istrinya,” jawab
laki-laki berambut dua itu.
Pengendang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian baiklah.
Kami akan meninggalkan padukuhan ini.”
Kamis, 06 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 137
“Silakan Ki Sanak,” berkata laki-laki
yang rambutnya berwarna dua itu. “Kami tidak akan sampai hati menangkap
kalian, meskipun pada saatnya nanti akan dilepaskannya lagi. Karena itu,
daripada kami menangkap kalian, maka lebih baik bagi kami untu Pengendang
itu mengangguk-angguk. Jawabnya kemudian, “Kami mengucapkan terima kasih
atas peringatan ini. Jika demikian, maka biarlah kami minta diri.”
“Silakan,” sahut laki-laki itu.
Pengendang itu pun kemudian membisikkan sesuatu ke telinga penari cantik
yang termangu-mangu itu. Namun akhirnya penari itu mengangguk-angguk.
Pengendang itu kemudian berdiri di tengah-tengah arena untuk mohon diri dan
mohon maaf kepada orang-orang padukuhan itu.
“Sebenarnya kami masih ingin menghibur kalian,” berkata pengendang itu.
“Tetapi apaboleh buat. Kami mengucapkan terima kasih bahwa kalian masih
memberi kebebasan kepada kami dengan peringatan ini. Agaknya kalian masih
mempunyai belas kasihan kepada kami.”
Dengan demikian maka rombongan penari itu pun segera mengemasi barang-barang
mereka termasuk seperangkat gamelan yang sederhana, yang mereka bawa dengan
pikulan. Tertatih-tatih mereka meninggalkan padukuhan itu, menyusuri jalan
bulak yang gelap. Namun orang-orang padukuhan itu merasa lega, bahwa
rombongan itu telah pergi. Dengan demikian maka mereka tidak harus menangkap
orang-orang yang tidak bersalah sama sekali ini.
Tetapi adalah satu kesepakatan di antara orang-orang padukuhan itu, bahwa
penarinya mirip sekali dengan Iswari yang telah dinyatakan hilang dan tidak
pernah kembali itu.
“Sungguh satu keajaiban,” berkata salah seorang di antara orang-orang
padukuhan itu. “Kemiripan yang hampir tepat. Seandainya Nyai Wiradana
masih hidup, maka jika keduanya dijajarkan, maka keduanya tentu disangka dua
orang saudara kembar.”
Tidak ada orang yang membantah. Keduanya memang mirip sekali. Namun
orang-orang padukuhan itu yakin, bahwa yang dihadapinya memang satu
keajaiban. Bukan sekali-kali Nyai Wiradana yang hilang itu telah kembali
dalam ujud seorang penari.
Namun dalam pada itu, ketika orang-orang padukuhan itu kembali ke rumahnya,
demikian mereka menutup pintu-pintu regol, maka mereka telah mendengar derap
kaki beberapa ekor kuda. Satu dua orang yang menjengukkan kepalanya melihat
dibawah cahaya obor di regol rumahnya, bahwa sekelompok pengawal khusus
Tanah Perdikan itu telah lewat. Mereka adalah anak-anak muda yang merupakan
kekuatan yang mendukung Wiradana dalam kedudukannya dan dalam menjalankan
pemerintahannya.
Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Namun mereka telah menutup kembali
pintu-pintu regol mereka dengan berbagai pertanyaan di dalam hati.
Sekelompok orang-orang berkuda itu ternyata telah langsung pergi ke banjar.
Mereka berloncatan turun di halaman banjar yang sepi. Namun ada beberapa
orang anak muda yang berada di gardu di regol halaman banjar.
Pemimpin sekelompok anak-anak muda dalam pakaian dan sikap yang khusus itu
telah melangkah ke gardu. Dengan suara lantang ia bertanya, “Siapa meronda
malam ini?”
Anak-anak muda di gardu itu mengerutkan keningnya. Mereka agak kurang senang
terhadap anak-anak muda yang dengan khusus melakukan segala tugas yang
dibebankan oleh Wiradana tanpa pertimbangan sama sekali. Bukan hanya
anak-anak muda saja, tetapi juga orang-orang tua, karena anak-anak muda yang
tergabung dalam kelompok khusus itu kadang-kadang bersikap berlebih-lebihan.
“Siapa?” ulang pemimpin kelompok itu.
Seorang anak muda turun dari gardu itu sambil berkata, “Kami, empat orang.
Tetapi orang yang lain berbaik hati menemani kami meronda di banjar ini.”
Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Lalu katanya dengan nada berat,
“Dimana rombongan penari itu?”
Anak-anak muda yang meronda itu terkejut. Sejenak mereka terdiam, sementara
beberapa orang yang lain dengan serta merta, di luar kesadaran mereka telah
berloncatan turun.
Jumat, 07 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang Bayang 238
“Kenapa kalian menjadi bingung? Kami
telah menerima laporan bahwa rombongan penari itu telah datang lagi. Sesuai
dengan perintah Ki Wiradana, maka kalian dan seisi padukuhan ini tentu telah
menangkap rombongan itu. Dimana rombongan itu kalian simpan sekarang?”
Anak-anak muda itu benar-benar bingung. Tetapi ternyata bahwa ada juga
di antara mereka yang mampu menguasai diri. Meskipun dengan jantung
berdebaran anak muda itu menjawab, “Penari itu telah pergi. Kami telah
mengusir penari itu bersama rombongannya.”
“Di usir? He, apakah aku tidak salah dengar,” bentak pemimpin kelompok
itu.
“Ya. Kami telah mengusirnya. Tidak menangkapnya, karena kami tidak dapat
menunjukkan kesalahan mereka. Jika yang dimaksud adalah karena penarinya
mirip dengan Nyai Wiradana yang terdahulu, ternyata tidak. Memang ada
kemiripan. Tetapi setelah kami memperhatikannya dengan sungguh-sungguh
justru setelah timbul persoalan, maka kami mengambil kesimpulan, bahwa ada
beberapa perbedaan pada wajahnya. Penari itu memang mempunyai sepasang mata
bulat, hidung yang mancung dan bibir tipis. Agak berbeda dengan Nyai
Wiradana. Perbedaan lain yang jelas adalah bahwa kening penari itu nampak
menonjol,” berkata anak muda itu.
“Mungkin bagi kami yang sempat memperhatikan. Tetapi Ki Wiradana ingin
menangkap mereka dan membawanya ke padukuhan induk. Ki Wiradana akan
memperlihatkan kepada Rakyat Perdikan ini di semua padukuhan bahwa dongeng
mengenai Nyai Wiradana itu adalah dongeng yang tidak masuk akal,” geram
pemimpin pengawal itu.
“Aku setuju,” jawab anak muda di gardu itu. “Bahkan aku sudah
meyakinkan. Perempuan itu sama sekali berbeda jika kita sempat memperhatikan.”
“Kesempatan itulah yang ingin diberikan oleh Ki Wiradana kepada semua
orang. He kau benar-benar dungu dan tidak mengerti maksudku. Kita tangkap
perempuan itu dan kita bawa berkeliling padukuhan. Semua orang harus
memperhatikan dengan sungguh-sungguh untuk melihat perbedaan-perbedaan
seperti yang kau katakan,” pemimpin pengawal itu hampir berteriak.
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Baru kemudian ia mengangguk-angguk
sambil berdesis, “O, jadi begitu maksudmu. Satu hal yang tidak pernah aku
pikirkan.”
“Tidak pernah kau pikirkan? Bukankah perintah itu sudah diberikan oleh Ki
Wiradana?” bertanya pemimpin kelompok itu dengan suara keras.
“Jangan membentak-bentak begitu,”berkata anak muda itu. “Bukankah
lebih baik jika kita berbicara sebagaimana kita selalu melakukannya. Sambil
bergurau atau kadang-kadang diiringi oleh suara tawa yang riuh di antara
kita.”
“Tutup mulutmu,” bentak pemimpin kelompok itu. “Aku sedang melakukan
tugas. Kau jangan mencoba untuk membujukku. Sekarang tunjukkan dimana
rombongan penari itu.”
“Sudah pergi. Kami telah mengusir mereka agar mereka tidak menimbulkan
persoalan lagi disini,” jawab anak muda itu.
“Gila, Kalian telah melanggar perintah Ki Wiradana,” geram pemimpin
kelompok itu.
“Mungkin. Tetapi bukankah lebih baik perempuan yang diributkan mirip
dengan Nyai Wiradana itu pergi daripada harus diarak keliling Tanah Perdikan
untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan dengan Nyai Wiradana. Bukankah
perempuan itu dengan demikian akan merasa tersiksa dan dihinakan justru sama
sekali tidak bersalah. Kau dapat membayangkan, betapa malunya perempuan itu
dibawa berkeliling. Semua orang diminta untuk mengamati wajahnya sedangkan
pada pengiringnya dengan berlebih-lebihan akan menunjukkan keningnya,
matanya, hidungnya, bibirnya dan bagian-bagian lain dari tubuhnya yang
menunjukkan perbedaan itu,” berkata anak muda itu.
“Kau jangan membuat persoalan dengan kami,” suara pemimpin kelompok itu
menjadi kian garang. “Aku dapat berbuat jauh lebih banyak dari yang pernah
aku lakukan.”
Anak muda yang di gardu itu menjadi tegang. Tetapi ia sama sekali tidak
menjawab lagi. Anak muda itu memang tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak
diharapkan, apalagi dengan anak-anak muda dalam kesatuan khusus itu.”
(Bersambung)-m.
Sabtu, 08 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 239
Karena anak muda itu tidak menjawab, maka
pemimpin kelompok itu kemudian membentak lagi, “Tunjukkan, kemana
rombongan itu pergi.”
Anak muda itu termangu-mangu. Sejenak ia memandang kawan-kawannya yang
agaknya juga menjadi ragu-ragu.
“Cepat,” teriak pemimpin kelompok itu. “Jika aku kehilangan
rombongan itu karena mereka sudah memasuki tlatah lain di luar Tanah
Perdikan ini, kau akan dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas
padukuhan ini.”
Anak muda itu menjadi cemas juga. Rasa-rasanya jantungnya berdegup semakin
keras oleh gejolak perasaannya. Ia mengerti, bahwa orang itu tidak hanya
sekadar mengancamnya.
Namun rasa-rasanya hatinya berat juga untuk menunjukkan kemana rombongan itu
pergi, karena ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Wiradana atas penari
cantik yang memang sangat mirip dengan Nyai Wiradana itu.
Karena anak muda itu tidak segera menjawab, maka tiba-tiba pemimpin kelompok
orang berkuda itu dengan serta merta telah meraba lehernya sambil berdesis,
“Kau jangan mengorbankan dirimu untuk kepentingan perempuan yang tidak kau
kenal itu he?”
Anak muda itu tidak dapat mengelak lagi. Karena itu, maka ia pun telah
menunjukkan arah perjalanan rombongan penari yang wajahnya mirip sekali
dengan wajah Iswari itu.
“Jika kau bohongi kami, maka kau akan tahu sendiri akibatnya,” geram
pemimpin rombongan itu.
Anak muda itu sama sekali tidak menjawab. Ia hanya dapat memandang beberapa
ekor kuda yang berderap menjauh, menyusul rombongan penari yang telah lebih
dahulu meninggalkan Tanah Perdikan itu.
“Mudah-mudahan rombongan itu telah mengambil jalan memintas atau pergi ke
padukuhan yang lain,” berkata anak muda itu kepada kawannya yang berada
disekitar gardu itu.
“Mudah-mudahan mereka selamat,” desis yang lain. “Aku tidak akan
sampai hati melihat perempuan itu di arak keliling Tanah Perdikan tanpa
melakukan kesalahan apapun sebelumnya, sekadar untuk diamat-amati oleh
orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”
Dalam kegelapan malam, derap kaki-kaki kuda telah mengoyak sepi. Sekelompok
anak-anak muda telah berusaha menyusul rombongan penari yang berjalan
beriring meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.
Ternyata sekelompok anak-anak muda yang berkuda itu mampu mengikuti jejak
rombongan penari jalanan itu. Dari kejauhan kelompok itu sudah melihat
sepasang obor yang bergerak, terombang-ambing oleh angin. Nampaknya
rombongan itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindari beberapa orang
yang mungkin melihat.
Karena itu, maka pemimpin kelompok itu pun telah memperbesar kecepatan kuda
mereka. Rasa-rasanya mereka sudah tidak sabar menyusul rombongan penari yang
katanya memang mirip sekali dengan Nyai Wiradana.
Ketika mereka hampir menyusul rombongan para penari itu di tengah-tengah
bulak, maka pemimpin kelompok itu pun berteriak, “Berhenti. Kami memang
sedang mengikuti kalian, pengamen.”
Rombongan penari itu terkejut. Mereka sebelumnya tidak memikirkan, bahwa
akan terjadi kesulitan seperti yang mereka hadapi saat itu.
Tetapi segalanya sudah lewat. Yang akan terjadi adalah mereka telah disusul
oleh sekelompok anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan.
Orang tertua di antara para penabuh gamelan itu pun telah berkata kepada
orang-orangnya. “Berhati-hatilah. Anak-anak muda itu telah dibius oleh Ki
Wiradana sehingga mereka seakan-akan telah kehilangan kepribadian mereka
sendiri.”
“Apakah benar mereka akan menangkap kita?” bertanya penari yang cantik
itu.
“Nampaknya memang begitu. Bukankah orang-orang padukuhan tadi sudah
memperingatkan kepada kita akan bahaya itu? Bahkan orang-orang padukuhan itu
pun mendapat perintah untuk menangkap kita jika kita memasuki padukuhan itu,”
jawab pengendangnya.
Ternyata mereka tidak sempat untuk berbicara lebih panjang lagi. Sejenak
kemudian kelompok orang-orang berkuda itu benar-benar telah menyusul mereka.
“Berhenti,” perintah pemimpin kelompok itu.
(Bersambung)-m.
Minggu, 09 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 240
Tidak ada pilihan lain bagi rombongan
penari jalanan itu. Mereka pun kemudian berhenti sambil meletakkan
barang-barang yang mereka bawa termasuk seperangkat gamelan yang sangat
sederhana, sambil menunggu dengan termangu-mangu.
Pemimpin pengawal Wiradana itu pun segera meloncat turun. Diikuti oleh
kawan-kawannya. Mereka segera mengepung rombongan pengamen itu tanpa kecuali.
Dengan lantang pemimpin anak-anak muda itu pun kemudian memberikan aba-aba,
“Kalian adalah tawanan kami.”
Sejenak orang-orang yang sedang dikepung itu membeku. Namun sejenak kemudian
orang tua pemukul gendang itu pun melangkah maju sambil bertanya, “Apakah
kesalahan kami?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya mendapat perintah untuk membawa kalian kembali,”
jawab pemimpin rombongan itu.
“Ki Sanak,” berkata pengendangnya itu kemudian, “Sebaiknya Ki Sanak
menyampaikan sikap kami. Kami bukan orang-orang berdosa yang akan dapat
membuat Tanah Perdikan ini dikutuk karena perbuatan kami. Karena itu, kami
mohon disampaikan kepada Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,
kami menyatakan berkeberatan. Itu kalau yang memerintahkan kalian Kepala
Tanah Perdikan Sembojan, sedangkan apabila yang memerintah pihak lain, maka
sikap kami pun akan serupa.”
Wajah pemimpin kelompok yang mengejar mereka itu pun menjadi tegang. Tetapi
ia tidak segera memberikan jawaban. Ia tidak mengira bahwa pada suatu saat
ia akan bertemu dengan orang tua yang dengan tegas berani menentang perintah
pengawal khusus Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Namun justru karena itu,
maka pemimpin pengawal khusus itu mematung. Sementara itu, maka orang tua
yang memimpin rombongan penari itu pun berkata selanjutnya, “Karena itu,
maka biarlah kami meninggalkan Tanah Perdikan ini dengan kesan yang damai.
Dengan kesan bahwa Tanah Perdikan Sembojan adalah Tanah yang penuh
pengertian, tenggang rasa dan saling menghormati di antara sesama.”
“Tutup mulutmu,” pemimpin pengawal khusus itu tiba-tiba menjadi sangat
muak dan suaranya bagaikan meledak, “Apakah kau tahu, dengan siapa kau
berhadapan?”
“Aku berhadapan dengan para pengawal Tanah Perdikan ini,” jawab orang
tua itu. Lalu katanya, “Karena itu maka kami berani berkata terus terang,
karena para pengawal tentu mendapat tuntunan untuk bersikap sebaik-baiknya
kepada orang-orang kecil seperti aku. Aku tidak akan berani berbuat seperti
ini jika aku berhadapan dengan anak-anak muda kebanyakan yang akan dapat
berbuat sesuatu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.”
“Diam orang gila,” pemimpin pengawal itu menjadi semakin marah, sehingga
tubuhnya telah menjadi gemetar, “Sekali lagi aku peringatkan, ikut kami
menghadap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan kami.”
“Ki Sanak, sekali lagi aku bertanya, apakah kesalahanku dan barangkali
kesalahan kawan-kawanku. Jika Ki Sanak dapat memberikan penjelasan, maka
mungkin kami akan dapat mengambil sikap.” (Bersambung)-m.
Senin, 10 Februari 2003, SH
Mintardja (Cerbung) - Suramnya
Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 241
Tetapi pemimpin kelompok yang sudah
menjadi marah itu sama sekali tidak menghiraukannya. Katanya, “Dengar
sekali lagi. Ikut aku menghadap Ki Wiradana. Merasa bersalah atau tidak
merasa bersalah. Kesabaranku sudah habis dan kami membawa wewenang untuk
mengambil sikap tertentu terhadap orang-orang yang keras kepala seperti
kalian ini.”
Namun ternyata sikap orang tua itu pun di luar dugaan sama sekali.
Orang tua itu pun berkata dengan tegas, “Kami menolak perintah yang tidak
kami ketahui ujung dan pangkalnya itu.”
Kemarahan yang membakar jantung pemimpin pengawal khusus itu membuatnya
bergetar. Sejenak ia terpukau oleh sikap yang tidak diduganya itu. Baru
kemudian ia mengangkat tangannya memberikan isyarat kepada kawan-kawannya
untuk mulai bertindak.
“Tangkap mereka dan giring mereka menghadap Ki Wiradana,” geram pemimpin
pengawal itu.
Namun sekali lagi jantungnya bergetar. Rombongan penari jalanan itu sama
sekali tidak menjadi ketakutan. Mereka justru telah bergeser mengambil jarak
yang satu dengan yang lain, sementara penarinya yang cantik itu berdiri di
tengah-tengah dilindungi oleh orang tua yang telah memimpin rombongan itu
dan bertindak sebagai pengendang.
Menilik sikap orang-orang dalam rombongan pengamen itu pemimpin kelompok itu
menjadi semakin marah. Dengan suara yang mengguntur ia berteriak, “Jadi
kalian berani melawan kami?”
“Kami disudutkan kepada satu sikap yang tidak dapat kami elakkan,”
berkata orang tua itu.
“Kalian benar-benar telah gila. Kami adalah pengawal khusus dari pemangku
jabatan Kepala Tanah Perdikan. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa kalian
jangan mempersulit keadaan kalian sendiri. Kami mendapat wewenang untuk
bertindak apa saja sesuai dengan tugas yang dibebankan kepada kami,”
berkata pemimpin pengawal itu.
Namun pengendang yang tua itu menjawab, “Ki Sanak. Meskipun kami adalah
rombongan pengamen. Tetapi kami masih mempunyai harga diri. Karena itu,
apapun yang akan terjadi, maka kami tidak akan merendahkan martabat kami.
Biarlah kami mengalami perlakuan yang bagaimanapun, tetapi kami sudah
bertindak atas landasan martabat kami itu.”
“Baiklah,” pemimpin pengawal itu berkata, “Jangan beri mereka
kesempatan. Ternyata mereka benar-benar tidak tahu diri.”
Tetapi para pengamen itu tidak menyerah. Mereka pun telah bersiap untuk
berkelahi. Karena itu ketika orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu
melangkah maju semakin dekat, maka para pengamen itu justru mulai menyerang.
Pemimpin pengawal itu mengumpat-umpat. Mereka merasa mempunyai pengalaman
yang melampaui kawan-kawan mereka. Mereka pun berjumlah jauh lebih banyak
dari para pengamen itu, sementara mereka masih muda dan tangkas, sedangkan
para penabuh gamelan itu sudah terlalu tua untuk berkelahi.
Namun ketika perkelahian itu mulai berlangsung cepat, para pengawal itu
terkejut. Ternyata pengamen-pengamen tua itu tidak segera dapat mereka
tundukkan. Pengamen-pengamen tua itu telah memberikan perlawanan di luar
dugaan.
Pemimpin para pengawal yang melihat perkelahian itu justru bagaikan mematung.
Ia hampir tidak percaya kepada penglihatannya, bahwa orang-orang tua itu
benar-benar memiliki ketangkasan berkelahi melampaui para pengawal itu
sendiri.
Salah seorang di antara para pengamen yang harus berkelahi melawan tiga
orang anak muda, dengan tangkas menghindari setiap serangan. Ketiga orang
kawannya itu sama sekali tidak mampu menyentuh tubuhnya, bahkan pakaiannya.
“Gila,” geram pemimpin pengawal itu, “Apakah mereka bukan manusia
kebanyakan, atau barangkali jin dan hantu?”
Tiba-tiba saja pemimpin pengawal itu ingin melihat, apakah benar penari yang
berada di dalam kegelapan itu memang mirip dengan Nyai Wiradana.
Karena itu, ketika perkelahian itu menjadi semakin meningkat, pemimpin
pengawal itu bergeser mendekati obor yang terpancang pada alat yang
dipergunakan untuk memikul gamelan. Dengan tiba-tiba pemimpin pengawal itu
telah mencabut obor itu.
Dengan satu loncatan panjang, pengawal itu berusaha mendekati penari itu.
Bahkan kemudian obor ditangannya telah didekatkannya ke arah wajah penari
yang berdiri termangu-mangu, disisi pengendangnya yang tua, tetapi masih
saja bersikap keras. (Bersambung)-b.
Started 6/VI/2002
Last updated 10/II/2003
Heboh Haji "mumpung" HH
dan Inul Daratista, goyang sejuta umat
Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....
KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo
Sign My Dreambook
|