Fast Download With NetAnts
NetAnts Download Manager

 

mbak Rere [Malang], yang sabar kalau baca cerita bersambung ya

Refresh your browser to read the updated story.

Gajahsora.Net

 

  

 

 

 

 

 

SURAMNYA BAYANG-BAYANG

Serial Bersambung Juni 2002 Diambil Dari Situs Harian Kedaulatan Rakyat, Thanks to KR- Yogyakarta

*****

Jumat, 10-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 211   

 Namun peringatan itu tidak pernah dihiraukannya. Orang itu masih melangkah terus mendekati lawannya. Meskipun langkahnya semakin lemah dan bahkan terhuyung-huyung dan hampir kehilangan keseimbangannya. 
Kiai Badralah yang kemudian harus melangkah. Perlahan dilepaskannya ilmunya yang luar biasa itu, sehingga udara panaspun semakin lama menjadi semakin berkurang. Bahkan akhirnya lenyap sama sekali. 
Lawannya merasakan kesejukan udara mengusap tubuhnya. Karena itu ia justru menjadi heran. Tubuhnya yang hampir terjatuh kemudian mampu untuk tegak kembali.

Ketika ia mengangkat wajahnya dan memandang kearah Kiai Badra, maka dilihatnya orang tua itu justru telah melemparkan pedangnya sambil berkata, “Aku tidak dapat membunuh seseorang yang tidak mempunyai persoalan yang jelas.” 

“Kenapa?” bertanya orang itu. 

Kiai Badra termangu-mangu. Sementara itu lawannya pun maju selangkah demi selangkah. Namun bagaimanapun juga lawannya masih tetap ragu-ragu untuk mendekat. Mungkin Kiai Badra hanya sekadar memancangnya dengan sikapnya itu untuk dengan serta merta melepaskan ilmunya yang lebih dahsyat, yang sekaligus akan dapat menghancurkan tubuhnya menjadi debu. 

Tetapi Kiai Badra itu menarik nafas dalam-dalam sambil memutar tubuhnya menghadap ke arena pertempuran antara Gandar dan lawannya. Ternyata Gandar telah semakin meyakinkan bahwa sebentar lagi ia pun akan dapat menyelesaikan pertempuran itu. 

Namun dalam pada itu, dalam keragu-raguan, orang-orang yang ada di halaman telah mendengar tepuk tangan dalam kegelapan di halaman samping. 

Tepuk tangan itu telah menarik perhatian semua orang yang mendengarnya. Ketika mereka berpaling, dilihatnya dua orang suami istri yang telah menjelang hari-hari tuanya berdiri sambil memandangi arena. Selangkah demi selangkah mereka maju mendekati arena. 

Gandar yang hampir sampai pada saat terakhir dari pertempuran itu pun merasa terganggu. Namun ternyata yang datang itu adalah Kiai dan Nyai Soka. 

Karena itu, maka betapapun juga gejolak mendera perasaannya, namun ia berusaha untuk menahan dirinya. 

“Kau Soka,” berkata orang yang baru saja bertempur melawan Kiai Badra. Nafasnya masih terengah-engah. Sementara tubuhnya masih merasa lemah dan sakit di segala sendi-sendinya. 

Kiai dan Nyai Soka yang kemudian telah berdiri di tangga pendapa kemudian menebarkan pandangannya ke seluruh halaman. Dengan suara yang ramah, Kiai Soka kemudian berkata, “Marilah. Aku mempersilakan semuanya naik ke pendapa. Sementara itu biarlah para cantrik menyiapkan makan malam buat kita semuanya.” 

Gandar melihat sikap Kiai dan Nyai Soka dengan heran. Seakan-akan tidak ada sesuatu yang telah terjadi di halaman padepokannya itu. 

Kiai Soka agaknya melihat sikap Gandar yang ragu-ragu. Karena itu maka kemudian katanya, “Marilah Gandar. Aku persilakan kau naik ber-sama tamu-tamu kita yang lain.” 

Tetapi Gandar masih dicengkam oleh gejolak perasaannya. Karena itu, maka sambil menjinjing tombak pendeknya ia melangkah maju mendekati Kiai Soka sambil berkata, “Kiai, apakah Kiai tidak menyadari, bahwa kedua orang inilah yang telah mencari Kiai. Dan bukankah Kiai dan Nyai Soka telah menyingkir untuk menghindarkan diri dari pertumpahan darah.” 

“Benar Gandar. Kami memang telah berusaha untuk menghindar. Tetapi justru di halaman ini terjadi pertempuran juga yang hampir saja me-renggut jiwa. Tetapi sebenarnya, kita masih sempat untuk berbicara,” berkata Kiai Soka. 

“Aku akan berbicara jika mereka menyatakan menyerah. Mereka adalah orang-orang yang akan membalas dendam terhadap Kiai dan Nyai Soka, satu hal yang sudah Kiai dan Nyai ketahui. Sele bihnya keduanya tahu pasti, bahwa Iswari ada disini. Karena itu, aku berkesimpulan, bahwa tuju an mereka yang sebenarnya bukannya membalas dendam dari peristiwa yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, yang tiba-tiba saja terangkat kembali. Tetapi mereka tentu mempunyai hubungan dengan Kalamerta. Mereka tentu berusaha untuk menemukan Iswari yang ternyata mereka ketahui, bahwa ia masih hidup. Karena itu, aku berkesimpulan bahwa mereka adalah termasuk keluarga Kalamerta yang sedang memburu Iswari.” (Bersambung)-m.

 

Sabtu, 11-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 212   

 Kiai dan Nyai Soka memandang kedua orang itu dengan kerut merut di kening. Garis-garis umurnya yang mewarnai kulitnya seolah-olah menjadi semakin dalam. 
"Ki Sanak," bertanya Kiai Soka kemudian, "Jadi kalian tahu bahwa Iswari ada disini?"

 "Ya," jawab orang yang baru saja bertempur melawan Kiai Badra. 

"Dan kalian memang sedang memburunya?" bertanya Kiai Soka kemudian. 

"Aku sudah menawarkan kesempatan untuk berbicara. Tetapi Gandar sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan ia memaksa kami berdua untuk menyerah." 

Wajah Kiai Soka berkerut pada dahinya. Namun kemudian katanya, "Marilah. Kita akan berbicara. Nampaknya persoalannya memang menjadi lebih rumit daripada yang aku duga, sehingga aku masih sempat melihat pertarungan ilmu yang luar biasa. 

"Aku tidak akan membiarkan dariku menjadi korban kelicikan keluarga Kalamerta," berkata Gandar. "Aku harus berhati-hati. Mereka mempergunakan segala cara untuk mencapai maksudnya. Karena itu, maka syarat dari sebuah pembicaraan adalah mereka harus menyerah dan meletakkan senjata mereka. Sikap menyerah itu akan menjadi landasan dari satu usaha untuk menghindarkan diri dari langkah-langkah licik-nya." 

Tiba-tiba salah seorang di antara para cantrik itu pun berteriak, "Kedua orang itu akan membunuh kami seorang demi seorang sampai saatnya kami mengatakan dimana Kiai dan Nyai berada." 

"Tidak," berkata Kiai Soka, "Mereka tidak akan melakukannya." 

"Kiai," Gandarlah yang menyahut. "Ketika aku mendekati halaman padepokan ini, pertempuran antara keduanya dan para cantrik sudah terjadi. Cantrik itu tidak sekadar mengada-ada." 

Kiai Soka mengangguk-angguk. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu, maka Nyai Sokalah yang berkata, "Memang ternyata yang harus kita bicarakan lebih banyak dari yang kami duga. Tetapi marilah kita naik ke pendapa. Sebaiknya Gandar tidak terlalu bercuriga terhadap kedua orang ini. Biarlah aku yang bertanggung jawab bahwa keduanya tidak akan berbuat licik." 

Gandar menjadi semakin bingung melihat sikap kedua orang itu. Bahkan Kiai Badra pun tidak segera mengerti persoalan yang dihadapinya. 

Namun dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata kepada Gandar, "Marilah Gandar. Biarlah Kiai dan Nyai Soka mempertanggung jawabkan, apa yang mungkin terjadi disini. Bahkan seandainya orang-orang ini menjadi licik." 

"Aku tidak dapat mempercayainya sama sekali Kiai," jawab Gandar. 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Gandar tidak pernah membantahnya. Tetapi saat itu, Gandar ternyata telah menunjukkan satu sikap yang lain. 

"Kiai," berkata Gandar. "Aku tidak akan dapat melupakan sikap seorang perempuan yang dengan sangat licik berhasil mendapat tempat sebagai istri anak Ki Gede Sembojan. Kemudian dengan licik pula mereka menyingkirkan Iswari. Dan terakhir dengan sangat licik dan pengecut mereka telah membunuh Ki Gede. Bahkan mung-kin salah seorang dari kedua orang inilah yang telah melakukannya." 

"Gila," geram orang yang bertempur melawan Kiai Badra, "Apa sebenarnya yang kau katakan itu? Jadi menurut dugaanmu Ki Gede Sembojan telah dibunuh oleh keluarga Kalamerta?" 

"Jangan berpura-pura. Bukankah kau memang sedang memburu Iswari yang ternyata masih hidup?" potong Gandar. 

Wajah orang itu menjadi merah. Tetapi dihadapannya berdiri Kiai Badra dan bahkan telah hadir pula Kiai dan Nyai Soka. Karena itu maka ia harus menahan diri. Namun demikian ia berkata, "Kau jangan asal saja dapat mengucap kata-kata. Kau dapat saja menuduh seseorang sesuka hatimu. Tetapi sikapmu itu sangat menyakitkan hati." 

"Aku tidak peduli apakah kau menjadi sakit hati atau tidak. Aku merasa hatiku sudah disakiti oleh keluarga Kalamerta. Bahkan telah jatuh korban Ki Gede di Sembojan dan seandainya tidak karena satu perlindungan dari Tuhan Yang Maha Perkasa, maka Iswari pun telah menjadi makanan buaya kerdil. Bukan saja Iswari, tetapi dengan anaknya yang waktu itu masih di dalam kandungan," sahut Gandar.
(Bersambung)-b

 

Minggu, 12-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung)
Suramnya Bayang Bayang 213   

 Kiai Sokalah yang kemudian menengahi, “Baiklah. Ternyata memang ada masalah yang sisip di antara kita. Tetapi apakah kepentingan kalian berdua dengan Iswari? Seandainya kalian merasa bukan keluarga Kalamerta.” 
Kedua orang itu termangu-mangu. Salah seorang kemudian berkata kepada Kiai dan Nyai Soka, “Jadi beginikah sikapmu sekarang terhadap seorang sahabat?” 

 “Sebenarnya kami memang meragukan persahabatan kita,” jawab Nyai Soka. “Kau pernah merasa bahwa ada persoalan di antara kita. Kau pernah mengatakan bahwa pada satu saat kita akan bertemu lagi, tanpa memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan penjelasan. 

“Tetapi bukankah kami tidak berbuat apa-apa selama ini?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang datang itu. 

“Selama ini memang tidak. Tetapi beberapa hari yang lalu kau datang dengan pertanda yang kau tinggalkan. Masih seperrti dahulu, sehingga kami telah menghubungkan kedatangan kalian dengan persoalan yang pernah ada di antara kita,” jawab Nyai Soka. 

“Tetapi apakah menjadi kebiasaan Kiai dan Nyai Soka untuk meninggalkan tempatnya jika seseorang ingin menemuinya dengan niat apapun juga?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu. 

“Justru disini ada Iswari. Aku ingin menyingkirkan Iswari. Tetapi ternyata bahwa kau sudah mengetahui bahwa Iswari ada disini. Sehingga justru karena itu, maka timbul pertanyaan di dalam hati ini, kenapa kau tahu pasti tentang tempat tinggal Iswari jika kau tidak berkepentingan sebagaimana dipertanyakan oleh Gandar.” 

“Baiklah,” berkata orang itu. “Jadi kita akan berbicara dengan cara ini? Bukan cara seorang sahabat?” 

“Kau akan memanfaatkan persahabatan untuk berbuat licik,” potong Gandar. 

“Setan kau,” geram orang itu. “Kau memang terlalu kasar.” 

“Ternyata bahwa aku merasa perlu untuk berbuat kasar terhadap keluarga Kalamerta,” jawab Gandar. 

Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Dipandanginya Gandar dengan tatapan mata yang tajam. Kemudian dengan suara bergetar orang itu berkata, “Beberapa kali kau menyebut nama Kalamerta. Apa sebenarnya maksudmu dengan menyebut nama itu?” 

“Kau akui bahwa kau adalah keluarganya?” bertanya Gandar. 

“Gila. Aku memang pernah mendengar nama Kalamerta. Tetapi aku adalah orang-orang dari perguruan yang berbeda,” orang itu hampir berteriak. 

Gandar mengerutkan keningnya. Dipandanginya Kiai Badra sekilas. 

Sementara itu Kiai Badra bergeser setapak sambil menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara datar ia berkata, “Mungkin memang ada yang sisip. Karena itu, agaknya aku condong untuk mengekang segala prasangka buruk. Kita memang dapat duduk sambil berbicara.” 

Kiai dan Nyai Soka pun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Kiai Soka pun kemudian mempersilakan. “Marilah. Kita akan tetap saling menghormati.” 

Gandar mengerutkan keningnya. Tetapi Kiai Badra telah mendahului, “Gandar. Kau harus dapat mengendalikan dirimu sebagaimana kau lakukan selama ini.” 

Gandar termangu-mangu. Namun terasa suara Kiai Badra tekanan yang tidak dapat dielakkan oleh Gandar, sehingga karena itu, maka ia tidak menjawab sama sekali. 

Demikianlah, maka akhirnya mereka pun telah naik ke pendapa. Mereka duduk di atas tikar pandan yang sudah terbentang. Namun demikian masih nampak kedua belah pihak tetap bersikap sangat hati-hati. 

Untuk beberapa saat mereka hanya saling berdiam diri, sehingga suasana memang menjadi tegang. Namun akhirnya Kiai Soka pun menyadari, bahwa ia adalah pemilik padepokan itu, sehingga akhirnya ia adalah orang yang pertama bertanya kepada kedua orang yang datang mencarinya itu, “Sebenarnya apakah yang kalian maksud dengan kedatangan kalian? Apakah ada hubungannya dengan Iswari atau tidak?” 

Orang yang lebih tua di antara kedua orang tamunya itu memandang orang-orang yang ada di pendapa itu. Kemudian para cantrik yang masih berada di halaman.
(Bersambung)-m.

 

Senin, 13-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Baya
ng 214   

 “Agaknya kami memang telah salah langkah. Para cantrik itu mengira bahwa aku benar-benar akan membunuh mereka,” berkata orang itu. 
“Aku tahu, bahwa kau tidak akan melakukannya,” berkata Kiai Soka. Lalu, “Kau melakukannya sekadar untuk memancing kehadirannya, karena kau yakin bahwa aku ada di sekitar padepokan ini.”

 “Ya. Tetapi yang datang ternyata bukan kau,” jawab orang itu. “Tetapi Kiai Badra dan Gandar. Aku tidak dapat meyakinkan mereka bahwa kami harus berbicara untuk mendapatkan saling pengertian.” 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam, sementara Gandar menjadi berdebar-debar. Mulai terasa di hati Gandar satu hal yang lain pada kedua orang itu menilik sikap Kiai Soka dan istrinya. 

Dalam pada itu, Kiai Soka pun kemudian berkata, “Sikap mu memang meragukan. Kau membuat semacam teka-teki yang sulit untuk ditebak tentang diri kalian berdua.” 

“Kiai,” berkata orang yang lebih tua. “Aku memang pernah mengatakan tentang dendamku kepada kalian suami istri. Hal ini bermula pada kematian orangtuaku yang aku kira telah dibunuh oleh guru Kiai Soka. Tetapi kemudian aku menyadari, bahwa dendam yang demikian itu tidak ada gunanya, sehingga aku pun telah melepaskan dendam itu.” 

Kiai Soka mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ki Sanak. Baiklah kau uraikan secara lengkap, alasanmu datang kemari. Dan kenapa kalian berdua tahu pasti bahwa Iswari ada di sini. Apakah hubungan kalian dengan Iswari.” 

“Aku memang sudah mulai dengan tabakan dari teka-teki itu sendiri,” jawab orang itu. Lalu katanya, “Dengarkanlah baik-baik. Aku datang tidak untuk membalas dendam, karena sudah aku katakan bahwa aku telah melupakan peristiwa yang terjadi itu. Namun tiba-tiba pada satu hari, seorang sahabat kami telah meninggal dunia dengan cara yang tidak wajar. Bukan hanya seorang sahabat, tetapi kami pernah menyadap ilmu yang sama, meskipun akhirnya kami harus berpisah dan berguru kepada orang yang berbeda.” 

“Maksudmu Ki Gede Sembojan?” bertanya Kiai Badra. 

“Ya. Ki Gede telah dibunuh dengan licik,” sambung orang itu. “Sementara itu, tidak seorang pun yang dapat menebak, siapa yang telah melakukannya. Aku semula memang menghubungkan kematiannya dengan keluarga Kalamerta, karena Ki Gede sendiri baru saja membunuh Kalamerta itu. Bukan saja karena Kalamerta adalah seorang pemimpin dari segerombolan brandal yang ditakuti, tetapi di antara Kalamerta dan Ki Gede memang terdapat persoalan pribadi.” 

Kiai Soka mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra dan Gandar menjadi sangat tertarik kepada ceritera itu. 

“Kematian itu telah memanggil kami berdua untuk mencari bahan apakah sebab-sebabnya,” berkata orang itu lebih lanjut. “Karena itu, maka kami berusaha untuk mendapat keterangan. Adalah kebetulan sekali, seorang perempuan yang pernah kami tundukkan dan kemudian tidak lagi menjadi seorang perampok tinggal di Kademangan, dekat Tanah Perdikan Sembojan. Kepada perempuan itu kami berusaha mencari keterangan. Tetapi perempuan itu juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi ia mengetahui bahwa sebelumnya telah terjadi sesuatu dengan keluarga Ki Gede. Mungkin kematian Ki Gede ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya.” 

“Peristiwa yang mana yang dimaksudnya?” desak Gandar yang tidak sabar. 

“Peristiwa yang tentu kau ketahui dengan jelas. Hilangnya menantu Ki Gede,” berkata orang itu. “Perempuan itu tahu pasti, bahwa menantu Ki Gede yang dianggap sudah mati itu masih hidup, karena ia tidak melakukan kewajibannya dengan baik sebagaimana seharusnya.” 

“Perempuan yang kau maksud itu bernama atau mendapat sebutan Serigala Betina?” berkata Gandar. 

“Ya,” jawab orang itu. “Aku mengenalnya dengan baik. Ia pun bersikap sangat baik terhadap kami, karena kami tidak membunuhnya ketika kami berhasil menangkapnya. Perempuan itulah yang berbicara tentang Iswari. Ia dapat juga mengatakan bahwa perempuan itu berasal dari sebuah padepokan kecil, sebagaimana diketahui oleh semua orang Sembojan.
(Bersambung)-k.

 

 Selasa, 14-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Baya
ng 215   

 “Tetapi bukankah perempuan itu tahu pasti, siapakah yang telah memerintahkan untuk membunuh Iswari,” berkata Gandar dengan nada tinggi.

“Ya. Tetapi selebihnya perempuan itu tidak dapat mengatakan apa-apa,” jawab orang itu. “Juga tentang kematian Ki Gede, karena tidak mungkin Wiradana melakukan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, meskipun ia dapat membayar orang lain, sebagaimana dilakukan terhadap istrinya.” 

“Lalu, apa yang kalian lakukan kemudian?” bertanya Ki Soka. 

“Aku ingin berbicara dengan Iswari. Mungkin ia dapat membantu mengungkapkan kematian Ki Gede. Karena itulah maka aku telah mencari Iswari sebagaimana dikatakan oleh Serigala Betina itu,” jawab orang itu. “Tetapi kedatanganku terlambat. Iswari sudah tidak berada di padepokannya. Dengan telaten aku mencari keterangan. Ternyata usaha itu tidak semudah yang aku duga. Namun akhirnya aku tahu, bahwa Iswari ada disini. Di tempat yang sudah aku kenal sebelumnya. Karena itulah, maka aku telah menyatakan diriku untuk datang pada malam ini.” 

Kiai dan Nyai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau telah mengambil cara yang salah untuk menghubungi aku. Yang terpikir oleh kami adalah justru dendammu yang ingin kau tumpahkan kepadaku, meskipun aku juga merasa heran, bahwa hal itu baru akan kau lakukan setelah sedemikian lamanya. Karena disini ada Iswari, maka aku telah berusaha menyingkirkan Iswari. Bukan karena apa-apa tetapi sekadar untuk menghindarkannya dari kemungkinan-kemungkinan buruk, karena aku belum tahu bahwa kalian ingin bertemu dengan cucuku itu.” 

“Aku hanya ingin mencari bahan saja,” berkata orang itu. 

“Dan kenapa kau tidak berterus terang tanpa membuat jantung ini berdebar-debar?” bertanya Nyai Soka. 

“Mungkin itu adalah kesalahanku. Aku ingin bermain-main dengan sedikit kasar,” jawab orang itu. “Tetapi akibatnya ternyata teramat buruk bagi kami.” 

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami minta maaf. Tetapi yang kalian lakukan memang mendebarkan. Apalagi ketika kami mendengar keluh para cantrik, bahwa kalian ingin membunuh mereka semua.” 

“Kami tidak bermaksud demikian,” berkata orang yang lebih tua. “Seperti yang dikatakan oleh Kiai Soka, aku hanya memancingnya untuk datang, karena aku yakin bahwa ia memang tidak akan jauh dari padepokan ini.” 

“Syukurlah, bahwa belum terjadi sesuatu atas kita semuanya,” berkata Kiai Soka kemudian. “Agaknya kita benar-benar telah terjebak oleh kesalahpahaman.” 

Kedua orang itu tidak menyahut. Tetapi seperti yang dikatakannya, maka mereka pun juga merasa bersalah. Karena itu, maka orang yang lebih tua itu pun akhirnya berkata, “Kami ternyata juga harus minta maaf. 

Cara kami memang agak kasar. Namun ternyata kekasaran kami hampir saja mencelakai kami berdua. Ternyata bahwa kami telah bertemu dengan kekuatan yang luar biasa yang tidak dapat kami atasi.”
(Bersambung)-b.

 

 Rabu, 15-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 216   

 “Memang luar biasa,” sahut Kiai Soka sambil tersenyum. “Kiai Badra dan Gandar yang selama ini sudah tidak pernah menyentuh senjatanya pun masih tetap orang-orang yang tanpa tanding. Sementara itu, kalian bersaudara juga mengalami kemajuan yang sangat pesat.”

 “Ternyata yang kami miliki tidak berarti apa-apa. Jika Kiai Badra dan Gandar hampir saja dapat membunuh kami, dan hal itu tidak mustahil dilakukannya jika pertempuran ini tidak dihentikan maka Kiai dan Nyai Soka pun tentu akan dapat melakukannya pula,” berkata orang itu. 

“Tentu tidak,” jawab Nyai Soka. “Kami adalah orang-orang padepokan yang hanya tahu bertani. Kami tidak memiliki ilmu sebagaimana kau duga.” 

“Kenapa kalian masih harus menyembunyikan kenyataan yang ada pada diri kita? Bukankah kita pernah bersahabat dan bukankah kita tahu keadaan kita masing-masing? Memang aku mendapatkan beberapa kemajuan yang sangat kecil dibandingkan dengan perjalanan waktu yang demikian panjang. Tetapi tidak dengan Kiai dan Nyai Soka,” berkata orang yang lebih tua itu. 

“Sama sekali tidak,” jawab Nyai Soka. “Tetapi baiklah kita tidak mempersoalkan tentang kemajuan kita masing-masing. Jika malam ini kakang Badra tidak datang bersama Gandar, mungkin kita memang berkesempatan menilai kemampuan kita. Tetapi baiklah. Kita tidak perlu melakukannya. Mungkin kita justru akan berbicara tentang Ki Gede Sembojan yang terbunuh itu.” 

“Ya,” jawab orang itu pula. “Agaknya aku pun sependapat, bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh salah seorang keluarga Kalamerta.” 

Gandar mengerutkan keningnya. Ia tahu lebih banyak tentang hal itu. Ia melihat perempuan yang menjadi istri Wiradana itu mempunyai ciri Kalamerta. Dan ia pun semakin yakin, bahwa yang membunuh Ki Gede itu pun tentu dari lingkungannya pula. Bahkan Gandar pun sudah memikirkan satu kemungkinan, bahwa istri Wiradana itu sendirilah yang telah melakukannya. 

Tetapi Gandar tidak mengatakannya. Ia masih belum yakin terhadap kedua orang itu. Apakah benar mereka bukan orang-orang yang pada satu saat justru akan menghalangi langkah-langkah yang akan diambilnya untuk menempatkan anak Iswari itu ke tempat yang seharusnya. Bukan karena kedudukan itu sendiri, tetapi anak itu tidak boleh menjadi korban kebiadaban orang lain yang bukan saja akan dapat menghancurkan seseorang, tetapi juga seluruh Tanah Perdikan Sembojan. 

Dalam pada itu, Kiai Soka pun telah menemui para cantrik dan memberikan beberapa penjelasan kepada mereka. Karena itulah maka para cantrik itu pun menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang di antara mereka berdesis,” Satu permainan yang berbahaya. Untunglah belum terjadi sesuatu.” 

“Ya,” jawab Kiai Badra, “Mereka sudah menyatakan bersalah karena permainan mereka yang kasar itu.” 

Para cantrik itu pun kemudian dengan hati yang lapang meninggalkan halaman depan dan pergi ke barak masing-masing. Namun ada di antara mereka yang langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan bagi tamu-tamu mereka yang berada di pendapa. 

Dalam pada itu, maka Kiai dan Nyai Soka pun memutuskan di ke esokan harinya untuk mengambil Iswari, karena ternyata kedua orang tamu-nya tidak bermaksud jahat. Mereka tidak datang membawa dendam di hati mereka. 

Kiai dan Nyai Soka kemudian memperkenalkan kedua tamu itu sebagai dua orang kakak beradik dalam perguruan yang dikenal dengan Sepasang Elang dari Perguruan Guntur Geni. 

“Yang tua bernama Sambi Wulung dan yang muda bernama Jati Wulung,” berkata Kiai Soka kemudian kepada Kiai Badra dan Gandar. 

Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Aku memang pernah mendengar perguruan yang disebut Guntur Geni. Tetapi agaknya baru sekarang aku dapat mengenal salah satu bagian dari perguruan itu.” 

“Ah,” desis orang yang disebut bernama Sambi Wulung, “Ternyata dihadapan Kiai perguruan yang selama ini kami banggakan itu tidak berarti apa-apa. Sepeninggal guru maka kami berdua adalah orang-orang tertua di perguruan. Tetapi di hadapan Kiai Badra dan Gandar, kami tidak lebih dari anak-anak kecil ya ng terlalu berbangga diri dengan kemampuan yang tidak berarti apa-apa.” 

 

 Kamis, 16-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 217   

 “Bukan begitu,” berkata Kiai Badra. “Pada satu saat maka kalian akan dapat mengembangkan ilmu kalian, sehingga perguruan Guntur Geni akan menjadi perguruan yang jadi lebih besar dari padepokan kecil ini.” 
Tetapi kedua orang itu tersenyum. Yang tua berkata, “Apapun yang aku lakukan, aku tidak dapat menyamai tingkat kemampuan padepokan ini. Sebenarnyalah permainan kami hampir saja menimbulkan malapetaka itu sekadar satu keinginan untuk mengetahui tingkat kemampuan kita yang sudah lama terpisah. Namun ternyata bahwa kami harus mengakui, bahwa kami telah ketinggalan jauh dari kalian.”

 “Ah,” jawab Kiai Soka, “Yang kemudian kalian jajaki bukan kemampuan kami, tetapi kemampuan Kiai Badra dan Gandar. Sedangkan kami berdua bukan pula tataran mereka.” 

“Sudahlah,” berkata Kiai Badra. “Besok aku akan ikut mengambil Iswari. Aku sudah rindu kepada cicitku itu.” 

Namun dalam pada itu, Gandar pun berkata, “Tetapi aku kira Iswari juga tidak akan dapat memberikan bahan apapun juga tentang kematian Ki Gede. Ia sudah tidak lagi berada di Tanah Perdikan pada saat itu. Selebihnya, ia memang tidak tahu apa-apa. Ia tidak melihat tanda-tanda yang akan menyangkut dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak menduga bahwa suaminya akan sampai hati berbuat demikian. Untunglah bahwa perempuan yang disebut Serigala Betina itu tidak melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.” 

Kedua orang dari perguruan Guntur Geni itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa Iswari memang tidak tahu apa-apa tentang kematian Ki Gede Sembojan. 

Meskipun demikian kedua orang itu memang ingin bertemu dengan Iswari. Meskipun keduanya tidak yakin akan mendapatkan sesuatu dari perempuan itu, namun rasa-rasanya keinginan itu tidak dapat dielakkannya lagi. 

“Kami justru merasa sangat iba kepadanya,” berkata Sambi Wulung. “Ketika itu menurut Serigala Betina itu, Iswari sedang mengandung.” 

“Ya. Dan anak itu sekarang sudah lahir, sehat dan tumbuh dengan cepat,” jawab Nyai Soka. 

Dalam pada itu, ketika di hari berikutnya sekelompok kecil penghuni padepokan Kiai dan Nyai Soka pergi menjemput Iswari, maka di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana benar-benar telah memegang kekuasaan mutlak di Tanah Perdikan itu. Ia telah memerintah sebagaimana ayahnya meskipun ia belum di wisuda. Tetapi setiap orang tidak mempersoalkannya, karena memang satu-satunya pewaris kekuasaan di Tanah Perdikan itu. 

Tetapi sejak hari-hari pertama, Wiradana memegang kekuasaan, sudah terasa oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, bahwa sentuhan tangannya berbeda dengan tangan Ki Gede yang telah terbunuh dengan licik itu. Wiradana ternyata mempunyai sikap yang kadang-kadang dapat menyinggung perasaan orang-orang tua di Tanah Perdikan itu. Meskipun Wiradana tidak dengan serta merta mengadakan perubahan-perubahan di dalam pemerintahannya atas Tanah Perdikan Sembojan, namun ia lebih banyak berkiblat kepada dirinya, kepada akunya. Sehingga dengan demikian terasa bahwa langkah-langkah yang diambilnya kadang-kadang tidak dapat dimengerti oleh rakyat Tanah Perdikan Sembojan sendiri. 

Meskipun demikian orang-orang tua dan para bebahu Tanah Perdikan itu berusaha untuk mengerti. Wiradana masih muda dan mempunyai kemauan yang bergejolak di dalam dadanya. Dengan demikian maka langkahnya yang menghentak-hentak itu adalah pertanda dari gejolak di dalam dadanya. 

“Jika kemudian ia mampu mengetrapkan di dalam tugas-tugas yang dipikulnya maka ia justru akan menjadi seorang pemimpin yang baik. Tanah Perdikan ini akan mendidih dengan kerja dan pikiran-pikiran baru yang akan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat,” berkata orang-orang tua itu yang satu dengan yang lain. 

Sementara orang-orang tua mengamati dan menilai tingkah laku Wiradana dengan cermat, maka datanglah keputusan Wiradana untuk segera mengawini seorang perempuan untuk menggantikan istrinya yang hilang dan tidak dapat diketemukan lagi. 

“Kita semua sudah berusaha. Bahkan ayah telah menjadi korban pula dari usaha pencaharian itu. Namun usaha itu ternyata sia-sia saja,” berkata Wiradana kepada orang-orang tua yang dipanggilnya datang ke rumahnya. (Bersambung)-m.

 

 Jumat, 17-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 218   

 “Sejak semula kami tidak merasa berkeberatan,” jawab salah seorang di antara mereka. “Ki Wiradana masih muda. Apalagi dengan tugas-tugas yang berat, maka Ki Wiradana memang memerlukan seorang pendamping yang pantas bagi tugas-tugasnya itu. Tetapi apakah Ki Wiradana bersedia mengatakan siapakah perempuan yang ingin kau ambil menjadi istrimu itu?” 
Wiradana merenung. Tetapi kemudian kata-nya, “Aku akan menyebutnya kemudian.”

 Orang-orang itu tidak mendesaknya. Mereka akan menunggu sampai saatnya Ki Wiradana mengatakan atas kemauannya sendiri. 

Dalam pada itu, berita tentang hilangnya Iswari, istri anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan kemudian terbunuhnya Ki Gede Sembo-jan telah terdengar sampai ke daerah-daerah disekitar Tanah Perdikan itu, bahkan sampai ke tempat yang jauh. Laporan yang resmi pun telah disampaikan pula kepada Adipati Pajang, sehingga dengan demikian Pajang akan dapat mempertimbangkan kemungkinan untuk dengan segera menetapkan penggantinya. Sudah barang tentu satu-satunya anak laki-laki Ki Gede Sembojan. 

Selain Pajang, para Demang dan para pemimpin pemerintahan di daerah di sekitar Tanah Perdikan Sembojan, maka keluarga Warsi pun telah mendengar pula akan hal itu. Karena itu, maka mereka pun merasa bahwa tugas yang dibebankan keluarga Kalamerta kepada Warsi telah diselesaikannya dengan baik. 

“Ki Gede Sembojan sudah terbunuh,” berkata ayah Warsi kepada para pengikutnya. “Dengan demikian maka dendam sudah terbalas. Persoalan Warsi kemudian adalah persoalan sendiri.” 

Para pengikutnya pun sependapat dengan sikap ayah Warsi. Namun orang yang pernah menjadi pengendang di saat menjadi penari keliling dan yang disebutnya sebagai ayahnya kemudian berkata, “Tetapi bagaimana pun juga, ada keinginanku untuk menemuinya.” 

“Kau akan dapat mengganggunya dan menimbulkan persoalan baru bagi anak itu,” berkata ayah Warsi. 

Namun orang itu menggeleng. Katanya, “Ingat. Aku adalah ayahnya di Tanah Perdikan Sembojan.” 

Ayah Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Meskipun demikian, berhati-hatilah. Banyak persoalan yang mungkin akan menyulitkannya.” 

“Aku sudah mengenal Tanah Perdikan itu dengan baik,” jawab orang itu. 

Karena itulah, maka ayah Warsi pun kemudian tidak berkeberatan memberikan kesempatan kepada orang itu untuk pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. 

Orang itu sama sekali tidak menunggu terlalu lama. Demikian ia mendapat persetujuan, maka di keesokan harinya ia sudah meninggalkan padukuhannya untuk pergi ke sebuah padukuhan yang terletak di luar Tanah Perdikan Sembojan, tetapi tidak terlalu jauh dari perbatasan. 

Kedatangan orang itu memang mengejutkan Warsi. Tetapi Warsi sama sekali tidak berkeberatan menerimanya, justru sebagai ayahnya. 

Dari Warsi orang itu mendapat keterangan selengkapnya apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Sembojan. Bagaimana Wiradana mengupah seseorang untuk membunuh istrinya yang bernama Iswari. Dan bagaimana Ki Gede Sembo-jan itu telah dibunuhnya. 

“Kau memang luar biasa Warsi,” berkata bekas pengendangnya itu. “Sebenarnyalah bahwa aku tidak mengerti bagaimana kau dapat melakukannya.” 

“Kau memang dungu,” jawab Warsi. “Kau tidak akan dapat mengerti apapun juga. Apalagi persoalan-persoalan yang rumit. Persoalan perutmu sendiri pun, kau tidak dapat menyelesaikannya.” 

Orang itu tertawa. Katanya, “Tidak sia-sia aku mempuyai seorang anak perempuan seperti kau ini, dan tidak sia-sia pula aku membesarkanmu.” 

“Aku tampar mulutmu,” geram Warsi. “Kau kira kau pantas menjadi ayahku.” 

“Bukankah menurut pengertian Wiradana kau adalah anakku?” bertanya orang itu. “Atau kau ingin aku mengatakan kepadanya, bahwa aku memang bukan ayahmu?” 

“Apakah kau sudah jemu hidup? Kau kira aku tidak berani membunuhmu?” bertanya Warsi. 

Wajah orang itu menegang. Tetapi ia kenal Warsi, sehingga karena itu, maka ia pun tersenyum betapapun masamnya. Katanya, “Kau harus mengakui, bahwa aku sudah membantumu.” 

(Bersambung)-m.

 

Sabtu, 18-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
Suramnya Bayang-Bayang 219   

 “AKU tidak pernah ingkar,” berkata Warsi. “Tetapi itu bukan berarti bahwa seseorang tidak akan pernah membunuh orang-orang yang berjasa kepadanya.”

 Orang itu mengumpat di dalam hati. Tetapi ia tidak menjawab. 

Namun dalam pada itu Warsilah yang kemudian tersenyum. Sambil menepuk bahu orang itu ia berkata, “Jangan marah ayah. Kali ini aku hanya bergurau. Sebentar lagi aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan sepenuhnya. Aku akan dibawa oleh Wiradana ke rumahnya yang sudah kosong itu. Istrinya sudah mati dan ayahnya pun telah mati pula.” 

Orang itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian ikut pula tertawa sebagaimana Warsi yang tertawa berkepanjangan. 

Ternyata kedatangan orang itu yang diakuinya sebagai ayah Warsi itu merupakan suatu hal yang menggembirakan bagi Wiradana. Ketika ia datang ke rumah yang dihuni oleh Warsi, dan menjumpai laki-laki itu, maka tiba-tiba ia berkata, “Satu kebetulan bahwa ayah telah datang.” 

Orang yang menempatkan dirinya sebagai ayah Warsi itu pun mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Kenapa? Rasa-rasanya aku memang sudah menjadi rindu kepada anakku. Bukankah sepeninggalanku kalian selalu selamat dan baik?” 

“Ya ayah,” jawab Wiradana kepada orang yang dirasanya adalah ayah mertuanya, “Doa restu ayah telah membuat hari-hari depan kami menjadi semakin baik.” 

“Syukurlah,” jawab orang itu. “Sebagai orang tua, tidak ada harapan lain dari padanya, kecuali kebahagiaan anak-anaknya.” 

“Terima kasih ayah,” sahut Wiradana. 

Namun dalam pada itu, Warsi mengumpat. Dipandanginya bekas pengendangnya itu sekilas. Rasa-rasanya ia ingin menyumbat mulut laki-laki tua itu dengan terompahnya. 

Sementara itu Wiradana berkata selanjutnya, “Ayah, kedatangan ayah ternyata benar-benar pada satu saat yang sangat aku perlukan.” 

Wajah orang tua itu menegang sejenak. Namun ia tidak menyahut sama sekali, sementara Wiradana berkata pula. “Segala kesulitan yang menyekat hubunganku dengan Warsi sebagai suami istri telah dapat aku singkirkan. Karena itu, maka akan segera datang saatnya, Warsi dan aku bawa kembali ke rumahku, rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.” 

“O,” orang itu mengangguk-angguk, sementara Warsi pun ikut mendengarkan dengan hati yang berdebar-debar, karena Wiradana memang belum pernah mengatakan rencana itu kepadanya secara terperinci. 

Wiradana pun kemudian menceriterakan segala sesuatu tentang rencananya untuk membawa Warsi ke rumahnya. Tetapi supaya tidak ada kesan yang dapat menuntun pendapat seseorang bahwa ada hubungan antara kematian Iswari dan apalagi Ki Gede dengan Warsi, maka ia akan mengulangi upacara perkawinannya dengan Warsi, seakan-akan sebelumnya memang belum pernah terjadi.

“Aku memang memerlukan kehadiran ayah,” berkata Wiradana. 

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Segalanya terserah kepadamu ngger. Aku, orang tua menurut saja yang mana yang paling baik bagi kalian.” 

Wiradana berpaling ke arah Warsi yang duduk dengan wajah yang tegang. Namun dengan cepat ia menguasai perasaannya dan segera wajah itu ditundukkannya. 

“Warsi,” desis Wiradana. “Bagaimana pendapatmu?” 

Perlahan-lahan Warsi mengangkat wajahnya. Benar-benar satu permainan yang sangat mengagumkan bagi laki-laki yang pernah menjadi pengendangnya dan yang kemudian disambutnya sebagai ayahnya itu. 

Dengan suara lirih lembut Warsi berdesis, “Segala sesuatunya terserah kepadamu kakang.” 

“Semuanya telah aku perhitungkan masak-masak. Mungkin kita harus berpura-pura. Tetapi segalanya kita lakukan bagi hari depan kita,” jawab Wiradana. 

Laki-laki yang disebut orang tua Warsi itu mengangguk-angguk. Kepada Warsi ia berkata, “Tentu angger Wiradana tidak akan salah langkah. Agaknya kau telah melakukan sesuatu yang benar, bahwa segalanya terserah kepada angger Wiradana.” 

“Ya ayah,” jawab Warsi sambil menunduk. 

(Bersambung)-m.
Minggu, 19-01-2003 , SH Mintardja (Cerbung) - Suramnya Bayang-Bayang
220   

 “Nah, jika demikian, maka kami tinggal menunggu segala perintah angger dalam hal ini,” berkata orang tua itu. 
“Mumpung ayah ada disini, maka segala sesuatunya akan aku lakukan dengan segera. Aku akan berbicara dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan ini, agar mereka mempersiapkan hari perkawinanku.

 Sudah barang tentu, sebelum hari perkawinan itu berlangsung maka Warsi akan tinggal disalah seorang keluarga yang akan aku tunjuk kemudian,” berkata Wiradana yang sudah mulai mereka-reka, apa yang akan dikatakannya kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan. 

Namun dalam pada itu, ada juga sesuatu yang membuat jantung Wiradana berdebar-debar. Semua orang Tanah Perdikan Sembojan mengetahui bahwa Warsi adalah seorang penari jalanan. Agak berbeda dengan Iswari, seorang gadis padepokan yang ternyata memiliki kecakapan melampaui gadis Tanah Perdikan Sembojan sendiri. 

Memang rasa-rasanya Wiradana agak segan untuk menyebut perempuan yang akan dijadikannya istrinya menggantikan Iswari. Tetapi mau tidak mau, pada suatu saat, semua orang akan mengetahuinya juga. 

“Aku tidak peduli,” berkata Wiradana di dalam hatinya. “Tidak ada orang yang dapat menentang aku. Aku adalah Kepala Tanah Perdikan yang besar. Bahkan tidak akan ada seorang pun yang mampu melawan aku.” 

Dengan demikian maka Wiradana telah bertekad untuk dengan segera melaksanakan hari perkawinannya. ia akan menunjuk seseorang yang akan mewakili ayahnya dalam upacara melamar Warsi yang dianggap belum pernah menjadi istrinya itu. 

Wiradana memang tidak akan berahasia lagi, meskipun sebelumnya sudah beberapa kali ia mengelak untuk menyebut, siapakah bakal istrinya itu. 

Karena itu, maka di hari berikutnya, Wiradana benar-benar telah memanggil beberapa orang tua. Meskipun dengan hati yang berat dan keringat yang membasahi pakaiannya, akhirnya Wiradana berkata, “Aku akan minta salah seorang dari kalian untuk mewakil orang tuaku melamar gadis yang akan aku jadikan istriku.” 

Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Tidak seorang pun yang akan merasa berkeberatan. Meskipun kadang-kadang mereka mempertanyakan sifat Wiradana yang berbeda dengan sifat ayahnya, namun mereka merasa berkewajiban untuk membantu anak muda itu, agar dengan demikian, maka ia akan dapat menemukan ketenangan di dalam tugas-tugasnya. 

“Jika Wiradana sudah kawin, mungkin ia akan berubah. Ia akan benar-benar menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan. Bukan hanya sekadar seseorang yang mencari kesenangannya sendiri saja,” berkata orang-orang tua itu di dalam hatinya. 

Tetapi orang-orang tua itu tidak segera bertanya kepada Wiradana, gadis manakah yang akan diambilnya menjadi istrinya, karena beberapa kali hal itu dipertanyakan, Wiradana selalu mengelak. 

“Biarlah ia menyebut sendiri siapakah perempuan yang dikehendakinya itu.” 

Wiradana pun untuk beberapa saat berdiam diri. Sebenarnya ia menunggu seseorang akan bertanya tentang perempuan yang dikehendakinya. Tetapi ternyata tidak seorang pun yang melakukannya. Bahkan orang-orang tua itu telah menundukkan kepala, seolah-olah mereka sedang memalingkan wajah-wajah mereka setelah mereka melihat Warsi, penari jalanan itu.
(Bersambung)-m.

 

 

 

 

 

[ Home ]
Mimbar Seputro
Started 6/VI/2002 
Last updated 20/I/2003

Banyak pemimpin kita sekarang tak beda dengan lele
Mereka tak bisa hidup di air jernih. Maka kalau ada air
yang jernih akan segera diobok-obok biar keruh
biar bisa hidup.....


KH Hasyim Musadi, Ketua Umum PBNU di Boyolali
dari Koran Tempo

 

 

Sign My Dreambook


 TOKO material "GAJAHSORA"
Jalan dr. Muwardi Raya 23 - Grogol
Sedia anak Gurami, Indukan Gurami 

Jakarta Barat- Indonesia
(021) 5671778 
+62 811806549 Please leave messages or SMS
+62 812 802 51 02 (erni mimbar)

  UCCXE.com Personal Currency Assistant