Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

Gajahsora sedia bibit ikan dan Indukan G U R A M I

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  

 

 

 

 

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Senin, 20-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 221   

 “Orang-orang gila,” geram Wiradana di dalam hatinya. “Apakah mereka sudah mengetahui rahasiaku bersama Warsi?” 
Namun sekali lagi ia mencari kekuatan atas keinginannya itu dan bersandar kepada kekuasaannya. Karena itu, maka sejenak kemudian ia pun bertanya, “Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian telah mengetahui gadis yang akan aku jadikan istriku itu?”


Orang-orang tua itu termangu-mangu. Tetapi seorang di antara mereka menjawab, “Sudah beberapa kali kami menanyakan siapakah gadis yang akan kau ambil menjadi istrimu itu. Tetapi kau tidak pernah memberikan jawabannya. Kau minta kami menunggu pada suatu saat, sehingga karena itu, maka kami tidak merasa perlu untuk bertanya tentang hal itu kepadamu.” 

“Cukup,” tiba-tiba Wiradana membentak oleh dorongan kegelisahan di dalam hatinya. 

Orang-orang tua itu terkejut. Mereka tidak terbiasa dibentak seperti itu oleh Ki Gede Sembojan yang terbunuh itu. Meskipun kemudian mereka mengenali beberapa perbedaan sifat antara Ki Gede dan anak laki-lakinya tetapi orang-orang tua itu mengira, bahwa Wiradana tidak akan berbuat sekasar itu. 

Tetapi orang-orang tua itu tidak berbuat apa-apa. Mereka menyadari, bahwa jika mereka salah langkah, maka Wiradana akan menjadi semakin marah. Sedangkan mereka tahu, bahwa Wiradana adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. 

Wiradana yang melihat orang-orang itu terdiam mematung ternyata telah menilai sikap itu dengan sudut pandang yang buram. Wiradana menganggap bahwa orang-orang tua itu benar-benar menjadi ketakutan kepadanya, sehingga ia akan dapat bertindak lebih leluasa lagi. 

Karena itulah, maka Wiradana pun menjadi lebih mantap untuk mengatakan maksudnya, bahwa ia akan mengambil Warsi untuk dijadikan istrinya, siapapun orang yang bernama Warsi itu. 

Meskipun demikian ada juga semacam keragu-raguan yang menahannya, sehingga keringatnya benar-benar bagaikan terperas dari tubuhnya. 

Tetapi akhirnya ia berkata juga, “Para tetua di Tanah Perdikan ini. Aku memerlukan restu kalian selain aku akan menunjuk salah seorang di antara kalian untuk mewakili orangtuaku. Pada saat yang sudah ditentukan, aku akan membawa gadis yang akan menjadi istriku itu kemari dan menitipkannya kepada seseorang di padukuhan ini. Kemudian orang yang mewakili orangtuaku akan datang dan diterima oleh ayah gadis itu. Selanjutnya aku akan segera melakukan perkawinan. Selambat-lambatnya dua pekan mendatang.” 

“Dua pekan?” hampir berbarengan beberapa orang bertanya. 

“Ya, dua pekan. Kenapa?” bertanya Wiradana kepada orang-orang yang keheranan itu. 

Untuk sesaat orang-orang tua itu terdiam. Namun kemudian seorang di antara mereka bertanya, “Hanya dalam waktu yang sangat singkat, Ki Wiradana akan melangsungkan perkawinan? Biasanya kami mempersiapkan saat-saat seperti itu dengan tenggang waktu yang cukup panjang. Mungkin setahun, mungkin enam bulan. Tetapi tidak akan lebih dekat dari tiga bulan.” 

“Aku tidak peduli,” jawab Wiradana. “Aku ingin dalam waktu dua pekan, semuanya sudah dapat dilaksanakan. Aku ingin kawin dengan upacara yang tidak kalah baiknya dengan saat aku kawin dengan Iswari.” 

“Tetapi waktu untuk mempersiapkan hal itu sangat pendek,” berkata salah seorang di antara orang-orang tua itu. 

“Aku tidak tahu apakah waktu untuk persiapan kurang atau tidak. Tetapi aku ingin semuanya terlaksana dengan baik. Apapun yang harus kalian lakukan, lakukanlah agar keinginanku tersebut dapat terwujud,” berkata Wiradana. 

Wajah orang-orang tua itu menjadi tegang. Namun ketegangan itu memuncak ketika Wiradana berkata, “Aku tidak mau mendengar alasan apapun juga, sehingga hal tersebut tidak dapat dilaksanakan. Semua harus terjadi sebagaimana diinginkan oleh Kepala Tanah Perdikan ini. Meskipun aku belum diwisuda, tetapi aku sudah melaksanakan tugas ini.” 

Namun justru dengan demikian tidak ada seorang pun yang menjawab. Justru dalam ketegangan semua orang telah digetarkan oleh gejolak di dalam dada masing-masing. 

(Bersambung)-k.

 

Selasa, 21-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 222   

Orang-orang tua yang semula merasa sama sekali tidak berkeberatan untuk ditunjuk menjadi wakil orang tua Wiradana itu pun menjadi ragu-ragu. Bahkan beberapa orang di antara mereka berharap bahwa bukan merekalah yang sebaiknya datang melamar perempuan yang masih belum mereka ketahui itu.

Karena tidak ada seorang pun yang menjawab, maka Wiradana itu pun berkata, "Aku minta agar kalian bersiap-siap sejak sekarang. Besok aku akan membawa gadis yang akan menjadi istriku itu kemari. Aku minta agar baginya disediakan tempat untuk sementara menjelang hari perkawinan." 

Tak ada lagi gairah untuk membicarakan masalah itu. Namun demikian seorang tua yang masih mampu mengendalikan perasaannya bertanya, "Dimanakah perempuan itu akan dititipkan Wiradana?" 

Wiradana mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun berkata, "Rumah siapakah yang paling pantas untuk menitipkan calon istriku itu? Rumah yang cukup baik tetapi tidak jauh dari rumahku ini." 

"Rumah sebelah," jawab orang tua itu. "Bukankah rumah sebelah cukup besar." 

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, "Ya. Rumah sebelah. Aku nanti akan datang ke rumah sebelah untuk meminjamnya selama-lamanya dua pekan, karena dalam dua pekan ini segala persiapan sudah selesai bagaimanapun caranya." 

"Tetapi," orang tua itu pun memberanikan diri. "Apakah kau masih belum bersedia menyebut, siapakah perempuan itu." 

"Besok aku akan membawa perempuan itu ke rumah sebelah. Pada malam harinya, seorang gadis yang akan aku tunjuk akan datang melamarnya. Nah, dengan demikian, maka kalian akan mengetahui, siapakah perempuan itu. "Ternyata Wiradana masih ragu-ragu juga untuk menyebutnya. 

Orang tua yang memberanikan diri untuk bertanya itu terdiam. Wiradana masih belum menyebut namanya. Tetapi dalam waktu yang dekat, mereka akhirnya akan mengetahui juga. 

Pada pertemuan itu, ternyata Wiradana telah membagi pekerjaan di antara orang-orang tua itu. Namun kemudian katanya, "Terserah kepada kalian untuk menunjuk anak-anak muda yang akan membantu kalian di dalam tugas kalian masing-masing." 

Orang-orang tua itu termangu-mangu. Tetapi mereka tidak dapat membantah. Bagaimanapun juga, mereka harus berusaha, agar perkawinan Wiradana itu dapat berlangsung sebagaimana dikehendaki. Dua pekan mendatang. 

Ketika kemudian pertemuan itu berakhir, maka Wiradana pun masih juga berpesan, "Aku tidak mau mendengar keberatan apapun juga dalam pelaksanaan hari perkawinan ini. Jangan mengada-ada. Sedangkan keramaian yang akan berlangsung harus seimbang dengan yang pernah terjadi, saat aku kawin dengan Iswari." 

Beberapa orang tua yang meninggalkan rumah Wiradana itu pun tidak habis-habisnya membicarakan sikap Wiradana yang kurang mereka mengerti. Tetapi mereka harus melakukan sebagaimana dikehendakinya. 

"Apaboleh buat," desis seseorang. "Kita harus bekerja keras. Jika kita mengecewakan anak muda itu, maka akibatnya akan sangat pahit bagi Tanah Perdikan ini. Mungkin Wiradana yang kecewa itu akan berbuat apa saja menurut kehendaknya sendiri. 

Karena kita dianggapnya tidak mau membantunya dalam saat perkawinannya, maka ia pun akan memperlakukan Tanah Perdikan ini sedemikian pula. Tanah Perdikan ini bukannya merupakan asuhan yang harus dipertanggungjawabkan, tetapi saingan yang harus ditundukkannya." 

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi mereka sependapat, bahwa mereka harus bekerja keras, melaksanakan keramaian sebagaimana dikehendaki oleh Ki Wiradana. 

"Tetapi aku menjadi penasaran. Besok aku akan menunggu Ki Wiradana membawa perempuan yang akan dititipkan di rumah Ki Padma. Siapakah sebenarnya perempuan yang nampaknya dirahasiakannya itu?" desis salah seorang di antara mereka. 

"Agaknya Ki Wiradana mencemburuimu," jawab yang lain. 

 Rabu, 22-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 223   

 “AH,” sahut orang itu. “Seandainya gigiku masih tersisa, mungkin aku juga akan melamarnya. Untunglah bahwa gigiku telah habis, sementara rambutku telah menjadi separuh kapas.” 
“He, justru rambut seputih kapas akan merupakan daya tarik tersendiri,” berkata yang lain lagi.

 “Mungkin. Mungkin hantu-hantu di kuburan akan sangat tertarik melihat rambut seputih kapas,” jawab orang itu. 

Yang lain tertawa betapapun masamnya. Sifat dan sikap Ki Wiradana benar-benar kurang dapat dimengerti. Tetapi sebagian dari mereka masih menunggu, apakah sifat dan sikap yang demikian itu suatu saat akan dapat berubah terutama jika ia sudah beristri lagi. 

“Jika istrinya memiliki kemanisan budi seperti Iswari, maka aku kira sikap hidup Ki Wiradana akan berubah. Ia akan dapat kembali menelusuri jalan sebagaimana dilalui oleh Ki Gede almarhum,” berkata salah seorang dari orang-orang tua itu. 

Sementara itu, Wiradana merasa kedudukannya menjadi semakin kuat. Ketika ia membentak orang-orang tua itu, dan ternyata mereka menjadi semakin tunduk, Wiradana merasa bahwa jalannya akan menjadi semakin licin. 

Malam berikutnya, Wiradana telah merundingkan segala sesuatunya dengan istrinya dan laki-laki yang disangkanya ayah mertuanya. 

“Besok kau akan aku bawa memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Kau akan aku tempatkan pada seseorang yang mempunyai rumah yang pantas dan terletak disisi rumahku,” berkata Ki Wiradana. 

Warsi menunduk dalam-dalam. Bahkan kemudian terdengar suaranya sendat, “Aku tidak menyangka bahwa akhirnya hal ini akan terjadi. Tetapi kesan yang akan timbul mungkin akan dapat menyiksaku. Seolah-olah aku berada di rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan setelah rumah itu ditaburi tumbal yang sangat berharga. Istri kakang yang pertama.” 

“Jangan terlalu mudah tersentuh perasaanmu,” berkata Ki Wiradana. “Kau tidak mempunyai sangkut paut dengan Iswari. Kau datang dengan caramu sendiri. Aku menghendaki demikian. Dan hal ini terjadi setelah Iswari tidak ada lagi.” 

“Tetapi bukankah kita mengetahui, apa yang telah terjadi dengan istri kakang yang pertama itu? Bukankah kita mengetahui bahwa Iswari telah hilang dan tidak dapat diketemukan kembali?” desis Warsi. 

“Akulah yang bertanggung jawab,” berkata Wiradana. “Kau tidak usah memikirkan apapun juga. Besok kau pergi bersamaku ke rumah Ki Padma yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Kau akan tinggal disana untuk selama-lamanya dua pekan, sementara orang-orang tua mempersiapkan keramaian untuk merayakan hari perkawinan kita.” 

Warsi mengangguk kecil. Jawabnya sebagaimana yang sering dikatakan, “Semuanya terserah kepada kakang.” 

Ki Wradana mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada laki-laki yang dianggapnya ayah mertuanya. “Ayah. Seseorang dengan upacara yang akan datang untuk melamar Warsi. Ayah dapat menerimanya sebagaimana seharusnya. Kemudian kita akan merundingkan upacara perkawinan itu sebagaimana lazimnya pembicaraan tentang hal seperti itu.” 

“Baiklah ngger. Aku akan berusaha untuk menyesuaikan diri,” jawab laki-laki itu. 

Seperti yang dikatakan oleh Wiradana, maka di hari berikutnya Warsi telah dibawanya ke rumah Ki Padma. Tetapi adalah di luar dugaan, bahwa Ki Wiradana membawa Warsi justru di malam hari, pada saat yang sama sekali tidak diperkirakan oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. 

Karena itu, tidak banyak orang yang melihat kedatangannya. Namun yang sedikit itu ternyata telah membuat padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan bergejolak. 

Dua orang anak muda yang berada di gardu yang masih belum terisi penuh melihat Ki Wiradana bersama seorang perempuan dan seorang laki-laki. Anak-anak muda itu tidak bertanya, siapakah perempuan itu, karena mereka sudah mendengar bahwa Wiradana akan membawa calon istrinya memasuki padukuhan induk sebelum dalam waktu dua pekan mendatang akan dilangsungkan hari
perkawinannya. (Bersambung)-m.
Kamis, 23-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 224   

 “Rasa-rasanya aku pernah melihat perempuan itu,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda itu. 
“Ya. Rasa-rasanya akupun pernah melihat. Tetapi dimana dan kapan?” sahut yang lain.

 Kedua anak muda itu pun segera mengingat-ingat. Dimana saja mereka pernah melihat perempuan itu. 

Dalam pada itu salah seorang di antara mereka tiba-tiba berkata lantang, “Aku tahu, aku sudah dapat mengingat-ingatnya.” 

Kawannya termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Siapa perempuan itu?” 

“He, kau pernah melihat penari keliling yang pernah datang di Tanah Perdikan ini?” bertanya anak muda yang pertama. 

“Penari jalanan itu?” sahut yang lain. 

“Ya. Yang bermalam di Banjar” sambung yang pertama. 

Anak muda yang lain mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia pun hampir berteriak, “Ya. Aku sependapat. Aku ingat sekarang bahwa perempuan itu memang penari yang kau katakan. 

Selagi keduanya sibuk menebak, maka dua orang anak muda yang lain telah datang pula. Dengan heran keduanya bertanya, apa yang sedang dipercakapkan oleh kedua orang yang terdahulu. 

Dengan suara yang keras kedua anak itu berebut bercerita tentang perempuan yang datang bersama Wiradana. Perempuan yang akan dijadikan istrinya itu. 

“Bodoh kau,” tiba-tiba salah seorang anak muda yang datang itu membentak, “Tentu bukan perempuan itu yang akan dijadikan istrinya. Jika ia membawa perempuan itu mungkin Wiradana akan menyelenggarakan pertunjukan tari pada hari perkawinannya. Karena itu, maka penari itu telah dibawa kemari untuk membicarakan kemungkinan itu serta sudah barang tentu biaya untuk penyelenggaraan itu.” 

Dua orang yang terdahulu ada di gardu terma-ngu-mangu. Memang mungkin masuk akal bahwa penari itu datang untuk membicarakan kemungkinan diselenggarakannya pertunjukan tari dengan cara yang lebih baik daripada menari disudut padukuhan. 

Tetapi bukan hanya kedua orang anak muda itu sajalah yang telah menduga, bahwa Wiradana membawa bakal istrinya yang sudah banyak dikenal oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi ketika Wiradana tidak membawa perempuan itu ke rumahnya, tetapi Wiradana langsung membawa perempuan itu ke rumah Ki Padma. 

Maka sambungmenyambung, anak-anak muda di Tanah Perdikan Sembojan itu pun telah mempercakapkan perempuan yang datang bersama Wiradana itu. Bukan hanya dua orang yang berada di gardu itu sajalah yang melihat. Tetapi se-orang anak muda yang kebetulan lewat jalan di dalam padukuhan induk telah berpapasan pula. Yang lain melihat perempuan itu memasuki regol halaman rumah Ki Padma. Dan yang melihat dengan jelas adalah anak Ki Padma sendiri. Perempuan yang dibawa ke rumahnya itu memang penari jalanan yang beberapa waktu yang lampau pernah berada di Tanah Perdikan itu dan bermalan di banjar. 

Anak muda anak Ki Padma itu dengan diam-diam telah keluar dari halaman rumahnya menuju ke gardu. Meskipun belum banyak anak muda yang ada di gardu, tetapi pembicaraan tentang perempuan itu memang sangat menarik. Dengan demikian maka berita itu telah menjalar dari gardu ke gardu dan dari mulut ke mulut sehingga tersebar ke seluruh padukuhan induk dan bahkan padukuhan-padukuhan lain, karena ketika Wiradana lewat di padukuhan-padukuhan lain itu, beberapa orang telah melihatnya pula. 

Hal itu sudah diperhitungkan oleh Wiradana. Tetapi ia sudah bertekad untuk melakukannya meskipun ia masih juga berusaha untuk membatasi kemungkinan itu sekecil-kecilnya, sehingga karena itu maka ia datang di malam hari. Menurut keterangannya kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan, tidak ada apapun yang dapat merintanginya. Perkawinannya harus berlangsung dalam waktu dua pekan. 

Tetapi bahwa perempuan yang dibawanya itu adalah seorang penari jalanan, maka seisi Tanah Perdikan telah mempertanyakannya. 

Sebenarnyalah bahwa Wiradana sama sekali tidak menghiraukan mereka. Ia sudah bersiap-siap menghadapi keadaan yang demikian. Karena itu, maka Wiradana telah memanggil pula sepuluh orang
kepercayaannya. (Bersambung)-m.

 

Jumat, 24-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung)
Suramnya Bayang Bayang 225   

 “Aku bekali kalian dengan uang. Tetapi sumbat mulut orang-orang yang mengejek aku,” geram Wiradana. 
Sepuluh orang itu termangu-mangu. Tetapi mereka pun sudah mendengar bahwa yang dibawa oleh Wiradana adalah perempuan yang pernah berada di Tanah Perdikan sebagai penari. 

 “Kenapa mengejek?” tiba-tiba salah seorang di antara sepuluh kepercayaan Wiradana itu bertanya. 

Pertanyaan itu membingungkan Wiradana. Tetapi ia pun kemudian berkata terus terang, “Perempuan yang akan aku jadikan istriku adalah Warsi, penari yang cantik itu. Jika ada di antara rakyat Tanah Perdikan yang tidak setuju atau bahkan mengejek aku, maka kau harus menyumbat mulutnya dengan tangkai pedangmu, mengerti? Atau kau akan segera aku lempar dan aku gantikan dengan orang-orang lain yang lebih berarti bagiku.” 

“Baiklah Wiradana,” jawab yang tertua di antara anak-anak muda itu, “Kami akan melakukannya dengan sebaik-baiknya.” 

Wiradana memandang orang itu dengan tatapan mata yang tajam sekali. Seakan-akan ia ingin melihat langsung sampai jantungnya untuk mengetahui, apakah yang dikatakannya itu sesuai dengan apa yang akan dilakukannya. 

“Pergilah,” berkata Wiradana kemudian. “Kau tahu apa tugasmu.” 

“Ya,” jawab yang tertua di antara kepercayaannya itu, “Kami akan ke gardu-gardu dan berbincang-bincang dengan anak-anak muda untuk mengetahui sikap mereka. Aku yakin bahwa sebagian besar dari mereka sudah mengetahui siapakah perempuan yang telah kau bawa masuk ke Tanah Perdikan ini.” 

Wiradana tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja anak-anak muda yang kemudian meninggalkannya. 

Sebenarnyalah bahwa anak-anak muda itu memang pergi ke gardu terdekat di ujung jalan di padukuhan induk itu. Di gardu di dekat pintu gerbang itu memang terdapat anak-anak muda yang menjadi semakin banyak berkumpul. Mereka memang berbicara tentang perempuan yang bernama Warsi, penari jalanan yang pernah mengadakan pertunjukan keliling di Tanah Perdikan Sembojan. 

Anak-anak muda yang menjadi kepercayaan Wiradana itu termangu-mangu sejenak. Namun yang tertua di antara mereka ternyata tidak berbuat apapun juga, sehingga kawan-kawannya yang lain pun menjadi ragu-ragu. 

Bahkan yang tertua di antara mereka itu berkata di antara anak-anak muda di gardu itu, “He, apakah kalian tahu, tugas apakah yang harus aku lakukan sekarang ini?” 

Anak-anak muda di gardu itu termangu-mangu. Namun seorang di antara mereka menjawab, “Tentu tidak tahu.” 

Orang tertua di antara kepercayaan Wiradana itu pun berkata selanjutnya, “Kami mendapat tugas untuk menyumbat setiap mulut yang berani menyebut atau apalagi mengejek kehadiran perempuan yang akan dijadikan istri Wiradana itu.” 

“O,” anak-anak muda di gardu itu menjadi tegang. Mereka pun segera menyadari, bahwa anak-anak muda yang datang bersepuluh itu adalah kepercayaan Wiradana yang sering melakukan tugas-tugas khusus. Menurut pengenalan anak-anak muda yang di gardu itu, maka sepuluh orang anak muda itu adalah orang-orang pilihan yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya yang lain.
(Bersambung)-m.

 

Sabtu, 25-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 226   

 Tetapi di luar dugaan mereka, bahwa orang itu kemudian justru berkata, “Memang aneh sekali. Bukanlah dengan perintah itu Wiradana sudah merasa, bahwa perempuan itu tidak pantas untuk dijadikan istrinya.” 
Anak-anak muda di gardu itu termangu-mangu. Mereka tidak segera meyakini sikap anak muda yang tertua di antara sepuluh orang kepercayaan Wiradana itu. Namun anak muda itu pun kemudian berkata. “Tetapi ia telah memaksa rakyat Tanah Perdikan itu untuk menerimanya.”


Anak-anak muda itu pun mengangguk-angguk. Namun salah seorang di antara mereka telah bertanya, “Bagaimana pendapatmu sendiri?” 

Orang tertua di antara sepuluh orang itu berkata, “Jika kau bertanya tentang pendapatku, maka sudah terang aku tidak setuju. Apa artinya penari jalanan itu. Sedangkan istrinya yang dahulu, gadis padepokan itu pun telah menumbuhkan beberapa pertanyaan di antara kami. Namun pada waktu itu agaknya Ki Gede Sembojan dapat meyakinkan kepada orang-orang tua, bahwa mereka sebaiknya menerima Iswari. Bahkan setelah perkawinan itu terjadi ternyata Iswari dapat melakukan tugasnya sebagai istri Wiradana dengan baik. Bahkan karena sudah tidak ada lagi istri Kepala Tanah Perdikan, maka kita semuanya menganggap seolah-olah Iswari adalah istri Kepala Tanah Perdikan.” 

“Tetapi,” berkata salah seorang di antara anak-anak muda itu. “Apakah kita pasti, bahwa Warsi tidak akan dapat menjadi seorang perempuan yang memiliki kemampuan seperti Iswari?” 

Orang tertua itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita memang tidak dapat menebak kemampuan seseorang. Mungkin seorang yang dalam ujudnya tidak meyakinkan namun memiliki banyak kelebihan dari orang lain. Sebagaimana penari jalanan itu mungkin sesuatu yang dapat membuat Wiradana tergila-gila kepadanya. Mudah-mudahan sesuatu tu bermanfaat kiranya bagi Tanah Perdikan ini.” 

“Yang pasti,” sahut anak muda yang lain, “Perempuan itu memiliki kelebihan kecantikan dari gadis-gadis Tanah Perdikan ini, di tambah lagi penari itu selalu bersolek secantik-cantiknya dalam setiap penampilannya, sehingga dengan demikian maka ia menjadi semakin cantik saja.” 

“Kecantikan lahiriah akan berbeda dengan kecantikan batiniah,” tiba-tiba saja anak muda yang berdiam diri di sudut gardu itu sempat juga menyahut. 

“Kami mengerti,” sahut anak muda yang lain. “Tetapi jika hati kita sedang menjadi buram, maka kita tidak akan sempat menilai seperti itu. Apa yang nampak itulah yang lebih banyak mempengaruhi sikap kita.” 

Namun dalam pada itu, seorang di antara mereka yang berkerumun itu berkata, “Tetapi hal ini sudah dikehendaki oleh Wiradana. Kita memang tidak dapat berbuat apa-apa. Malam ini ia memerintahkan sepuluh orang kepercayaannya untuk membungkam setiap mulut yang berani menentang sikapnya, mungkin besok atau lusa jumlah itu akan bertambah lagi, sehingga akhirnya kita semua mendapat tugas untuk mengamankan keinginan Wiradana itu.” 

Kawan-kawannya menarik nafas dalam-dalam. Hal itu memang mungkin saja terjadi. 

Berita tentang datangnya Warsi ke Tanah Perdikan Sembojan sebagai calon istri Wiradana itu benar-benar telah menggemparkan. Apalagi di pagi hari kemudian, maka setiap telinga orang Sembojan pun telah mendengarnya pula. 

Namun sepuluh orang kepercayaan Wiradana yang harus menyumbat mulut orang-orang yang mengejek Warsi itu dengan tangkai pedang telah mempergunakan cara lain. Kepada orang-orang Tanah Perdikan Sembojan mereka berkata terus terang, “Tolong, jika kalian memperbincangkan Warsi, jangan sampai Wiradana atau penjilat-penjilatnya tahu bahwa sebenarnya kalian telah melakukannya. Karena jika hal itu diketahui oleh Ki Wiradana, maka kami sepuluh orang inilah yang akan menanggung akibatnya.” 

Ternyata orang-orang Sembojan pun dapat mengerti. Mereka berusaha menyembunyikan perasaan tidak senang mereka terhadap orang yang akan menjadi istri pengganti Kepala Tanah Sembojan. 

Karena itulah, Wiradana memang sudah tidak mempedulikan lagi sikap orang lain. Ia mencintai Warsi. Karena itu, maka Wiradana ingin mengawininya. Habis perkara. 

(Bersambung)-b.

 

Minggu, 26-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 227   

 Orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan itu pun terkejut pula. Namun mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka menerima kehadiran Warsi setelah beberapa lama mereka berteka-teki tentang bakal istri Wiradana itu. “Pantas,” berkata salah seorang tua kepada kawannya, “Itulah agaknya maka ia telah merahasiakan nama perempuan itu.”

 Kawannya mengangguk-angguk sambil menjawab, “Satu pilihan yang tidak nalar. Tetapi jika hal itu memang dikehendaki apaboleh buat. Kita tinggal melihat perkembangan apakah yang akan terjadi. Mungkin justru sebaliknya dari yang kita duga. Mungkin perempuan itu akan dapat memberikan angin baru bagi Tanah Perdikan ini.”
“Angin apa?” bertanya kawannya. “Aku sama sekali tidak berkeberatan dengan ketrampilan seseorang untuk menari. Tetapi bukan penari yang ngamen di sepanjang jalan seperti Warsi. yang melayani tari-tarian kasar laki-laki yang ingin ngibing.”
“Agaknya memang harus terjadi seperti itu,” berkata orang lain, “Kita tidak akan dapat menolaknya.”


Dalam pada itu, seperti yang direncanakan semula oleh Wiradana, maka salah seorang dari orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan itu akan mewakili orang tuanya melamar Warsi. Ketika ia menunjuk seseorang, maka orang itu tidak dapat menolak, meskipun ia mengumpat di dalam hati, “Aku harus melamar penari jalanan itu bagi seorang Kepala Tanah Perdikan. Sungguh satu hal yang tidak aku mengerti. Meskipun demikian, apaboleh buat. Wiradana agaknya benar-benar tergila-gila kepada perempuan itu.”

Tetapi orang itu mempersiapkan juga perlengkapan bagi upacara melamar perempuan yang untuk sementara dititipkan pada Ki Padma yang tinggal di sebelah rumah Ki Wiradana.

Namun ketika ia berbincang dengan istrinya, maka istri orang tua itu berkata, “Jangan merendahkan siapapun juga kakang. Meskipun ia penari jalanan, tetapi siapa tahu kalau hatinya bersih. Ia melakukan pekerjaan itu sekadar untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Mungkin sekali ia melakukannya dengan perasaan yang sangat pahit. Atau barangkali ia dengan sadar melakukannya karena ia yakin bahwa pekerjaan menari di sepanjang jalan mengharapkan pemberian orang lain. Ia tidak mencuri, merampok atau merampas milik orang lain dengan kekerasan atau dengan diam-diam.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Mudah-mudahan orang itu bukan orang yang harus kita tolak untuk selanjutnya. Mudah-mudahan setelah menjadi istri Wiradana ia dapat menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya.”

Dengan demikian maka orang tua itu pun bersama beberapa orang lainnya, pada malam hari yang ditentukan telah pergi ke rumah Ki Padma sambil membawa kelengkapan yang seharusnya bagi seseorang yang datang melamar.
Pembicaraan pun kemudian berjalan dengan lancar. Wiradana sendiri ikut hadir dan mendengarkan semua yang diucapkankan oleh kedua belah pihak yang setiap katanya sebenarnya adalah kata-kata yang sudah terbiasa diucapkan bagi kepentingan serupa itu.

Laki-laki yang disebut ayah Warsi itu pun dengan senang hati menerima lamaran itu dan menyatakan bahwa anak gadisnya sama sekali tidak berkeberatan untuk menjadi istri Wiradana.

Dengan demikian maka segala sesuatunya telah menjadi jelas. Mereka pun membicarakan hari yang paling baik untuk melangsungkan perkawinan antara Wiradana dengan Warsi.
Memang seperti yang direncanakan oleh Wiradana, maka perkawinan itu akan dilangsungkan dalam dua pekan mendatang. Segala persiapan akan dilakukan dan dibiayai oleh Wiradana dan orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan.

Sejak hari itu, maka Sembojan telah menjadi sibuk. Semua orang seakan-akan telah dibebani tugas masing-masing yang harus mereka lakukan dengan cepat. Rumah Wiradana pun telah dipersiapkan sebaik-baiknya. Keramaian perkawinan itu harus tidak kalah dengan keramaian pada saat Wiradana kawin dengan Iswari.
Karena Wiradana tidak segan-segan mengeluarkan biaya untuk hari perkawinannya itu, maka meskipun dengan tergesa-gesa, ternyata bahwa orang-orang Tanah Perdikan itu mampu juga untuk mempersiapkan sebagaimana dikehendaki oleh Wiradana dalam waktu yang dekat.
(Bersambung)-m.

 

Senin, 27-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 228   

 Di kandang di rumah Wiradana, dua ekor lembu telah terikat. Pada saatnya kedua ekor lembu itu, bersama beberapa ekor kambing dan berpuluh-puluh ekor ayam akan disembelih. 
Demikianlah pada saatnya, perkawinan Wiradana memang menjadi sangat meriah. Keramaiannya benar-benar tidak kalah, bahkan melampaui saat ia kawin dengan Iswari.


Karena Ki Gede Sembojan sudah tidak ada, maka segala sesuatunya sangat tergantung kepada Wiradana sendiri. Apapun yang dikehendakinya, tidak seorang pun yang dapat melarangnya. 

Sementara itu, biaya perkawinan itu dapat diambil beberapa saja dikehendaki oleh Wiradana. Ayahnya yang termasuk orang hemat, tetapi bukannya kikir, mempunyai simpanan yang cukup. Simpanan yang ternyata dapat dipergunakan oleh Wiradana sesuai dengan keinginannya juga tanpa ada orang yang mencegahnya. 

Dengan demikian maka Tanah Perdikan Sembojan benar-benar menjadi sangat meriah. Bukan saja di padukuhan induk. Tetapi di padukuhan-padukuhan yang lainpun terasa suasana keramaian perkawinan Wiradana dengan seorang gadis yang sangat cantik. 

Di gardu-gardu anak-anak muda yang terpaksa tidak dapat melihat keramaian di padukuhan induk karena mendapat giliran bertugas telah mendapat kiriman makanan dan minuman. Meskipun mereka tetap berada di tugas masing-masing namun mereka telah ikut pula menikmati hidangan dari padukuhan induk. 

Kegembiraan benar-benar telah meluap di padukuhan induk. Wiradana dengan sengaja telah memberikan kesempatan yang sangat luas kepada anak-anak muda untuk merayakan hari perkawinannya itu. 

Agak berbeda dengan Ki Gede Sembojan yang telah meninggal, maka Wiradana sama sekali tidak melarang ketika beberapa orang telah mencoba-coba untuk bermain dengan taruhan. Meskipun mula-mula hanya sekadar untuk mengisi waktu, namun agaknya semakin lama hari menjadi semakin panas, sehingga mereka telah benar-benar tenggelam dalam permainan dengan taruhan yang semakin banyak. 

Keramaian di Tanah Perdikan Sembojan ternyata tidak hanya berlangsung semalam. Tetapi lebih dari tiga malam berturut-turut. Bahkan setelah itu pun ternyata masih ada juga beberapa orang yang telah tenggelam dalam kebiasaan baru. Berjudi. Kebiasaan yang sudah agak lama ditinggalkan oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Jika masih ada juga orang yang bermain-main dengan dadu atau permainan semacamnya, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena Ki Gede Sembojan yang sudah tidak ada lagi telah melarangnya dengan keras. 

Dalam pada itu, selagi orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tenggelam dalam suasana keramaian, maka Warsi yang kemudian berada di rumah Ki Gede merasa bahwa pengunjungnya telah sampai pada satu tataran yang menentukan. Ia sudah berada di rumah seorang yang paling berkuasa di Sembojan setelah ia berhasil membalaskan dendam kematian pamannya. 

Wiradana yang sangat mencintai istrinya yang cantik itu pun merasa satu tugas yang maha besar telah diselesaikannya. Ia berhasil memecahkan dinding penyekat antara istrinya dengan Tanah Perdikan. Setelah istrinya itu berada di rumahnya, maka segala sesuatunya akan dapat berjalan sesuai dengan keinginannya. Semua orang Tanah Perdikan Sembojan harus menganggap Warsi sebagaimana mereka bersikap terhadap Iswari. 

Di hari-hari pertama Warsi berada di rumah Wiradana, nampak betapa wajahnya justru menjadi murung. Setiap kali ia mengeluh, bahwa ia merasa bersalah terhadap Iswari. Apapun sebabnya, namun ia berada di rumah itu setelah Iswari hilang dari Tanah Perdikan Sembojan. 

“Hilangnya Iswari bukan tanggung jawabmu,” berkata Wiradana. “Aku yang akan mempertanggungjawabkannya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah membangun masa depan yang lebih baik bagi diri kita berdua dan bagi Tanah Perdikan ini.” 

“Tetapi aku merasa diriku terlalu tidak berharga di mata orang-orang Sembojan kakang,” jawab Warsi. “Semua orang Sembojan tahu, bahwa aku adalah seorang pengamen yang menelusuri jalan-jalan untuk mendapat sesuap nasi. Dan kini tiba-tiba aku berada di rumah ini. Rumah seorang yang paling berkuasa di Tanah Perdikan ini.” 

(Bersambung)-b.

 

Selasa, 28-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 229   

 “Jangan menyakiti hatimu sendiri,” jawab Wiradana. “Yang penting bagimu adalah, bahwa kau harus berusaha menyesuaikan dirimu, bahwa kau adalah istri orang yang paling berkuasa di Tanah Perdikan ini.” 
“Itulah yang aku cemaskan kakang. Apakah aku akan dapat melakukannya?” bertanya Warsi.

 “Aku akan menuntunmu. Aku yakin bahwa kau akan dapat melakukannya,” jawab Wiradana. 

Warsi tidak menyahut lagi. Tetapi setiap kali kepalanya menunduk dan wajahnya menjadi basah. Sementara itu, maka laki-laki yang dianggap ayah Warsi itu pun berada di Tanah Perdikan Sembojan untuk beberapa waktu lamanya, sampai sepasang pengantin itu melampaui upacara sepasaran. Baru kemudian orang yang dianggap ayah Warsi itu akan meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. 

Namun dalam pada itu, selagi orang-orang Sembojan masih dibayangi oleh keramaian hari perkawinan Wiradana, maka di beberapa padukuhan telah terjadi pula kegemparan. Selagi orang-orang Tanah Perdikan itu masih berbicara tentang Warsi, istri Wiradana yang baru itu, bahwa ia adalah bekas seorang pengamen yang menari sepanjang jalan untuk menyambung hidupnya, ternyata di beberapa padukuhan tiba-tiba saja telah muncul pula sekelompok pengamen dengan seorang penari yang masih muda dan cantik. Dengan merias diri sebaik-baiknya, penari itu memiliki kecantikan yang seakan-akan bercahaya. 

Ketika kelompok itu berhenti di sudut padukuhan dan kebar untuk beberapa lamanya, maka orang-orang padukuhan yang menyaksikan penari itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Seorang laki-laki muda yang berikat pinggang selebar telapak tangan berdesis, “Ada juga orang secantik itu. Jika beberapa saat yang lalu seorang penari cantik telah menggemparkan Tanah Perdikan ini dan kemudian telah diambil oleh Ki Wiradana, maka sekarang ada lagi seorang perempuan cantik yang berkeliling menelusuri jalan-jalan sebagaimana dilakukan oleh Warsi.” 

Namun ketika laki-laki itu menyatakan untuk minta agar rombongan itu bermain di halaman rumahnya dengan imbalan uang yang cukup banyak, pengendangnya, yang mewakili kelompok itu menyatakan berkeberatan. 

“Maaf Ki Sanak. Belum hari ini. Kami baru sekadar memperkenalkan diri. Mungkin pekan mendatang, kami akan kembali dan silakan untuk memanggil rombongan ini. Kami akan melayani dengan senang hati.” 

Laki-laki muda itu menjadi heran. Tetapi ia tidak memaksa. Bersama-sama dengan beberapa orang lain ia menyaksikan saja rombongan penari itu kebar di sudut padukuhannya. 

Dua malam berturut-turut rombongan itu nampak kebar di dua padukuhan yang termasuk tlatah Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi seperti dahulu, maka rombongan itu masih belum bersedia untuk menerima tawaran bermain di halaman seseorang. Apalagi untuk kepentingan tayub dan janggrung. 

Namun yang dua malam itu ternyata telah menimbulkan berbagai macam persoalan. Orang-orang dari kedua padukuhan itu telah ramai membicarakan hadirnya serombongan penari yang kemudian telah menghilang lagi. 

“Sepekan lagi rombongan itu akan datang,” berkata laki-laki yang pernah memanggil rombongan itu untuk bermain di halaman rumahnya tetapi ditolak. 

Tetapi ternyata sepekan kemudian rombongan itu tidak muncul lagi sebagaimana dijanjikan. 

Namun dalam pada itu, beberapa orang telah mengindap pertanyaan di dalam hati mereka. Rasa-rasanya mereka pernah melihat wajah penari yang sangat cantik itu, meskipun dalam ujud yang lebih sederhana. 

“Mirip sekali dengan Nyai Wiradana yang hilang itu,” desis seseorang. 

Wajah kawannya tegang. Tetapi dengan tersendat-sendat ia berkata, “Memang mirip. Tetapi tentu bukan.” 

“Tentu bukan,” ulang kawannya yang pertama. “Kita semuanya tahu, kalau Nyai Wiradana itu hilang bagaikan ditelan hantu.” 

“Ya. Tetapi memang mirip sekali, Nyai Wiradana itu bersolek sebagaimana penari itu, maka aku kira ia pun akan menjadi secantik penari itu pula. Tetapi Nyai Wiradana terlalu sederhana. Ia jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah nampak merias diri dengan cara apapun juga,” sahut kawannya. 

 Rabu, 29-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang230   

 Tetapi sebenarnyalah, yang menganggap bahwa penari yang mirip sekali dengan Nyai Wiradana bukan hanya kedua orang itu. Beberapa orang yang lain ternyata menyebutnya demikian pula. Penari yang cantik itu mirip sekali dengan Nyai Wiradana.

 Namun demikian, ada juga yang bertanya, “Tetapi apakah salah seorang penabuhnya ada yang mirip dengan Kiai Badra, kakek Nyai Wiradana yang pernah mengobati Ki Gede dan Wiradana sendiri? Atau barangkali Gandar, pembantu Kiai Badra yang dikatakannya ma-sih kadangnya sendiri.” 

Orang-orang itu mulai mengingat-ingat. Tetapi mereka tidak mengenal para penabuh itu dengan baik, karena mereka tidak berada di cahaya obor sepenuhnya. 

Karena itu, maka orang-orang itu pun menggeleng. Salah seorang di antara mereka menya-hut, “Aku tidak dapat melihat para penabuh dengan jelas.” 

Demikianlah berita tentang sekelompok pengamen itu telah terdengar bukan saja di kedua padukuhan itu. Tetapi kemudian telah menyebar di padukuhan-padukuhan yang lain. Bahkan sampai di padukuhan induk. 

Ketika Wiradana mendengar berita itu, maka jantungnya berdegup semakin cepat. Namun kemudian ia berusaha untuk mempergunakan nalarnya. Katanya di dalam hati, “Iswari sudah mati. Memang mungkin ada rombongan penari jalanan yang lain. Dan tidak aneh pula bahwa seseorang dapat mirip dengan orang lain. Tetapi jika keduanya didekatkan, buru nampak perbedaan di antara mereka. Demikian juga agaknya dengan penari jalanan itu.” 

Namun demikian pendengarannya tentang penari jalanan itu telah mempengaruhi perasaannya. Apalagi ujud kehadiran rombongan itu di Tanah Perdikan Sembojan. Demikian mereka muncul untuk dua malam berturut-turut, dengan menolak tawaran untuk bermain di rumah orang-orang yang ingin menikmati tarian seorang perempuan cantik yang kemudian telah menghilang dan tidak kembali lagi.” 

Yang lebih menggelisahkan adalah pendapat beberapa orang yang seakan-akan pasti, bahwa perempuan itu adalah Nyai Wiradana yang tua. 

“Iswari tidak dapat menari,” geram Wiradana. Lalu, “Jika ia masih hidup, maka ia tentu akan kembali ke rumahku.” 

Memang tidak ada yang membantah. Tidak seorang pun yang tahu dengan pasti, bahwa perempuan itu memang Nyai Wiradana. Bahkan mereka pun kemudian telah mencoba memberikan jawaban sebagaimana Wiradana menjelaskan kepada dirinya sendiri, bahwa mungkin saja dua orang mempunyai wajah yang sangat mirip.

Namun dengan demikian, maka penari yang muncul dengan tiba-tiba dan hilang dengan tiba-tiba itu benar-benar telah menarik perhatian bukan saja mereka yang pernah melihatnya, tetapi mereka yang belum pernah melihatnya pun telah membicarakannya pula. 

“Jika rombongan itu kembali, kapanpun juga, tolong beritahukan hal itu kepada kami,” pesan orang-orang dari padukuhan yang ingin sekali melihat wajah penari yang mirip sekali dengan wajah Iswari itu.
(Bersambung)-b.

 

 

 

 

 

 

[ Home ]
Started 6/VI/2002 
Updated 29 Jan 2003


Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....



KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo

 

 

Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant